2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Tedak Siten”: Tradisi dan Komunikasi yang Futuristik

Chusmeru by Chusmeru
April 20, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

TRADISI seringkali dimaknai sebagai sesuatu yang kuno, klenik, dan tak relevan lagi dengan kemajuan zaman. Tidak heran jika masyarakat Indonesia secara perlahan dan terpaksa meninggalkan beberapa tradisi yang telah berlangsung turun-temurun.

Padahal, tradisi tidak lahir begitu saja. Tradisi muncul melalui proses yang panjang dalam kehidupan manusia. Setiap masyarakat yang memiliki tradisi selalu menganggapnya sebagai bagian dari nilai, harapan, dan cara pandang memaknai kehidupan. Karenanya tradisi sejatinya justru futuristik bagi suatu masyarakat.

Sebelum seseorang memasuki bangku sekolah, tradisi sudah mengajarkan nilai tentang benar dan salah, baik dan buruk, serta elok dan tak elok. Guru di kelas dan bahan bacaan di sekolah hanya melanjutkan deskripsi dan narasi tradisi yang telah berlangsung ratusan tahun.

Harapan masyarakat akan masa depan juga acapkali terekspresikan lewat tradisi. Hidup yang sehat, bermartabat, dan sejahtera dikomunikasikan lewat tradisi. Hujan dan air adalah simbol kehidupan dan kesejahteraan dalam masyarakat yang dibarengi dengan ritual dalam tradisi. Dan ketika atas nama rasionalitas tradisi itu ditinggalkan, hujan dan air berubah menjadi sumber bencana.

Tradisi juga merupakan pandangan dunia (world view) dan cara pandang masyarakat tentang sesuatu. Oleh sebab itu tradisi menjadi identitas sosial yang khas bagi masyarakatnya. Jangan heran jika krisis identitas, pelanggaran norma sosial dan norma hukum kian marak terjadi saat tradisi ditinggalkan.

Tradisi dianggap menghambat efisiensi dan jalan pintas bagi manusia modern. Perkembangan teknologi dan modernitas memang sering dituding sebagai faktor yang “membunuh” tradisi. Itu terjadi karena nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi dianggap menghambat progresivitas.

Orang lupa, tradisi justru mengandung nilai harmonisasi agar manusia tidak jatuh dalam jurang modernitas. Artinya, tradisi tidak menentang modernitas. Namun modernitas jangan sampai mengorbankan nilai dan cara pandang yang baik, benar, dan elok.

Tedak Siten

Masih banyak tradisi yang bertahan di tengah gempuran modernitas. Salah satu tradisi yang masih dilaksanakan masyarakat adalah Tedak Siten. Tradisi masyarakat Indonesia, utamanya di Jawa, yang merupakan ritual berkaitan dengan proses tumbuh kembang anak. Tedak berarti turun atau menapaki. Siten berarti tanah atau bumi. Tradisi ini sering juga disebut Turun Tanah.

Anak melewati jadah tujuh warna dalam tradisi Tedak Siten di Purwokerto, Jawa Tengah | Foto Dok.Penulis

Tedak Siten merupakan tradisi yang dilaksanakan ketika seorang anak mulai belajar berjalan atau menginjakkan kaki ke tanah pada usia tujuh atau delapan bulan. Bagi masyarakat Indonesia, tanah memiliki makna kekuatan gaib. Sehingga ketika seorang anak mulai menyentuh dan turun tanah, maka harus dilakukan ritual untuk keselamatan sang anak.

Salah satu keluarga yang masih menjalankan tradisi Tedak Siten adalah Bambang Widodo, warga Purwokerto, Jawa Tengah. Pada hari Sabtu Legi, 19 April 2025 ia melaksanakan Tedak Siten bagi cucunya, Ni Kahiyang Nareswari. Tradisi ini dihadiri sanak keluarga, tetangga, para sesepuh, dan anak-anak. Tentu saja Bambang Widodo sang kakek berharap agar cucunya dapat menapaki kehidupan masa kini dan masa depan dengan lancar dan sukses.

Secara umum Tedak Siten merupakan bentuk komunikasi awal seorang anak kepada bumi atau tanah dengan cara belajar berjalan. Harapan orang tua dan keluarga agar sang anak menjadi manusia yang berguna bagi keluarga, agama, bangsa, dan negara. Karenanya, tradisi ini diwarnai dengan doa-doa yang dipanjatkan para sesepuh, kakek, maupun orang tua sang anak.

Berbagai daerah melaksanakan Tedak Siten dengan beragam cara. Namun secara umum tradisi ini dilakukan dengan urutan-urutan yang akan menggambarkan perjalanan anak di masa kini dan masa depan. Maka sesungguhnya tradisi ini bersifat futuristik.

Acara akan diawali dengan ritual membersihkan kaki anak. Orang tua akan menggendong anak untuk kemudian dicuci bersih kakinya sebelum sang anak menapaki tanah. Selanjutnya anak akan dituntun untuk berjalan melewati jadah (jajanan yang terbuat dari ketan) dengan tujuh warna. Jajanan ini dibuat warna-warni yang melambangkan rintangan hidup yang beraneka ragam.

Dengan tuntunan orang tua, sang anak menaiki tangga yang terbuat dari tebu. Tebu bagi masyarakat Jawa bermakna antebing kalbu atau kemantapan jiwa. Tangga tersebut melambangkan tahapan anak melewati jenjang kehidupan dan pendidikan mulai taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Sebelum melakukan sesuatu sang anak diharapkan mengawalinya dengan jiwa yang mantap.

Prosesi menarik dari tradisi Tedak Siten adalah ketika anak dimasukkan ke dalam kurungan ayam atau sangkar ayam dengan ukuran besar. Di dalam kurungan disediakan berbagai benda untuk dipilih sang anak, seperti perhiasan, uang, beras, buku tulis, dan beragam permainan anak.

Selanjutnya anak akan dimandikan dengan air yang sudah direndam semalaman oleh kedua orang tuanya. Rendaman air lantas diberi aneka bunga untuk mandi. Anak biasanya akan dikenakan pakaian yang baik setelah mandi.

Tahap terakhir dari tradisi ini adalah menyebar udhik-udhik, yaitu beras kuning yang terbuat dari campuran beras dan kunyit serta uang logam. Udhik-udhik ini selanjutnya akan disebar dan diperebutkan oleh anak-anak yang hadir.

Makna Komunikasi

Tradisi Tedak Siten adalah kegiatan simbolik dalam masyarakat Indonesia. Tradisi ini merupakan salah satu bentuk komunikasi tradisional. Untuk memaknai tradisi ini diperlukan pendekatan etnografi komunikasi. Pendekatan ini akan dapat memaknai setiap urutan, pelaku, ritual, tempat, dan perlengkapan yang ada dalam suatu tradisi di masyarakat.

Prosesi awal Tedak Siten dilakukan dengan membasahi kaki sang anak. Secara simbolik prosesi ini bersifat futuristik bagi manusia. Kaki yang bersih merupakan pesan komunikasi tentang perilaku ke depan yang harus disertai jiwa yang bersih. Anak dibiasakan hidup dalam situasi dan kondisi yang bersih, melakukan sesuatu dengan cara yang bersih.

Jika kaki sudah bersih, anak akan melewati rintangan hidup yang disimbolisasikan dengan tujuh jadah warna-warni. Tujuh dalam bahasa Jawa adalah pitu, yang bermakna pitulungan atau pertolongan. Sejak awal anak sudah dingatkan adanya rintangan dalam menapaki kehidupan, dan hanya dengan pertologan Tuhan semua rintangan itu dapat dilalui.

Menaiki tangga yang terbuat dari tebu mengajarkan kepada anak untuk setapak demi setapak meniti kehidupan menuju puncak. Tidak mudah tentunya. Oleh sebab itu diperlukan antebing kalbu, jiwa dan tekad yang matab, tidak patah semangat, dan pantang menyerah.

Sedari kecil anak juga sudah diajarkan untuk memproyeksikan masa depan terkait karir maupun ketertarikan dalam kehidupan. Melalui prosesi masuk dalam kurungan ayam, anak sudah diproyeksikan masa depannya melalui benda-benda yang dipilihnya. Bukankah ini merupakan tradisi dan komunikasi yang futuristik?

Meniti karir di masa depan tidak dapat dilakukan dengan mengabaikan nama baik keluarga. Prosesi mandi kembang mengandung makna agar anak selalu mengharumkan dan membawa nama baik keluarga dalam setiap tindakannya. Jangan sampai anak tumbuh dan berkembang dengan mencoreng nama baik keluarga.

Kepekaan dan solidaritas sosial anak juga sudah mulai terbangun dalam tradisi Tedak Siten ini. Lewat prosesi udhik-udhik, anak diajarkan untuk saling berbagi kepada orang lain. Anak dididik untuk tidak egois. Harta dan kekayaan bukan hanya dinikmati sendiri, tetapi juga perlu memperhatikan keadaan orang lain yang membutuhkan.

Jika orang tua, leluhur, dan nenek moyang telah mewariskan tradisi dan komunikasi yang futuristik, akankah orang menguburkannya atas dalih modernitas? Sementara banyak perilaku hampa nilai dan abai norma dilakukan mereka yang disebut modern? Seperti korupsi dan memagari laut, misalnya? [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU

Komunikasi “Omon-Omon” dan #KaburAjaDulu
Ilusi Komunikasi dalam Perspektif “Helical Model” [Bagian 1]
Badan Intelijen Keuangan: Urgensi dan Tantangan Komunikasi
Komunikasi untuk Mendukung Organisasi
Tags: ilmu komunikasiJawa TengahkomunikasiTradisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Harapan itu Bernama Jumbo!

Next Post

Kontemplasi Mewujudkan Kehidupan Shanti Jagadhita

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Kontemplasi Mewujudkan Kehidupan Shanti Jagadhita

Kontemplasi Mewujudkan Kehidupan Shanti Jagadhita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co