2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pemerintahan yang Gagal Berkomunikasi dengan Rakyat

Chusmeru by Chusmeru
April 27, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

RAKYAT tentu masih ingat betul apa yang diucapkan setiap pejabat negara, mulai dari presiden hingga para menteri. Bukan hanya kurang dimengerti, ucapan pejabat negara juga kadang membuat sakit hati rakyat. Semua itu akan menjadi memori kolektif rakyat Indonesia tentang pemimpinnya.

Ucapan Presiden Prabowo Subianto menaggapi kritik yang ditujukan kepadanya dengan lontaran kata “Ndhasmu” tentu sulit dimengerti masyarakat. Bukan hanya sekali Prabowo menyebut kata “Ndhasmu”. Dalam beberapa kesempatan ia melontarkan kata umpatan  yang berarti “Kepalamu” itu. Bukan arti kata yang sulit dimengerti rakyat, namun alasan Prabowo mengucapkan kata itu juga tak dapat dipahami rakyat.

Bagi rakyat pinggiran, umpatan seperti itu barangkali biasa terlontar. Namun bagi seorang presiden, kepala negara, dan kepala pemerintahan; ucapan yang sarkas itu tentulah tak elok. Dalam konteks ini, Prabowo sebagai presiden telah gagal berkomunikasi dengan rakyatnya, karena mengucapkan kata yang kasar dan menyakitkan.

Setali tiga uang dengan Prabowo, Ketua Dewan Ekonomi Nasional dan Penasehat Khusus Presiden Urusan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan pun membuat pernyataan yang dapat melukai hati rakyat. Ketika beredar tagar #IndonesiaGelap lantaran kondisi ekonomi yang kurang baik dirasakan rakyat, dengan enteng Luhut mengatakan “Kalau ada yang bilang Indonesia gelap, yang gelap kau, bukan Indonesia”.

Tak mau kalah dengan Presiden, para menteri pun mengumbar pernyataan yang tak layak. Wakil Menteri Tenaga Kerja, Immanuel Ebenezer merespons tagar #KaburAjaDulu yang ramai di jagat maya. Tagar yang muncul karena kondisi ketenagakerjaan di Indonesia yang sedang tidak baik-baik saja itu justru ditanggapi pejabat negara itu dengan candaan ketus “Mau kabur, kabur sajalah. Kalau perlu jangan balik lagi”.

Kisruh dan polemik seputar program makan bergizi gratis (MBG) ditanggapi dengan pernyataan yang kurang elok dari Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Bappenas Rachmat Pambudy. Menurutnya, program MBG lebih mendesak dibandingkan penciptaan lapangan kerja. Tentu saja ucapan menteri ini menyakiti hati rakyat yang sedang kesulitan mencari pekerjaan.

Tak kurang, Menteri Koordinator Bidang Hukum dan Hak Asasi Manusia, Yusril Ihza Mahendra membuat pernyataan yang menuai kecaman. Usai dilantik sebagai menteri, ia menyatakan bahwa peristiwa kekerasan pada 1998 tidak termasuk kategori pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat. Tak terbayangkan betapa sakit hati keluarga korban Tragedi 1998. Padahal Yusril sendiri merupakan bagian dari gerakan reformasi 1998.

Gagal dan Gagap

Sesungguhnya kegagalan pemerintahan dalam berkomunikasi dengan rakyatnya bukan barang baru. Sejak pemerintahan sebelum Prabowo, banyak pejabat negara yang berucap menyakiti hati rakyat atau sulit dimengerti oleh rakyatnya.

Bahkan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun gagal dan gagap dalam berkomunikasi. Polemik soal keaslian ijazah sarjana Jokowi dari Universitas Gajah Mada (UGM) tak kunjung tuntas. Hanya pernyataan demi pernyataan yang ia lontarkan. Apa sulitnya ia menunjukkan ijazahnya kepada publik jika memang itu asli. Bukankah sikapnya selama ini justru menunjukkan ia gagal dan gagap berkomunikasi?.

Banyak faktor yang menjadi penyebab kegagalan komunikasi. Ketika orang gagal menyampaikan pesan komunikasi untuk dimengerti orang lain, maka yang terjadi adalah kegagalan komunikasi primer (primary breakdown in communication). Orang gagal menerima pesan secara cermat (Rakhmat, 2003). “Ndhasmu” bagi Presiden Prabowo mungkin bercanda. Namun saat kata itu diucapkan di hadapan publik, maka rakyat akan menangkapnya sebagai ucapan pemimpin yang serius.

Pernyataan pejabat adalah komunikasi. Setiap kata yang meluncur dari mulut pejabat negara adalah bentuk komunikasi. Karena pernyataan, kata, dan ucapan adalah komunikasi, maka selayaknya para petinggi negara itu memikirkan dampak dari komunikasinya kepada rakyat.

Berkata memang mudah. Namun berkomunikasi tidaklah mudah. Dalam komunikasi, sedikitnya ada tiga masalah yang sering menimbulkan kegagalan dalam berkomunikasi. Pertama, masalah teknis. Kedua, problem semantik. Ketiga, berkaitan dengan pengaruh (Weaver, dalam Borden & Stone,1976).

Masalah teknis berkaitan dengan akurasi informasi yang dikomunikasikan. Benarkah tidak terjadi pelanggaran HAM berat dalam tragedi tahun 1998? Benarkah ijazah UGM Jokowi memang betul-betul asli? Persoalan teknis dalam komunikasi ini begitu penting untuk rakyat agar diperoleh akurasi informasi.

Problem semantik berhubungan dengan interpretasi makna oleh rakyat terhadap pesan yang disampaikan oleh pejabat negara. Ucapan menteri tentang MBG yang lebih mendesak dibanding lapangan pekerjaan akan dimaknai sebagai ketidakpedulian pemerintah terhadap jutaan rakyat Indonesia yang masih menganggur. Apa pun dalih yang akan disampaikan pemerintah.

Sedangkan faktor pengaruh merupakan efektivitas pesan komunikasi yang disampaikan pemerintah untuk menimbulkan perilaku rakyat seperti yang diharapkan. Mencermati beberapa kasus pernyataan kontroversial yang diucapkan pejabat negara, nyaris tak ada pesan yang mampu menimbulkan rasa hormat terhadap pemerintah. Bahkan rakyat merasa muak terhadap pejabat yang tak memiliki kepekaan terhadap begitu banyak masalah yang dihadapi. Paling tidak, itu bisa diamati dari berbagai komentar sinis yang beredar di linimasa media sosial.

Empati  

Komunikasi bukan hanya untuk dimengerti, tetapi juga menumbuhkan hubungan sosial. Kegagalan komunikasi yang disebabkan oleh tiadanya hubungan sosial dapat menimbulkan kegagalan komunikasi sekunder (secondary breakdown in communication). Bukannya hubungan sosial yang terbangun, justru anonimitas dan gangguan hubungan manusiawi (Rakhmat, 2003).

Kegagalan komunikasi sekunder pemerintah dapat dipantik oleh banyak faktor. Kondisi perekonomian rakyat yang kian sulit, ditambah persaingan dan pertikaian politik di tingkat elit dapat menjadi pemicu. Sikap egois dan merasa powerful  dalam berkuasa juga menyebabkan kegagalan komunikasi sekunder.

Oleh sebab itu diperlukan empati pemerintah dalam berkomunikasi dengan rakyat. Empati dapat mendorong pemerintah untuk memahami dan merasakan derita rakyatnya. Komunikasi yang disertai empati tidak akan menimbulkan sakit hati.

Namun berempati tidaklah mudah. Apalagi bagi orang yang sedang dimabuk kekuasaan. Alih-alih memahami dan merasakan derita rakyatnya, petinggi negeri ini justru menambah luka dengan ucapannya.

Bagaimana akan berempati, jika seorang Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi membuat pernyataan kontroversial. Kasus teror kepala babi yang diterima jurnalis media Tempo bukan diungkap dan dicari siapa pelakunya, justru diminta untuk dimasak saja kepala babi itu.

Celakanya, itu diucapkan oleh juru bicara presiden sebagai representasi pemerintah. Apakah ia tak mampu berempati di tengah banyaknya jurnalis yang ketakutan terhadap teror, intimidasi, dan kekerasan dalam bertugas? Apakah ia tak merasakan begitu banyak jurnalis yang perlu pertolongan?

Begitu pula Menteri Koordinator Bidang Hukum dan Hak Asasi Manusia, Yusril Ihza Mahendra yang menyebut Tragedi 1998 bukan pelanggaran HAM berat. Bagaimana perasaan keluarga mahasiswa dan aktivis yang diculik, hilang, dan tewas dalam tragedi itu? Di mana letak empati pemerintah yang belum genap setahun ini?

Komunikasi pemerintah yang buruk akan melahirkan ketegangan sosial dan politik. Hubungan sosial pemerintah dan rakyat menjadi tidak harmonis, tidak baik-baik saja. Jika tidak diperbaiki, maka akan menjadi perilaku buruk berkomunikasi yang menetap. Presiden, menteri, dan pejabat tinggi pemerintahan lain boleh berbicara apa saja; bahkan untuk ucapan yang melukai rakyatnya.

Pemerintah yang gagal berkomunikasi dengan rakyatnya adalah pemerintahan yang gagal mengemban amanat rakyat. Setiap lima tahun rakyat memilih pemimpin untuk memahami dan melayani rakyatnya. Bukan sekadar berkomunikasi yang ternyata menyakiti hati rakyat. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU

“Tedak Siten”: Tradisi dan Komunikasi yang Futuristik
Komunikasi “Omon-Omon” dan #KaburAjaDulu
Ilusi Komunikasi dalam Perspektif “Helical Model” [Bagian 1]
Badan Intelijen Keuangan: Urgensi dan Tantangan Komunikasi
Komunikasi untuk Mendukung Organisasi
Tags: ilmu komunikasikomunikasipemerintahan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Kartini, Chairil Anwar, Sampai Ki Hadjar Dewantara

Next Post

Gede Alma, Mahasiswa yang Jualan Kentang Goreng: Pernah Kuliah Bawa Motor Gerobak

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Gede Alma, Mahasiswa yang Jualan Kentang Goreng: Pernah Kuliah Bawa Motor Gerobak

Gede Alma, Mahasiswa yang Jualan Kentang Goreng: Pernah Kuliah Bawa Motor Gerobak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co