“BANGUNAN tinggi itu apa, De?” tanya seorang kawan kepada saya. “Kenapa ada banyak bangunan seperti itu di Panji? Itu rumah tinggal atau rumah walet?” tanya kawan lain di lain waktu. Ya, setiap kali sahabat dari luar desa datang berkunjung ke rumah saya di Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Buleleng, pertanyaan serupa selalu muncul.
Wajar saja mereka bertanya. Sebab di antara rumah warga yang tingginya rata-rata empat meter, menjulang bangunan-bangunan setinggi hampir delapan meter. Bentuknya sederhana, berdiri di atas lahan tak seberapa luas—sekitar 4 x 4 meter—terbuat dari bata merah yang direkatkan bukan dengan semen, melainkan tanah. Atapnya dari seng berkarat. Tak sedikit bagian yang copot, menggantung, atau bahkan bolong. Sebuah tanda usia yang telah tua. Tampak jelas bangunan itu sudah lama tak terurus.
Tetapi bangunan itu bukan rumah burung walet, bukan pula menara penyimpanan. Ia adalah oven tembakau—tempat pengeringan daun tembakau pasca-panen. Di Desa Panji, kami menyebutnya cukup dengan satu kata: oven. Di balik tampilannya yang rapuh, sengnya yang penuh karat, dindingnya yang retak dan berlulang, oven-oven itu merupakan bukti jejak kejayaan sektor pertanian yang pernah menghidupi satu desa.

Oven tembakau di Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Buleleng | Foto: Gading Ganesha
Oven ini berfungsi hampir sama dengan oven rumah tangga: memanaskan. Hanya saja, fungsinya lebih spesifik: mengeringkan daun tembakau. Daun-daun tersebut diikat pada batang kayu tipis yang disebut gerantang (diameter 2 cm, panjang 150 cm), lalu dimasukkan ke dalam oven selama 7 hari. Proses pengeringan dilakukan dengan suhu bertahap, mulai dari 90°C hingga mencapai 170°C, dulu menggunakan bahan bakar minyak tanah.
Tanaman tembakau mulai masuk ke Buleleng pada tahun 1971. Di Panji sendiri mulai dibudidayakan serius empat tahun setelahnya, tepatnya pada 1975, ketika perusahaan multinasional British American Tobacco (BAT) mulai membina langsung petani lokal. Mereka tak hanya memberikan pelatihan menanam dan memanen, tetapi juga modal dan jaminan pembelian hasil panen.
Itulah awal mula oven-oven tembakau bermunculan di Panji. Saat itu, hampir setiap rumah petani memiliki oven sendiri. Bukan hanya satu, ada yang sampai dua bahkan tiga. Bahkan ada rumah petani yang lebih kecil ukurannya daripada oven yang mereka bangun.
Paman saya, Nyoman Regeg, adalah salah satu pelaku sejarahnya. Ia mulai mandiri menanam tembakau sejak tahun 1978. Dari hasil bertani, ia mampu menyewa lahan hingga 4 hektar dan membangun dua oven di perkarangan rumahnya. “Satu oven bisa untuk dua hektar,” katanya, bangga.

Nyoman Regeg, saat menjelaskan hikayat oven tembakau di Desa Panji kepada penulis | Foto: Gading Ganesha
Lebih lanjut, diusianya yang telah memasuki 75 tahun ia masih ingat betul, apa saja hasil dari tembakau itu. “Bapak bisa beli motor dan mobil pick-up, banyak yang heran waktu itu, bapak ini termasuk yang rajin, pernah jadi ketua kelompok yang mengkordinir semua petani tembakau di Buleleng,” ujarnya, mengenang masa lalu. Masa itu tembakau menjadi primadona. Tak hanya sekadar tanaman, tapi juga simbol kemakmuran dan kesejahteraan.
Selain paman, hampir semua keluarga besar kami terlibat dalam pertanian tembakau. Tujuh dari sembilan saudara ayah saya menjadi petani tembakau, semuanya punya oven sendiri. Hanya ayah saya yang menjadi petani tembakau tapi belum sampai punya oven sendiri—karena akhirnya memilih jalan sebagai pegawai negeri.
Proses pengolahan tembakau memakan waktu hingga enam bulan, mulai dari pembibitan, penanaman, pemupukan, pemanenan, hingga pengeringan. Di sinilah peran oven sangat vital. Satu oven bisa menampung hingga 2,5 ton daun tembakau. Setelah dikeringkan, tembakau Panji dikenal berkualitas tinggi. “Yang kualitas nomor satu biasanya dijadikan cerutu di luar negeri,” jelas paman saya.
Berkat tembakau, roda ekonomi desa berputar kencang. Bahkan menanam tembakau juga mengajarkan anak-anak petani bekerja. Berbeda dengan bertani padi yang terlalu sulit bagi anak-anak, tembakau memang membutuhkan banyak tenaga kerja ringan. Dalam satu hektar, bisa dibutuhkan puluhan pekerja, dan anak-anak menjadi tenaga kerja alternatif dan murah.

Oven tembakau di Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Buleleng | Foto: Gading Ganesha
Saya sendiri termasuk yang pernah bekerja membantu paman menanam, memberi pupuk, membasmi ulat, hingga membuka ikatan tembakau pada gerantang setelah dioven. Dari seluruh proses itu, saya bisa menabung hingga Rp. 70.000—jumlah itu cukup besar bagi anak sekolah dasar di tahun 1990-an.
Akhir Sebuah Era: Pandemi dan Kehilangan Harapan
Namun, seperti banyak kisah kejayaan, masa itu tak bertahan lama. Mulai tahun 2001-2005, harga minyak tanah mulai melonjak. Petani harus beralih ke bahan bakar LPG, dan masa transisi ini menyebabkan hasil panen menurun drastis. “Sebenarnya LPG lebih bagus dan aman, tapi waktu adaptasi itu hasil turun,” kata paman saya sambil menggeleng.
Tak berhenti di situ, belum selesai beradaptasi, tahun 2007 pemerintah menaikkan tarif cukai rokok. Ini menjadi pukulan telak bagi industri tembakau nasional, termasuk di Panji. BAT mulai kesulitan menyerap hasil panen. Meskipun di Buleleng sudah ada Gudang Garam yang masih bertahan, tapi mereka hanya membeli kualitas terbaik. Petani kecil seperti paman saya tak lagi punya pasar.
“Perubahan ini memukul telak petani. Cukai naik, perusahaan bingung jual tembakau, petani pun tak tahu harus ke mana,” kenang paman saya.
Beberapa petani sempat mencoba berinovasi, seperti mengganti bahan bakar dengan cangkang kulit kemiri untuk menekan biaya. Namun, ini pun tak mampu mengimbangi dampak dari kenaikan cukai yang terus berlangsung.
Puncaknya terjadi pada tahun 2019, ketika pandemi COVID-19 melanda dunia. Segala aktivitas pertanian terganggu, begitu pula ladang-ladang tembakau Panji. Tidak ada lagi yang menanam. Tidak ada lagi oven yang menyala. Sawah-sawah itu kini penuh batako. Berubah menjadi perumahan.

Oven tembakau di Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Buleleng | Foto: Gading Ganesha
Sejak saat itu, oven-oven yang dulu menjadi simbol kejayaan itu kini hanya menjadi bangunan tua yang sepi dan rusak. Beberapa dihancurkan, diubah menjadi kamar tidur, ruang keluarga, atau dapur. Sebagian lain sengaja dibongkar untuk mengambil bata merahnya yang terkenal berkualitas tinggi.
Kini, hanya sedikit oven yang tersisa di Desa Panji. Dibiarkan berdiri sendiri, rapuh dan ditinggalkan, menjadi saksi bisu kejayaan para petani tembakau di masa lalu. Bangunan itu adalah monumen yang mengingatkan kita, bahwa Desa Panji pernah mencicipi masa keemasan, pernah menjadi bagian dari industri besar yang menyentuh pasar dunia.
Dan meski kini hanya tinggal kenangan, kisah itu tetap hidup dalam cerita-cerita para orang tua, dalam bata merah yang masih berdiri, dan dalam ingatan anak-anak desa yang pernah menjadi bagian dari sejarahnya.[T]
Reporter/Penulis: Gading Ganesha
Editor: Jaswanto





























