2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hikayat Oven Tembakau: Saksi Bisu Kejayaan Petani Tembakau di Desa Panji

Gading Ganesha by Gading Ganesha
July 7, 2025
in Khas
Hikayat Oven Tembakau: Saksi Bisu Kejayaan Petani Tembakau di Desa Panji

Oven tembakau di Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Buleleng | Foto: Gading Ganesha

“BANGUNAN tinggi itu apa, De?” tanya seorang kawan kepada saya. “Kenapa ada banyak bangunan seperti itu di Panji? Itu rumah tinggal atau rumah walet?” tanya kawan lain di lain waktu. Ya, setiap kali sahabat dari luar desa datang berkunjung ke rumah saya di Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Buleleng, pertanyaan serupa selalu muncul.

Wajar saja mereka bertanya. Sebab di antara rumah warga yang tingginya rata-rata empat meter, menjulang bangunan-bangunan setinggi hampir delapan meter. Bentuknya sederhana, berdiri di atas lahan tak seberapa luas—sekitar 4 x 4 meter—terbuat dari bata merah yang direkatkan bukan dengan semen, melainkan tanah. Atapnya dari seng berkarat. Tak sedikit bagian yang copot, menggantung, atau bahkan bolong. Sebuah tanda usia yang telah tua. Tampak jelas bangunan itu sudah lama tak terurus.

Tetapi bangunan itu bukan rumah burung walet, bukan pula menara penyimpanan. Ia adalah oven tembakau—tempat pengeringan daun tembakau pasca-panen. Di Desa Panji, kami menyebutnya cukup dengan satu kata: oven. Di balik tampilannya yang rapuh, sengnya yang penuh karat, dindingnya yang retak dan berlulang, oven-oven itu merupakan bukti jejak kejayaan sektor pertanian yang pernah menghidupi satu desa.

Oven tembakau di Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Buleleng | Foto: Gading Ganesha

Oven ini berfungsi hampir sama dengan oven rumah tangga: memanaskan. Hanya saja, fungsinya lebih spesifik: mengeringkan daun tembakau. Daun-daun tersebut diikat pada batang kayu tipis yang disebut gerantang (diameter 2 cm, panjang 150 cm), lalu dimasukkan ke dalam oven selama 7 hari. Proses pengeringan dilakukan dengan suhu bertahap, mulai dari 90°C hingga mencapai 170°C, dulu menggunakan bahan bakar minyak tanah.

Tanaman tembakau mulai masuk ke Buleleng pada tahun 1971. Di Panji sendiri mulai dibudidayakan serius empat tahun setelahnya, tepatnya pada 1975, ketika perusahaan multinasional British American Tobacco (BAT) mulai membina langsung petani lokal. Mereka tak hanya memberikan pelatihan menanam dan memanen, tetapi juga modal dan jaminan pembelian hasil panen.

Itulah awal mula oven-oven tembakau bermunculan di Panji. Saat itu, hampir setiap rumah petani memiliki oven sendiri. Bukan hanya satu, ada yang sampai dua bahkan tiga. Bahkan ada rumah petani yang lebih kecil ukurannya daripada oven yang mereka bangun.

Paman saya, Nyoman Regeg, adalah salah satu pelaku sejarahnya. Ia mulai mandiri menanam tembakau sejak tahun 1978. Dari hasil bertani, ia mampu menyewa lahan hingga 4 hektar dan membangun dua oven di perkarangan rumahnya. “Satu oven bisa untuk dua hektar,” katanya, bangga.

Nyoman Regeg, saat menjelaskan hikayat oven tembakau di Desa Panji kepada penulis | Foto: Gading Ganesha

Lebih lanjut, diusianya yang telah memasuki 75 tahun ia masih ingat betul, apa saja hasil dari tembakau itu. “Bapak bisa beli motor dan mobil pick-up, banyak yang heran waktu itu, bapak ini termasuk yang rajin, pernah jadi ketua kelompok yang mengkordinir semua petani tembakau di Buleleng,” ujarnya, mengenang masa lalu. Masa itu tembakau menjadi primadona. Tak hanya sekadar tanaman, tapi juga simbol kemakmuran dan kesejahteraan.

Selain paman, hampir semua keluarga besar kami terlibat dalam pertanian tembakau. Tujuh dari sembilan saudara ayah saya menjadi petani tembakau, semuanya punya oven sendiri. Hanya ayah saya yang menjadi petani tembakau tapi belum sampai punya oven sendiri—karena akhirnya memilih jalan sebagai pegawai negeri.

Proses pengolahan tembakau memakan waktu hingga enam bulan, mulai dari pembibitan, penanaman, pemupukan, pemanenan, hingga pengeringan. Di sinilah peran oven sangat vital. Satu oven bisa menampung hingga 2,5 ton daun tembakau. Setelah dikeringkan, tembakau Panji dikenal berkualitas tinggi. “Yang kualitas nomor satu biasanya dijadikan cerutu di luar negeri,” jelas paman saya.

Berkat tembakau, roda ekonomi desa berputar kencang. Bahkan menanam tembakau juga mengajarkan anak-anak petani bekerja. Berbeda dengan bertani padi yang terlalu sulit bagi anak-anak, tembakau memang membutuhkan banyak tenaga kerja ringan. Dalam satu hektar, bisa dibutuhkan puluhan pekerja, dan anak-anak menjadi tenaga kerja alternatif dan murah.

Oven tembakau di Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Buleleng | Foto: Gading Ganesha

Saya sendiri termasuk yang pernah bekerja membantu paman menanam, memberi pupuk, membasmi ulat, hingga membuka ikatan tembakau pada gerantang setelah dioven. Dari seluruh proses itu, saya bisa menabung hingga Rp. 70.000—jumlah itu cukup besar bagi anak sekolah dasar di tahun 1990-an.

Akhir Sebuah Era: Pandemi dan Kehilangan Harapan

Namun, seperti banyak kisah kejayaan, masa itu tak bertahan lama. Mulai tahun 2001-2005, harga minyak tanah mulai melonjak. Petani harus beralih ke bahan bakar LPG, dan masa transisi ini menyebabkan hasil panen menurun drastis. “Sebenarnya LPG lebih bagus dan aman, tapi waktu adaptasi itu hasil turun,” kata paman saya sambil menggeleng.

Tak berhenti di situ, belum selesai beradaptasi, tahun 2007 pemerintah menaikkan tarif cukai rokok. Ini menjadi pukulan telak bagi industri tembakau nasional, termasuk di Panji. BAT mulai kesulitan menyerap hasil panen. Meskipun di Buleleng sudah ada Gudang Garam yang masih bertahan, tapi mereka hanya membeli kualitas terbaik. Petani kecil seperti paman saya tak lagi punya pasar.

“Perubahan ini memukul telak petani. Cukai naik, perusahaan bingung jual tembakau, petani pun tak tahu harus ke mana,” kenang paman saya.

Beberapa petani sempat mencoba berinovasi, seperti mengganti bahan bakar dengan cangkang kulit kemiri untuk menekan biaya. Namun, ini pun tak mampu mengimbangi dampak dari kenaikan cukai yang terus berlangsung.

Puncaknya terjadi pada tahun 2019, ketika pandemi COVID-19 melanda dunia. Segala aktivitas pertanian terganggu, begitu pula ladang-ladang tembakau Panji. Tidak ada lagi yang menanam. Tidak ada lagi oven yang menyala. Sawah-sawah itu kini penuh batako. Berubah menjadi perumahan.

Oven tembakau di Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Buleleng | Foto: Gading Ganesha

Sejak saat itu, oven-oven yang dulu menjadi simbol kejayaan itu kini hanya menjadi bangunan tua yang sepi dan rusak. Beberapa dihancurkan, diubah menjadi kamar tidur, ruang keluarga, atau dapur. Sebagian lain sengaja dibongkar untuk mengambil bata merahnya yang terkenal berkualitas tinggi.

Kini, hanya sedikit oven yang tersisa di Desa Panji. Dibiarkan berdiri sendiri, rapuh dan ditinggalkan, menjadi saksi bisu kejayaan para petani tembakau di masa lalu. Bangunan itu adalah monumen yang mengingatkan kita, bahwa Desa Panji pernah mencicipi masa keemasan, pernah menjadi bagian dari industri besar yang menyentuh pasar dunia.

Dan meski kini hanya tinggal kenangan, kisah itu tetap hidup dalam cerita-cerita para orang tua, dalam bata merah yang masih berdiri, dan dalam ingatan anak-anak desa yang pernah menjadi bagian dari sejarahnya.[T]

Reporter/Penulis: Gading Ganesha
Editor: Jaswanto

Meneroka Tembakau Tuban: Emas Hijau dari San Salvador
Luhurnya Cita Rasa Tembakau Bondowoso
Kisah Tiga Dadong , Nasabah Prioritas Bank Sampah Galang Panji di Buleleng
3 Bocah Yatim Rajin Tabung Sampah untuk Beli Alat Sekolah | Ini Kisah Nasabah Bank Sampah Galang Panji

Tags: bulelengDesa PanjiGudang GarampertanianrokokSukasadatembakau
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ke Langit Anak-anak Nakal Itu Pergi — Catatan Baca Puisi Sanne Breimer atas “Khaled Juma” di Rabu Puisi #11 Komunitas Mahima

Next Post

Menonton Tiga Garapan Khas Daerah Sanggar Seni Manik Uttara Buleleng di Pesta Kesenian Bali 2025

Gading Ganesha

Gading Ganesha

Lahir dan tinggal di Desa Panji, Buleleng, 11 November 1988. Ia adalah founder Bank Sampah Galang Panji dan Co. Founder Rumah Plastik. Juga Ketua BPD Desa Panji.

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Menonton Tiga Garapan Khas Daerah Sanggar Seni Manik Uttara Buleleng di Pesta Kesenian Bali 2025

Menonton Tiga Garapan Khas Daerah Sanggar Seni Manik Uttara Buleleng di Pesta Kesenian Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co