23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hikayat Oven Tembakau: Saksi Bisu Kejayaan Petani Tembakau di Desa Panji

Gading Ganesha by Gading Ganesha
July 7, 2025
in Khas
Hikayat Oven Tembakau: Saksi Bisu Kejayaan Petani Tembakau di Desa Panji

Oven tembakau di Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Buleleng | Foto: Gading Ganesha

“BANGUNAN tinggi itu apa, De?” tanya seorang kawan kepada saya. “Kenapa ada banyak bangunan seperti itu di Panji? Itu rumah tinggal atau rumah walet?” tanya kawan lain di lain waktu. Ya, setiap kali sahabat dari luar desa datang berkunjung ke rumah saya di Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Buleleng, pertanyaan serupa selalu muncul.

Wajar saja mereka bertanya. Sebab di antara rumah warga yang tingginya rata-rata empat meter, menjulang bangunan-bangunan setinggi hampir delapan meter. Bentuknya sederhana, berdiri di atas lahan tak seberapa luas—sekitar 4 x 4 meter—terbuat dari bata merah yang direkatkan bukan dengan semen, melainkan tanah. Atapnya dari seng berkarat. Tak sedikit bagian yang copot, menggantung, atau bahkan bolong. Sebuah tanda usia yang telah tua. Tampak jelas bangunan itu sudah lama tak terurus.

Tetapi bangunan itu bukan rumah burung walet, bukan pula menara penyimpanan. Ia adalah oven tembakau—tempat pengeringan daun tembakau pasca-panen. Di Desa Panji, kami menyebutnya cukup dengan satu kata: oven. Di balik tampilannya yang rapuh, sengnya yang penuh karat, dindingnya yang retak dan berlulang, oven-oven itu merupakan bukti jejak kejayaan sektor pertanian yang pernah menghidupi satu desa.

Oven tembakau di Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Buleleng | Foto: Gading Ganesha

Oven ini berfungsi hampir sama dengan oven rumah tangga: memanaskan. Hanya saja, fungsinya lebih spesifik: mengeringkan daun tembakau. Daun-daun tersebut diikat pada batang kayu tipis yang disebut gerantang (diameter 2 cm, panjang 150 cm), lalu dimasukkan ke dalam oven selama 7 hari. Proses pengeringan dilakukan dengan suhu bertahap, mulai dari 90°C hingga mencapai 170°C, dulu menggunakan bahan bakar minyak tanah.

Tanaman tembakau mulai masuk ke Buleleng pada tahun 1971. Di Panji sendiri mulai dibudidayakan serius empat tahun setelahnya, tepatnya pada 1975, ketika perusahaan multinasional British American Tobacco (BAT) mulai membina langsung petani lokal. Mereka tak hanya memberikan pelatihan menanam dan memanen, tetapi juga modal dan jaminan pembelian hasil panen.

Itulah awal mula oven-oven tembakau bermunculan di Panji. Saat itu, hampir setiap rumah petani memiliki oven sendiri. Bukan hanya satu, ada yang sampai dua bahkan tiga. Bahkan ada rumah petani yang lebih kecil ukurannya daripada oven yang mereka bangun.

Paman saya, Nyoman Regeg, adalah salah satu pelaku sejarahnya. Ia mulai mandiri menanam tembakau sejak tahun 1978. Dari hasil bertani, ia mampu menyewa lahan hingga 4 hektar dan membangun dua oven di perkarangan rumahnya. “Satu oven bisa untuk dua hektar,” katanya, bangga.

Nyoman Regeg, saat menjelaskan hikayat oven tembakau di Desa Panji kepada penulis | Foto: Gading Ganesha

Lebih lanjut, diusianya yang telah memasuki 75 tahun ia masih ingat betul, apa saja hasil dari tembakau itu. “Bapak bisa beli motor dan mobil pick-up, banyak yang heran waktu itu, bapak ini termasuk yang rajin, pernah jadi ketua kelompok yang mengkordinir semua petani tembakau di Buleleng,” ujarnya, mengenang masa lalu. Masa itu tembakau menjadi primadona. Tak hanya sekadar tanaman, tapi juga simbol kemakmuran dan kesejahteraan.

Selain paman, hampir semua keluarga besar kami terlibat dalam pertanian tembakau. Tujuh dari sembilan saudara ayah saya menjadi petani tembakau, semuanya punya oven sendiri. Hanya ayah saya yang menjadi petani tembakau tapi belum sampai punya oven sendiri—karena akhirnya memilih jalan sebagai pegawai negeri.

Proses pengolahan tembakau memakan waktu hingga enam bulan, mulai dari pembibitan, penanaman, pemupukan, pemanenan, hingga pengeringan. Di sinilah peran oven sangat vital. Satu oven bisa menampung hingga 2,5 ton daun tembakau. Setelah dikeringkan, tembakau Panji dikenal berkualitas tinggi. “Yang kualitas nomor satu biasanya dijadikan cerutu di luar negeri,” jelas paman saya.

Berkat tembakau, roda ekonomi desa berputar kencang. Bahkan menanam tembakau juga mengajarkan anak-anak petani bekerja. Berbeda dengan bertani padi yang terlalu sulit bagi anak-anak, tembakau memang membutuhkan banyak tenaga kerja ringan. Dalam satu hektar, bisa dibutuhkan puluhan pekerja, dan anak-anak menjadi tenaga kerja alternatif dan murah.

Oven tembakau di Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Buleleng | Foto: Gading Ganesha

Saya sendiri termasuk yang pernah bekerja membantu paman menanam, memberi pupuk, membasmi ulat, hingga membuka ikatan tembakau pada gerantang setelah dioven. Dari seluruh proses itu, saya bisa menabung hingga Rp. 70.000—jumlah itu cukup besar bagi anak sekolah dasar di tahun 1990-an.

Akhir Sebuah Era: Pandemi dan Kehilangan Harapan

Namun, seperti banyak kisah kejayaan, masa itu tak bertahan lama. Mulai tahun 2001-2005, harga minyak tanah mulai melonjak. Petani harus beralih ke bahan bakar LPG, dan masa transisi ini menyebabkan hasil panen menurun drastis. “Sebenarnya LPG lebih bagus dan aman, tapi waktu adaptasi itu hasil turun,” kata paman saya sambil menggeleng.

Tak berhenti di situ, belum selesai beradaptasi, tahun 2007 pemerintah menaikkan tarif cukai rokok. Ini menjadi pukulan telak bagi industri tembakau nasional, termasuk di Panji. BAT mulai kesulitan menyerap hasil panen. Meskipun di Buleleng sudah ada Gudang Garam yang masih bertahan, tapi mereka hanya membeli kualitas terbaik. Petani kecil seperti paman saya tak lagi punya pasar.

“Perubahan ini memukul telak petani. Cukai naik, perusahaan bingung jual tembakau, petani pun tak tahu harus ke mana,” kenang paman saya.

Beberapa petani sempat mencoba berinovasi, seperti mengganti bahan bakar dengan cangkang kulit kemiri untuk menekan biaya. Namun, ini pun tak mampu mengimbangi dampak dari kenaikan cukai yang terus berlangsung.

Puncaknya terjadi pada tahun 2019, ketika pandemi COVID-19 melanda dunia. Segala aktivitas pertanian terganggu, begitu pula ladang-ladang tembakau Panji. Tidak ada lagi yang menanam. Tidak ada lagi oven yang menyala. Sawah-sawah itu kini penuh batako. Berubah menjadi perumahan.

Oven tembakau di Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Buleleng | Foto: Gading Ganesha

Sejak saat itu, oven-oven yang dulu menjadi simbol kejayaan itu kini hanya menjadi bangunan tua yang sepi dan rusak. Beberapa dihancurkan, diubah menjadi kamar tidur, ruang keluarga, atau dapur. Sebagian lain sengaja dibongkar untuk mengambil bata merahnya yang terkenal berkualitas tinggi.

Kini, hanya sedikit oven yang tersisa di Desa Panji. Dibiarkan berdiri sendiri, rapuh dan ditinggalkan, menjadi saksi bisu kejayaan para petani tembakau di masa lalu. Bangunan itu adalah monumen yang mengingatkan kita, bahwa Desa Panji pernah mencicipi masa keemasan, pernah menjadi bagian dari industri besar yang menyentuh pasar dunia.

Dan meski kini hanya tinggal kenangan, kisah itu tetap hidup dalam cerita-cerita para orang tua, dalam bata merah yang masih berdiri, dan dalam ingatan anak-anak desa yang pernah menjadi bagian dari sejarahnya.[T]

Reporter/Penulis: Gading Ganesha
Editor: Jaswanto

Meneroka Tembakau Tuban: Emas Hijau dari San Salvador
Luhurnya Cita Rasa Tembakau Bondowoso
Kisah Tiga Dadong , Nasabah Prioritas Bank Sampah Galang Panji di Buleleng
3 Bocah Yatim Rajin Tabung Sampah untuk Beli Alat Sekolah | Ini Kisah Nasabah Bank Sampah Galang Panji

Tags: bulelengDesa PanjiGudang GarampertanianrokokSukasadatembakau
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ke Langit Anak-anak Nakal Itu Pergi — Catatan Baca Puisi Sanne Breimer atas “Khaled Juma” di Rabu Puisi #11 Komunitas Mahima

Next Post

Menonton Tiga Garapan Khas Daerah Sanggar Seni Manik Uttara Buleleng di Pesta Kesenian Bali 2025

Gading Ganesha

Gading Ganesha

Lahir dan tinggal di Desa Panji, Buleleng, 11 November 1988. Ia adalah founder Bank Sampah Galang Panji dan Co. Founder Rumah Plastik. Juga Ketua BPD Desa Panji.

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
Menonton Tiga Garapan Khas Daerah Sanggar Seni Manik Uttara Buleleng di Pesta Kesenian Bali 2025

Menonton Tiga Garapan Khas Daerah Sanggar Seni Manik Uttara Buleleng di Pesta Kesenian Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co