12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hikayat Oven Tembakau: Saksi Bisu Kejayaan Petani Tembakau di Desa Panji

Gading Ganesha by Gading Ganesha
July 7, 2025
in Khas
Hikayat Oven Tembakau: Saksi Bisu Kejayaan Petani Tembakau di Desa Panji

Oven tembakau di Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Buleleng | Foto: Gading Ganesha

“BANGUNAN tinggi itu apa, De?” tanya seorang kawan kepada saya. “Kenapa ada banyak bangunan seperti itu di Panji? Itu rumah tinggal atau rumah walet?” tanya kawan lain di lain waktu. Ya, setiap kali sahabat dari luar desa datang berkunjung ke rumah saya di Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Buleleng, pertanyaan serupa selalu muncul.

Wajar saja mereka bertanya. Sebab di antara rumah warga yang tingginya rata-rata empat meter, menjulang bangunan-bangunan setinggi hampir delapan meter. Bentuknya sederhana, berdiri di atas lahan tak seberapa luas—sekitar 4 x 4 meter—terbuat dari bata merah yang direkatkan bukan dengan semen, melainkan tanah. Atapnya dari seng berkarat. Tak sedikit bagian yang copot, menggantung, atau bahkan bolong. Sebuah tanda usia yang telah tua. Tampak jelas bangunan itu sudah lama tak terurus.

Tetapi bangunan itu bukan rumah burung walet, bukan pula menara penyimpanan. Ia adalah oven tembakau—tempat pengeringan daun tembakau pasca-panen. Di Desa Panji, kami menyebutnya cukup dengan satu kata: oven. Di balik tampilannya yang rapuh, sengnya yang penuh karat, dindingnya yang retak dan berlulang, oven-oven itu merupakan bukti jejak kejayaan sektor pertanian yang pernah menghidupi satu desa.

Oven tembakau di Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Buleleng | Foto: Gading Ganesha

Oven ini berfungsi hampir sama dengan oven rumah tangga: memanaskan. Hanya saja, fungsinya lebih spesifik: mengeringkan daun tembakau. Daun-daun tersebut diikat pada batang kayu tipis yang disebut gerantang (diameter 2 cm, panjang 150 cm), lalu dimasukkan ke dalam oven selama 7 hari. Proses pengeringan dilakukan dengan suhu bertahap, mulai dari 90°C hingga mencapai 170°C, dulu menggunakan bahan bakar minyak tanah.

Tanaman tembakau mulai masuk ke Buleleng pada tahun 1971. Di Panji sendiri mulai dibudidayakan serius empat tahun setelahnya, tepatnya pada 1975, ketika perusahaan multinasional British American Tobacco (BAT) mulai membina langsung petani lokal. Mereka tak hanya memberikan pelatihan menanam dan memanen, tetapi juga modal dan jaminan pembelian hasil panen.

Itulah awal mula oven-oven tembakau bermunculan di Panji. Saat itu, hampir setiap rumah petani memiliki oven sendiri. Bukan hanya satu, ada yang sampai dua bahkan tiga. Bahkan ada rumah petani yang lebih kecil ukurannya daripada oven yang mereka bangun.

Paman saya, Nyoman Regeg, adalah salah satu pelaku sejarahnya. Ia mulai mandiri menanam tembakau sejak tahun 1978. Dari hasil bertani, ia mampu menyewa lahan hingga 4 hektar dan membangun dua oven di perkarangan rumahnya. “Satu oven bisa untuk dua hektar,” katanya, bangga.

Nyoman Regeg, saat menjelaskan hikayat oven tembakau di Desa Panji kepada penulis | Foto: Gading Ganesha

Lebih lanjut, diusianya yang telah memasuki 75 tahun ia masih ingat betul, apa saja hasil dari tembakau itu. “Bapak bisa beli motor dan mobil pick-up, banyak yang heran waktu itu, bapak ini termasuk yang rajin, pernah jadi ketua kelompok yang mengkordinir semua petani tembakau di Buleleng,” ujarnya, mengenang masa lalu. Masa itu tembakau menjadi primadona. Tak hanya sekadar tanaman, tapi juga simbol kemakmuran dan kesejahteraan.

Selain paman, hampir semua keluarga besar kami terlibat dalam pertanian tembakau. Tujuh dari sembilan saudara ayah saya menjadi petani tembakau, semuanya punya oven sendiri. Hanya ayah saya yang menjadi petani tembakau tapi belum sampai punya oven sendiri—karena akhirnya memilih jalan sebagai pegawai negeri.

Proses pengolahan tembakau memakan waktu hingga enam bulan, mulai dari pembibitan, penanaman, pemupukan, pemanenan, hingga pengeringan. Di sinilah peran oven sangat vital. Satu oven bisa menampung hingga 2,5 ton daun tembakau. Setelah dikeringkan, tembakau Panji dikenal berkualitas tinggi. “Yang kualitas nomor satu biasanya dijadikan cerutu di luar negeri,” jelas paman saya.

Berkat tembakau, roda ekonomi desa berputar kencang. Bahkan menanam tembakau juga mengajarkan anak-anak petani bekerja. Berbeda dengan bertani padi yang terlalu sulit bagi anak-anak, tembakau memang membutuhkan banyak tenaga kerja ringan. Dalam satu hektar, bisa dibutuhkan puluhan pekerja, dan anak-anak menjadi tenaga kerja alternatif dan murah.

Oven tembakau di Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Buleleng | Foto: Gading Ganesha

Saya sendiri termasuk yang pernah bekerja membantu paman menanam, memberi pupuk, membasmi ulat, hingga membuka ikatan tembakau pada gerantang setelah dioven. Dari seluruh proses itu, saya bisa menabung hingga Rp. 70.000—jumlah itu cukup besar bagi anak sekolah dasar di tahun 1990-an.

Akhir Sebuah Era: Pandemi dan Kehilangan Harapan

Namun, seperti banyak kisah kejayaan, masa itu tak bertahan lama. Mulai tahun 2001-2005, harga minyak tanah mulai melonjak. Petani harus beralih ke bahan bakar LPG, dan masa transisi ini menyebabkan hasil panen menurun drastis. “Sebenarnya LPG lebih bagus dan aman, tapi waktu adaptasi itu hasil turun,” kata paman saya sambil menggeleng.

Tak berhenti di situ, belum selesai beradaptasi, tahun 2007 pemerintah menaikkan tarif cukai rokok. Ini menjadi pukulan telak bagi industri tembakau nasional, termasuk di Panji. BAT mulai kesulitan menyerap hasil panen. Meskipun di Buleleng sudah ada Gudang Garam yang masih bertahan, tapi mereka hanya membeli kualitas terbaik. Petani kecil seperti paman saya tak lagi punya pasar.

“Perubahan ini memukul telak petani. Cukai naik, perusahaan bingung jual tembakau, petani pun tak tahu harus ke mana,” kenang paman saya.

Beberapa petani sempat mencoba berinovasi, seperti mengganti bahan bakar dengan cangkang kulit kemiri untuk menekan biaya. Namun, ini pun tak mampu mengimbangi dampak dari kenaikan cukai yang terus berlangsung.

Puncaknya terjadi pada tahun 2019, ketika pandemi COVID-19 melanda dunia. Segala aktivitas pertanian terganggu, begitu pula ladang-ladang tembakau Panji. Tidak ada lagi yang menanam. Tidak ada lagi oven yang menyala. Sawah-sawah itu kini penuh batako. Berubah menjadi perumahan.

Oven tembakau di Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Buleleng | Foto: Gading Ganesha

Sejak saat itu, oven-oven yang dulu menjadi simbol kejayaan itu kini hanya menjadi bangunan tua yang sepi dan rusak. Beberapa dihancurkan, diubah menjadi kamar tidur, ruang keluarga, atau dapur. Sebagian lain sengaja dibongkar untuk mengambil bata merahnya yang terkenal berkualitas tinggi.

Kini, hanya sedikit oven yang tersisa di Desa Panji. Dibiarkan berdiri sendiri, rapuh dan ditinggalkan, menjadi saksi bisu kejayaan para petani tembakau di masa lalu. Bangunan itu adalah monumen yang mengingatkan kita, bahwa Desa Panji pernah mencicipi masa keemasan, pernah menjadi bagian dari industri besar yang menyentuh pasar dunia.

Dan meski kini hanya tinggal kenangan, kisah itu tetap hidup dalam cerita-cerita para orang tua, dalam bata merah yang masih berdiri, dan dalam ingatan anak-anak desa yang pernah menjadi bagian dari sejarahnya.[T]

Reporter/Penulis: Gading Ganesha
Editor: Jaswanto

Meneroka Tembakau Tuban: Emas Hijau dari San Salvador
Luhurnya Cita Rasa Tembakau Bondowoso
Kisah Tiga Dadong , Nasabah Prioritas Bank Sampah Galang Panji di Buleleng
3 Bocah Yatim Rajin Tabung Sampah untuk Beli Alat Sekolah | Ini Kisah Nasabah Bank Sampah Galang Panji

Tags: bulelengDesa PanjiGudang GarampertanianrokokSukasadatembakau
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ke Langit Anak-anak Nakal Itu Pergi — Catatan Baca Puisi Sanne Breimer atas “Khaled Juma” di Rabu Puisi #11 Komunitas Mahima

Next Post

Menonton Tiga Garapan Khas Daerah Sanggar Seni Manik Uttara Buleleng di Pesta Kesenian Bali 2025

Gading Ganesha

Gading Ganesha

Lahir dan tinggal di Desa Panji, Buleleng, 11 November 1988. Ia adalah founder Bank Sampah Galang Panji dan Co. Founder Rumah Plastik. Juga Ketua BPD Desa Panji.

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
Menonton Tiga Garapan Khas Daerah Sanggar Seni Manik Uttara Buleleng di Pesta Kesenian Bali 2025

Menonton Tiga Garapan Khas Daerah Sanggar Seni Manik Uttara Buleleng di Pesta Kesenian Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co