4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Meneroka Tembakau Tuban: Emas Hijau dari San Salvador

Jaswanto by Jaswanto
March 18, 2025
in Khas
Meneroka Tembakau Tuban: Emas Hijau dari San Salvador

Meneroka Tembakau Tuban: Emas Hijau dari San Salvador

SEBELUM bercerita, ia menaruh rokok—yang ia linting dan racik pakai cengkeh sasetan—di sela bibir lalu menyulutnya. Sebentar kemudian asap terembus ke udara. Raut muka yang tadinya agak tegang menjadi lebih rileks. Sepertinya ia siap bercerita apa pun. Sambil menyedot rokok ia mulai menceritakan riwayat tembakau di tanah kelahirannya.

Tamu (40) adalah sedikit petani di Desa Gaji, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, yang masih menanam tembakau sendiri. Ia menanam setahun sekali. Tak banyak, memang, tapi cukup untuk ia pakai sendiri—dan dijual sisanya. “Tak banyak petani yang menanam tembakau di sini [Gaji],” katanya pada suatu hari yang terik di gubuk yang ia dirikan di pinggir ladangnya yang berbatu. Di dekat gubuk itulah ia menyemai tembakau. Bibit tembakau itu baru setinggi telunjuk orang dewasa. “Baru sebulan,” ujar Tamu.

Sebagian besar dari bsayi-bayi tembakau itu belum dipindah-tanamkan ke ladang yang lebih luas. Selain belum masuk musim tanam, Tamu mengaku masih kerepotan dalam menyambut masa panen jagung dan merawat kacang tanah yang sudah mulai tumbuh. Meski begitu, ia sudah mencicil menanamnya di lahan yang lebih luas sedikit demi sedikit. “Saya menabur bibit waktu kemarau kemarin. Jadi setiap hari harus menyiramnya,” Tamu bercerita. 

Tembakau merupakan jenis tanaman semusim yang hanya bisa ditanam sesuai dengan masa tanamnya. Selain itu, keberhasilan panen tembakau sangat bergantung pada iklim. Hal ini menyebabkan produksi tembakau sangat fluktuatif.

Di ladangnya yang sempit—dan penuh kotoran sapi yang sudah menjadi tanah (lebu)—Tamu menanam tembakau condong jinten dan tembakau bakeong. Tembakau condong banyak dibudidayakan di daerah Senori, Tuban. Sedangkan tembakau bakeong berasal dari Desa Bakeong, Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. “Tapi saya tidak bisa membedakannya, mana yang condong dan mana yang keong,” ujar Tamu sembari tertawa.

Bibit tembakau condong jinten dan tembakau bakeong yang Tamu semai di antara tanaman jagung dan cabai | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Keluarga Tamu menanam tembakau ini secara turun-temurun. Kakeknya, bapaknya, bahkan mertuanya, adalah sosok yang mengajarinya bertani tembakau—dari menyemai, menanam, merawat, memanen, sampai merajangnya. Tapi ia tidak tahu sejak kapan tembakau mulai di tanam di Desa Gaji.

Sementara itu, petani lainnya, Ngatin (38), malah belum sempat menyemai bibit tembakaunya. Bibit itu masih berupa biji-biji kecil berwarna hitam, nyaris seperti serbuk. Dan sebagaimana Tamu, ia juga menanam tembakau nyaris setiap tahun dan dalam jumlah yang tak luas. “Untuk dipakai sendiri saja,” ujar pria berambut gondrong itu.

Bibit tembakau di Gaji umumnya didapat dari hasil tanaman sebelumnya atau dari kerabat-tetangga, sebagaimana diceritakan Saepan (50), petani tembakau Gaji yang juga sudah mulai menyemai bibit. Para petani tak sampai membeli bibit. Bukan karena tak ada yang menjual, tapi meminta kerabat-tetangga saja cukup. Sebab, di sini, tembakau bukan tanaman pokok, seperti di Temanggung atau di Lombok, misalnya. Tembakau hanya berperan sebagai tanaman selingan—sebagaimana kapas—bukan yang utama.

Bibit tembakau condong jinten dan tembakau bakeong yang Tamu semai di antara tanaman jagung dan cabai | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Di Desa Gaji, kata Tamu, tembakau tidak hanya digunakan untuk merokok, tapi juga nginang—budaya mengunyah daun sirih, gambir, kapur sirih, dan di beberapa daerah juga menggunakan buah pinang. Tembakau untuk nginang disebut berit. Masih banyak perempuan tua Gaji yang melakukan aktivitas tersebut—aktivitas yang oleh François Leguat, penjelajah naturalis Prancis, disebut dapat membuat gigi menghitam dan bukan sesuatu yang menarik untuk dilihat. Sebuah penilaian khas kolonial. Leguat melihat orang nginang saat dirinya berkunjung ke Batavia pada 1708.

Selain itu, tembakau—dalam hal ini kretek—di Gaji juga erat kaitannya dengan tradisi malam Jumatan. Bahwa kebiasaan membakar rokok klembak, dupa, menyan, hingga opium, dulu, sudah menjadi salah satu hal ‘wajib’ bagi sebagian masyarakat Jawa dalam melaksanakan ritual Kejawen. Sesajen berupa rokok kretek dan minuman favorit seperti kopi atau teh biasa disajikan masyarakat Gaji pada malam Jumat sebagai sarana mendoakan ketenangan bagi leluhur atau orang tua yang sudah meninggal.

Tembakau memang bukan tanaman asli Indonesia. Tanaman ini ditemukan oleh Christopher Columbus di San Salvador, Kepulauan Bahama. Herbal ini pertama kali dibudidayakan Pemerintah Kolonial Belanda secara massal di Hindia Belanda setelah “bangkrut” karena Perang Jawa (1825-1830). Seiring waktu, pembudidayaan tembakau diambil alih oleh bangsa Indonesia. Terlebih setelah Indonesia merdeka serta nasionalisasi aset-aset yang dikuasai perusahaan asing pada era 1950-an. Sejak saat itu, budidaya tembakau sepenuhnya diusahakan dalam bentuk perkebunan rakyat secara luas. Sampai saat ini, pertanian tembakau memiliki posisi penting dalam menggerakkan perekonomian masyarakat.

Tembakau yang baru saja Tamu tanam di ladangnya dengan pengaman daun jati | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Di Tuban, Jawa Timur, dari 20 kecamatan, sejauh ini hanya ada 8 kecamatan—setidaknya yang tercatat oleh media—yang membudidayakan tembakau. Dari delapan kecamatan yang menanam, Kecamatan Senori menghasilkan tembakau paling banyak. Totalnya 7.119 ton per tahun. Disusul Kecamatan Soko dengan 5.041 ton, Grabagan 3.476 ton, Semanding 2.736 ton, Plumpang 880 ton, Kerek 780 ton, Singgahan 600 ton, dan Parengan 135 ton. Pada 2021, total produksi tembakau di Tuban mencapai 20.768 ton.

“Itu merupakan produksi daun basah,” ujar Kepala Bidang (Kabid) Penyuluhan dan Prasarana Pertanian Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Tuban Sri Yuniati pada saat itu, sebagaimana dikutip Radar Tuban. Untuk kegiatan perajangan tembakau, lanjut Yuniati, baik itu jenis basah atau kering, tersebar di Kecamatan Kerek (638 perajang), Soko (20 perajang), dan Senori (87 perajang). Hasil rajangan tembakau Tuban dipasarkan ke wilayah Bojonegoro, Temanggung, dan Kudus. “Produksi tembakau di Tuban berpotensi dikembangkan lebih lanjut,” katanya kemudian.

Pada 2021, mengacu data rekapitulasi Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan Tuban, total produksi tembakau Tuban dihasilkan dari lahan seluas 1.781 hektare. Namun, dari luas lahan tersebut yang bertahan hingga panen hanya 1.667 hektare. Padahal, potensi luas tanaman tembakau di Tuban bisa sampai 3.341 hektare. Mengingat geografi di Tuban sangat cocok untuk perkebunan tembakau. Tetapi jagung sudah kadung menjadi tanaman utama di sini.

Soal harga, pada musim panen 2024, harga daun tembakau basah turun menjadi Rp 4.000 per kilogram. Padahal, tahun sebelumnya mencapai Rp 5.000 per kilogram. Untuk menyiasati turunnya harga jual, petani tembakau di Tuban harus memutar otak untuk, setidaknya, dapat mengembalikan modal tanam. Banyak petani tembakau yang akhirnya merajang—karena tidak cukup modal untuk membawanya ke tempat perajangan—dan menjemurnya sendiri. Sebab, tembakau kering harganya lebih mahal, bisa mencapai Rp 45.000 per kilogram.

Hikayat Tembakau di Karesidenan Rembang

Dalam catatan sejarah—yang dapat Anda temukan di internet, Rembang pada periode 1830–1870 (masa kolonial Belanda) adalah salah satu karesidenan di wilayah Jawa Timur yang terbagi menjadi empat kabupaten: Tuban, Bojonegoro, Blora, dan Rembang—yang bertindak sebagi ibu kota karesidenan, kabupaten, dan distrik sekaligus.

Ladang tembakau milik Tamu | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Menurut D.H. Burger dalam buku Sedjarah Ekonomis-Sosiologis (1962), pada periode Tanam Paksa (cultuurstelsel) (1830-1870), ada tiga macam tanaman penting yang wajib ditanam di karesidenan ini, yakni kopi, tebu, dan nila. Sementara tanaman tembakau tidak begitu berhasil, meskipun demikian kenaikan ekspor tembakau dari Jawa cukup baik.

Buku Sejarah Nasional Indonesia IV (1975) mencatat, ekspor tembakau dari hasil tanam paksa tahun 1830 berjumlah 180.000 gulden dan meningkat menjadi 1.200.000 gulden pada tahun 1840, dan masih meningkat lagi menjadi 2.300.000 gulden pada 1845. Namun, setelahnya, produksi tembakau mengalami kemunduran, sampai periode 1850-an baru mulai meningkat kembali. Pada era ini, tembakau telah membawa kekayaan bagi Kolonial Belanda. Bahkan seorang penulis Belanda—seperti dikutip oleh J.S. Furnivall dalam Netherlands India: A Study of Plural Economy—menyebut “Jawa [telah] melimpahkan kekayaan demi kekayaan atas negeri Belanda seperti tongkat tukang sihir.”

Pada tahun-tahun sebelum Tanam Paksa, tembakau ditemukan tumbuh di beberapa tempat di Jawa, di antaranya Buitenzorg (Bogor), Priangan, dan Cirebon. Setelah itu, perkebunan tembakau dibuka di tempat-tempat seperti Kedu (sekarang Temanggung), Kediri, Madiun, serta di daerah batu kapur antara Semarang-Surabaya—termasuk wilayah Karesidenan Rembang—sampai Madura. Tetapi, daerah yang lebih menjanjikan berada di sekitar Klaten, Jember, dan Besuki.

Dalam laporan Tembakau, Euforia dalam Ekspedisi Dunia Baru (2021) yang terbit di Kompas, Bambang Setiawan menyampaikan, dalam catatan PTPN 10, pada era Tanam Paksa, ribuan etnis Madura dipaksa meninggalkan kampung halamannya untuk menjadi buruh di perkebunan tembakau di Besuki, Situbondo, Bondowoso, Jember, dan daerah tapal kuda lainnya. Perlakuan VOC yang menerapkan kontrak seumur hidup menjadikan para buruh tersebut harus menetap di daerah perkebunan beserta anak cucunya.

Sementara itu, di Karesidenan Rembang pada periode Tanam Paksa, selain tembakau, tanaman padi, tebu, kopi, kanel, murbei—untuk budidaya ulat sutra, jagung, jarak, kapas, dan umbi-umbian, merupakan tanaman yang banyak dibudidayakan Pemerintah Belanda. Hal ini tercatat dalam I. Residentie Rembang in het jaar 1845 (1849) dan I. van Rembang naar Toeban (1850).

Jagung siap panen di ladang Tamu | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Dan sebagai ilustrasi, berikut adalah hasil produksi tembakau di Karesidenan Rembang antara tahun 1841 sampai 1845 yang tercatat dalam I. Residentie Rembang in het jaar 1845 (1849): Pada 1841, produksi tembakau Rembang mencapai 5.631 (pikul); 8.596 (pada 1842); 11.589 (pada 1843); dan 17.390 (pada 1844). Tentu saja, jumlah ini lebih kecil dibandingkan dengan produksi padi. Tetapi lebih banyak dari produksi tebu, kopi, dan kanel.

Mengutip Anne Booth, et.al (1988) Tri Handayani menuliskan, di Kabupaten Bojonegoro—kemungkinan juga di Tuban—sejak dulu sudah dilakukan penanaman tembakau Manilla dan Havana. Hasilnya cukup menguntungkan. Belakangan, jenis tembakau Virginia banyak ditemukan di Bojonegoro dan sekitarnya—bahkan pada tahun 1928 tembakau ini sudah diproduksi PT. BAT (British American Tobacco Company) di Indonesia. Tetapi, sampai tahun 1835, petani terus merugi karena tidak begitu berhasil, alias gagal panen. Kemungkinan disebabkan karena petani kurang terbiasa dengan tanaman jenis baru ini, di samping akibat musim kemarau panjang yang merusak tembakau.

Sejak tahun 1830-an, dalam buku Membunuh Indonesia: Konspirasi Global Penghancuran Kretek (2011), selain di wilayah Jawa, tembakau juga ditemukan di Kepulauan Kai dan sekitarnya. Demikian pula di Ternate (pada masa ini tampaknya dibudidayakan di Pulau Makian, Pulau Mori, Buru, Seram, Ambon, Hila, dan Saparua, namun setelah periode ini tidak muncul lagi di sumber-sumber pustaka) dan Bali.

Di Karesidenan Rembang, dalam catatan Pieter Johannes Veth—seorang profesor geografi dan etnologi Belanda, tembakau ditanam belakangan setelah Pemerintah Belanda mencoba menanam banyak jenis tanaman di daerah ini. Namun, jika mengacu pada H.C. Bekking dalam De Ontwikkeling Der Residentie Rembang (1861), pada akhir abad ke-16 orang-orang Portugis sudah membawa tembakau ke Jawa. Pendapat ini selaras dengan De Candolle. Tapi Thomas Stamford Raffles lebih percaya bahwa orang Belanda yang membawa tembakau ke Jawa. Namun, terlepas dari siapa yang membawa tembakau ke Jawa, ada kemungkinan petani di Karesidenan Rembang sudah menanam—atau setidaknya mengenal—tembakau jauh sebelum adanya kontrak tanam paksa.

Sejauh sumber yang dapat diketahui, menurut keterangan De Candolle dan kemudian muncul lagi pada buku Nusantara: History of Indonesia karya B.H.M Vlekke, tanaman tembakau diperkenalkan di wilayah Asia ketika Spanyol membawanya ke kepulauan Filipina pada tahun 1575 dari Mexico, dan dibawa ke wilayah Nusantara pada tahun 1601.

Dalam History of Java, Thomas Stamford Raffles menyampaikan bahwa pada tahun 1601 kebiasaan menghisap asap tembakau sudah diperkenalkan orang Belanda di pulau Jawa. Hal tersebut selaras dengan yang tertera dalam naskah kuno Jawa, Babad Ing Sangkala (1738)—baca pendapat sejarawan Ong Hok Ham dan Amen Budiman dalam Rokok Kretek: Lintasan Sejarah dan Artinya bagi Pembangunan Bangsa dan Negara (1988), yang menyebutkan kemunculan tembakau dan kebiasaan menghisap rokok pada tahun 1601 (akhir masa Penembahan Senopati memimpin Kerajaan Mataram Islam). Demikian pula dalam Java: A Traveller’s Anthology (Jawa Tempo Doeloe) (2013)—yang disusun oleh James R. Rush—banyak pelancong barat yang menyinggung soal tembakau dalam jurnal mereka jauh sebelum tanam paksa. 

Jagung siap panen di ladang Tamu | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Lebih spesifik, pada tahun 1603, Edmund Scott, seorang Principal Agent untuk East India Company di Bantam (Banten) pada tahun 1603 hingga 1605, menyampaikan: “They (The Javans) due likewise take much tobacco and opium”—mereka (orang Javans) juga mengonsumsi banyak tembakau dan opium. Hal ini menandakan bahwa penggunaan tembakau sudah meluas di wilayah Banten sebelum tanam paksa. Dan Kecil kemungkinan tembakau yang dikonsumsi didatangkan dari daratan Amerika maupun Eropa, mengingat tembakau sangatlah mahal sebagai barang konsumsi orang Jawa saat itu, kemungkinan besar tanaman tembakau sudah mulai ditanam di pulau Jawa untuk kebutuhan sendiri.

Industri Kretek di Tuban

Ada dua industri rokok di Tuban, yakni PT. Warahma Biki Makmur dan PT. Merdeka Nusantara. Kedua pabrik tersebut menyerap tenaga kerja sekira 1.807 orang.

PT Warahma Biki Makmur (MPS Tuban) merupakan salah satu mitra PT. HM Sampoerna Tbk yang didirikan pada tahun 1997. Perusahaan yang berlokasi di Desa Minoharejo, Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban ini bisa dibilang perusahaan produksi rokok lokal yang mempekerjakan karyawan dalam jumlah yang cukup besar yang didominasi karyawan perempuan, lebih dari 90%. Sedangkan PT. Merdeka Nusantara bermitra dengan Produksi Gudang Garam (MPGG).

Seperempat abad sejak penemuan kretek oleh Haji Djamhari, kretek akhirnya menjelma industri besar di Indonesia—yang dirintis Nitisemito di Kudus pada awal 1900-an. Dia sempat berganti-ganti merek untuk produk kreteknya, dari Kodok Mangan Ulo, Soempil, Djeroek, hingga mantap menggunakan merek Tjap Bal Tiga pada 1916. Saking terkenal nama Nitisemito—yang mendapat julukan “Raja Kretek” itu, namanya disebut Sukarno dalam pidatonya 1 Juni 1945. Pada waktu yang hampir bersamaan dengan Nitisemito, Liem Seng Tee mendirikan pabrik Dji Sam Soe dan Sampoerna di Surabaya.

Setelahnya, pada dekade tahun 1930-an berdiri pabrik Nojorono di Kudus, Jawa Tengah, yang didirikan oleh Ko Djee Song dan Tan Djing Thay. Nojorono membuat inovasi rokok tahan air yang sangat populer bagi masyarakat yang berprofesi sebagai pelaut atau nelayan. Ada pula H.A. Ma’roef yang mendirikan pabrik Djambu Bol (Kudus) dan Mc. Wartono mendirikan pabrik Sukun (Kudus).

Pada pertengahan 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern, muncul beberapa pabrik baru, antara lain, Oei Wie Gwan mendirikan pabrik Djarum di Kudus dan Tjoa Ing Hwie mendirikan pabrik Gudang Garam di Kediri. Di samping itu, terdapat pabrik rokok berskala industri rumah tangga yang tersebar di berbagai kota di Indonesia—termasuk di Tuban, Jawa Timur.

Tapi tak banyak catatan (pustaka) mengenai hikayat industri kretek di Tuban yang komprehensif, selain berita-berita sepintas-lalu. Narasi mengenai sejarah terbentuknya Warahma Biki Makmur dan Merdeka Nusantara, misalnya, sangat sulit dicari.

Namun, dalam Aktivitas Ekonomi Etnis Tionghoa di Tuban Tahun 1945-1959, walaupun tidak spesifik, disebutkan bahwa pada rentang tahun tersebut, ada pabrik rokok lintingan Liem Enghwie (rokok mlindjo, rokok upet, rokok grendel, rokok ulung) di Tuban—di samping pabrik gula Khing Liang, pabrik plastik Jap Hok Khing, pabrik es batu Sian Poen, pabrik es puter The Tan King, dan pabrik penggilingan padi Tan Sam Tjing—yang dikelola orang Tionghoa.

Kacang tanah di ladang Tamu yang sudah tumbuh | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Menurut Liem Twan Djie dalam buku Pedagang Perantara Distribusi Orang-Orang Cina di Jawa: Suatu Studi Ekonomi (1995), etnis Tionghoa memang membuka usaha merajang tembakau di wilayah Tuban yang terletak di Jl. Kuti (sekarang menjadi Jl. Merakurak) dan Jl. Minongo dengan nama “Hakken Tabak” yang kemudian berkembang menjadi “Sigaretten Fabriekanten”. Tembakau rajang dari pabrik ini kemudian disetorkan ke pabrik rokok untuk dijadikan bahan baku rokok kretek atau rokok lintingan.

Sampai di sini, selain PT. Warahma Biki Makmur dan PT. Merdeka Nusantara, sepertinya tidak ada industri rokok lain—besar maupun kecil—di Tuban. Dua pabrik inilah, selain Temanggung, Kudus, dan Bojonegoro, yang selama ini menyerap tembakau dari Senori, Soko, Grabagan, Semanding, Plumpang, Kerek, Singgahan, dan Parengan.

Pada awal 2023, sejak Pemerintah Indonesia resmi menaikkan harga Cukai Hasil Tembakau (CHT), penjualan rokok linting dewe (tingwe) semakin diminati masyarakat, termasuk di Tuban. Debi Trisnanda, penjaga toko tembakau di Tuban, membenarkan jika trend rokok tingwe semakin bergeliat di tanah kelahiran Sunan Kalijaga ini. Pasalnya, meskipun harga cukai tembakau mengalami kenaikan, namun jumlahnya jauh lebih murah jika dibandingkan dengan cukai rokok pabrikan. “Tembakau juga ada cukainya, cuma naiknya nggak banyak. Paling Rp 1.000-2.000 per ons,” kata Debi sebagaimana dikutp blokTuban.com.

Namun, terlepas dari industri tembakau di Tuban, kretek merupakan bagian dari kebudayaan Nusantara. Kretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Tidak ada di negeri lain produk yang seperti ini. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri. Dan Industri kretek bukan hanya sekadar penting namun telah menjelma menjadi salah satu kekuatan ekonomi bangsa. Kerja keras yang berjalin dengan ketekunan selama lebih dari satu abad itu bisa jadi tidak berarti oleh adanya aktivitas pengendalian tembakau dua dekade belakangan ini. [T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Hikayat Kapas di Tuban dan Perempuan Tua yang Memintalnya
Menyigi Masa Depan Petani Jagung di Tuban, Jawa Timur
Tags: Kabupaten Tubanpertanianrokok kretektembakauTuban
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Comeon Komatsu, Seniman Jepang yang Pamerkan Karya Seni Woodblock Print di ARMA Art Veranda

Next Post

Rakyat Perlu Pemimpin yang Prihatin dan Tidak Mencuri

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Rakyat Perlu Pemimpin yang Prihatin dan Tidak Mencuri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co