2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Comeon Komatsu, Seniman Jepang yang Pamerkan Karya Seni Woodblock Print di ARMA Art Veranda

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
March 18, 2025
in Pameran
Comeon Komatsu, Seniman Jepang yang Pamerkan Karya Seni Woodblock Print di ARMA Art Veranda

Comeon Komatsu, Seniman Jepang yang Pamerkan Karya Seni Woodblock Print di ARMA Art Veranda

KARYA seni yang dipamerkan nyaris satu tema, yakni pohon beringin tua yang bertuah. Namun, masing-masng karya tidaklah sama. Pohon, ranting, daun dan setiap lekukan akar selalu berbeda, namuan selalu unik dan menarik. Objek penyerta juga beda. Artinya, ada pohon beringin berdampingan dengan pura, gapura, bale kulkul, tembok dan lainnya.

Itulah keunikan karya seni Woodblock Print yang dipajang di ARMA Art Veranda, ARMA Museum & Resort Ubud. Pameran tunggal bertajuk “Bala Aswattha” itu memajang karya-karya seniman asal Jepang, Comeon Komatsu. Pameran dibuka oleh Pendiri ARMA Museum, Anak Agung Gde Rai ditandai dengan pemukulan gong, Sabtu 15 Maret 2025.

Karya Seni Woodblock Print dari Comeon Komatsu di ARMA Art Veranda | Foto: Bud

Sebanyak 29 karya seni yang dipamerkan itu mulai disuguhkan kepada masyarakat mulai 10 – 31 Maret 2025. Wisatawan yang sedang berwisata di Ubud, terpesona dengan karya seni Woodblock Print itu. Mereka terpikat dengan karya seni yang disajikan itu. Karya seninya, memang beda dari pemeran biasanya yang menyajikan karya seni lukis di dalam kanvas.

Bukan sekadar mengabadikan keindahan visual, Comeon Komatsu mampu menerjemahkan jiwa Bali ke dalam kayu dan cetakan, dan menghadirkan perspektif yang segar dan mistis. Sebanyak 29 karya ini merupakan bentuk meditasi visual, mengajak kita untuk kembali terhubung dengan alam dan kebijaksanaan yang terkandung di dalamnya.

“Saya menampilkan 29 karya woodblock print yang mengeksplorasi Aswattha (pohon beringin) sebagai simbol Bala (kekuatan) serta hubungannya dengan manusia dan alam,” kata seniman asal Jepang, Comeon Komatsu.

Comeon Komatsu di ARMA Art Veranda | Foto: Bud

Pameran tunggal bertajuk “Bala Aswattha” itu menyajikan karya dengan berbagai ukuran. Dari 29 karya Woodblock Print itu, ada sekitar 6 karya dengan ukuran 180 Cm X 100 Cm. Sementara sisanya berukuran karya 35 X 45 Cm yang idenya sama, yakni pohon beringin.

Sebanyak 29 karya woodblock print itu, semuanya mengeksplorasi pohon beringin (Aswattha) sebagai simbol kekuatan (Bala) serta hubungannya dengan manusia dan alam. Karya cukilan itu, sungguh indah, dan menawarkan spirit yang begitu kuat dan memikat.

 “Ketika tinggal di Bali, saya selalu berjalan. Ketika menemukan pohon beringan yang tua dan bentuknya bagus, saya langsung membuatnya dalam bentuk sket. Setelah sampai di rumah baru menuangkan ke dalam media lalu membuatnya dalam bentuk seni cukil,” kata Comeon Komatsu.

Bagi Comeon Komatsu, pohon beringin bukan sekadar elemen lanskap, tetapi entitas yang memiliki kekuatan spiritual. Akar-akar kokohnya yang menjulur ke bumi mencerminkan keteguhan dan daya tahan.

Sementara ranting-rantingnya yang membentang ke langit menjadi penghubung antara dunia fana dan dimensi yang lebih dalam. Dalam tradisi Bali, pohon beringin dianggap sakral, tempat bersemayamnya kekuatan alam dan perlindungan bagi kehidupan di sekitarnya.

Comeon Komatsu menangkap energi yang memancar dari setiap batang, akar, dan daun, lalu menghadirkan visualisasi yang lebih dari sekadar bentuk, melainkan esensi dan spirit pohon beringin itu sendiri. Semua itu tentu melalui teknik woodblock print sebagai keahliannya.

Karyanya yang berjudul Batananca itu merupakan karya seni dengan objek pohon beringain besar di tengah pura. Dalam seni cukilnya itu, tampak dipagari tembok lengkap dengan apit lawang (pintu masuk tradisional Bali) yang didepannya ada patung binatang penjaga pura.

Karya- karya Comeon Komatsu di ARMA Art Veranda | Foto: Bud

Karya berjudul Bangunan Rumah Kaja 2 itu, menggambarkan pohon beringin besar dengan akar yang tampak behitu kuat dan indah. Di sela-selanya, terdapat pohon local yang yampak menyatu. Pohon beringin ini tampaknya ada di dalam puri (rumah), sehingga terdapat bangunan tua.

Berbeda dengan karyanya yang berjudul “Mengantuk” yang menampilkan pohon beringin yang lebih banyak terlihat rantingnya. “Karya seni ini, saya buat disaat siang hari yang udaranya terasa begitu panas, dan hampir mengantuk, sehingga karya ini diberi judul “mengantuk”,” paparnya.

Pendiri ARMA Museum, Anak Agung Gde Rai menyampaikan apresiasinya terhadap dedikasi Comeon Komatsu terhadap Bali dan perjalanan seninya itu. “Setiap tahun, ARMA menjadi ruang bagi karya Comeon Komatsu, memperkuat hubungan budaya antara Bali dan Jepang melalui seni,” ucapnya.

Pameran ini bukan hanya selebrasi atas pencapaiannya, tetapi juga sebuah pengingat tentang bagaimana seni bisa menjadi jembatan menghubungkan lintas budaya, waktu, dan emosi. “Bali dan Jepang memiliki spirit yang sama, sehingga orang Jepang betah tinggal di Bali,” lanjutnya.

Karya Seni Woodblock Print dari Comeon Komatsu di ARMA Art Veranda | Foto: Bud

Comeon Komatsu adalah generasi yang mampu mengembalikan roh seni cukil di Jepang yang sangat populer itu. Ia, mampu menginspirasi para seniman muda Prancis untuk mengandrungi karya cukil gaya Jepang. “Setelah di ARMA, karya seni ini akan dibawa ke luar negeri,” ujarnya.

Sementara itu, Anak Agung Gede Yudi Sadona, Direktur ARMA Museum, menekankan bagaimana karya Comeon Komatsu selaras dengan misi ARMA dalam mempererat hubungan budaya melalui seni.

“Comeon seorang seniman berbakat, tetapi juga seorang pencinta Bali yang mendalam. Lewat woodblock print, ia menangkap roh dan spirit Bali dengan cara yang begitu khas, melalui detail yang halus, komposisi yang peka, dan energi yang terasa dalam setiap goresannya,” paparnya. Melalui “Bala Aswattha”, Comeon Komatsu mengajak kita untuk merenungkan ketangguhan pohon beringin, kehadirannya yang sakral dalam budaya Bali, serta keterkaitannya dengan jiwa manusia. “Kami mengundang para pecinta seni, kolektor, dan masyarakat luas untuk bergabung dan merasakan kekuatan woodblock print sebagai medium yang menyuarakan keteguhan alam,” ajak Anak Agung Gede Yudi Sadona mengakhiri pembicaraannya. [T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole

“Denyar Renjana”, Pameran Lima Seniman Perempuan Indonesia di Santrian Art Gallery Sanur
Baligrafi dan Masa Depan Seni Aksara Bali
Post Tradisi : Upaya untuk Meletakkan Bali dalam Pembacaan Seni Rupa Indonesia
Catatan Pendek Sekali: Pameran Tunggal Naela Ali, The Beauty of The Mundane
Tags: Museum Arma UbudPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Stunting” Kecerdasan: Cukup Makan, Lupa Berpikir

Next Post

Meneroka Tembakau Tuban: Emas Hijau dari San Salvador

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Sore itu, suasana hotel sudah semakin gelap. Pameran bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” belum juga dibuka....

Read moreDetails

“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

by tatkala
September 17, 2026
0
“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

JAKARTA | TATKALA.CO -- Lukisan berjudul The Wings of the Sanghyang Dance (2026) karya Putu Fajar Arcana, berhasil mengalahkan ribuan...

Read moreDetails

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
0
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

Read moreDetails

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
0
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

Read moreDetails

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

by Satria Aditya
August 30, 2026
0
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

Read moreDetails

Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

TIGA perupa asal Sukawati, I Made Mahendra Mangku, I Wayan Arnata, dan Made Galung Wiratmaja, mempertemukan karya mereka dalam pameran...

Read moreDetails

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

by Nyoman Budarsana
August 5, 2026
0
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

Read moreDetails

27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

by Nyoman Budarsana
July 29, 2026
0
27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

JAKARTA | TATKALA.CO -- Niluh Swati Indonesian Art Program (NSIAP) akan memamerkan karya 27 pelukis Indonesia dalam ajang ARTe Kunstmesse...

Read moreDetails

Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
0
Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

DI tengah denting musik elektronik yang berpadu dengan aroma dupa dan canang, Gotawa berdiri di depan kanvas. Tangannya bergerak, menumpahkan...

Read moreDetails

Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

by Dede Putra Wiguna
July 19, 2026
0
Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

BALI selama bertahun-tahun dikenal dunia sebagai pulau yang eksotis. Namun, di balik citra itu, tersimpan sejarah panjang tentang bagaimana representasi...

Read moreDetails
Next Post
Meneroka Tembakau Tuban: Emas Hijau dari San Salvador

Meneroka Tembakau Tuban: Emas Hijau dari San Salvador

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co