3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Stunting” Kecerdasan: Cukup Makan, Lupa Berpikir

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
March 17, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

PARA pembaca yang budiman, kali ini saya ingin mengajak kita berdisukusi agak berat, namun urgen.  Sebenarnya, ini soal pendidikan di negara kita.  Sebagai warga negara Konoha, yang katanya IQnya rata-rata78,49, tentu saya gemar melhat TikTok.

Nah, kemarin di TikTok ditayangkan bagaimana banyak anak, setingkat SMP dan SMA tidak mampu bernalar dan berhitung dengan layak.  Tidak mampu menyelesaikan hitungan sederhana seperti 5×4, 6+10, 2 tahun berapa bulan, dan seterusnya (entah benar atau hanya setting-an untuk konten). Padahal, pendidikan adalah fondasi utama bagi kemajuan suatu bangsa.

Namun, saat ini nampaknya kondisi pendidikan di Indonesia sedang dihadapkan pada tantangan besar yang membutuhkan perhatian lebih. Salah satu masalah mendasar yang harus segera diselesaikan adalah relevansi kurikulum pendidikan yang kerap kali tertinggal dari perkembangan zaman, terutama dalam menghadapi kemajuan teknologi yang pesat, seperti kecerdasan buatan (AI).

Saat ini yang nyerempet bidang pendidikan, yang sedang getol dicanangkan adalah Makan Bergizi Gratis (MBG), lalu di bidang kesehatan adalah pencegahan stunting. Tapi melirik kasus TikTok di atas (jika benar), ini bukan cuma soal makanan bergizi gratis atau program anti-stunting yang marak belakangan ini. Meskipun saya yakin memiliki niat baik, tampaknya program-program berbasis perut itu mulai menunjukkan gejala-gejala tidak cukup memberi dampak jangka panjang yang signifikan. Belum lagi potensi fraud-nya.

Ketua KPK Setyo Budiyanto, bahkan sampai mengingatkan bahwa dalam program dengan dana besar semacam ini, ada potensi penyimpangan, maka harus diawasi dengan ketat. Artinya jangan sampai anggaran untuk menangani stunting dikorupsi. Korupsi dana stunting dan MBG bisa masuk kategori kejahatan kemanusiaan, karena peruntukannya sarat dengan sisi kemanusiaan dan menyangkut masa depan anak bangsa. Namun ada yang lebih mengkhawatirkan dari sekadar tubuh pendek akibat kurang gizi, yaitu kecerdasan yang ikut stunting.

Masalah yang kita hadapi lebih dalam, lebih sistemik. Kita sedang menghadapi generasi yang bisa jadi, tumbuh gagah dan cakep namun tanpa daya pikir kritis, tanpa daya juang intelektual, dan tanpa kemampuan menghadapi dunia yang semakin kompleks.  Jadi dunia pendidikan kita sekarang ini sepertinya dalam kondisi kritis, saudara.  Semacam harus masuk ICU kalau di rumah sakit. Gawat, dan darurat.

Manusia, Zoon Politicon, dan Kecerdasan yang Tertinggal

Sang filsuf Aristoteles, mengenalkan manusia sebagai zoon politicon, makhluk sosial yang seharusnya mampu berpikir dan bertindak dengan akal budinya. Namun, ketika pendidikan kita masih saja berkutat pada hafalan dan doktrinasi, lalu di mana pintu masuk ke ruang akal budi itu? Kita justru lebih panik mengurus program-program jangka pendek seperti pemberian makanan gratis dibanding merancang pendidikan yang benar-benar membebaskan.

Pendidikan yang ideal seharusnya membentuk manusia yang mampu berpikir kritis, mampu berdiskusi, dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial secara aktif. Namun yang terjadi justru sebaliknya: kurikulum kita terlalu kaku, metode pengajaran masih konvensional, dan sistem pendidikan lebih sering menjadi alat kontrol dibandingkan sebagai ruang pembebasan intelektual.

Ada lagi yang menarik, para pelajar diberi kesempatan belajar dengan merdeka dan jamkos untuk browsing bebas ala kadarnya untuk menyelesaikan soal dan tugas dari guru, tanpa diberi bimbingan dan arahan yang memadai, apalagi penerangan. Jadinya gelap. Oh astaga, pantas kemarin ada #IndonesiaGelap.

Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed sudah lama mengkritik pendidikan yang bersifat banking system, di mana murid hanya dianggap sebagai wadah kosong yang diisi pengetahuan tanpa diberi kesempatan untuk berpikir secara kritis. Kalau kita bicara soal pendidikan, kita juga mesti bicara tentang kurikulum.

Kurikulum di Indonesia masih terjebak pada sistem lama yang lebih menitikberatkan pada hafalan dibandingkan dengan pemahaman mendalam. Anak-anak diajarkan rumus, tapi tidak diajarkan cara berpikir logis. Mereka belajar teori-teori ekonomi, tapi tidak pernah diajarkan bagaimana mengelola keuangan pribadi. Mereka menghafal sejarah, tapi tidak pernah benar-benar diajak berpikir kritis tentang bagaimana sejarah membentuk dunia yang mereka tinggali sekarang.

Sementara itu, dunia terus bergerak. Teknologi berkembang pesat, kecerdasan buatan semakin cepat mengambil alih pekerjaan yang sifatnya repetitif, dan kita masih saja sibuk dengan ujian-ujian berbasis hafalan. Di mana pendidikan yang seharusnya membebaskan manusia dari keterbelakangan intelektual dan mempersiapkan mereka menghadapi tantangan zaman? Di luar sana AI perkembangannya bak lari sprint tapi kita di sini masih ribut apakah gerakan” jalan di tempat” kita cukup gagah atau tidak. Tu wa, tu wa, hentiiiii graakk!!! Waduh apa tidak miris, para pembaca yang budiman.

Makan Bergizi Gratis: Solusi atau Distraksi?

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tentu saja penting, penting saya bilang, untuk memastikan anak-anak tidak kelaparan. Namun, jika hanya sebatas itu, ini hanyalah solusi jangka pendek. Yang lebih mengkhawatirkan adalah jika kita dijebak, maksud saya terjebak, dalam paradigma bahwa masalah utama pendidikan di Indonesia adalah soal perut, bukan soal kecerdasan. Padahal, ancaman terbesar bagi masa depan bangsa ini bukan sekadar anak-anak yang kurang gizi, tetapi anak-anak yang tidak diajarkan berpikir kritis dan inovatif.

 Saat berbicara tentang masa depan anak-anak Indonesia, ada baiknya fokus kita tidak hanya pada berapa banyak kalori yang mereka konsumsi, tapi juga pada kualitas pendidikan yang mereka terima. Pendidikan adalah investasi jangka panjang, dan jika kita tidak serius membenahi sistemnya, maka kita hanya akan melahirkan generasi yang sehat fisiknya tapi miskin wawasan dan keterampilan.

Anggaran besar untuk program makan gratis bisa saja dialokasikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan: pelatihan guru, penyediaan bahan ajar yang lebih relevan, atau pembangunan fasilitas pendidikan yang lebih baik. Lebih jauh lagi, bisa untuk membuka akses bagi anak-anak yang kurang mampu untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

Saat berbicara tentang stunting, kita harus melihat lebih jauh dari sekadar pertumbuhan fisik. Anak-anak yang kurang gizi memang bisa mengalami gangguan perkembangan otak, tapi ada faktor lain yang tak kalah penting yaitu kurangnya rangsangan intelektual. Pendidikan yang buruk adalah bentuk lain dari stunting, dan ini jauh lebih sulit diperbaiki dibandingkan kekurangan gizi. Tapi kita tampaknya lebih senang memberikan solusi instan yang bisa dipublikasikan dengan cepat dibanding berinvestasi pada sesuatu yang hasilnya baru bisa dilihat puluhan tahun ke depan.

Program anti-stunting jelas penting dan bagus sekali. Cuma saja kita musti sadar bahwa kita juga sedang mengalami stunting dalam cara berpikir, tidak hanya pada generasi mudanya, tapi juga pada generasi tuanya. Tidak sedikit keluarga yang kurang memahami pentingnya pendidikan, bukan hanya karena faktor ekonomi, tetapi juga karena pendidikan belum benar-benar menjadi prioritas utama dalam kebijakan negara. Paling parah kalau para pemangku kebijakan juga kena stunting berpikir. Lha itu, buktinya ada guru honorer, konon di planet ini, hanya negara Konoha yang punya kebijakan guru honorer.

Dosen dan Guru: Pilar yang Terabaikan

Salah satu faktor utama yang sering luput dari perhatian adalah kesejahteraan tenaga pendidik. Dosen dan guru adalah ujung tombak pendidikan, tapi sering kali mereka justru menjadi kelompok yang paling diabaikan.

Sayangnya, dosen dan guru di Indonesia masih menghadapi tantangan besar, mulai dari gaji yang tidak sebanding dengan beban kerja hingga tuntutan administratif yang berlebihan. Minimnya apresiasi membuat banyak tenaga pengajar kehilangan semangat untuk berinovasi dalam mengajar. Bagaimana bisa kita berharap mereka mengajar dengan penuh dedikasi jika kebutuhan dasar mereka sendiri belum terpenuhi?

Paulo Freire menekankan bahwa pendidikan seharusnya menjadi alat pembebasan, bukan sekadar alat penjinakan. Tapi bagaimana kita bisa berharap pendidikan menjadi alat pembebasan kalau para pendidiknya sendiri tidak bebas, terbelenggu dalam sistem yang tidak menghargai peran mereka? Jika kita ingin menciptakan generasi yang cerdas, kita harus mulai dengan menghargai mereka yang berjuang di garis depan pendidikan. Dalam sokoguru atau pilar pendidikan indonesia ini berkaitan erat dengan yang disebut Ing Ngarsa Sung Tuladha. Berada di depan memberi tauladan. Sistem kita yang belum beres membuat fungsi ini mandul.

Pendidikan Adalah Investasi, Bukan Bantuan Sosial

Jika kita benar-benar ingin membangun masa depan yang lebih baik, kita harus mulai melihat pendidikan sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar proyek bantuan sosial. Pastikan generasi muda kita juga mendapatkan “gizi intelektual” yang cukup agar bisa bersaing di dunia yang semakin kompleks. Memberikan makanan gratis mungkin bisa menyelesaikan masalah sementara, tapi tanpa pendidikan yang berkualitas, kita hanya akan menciptakan generasi yang bergantung pada bantuan dan bermental peminta-minta, tanpa memiliki daya saing.

Sebagai zoon politicon, dalam konteks pendidikan manusia harus mengutamakan akal budinya, bukan perutnya. Dan sebagai bangsa, bangsa yang besar katanya, kita harus memastikan bahwa generasi mendatang tidak hanya diberi makan, tetapi juga diberi kesempatan untuk berpikir, bertanya, berdialektika, dan menciptakan sesuatu yang lebih baik untuk dunia ini.

Saya yakin kita semua sepakat, bahwa pendidikan yang berkualitaslah yang akan membebaskan kita semua dari segala ketertinggalan, termasuk juga dari stunting dan kurang gizi. Apakah pendidikan kita sudah membebaskan? Karena pada akhirnya, pendidikan yang membebaskan adalah satu-satunya cara agar kita bisa benar-benar menjadi manusia dan mengejar ketertinggalan.

Ngomong–ngomong tentang benar-benar menjadi manusia, untung saja Teori Evolusi Darwin sudah patah. Jika belum, jangan-jangan dunia luar menganggap evolusi kita sebagai manusia belum sempurna. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

#IndonesiaGelap: Siapa yang Gelap?
Tags: Pendidikanstunting
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Asam Lambung Karena Anak Kandung

Next Post

Comeon Komatsu, Seniman Jepang yang Pamerkan Karya Seni Woodblock Print di ARMA Art Veranda

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Comeon Komatsu, Seniman Jepang yang Pamerkan Karya Seni Woodblock Print di ARMA Art Veranda

Comeon Komatsu, Seniman Jepang yang Pamerkan Karya Seni Woodblock Print di ARMA Art Veranda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co