2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ke Langit Anak-anak Nakal Itu Pergi — Catatan Baca Puisi Sanne Breimer atas “Khaled Juma” di Rabu Puisi #11 Komunitas Mahima

Son Lomri by Son Lomri
July 7, 2025
in Panggung
Ke Langit Anak-anak Nakal Itu Pergi — Catatan Baca Puisi Sanne Breimer atas “Khaled Juma” di Rabu Puisi #11 Komunitas Mahima

Sanne Breimer saat membaca puisi pada acara Rabu Puisi #11 Komunitas Mahima, 2 Juli 2025, di Kedai Umah Pradja, Singaraja, Bali | Foto: Komunitas Mahima

Oh rascal children of Gaza // You who constantly disturbed me with your screams under my window // you who filled every morning with rush and chaos // you wo broke my vase and stole the lonely flower on my balcony // come bac k/ /And scream as you want, // And break all the vases // Steal all the flowers // Come back // Just come back

PUISI itu dapat dirasakan sebagai memori duka cita yang ditarik secara halus oleh Khaled Juma dalam puisinya berjudul “Oh Rescal Children of Gaza” terkait kondisi perang Israel-Palestina.

Pada acara Rabu Puisi #11 Komunitas Mahima, 2 Juli 2025, di Kedai Umah Pradja, Singaraja, Bali, puisi itu dibacakan oleh Sanne Breimer dengan tanda tanya di matanya.

“Saya memilih puisi ini karena saya merasa kita harus terus memperhatikan Gaza dan genosida yang terjadi di sana,” kata Sanne tentang alasannya memilih puisi milik penyair Khaled Juma.

Sanne Breimer adalah seorang penulis dan konsultan media, juga pelatih jurnalistik. Ia telah bekerja selama 13 tahun untuk Dutch Public Broadcasting, dan kini tengah mengembangkan Jurnalisme Inklusif dengan fokus pada topik kesetaraan, dekolonialitas, dan kesejahteraan mental.

Di bidang jurnalisme, ketika menuliskan sebuah reportase, ia merasa masih cukup kurang untuk bisa mencakup apa yang sedang terjadi secara emosional. Tapi setidaknya, dengan membaca puisi ia dapat membantu dalam mengekspresikan perasaan dan emosi yang tidak dapat diungkapkan oleh jurnalisme.

“Dalam hal itu, membaca puisi seperti ini juga membantu saya untuk menghadapinya sendiri. Untuk berbagi dengan orang lain di acara Rabu Puisi dan memiliki komunitas orang-orang di sekitar yang memahaminya,” kata Sanne Breimer.

Tapi ia yakin bahwa wartawan masih bisa menjadi aktivis hak asasi manusia. Karena Sanne menilai, saat ini banyak media yang tidak melaporkan genosida yang dilakukan oleh Israel itu secara kritis.

Perang itu memang mennyulap udara bersih jadi kotor, menguar bau mayat—dari siapa saja yang mati di antara reruntuhan gedung terbakar sisa-sisa ledakan, dan semua itu adalah suasana berantakan di Jalur Gaza.

Yang lebih mengerikanlagi dalam perang itu, adalah terusirnya anak-anak dari semua aktivitas. Dari puisi itu dapat dibayangkan kembali, ke mana mereka pergi setelah ruang belajar, setelah taman bermain dan rumah-rumah, dan gedung-gedung itu lebur? Langit.

Sanne Breimer saat membaca puisi pada acara Rabu Puisi #11 Komunitas Mahima, 2 Juli 2025, di Kedai Umah Pradja, Singaraja, Bali | Foto: Komunitas Mahima

Dan ketika di atas panggung kecil, Sanne berdiri, dan mendengar ia membaca puisi, ia seakan menarik orang-orang untuk merasakan kerinduan si Penyair pada suasana rumah yang utuh, disertai fase kenakalan kanak-kanak. Dan itu adalah bentuk perasaan tidak biasa.

Puisi itu ditulis oleh Khaled setelah—tragedi—serangan Israel-Gaza pada tahun 2014 silam, dengan julukan “Operasi Protective Edge”—atau Operasi Perisai Pelindung.

Mengutip laman Jewish Voice For Labour, perang itu telah menewaskan sekitar 547 anak-anak dan 3.374 anak-anak luka, termasuk di dalamnya mencacatkan 1000 anak secara permanen.

Perang itu juga telah banyak menghancurkan bangunan rumah dan gedung, terutama sekolah anak-anak. Anak-anak Gaza tak lagi sekolah setelah gedungnya raib, dan mereka pergi ke pemakaman secara kolektif, atau ke kamp pengungsian untuk dirawat secara massal dengan seadanya.

Memang perang itu menjadi salah satu genosida cukup parah setelah holocaust yang dilakukan oleh Hitler di Jerman. Pada Oktober 2023 lalu, misalnya, Kolonialis Israel telah kembali mewafatkan masyarakat Gaza sejumlah 54.056 melalui serangan darat dan udara.

Cara Membunuh Yang Lain

Sementara di beberapa bulan terakhir ini—menuju cara membunuh yang lain—Israel melakukan pemblokiran jalan masuk di perbatasan—sehingga kiriman makanan, pakaian layak, dan obat-obatan itu, tidak masuk secara maksiman hingga menjadi buntut busung lapar tahun sekarang di Gaza.

Bahkan perkiraan 14.000 bayi-bayi tak akan ada lagi suara tangisnya, jika kesulitan mendapatkan makanan bergizi dan berprotein, serta susu segar ,air bersih dan perawatan yang layak.

Ini kondisi mematikan tahun ini di dunia. Seperti kata Kepala Kemanusiaan PBB Tom Fletcher, Mei lalu, bahwa bantuan yang mengalir ke Jalur Gaza seperti “Setetes air di lautan” (baca: Tempo).

Beberapa bulan terakhir, memang di perbatasan mereka mobil-mobil logistik itu dipersulit atau dijarah secara gelap untuk tidak sampai di kamp pengungsian. Dan untuk menuntaskan rasa lapar, tidak sedikit dari mereka—para pengungsi—memakan pakan ternak yang disulapnya menjadi kue rasa asin perang.

Dan bagaimana negara-negara yang ikut serta menyokong senjata pada negara Israel, dapat dipastikan mereka juga bagian dari pelaku genosida, termasuk media yang tidak ikut serta mengabarkan secara kritis kondisi ini.

Atas spirit itulah Sanne Breimer tetap bertahan dalam mengembangkan dekolonialisme dalam jurnalismenya, karena ia merasa bertanggung jawab sebagai wanita Barat untuk menyuarakan hal itu, karena negara-negara Barat-lah yang terus mendukung Israel dengan senjata.

“Negara saya, Belanda, masih mengirimkan suku cadang jet tempur F35 ke Israel. Itu membuat kita terlibat dalam genosida,” kata Sanne Breimer.

Sampai di situ, ia juga menjelaskan cerita sangat penting di dunia sekarang, sebagaimana kita melihat dunia melalui cerita. Jika media tidak menganggap serius tanggung jawab itu, kita akan tersesat.

Sehingga ia akan terus memantapkan diri dalam peningkatan jurnalisme dan membuat cerita yang lebih baik, cerita yang melaporkan kompleksitas; perkembangan-atau kemunduran dunia sekarang.

Posisi Reportase dan Puisi di Tengah Perang

you wo broke my vase and stole the lonely flower on my balcony // come back // And scream as you want, // And break all the vases // Steal all the flowers//Come back // Just come back //

Kamu yang memecahkan vasku dan mencuri bunga kesepian di balkonku // Kembali– // Dan teriaklah sesuka hatimu // Dah memecahkan semua vas // Curi semua bunganya //

Kemudian Khaled Juma menebar kerinduan secara halus pada anak-anak yang sudah pergi—wafat, namun sadisme yang terekam di matanya tetap menjadi teror di puisinya itu.

Khaled Juma adalah seorang penyair, penulis asal Palestina, yang dibesarkan di kamp pengungsian, sehingga dengan impresifitas ia menaburkan kehilangan dengan perasaan yang dingin. Kepada siapa ia bersikap dingin dari tulisannya itu?

Tentu pada dunia yang setengah membuka mata tentang perang ini, yang di belakang itu memperunyam kondisi—dengan diam-diam menyokong senjata, seperti yang dikatakan Sanne Breimer tadi soal jet tempur F35.

Puisi itu bukan saja menyoal kerinduan si penyair secara biasa, tetapi justru ia menagih kerinduan dunia tentang kondisi yang banal itu seakan dinormalisasikan begitu saja.

Karena ke mana anak-anak (Gaza) itu pergi, dan tidak lagi menganggu para tetangga dengan teriakannya, keusilannya, tentu saja adalah satir paling brutal dilempar oleh Khaled, bahwa mereka telah mati; pindah-bermain ke langit.

Siapa yang menggantikan anak-anak Gaza untuk mengganggu rumah-rumah antar tetangga si tokoh aku, adalah kriminalitas dari pasukan kolonialis Israel itu sendiri.

Tidak hanya datang mencuri vas bunga, tetapi juga berikut dengan mengubur tetangga-tetangganya dan anak-anak tak berdosa itu.

Selain musim hujan atau kemarau, langit mereka juga mendung atas hujan rudal-peluru sebagai cuaca buruk yang baru, dengan suara getir tangis bayi-bayi.

Kondisi seperti ini tidak ada bedanya dengan tragedi iholocaust orang-orang Yahudi oleh Nazi Jerman di masa Hitler di sebuah bunker kematian di masa lalu.

Untuk keluar dari kondisi perang, tidak sedikit dari mereka, masyarakat Gaza, yang masih muda dan bernyali siang atau malam, bersenjatakan ketapel-petasan atau molotov, dilemparkan pada pasukan Israel yang sedang patroli di sebuah jalan sebagai simbol protes, lalu dibalaskan dengan peluru timah panas—hingga RPG, atau pelor agak besar dari sebuah tank tempur—yang entah dari negara mana mereka punya.

Sumber foto: Sindonews

Namun dengan nyali seperti itu kematian ditatapnya murah—namun dengan jalang, dan dunia seakan sedang dicaci maki oleh darah-keberanian mereka.

Lantas dengan sadar seseorang menulis sebuah epitaf (anonim) pada sebuah dinding negaranya; “Dunia Tidak mencintai kita, Bu”.

Tulisan di dinding itu di sebuah gedung/rumah (lihat: foto dinding Gaza), dalam suasana perang, tentu—terbaca sangat puitik, bahwa dunia bagi mereka tak lagi seperti tangan ibu yang basah-kasih. Dunia sudah kering cinta untuk mereka.

Namun, jika hasil reportase dan puisi “darah” sudah tercecer di antara mayat dan gedung rusak dan masih tak mampu memadamkan api dalam perang, dengan cara apa dan di mana “puisi” mesti ditulis!? [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Monolog Ayu Laksmi “Apabila Aku Kembali dan Mengobati Diriku Sendiri” di Rabu Puisi #10 Komunitas Mahima
Cinta dalam Puisi di Sudut Rumah Kopi Singaraja — Catatan Rabu Puisi #9 Komunitas Mahima
Autopsi Rindu di Kedai Umah Pradja Singaraja — Catatan Rabu Puisi #11 Komunitas Mahima
Tags: anak-anakjalur gazaKomunitas MahimaPuisiRabu Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

DISRUPSI EKOLOGI BATUR-KINTAMANI

Next Post

Hikayat Oven Tembakau: Saksi Bisu Kejayaan Petani Tembakau di Desa Panji

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
0
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

Read moreDetails

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

Read moreDetails

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

 “Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!” Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja...

Read moreDetails

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026
0
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

Read moreDetails

13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

by Wahyu Mahaputra
July 30, 2026
0
13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Di tengah menjamurnya festival musik yang kian mengaburkan batas antar-genre demi menjangkau pasar yang lebih luas, Sthala Ubud Village Jazz...

Read moreDetails

“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

by Yahya Umar
July 28, 2026
0
“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

jika rakyat pergiketika penguasa pidatokita harus hati-hatibarangkali mereka putus asa kalau rakyat sembunyidan berbisik-bisikketika membicarakan masalahnya sendiripenguasa harus waspada dan...

Read moreDetails

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
0
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

Read moreDetails

“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
0
“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

KETIKA Bagus Diarsa tampak sibuk menatap layar telepon genggamnya, di sampingnya berdiri sosok berwajah penuh riasan, berbusana merah menyala. Dialah...

Read moreDetails

Siap-siap ke Lovina Festival 2026

by Komang Puja Savitri
July 24, 2026
0
Siap-siap ke Lovina Festival 2026

"Hari ini kesiapan sudah seratus persen," ucap Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra membuka jumpa pers di Spice Dive Beach Club,...

Read moreDetails

Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026
0
Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

PERTIKAIAN dan peperangan kerap melahirkan penderitaan, kebencian, dendam, serta luka yang membekas dalam jiwa. Namun, di balik kehancuran itu selalu...

Read moreDetails
Next Post
Hikayat Oven Tembakau: Saksi Bisu Kejayaan Petani Tembakau di Desa Panji

Hikayat Oven Tembakau: Saksi Bisu Kejayaan Petani Tembakau di Desa Panji

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co