12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ke Langit Anak-anak Nakal Itu Pergi — Catatan Baca Puisi Sanne Breimer atas “Khaled Juma” di Rabu Puisi #11 Komunitas Mahima

Son Lomri by Son Lomri
July 7, 2025
in Panggung
Ke Langit Anak-anak Nakal Itu Pergi — Catatan Baca Puisi Sanne Breimer atas “Khaled Juma” di Rabu Puisi #11 Komunitas Mahima

Sanne Breimer saat membaca puisi pada acara Rabu Puisi #11 Komunitas Mahima, 2 Juli 2025, di Kedai Umah Pradja, Singaraja, Bali | Foto: Komunitas Mahima

Oh rascal children of Gaza // You who constantly disturbed me with your screams under my window // you who filled every morning with rush and chaos // you wo broke my vase and stole the lonely flower on my balcony // come bac k/ /And scream as you want, // And break all the vases // Steal all the flowers // Come back // Just come back

PUISI itu dapat dirasakan sebagai memori duka cita yang ditarik secara halus oleh Khaled Juma dalam puisinya berjudul “Oh Rescal Children of Gaza” terkait kondisi perang Israel-Palestina.

Pada acara Rabu Puisi #11 Komunitas Mahima, 2 Juli 2025, di Kedai Umah Pradja, Singaraja, Bali, puisi itu dibacakan oleh Sanne Breimer dengan tanda tanya di matanya.

“Saya memilih puisi ini karena saya merasa kita harus terus memperhatikan Gaza dan genosida yang terjadi di sana,” kata Sanne tentang alasannya memilih puisi milik penyair Khaled Juma.

Sanne Breimer adalah seorang penulis dan konsultan media, juga pelatih jurnalistik. Ia telah bekerja selama 13 tahun untuk Dutch Public Broadcasting, dan kini tengah mengembangkan Jurnalisme Inklusif dengan fokus pada topik kesetaraan, dekolonialitas, dan kesejahteraan mental.

Di bidang jurnalisme, ketika menuliskan sebuah reportase, ia merasa masih cukup kurang untuk bisa mencakup apa yang sedang terjadi secara emosional. Tapi setidaknya, dengan membaca puisi ia dapat membantu dalam mengekspresikan perasaan dan emosi yang tidak dapat diungkapkan oleh jurnalisme.

“Dalam hal itu, membaca puisi seperti ini juga membantu saya untuk menghadapinya sendiri. Untuk berbagi dengan orang lain di acara Rabu Puisi dan memiliki komunitas orang-orang di sekitar yang memahaminya,” kata Sanne Breimer.

Tapi ia yakin bahwa wartawan masih bisa menjadi aktivis hak asasi manusia. Karena Sanne menilai, saat ini banyak media yang tidak melaporkan genosida yang dilakukan oleh Israel itu secara kritis.

Perang itu memang mennyulap udara bersih jadi kotor, menguar bau mayat—dari siapa saja yang mati di antara reruntuhan gedung terbakar sisa-sisa ledakan, dan semua itu adalah suasana berantakan di Jalur Gaza.

Yang lebih mengerikanlagi dalam perang itu, adalah terusirnya anak-anak dari semua aktivitas. Dari puisi itu dapat dibayangkan kembali, ke mana mereka pergi setelah ruang belajar, setelah taman bermain dan rumah-rumah, dan gedung-gedung itu lebur? Langit.

Sanne Breimer saat membaca puisi pada acara Rabu Puisi #11 Komunitas Mahima, 2 Juli 2025, di Kedai Umah Pradja, Singaraja, Bali | Foto: Komunitas Mahima

Dan ketika di atas panggung kecil, Sanne berdiri, dan mendengar ia membaca puisi, ia seakan menarik orang-orang untuk merasakan kerinduan si Penyair pada suasana rumah yang utuh, disertai fase kenakalan kanak-kanak. Dan itu adalah bentuk perasaan tidak biasa.

Puisi itu ditulis oleh Khaled setelah—tragedi—serangan Israel-Gaza pada tahun 2014 silam, dengan julukan “Operasi Protective Edge”—atau Operasi Perisai Pelindung.

Mengutip laman Jewish Voice For Labour, perang itu telah menewaskan sekitar 547 anak-anak dan 3.374 anak-anak luka, termasuk di dalamnya mencacatkan 1000 anak secara permanen.

Perang itu juga telah banyak menghancurkan bangunan rumah dan gedung, terutama sekolah anak-anak. Anak-anak Gaza tak lagi sekolah setelah gedungnya raib, dan mereka pergi ke pemakaman secara kolektif, atau ke kamp pengungsian untuk dirawat secara massal dengan seadanya.

Memang perang itu menjadi salah satu genosida cukup parah setelah holocaust yang dilakukan oleh Hitler di Jerman. Pada Oktober 2023 lalu, misalnya, Kolonialis Israel telah kembali mewafatkan masyarakat Gaza sejumlah 54.056 melalui serangan darat dan udara.

Cara Membunuh Yang Lain

Sementara di beberapa bulan terakhir ini—menuju cara membunuh yang lain—Israel melakukan pemblokiran jalan masuk di perbatasan—sehingga kiriman makanan, pakaian layak, dan obat-obatan itu, tidak masuk secara maksiman hingga menjadi buntut busung lapar tahun sekarang di Gaza.

Bahkan perkiraan 14.000 bayi-bayi tak akan ada lagi suara tangisnya, jika kesulitan mendapatkan makanan bergizi dan berprotein, serta susu segar ,air bersih dan perawatan yang layak.

Ini kondisi mematikan tahun ini di dunia. Seperti kata Kepala Kemanusiaan PBB Tom Fletcher, Mei lalu, bahwa bantuan yang mengalir ke Jalur Gaza seperti “Setetes air di lautan” (baca: Tempo).

Beberapa bulan terakhir, memang di perbatasan mereka mobil-mobil logistik itu dipersulit atau dijarah secara gelap untuk tidak sampai di kamp pengungsian. Dan untuk menuntaskan rasa lapar, tidak sedikit dari mereka—para pengungsi—memakan pakan ternak yang disulapnya menjadi kue rasa asin perang.

Dan bagaimana negara-negara yang ikut serta menyokong senjata pada negara Israel, dapat dipastikan mereka juga bagian dari pelaku genosida, termasuk media yang tidak ikut serta mengabarkan secara kritis kondisi ini.

Atas spirit itulah Sanne Breimer tetap bertahan dalam mengembangkan dekolonialisme dalam jurnalismenya, karena ia merasa bertanggung jawab sebagai wanita Barat untuk menyuarakan hal itu, karena negara-negara Barat-lah yang terus mendukung Israel dengan senjata.

“Negara saya, Belanda, masih mengirimkan suku cadang jet tempur F35 ke Israel. Itu membuat kita terlibat dalam genosida,” kata Sanne Breimer.

Sampai di situ, ia juga menjelaskan cerita sangat penting di dunia sekarang, sebagaimana kita melihat dunia melalui cerita. Jika media tidak menganggap serius tanggung jawab itu, kita akan tersesat.

Sehingga ia akan terus memantapkan diri dalam peningkatan jurnalisme dan membuat cerita yang lebih baik, cerita yang melaporkan kompleksitas; perkembangan-atau kemunduran dunia sekarang.

Posisi Reportase dan Puisi di Tengah Perang

you wo broke my vase and stole the lonely flower on my balcony // come back // And scream as you want, // And break all the vases // Steal all the flowers//Come back // Just come back //

Kamu yang memecahkan vasku dan mencuri bunga kesepian di balkonku // Kembali– // Dan teriaklah sesuka hatimu // Dah memecahkan semua vas // Curi semua bunganya //

Kemudian Khaled Juma menebar kerinduan secara halus pada anak-anak yang sudah pergi—wafat, namun sadisme yang terekam di matanya tetap menjadi teror di puisinya itu.

Khaled Juma adalah seorang penyair, penulis asal Palestina, yang dibesarkan di kamp pengungsian, sehingga dengan impresifitas ia menaburkan kehilangan dengan perasaan yang dingin. Kepada siapa ia bersikap dingin dari tulisannya itu?

Tentu pada dunia yang setengah membuka mata tentang perang ini, yang di belakang itu memperunyam kondisi—dengan diam-diam menyokong senjata, seperti yang dikatakan Sanne Breimer tadi soal jet tempur F35.

Puisi itu bukan saja menyoal kerinduan si penyair secara biasa, tetapi justru ia menagih kerinduan dunia tentang kondisi yang banal itu seakan dinormalisasikan begitu saja.

Karena ke mana anak-anak (Gaza) itu pergi, dan tidak lagi menganggu para tetangga dengan teriakannya, keusilannya, tentu saja adalah satir paling brutal dilempar oleh Khaled, bahwa mereka telah mati; pindah-bermain ke langit.

Siapa yang menggantikan anak-anak Gaza untuk mengganggu rumah-rumah antar tetangga si tokoh aku, adalah kriminalitas dari pasukan kolonialis Israel itu sendiri.

Tidak hanya datang mencuri vas bunga, tetapi juga berikut dengan mengubur tetangga-tetangganya dan anak-anak tak berdosa itu.

Selain musim hujan atau kemarau, langit mereka juga mendung atas hujan rudal-peluru sebagai cuaca buruk yang baru, dengan suara getir tangis bayi-bayi.

Kondisi seperti ini tidak ada bedanya dengan tragedi iholocaust orang-orang Yahudi oleh Nazi Jerman di masa Hitler di sebuah bunker kematian di masa lalu.

Untuk keluar dari kondisi perang, tidak sedikit dari mereka, masyarakat Gaza, yang masih muda dan bernyali siang atau malam, bersenjatakan ketapel-petasan atau molotov, dilemparkan pada pasukan Israel yang sedang patroli di sebuah jalan sebagai simbol protes, lalu dibalaskan dengan peluru timah panas—hingga RPG, atau pelor agak besar dari sebuah tank tempur—yang entah dari negara mana mereka punya.

Sumber foto: Sindonews

Namun dengan nyali seperti itu kematian ditatapnya murah—namun dengan jalang, dan dunia seakan sedang dicaci maki oleh darah-keberanian mereka.

Lantas dengan sadar seseorang menulis sebuah epitaf (anonim) pada sebuah dinding negaranya; “Dunia Tidak mencintai kita, Bu”.

Tulisan di dinding itu di sebuah gedung/rumah (lihat: foto dinding Gaza), dalam suasana perang, tentu—terbaca sangat puitik, bahwa dunia bagi mereka tak lagi seperti tangan ibu yang basah-kasih. Dunia sudah kering cinta untuk mereka.

Namun, jika hasil reportase dan puisi “darah” sudah tercecer di antara mayat dan gedung rusak dan masih tak mampu memadamkan api dalam perang, dengan cara apa dan di mana “puisi” mesti ditulis!? [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Monolog Ayu Laksmi “Apabila Aku Kembali dan Mengobati Diriku Sendiri” di Rabu Puisi #10 Komunitas Mahima
Cinta dalam Puisi di Sudut Rumah Kopi Singaraja — Catatan Rabu Puisi #9 Komunitas Mahima
Autopsi Rindu di Kedai Umah Pradja Singaraja — Catatan Rabu Puisi #11 Komunitas Mahima
Tags: anak-anakjalur gazaKomunitas MahimaPuisiRabu Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

DISRUPSI EKOLOGI BATUR-KINTAMANI

Next Post

Hikayat Oven Tembakau: Saksi Bisu Kejayaan Petani Tembakau di Desa Panji

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
0
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

Read moreDetails

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
0
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

Read moreDetails

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
0
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

Read moreDetails

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
0
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

Read moreDetails

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
0
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

Read moreDetails

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
0
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

Read moreDetails

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

Read moreDetails
Next Post
Hikayat Oven Tembakau: Saksi Bisu Kejayaan Petani Tembakau di Desa Panji

Hikayat Oven Tembakau: Saksi Bisu Kejayaan Petani Tembakau di Desa Panji

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co