9 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ke Langit Anak-anak Nakal Itu Pergi — Catatan Baca Puisi Sanne Breimer atas “Khaled Juma” di Rabu Puisi #11 Komunitas Mahima

Son Lomri by Son Lomri
July 7, 2025
in Panggung
Ke Langit Anak-anak Nakal Itu Pergi — Catatan Baca Puisi Sanne Breimer atas “Khaled Juma” di Rabu Puisi #11 Komunitas Mahima

Sanne Breimer saat membaca puisi pada acara Rabu Puisi #11 Komunitas Mahima, 2 Juli 2025, di Kedai Umah Pradja, Singaraja, Bali | Foto: Komunitas Mahima

Oh rascal children of Gaza // You who constantly disturbed me with your screams under my window // you who filled every morning with rush and chaos // you wo broke my vase and stole the lonely flower on my balcony // come bac k/ /And scream as you want, // And break all the vases // Steal all the flowers // Come back // Just come back

PUISI itu dapat dirasakan sebagai memori duka cita yang ditarik secara halus oleh Khaled Juma dalam puisinya berjudul “Oh Rescal Children of Gaza” terkait kondisi perang Israel-Palestina.

Pada acara Rabu Puisi #11 Komunitas Mahima, 2 Juli 2025, di Kedai Umah Pradja, Singaraja, Bali, puisi itu dibacakan oleh Sanne Breimer dengan tanda tanya di matanya.

“Saya memilih puisi ini karena saya merasa kita harus terus memperhatikan Gaza dan genosida yang terjadi di sana,” kata Sanne tentang alasannya memilih puisi milik penyair Khaled Juma.

Sanne Breimer adalah seorang penulis dan konsultan media, juga pelatih jurnalistik. Ia telah bekerja selama 13 tahun untuk Dutch Public Broadcasting, dan kini tengah mengembangkan Jurnalisme Inklusif dengan fokus pada topik kesetaraan, dekolonialitas, dan kesejahteraan mental.

Di bidang jurnalisme, ketika menuliskan sebuah reportase, ia merasa masih cukup kurang untuk bisa mencakup apa yang sedang terjadi secara emosional. Tapi setidaknya, dengan membaca puisi ia dapat membantu dalam mengekspresikan perasaan dan emosi yang tidak dapat diungkapkan oleh jurnalisme.

“Dalam hal itu, membaca puisi seperti ini juga membantu saya untuk menghadapinya sendiri. Untuk berbagi dengan orang lain di acara Rabu Puisi dan memiliki komunitas orang-orang di sekitar yang memahaminya,” kata Sanne Breimer.

Tapi ia yakin bahwa wartawan masih bisa menjadi aktivis hak asasi manusia. Karena Sanne menilai, saat ini banyak media yang tidak melaporkan genosida yang dilakukan oleh Israel itu secara kritis.

Perang itu memang mennyulap udara bersih jadi kotor, menguar bau mayat—dari siapa saja yang mati di antara reruntuhan gedung terbakar sisa-sisa ledakan, dan semua itu adalah suasana berantakan di Jalur Gaza.

Yang lebih mengerikanlagi dalam perang itu, adalah terusirnya anak-anak dari semua aktivitas. Dari puisi itu dapat dibayangkan kembali, ke mana mereka pergi setelah ruang belajar, setelah taman bermain dan rumah-rumah, dan gedung-gedung itu lebur? Langit.

Sanne Breimer saat membaca puisi pada acara Rabu Puisi #11 Komunitas Mahima, 2 Juli 2025, di Kedai Umah Pradja, Singaraja, Bali | Foto: Komunitas Mahima

Dan ketika di atas panggung kecil, Sanne berdiri, dan mendengar ia membaca puisi, ia seakan menarik orang-orang untuk merasakan kerinduan si Penyair pada suasana rumah yang utuh, disertai fase kenakalan kanak-kanak. Dan itu adalah bentuk perasaan tidak biasa.

Puisi itu ditulis oleh Khaled setelah—tragedi—serangan Israel-Gaza pada tahun 2014 silam, dengan julukan “Operasi Protective Edge”—atau Operasi Perisai Pelindung.

Mengutip laman Jewish Voice For Labour, perang itu telah menewaskan sekitar 547 anak-anak dan 3.374 anak-anak luka, termasuk di dalamnya mencacatkan 1000 anak secara permanen.

Perang itu juga telah banyak menghancurkan bangunan rumah dan gedung, terutama sekolah anak-anak. Anak-anak Gaza tak lagi sekolah setelah gedungnya raib, dan mereka pergi ke pemakaman secara kolektif, atau ke kamp pengungsian untuk dirawat secara massal dengan seadanya.

Memang perang itu menjadi salah satu genosida cukup parah setelah holocaust yang dilakukan oleh Hitler di Jerman. Pada Oktober 2023 lalu, misalnya, Kolonialis Israel telah kembali mewafatkan masyarakat Gaza sejumlah 54.056 melalui serangan darat dan udara.

Cara Membunuh Yang Lain

Sementara di beberapa bulan terakhir ini—menuju cara membunuh yang lain—Israel melakukan pemblokiran jalan masuk di perbatasan—sehingga kiriman makanan, pakaian layak, dan obat-obatan itu, tidak masuk secara maksiman hingga menjadi buntut busung lapar tahun sekarang di Gaza.

Bahkan perkiraan 14.000 bayi-bayi tak akan ada lagi suara tangisnya, jika kesulitan mendapatkan makanan bergizi dan berprotein, serta susu segar ,air bersih dan perawatan yang layak.

Ini kondisi mematikan tahun ini di dunia. Seperti kata Kepala Kemanusiaan PBB Tom Fletcher, Mei lalu, bahwa bantuan yang mengalir ke Jalur Gaza seperti “Setetes air di lautan” (baca: Tempo).

Beberapa bulan terakhir, memang di perbatasan mereka mobil-mobil logistik itu dipersulit atau dijarah secara gelap untuk tidak sampai di kamp pengungsian. Dan untuk menuntaskan rasa lapar, tidak sedikit dari mereka—para pengungsi—memakan pakan ternak yang disulapnya menjadi kue rasa asin perang.

Dan bagaimana negara-negara yang ikut serta menyokong senjata pada negara Israel, dapat dipastikan mereka juga bagian dari pelaku genosida, termasuk media yang tidak ikut serta mengabarkan secara kritis kondisi ini.

Atas spirit itulah Sanne Breimer tetap bertahan dalam mengembangkan dekolonialisme dalam jurnalismenya, karena ia merasa bertanggung jawab sebagai wanita Barat untuk menyuarakan hal itu, karena negara-negara Barat-lah yang terus mendukung Israel dengan senjata.

“Negara saya, Belanda, masih mengirimkan suku cadang jet tempur F35 ke Israel. Itu membuat kita terlibat dalam genosida,” kata Sanne Breimer.

Sampai di situ, ia juga menjelaskan cerita sangat penting di dunia sekarang, sebagaimana kita melihat dunia melalui cerita. Jika media tidak menganggap serius tanggung jawab itu, kita akan tersesat.

Sehingga ia akan terus memantapkan diri dalam peningkatan jurnalisme dan membuat cerita yang lebih baik, cerita yang melaporkan kompleksitas; perkembangan-atau kemunduran dunia sekarang.

Posisi Reportase dan Puisi di Tengah Perang

you wo broke my vase and stole the lonely flower on my balcony // come back // And scream as you want, // And break all the vases // Steal all the flowers//Come back // Just come back //

Kamu yang memecahkan vasku dan mencuri bunga kesepian di balkonku // Kembali– // Dan teriaklah sesuka hatimu // Dah memecahkan semua vas // Curi semua bunganya //

Kemudian Khaled Juma menebar kerinduan secara halus pada anak-anak yang sudah pergi—wafat, namun sadisme yang terekam di matanya tetap menjadi teror di puisinya itu.

Khaled Juma adalah seorang penyair, penulis asal Palestina, yang dibesarkan di kamp pengungsian, sehingga dengan impresifitas ia menaburkan kehilangan dengan perasaan yang dingin. Kepada siapa ia bersikap dingin dari tulisannya itu?

Tentu pada dunia yang setengah membuka mata tentang perang ini, yang di belakang itu memperunyam kondisi—dengan diam-diam menyokong senjata, seperti yang dikatakan Sanne Breimer tadi soal jet tempur F35.

Puisi itu bukan saja menyoal kerinduan si penyair secara biasa, tetapi justru ia menagih kerinduan dunia tentang kondisi yang banal itu seakan dinormalisasikan begitu saja.

Karena ke mana anak-anak (Gaza) itu pergi, dan tidak lagi menganggu para tetangga dengan teriakannya, keusilannya, tentu saja adalah satir paling brutal dilempar oleh Khaled, bahwa mereka telah mati; pindah-bermain ke langit.

Siapa yang menggantikan anak-anak Gaza untuk mengganggu rumah-rumah antar tetangga si tokoh aku, adalah kriminalitas dari pasukan kolonialis Israel itu sendiri.

Tidak hanya datang mencuri vas bunga, tetapi juga berikut dengan mengubur tetangga-tetangganya dan anak-anak tak berdosa itu.

Selain musim hujan atau kemarau, langit mereka juga mendung atas hujan rudal-peluru sebagai cuaca buruk yang baru, dengan suara getir tangis bayi-bayi.

Kondisi seperti ini tidak ada bedanya dengan tragedi iholocaust orang-orang Yahudi oleh Nazi Jerman di masa Hitler di sebuah bunker kematian di masa lalu.

Untuk keluar dari kondisi perang, tidak sedikit dari mereka, masyarakat Gaza, yang masih muda dan bernyali siang atau malam, bersenjatakan ketapel-petasan atau molotov, dilemparkan pada pasukan Israel yang sedang patroli di sebuah jalan sebagai simbol protes, lalu dibalaskan dengan peluru timah panas—hingga RPG, atau pelor agak besar dari sebuah tank tempur—yang entah dari negara mana mereka punya.

Sumber foto: Sindonews

Namun dengan nyali seperti itu kematian ditatapnya murah—namun dengan jalang, dan dunia seakan sedang dicaci maki oleh darah-keberanian mereka.

Lantas dengan sadar seseorang menulis sebuah epitaf (anonim) pada sebuah dinding negaranya; “Dunia Tidak mencintai kita, Bu”.

Tulisan di dinding itu di sebuah gedung/rumah (lihat: foto dinding Gaza), dalam suasana perang, tentu—terbaca sangat puitik, bahwa dunia bagi mereka tak lagi seperti tangan ibu yang basah-kasih. Dunia sudah kering cinta untuk mereka.

Namun, jika hasil reportase dan puisi “darah” sudah tercecer di antara mayat dan gedung rusak dan masih tak mampu memadamkan api dalam perang, dengan cara apa dan di mana “puisi” mesti ditulis!? [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Monolog Ayu Laksmi “Apabila Aku Kembali dan Mengobati Diriku Sendiri” di Rabu Puisi #10 Komunitas Mahima
Cinta dalam Puisi di Sudut Rumah Kopi Singaraja — Catatan Rabu Puisi #9 Komunitas Mahima
Autopsi Rindu di Kedai Umah Pradja Singaraja — Catatan Rabu Puisi #11 Komunitas Mahima
Tags: anak-anakjalur gazaKomunitas MahimaPuisiRabu Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

DISRUPSI EKOLOGI BATUR-KINTAMANI

Next Post

Hikayat Oven Tembakau: Saksi Bisu Kejayaan Petani Tembakau di Desa Panji

Son Lomri

Son Lomri

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Lomba Tapel Ogoh-ogoh di UPMI Bali: Menumbuhkan Kreativitas Tanpa Batas

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Lomba Tapel Ogoh-ogoh di UPMI Bali: Menumbuhkan Kreativitas Tanpa Batas

“Ogoh-ogoh itu bukan lagi kesenian musiman. Tetapi kesenian yang dikerjakan sepanjang masa.” Kalimat pembuka itu meluncur dari Dr. I Made...

Read moreDetails

Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  

by Dede Putra Wiguna
April 30, 2026
0
Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  

SEJAK dibentuk pada 2008 di Bali, Dialog Dini Hari konsisten mempertahankan pendekatan musik yang tenang dan reflektif. Kini, band indie...

Read moreDetails

Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro

by Dede Putra Wiguna
April 29, 2026
0
Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro

CINEPOLIS Plaza Renon menjadi titik temu antara ingatan, penghormatan, dan refleksi. Di sanalah BALIDOC menggelar diseminasi sekaligus penayangan perdana film...

Read moreDetails

Peringatan Hari Tari Sedunia di UPMI: Lomba Tari Bali Jadi Ruang Menjaga Tradisi dan Menggerakkan Generasi

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Peringatan Hari Tari Sedunia di UPMI: Lomba Tari Bali Jadi Ruang Menjaga Tradisi dan Menggerakkan Generasi

LOMBA Tari Bali yang digelar pada 25–26 April 2026 di Auditorium Redha Gunawan, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali), menjadi...

Read moreDetails

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
0
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

Read moreDetails

Ketika Musik, Lukisan, dan Kesadaran Bertemu dalam Nyanyian Dharma

by Pranita Dewi
April 20, 2026
0
Ketika Musik, Lukisan, dan Kesadaran Bertemu dalam Nyanyian Dharma

Pertunjukan Nyanyian Dharma digelar di Ruang Taksu, Gedung Dharma Negara Alaya (DNA), Denpasar, Minggu (19/4) malam, menampilkan kolaborasi musik dengan...

Read moreDetails

‘Wellnes Conference’ di Bali Spirit Festival: Preventif Ciri ‘Wellness Tourism’, Kuratif Tujuan ‘Medical Tourism’

by I Nyoman Darma Putra
April 19, 2026
0
‘Wellnes Conference’ di Bali Spirit Festival: Preventif Ciri ‘Wellness Tourism’, Kuratif Tujuan ‘Medical Tourism’

Perbedaan antara wellness tourism dengan medical tourism menjadi salah satu pertanyaan dalam dalam Wellness Conference (Wellness Talk Show), Kamis, 16 April 2026, di Pelataran Hotel, Ubud....

Read moreDetails

Eksplorasi Material dan Gerak, Serangkai Inovasi Komunitas Wayang Ental di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Komang Puja Savitri
April 14, 2026
0
Eksplorasi Material dan Gerak, Serangkai Inovasi Komunitas Wayang Ental di Festival Wayang Bali Utara 2026

SEJAK awal, ada rasa penasaran yang menggantung di antara penonton yang duduk lesehan di wantilan Museum Soenda Ketjil. Wayang, dalam...

Read moreDetails

Membaca Buleleng dalam Museum Soenda Ketjil —Catatan Kecil dari Festival Wayang Bali Utara 2026

by Son Lomri
April 12, 2026
0
Membaca Buleleng dalam Museum Soenda Ketjil —Catatan Kecil dari Festival Wayang Bali Utara 2026

MALAM itu, Kamis, 9 April 2026, ada pertunjukan wayang kulit serangkaian Festival Wayang Bali Utara (FWB) di Wantilan Pelabuhan Tua...

Read moreDetails

Museum Soenda Ketjil: Kebanggaan Budaya atau Sekadar Ketakutan Akan Kehilangan?

by I Nengah Juliawan
April 11, 2026
0
Museum Soenda Ketjil: Kebanggaan Budaya atau Sekadar Ketakutan Akan Kehilangan?

MUSEUM Soenda Ketjil di Singaraja tidak hanya menjadi ruang sunyi yang menyimpan masa lalu, melainkan juga ruang publik yang terus...

Read moreDetails
Next Post
Hikayat Oven Tembakau: Saksi Bisu Kejayaan Petani Tembakau di Desa Panji

Hikayat Oven Tembakau: Saksi Bisu Kejayaan Petani Tembakau di Desa Panji

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot
Esai

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
Terbang di Atas Sepi
Esai

Terbang di Atas Sepi

“Kalau gak sabar, silakan terbang di atas sepi.” Tulisan di bak truk itu mungkin lahir dari kemacetan. Dari jalan yang...

by Angga Wijaya
May 8, 2026
Filla, Unit Rock Tunanetra asal Bali Resmi Bertransformasi Jadi Solo Project Setelah Merilis Tiga Single
Pop

Filla, Unit Rock Tunanetra asal Bali Resmi Bertransformasi Jadi Solo Project Setelah Merilis Tiga Single

SETELAH mencuri perhatian sebagai unit rock tunanetra asal Bali lewat single “Keidela”, “I’m a Fire”, dan “3”, kini Filla memasuki...

by Dede Putra Wiguna
May 8, 2026
Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama
Esai

Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama

DATA BPS Februari 2026 membuat kita harus berhenti pura-pura tidak hirau: tingkat pengangguran terbuka lulusan SMK  8.62%..! Tertinggi dari semua...

by I Gede Joni Suhartawan
May 8, 2026
Trio Brunkow, Ramsdell, dan Sakaguchi: Ketika Kolaborasi Ilmiah Mengubah Masa Depan Kemanusiaan
Esai

Trio Brunkow, Ramsdell, dan Sakaguchi: Ketika Kolaborasi Ilmiah Mengubah Masa Depan Kemanusiaan

Jejak Kehidupan Tiga Ilmuwan Penjaga Sistem Imun Dunia ilmu pengetahuan sering melahirkan tokoh-tokoh besar yang bekerja dalam kesunyian laboratorium, jauh...

by Agung Sudarsa
May 8, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Deforestasi Sangat Ditabukan Suku Baduy

DUNIA saat ini sedang dilanda berbagai bencana alam yang mengerikan dan akan menghadapi suatu bencana yang amat sangat mengerikan bila...

by Asep Kurnia
May 7, 2026
Tengah Malam Rokok Habis                           
Esai

Tengah Malam Rokok Habis                           

HAL yang paling menyiksa bagi para perokok adalah ketika bangun tengah malam dan mendapati bungkus rokok kosong di atas meja....

by Angga Wijaya
May 7, 2026
Wujudkan Tri Hita Karana, KKN Tematik UPMI 2026 Sukses Bawa Perubahan Positif di Banjar Negari, Singapadu Tengah, Gianyar
Pendidikan

Wujudkan Tri Hita Karana, KKN Tematik UPMI 2026 Sukses Bawa Perubahan Positif di Banjar Negari, Singapadu Tengah, Gianyar

MAHASISWA Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali) Kelompok VI Tahun 2026 sukses menyelenggarakan serangkaian program...

by Dede Putra Wiguna
May 7, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KENAPA MASYARAKAT BALI MENSAKRALKAN MANGROVE (Prapat/Pedada/Pidada)?

— Mengenang Kembali Pohon Pesisir yang Dimuliakan Danghyang Nirartha Oleh: Sugi Lanus Di sepanjang garis pantai pulau Serangan dan pantai-pantai...

by Sugi Lanus
May 7, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas...

by I Made Pria Dharsana
May 7, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Bermain dengan Jin Tengah Malam

MEMILIKI seorang anak yang sehat, cerdas, dan saleh tentu membahagiakan bagi Krisna Malika dan Riana Dewanti. Anak pertama mereka, Arkanda...

by Chusmeru
May 7, 2026
Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup
Ulas Rupa

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

DI tengah geliat seni rupa kontemporer yang semakin cair dan lintas disiplin, pameran “Roots & Routes” yang berlangsung di Biji...

by I Gede Made Surya Darma
May 7, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co