5 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Autopsi Rindu di Kedai Umah Pradja Singaraja — Catatan Rabu Puisi #11 Komunitas Mahima

Komang Puja Savitri by Komang Puja Savitri
July 15, 2025
in Panggung
Autopsi Rindu di Kedai Umah Pradja Singaraja — Catatan Rabu Puisi #11 Komunitas Mahima

Rabu Puisi #11 Komunitas Mahima di Kedai Umah Pradja Singaraja | Foto: tatkala.co

PANGGUNG Rabu Puisi Komunitas Mahima terus bergulir, dari tema cinta pada edisi lalu hingga kini soal rindu. Dan, ini, salah satunya, tentang puisi rindu yang disampaikan Putu Indah Apriliani yang ia baca pada acara Rabu Puisi #11 Komunitas Mahima di Kedai Umah Pradja Singaraja, Rabu malam, 2 Juli 2025.

Sudah tiga kali Putu Indah Apriliani terpilih sebagai pembaca puisi di acara Rabu Puisi. Namun, pada Rabu malam  2 Juli itu, Indah merasakan sesuatu yang berbeda. Puisi yang ia bawakan berjudul “Ayah, Aku Rindu”, karya salah satu Sahabat Vamale bernama Zahra. Ia pilih puisi itu bukan hanya karena sekadar keindahan kata, tapi setiap baitnya mencerminkan hidupnya sendiri.

“Meski bukan aku yang menulis, puisi ini terasa seperti lahir dari perasaanku sendiri,” ucap Indah dengan wajahnya tenang, tapi suaranya menyimpan getar luka lama yang belum benar-benar sembuh.

Rabu Puisi #11 Komunitas Mahima di Kedai Umah Pradja Singaraja | Foto: tatkala.co

Indah tumbuh sebagai anak perempuan yang tidak pernah mengenal sosok figur ayah. Bukan karena ia membenci, tetapi karena ketidakhadiran itu sudah menjadi kenyataan yang ia terima sejak lama. Ia tak pernah tahu seperti apa rasanya dipeluk atau dijemput oleh seorang ayah, tapi juga tidak punya dendam atas keadaan tersebut. Salah satu bagian puisi yang paling menyentuh baginya adalah:

Ayah, aku tahu keadaan ini tak akan mungkin membuat kita bisa bersama. Aku pun juga tidak banyak mengharapkan hal itu. Tapi aku selalu berdoa semoga kita bisa bahagia dengan jalan hidup kita masing-masing.

Menurut Indah, bagian itu menggambarkan perasaan yang rumit, tidak banyak berharap, tetapi tetap mendoakan. Ia mengaku pernah berada di titik itu, di mana ada keinginan untuk mendekat, namun hal itu terasa mustahil karena hubungan mereka sudah terlalu asing.

”Dalam keadaan seperti itu, mendoakan menjadi satu-satunya hal yang bisa kulakukan,” katanya pelan.

Putu Indah Apriliani | Foto: Komunitas Mahima

Indah juga membawakan puisi berbahasa Inggris ciptaannya sendiri berjudul The Unmissed Shadow. Meski secara eksplisit menyatakan ”tidak rindu”, puisi ini justru menyiratkan kerinduan yang tertahan. Puisi ini ditulisnya tahun 2025

I don’t miss the man, for he wasn’t truly known,
But the idea of a father, firmly sown.
So I build my own bridges, and sail my own sea,
Still needing the solace of what you could be.

Artinya:

Tidak ada yang benar-benar saya rindukan,
Tapi gagasan seorang ayah itu tertanam kuat.
Saya membangun jembatan saya sendiri, dan mengarungi lautan saya sendiri,
Masih membutuhkan penghiburan dari apa yang bisa Anda lakukan.

Jejak Tanpa Wajah dan Cinta Tanpa Syarat

Kisah serupa tentang kerinduan pada sosok orang tua yang tak tergapai datang dari Chatrine Florentine Ndrotndrot, mahasiswi asal Papua, melantunkan larik demi larik karyanya. Puisi berjudul ”Jejak Tanpa Wajah” itu sebuah ekspresi dari pengalaman hidup yang selama ini ia simpan rapat-rapat dalam diam. “Aku menulis puisi itu terinspirasi dari kisahku sendiri,” ujarnya usai tampil.

Dia yang tak pernah ku kenal wajahnya,
namun hidupku bermula dari nadinya.
Sembilan bulan dalam dekat sunyi dijaga, dirawat, meski tak pernah kumiliki.

Puisinya ditulis tahun 2025, yang bercerita tentang kehilangan sosok ibu, hubungan yang tak pernah terjalin sejak awal, rindu yang tidak memiliki bentuk, dan keterikatan yang tetap terasa meski tanpa kebersamaan.

Cathrine | Foto: Komunitas Mahima

Dalam kebuntuan untuk mengungkapkan perasaannya, Cathrine menemukan pelariannya pada puisi. Ia mulai hobi menulis puisi sejak SMA, dan hasrat itu semakin terasah ketika ia bertemu mata kuliah poetry atau puisi di kampusnya. “Waktu tahu ada kelas puisi, aku senang karena bisa menulis yang sesuai dengan apa yang pernah aku alami,” katanya. Puisi memberinya bahasa untuk menyuarakan apa yang selama ini membisu.

Bagi Cathrine yang menyaksikan sendiri bagaimana sosok ayah yang membesarkannya mewujudkan cinta tulus tanpa syarat, dan dari sanalah ia mengerti mengapa figur ayah sering disebut sebagai cinta pertama seorang anak perempuan. Inilah yang kemudian ia salurkan dengan penuh penghayatan saat membawakan puisi adaptasi, How Do I Love Tee, karya Elizabeth Barret Browning.

Ragam Rindu

Lebih dari 30 orang membaca puisi secara bergiliran dalam acara Rabu Puisi itu. Mereka berasal dari kalangan mahasiswa Undiksha dan Institut Mpu Kuturan, juga ada siswa dari SMKN 3 Singaraja. Pembaca puisi dari kalangan umum juga tak kalah serunya. Mereka membaca puisi yang mereka tulis sendiri atau membaca puisi dari penyair terkenal seperti Sapardi Djoko Damono.

Gede Ganesha | Foto: Komunitas Mahima

Gede Ganesha, komisioner Bawaslu Buleleng yang juga pemerhati sampah, membaca puisi sendiri sebagai hadiah ulang tahun untuk istrinya. Padahal istrinya tak ikut dalam acara itu. Tapi puisinya, bagi peserta yang hadir pada malam itu, mendengarkan dengan seksama puisi romantis untuk seorang istri itu.

Kadek Wisnu Oktaditya, siswa SMKN 3 Singaraja, membaca puisi Sapardi.

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu…

Alasan Wisnu memilih puisi itu sangat sederhana, sama seperti judul puisi itu sendiri.

“Puisi ini mencerminkan bagaimana kerinduan yang mendalam keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat yang cintai dan sayangi,” ujar Wisnu.

Sementara, Gede Yoga Wismantara, siswa SMKN 3 Singaraja, menulis sebuah puisi berjudul “Penenang”. Puisi ini bercerita tentang seorang perempuan yang mengalami skizofrenia, dan bagaimana kondisi tersebut memengaruhi kesehariannya. Puisi itu dibuat Juli 2025.

Jika penenang ini menjanjikan hening,
mengapa dunia tetap terbalik dan miring?
Jika pil ini menjanjikan tenang,
mengapa mimpi terus menebas terang?

“Ia digambarkan sebagai sosok yang merindukan kembali hidup yang stabil dan tenang, tapi terus diganggu oleh batas yang kabur antara kenyataan dan halusinasi,” tutur Yoga.

Foto-foto: Komunitas Mahima

Kemudian Gede Bayu Sukradia Adi Putra, mahasiswa Institut Mpu Kuturan (IMK) membuat puisi spontan berjudul “Akan Dirindukan”. Dengan nada tegas, ia menyebut dirinya sebagai Bung Bayu saat tampil membacakan karyanya sendiri.

Kedai Umah Pradja sebagai saksi bahwa kita pernah bersama duduk manis menikmati bacaan puisi yang apik.
Pak Ole di atas, bunda Sonia di bawah menikmati kopi hangat dan kentang yang tersedia.
Ini akan dirindukan,
Tidak akan terulang di tempat ini lagi, dengan orang yang sama, dan dengan suasana yang serupa.

Puisi Sebagai Salam Perpisahan untuk yang Pergi

Kadek Sonia Piscayanti, Founder Komunitas Mahima mengatakan bahwa tema rindu pada “Rabu Puisi ini tak hanya membicarakan tentang rindu tentang kekasih, tapi juga bisa kepada keluarga, seperti Indah pada ayahnya atau Cathrine pada ibunya,” ucap Sonia.

Foto-foto: Komunitas Mahima

Sebagai penutup, Sonia membawakan puisinya sendiri, “Prihentemen” ditulis pada tahun 2022. Salah satu puisinya berbunyi demikian:

“Bapak, Bapak, Bapak”
Kadang kau dengar mereka memanggil
Kali ini kau tak bisa kembali
Kali ini kau harus tahu batas tegas
Antara dharma dan karma
Semua telah selesai tuntas pada waktunya

Ucapan selamat jalan biasanya kita dengar ketika seseorang pergi, ke mana pun tujuannya. Dalam puisinya, Sonia menggambarkan bentuk perpisahan melalui sebuah nyanyian. Bagi Sonia, ini adalah perpisahan dengan sosok yang sangat ia cintai yaitu ayahnya. Saat sang ayah meninggal, ucapan “selamat jalan” menjadi doa terakhir yang ia panjatkan. Bukan sekadar kata-kata, tetapi harapan agar kepergian ayahnya membawa kedamaian menuju sunia. [T]

Kadek Wisnu Oktaditya, Putu Indah Apriliani, Chatrine Floretine Ndrotndrot, Gede Yoga Wismantara, Gede Bayu Sukradia Adi Putra (diwakili oleh Wira) pemenang nominasi pembaca puisi terbaik Rabu Puisi ke-11 di Kedai Umah Pradja | Foto: Komunitas Mahima

Penulis: Komang Puja Savitri
Editor: Adnyana Ole

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

  • BACA JUGA:
Monolog Ayu Laksmi “Apabila Aku Kembali dan Mengobati Diriku Sendiri” di Rabu Puisi #10 Komunitas Mahima
Cinta dalam Puisi di Sudut Rumah Kopi Singaraja — Catatan Rabu Puisi #9 Komunitas Mahima
Mengenai Puisi, Chiffer, dan Lain-lain
Tur Buku Puisi “Amerikano”, Memopulerkan Sastra ke 10 Titik Pulau Lombok

Tags: Kedai Umah PradjaKomunitas MahimaPuisiRabu PuisiSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nasi Tekor di Desa Budaya Kertalangu, Warung yang Mewariskan Ingatan Tentang Tradisi Kuliner Bali

Next Post

Permainan Tradisional Bali: Mejaran-jaranan, Lomba Tajog, Deduplak dan Terompah di Jantra Tradisi Bali

Komang Puja Savitri

Komang Puja Savitri

Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
0
‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

Read moreDetails

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

by Komang Sujana
June 3, 2026
0
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

Read moreDetails

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
0
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

Read moreDetails

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
0
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

Read moreDetails

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

Read moreDetails

Dari Laut hingga Ladang, Ubud Food Festival 2026 Resmi Dibuka dengan Semangat Menjaga Pangan

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Dari Laut hingga Ladang, Ubud Food Festival 2026 Resmi Dibuka dengan Semangat Menjaga Pangan

MALAM baru saja turun di Taman Kuliner Ubud, Kamis, 28 Mei 2026. Di hadapan para tamu undangan, pelaku industri kuliner,...

Read moreDetails

Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

MEMASUKI tahun kesebelas penyelenggaraannya, Ubud Food Festival kembali digelar di Taman Kuliner Ubud dengan mengusung tema “Farmers: Guardians of Land...

Read moreDetails

Dilatih Prof. Dibia, Mahasiswa Korea Siap Pentaskan Kecak di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
May 28, 2026
0
Dilatih Prof. Dibia, Mahasiswa Korea Siap Pentaskan Kecak di Pesta Kesenian Bali 2026

SEKITAR 40 mahasiswa dari Korea, laki-laki dan perempuan, bersiap mementaskan kecak di Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII-2026. Cak cak cak…...

Read moreDetails

Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh

by Made Chandra
May 25, 2026
0
Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh

DI sudut gang yang dari luar tampak tak sepenuhnya meyakinkan, tampak sebuah ruang yang terasa begitu hangat karena dipeluk tertawaan...

Read moreDetails

Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
May 25, 2026
0
Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA suasana hening dari masyarakat dan para undangan, tabuh mulai dimainkan. Muda-mudi yang didominasi para remaja itu menari lepas tanpa...

Read moreDetails
Next Post
Permainan Tradisional Bali: Mejaran-jaranan, Lomba Tajog, Deduplak dan Terompah di Jantra Tradisi Bali

Permainan Tradisional Bali: Mejaran-jaranan, Lomba Tajog, Deduplak dan Terompah di Jantra Tradisi Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co