3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan Setelah Pentas: Garaka, Galang Kangin, dan Wajah Positif Literasi Sekolah

Gede Aries Pidrawan by Gede Aries Pidrawan
August 18, 2025
in Ulas Pentas
Catatan Setelah Pentas: Garaka, Galang Kangin, dan Wajah Positif Literasi Sekolah

Pementasan teater Ni Tuwung Kuning oleh Teater Garaka | Foto: Aries Pidrawan

PANGGUNG Taman Budaya Candra Bhuana, Amlapura, Sabtu, 16 Agustus, 2025 kembali menjadi saksi geliat teater sekolah. Kali ini, dua komunitas teater muda hadir dengan semangat dan tawaran estetiknya masing-masing: Teater Garuda Akasha (Garaka) SMA Negeri 1 Amlapura dengan lakon Kanda Pat: Nadi Ni Tuwung Kuning dan Teater Galang Kangin SMA Negeri 2 Amlapura dengan lakon Bintang Nusantara.

Teater Garaka–Kanda Pat: Nadi Ni Tuwung Kuning

Pementasan Garaka membuka malam dengan naskah berbahasa Bali yang adaptif terhadap cerita rakyat Ni Tuwung Kuning. Kisahnya menyoroti Pudak, seorang penjudi yang egois dan tega mengorbankan keluarganya demi tajen. Konflik rumah tangga berpuncak pada ancaman pembunuhan bayi yang baru lahir, hingga hadir simbol Kanda Pat, saudara spiritual yang menyertai manusia sejak lahir.

Pementasan lakon Kanda Pat: Nadi Ni Tuwung Kuning oleh Teater Garaka SMA Negeri 1 Amlapura | Foto: Aries Pidrawan

Pementasan dibuka dengan aksi panggung laki-laki penjudi yang berlakon selayaknya ayam judian merampas harta benda. Lalu adegan berpindah ke latar sebuah kalangan judi, para penjudi lengkap dengan pedagangnya. I Pudak kalah berjudi sehingga ia harus membayar kekalahannya. Di rumah, istri I Pudak sedang hamil. Bagi I Pudak, kehamilannya adalah biang dari kekalahannya. Saat itulah ia memerintahkan sang isrti agar ia membunuh janin itu dan mencacahnya menjadi makanan ayam, kecuali jika yang lahir adalah laki-laki.

Sebagai perempuan (Bali) pada umumnya yang tunduk (tertindas) oleh laki-laki, istri I Pudak tunduk. Naas, yang lahir adalah perempuan (diberi nama Ni Tuwung Kuning). Istri Pudak putus asa dan ia pun bersiap membunuh janin itu. Saat pisau kecil akan menancap di tubuh bayi mungil itu, kesadaran sang ibu muncul lewat kelebat bayang Kanda Pat, yaitu empat saudara gaib yang selalu menyertai manusia sejak lahir hingga mati.

Pementasan lakon Kanda Pat: Nadi Ni Tuwung Kuning oleh Teater Garaka SMA Negeri 1 Amlapura | Foto: Aries Pidrawan

Mereka adalah saudara spiritual yang terdiri dari getih (darah), lamas (lemak kulit/tali pusar), yeh nyom (air ketuban), dan ari-ari (plasenta). Kehadiran Kanda Pat digambarkan lewat gerak empat penari. Singkat cerita, Ni Tuwung Kuning beranjak dewasa. Ia ingin sekali bertemu ayahnya. Cerita kemudian ditutup kejadian naas pertemuan Ni Tuwung Kuning dengan ayahnya, I Pudak. I Pudak mati di arena tajen karena taji ayam jagonya sendiri.

Garaka berhasil menghadirkan kontras antara kelucuan ala dadong di panggung dengan atmosfer mistis Kanda Pat. Tata lampu mendukung nuansa spiritualitas itu sehingga adegan mistis tidak sekadar serem, tetapi juga menyentuh sisi filosofis. Pementasan ini jelas membuka ruang tafsir baru: kemerdekaan perempuan yang selama ini tertindas oleh hegemoni laki-laki.

Teater Galang Kangin–Bintang Nusantara

Sesudah Garaka, Galang Kangin menampilkan warna yang berbeda. Dengan format drama musikal, Bintang Nusantara menghadirkan sosok Roekiah—bintang keroncong dan film era 1940-an. Kisahnya merentang dari mimpi seorang gadis untuk berada di panggung, konflik dengan ayah yang menolak, hingga keterlibatan Roekiah dalam propaganda Jepang.

Pementasan lakon Bintang Nusantara oleh Teater Galang Kangin SMA Negeri 2 Amlapura | Foto: Aries Pidrawan

Pementasan dibuka oleh kehadiran Roekiah kecil yang bernyanyi sambil bermain dengan teman-temannya. Kemudian ibu dan ayahnya datang. Roekiah menceritakan keinginannya untuk berada menjadi penyanyi panggung.

Ayahnya menolak dengan keras dan menegaskan agar kelak Roekiah menjalani hidup sebagai ibu rumah tangga saja. Roekiah sedih dan ibu menawarkan perjanjian. Roekiah beranjak besar hingga menjadi penyanyi dan pemain sandiwara. Lalu, ia bertemu Kartolo, sang seniman musik. Mereka kemudian jatuh cinta dan menikah.

Pementasan lakon Bintang Nusantara oleh Teater Galang Kangin SMA Negeri 2 Amlapura | Foto: Aries Pidrawan

Roekiah dengan bakat film dan bernyanyinya terus melakukan propaganda semangat dan perjuangan penduduk terhadap Jepang. Jepang hadir mengintimidasi Roekiah dan memaksanya menyanyikan lagu Jepang. Perlakuan Jepang kepada Roekiah membuat kesadaran rakyat muncul dan mereka melakukan perlawanan. Namun, perlawanan itu akhirnya membuat Roekiah gugur.

Dramaturgi pementasan ini memadukan nyanyian, musik, dan adegan historis. Pilihan tema mengajak penonton mengingat kembali strategi kolonial Jepang mengendalikan dunia seni. Adegan pemaksaan Roekiah menyanyi lagu Jepang di panggung terasa kuat, menyampaikan pesan betapa seni bisa dijadikan alat dominasi. Kebaruan bentuk musikal dalam teater sekolah membuat Galang Kangin tampil segar dan berbeda.

Kemerdekaan dalam Beragam Perspektif

Meski dari dua dunia berbeda—satu bersumber pada cerita rakyat Bali, satu pada biografi seniman nasional—kedua pementasan bertemu dalam tema besar kemerdekaan. Garaka mengartikannya sebagai kemerdekaan perempuan dari patriarki, sedangkan Galang Kangin menekankannya pada kemerdekaan bangsa dari penjajahan Jepang. Dua perspektif ini saling melengkapi, memperkaya makna “merdeka” yang ditawarkan di panggung.

Kekuatan utama Garaka terletak pada keberanian memasukkan tafsir filosofis Kanda Pat dalam cerita rakyat. Sedangkan Galang Kangin unggul pada keberanian mencoba bentuk baru berupa drama musikal. Dari sisi teknis, keduanya didukung tata lampu dan properti yang cukup memadai, sehingga menghadirkan suasana yang hidup.

Foto bersama seusai pentas | Foto: Aries Pidrawan

Namun, titik lemah keduanya cukup jelas: penggunaan dubbing. Dialog yang direkam sebelumnya belum mampu menghidupkan karakter secara utuh. Emosi dan watak tokoh terasa terhambat karena suara tidak menyatu dengan tubuh aktor. Selain itu, penguasaan panggung para pemain masih perlu diasah agar gerak dan posisi tubuh lebih luwes.

Kehadiran dua teater sekolah ini membuktikan bahwa dunia teater adalah wajah lain dari literasi. Di balik naskah, ada proses membaca, menafsir, dan mendiskusikan teks. Di balik panggung, ada kerja kolaboratif melibatkan banyak disiplin ilmu. Karena itu, penting bagi sekolah memberi ruang berkelanjutan, termasuk dukungan anggaran khusus.

Yang tak kalah penting, pementasan ini telah menjadi ruang inklusif bagi masyarakat Amlapura. Anak-anak, remaja, hingga orang tua duduk berdampingan, tertawa, merinding, bahkan terharu bersama-sama. Panggung bukan hanya milik pemain, melainkan milik seluruh komunitas yang datang merayakan kebanggaan bersama.[T]

Penulis: Gede Aries Pidrawan
Editor: Jaswanto

Merawat Lingkungan, Pariwisata dan Bayang-bayang Orientalisme — Catatan Pentas “Rahasia Bapak” karya Dhira Aditya
Torso dan Singaraja Literary Festival, Ketika Lampung dan Buleleng Berdialog Tentang Perempuan dan Energi Penyembuhan
Ketika Teater Menjadi Doa Kolektif untuk Bumi yang Terluka — Catatan Pentas “Ibu Tanah” oleh Nara Teater di Flores Timur
“Tribute to Umbu”: Hikayat Puisi, Hikayat Umbu Landu Paranggi
Tags: galang kanginGarakaNi Tuwung KuningRoekiahSMA Negeri 1 AmlapuraSMA Negeri 2 AmlapuraTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Suara dalam Keheningan: Takarir “Sore: Istri dari Masa Depan” Bisa menjadi Pelajaran Penting bagi Sinema Indonesia

Next Post

Paskibraka Istimewa dari Desa Panji: Ketika Para Bapak Menjadi Pengibar Bendera Pusaka

Gede Aries Pidrawan

Gede Aries Pidrawan

Sastrawan dan guru. Lahir di Karangasem, Bali

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails
Next Post
Paskibraka Istimewa dari Desa Panji: Ketika Para Bapak Menjadi Pengibar Bendera Pusaka

Paskibraka Istimewa dari Desa Panji: Ketika Para Bapak Menjadi Pengibar Bendera Pusaka

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co