3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan Setelah Pentas: Garaka, Galang Kangin, dan Wajah Positif Literasi Sekolah

Gede Aries Pidrawan by Gede Aries Pidrawan
August 18, 2025
in Ulas Pentas
Catatan Setelah Pentas: Garaka, Galang Kangin, dan Wajah Positif Literasi Sekolah

Pementasan teater Ni Tuwung Kuning oleh Teater Garaka | Foto: Aries Pidrawan

PANGGUNG Taman Budaya Candra Bhuana, Amlapura, Sabtu, 16 Agustus, 2025 kembali menjadi saksi geliat teater sekolah. Kali ini, dua komunitas teater muda hadir dengan semangat dan tawaran estetiknya masing-masing: Teater Garuda Akasha (Garaka) SMA Negeri 1 Amlapura dengan lakon Kanda Pat: Nadi Ni Tuwung Kuning dan Teater Galang Kangin SMA Negeri 2 Amlapura dengan lakon Bintang Nusantara.

Teater Garaka–Kanda Pat: Nadi Ni Tuwung Kuning

Pementasan Garaka membuka malam dengan naskah berbahasa Bali yang adaptif terhadap cerita rakyat Ni Tuwung Kuning. Kisahnya menyoroti Pudak, seorang penjudi yang egois dan tega mengorbankan keluarganya demi tajen. Konflik rumah tangga berpuncak pada ancaman pembunuhan bayi yang baru lahir, hingga hadir simbol Kanda Pat, saudara spiritual yang menyertai manusia sejak lahir.

Pementasan lakon Kanda Pat: Nadi Ni Tuwung Kuning oleh Teater Garaka SMA Negeri 1 Amlapura | Foto: Aries Pidrawan

Pementasan dibuka dengan aksi panggung laki-laki penjudi yang berlakon selayaknya ayam judian merampas harta benda. Lalu adegan berpindah ke latar sebuah kalangan judi, para penjudi lengkap dengan pedagangnya. I Pudak kalah berjudi sehingga ia harus membayar kekalahannya. Di rumah, istri I Pudak sedang hamil. Bagi I Pudak, kehamilannya adalah biang dari kekalahannya. Saat itulah ia memerintahkan sang isrti agar ia membunuh janin itu dan mencacahnya menjadi makanan ayam, kecuali jika yang lahir adalah laki-laki.

Sebagai perempuan (Bali) pada umumnya yang tunduk (tertindas) oleh laki-laki, istri I Pudak tunduk. Naas, yang lahir adalah perempuan (diberi nama Ni Tuwung Kuning). Istri Pudak putus asa dan ia pun bersiap membunuh janin itu. Saat pisau kecil akan menancap di tubuh bayi mungil itu, kesadaran sang ibu muncul lewat kelebat bayang Kanda Pat, yaitu empat saudara gaib yang selalu menyertai manusia sejak lahir hingga mati.

Pementasan lakon Kanda Pat: Nadi Ni Tuwung Kuning oleh Teater Garaka SMA Negeri 1 Amlapura | Foto: Aries Pidrawan

Mereka adalah saudara spiritual yang terdiri dari getih (darah), lamas (lemak kulit/tali pusar), yeh nyom (air ketuban), dan ari-ari (plasenta). Kehadiran Kanda Pat digambarkan lewat gerak empat penari. Singkat cerita, Ni Tuwung Kuning beranjak dewasa. Ia ingin sekali bertemu ayahnya. Cerita kemudian ditutup kejadian naas pertemuan Ni Tuwung Kuning dengan ayahnya, I Pudak. I Pudak mati di arena tajen karena taji ayam jagonya sendiri.

Garaka berhasil menghadirkan kontras antara kelucuan ala dadong di panggung dengan atmosfer mistis Kanda Pat. Tata lampu mendukung nuansa spiritualitas itu sehingga adegan mistis tidak sekadar serem, tetapi juga menyentuh sisi filosofis. Pementasan ini jelas membuka ruang tafsir baru: kemerdekaan perempuan yang selama ini tertindas oleh hegemoni laki-laki.

Teater Galang Kangin–Bintang Nusantara

Sesudah Garaka, Galang Kangin menampilkan warna yang berbeda. Dengan format drama musikal, Bintang Nusantara menghadirkan sosok Roekiah—bintang keroncong dan film era 1940-an. Kisahnya merentang dari mimpi seorang gadis untuk berada di panggung, konflik dengan ayah yang menolak, hingga keterlibatan Roekiah dalam propaganda Jepang.

Pementasan lakon Bintang Nusantara oleh Teater Galang Kangin SMA Negeri 2 Amlapura | Foto: Aries Pidrawan

Pementasan dibuka oleh kehadiran Roekiah kecil yang bernyanyi sambil bermain dengan teman-temannya. Kemudian ibu dan ayahnya datang. Roekiah menceritakan keinginannya untuk berada menjadi penyanyi panggung.

Ayahnya menolak dengan keras dan menegaskan agar kelak Roekiah menjalani hidup sebagai ibu rumah tangga saja. Roekiah sedih dan ibu menawarkan perjanjian. Roekiah beranjak besar hingga menjadi penyanyi dan pemain sandiwara. Lalu, ia bertemu Kartolo, sang seniman musik. Mereka kemudian jatuh cinta dan menikah.

Pementasan lakon Bintang Nusantara oleh Teater Galang Kangin SMA Negeri 2 Amlapura | Foto: Aries Pidrawan

Roekiah dengan bakat film dan bernyanyinya terus melakukan propaganda semangat dan perjuangan penduduk terhadap Jepang. Jepang hadir mengintimidasi Roekiah dan memaksanya menyanyikan lagu Jepang. Perlakuan Jepang kepada Roekiah membuat kesadaran rakyat muncul dan mereka melakukan perlawanan. Namun, perlawanan itu akhirnya membuat Roekiah gugur.

Dramaturgi pementasan ini memadukan nyanyian, musik, dan adegan historis. Pilihan tema mengajak penonton mengingat kembali strategi kolonial Jepang mengendalikan dunia seni. Adegan pemaksaan Roekiah menyanyi lagu Jepang di panggung terasa kuat, menyampaikan pesan betapa seni bisa dijadikan alat dominasi. Kebaruan bentuk musikal dalam teater sekolah membuat Galang Kangin tampil segar dan berbeda.

Kemerdekaan dalam Beragam Perspektif

Meski dari dua dunia berbeda—satu bersumber pada cerita rakyat Bali, satu pada biografi seniman nasional—kedua pementasan bertemu dalam tema besar kemerdekaan. Garaka mengartikannya sebagai kemerdekaan perempuan dari patriarki, sedangkan Galang Kangin menekankannya pada kemerdekaan bangsa dari penjajahan Jepang. Dua perspektif ini saling melengkapi, memperkaya makna “merdeka” yang ditawarkan di panggung.

Kekuatan utama Garaka terletak pada keberanian memasukkan tafsir filosofis Kanda Pat dalam cerita rakyat. Sedangkan Galang Kangin unggul pada keberanian mencoba bentuk baru berupa drama musikal. Dari sisi teknis, keduanya didukung tata lampu dan properti yang cukup memadai, sehingga menghadirkan suasana yang hidup.

Foto bersama seusai pentas | Foto: Aries Pidrawan

Namun, titik lemah keduanya cukup jelas: penggunaan dubbing. Dialog yang direkam sebelumnya belum mampu menghidupkan karakter secara utuh. Emosi dan watak tokoh terasa terhambat karena suara tidak menyatu dengan tubuh aktor. Selain itu, penguasaan panggung para pemain masih perlu diasah agar gerak dan posisi tubuh lebih luwes.

Kehadiran dua teater sekolah ini membuktikan bahwa dunia teater adalah wajah lain dari literasi. Di balik naskah, ada proses membaca, menafsir, dan mendiskusikan teks. Di balik panggung, ada kerja kolaboratif melibatkan banyak disiplin ilmu. Karena itu, penting bagi sekolah memberi ruang berkelanjutan, termasuk dukungan anggaran khusus.

Yang tak kalah penting, pementasan ini telah menjadi ruang inklusif bagi masyarakat Amlapura. Anak-anak, remaja, hingga orang tua duduk berdampingan, tertawa, merinding, bahkan terharu bersama-sama. Panggung bukan hanya milik pemain, melainkan milik seluruh komunitas yang datang merayakan kebanggaan bersama.[T]

Penulis: Gede Aries Pidrawan
Editor: Jaswanto

Merawat Lingkungan, Pariwisata dan Bayang-bayang Orientalisme — Catatan Pentas “Rahasia Bapak” karya Dhira Aditya
Torso dan Singaraja Literary Festival, Ketika Lampung dan Buleleng Berdialog Tentang Perempuan dan Energi Penyembuhan
Ketika Teater Menjadi Doa Kolektif untuk Bumi yang Terluka — Catatan Pentas “Ibu Tanah” oleh Nara Teater di Flores Timur
“Tribute to Umbu”: Hikayat Puisi, Hikayat Umbu Landu Paranggi
Tags: galang kanginGarakaNi Tuwung KuningRoekiahSMA Negeri 1 AmlapuraSMA Negeri 2 AmlapuraTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Suara dalam Keheningan: Takarir “Sore: Istri dari Masa Depan” Bisa menjadi Pelajaran Penting bagi Sinema Indonesia

Next Post

Paskibraka Istimewa dari Desa Panji: Ketika Para Bapak Menjadi Pengibar Bendera Pusaka

Gede Aries Pidrawan

Gede Aries Pidrawan

Sastrawan dan guru. Lahir di Karangasem, Bali

Related Posts

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
0
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

Read moreDetails

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
0
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

Read moreDetails
Next Post
Paskibraka Istimewa dari Desa Panji: Ketika Para Bapak Menjadi Pengibar Bendera Pusaka

Paskibraka Istimewa dari Desa Panji: Ketika Para Bapak Menjadi Pengibar Bendera Pusaka

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co