24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Masiat Paturu Bali”, Ketika Saudara Menjadi Lawan

Angga Wijaya by Angga Wijaya
August 14, 2025
in Esai
“Masiat Paturu Bali”, Ketika Saudara Menjadi Lawan

Ilustrasi tatkala.co

HARI-HARI belakangan ini, media sosial di Bali terasa seperti arena pasar malam yang riuh, tapi tanpa musik dan tawa. Di sana, para politisi saling lempar kata, berdebat kusir soal permasalahan sampah.

Semua bermula dari rencana penutupan TPA Suwung pada akhir 2025, yang diawali pelarangan sampah organik dibuang ke sana sejak awal Agustus 2025. Sejak itu, percikan kecil berubah menjadi api. Dinamika kian meluas, politisi dan beberapa intelektual Bali saling serang di media sosial. Dari sekadar diskusi publik, ia menjelma jadi drama panjang, mengundang komentar yang semakin lama semakin tajam.

Fenomena ini sebetulnya tidak sepenuhnya baru. Ada istilah yang sudah lama beredar di tengah orang Bali, Masiat Paturu Bali. Secara harfiah, ia berarti kebiasaan atau “dosa” orang Bali yang suka berkonflik dengan sesama orang Bali. Bukan dengan pendatang, bukan dengan orang luar pulau—tetapi dengan saudara sebangsa, sedarah budaya, serumah di tanah leluhur yang sama. Istilah ini sering diucapkan dengan nada setengah bercanda, setengah getir, seperti mengakui kelemahan diri sambil berharap ia tidak semakin menjadi-jadi.

Di beberapa lingkar diskusi, ada pula istilah Karma Ayam Aduan. Konsep ini diibaratkan dari tradisi tajen atau adu ayam, yang di dalamnya ayam jago selalu bertarung sampai berdarah-darah demi gengsi dan harga diri tuannya.

Clifford Geertz, antropolog yang pernah lama meneliti tentang Bali membahas betapa tajen bukan hanya permainan, melainkan metafora budaya yang memproyeksikan konflik, harga diri, dan kehormatan. Dalam konteks sosial, “karma ayam aduan” dimaknai sebagai warisan simbolis yakni, orang Bali, tanpa sadar, sering mewarisi semangat bertarung itu dalam hubungan antarsesama, bahkan ketika tidak ada musuh yang nyata di depan mata.

Prof. Luh Ketut Suryani, psikiater senior Bali, pernah menyinggung soal pola pikir ini dalam berbagai seminar dan wawancara. Ia melihat akar konflik internal Bali sering kali bertaut dengan rasa ego yang kuat, rasa ingin diakui, dan kebutuhan mempertahankan status dalam komunitas. Ia menyebut bahwa rasa kebersamaan orang Bali sebenarnya tinggi, tetapi di saat bersamaan, ada dorongan untuk menunjukkan siapa yang lebih unggul. Dorongan ini, bila tidak diimbangi, mudah berubah menjadi gesekan.

Dari sudut pandang antropologi, fenomena seperti ini bukan hanya milik Bali. Hampir semua masyarakat homogen punya risiko lebih tinggi mengalami konflik internal. Alasannya sederhana, kedekatan justru membuka peluang friksi yang lebih sering.

Dalam sistem sosial yang rapat,di mana semua orang saling mengenal, mengetahui riwayat keluarga, bahkan urusan pribadi—perbedaan pandangan bisa cepat merambat menjadi pertikaian yang bersifat pribadi. Antropolog seperti Hildred Geertz pernah menggambarkan masyarakat Bali sebagai “tight community with tight surveillance”—komunitas yang erat, tapi selalu saling mengawasi. Kedekatan ini melahirkan kehangatan, tapi juga tekanan sosial.

Prof. I Nyoman Darma Putra, pakar sastra dan kajian budaya Bali, dalam sejumlah tulisannya melihat bahwa gesekan sosial di Bali tidak bisa dilepaskan dari struktur adat yang hierarkis dan kompleks. Hierarki ini membentuk relasi kuasa, di mana posisi seseorang dalam banjar, desa adat, atau keluarga besar mempengaruhi cara ia diperlakukan dan cara ia merespons kritik. Ketika perbedaan pandangan muncul, ia sering kali dibaca bukan sekadar sebagai perbedaan ide, tetapi sebagai ancaman terhadap posisi sosial.

Menariknya, fenomena Masiat Paturu Bali sering muncul justru pada isu-isu yang menyangkut kepentingan bersama, seperti sampah, pariwisata, atau tata ruang. Dalam kasus TPA Suwung, semua pihak sebenarnya sepakat bahwa masalah sampah adalah darurat.

Namun, alih-alih memperkuat kolaborasi, yang mengemuka adalah adu argumen, tentang siapa yang paling benar, siapa yang paling peduli, siapa yang paling layak dipercaya publik. Media sosial menjadi arena terbuka yang mempercepat semua ini. Di sana, setiap komentar langsung mendapat respons publik, disukai, atau dicaci. Setiap kata menjadi peluru yang bisa kembali menghantam penembaknya.

Secara historis, Bali memang memiliki tradisi debat yang kuat. Dalam paswara (rapat desa adat) atau diskusi di bale banjar, perbedaan pendapat adalah hal biasa. Namun, perbedaan itu dulu dibingkai dalam aturan adat dan sopan santun tutur kata. Kini, di dunia digital, batas itu mengabur. Algoritma media sosial memberi panggung pada yang paling nyaring, bukan yang paling bijak. Dalam situasi ini, sifat “ayam aduan” yang diwariskan dalam simbol budaya menemukan rumah barunya, yaitu, layar ponsel.

Pandangan antropologis lain yang relevan datang dari kajian konflik internal di masyarakat agraris. Di masyarakat seperti ini, relasi sosial sangat tergantung pada kerja sama sehari-hari. Tetapi justru karena itu, setiap perbedaan atau kegagalan memenuhi norma bersama bisa menimbulkan konflik yang berlarut.

Orang Bali, dengan adat yang terikat pada gotong royong, ayahan desa, dan ritual komunal, memiliki ekspektasi tinggi terhadap kesetiaan anggota pada norma kelompok. Begitu ada yang dianggap melenceng, sanksinya tidak hanya sosial, tapi juga emosional, dan ini sering terbawa ke ranah publik.

Di tengah situasi itu, penting diingat bahwa Masiat Paturu Bali bukan takdir. Ia adalah pola yang bisa dipahami dan diubah. Banyak tokoh Bali yang mengajak masyarakat kembali pada nilai menyama braya, persaudaraan yang tulus, bukan sekadar slogan. Menyama braya mengandaikan bahwa setiap orang, sekalipun berbeda pendapat, tetap saudara yang layak dihargai.

Fenomena saling serang di media sosial terkait TPA Suwung seharusnya menjadi pelajaran. Krisis lingkungan, seperti persoalan sampah, memerlukan sinergi, bukan sekadar debat. Dalam jangka panjang, yang akan diingat bukan siapa yang memenangkan adu argumen, tetapi apakah masalahnya selesai atau tidak.

Seorang tetua di desa saya pernah berkata, “Kalau ayam aduan terus bertarung di kandang yang sama, yang rugi bukan hanya ayamnya, tapi pemilik kandangnya.” Maksudnya jelas, bahwa konflik internal yang tak terkendali pada akhirnya melemahkan semua pihak. Di tengah dunia yang berubah cepat, Bali tidak hanya harus menjaga identitas budayanya, tetapi juga harus belajar mengelola perbedaan agar tidak menjadi bumerang.

Pada akhirnya, mungkin kita perlu menertawakan diri sendiri sebelum terlalu jauh marah pada orang lain. Sebab, di balik semua gesekan ini, orang Bali tetap punya kekuatan luar biasa untuk bangkit dan bersatu ketika dihadapkan pada tantangan yang benar-benar besar.

Sejarah membuktikan, dari bencana alam hingga krisis pariwisata, masyarakat Bali mampu menunjukkan solidaritas yang mengagumkan. Tantangannya sekarang adalah menemukan solidaritas itu bukan hanya saat genting, tetapi juga dalam keseharian, bahkan dalam perbedaan. Kalau Masiat Paturu Bali adalah cermin yang memantulkan sisi rapuh kita, maka menyama braya adalah cahaya yang bisa menuntun keluar dari bayangan itu. Kita hanya perlu memilih, ingin terus menjadi ayam aduan yang bertarung di kandang sendiri, atau menjadi saudara yang bersama-sama membersihkan kandang itu. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Menghapus Stigma Anak Muda Bali Apatis
Anjing Jalanan dan Wajah Paradoks Bali
Dea dan Buku-Buku yang Bersayap: Kisah dari Big Bad Wolf Bali 2025
Dari Nasi Bungkus ke Buku Sastra, Kisah Jalanan I Wayan Suardika
Tags: balikonflikmedia sosialSampah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [4]–Kegembiraan Datang Nyeri pun Hilang

Next Post

Kemerdekaan Perempuan di Layar Kaca: Refleksi Umur dan Nasib Korea Selatan – Indonesia

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Demokratisasi Sinema: TikTok dan “Reels” sebagai Panggung Baru Film Pendek Indie

Kemerdekaan Perempuan di Layar Kaca: Refleksi Umur dan Nasib Korea Selatan - Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co