2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang luar biasa, sehingga diangkat sebagai simbol emansipasi, dirayakan sebagai sang pembuka jalan bagi perempuan untuk keluar dari gelapnya keterbatasan menuju terang kebebasan. 

Namun bagaimana pun, perempuan hari ini harus tetap merenungkan ulang apakah mereka benar-benar merdeka, atau sesungguhnya masih ada kungkungan yang harus diperjuangkan kebebasannya.

Dari Emansipasi ke Ilusi Partisipasi

Di masa Kartini, persoalan waktu itu jelas. Bahwa kaum perempuan tidak diberi akses di mana pendidikan dibatasi, pilihan hidup dikunci, dan ruang publik hampir sepenuhnya tertutup. Emansipasi saat itu adalah ibarat perjuangan membuka pintu. 

Hari ini, pintu itu tampaknya sudah terbuka lebar. Perempuan-perempuan kita bisa sekolah tinggi, bekerja, berkarya, bahkan membangun identitasnya sendiri di ruang digital. Sekilas, perjuangan untuk emansipasi tampak selesai.  Emansipasi perempuan sudah terlaksana. Namun justru di sinilah persoalan tetap saja mengintai meski menjadi lebih halus.

Filsuf Michel Foucault pernah mengingatkan bahwa kekuasaan modern tidak lagi bekerja dengan cara melarang, tetapi dengan cara mengatur dan menormalisasi. Kita tidak lagi dipaksa dari luar, tetapi dibentuk dari dalam, seperti cara kita berpikir, memilih, bahkan merasa bebas. 

Berkaitan dengan emansipasi perempuan, memang kita lihat perempuan Gen Z tidak lagi dilarang untuk tampil. Mereka justru didorong untuk tampil. Tetapi dorongan itu tidak netral, melainkan diarahkan, dibingkai, dan juga tanpa terasa diam-diam dikendalikan.

Menjadi atau Diperankan?

Generasi Z tumbuh dalam dunia tanpa batas geografis. Mereka punya akses pada informasi, ruang ekspresi, dan peluang yang lebih luas dibanding generasi sebelumnya.  Namun kebebasan ini datang dengan tagihan harga.  Platform sosial seperti TikTok dan Instagram bukan sekadar ruang ekspresi, tetapi juga ruang kurasi. Apa yang viral, apa yang dianggap menarik, bahkan siapa yang layak dilihat, semuanya diatur oleh logika algoritma.

Dalam kerangka ini, pemikiran Shoshana Zuboff menjadi relevan. Ia menyebut era ini sebagai surveillance capitalism, ketika pengalaman manusia diubah menjadi data, dianalisis, lalu digunakan untuk mengarahkan perilaku.  Kaitannya dengan ini adalah, ketika seorang perempuan merasa sedang menjadi dirinya sendiri, ada dua kemungkinan. Bisa jadi itu pilihan bebas, atau pilihan yang sudah didesain.

Persoalan ini semakin kompleks ketika kita bicara soal identitas.  Simone de Beauvoir pernah mengatakan bahwa perempuan tidak dilahirkan, tetapi “menjadi”. Identitas perempuan adalah hasil konstruksi sosial.  Di era digital, konstruksi ini datang dari banyak arah. Ia diproduksi secara masif oleh budaya global, media sosial, dan standar yang terus diulang.

Judith Butler bahkan menegaskan bahwa identitas gender adalah sesuatu yang dipentaskan, artinya dibentuk melalui pengulangan perilaku yang diharapkan.  Jika demikian, perlu untuk menjadi kritis apakah perempuan hari ini benar-benar menjadi dirinya sendiri, atau sedang memainkan peran yang diharapkan oleh audiens digitalnya.

Tekanan Baru dalam Wajah Kebebasan

Perempuan hari ini memang hidup dalam ruang yang lebih terbuka. Akses pendidikan luas, peluang karier tersedia, bahkan kesempatan membangun kemandirian ekonomi juga semakin nyata. Namun justru di situlah sekaligus muncul tekanan baru yang sering luput dibaca. Jika dulu perempuan dibatasi, hari ini mereka justru dituntut untuk “menjadi segalanya.” Mandiri secara finansial, sukses dalam karier, cerdas secara intelektual, sekaligus tetap mampu mengelola kehidupan personal dengan baik.

Kebebasan tidak lagi sekadar membuka pilihan, tetapi juga menghadirkan standar baru yang tidak kalah menekan.  Seorang perempuan muda hari ini tidak hanya dihadapkan pada pertanyaan “ingin jadi apa”, tetapi juga pada ekspektasi tak tertulis yaitu harus berhasil. Bukan sekadar bekerja, tetapi memiliki karier yang jelas. Bukan sekadar mandiri, tetapi juga mampu membangun aset, stabil secara finansial, dan bahkan terlihat “mapan” di usia yang relatif muda.

Di ruang digital, tekanan itu diperkuat. Linimasa dipenuhi narasi tentang self-made woman, financial independence, hingga pencapaian di usia 20-an. Kesuksesan menjadi sesuatu yang harus dipamerkan, dibandingkan, sehingga tanpa sadar lalu dijadikan tolok ukur bersama.

Dalam situasi saat ini, perempuan tidak lagi sekadar berjuang untuk mendapatkan akses, tetapi juga berhadapan dengan beban baru yaitu adanya kewajiban untuk membuktikan, bahwa kebebasan itu berhasil digunakan dengan benar. Di titik ini, emansipasi menghadirkan paradoks. Ia membebaskan, tetapi sekaligus menuntut. Ia membuka peluang, tetapi juga menciptakan standar baru yang tidak selalu realistis. 

Karena itu, persoalan hari ini bukan lagi sekadar bicara kesetaraan akses, melainkan sesuatu yang lebih subsansial yaiu otonomi diri, menyoal apakah pilihan yang diambil benar-benar lahir dari kehendak pribadi, atau justru dari tekanan zaman yang berubah bentuk.

Emansipasi Digital

Namun, berhenti pada kritik saja akan membuat kita terjebak dalam pesimisme.  Justru di tengah kompleksitas ini, perempuan Gen Z memiliki keunggulan yang tidak dimiliki generasi sebelumnya. Generasi yang sejak awal hidup dalam ekosistem digital, maka teknologi bagi mereka bukan sekadar alat, tetapi bagian dari cara berpikir dan cara melihat dunia.

Kita bisa melihat bagaimana banyak perempuan muda hari ini tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pencipta ruang. Ada yang membangun akun edukasi tentang kesehatan mental dengan ribuan pengikut. Ada yang menggunakan media sosial untuk mengedukasi soal body positivity, menantang standar kecantikan yang sempit. Ada pula yang memanfaatkan platform digital untuk bisnis, membangun brand sendiri, bahkan mandiri secara ekonomi sejak usia muda.

Dalam kasus-kasus seperti itu, media sosial tidak lagi sekadar menjadi ruang tekanan, justru ruang kemungkinan. Di sinilah emansipasi menemukan bentuk barunya yaitu emansipasi digital.  Perempuan Gen Z tidak harus menunggu ruang diberikan. Mereka bisa menciptakan ruangnya sendiri, membangun personal branding, mengangkat isu sosial melalui konten, menciptakan komunitas, bahkan mengubah gagasan menjadi nilai ekonomi. 

Pemikiran Manuel Castells tentang network society menjelaskan bahwa kekuasaan di era digital tersebar dalam jaringan. Yang mampu mengelola jaringan itu, memiliki kekuatan untuk memproduksi makna. Jadi, perempuan hari ini tidak hanya menjadi objek algoritma, tetapi juga subjek yang menggunakannya. 

Namun, di tengah tuntutan untuk menjadi mandiri dan sukses, tantangannya masih ada yaitu perempuan masih belum sepenuhnya lepas dari posisi sebagai objek. Saat ini ada kasus yang ramai di lingkungan Universitas Indonesia. Sekelompok mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia membuat grup percakapan yang berisi candaan dan komentar bernada merendahkan perempuan. Menjadi pengingat yang agak pahit, bahwa bahkan di ruang yang terdidik, di institusi yang seharusnya menjunjung tinggi nalar kritis dan etika, cara pandang terhadap perempuan sebagai objek masih bertahan. Malahan ditambah lagi dengan lagu dari mahasiswa ITB yang judulnya Erika.

Ini bukan sekadar soal oknum atau candaan yang kebablasan. Yang lebih mengkhawatirkan adalah bahwa budaya melihat perempuan sebagai objek masih terinternalisasi, bahkan di kalangan yang secara intelektual mestinya mampu mengkritisinya.

Di titik ini, kita lihat bahwa emansipasi berjalan dalam dua sisi sekaligus. Di satu sisi, perempuan dituntut untuk menjadi subjek yang mandiri, produktif, dan sukses. Di sisi lain, mereka masih berhadapan dengan cara pandang lama yang mereduksi mereka menjadi objek, baik dalam ruang fisik maupun digital.  Kontradiksi ini menciptakan beban ganda, satu sisi dituntut untuk berdaya, tetapi masih juga harus menghadapi objektifikasi. 

Maka, persoalan emansipasi hari ini tidak bisa dilihat secara linear seolah-olah kita hanya bergerak maju. Emansipasi justru bergerak secara simultan, maju dalam satu aspek, tetapi tertahan, bahkan mundur, dalam aspek yang lain.

Kartini Hari Ini adalah Sebuah Pertanyaan, Bukan Sekadar Simbol

Berandai-andai jika Raden Ajeng Kartini hidup hari ini, dengan melihat kualitas sifat kritis beliau, mungkin tidak lagi bertanya mengapa perempuan tidak boleh sekolah.  Beliau mungkin akan bertanya mengapa kebebasan harus diukur dari validasi digital? Mengapa menjadi diri sendiri terasa semakin sulit di tengah ruang yang terbuka? Siapa sebenarnya yang mengendalikan kebebasan itu? Kartini hari ini bukan lagi sekadar simbol perjuangan, tetapi pertanyaan yang belum selesai.

Dan mungkin di sinilah letak tantangan dari emansipasi perempuan hari ini, bukan hanya membuktikan kapasitas diri, tetapi juga terus-menerus menegosiasikan cara pandang dunia terhadap dirinya. Selamat Hari Kartini. Tabik, untuk semua perempuan Indonesia. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari KartiniKartiniPerempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Musik, Lukisan, dan Kesadaran Bertemu dalam Nyanyian Dharma

Next Post

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails

Seni sebagai Napas Demokrasi: Mengapa Kritik Bukan Ancaman, Melainkan Tanda Kehidupan

by Ahmad Prasetya Hady
July 28, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

“Demokrasi tidak hanya hidup di bilik suara. Ia juga hidup di panggung teater, di dinding mural, dalam bait puisi, dan...

Read moreDetails

Komunikasi Politik dan Krisis Komunikasi Publik Pemimpin

by Chusmeru
July 27, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DINAMIKA komunikasi politik selalu berubah pada setiap rezim. Puluhan tahun silam, para pemimpin dikenal lewat pidato di lapangan terbuka dan...

Read moreDetails

Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

by Agung Sudarsa
July 27, 2026
0
Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

SEBUAH peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Bali kembali mengguncang nurani masyarakat. Bukan semata karena adanya korban jiwa, tetapi...

Read moreDetails
Next Post
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

 “Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!” Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali
Khas

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi
Khas

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi
Khas

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena
Ulas Pentas

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co