1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang luar biasa, sehingga diangkat sebagai simbol emansipasi, dirayakan sebagai sang pembuka jalan bagi perempuan untuk keluar dari gelapnya keterbatasan menuju terang kebebasan. 

Namun bagaimana pun, perempuan hari ini harus tetap merenungkan ulang apakah mereka benar-benar merdeka, atau sesungguhnya masih ada kungkungan yang harus diperjuangkan kebebasannya.

Dari Emansipasi ke Ilusi Partisipasi

Di masa Kartini, persoalan waktu itu jelas. Bahwa kaum perempuan tidak diberi akses di mana pendidikan dibatasi, pilihan hidup dikunci, dan ruang publik hampir sepenuhnya tertutup. Emansipasi saat itu adalah ibarat perjuangan membuka pintu. 

Hari ini, pintu itu tampaknya sudah terbuka lebar. Perempuan-perempuan kita bisa sekolah tinggi, bekerja, berkarya, bahkan membangun identitasnya sendiri di ruang digital. Sekilas, perjuangan untuk emansipasi tampak selesai.  Emansipasi perempuan sudah terlaksana. Namun justru di sinilah persoalan tetap saja mengintai meski menjadi lebih halus.

Filsuf Michel Foucault pernah mengingatkan bahwa kekuasaan modern tidak lagi bekerja dengan cara melarang, tetapi dengan cara mengatur dan menormalisasi. Kita tidak lagi dipaksa dari luar, tetapi dibentuk dari dalam, seperti cara kita berpikir, memilih, bahkan merasa bebas. 

Berkaitan dengan emansipasi perempuan, memang kita lihat perempuan Gen Z tidak lagi dilarang untuk tampil. Mereka justru didorong untuk tampil. Tetapi dorongan itu tidak netral, melainkan diarahkan, dibingkai, dan juga tanpa terasa diam-diam dikendalikan.

Menjadi atau Diperankan?

Generasi Z tumbuh dalam dunia tanpa batas geografis. Mereka punya akses pada informasi, ruang ekspresi, dan peluang yang lebih luas dibanding generasi sebelumnya.  Namun kebebasan ini datang dengan tagihan harga.  Platform sosial seperti TikTok dan Instagram bukan sekadar ruang ekspresi, tetapi juga ruang kurasi. Apa yang viral, apa yang dianggap menarik, bahkan siapa yang layak dilihat, semuanya diatur oleh logika algoritma.

Dalam kerangka ini, pemikiran Shoshana Zuboff menjadi relevan. Ia menyebut era ini sebagai surveillance capitalism, ketika pengalaman manusia diubah menjadi data, dianalisis, lalu digunakan untuk mengarahkan perilaku.  Kaitannya dengan ini adalah, ketika seorang perempuan merasa sedang menjadi dirinya sendiri, ada dua kemungkinan. Bisa jadi itu pilihan bebas, atau pilihan yang sudah didesain.

Persoalan ini semakin kompleks ketika kita bicara soal identitas.  Simone de Beauvoir pernah mengatakan bahwa perempuan tidak dilahirkan, tetapi “menjadi”. Identitas perempuan adalah hasil konstruksi sosial.  Di era digital, konstruksi ini datang dari banyak arah. Ia diproduksi secara masif oleh budaya global, media sosial, dan standar yang terus diulang.

Judith Butler bahkan menegaskan bahwa identitas gender adalah sesuatu yang dipentaskan, artinya dibentuk melalui pengulangan perilaku yang diharapkan.  Jika demikian, perlu untuk menjadi kritis apakah perempuan hari ini benar-benar menjadi dirinya sendiri, atau sedang memainkan peran yang diharapkan oleh audiens digitalnya.

Tekanan Baru dalam Wajah Kebebasan

Perempuan hari ini memang hidup dalam ruang yang lebih terbuka. Akses pendidikan luas, peluang karier tersedia, bahkan kesempatan membangun kemandirian ekonomi juga semakin nyata. Namun justru di situlah sekaligus muncul tekanan baru yang sering luput dibaca. Jika dulu perempuan dibatasi, hari ini mereka justru dituntut untuk “menjadi segalanya.” Mandiri secara finansial, sukses dalam karier, cerdas secara intelektual, sekaligus tetap mampu mengelola kehidupan personal dengan baik.

Kebebasan tidak lagi sekadar membuka pilihan, tetapi juga menghadirkan standar baru yang tidak kalah menekan.  Seorang perempuan muda hari ini tidak hanya dihadapkan pada pertanyaan “ingin jadi apa”, tetapi juga pada ekspektasi tak tertulis yaitu harus berhasil. Bukan sekadar bekerja, tetapi memiliki karier yang jelas. Bukan sekadar mandiri, tetapi juga mampu membangun aset, stabil secara finansial, dan bahkan terlihat “mapan” di usia yang relatif muda.

Di ruang digital, tekanan itu diperkuat. Linimasa dipenuhi narasi tentang self-made woman, financial independence, hingga pencapaian di usia 20-an. Kesuksesan menjadi sesuatu yang harus dipamerkan, dibandingkan, sehingga tanpa sadar lalu dijadikan tolok ukur bersama.

Dalam situasi saat ini, perempuan tidak lagi sekadar berjuang untuk mendapatkan akses, tetapi juga berhadapan dengan beban baru yaitu adanya kewajiban untuk membuktikan, bahwa kebebasan itu berhasil digunakan dengan benar. Di titik ini, emansipasi menghadirkan paradoks. Ia membebaskan, tetapi sekaligus menuntut. Ia membuka peluang, tetapi juga menciptakan standar baru yang tidak selalu realistis. 

Karena itu, persoalan hari ini bukan lagi sekadar bicara kesetaraan akses, melainkan sesuatu yang lebih subsansial yaiu otonomi diri, menyoal apakah pilihan yang diambil benar-benar lahir dari kehendak pribadi, atau justru dari tekanan zaman yang berubah bentuk.

Emansipasi Digital

Namun, berhenti pada kritik saja akan membuat kita terjebak dalam pesimisme.  Justru di tengah kompleksitas ini, perempuan Gen Z memiliki keunggulan yang tidak dimiliki generasi sebelumnya. Generasi yang sejak awal hidup dalam ekosistem digital, maka teknologi bagi mereka bukan sekadar alat, tetapi bagian dari cara berpikir dan cara melihat dunia.

Kita bisa melihat bagaimana banyak perempuan muda hari ini tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pencipta ruang. Ada yang membangun akun edukasi tentang kesehatan mental dengan ribuan pengikut. Ada yang menggunakan media sosial untuk mengedukasi soal body positivity, menantang standar kecantikan yang sempit. Ada pula yang memanfaatkan platform digital untuk bisnis, membangun brand sendiri, bahkan mandiri secara ekonomi sejak usia muda.

Dalam kasus-kasus seperti itu, media sosial tidak lagi sekadar menjadi ruang tekanan, justru ruang kemungkinan. Di sinilah emansipasi menemukan bentuk barunya yaitu emansipasi digital.  Perempuan Gen Z tidak harus menunggu ruang diberikan. Mereka bisa menciptakan ruangnya sendiri, membangun personal branding, mengangkat isu sosial melalui konten, menciptakan komunitas, bahkan mengubah gagasan menjadi nilai ekonomi. 

Pemikiran Manuel Castells tentang network society menjelaskan bahwa kekuasaan di era digital tersebar dalam jaringan. Yang mampu mengelola jaringan itu, memiliki kekuatan untuk memproduksi makna. Jadi, perempuan hari ini tidak hanya menjadi objek algoritma, tetapi juga subjek yang menggunakannya. 

Namun, di tengah tuntutan untuk menjadi mandiri dan sukses, tantangannya masih ada yaitu perempuan masih belum sepenuhnya lepas dari posisi sebagai objek. Saat ini ada kasus yang ramai di lingkungan Universitas Indonesia. Sekelompok mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia membuat grup percakapan yang berisi candaan dan komentar bernada merendahkan perempuan. Menjadi pengingat yang agak pahit, bahwa bahkan di ruang yang terdidik, di institusi yang seharusnya menjunjung tinggi nalar kritis dan etika, cara pandang terhadap perempuan sebagai objek masih bertahan. Malahan ditambah lagi dengan lagu dari mahasiswa ITB yang judulnya Erika.

Ini bukan sekadar soal oknum atau candaan yang kebablasan. Yang lebih mengkhawatirkan adalah bahwa budaya melihat perempuan sebagai objek masih terinternalisasi, bahkan di kalangan yang secara intelektual mestinya mampu mengkritisinya.

Di titik ini, kita lihat bahwa emansipasi berjalan dalam dua sisi sekaligus. Di satu sisi, perempuan dituntut untuk menjadi subjek yang mandiri, produktif, dan sukses. Di sisi lain, mereka masih berhadapan dengan cara pandang lama yang mereduksi mereka menjadi objek, baik dalam ruang fisik maupun digital.  Kontradiksi ini menciptakan beban ganda, satu sisi dituntut untuk berdaya, tetapi masih juga harus menghadapi objektifikasi. 

Maka, persoalan emansipasi hari ini tidak bisa dilihat secara linear seolah-olah kita hanya bergerak maju. Emansipasi justru bergerak secara simultan, maju dalam satu aspek, tetapi tertahan, bahkan mundur, dalam aspek yang lain.

Kartini Hari Ini adalah Sebuah Pertanyaan, Bukan Sekadar Simbol

Berandai-andai jika Raden Ajeng Kartini hidup hari ini, dengan melihat kualitas sifat kritis beliau, mungkin tidak lagi bertanya mengapa perempuan tidak boleh sekolah.  Beliau mungkin akan bertanya mengapa kebebasan harus diukur dari validasi digital? Mengapa menjadi diri sendiri terasa semakin sulit di tengah ruang yang terbuka? Siapa sebenarnya yang mengendalikan kebebasan itu? Kartini hari ini bukan lagi sekadar simbol perjuangan, tetapi pertanyaan yang belum selesai.

Dan mungkin di sinilah letak tantangan dari emansipasi perempuan hari ini, bukan hanya membuktikan kapasitas diri, tetapi juga terus-menerus menegosiasikan cara pandang dunia terhadap dirinya. Selamat Hari Kartini. Tabik, untuk semua perempuan Indonesia. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari KartiniKartiniPerempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Musik, Lukisan, dan Kesadaran Bertemu dalam Nyanyian Dharma

Next Post

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails
Next Post
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co