22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang luar biasa, sehingga diangkat sebagai simbol emansipasi, dirayakan sebagai sang pembuka jalan bagi perempuan untuk keluar dari gelapnya keterbatasan menuju terang kebebasan. 

Namun bagaimana pun, perempuan hari ini harus tetap merenungkan ulang apakah mereka benar-benar merdeka, atau sesungguhnya masih ada kungkungan yang harus diperjuangkan kebebasannya.

Dari Emansipasi ke Ilusi Partisipasi

Di masa Kartini, persoalan waktu itu jelas. Bahwa kaum perempuan tidak diberi akses di mana pendidikan dibatasi, pilihan hidup dikunci, dan ruang publik hampir sepenuhnya tertutup. Emansipasi saat itu adalah ibarat perjuangan membuka pintu. 

Hari ini, pintu itu tampaknya sudah terbuka lebar. Perempuan-perempuan kita bisa sekolah tinggi, bekerja, berkarya, bahkan membangun identitasnya sendiri di ruang digital. Sekilas, perjuangan untuk emansipasi tampak selesai.  Emansipasi perempuan sudah terlaksana. Namun justru di sinilah persoalan tetap saja mengintai meski menjadi lebih halus.

Filsuf Michel Foucault pernah mengingatkan bahwa kekuasaan modern tidak lagi bekerja dengan cara melarang, tetapi dengan cara mengatur dan menormalisasi. Kita tidak lagi dipaksa dari luar, tetapi dibentuk dari dalam, seperti cara kita berpikir, memilih, bahkan merasa bebas. 

Berkaitan dengan emansipasi perempuan, memang kita lihat perempuan Gen Z tidak lagi dilarang untuk tampil. Mereka justru didorong untuk tampil. Tetapi dorongan itu tidak netral, melainkan diarahkan, dibingkai, dan juga tanpa terasa diam-diam dikendalikan.

Menjadi atau Diperankan?

Generasi Z tumbuh dalam dunia tanpa batas geografis. Mereka punya akses pada informasi, ruang ekspresi, dan peluang yang lebih luas dibanding generasi sebelumnya.  Namun kebebasan ini datang dengan tagihan harga.  Platform sosial seperti TikTok dan Instagram bukan sekadar ruang ekspresi, tetapi juga ruang kurasi. Apa yang viral, apa yang dianggap menarik, bahkan siapa yang layak dilihat, semuanya diatur oleh logika algoritma.

Dalam kerangka ini, pemikiran Shoshana Zuboff menjadi relevan. Ia menyebut era ini sebagai surveillance capitalism, ketika pengalaman manusia diubah menjadi data, dianalisis, lalu digunakan untuk mengarahkan perilaku.  Kaitannya dengan ini adalah, ketika seorang perempuan merasa sedang menjadi dirinya sendiri, ada dua kemungkinan. Bisa jadi itu pilihan bebas, atau pilihan yang sudah didesain.

Persoalan ini semakin kompleks ketika kita bicara soal identitas.  Simone de Beauvoir pernah mengatakan bahwa perempuan tidak dilahirkan, tetapi “menjadi”. Identitas perempuan adalah hasil konstruksi sosial.  Di era digital, konstruksi ini datang dari banyak arah. Ia diproduksi secara masif oleh budaya global, media sosial, dan standar yang terus diulang.

Judith Butler bahkan menegaskan bahwa identitas gender adalah sesuatu yang dipentaskan, artinya dibentuk melalui pengulangan perilaku yang diharapkan.  Jika demikian, perlu untuk menjadi kritis apakah perempuan hari ini benar-benar menjadi dirinya sendiri, atau sedang memainkan peran yang diharapkan oleh audiens digitalnya.

Tekanan Baru dalam Wajah Kebebasan

Perempuan hari ini memang hidup dalam ruang yang lebih terbuka. Akses pendidikan luas, peluang karier tersedia, bahkan kesempatan membangun kemandirian ekonomi juga semakin nyata. Namun justru di situlah sekaligus muncul tekanan baru yang sering luput dibaca. Jika dulu perempuan dibatasi, hari ini mereka justru dituntut untuk “menjadi segalanya.” Mandiri secara finansial, sukses dalam karier, cerdas secara intelektual, sekaligus tetap mampu mengelola kehidupan personal dengan baik.

Kebebasan tidak lagi sekadar membuka pilihan, tetapi juga menghadirkan standar baru yang tidak kalah menekan.  Seorang perempuan muda hari ini tidak hanya dihadapkan pada pertanyaan “ingin jadi apa”, tetapi juga pada ekspektasi tak tertulis yaitu harus berhasil. Bukan sekadar bekerja, tetapi memiliki karier yang jelas. Bukan sekadar mandiri, tetapi juga mampu membangun aset, stabil secara finansial, dan bahkan terlihat “mapan” di usia yang relatif muda.

Di ruang digital, tekanan itu diperkuat. Linimasa dipenuhi narasi tentang self-made woman, financial independence, hingga pencapaian di usia 20-an. Kesuksesan menjadi sesuatu yang harus dipamerkan, dibandingkan, sehingga tanpa sadar lalu dijadikan tolok ukur bersama.

Dalam situasi saat ini, perempuan tidak lagi sekadar berjuang untuk mendapatkan akses, tetapi juga berhadapan dengan beban baru yaitu adanya kewajiban untuk membuktikan, bahwa kebebasan itu berhasil digunakan dengan benar. Di titik ini, emansipasi menghadirkan paradoks. Ia membebaskan, tetapi sekaligus menuntut. Ia membuka peluang, tetapi juga menciptakan standar baru yang tidak selalu realistis. 

Karena itu, persoalan hari ini bukan lagi sekadar bicara kesetaraan akses, melainkan sesuatu yang lebih subsansial yaiu otonomi diri, menyoal apakah pilihan yang diambil benar-benar lahir dari kehendak pribadi, atau justru dari tekanan zaman yang berubah bentuk.

Emansipasi Digital

Namun, berhenti pada kritik saja akan membuat kita terjebak dalam pesimisme.  Justru di tengah kompleksitas ini, perempuan Gen Z memiliki keunggulan yang tidak dimiliki generasi sebelumnya. Generasi yang sejak awal hidup dalam ekosistem digital, maka teknologi bagi mereka bukan sekadar alat, tetapi bagian dari cara berpikir dan cara melihat dunia.

Kita bisa melihat bagaimana banyak perempuan muda hari ini tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pencipta ruang. Ada yang membangun akun edukasi tentang kesehatan mental dengan ribuan pengikut. Ada yang menggunakan media sosial untuk mengedukasi soal body positivity, menantang standar kecantikan yang sempit. Ada pula yang memanfaatkan platform digital untuk bisnis, membangun brand sendiri, bahkan mandiri secara ekonomi sejak usia muda.

Dalam kasus-kasus seperti itu, media sosial tidak lagi sekadar menjadi ruang tekanan, justru ruang kemungkinan. Di sinilah emansipasi menemukan bentuk barunya yaitu emansipasi digital.  Perempuan Gen Z tidak harus menunggu ruang diberikan. Mereka bisa menciptakan ruangnya sendiri, membangun personal branding, mengangkat isu sosial melalui konten, menciptakan komunitas, bahkan mengubah gagasan menjadi nilai ekonomi. 

Pemikiran Manuel Castells tentang network society menjelaskan bahwa kekuasaan di era digital tersebar dalam jaringan. Yang mampu mengelola jaringan itu, memiliki kekuatan untuk memproduksi makna. Jadi, perempuan hari ini tidak hanya menjadi objek algoritma, tetapi juga subjek yang menggunakannya. 

Namun, di tengah tuntutan untuk menjadi mandiri dan sukses, tantangannya masih ada yaitu perempuan masih belum sepenuhnya lepas dari posisi sebagai objek. Saat ini ada kasus yang ramai di lingkungan Universitas Indonesia. Sekelompok mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia membuat grup percakapan yang berisi candaan dan komentar bernada merendahkan perempuan. Menjadi pengingat yang agak pahit, bahwa bahkan di ruang yang terdidik, di institusi yang seharusnya menjunjung tinggi nalar kritis dan etika, cara pandang terhadap perempuan sebagai objek masih bertahan. Malahan ditambah lagi dengan lagu dari mahasiswa ITB yang judulnya Erika.

Ini bukan sekadar soal oknum atau candaan yang kebablasan. Yang lebih mengkhawatirkan adalah bahwa budaya melihat perempuan sebagai objek masih terinternalisasi, bahkan di kalangan yang secara intelektual mestinya mampu mengkritisinya.

Di titik ini, kita lihat bahwa emansipasi berjalan dalam dua sisi sekaligus. Di satu sisi, perempuan dituntut untuk menjadi subjek yang mandiri, produktif, dan sukses. Di sisi lain, mereka masih berhadapan dengan cara pandang lama yang mereduksi mereka menjadi objek, baik dalam ruang fisik maupun digital.  Kontradiksi ini menciptakan beban ganda, satu sisi dituntut untuk berdaya, tetapi masih juga harus menghadapi objektifikasi. 

Maka, persoalan emansipasi hari ini tidak bisa dilihat secara linear seolah-olah kita hanya bergerak maju. Emansipasi justru bergerak secara simultan, maju dalam satu aspek, tetapi tertahan, bahkan mundur, dalam aspek yang lain.

Kartini Hari Ini adalah Sebuah Pertanyaan, Bukan Sekadar Simbol

Berandai-andai jika Raden Ajeng Kartini hidup hari ini, dengan melihat kualitas sifat kritis beliau, mungkin tidak lagi bertanya mengapa perempuan tidak boleh sekolah.  Beliau mungkin akan bertanya mengapa kebebasan harus diukur dari validasi digital? Mengapa menjadi diri sendiri terasa semakin sulit di tengah ruang yang terbuka? Siapa sebenarnya yang mengendalikan kebebasan itu? Kartini hari ini bukan lagi sekadar simbol perjuangan, tetapi pertanyaan yang belum selesai.

Dan mungkin di sinilah letak tantangan dari emansipasi perempuan hari ini, bukan hanya membuktikan kapasitas diri, tetapi juga terus-menerus menegosiasikan cara pandang dunia terhadap dirinya. Selamat Hari Kartini. Tabik, untuk semua perempuan Indonesia. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari KartiniKartiniPerempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Musik, Lukisan, dan Kesadaran Bertemu dalam Nyanyian Dharma

Next Post

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails
Next Post
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co