11 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang luar biasa, sehingga diangkat sebagai simbol emansipasi, dirayakan sebagai sang pembuka jalan bagi perempuan untuk keluar dari gelapnya keterbatasan menuju terang kebebasan. 

Namun bagaimana pun, perempuan hari ini harus tetap merenungkan ulang apakah mereka benar-benar merdeka, atau sesungguhnya masih ada kungkungan yang harus diperjuangkan kebebasannya.

Dari Emansipasi ke Ilusi Partisipasi

Di masa Kartini, persoalan waktu itu jelas. Bahwa kaum perempuan tidak diberi akses di mana pendidikan dibatasi, pilihan hidup dikunci, dan ruang publik hampir sepenuhnya tertutup. Emansipasi saat itu adalah ibarat perjuangan membuka pintu. 

Hari ini, pintu itu tampaknya sudah terbuka lebar. Perempuan-perempuan kita bisa sekolah tinggi, bekerja, berkarya, bahkan membangun identitasnya sendiri di ruang digital. Sekilas, perjuangan untuk emansipasi tampak selesai.  Emansipasi perempuan sudah terlaksana. Namun justru di sinilah persoalan tetap saja mengintai meski menjadi lebih halus.

Filsuf Michel Foucault pernah mengingatkan bahwa kekuasaan modern tidak lagi bekerja dengan cara melarang, tetapi dengan cara mengatur dan menormalisasi. Kita tidak lagi dipaksa dari luar, tetapi dibentuk dari dalam, seperti cara kita berpikir, memilih, bahkan merasa bebas. 

Berkaitan dengan emansipasi perempuan, memang kita lihat perempuan Gen Z tidak lagi dilarang untuk tampil. Mereka justru didorong untuk tampil. Tetapi dorongan itu tidak netral, melainkan diarahkan, dibingkai, dan juga tanpa terasa diam-diam dikendalikan.

Menjadi atau Diperankan?

Generasi Z tumbuh dalam dunia tanpa batas geografis. Mereka punya akses pada informasi, ruang ekspresi, dan peluang yang lebih luas dibanding generasi sebelumnya.  Namun kebebasan ini datang dengan tagihan harga.  Platform sosial seperti TikTok dan Instagram bukan sekadar ruang ekspresi, tetapi juga ruang kurasi. Apa yang viral, apa yang dianggap menarik, bahkan siapa yang layak dilihat, semuanya diatur oleh logika algoritma.

Dalam kerangka ini, pemikiran Shoshana Zuboff menjadi relevan. Ia menyebut era ini sebagai surveillance capitalism, ketika pengalaman manusia diubah menjadi data, dianalisis, lalu digunakan untuk mengarahkan perilaku.  Kaitannya dengan ini adalah, ketika seorang perempuan merasa sedang menjadi dirinya sendiri, ada dua kemungkinan. Bisa jadi itu pilihan bebas, atau pilihan yang sudah didesain.

Persoalan ini semakin kompleks ketika kita bicara soal identitas.  Simone de Beauvoir pernah mengatakan bahwa perempuan tidak dilahirkan, tetapi “menjadi”. Identitas perempuan adalah hasil konstruksi sosial.  Di era digital, konstruksi ini datang dari banyak arah. Ia diproduksi secara masif oleh budaya global, media sosial, dan standar yang terus diulang.

Judith Butler bahkan menegaskan bahwa identitas gender adalah sesuatu yang dipentaskan, artinya dibentuk melalui pengulangan perilaku yang diharapkan.  Jika demikian, perlu untuk menjadi kritis apakah perempuan hari ini benar-benar menjadi dirinya sendiri, atau sedang memainkan peran yang diharapkan oleh audiens digitalnya.

Tekanan Baru dalam Wajah Kebebasan

Perempuan hari ini memang hidup dalam ruang yang lebih terbuka. Akses pendidikan luas, peluang karier tersedia, bahkan kesempatan membangun kemandirian ekonomi juga semakin nyata. Namun justru di situlah sekaligus muncul tekanan baru yang sering luput dibaca. Jika dulu perempuan dibatasi, hari ini mereka justru dituntut untuk “menjadi segalanya.” Mandiri secara finansial, sukses dalam karier, cerdas secara intelektual, sekaligus tetap mampu mengelola kehidupan personal dengan baik.

Kebebasan tidak lagi sekadar membuka pilihan, tetapi juga menghadirkan standar baru yang tidak kalah menekan.  Seorang perempuan muda hari ini tidak hanya dihadapkan pada pertanyaan “ingin jadi apa”, tetapi juga pada ekspektasi tak tertulis yaitu harus berhasil. Bukan sekadar bekerja, tetapi memiliki karier yang jelas. Bukan sekadar mandiri, tetapi juga mampu membangun aset, stabil secara finansial, dan bahkan terlihat “mapan” di usia yang relatif muda.

Di ruang digital, tekanan itu diperkuat. Linimasa dipenuhi narasi tentang self-made woman, financial independence, hingga pencapaian di usia 20-an. Kesuksesan menjadi sesuatu yang harus dipamerkan, dibandingkan, sehingga tanpa sadar lalu dijadikan tolok ukur bersama.

Dalam situasi saat ini, perempuan tidak lagi sekadar berjuang untuk mendapatkan akses, tetapi juga berhadapan dengan beban baru yaitu adanya kewajiban untuk membuktikan, bahwa kebebasan itu berhasil digunakan dengan benar. Di titik ini, emansipasi menghadirkan paradoks. Ia membebaskan, tetapi sekaligus menuntut. Ia membuka peluang, tetapi juga menciptakan standar baru yang tidak selalu realistis. 

Karena itu, persoalan hari ini bukan lagi sekadar bicara kesetaraan akses, melainkan sesuatu yang lebih subsansial yaiu otonomi diri, menyoal apakah pilihan yang diambil benar-benar lahir dari kehendak pribadi, atau justru dari tekanan zaman yang berubah bentuk.

Emansipasi Digital

Namun, berhenti pada kritik saja akan membuat kita terjebak dalam pesimisme.  Justru di tengah kompleksitas ini, perempuan Gen Z memiliki keunggulan yang tidak dimiliki generasi sebelumnya. Generasi yang sejak awal hidup dalam ekosistem digital, maka teknologi bagi mereka bukan sekadar alat, tetapi bagian dari cara berpikir dan cara melihat dunia.

Kita bisa melihat bagaimana banyak perempuan muda hari ini tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pencipta ruang. Ada yang membangun akun edukasi tentang kesehatan mental dengan ribuan pengikut. Ada yang menggunakan media sosial untuk mengedukasi soal body positivity, menantang standar kecantikan yang sempit. Ada pula yang memanfaatkan platform digital untuk bisnis, membangun brand sendiri, bahkan mandiri secara ekonomi sejak usia muda.

Dalam kasus-kasus seperti itu, media sosial tidak lagi sekadar menjadi ruang tekanan, justru ruang kemungkinan. Di sinilah emansipasi menemukan bentuk barunya yaitu emansipasi digital.  Perempuan Gen Z tidak harus menunggu ruang diberikan. Mereka bisa menciptakan ruangnya sendiri, membangun personal branding, mengangkat isu sosial melalui konten, menciptakan komunitas, bahkan mengubah gagasan menjadi nilai ekonomi. 

Pemikiran Manuel Castells tentang network society menjelaskan bahwa kekuasaan di era digital tersebar dalam jaringan. Yang mampu mengelola jaringan itu, memiliki kekuatan untuk memproduksi makna. Jadi, perempuan hari ini tidak hanya menjadi objek algoritma, tetapi juga subjek yang menggunakannya. 

Namun, di tengah tuntutan untuk menjadi mandiri dan sukses, tantangannya masih ada yaitu perempuan masih belum sepenuhnya lepas dari posisi sebagai objek. Saat ini ada kasus yang ramai di lingkungan Universitas Indonesia. Sekelompok mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia membuat grup percakapan yang berisi candaan dan komentar bernada merendahkan perempuan. Menjadi pengingat yang agak pahit, bahwa bahkan di ruang yang terdidik, di institusi yang seharusnya menjunjung tinggi nalar kritis dan etika, cara pandang terhadap perempuan sebagai objek masih bertahan. Malahan ditambah lagi dengan lagu dari mahasiswa ITB yang judulnya Erika.

Ini bukan sekadar soal oknum atau candaan yang kebablasan. Yang lebih mengkhawatirkan adalah bahwa budaya melihat perempuan sebagai objek masih terinternalisasi, bahkan di kalangan yang secara intelektual mestinya mampu mengkritisinya.

Di titik ini, kita lihat bahwa emansipasi berjalan dalam dua sisi sekaligus. Di satu sisi, perempuan dituntut untuk menjadi subjek yang mandiri, produktif, dan sukses. Di sisi lain, mereka masih berhadapan dengan cara pandang lama yang mereduksi mereka menjadi objek, baik dalam ruang fisik maupun digital.  Kontradiksi ini menciptakan beban ganda, satu sisi dituntut untuk berdaya, tetapi masih juga harus menghadapi objektifikasi. 

Maka, persoalan emansipasi hari ini tidak bisa dilihat secara linear seolah-olah kita hanya bergerak maju. Emansipasi justru bergerak secara simultan, maju dalam satu aspek, tetapi tertahan, bahkan mundur, dalam aspek yang lain.

Kartini Hari Ini adalah Sebuah Pertanyaan, Bukan Sekadar Simbol

Berandai-andai jika Raden Ajeng Kartini hidup hari ini, dengan melihat kualitas sifat kritis beliau, mungkin tidak lagi bertanya mengapa perempuan tidak boleh sekolah.  Beliau mungkin akan bertanya mengapa kebebasan harus diukur dari validasi digital? Mengapa menjadi diri sendiri terasa semakin sulit di tengah ruang yang terbuka? Siapa sebenarnya yang mengendalikan kebebasan itu? Kartini hari ini bukan lagi sekadar simbol perjuangan, tetapi pertanyaan yang belum selesai.

Dan mungkin di sinilah letak tantangan dari emansipasi perempuan hari ini, bukan hanya membuktikan kapasitas diri, tetapi juga terus-menerus menegosiasikan cara pandang dunia terhadap dirinya. Selamat Hari Kartini. Tabik, untuk semua perempuan Indonesia. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari KartiniKartiniPerempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Musik, Lukisan, dan Kesadaran Bertemu dalam Nyanyian Dharma

Next Post

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas
Pendidikan

490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas

SEBANYAK 490 mahasiswa baru Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali memulai kehidupan kampus melalui Malam Kreativitas Kampus dan Pembukaan Pengenalan...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”
Pop

Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

BELANTIKA musik Bali kembali mendapat warna baru. Kali ini datang dari Satria N Band, grup musik yang mencoba membawa pop-punk...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Tubuh yang Saya Suruh Begadang
Esai

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

by Angga Wijaya
September 9, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co