12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Masiat Paturu Bali”, Ketika Saudara Menjadi Lawan

Angga Wijaya by Angga Wijaya
August 14, 2025
in Esai
“Masiat Paturu Bali”, Ketika Saudara Menjadi Lawan

Ilustrasi tatkala.co

HARI-HARI belakangan ini, media sosial di Bali terasa seperti arena pasar malam yang riuh, tapi tanpa musik dan tawa. Di sana, para politisi saling lempar kata, berdebat kusir soal permasalahan sampah.

Semua bermula dari rencana penutupan TPA Suwung pada akhir 2025, yang diawali pelarangan sampah organik dibuang ke sana sejak awal Agustus 2025. Sejak itu, percikan kecil berubah menjadi api. Dinamika kian meluas, politisi dan beberapa intelektual Bali saling serang di media sosial. Dari sekadar diskusi publik, ia menjelma jadi drama panjang, mengundang komentar yang semakin lama semakin tajam.

Fenomena ini sebetulnya tidak sepenuhnya baru. Ada istilah yang sudah lama beredar di tengah orang Bali, Masiat Paturu Bali. Secara harfiah, ia berarti kebiasaan atau “dosa” orang Bali yang suka berkonflik dengan sesama orang Bali. Bukan dengan pendatang, bukan dengan orang luar pulau—tetapi dengan saudara sebangsa, sedarah budaya, serumah di tanah leluhur yang sama. Istilah ini sering diucapkan dengan nada setengah bercanda, setengah getir, seperti mengakui kelemahan diri sambil berharap ia tidak semakin menjadi-jadi.

Di beberapa lingkar diskusi, ada pula istilah Karma Ayam Aduan. Konsep ini diibaratkan dari tradisi tajen atau adu ayam, yang di dalamnya ayam jago selalu bertarung sampai berdarah-darah demi gengsi dan harga diri tuannya.

Clifford Geertz, antropolog yang pernah lama meneliti tentang Bali membahas betapa tajen bukan hanya permainan, melainkan metafora budaya yang memproyeksikan konflik, harga diri, dan kehormatan. Dalam konteks sosial, “karma ayam aduan” dimaknai sebagai warisan simbolis yakni, orang Bali, tanpa sadar, sering mewarisi semangat bertarung itu dalam hubungan antarsesama, bahkan ketika tidak ada musuh yang nyata di depan mata.

Prof. Luh Ketut Suryani, psikiater senior Bali, pernah menyinggung soal pola pikir ini dalam berbagai seminar dan wawancara. Ia melihat akar konflik internal Bali sering kali bertaut dengan rasa ego yang kuat, rasa ingin diakui, dan kebutuhan mempertahankan status dalam komunitas. Ia menyebut bahwa rasa kebersamaan orang Bali sebenarnya tinggi, tetapi di saat bersamaan, ada dorongan untuk menunjukkan siapa yang lebih unggul. Dorongan ini, bila tidak diimbangi, mudah berubah menjadi gesekan.

Dari sudut pandang antropologi, fenomena seperti ini bukan hanya milik Bali. Hampir semua masyarakat homogen punya risiko lebih tinggi mengalami konflik internal. Alasannya sederhana, kedekatan justru membuka peluang friksi yang lebih sering.

Dalam sistem sosial yang rapat,di mana semua orang saling mengenal, mengetahui riwayat keluarga, bahkan urusan pribadi—perbedaan pandangan bisa cepat merambat menjadi pertikaian yang bersifat pribadi. Antropolog seperti Hildred Geertz pernah menggambarkan masyarakat Bali sebagai “tight community with tight surveillance”—komunitas yang erat, tapi selalu saling mengawasi. Kedekatan ini melahirkan kehangatan, tapi juga tekanan sosial.

Prof. I Nyoman Darma Putra, pakar sastra dan kajian budaya Bali, dalam sejumlah tulisannya melihat bahwa gesekan sosial di Bali tidak bisa dilepaskan dari struktur adat yang hierarkis dan kompleks. Hierarki ini membentuk relasi kuasa, di mana posisi seseorang dalam banjar, desa adat, atau keluarga besar mempengaruhi cara ia diperlakukan dan cara ia merespons kritik. Ketika perbedaan pandangan muncul, ia sering kali dibaca bukan sekadar sebagai perbedaan ide, tetapi sebagai ancaman terhadap posisi sosial.

Menariknya, fenomena Masiat Paturu Bali sering muncul justru pada isu-isu yang menyangkut kepentingan bersama, seperti sampah, pariwisata, atau tata ruang. Dalam kasus TPA Suwung, semua pihak sebenarnya sepakat bahwa masalah sampah adalah darurat.

Namun, alih-alih memperkuat kolaborasi, yang mengemuka adalah adu argumen, tentang siapa yang paling benar, siapa yang paling peduli, siapa yang paling layak dipercaya publik. Media sosial menjadi arena terbuka yang mempercepat semua ini. Di sana, setiap komentar langsung mendapat respons publik, disukai, atau dicaci. Setiap kata menjadi peluru yang bisa kembali menghantam penembaknya.

Secara historis, Bali memang memiliki tradisi debat yang kuat. Dalam paswara (rapat desa adat) atau diskusi di bale banjar, perbedaan pendapat adalah hal biasa. Namun, perbedaan itu dulu dibingkai dalam aturan adat dan sopan santun tutur kata. Kini, di dunia digital, batas itu mengabur. Algoritma media sosial memberi panggung pada yang paling nyaring, bukan yang paling bijak. Dalam situasi ini, sifat “ayam aduan” yang diwariskan dalam simbol budaya menemukan rumah barunya, yaitu, layar ponsel.

Pandangan antropologis lain yang relevan datang dari kajian konflik internal di masyarakat agraris. Di masyarakat seperti ini, relasi sosial sangat tergantung pada kerja sama sehari-hari. Tetapi justru karena itu, setiap perbedaan atau kegagalan memenuhi norma bersama bisa menimbulkan konflik yang berlarut.

Orang Bali, dengan adat yang terikat pada gotong royong, ayahan desa, dan ritual komunal, memiliki ekspektasi tinggi terhadap kesetiaan anggota pada norma kelompok. Begitu ada yang dianggap melenceng, sanksinya tidak hanya sosial, tapi juga emosional, dan ini sering terbawa ke ranah publik.

Di tengah situasi itu, penting diingat bahwa Masiat Paturu Bali bukan takdir. Ia adalah pola yang bisa dipahami dan diubah. Banyak tokoh Bali yang mengajak masyarakat kembali pada nilai menyama braya, persaudaraan yang tulus, bukan sekadar slogan. Menyama braya mengandaikan bahwa setiap orang, sekalipun berbeda pendapat, tetap saudara yang layak dihargai.

Fenomena saling serang di media sosial terkait TPA Suwung seharusnya menjadi pelajaran. Krisis lingkungan, seperti persoalan sampah, memerlukan sinergi, bukan sekadar debat. Dalam jangka panjang, yang akan diingat bukan siapa yang memenangkan adu argumen, tetapi apakah masalahnya selesai atau tidak.

Seorang tetua di desa saya pernah berkata, “Kalau ayam aduan terus bertarung di kandang yang sama, yang rugi bukan hanya ayamnya, tapi pemilik kandangnya.” Maksudnya jelas, bahwa konflik internal yang tak terkendali pada akhirnya melemahkan semua pihak. Di tengah dunia yang berubah cepat, Bali tidak hanya harus menjaga identitas budayanya, tetapi juga harus belajar mengelola perbedaan agar tidak menjadi bumerang.

Pada akhirnya, mungkin kita perlu menertawakan diri sendiri sebelum terlalu jauh marah pada orang lain. Sebab, di balik semua gesekan ini, orang Bali tetap punya kekuatan luar biasa untuk bangkit dan bersatu ketika dihadapkan pada tantangan yang benar-benar besar.

Sejarah membuktikan, dari bencana alam hingga krisis pariwisata, masyarakat Bali mampu menunjukkan solidaritas yang mengagumkan. Tantangannya sekarang adalah menemukan solidaritas itu bukan hanya saat genting, tetapi juga dalam keseharian, bahkan dalam perbedaan. Kalau Masiat Paturu Bali adalah cermin yang memantulkan sisi rapuh kita, maka menyama braya adalah cahaya yang bisa menuntun keluar dari bayangan itu. Kita hanya perlu memilih, ingin terus menjadi ayam aduan yang bertarung di kandang sendiri, atau menjadi saudara yang bersama-sama membersihkan kandang itu. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Menghapus Stigma Anak Muda Bali Apatis
Anjing Jalanan dan Wajah Paradoks Bali
Dea dan Buku-Buku yang Bersayap: Kisah dari Big Bad Wolf Bali 2025
Dari Nasi Bungkus ke Buku Sastra, Kisah Jalanan I Wayan Suardika
Tags: balikonflikmedia sosialSampah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [4]–Kegembiraan Datang Nyeri pun Hilang

Next Post

Kemerdekaan Perempuan di Layar Kaca: Refleksi Umur dan Nasib Korea Selatan – Indonesia

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Demokratisasi Sinema: TikTok dan “Reels” sebagai Panggung Baru Film Pendek Indie

Kemerdekaan Perempuan di Layar Kaca: Refleksi Umur dan Nasib Korea Selatan - Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co