2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Masiat Paturu Bali”, Ketika Saudara Menjadi Lawan

Angga Wijaya by Angga Wijaya
August 14, 2025
in Esai
“Masiat Paturu Bali”, Ketika Saudara Menjadi Lawan

Ilustrasi tatkala.co

HARI-HARI belakangan ini, media sosial di Bali terasa seperti arena pasar malam yang riuh, tapi tanpa musik dan tawa. Di sana, para politisi saling lempar kata, berdebat kusir soal permasalahan sampah.

Semua bermula dari rencana penutupan TPA Suwung pada akhir 2025, yang diawali pelarangan sampah organik dibuang ke sana sejak awal Agustus 2025. Sejak itu, percikan kecil berubah menjadi api. Dinamika kian meluas, politisi dan beberapa intelektual Bali saling serang di media sosial. Dari sekadar diskusi publik, ia menjelma jadi drama panjang, mengundang komentar yang semakin lama semakin tajam.

Fenomena ini sebetulnya tidak sepenuhnya baru. Ada istilah yang sudah lama beredar di tengah orang Bali, Masiat Paturu Bali. Secara harfiah, ia berarti kebiasaan atau “dosa” orang Bali yang suka berkonflik dengan sesama orang Bali. Bukan dengan pendatang, bukan dengan orang luar pulau—tetapi dengan saudara sebangsa, sedarah budaya, serumah di tanah leluhur yang sama. Istilah ini sering diucapkan dengan nada setengah bercanda, setengah getir, seperti mengakui kelemahan diri sambil berharap ia tidak semakin menjadi-jadi.

Di beberapa lingkar diskusi, ada pula istilah Karma Ayam Aduan. Konsep ini diibaratkan dari tradisi tajen atau adu ayam, yang di dalamnya ayam jago selalu bertarung sampai berdarah-darah demi gengsi dan harga diri tuannya.

Clifford Geertz, antropolog yang pernah lama meneliti tentang Bali membahas betapa tajen bukan hanya permainan, melainkan metafora budaya yang memproyeksikan konflik, harga diri, dan kehormatan. Dalam konteks sosial, “karma ayam aduan” dimaknai sebagai warisan simbolis yakni, orang Bali, tanpa sadar, sering mewarisi semangat bertarung itu dalam hubungan antarsesama, bahkan ketika tidak ada musuh yang nyata di depan mata.

Prof. Luh Ketut Suryani, psikiater senior Bali, pernah menyinggung soal pola pikir ini dalam berbagai seminar dan wawancara. Ia melihat akar konflik internal Bali sering kali bertaut dengan rasa ego yang kuat, rasa ingin diakui, dan kebutuhan mempertahankan status dalam komunitas. Ia menyebut bahwa rasa kebersamaan orang Bali sebenarnya tinggi, tetapi di saat bersamaan, ada dorongan untuk menunjukkan siapa yang lebih unggul. Dorongan ini, bila tidak diimbangi, mudah berubah menjadi gesekan.

Dari sudut pandang antropologi, fenomena seperti ini bukan hanya milik Bali. Hampir semua masyarakat homogen punya risiko lebih tinggi mengalami konflik internal. Alasannya sederhana, kedekatan justru membuka peluang friksi yang lebih sering.

Dalam sistem sosial yang rapat,di mana semua orang saling mengenal, mengetahui riwayat keluarga, bahkan urusan pribadi—perbedaan pandangan bisa cepat merambat menjadi pertikaian yang bersifat pribadi. Antropolog seperti Hildred Geertz pernah menggambarkan masyarakat Bali sebagai “tight community with tight surveillance”—komunitas yang erat, tapi selalu saling mengawasi. Kedekatan ini melahirkan kehangatan, tapi juga tekanan sosial.

Prof. I Nyoman Darma Putra, pakar sastra dan kajian budaya Bali, dalam sejumlah tulisannya melihat bahwa gesekan sosial di Bali tidak bisa dilepaskan dari struktur adat yang hierarkis dan kompleks. Hierarki ini membentuk relasi kuasa, di mana posisi seseorang dalam banjar, desa adat, atau keluarga besar mempengaruhi cara ia diperlakukan dan cara ia merespons kritik. Ketika perbedaan pandangan muncul, ia sering kali dibaca bukan sekadar sebagai perbedaan ide, tetapi sebagai ancaman terhadap posisi sosial.

Menariknya, fenomena Masiat Paturu Bali sering muncul justru pada isu-isu yang menyangkut kepentingan bersama, seperti sampah, pariwisata, atau tata ruang. Dalam kasus TPA Suwung, semua pihak sebenarnya sepakat bahwa masalah sampah adalah darurat.

Namun, alih-alih memperkuat kolaborasi, yang mengemuka adalah adu argumen, tentang siapa yang paling benar, siapa yang paling peduli, siapa yang paling layak dipercaya publik. Media sosial menjadi arena terbuka yang mempercepat semua ini. Di sana, setiap komentar langsung mendapat respons publik, disukai, atau dicaci. Setiap kata menjadi peluru yang bisa kembali menghantam penembaknya.

Secara historis, Bali memang memiliki tradisi debat yang kuat. Dalam paswara (rapat desa adat) atau diskusi di bale banjar, perbedaan pendapat adalah hal biasa. Namun, perbedaan itu dulu dibingkai dalam aturan adat dan sopan santun tutur kata. Kini, di dunia digital, batas itu mengabur. Algoritma media sosial memberi panggung pada yang paling nyaring, bukan yang paling bijak. Dalam situasi ini, sifat “ayam aduan” yang diwariskan dalam simbol budaya menemukan rumah barunya, yaitu, layar ponsel.

Pandangan antropologis lain yang relevan datang dari kajian konflik internal di masyarakat agraris. Di masyarakat seperti ini, relasi sosial sangat tergantung pada kerja sama sehari-hari. Tetapi justru karena itu, setiap perbedaan atau kegagalan memenuhi norma bersama bisa menimbulkan konflik yang berlarut.

Orang Bali, dengan adat yang terikat pada gotong royong, ayahan desa, dan ritual komunal, memiliki ekspektasi tinggi terhadap kesetiaan anggota pada norma kelompok. Begitu ada yang dianggap melenceng, sanksinya tidak hanya sosial, tapi juga emosional, dan ini sering terbawa ke ranah publik.

Di tengah situasi itu, penting diingat bahwa Masiat Paturu Bali bukan takdir. Ia adalah pola yang bisa dipahami dan diubah. Banyak tokoh Bali yang mengajak masyarakat kembali pada nilai menyama braya, persaudaraan yang tulus, bukan sekadar slogan. Menyama braya mengandaikan bahwa setiap orang, sekalipun berbeda pendapat, tetap saudara yang layak dihargai.

Fenomena saling serang di media sosial terkait TPA Suwung seharusnya menjadi pelajaran. Krisis lingkungan, seperti persoalan sampah, memerlukan sinergi, bukan sekadar debat. Dalam jangka panjang, yang akan diingat bukan siapa yang memenangkan adu argumen, tetapi apakah masalahnya selesai atau tidak.

Seorang tetua di desa saya pernah berkata, “Kalau ayam aduan terus bertarung di kandang yang sama, yang rugi bukan hanya ayamnya, tapi pemilik kandangnya.” Maksudnya jelas, bahwa konflik internal yang tak terkendali pada akhirnya melemahkan semua pihak. Di tengah dunia yang berubah cepat, Bali tidak hanya harus menjaga identitas budayanya, tetapi juga harus belajar mengelola perbedaan agar tidak menjadi bumerang.

Pada akhirnya, mungkin kita perlu menertawakan diri sendiri sebelum terlalu jauh marah pada orang lain. Sebab, di balik semua gesekan ini, orang Bali tetap punya kekuatan luar biasa untuk bangkit dan bersatu ketika dihadapkan pada tantangan yang benar-benar besar.

Sejarah membuktikan, dari bencana alam hingga krisis pariwisata, masyarakat Bali mampu menunjukkan solidaritas yang mengagumkan. Tantangannya sekarang adalah menemukan solidaritas itu bukan hanya saat genting, tetapi juga dalam keseharian, bahkan dalam perbedaan. Kalau Masiat Paturu Bali adalah cermin yang memantulkan sisi rapuh kita, maka menyama braya adalah cahaya yang bisa menuntun keluar dari bayangan itu. Kita hanya perlu memilih, ingin terus menjadi ayam aduan yang bertarung di kandang sendiri, atau menjadi saudara yang bersama-sama membersihkan kandang itu. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Menghapus Stigma Anak Muda Bali Apatis
Anjing Jalanan dan Wajah Paradoks Bali
Dea dan Buku-Buku yang Bersayap: Kisah dari Big Bad Wolf Bali 2025
Dari Nasi Bungkus ke Buku Sastra, Kisah Jalanan I Wayan Suardika
Tags: balikonflikmedia sosialSampah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [4]–Kegembiraan Datang Nyeri pun Hilang

Next Post

Kemerdekaan Perempuan di Layar Kaca: Refleksi Umur dan Nasib Korea Selatan – Indonesia

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Demokratisasi Sinema: TikTok dan “Reels” sebagai Panggung Baru Film Pendek Indie

Kemerdekaan Perempuan di Layar Kaca: Refleksi Umur dan Nasib Korea Selatan - Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co