22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Masiat Paturu Bali”, Ketika Saudara Menjadi Lawan

Angga Wijaya by Angga Wijaya
August 14, 2025
in Esai
“Masiat Paturu Bali”, Ketika Saudara Menjadi Lawan

Ilustrasi tatkala.co

HARI-HARI belakangan ini, media sosial di Bali terasa seperti arena pasar malam yang riuh, tapi tanpa musik dan tawa. Di sana, para politisi saling lempar kata, berdebat kusir soal permasalahan sampah.

Semua bermula dari rencana penutupan TPA Suwung pada akhir 2025, yang diawali pelarangan sampah organik dibuang ke sana sejak awal Agustus 2025. Sejak itu, percikan kecil berubah menjadi api. Dinamika kian meluas, politisi dan beberapa intelektual Bali saling serang di media sosial. Dari sekadar diskusi publik, ia menjelma jadi drama panjang, mengundang komentar yang semakin lama semakin tajam.

Fenomena ini sebetulnya tidak sepenuhnya baru. Ada istilah yang sudah lama beredar di tengah orang Bali, Masiat Paturu Bali. Secara harfiah, ia berarti kebiasaan atau “dosa” orang Bali yang suka berkonflik dengan sesama orang Bali. Bukan dengan pendatang, bukan dengan orang luar pulau—tetapi dengan saudara sebangsa, sedarah budaya, serumah di tanah leluhur yang sama. Istilah ini sering diucapkan dengan nada setengah bercanda, setengah getir, seperti mengakui kelemahan diri sambil berharap ia tidak semakin menjadi-jadi.

Di beberapa lingkar diskusi, ada pula istilah Karma Ayam Aduan. Konsep ini diibaratkan dari tradisi tajen atau adu ayam, yang di dalamnya ayam jago selalu bertarung sampai berdarah-darah demi gengsi dan harga diri tuannya.

Clifford Geertz, antropolog yang pernah lama meneliti tentang Bali membahas betapa tajen bukan hanya permainan, melainkan metafora budaya yang memproyeksikan konflik, harga diri, dan kehormatan. Dalam konteks sosial, “karma ayam aduan” dimaknai sebagai warisan simbolis yakni, orang Bali, tanpa sadar, sering mewarisi semangat bertarung itu dalam hubungan antarsesama, bahkan ketika tidak ada musuh yang nyata di depan mata.

Prof. Luh Ketut Suryani, psikiater senior Bali, pernah menyinggung soal pola pikir ini dalam berbagai seminar dan wawancara. Ia melihat akar konflik internal Bali sering kali bertaut dengan rasa ego yang kuat, rasa ingin diakui, dan kebutuhan mempertahankan status dalam komunitas. Ia menyebut bahwa rasa kebersamaan orang Bali sebenarnya tinggi, tetapi di saat bersamaan, ada dorongan untuk menunjukkan siapa yang lebih unggul. Dorongan ini, bila tidak diimbangi, mudah berubah menjadi gesekan.

Dari sudut pandang antropologi, fenomena seperti ini bukan hanya milik Bali. Hampir semua masyarakat homogen punya risiko lebih tinggi mengalami konflik internal. Alasannya sederhana, kedekatan justru membuka peluang friksi yang lebih sering.

Dalam sistem sosial yang rapat,di mana semua orang saling mengenal, mengetahui riwayat keluarga, bahkan urusan pribadi—perbedaan pandangan bisa cepat merambat menjadi pertikaian yang bersifat pribadi. Antropolog seperti Hildred Geertz pernah menggambarkan masyarakat Bali sebagai “tight community with tight surveillance”—komunitas yang erat, tapi selalu saling mengawasi. Kedekatan ini melahirkan kehangatan, tapi juga tekanan sosial.

Prof. I Nyoman Darma Putra, pakar sastra dan kajian budaya Bali, dalam sejumlah tulisannya melihat bahwa gesekan sosial di Bali tidak bisa dilepaskan dari struktur adat yang hierarkis dan kompleks. Hierarki ini membentuk relasi kuasa, di mana posisi seseorang dalam banjar, desa adat, atau keluarga besar mempengaruhi cara ia diperlakukan dan cara ia merespons kritik. Ketika perbedaan pandangan muncul, ia sering kali dibaca bukan sekadar sebagai perbedaan ide, tetapi sebagai ancaman terhadap posisi sosial.

Menariknya, fenomena Masiat Paturu Bali sering muncul justru pada isu-isu yang menyangkut kepentingan bersama, seperti sampah, pariwisata, atau tata ruang. Dalam kasus TPA Suwung, semua pihak sebenarnya sepakat bahwa masalah sampah adalah darurat.

Namun, alih-alih memperkuat kolaborasi, yang mengemuka adalah adu argumen, tentang siapa yang paling benar, siapa yang paling peduli, siapa yang paling layak dipercaya publik. Media sosial menjadi arena terbuka yang mempercepat semua ini. Di sana, setiap komentar langsung mendapat respons publik, disukai, atau dicaci. Setiap kata menjadi peluru yang bisa kembali menghantam penembaknya.

Secara historis, Bali memang memiliki tradisi debat yang kuat. Dalam paswara (rapat desa adat) atau diskusi di bale banjar, perbedaan pendapat adalah hal biasa. Namun, perbedaan itu dulu dibingkai dalam aturan adat dan sopan santun tutur kata. Kini, di dunia digital, batas itu mengabur. Algoritma media sosial memberi panggung pada yang paling nyaring, bukan yang paling bijak. Dalam situasi ini, sifat “ayam aduan” yang diwariskan dalam simbol budaya menemukan rumah barunya, yaitu, layar ponsel.

Pandangan antropologis lain yang relevan datang dari kajian konflik internal di masyarakat agraris. Di masyarakat seperti ini, relasi sosial sangat tergantung pada kerja sama sehari-hari. Tetapi justru karena itu, setiap perbedaan atau kegagalan memenuhi norma bersama bisa menimbulkan konflik yang berlarut.

Orang Bali, dengan adat yang terikat pada gotong royong, ayahan desa, dan ritual komunal, memiliki ekspektasi tinggi terhadap kesetiaan anggota pada norma kelompok. Begitu ada yang dianggap melenceng, sanksinya tidak hanya sosial, tapi juga emosional, dan ini sering terbawa ke ranah publik.

Di tengah situasi itu, penting diingat bahwa Masiat Paturu Bali bukan takdir. Ia adalah pola yang bisa dipahami dan diubah. Banyak tokoh Bali yang mengajak masyarakat kembali pada nilai menyama braya, persaudaraan yang tulus, bukan sekadar slogan. Menyama braya mengandaikan bahwa setiap orang, sekalipun berbeda pendapat, tetap saudara yang layak dihargai.

Fenomena saling serang di media sosial terkait TPA Suwung seharusnya menjadi pelajaran. Krisis lingkungan, seperti persoalan sampah, memerlukan sinergi, bukan sekadar debat. Dalam jangka panjang, yang akan diingat bukan siapa yang memenangkan adu argumen, tetapi apakah masalahnya selesai atau tidak.

Seorang tetua di desa saya pernah berkata, “Kalau ayam aduan terus bertarung di kandang yang sama, yang rugi bukan hanya ayamnya, tapi pemilik kandangnya.” Maksudnya jelas, bahwa konflik internal yang tak terkendali pada akhirnya melemahkan semua pihak. Di tengah dunia yang berubah cepat, Bali tidak hanya harus menjaga identitas budayanya, tetapi juga harus belajar mengelola perbedaan agar tidak menjadi bumerang.

Pada akhirnya, mungkin kita perlu menertawakan diri sendiri sebelum terlalu jauh marah pada orang lain. Sebab, di balik semua gesekan ini, orang Bali tetap punya kekuatan luar biasa untuk bangkit dan bersatu ketika dihadapkan pada tantangan yang benar-benar besar.

Sejarah membuktikan, dari bencana alam hingga krisis pariwisata, masyarakat Bali mampu menunjukkan solidaritas yang mengagumkan. Tantangannya sekarang adalah menemukan solidaritas itu bukan hanya saat genting, tetapi juga dalam keseharian, bahkan dalam perbedaan. Kalau Masiat Paturu Bali adalah cermin yang memantulkan sisi rapuh kita, maka menyama braya adalah cahaya yang bisa menuntun keluar dari bayangan itu. Kita hanya perlu memilih, ingin terus menjadi ayam aduan yang bertarung di kandang sendiri, atau menjadi saudara yang bersama-sama membersihkan kandang itu. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Menghapus Stigma Anak Muda Bali Apatis
Anjing Jalanan dan Wajah Paradoks Bali
Dea dan Buku-Buku yang Bersayap: Kisah dari Big Bad Wolf Bali 2025
Dari Nasi Bungkus ke Buku Sastra, Kisah Jalanan I Wayan Suardika
Tags: balikonflikmedia sosialSampah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [4]–Kegembiraan Datang Nyeri pun Hilang

Next Post

Kemerdekaan Perempuan di Layar Kaca: Refleksi Umur dan Nasib Korea Selatan – Indonesia

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Demokratisasi Sinema: TikTok dan “Reels” sebagai Panggung Baru Film Pendek Indie

Kemerdekaan Perempuan di Layar Kaca: Refleksi Umur dan Nasib Korea Selatan - Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co