22 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
April 20, 2026
in Esai
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

ilustrasi tatkala.co | Canva

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika direnungkan lebih dalam, Kartini sesungguhnya bukan sekadar tokoh sejarah—ia adalah gema dari kesadaran yang berasal dari kebijakan Kuno Nusantara, namun masih sangat relevan dengan Manusia Modern, yang sering diingatkan oleh Guruji Anand Krishna: kesadaran tentang Shakti, energi hidup yang memberi daya, makna, dan arah bagi peradaban. Shakti adalah energi dinamis yang menggerakkan seluruh alam semesta. Tanpa Shakti, kesadaran murni (sering dipersonifikasikan sebagai Shiva) menjadi pasif. Karena itu ada ungkapan klasik: Shiva tanpa Shakti adalah shava (mayat).

Dalam perspektif Sanatana Dharma, perempuan bukan hanya bagian dari masyarakat, tetapi manifestasi energi kosmis itu sendiri. Ketika kesadaran ini hidup, peradaban menjadi seimbang. Ketika ia dilupakan, lahirlah ketimpangan—bahkan eksploitasi.

Hari Kartini seharusnya menjadi momentum untuk bertanya:
apakah kita benar-benar memahami perempuan sebagai Shakti, atau hanya merayakannya secara simbolik?

Shakti: Energi yang Menghidupkan, Bukan Sekadar Konsep

Dalam filsafat spiritual Timur, khususnya Sanatana Dharma, Shakti adalah energi dinamis—daya yang membuat kehidupan bergerak. Ia bukan sekadar “perempuan” dalam arti biologis, melainkan prinsip keberadaan itu sendiri.

Namun dalam kehidupan sosial, makna ini sering mengalami reduksi:

  • dari energi kosmis menjadi peran domestik
  • dari prinsip ilahi menjadi posisi subordinat
  • dari kekuatan menjadi objek

Di sinilah ironi muncul:
perempuan dimuliakan dalam teks atau di atas kertas, tetapi sering dilemahkan dalam realitas.

Nusantara: Jejak Kesadaran yang Pernah Hidup

Jika menengok sejarah Nusantara, kita menemukan bahwa konsep Shakti bukanlah sesuatu yang asing. Ia pernah hidup, bahkan menjadi bagian dari struktur kekuasaan dan budaya.

Di Aceh, misalnya, pernah berdiri kepemimpinan perempuan yang kuat, seperti:

  • Sultanah Safiatuddin
  • dan penerusnya dalam Kesultanan Aceh

Ini bukan anomali, melainkan bukti bahwa masyarakat pernah memiliki kesadaran kolektif yang menerima perempuan sebagai pemimpin.

Demikian pula dalam sejarah Jawa, kita mengenal:

  • Ratu Shima, yang terkenal dengan ketegasan moral dan integritas hukumnya

Ratu Shima bukan hanya simbol kekuasaan, tetapi simbol kesadaran: bahwa keadilan tidak ditentukan oleh gender, melainkan oleh kualitas batin.

Contoh-contoh ini menunjukkan satu hal penting:

Nusantara tidak asing dengan konsep Shakti—kita hanya pernah melupakannya.

Kartini: Shakti dalam Wujud Kesadaran Modern

Kartini hadir dalam konteks yang berbeda—masa kolonial, ketika struktur sosial semakin menekan perempuan. Namun perjuangannya bukan sekadar melawan adat atau kolonialisme.

Ia memperjuangkan sesuatu yang lebih dalam:

  • hak untuk berpikir
  • hak untuk berkembang
  • hak untuk menjadi manusia seutuhnya

Dalam bahasa spiritual, Kartini sedang:

membangkitkan kembali Shakti dalam bentuk kesadaran modern

Ia tidak menggunakan istilah Shakti, tetapi esensinya sama:
membebaskan energi kehidupan dari belenggu ketidaktahuan.

Paradoks Modern: Kemajuan Tanpa Kesadaran

Hari ini, perempuan memiliki lebih banyak akses:

  • pendidikan
  • pekerjaan
  • ruang publik

Namun paradoks tetap ada:

  • eksploitasi ekonomi masih terjadi
  • objektifikasi dalam media semakin masif
  • kekerasan berbasis gender belum hilang

Ini menunjukkan bahwa:

kemajuan struktural tidak selalu diikuti oleh kemajuan kesadaran

Tanpa kesadaran, kebebasan bisa berubah menjadi bentuk baru dari keterikatan.

Perspektif Kesadaran: Mengapa Eksploitasi Terjadi

Jika dilihat dari perspektif kesadaran, sejalan dengan pendekatan David Hawkins, eksploitasi lahir dari level kesadaran rendah:

  • ketakutan
  • kontrol
  • dominasi

Sementara penghormatan terhadap Shakti muncul dari level yang lebih tinggi:

  • cinta
  • penghargaan
  • kesatuan

Artinya, persoalan perempuan bukan semata persoalan sosial atau hukum, tetapi persoalan kesadaran manusia itu sendiri.

Pelajaran untuk Masyarakat Modern Indonesia

Dari seluruh refleksi ini, ada beberapa pelajaran penting:

1. Jangan Berhenti pada Simbol

Merayakan Kartini tanpa menghidupi nilainya hanya akan melahirkan ritual kosong.
Kebaya tidak cukup—kesadaran yang harus berubah.

2. Pendidikan Harus Menyentuh Kesadaran

Pendidikan tidak cukup hanya mencerdaskan intelektual, tetapi juga harus:

  • membangun empati
  • menumbuhkan penghargaan terhadap sesama
  • mengintegrasikan nilai spiritual

3. Perempuan Bukan Objek Pembangunan

Dalam banyak kebijakan, perempuan masih diposisikan sebagai “sasaran”.
Padahal seharusnya:

perempuan adalah subjek dan penggerak utama perubahan

4. Keseimbangan Energi dalam Kehidupan

Shakti mengajarkan bahwa kehidupan membutuhkan keseimbangan:

  • rasional dan intuitif
  • kekuatan dan kasih
  • struktur dan fleksibilitas

Tanpa keseimbangan ini, pembangunan menjadi timpang.

5. Kembali ke Nilai, Bukan Sekadar Tradisi

Menghidupkan Shakti bukan berarti kembali ke masa lalu, tetapi:

  • menggali esensi nilai
  • menerapkannya dalam konteks modern

Contoh Nyata dalam Kehidupan Sehari-hari

Bagaimana menghidupkan Shakti hari ini?

  • Dalam keluarga:
    menghargai suara perempuan dalam pengambilan keputusan
  • Dalam pendidikan:
    memberi ruang bagi anak perempuan untuk berpikir kritis dan kreatif
  • Dalam pekerjaan:
    menghapus diskriminasi dan memberi kesempatan setara
  • Dalam budaya:
    menghentikan normalisasi objektifikasi perempuan

Hal-hal ini sederhana, tetapi dampaknya mendalam.

Dari Kartini ke Kesadaran Kolektif

Kartini bukan akhir, melainkan awal.
Ia membuka pintu, tetapi perjalanan masih panjang.

Jika kita benar-benar memahami makna Shakti:

  • kita tidak akan lagi melihat perempuan sebagai obyek
  • tetapi sebagai bagian integral dari kehidupan itu sendiri

Dan ketika itu terjadi:

perubahan tidak lagi dipaksakan oleh hukum,
tetapi lahir dari kesadaran.

Menghidupkan Kembali Shakti

Hari Kartini seharusnya bukan hanya perayaan, tetapi perenungan.

Kita pernah memiliki peradaban yang memahami Shakti.
Kita memiliki tokoh-tokoh yang mewujudkannya.
Kita memiliki Kartini yang menghidupkannya kembali dalam konteks modern.

Pertanyaannya kini sederhana namun mendalam:

Apakah kita akan terus merayakan simbol,
atau mulai menghidupi kesadaran itu?

Karena pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik atau ekonomi, tetapi oleh satu hal yang lebih mendasar: tingkat kesadaran manusianya. [T]

Tags: Hari KartiniKartiniPerempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

Next Post

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

by Pande Susan
June 18, 2026
0
‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku...

Read moreDetails
Next Post
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi
Puisi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

by Mahesa Putra
June 21, 2026
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
Esai

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

by Made Chandra
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co