2 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
April 20, 2026
in Esai
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

ilustrasi tatkala.co | Canva

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika direnungkan lebih dalam, Kartini sesungguhnya bukan sekadar tokoh sejarah—ia adalah gema dari kesadaran yang berasal dari kebijakan Kuno Nusantara, namun masih sangat relevan dengan Manusia Modern, yang sering diingatkan oleh Guruji Anand Krishna: kesadaran tentang Shakti, energi hidup yang memberi daya, makna, dan arah bagi peradaban. Shakti adalah energi dinamis yang menggerakkan seluruh alam semesta. Tanpa Shakti, kesadaran murni (sering dipersonifikasikan sebagai Shiva) menjadi pasif. Karena itu ada ungkapan klasik: Shiva tanpa Shakti adalah shava (mayat).

Dalam perspektif Sanatana Dharma, perempuan bukan hanya bagian dari masyarakat, tetapi manifestasi energi kosmis itu sendiri. Ketika kesadaran ini hidup, peradaban menjadi seimbang. Ketika ia dilupakan, lahirlah ketimpangan—bahkan eksploitasi.

Hari Kartini seharusnya menjadi momentum untuk bertanya:
apakah kita benar-benar memahami perempuan sebagai Shakti, atau hanya merayakannya secara simbolik?

Shakti: Energi yang Menghidupkan, Bukan Sekadar Konsep

Dalam filsafat spiritual Timur, khususnya Sanatana Dharma, Shakti adalah energi dinamis—daya yang membuat kehidupan bergerak. Ia bukan sekadar “perempuan” dalam arti biologis, melainkan prinsip keberadaan itu sendiri.

Namun dalam kehidupan sosial, makna ini sering mengalami reduksi:

  • dari energi kosmis menjadi peran domestik
  • dari prinsip ilahi menjadi posisi subordinat
  • dari kekuatan menjadi objek

Di sinilah ironi muncul:
perempuan dimuliakan dalam teks atau di atas kertas, tetapi sering dilemahkan dalam realitas.

Nusantara: Jejak Kesadaran yang Pernah Hidup

Jika menengok sejarah Nusantara, kita menemukan bahwa konsep Shakti bukanlah sesuatu yang asing. Ia pernah hidup, bahkan menjadi bagian dari struktur kekuasaan dan budaya.

Di Aceh, misalnya, pernah berdiri kepemimpinan perempuan yang kuat, seperti:

  • Sultanah Safiatuddin
  • dan penerusnya dalam Kesultanan Aceh

Ini bukan anomali, melainkan bukti bahwa masyarakat pernah memiliki kesadaran kolektif yang menerima perempuan sebagai pemimpin.

Demikian pula dalam sejarah Jawa, kita mengenal:

  • Ratu Shima, yang terkenal dengan ketegasan moral dan integritas hukumnya

Ratu Shima bukan hanya simbol kekuasaan, tetapi simbol kesadaran: bahwa keadilan tidak ditentukan oleh gender, melainkan oleh kualitas batin.

Contoh-contoh ini menunjukkan satu hal penting:

Nusantara tidak asing dengan konsep Shakti—kita hanya pernah melupakannya.

Kartini: Shakti dalam Wujud Kesadaran Modern

Kartini hadir dalam konteks yang berbeda—masa kolonial, ketika struktur sosial semakin menekan perempuan. Namun perjuangannya bukan sekadar melawan adat atau kolonialisme.

Ia memperjuangkan sesuatu yang lebih dalam:

  • hak untuk berpikir
  • hak untuk berkembang
  • hak untuk menjadi manusia seutuhnya

Dalam bahasa spiritual, Kartini sedang:

membangkitkan kembali Shakti dalam bentuk kesadaran modern

Ia tidak menggunakan istilah Shakti, tetapi esensinya sama:
membebaskan energi kehidupan dari belenggu ketidaktahuan.

Paradoks Modern: Kemajuan Tanpa Kesadaran

Hari ini, perempuan memiliki lebih banyak akses:

  • pendidikan
  • pekerjaan
  • ruang publik

Namun paradoks tetap ada:

  • eksploitasi ekonomi masih terjadi
  • objektifikasi dalam media semakin masif
  • kekerasan berbasis gender belum hilang

Ini menunjukkan bahwa:

kemajuan struktural tidak selalu diikuti oleh kemajuan kesadaran

Tanpa kesadaran, kebebasan bisa berubah menjadi bentuk baru dari keterikatan.

Perspektif Kesadaran: Mengapa Eksploitasi Terjadi

Jika dilihat dari perspektif kesadaran, sejalan dengan pendekatan David Hawkins, eksploitasi lahir dari level kesadaran rendah:

  • ketakutan
  • kontrol
  • dominasi

Sementara penghormatan terhadap Shakti muncul dari level yang lebih tinggi:

  • cinta
  • penghargaan
  • kesatuan

Artinya, persoalan perempuan bukan semata persoalan sosial atau hukum, tetapi persoalan kesadaran manusia itu sendiri.

Pelajaran untuk Masyarakat Modern Indonesia

Dari seluruh refleksi ini, ada beberapa pelajaran penting:

1. Jangan Berhenti pada Simbol

Merayakan Kartini tanpa menghidupi nilainya hanya akan melahirkan ritual kosong.
Kebaya tidak cukup—kesadaran yang harus berubah.

2. Pendidikan Harus Menyentuh Kesadaran

Pendidikan tidak cukup hanya mencerdaskan intelektual, tetapi juga harus:

  • membangun empati
  • menumbuhkan penghargaan terhadap sesama
  • mengintegrasikan nilai spiritual

3. Perempuan Bukan Objek Pembangunan

Dalam banyak kebijakan, perempuan masih diposisikan sebagai “sasaran”.
Padahal seharusnya:

perempuan adalah subjek dan penggerak utama perubahan

4. Keseimbangan Energi dalam Kehidupan

Shakti mengajarkan bahwa kehidupan membutuhkan keseimbangan:

  • rasional dan intuitif
  • kekuatan dan kasih
  • struktur dan fleksibilitas

Tanpa keseimbangan ini, pembangunan menjadi timpang.

5. Kembali ke Nilai, Bukan Sekadar Tradisi

Menghidupkan Shakti bukan berarti kembali ke masa lalu, tetapi:

  • menggali esensi nilai
  • menerapkannya dalam konteks modern

Contoh Nyata dalam Kehidupan Sehari-hari

Bagaimana menghidupkan Shakti hari ini?

  • Dalam keluarga:
    menghargai suara perempuan dalam pengambilan keputusan
  • Dalam pendidikan:
    memberi ruang bagi anak perempuan untuk berpikir kritis dan kreatif
  • Dalam pekerjaan:
    menghapus diskriminasi dan memberi kesempatan setara
  • Dalam budaya:
    menghentikan normalisasi objektifikasi perempuan

Hal-hal ini sederhana, tetapi dampaknya mendalam.

Dari Kartini ke Kesadaran Kolektif

Kartini bukan akhir, melainkan awal.
Ia membuka pintu, tetapi perjalanan masih panjang.

Jika kita benar-benar memahami makna Shakti:

  • kita tidak akan lagi melihat perempuan sebagai obyek
  • tetapi sebagai bagian integral dari kehidupan itu sendiri

Dan ketika itu terjadi:

perubahan tidak lagi dipaksakan oleh hukum,
tetapi lahir dari kesadaran.

Menghidupkan Kembali Shakti

Hari Kartini seharusnya bukan hanya perayaan, tetapi perenungan.

Kita pernah memiliki peradaban yang memahami Shakti.
Kita memiliki tokoh-tokoh yang mewujudkannya.
Kita memiliki Kartini yang menghidupkannya kembali dalam konteks modern.

Pertanyaannya kini sederhana namun mendalam:

Apakah kita akan terus merayakan simbol,
atau mulai menghidupi kesadaran itu?

Karena pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik atau ekonomi, tetapi oleh satu hal yang lebih mendasar: tingkat kesadaran manusianya. [T]

Tags: Hari KartiniKartiniPerempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

Next Post

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails

Memang Pasar Malam

by Angga Wijaya
May 30, 2026
0
Memang Pasar Malam

BUKAN di sebuah kota kabupaten di Jawa. Bukan pula di lapangan alun-alun yang hanya ramai ketika ada perayaan tertentu. Pasar...

Read moreDetails

Kuta dan Peradaban Palegongan: Radikalisme Estetika di Ambang Pesisir

by I Gusti Made Darma Putra
May 29, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

KETIKA dunia menyebut Kuta hari ini, ingatan kolektif yang muncul hampir selalu seragam, pesisir yang riuh, lanskap global pariwisata, komodifikasi...

Read moreDetails

‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

by Ruben Cornelius Siagian
May 29, 2026
0
‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

TERBITNYA ensiklik Magnifica Humanitas: On Safeguarding the Human Person in the Time of Artificial Intelligence karya Paus Leo XIV menandai...

Read moreDetails
Next Post
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati
Khas

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

by Emi Suy
June 1, 2026
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif
Esai

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara
Budaya

Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara

BAYANGKAN sebuah dunia tanpa warna, tanpa garis, dan tanpa bayangan sejak pertama kali kamu membuka mata di dunia. Bagi kebanyakan...

by Satria Aditya
May 31, 2026
Radio Tua Kakek Panjul
Dongeng

Radio Tua Kakek Panjul

PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut...

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi
Cerpen

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu
Puisi

Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

Kelambu Suatu hari, aku bicara dengan kelambuDia berkeluh kesah tentangmalam itu doa-doakutidak sengaja tersangkut di ketiaknyaIa bilang ia khilaf dan...

by Muammar Qadafi Muhajir
May 31, 2026
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya
Ulas Buku

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co