22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
April 20, 2026
in Esai
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

ilustrasi tatkala.co | Canva

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika direnungkan lebih dalam, Kartini sesungguhnya bukan sekadar tokoh sejarah—ia adalah gema dari kesadaran yang berasal dari kebijakan Kuno Nusantara, namun masih sangat relevan dengan Manusia Modern, yang sering diingatkan oleh Guruji Anand Krishna: kesadaran tentang Shakti, energi hidup yang memberi daya, makna, dan arah bagi peradaban. Shakti adalah energi dinamis yang menggerakkan seluruh alam semesta. Tanpa Shakti, kesadaran murni (sering dipersonifikasikan sebagai Shiva) menjadi pasif. Karena itu ada ungkapan klasik: Shiva tanpa Shakti adalah shava (mayat).

Dalam perspektif Sanatana Dharma, perempuan bukan hanya bagian dari masyarakat, tetapi manifestasi energi kosmis itu sendiri. Ketika kesadaran ini hidup, peradaban menjadi seimbang. Ketika ia dilupakan, lahirlah ketimpangan—bahkan eksploitasi.

Hari Kartini seharusnya menjadi momentum untuk bertanya:
apakah kita benar-benar memahami perempuan sebagai Shakti, atau hanya merayakannya secara simbolik?

Shakti: Energi yang Menghidupkan, Bukan Sekadar Konsep

Dalam filsafat spiritual Timur, khususnya Sanatana Dharma, Shakti adalah energi dinamis—daya yang membuat kehidupan bergerak. Ia bukan sekadar “perempuan” dalam arti biologis, melainkan prinsip keberadaan itu sendiri.

Namun dalam kehidupan sosial, makna ini sering mengalami reduksi:

  • dari energi kosmis menjadi peran domestik
  • dari prinsip ilahi menjadi posisi subordinat
  • dari kekuatan menjadi objek

Di sinilah ironi muncul:
perempuan dimuliakan dalam teks atau di atas kertas, tetapi sering dilemahkan dalam realitas.

Nusantara: Jejak Kesadaran yang Pernah Hidup

Jika menengok sejarah Nusantara, kita menemukan bahwa konsep Shakti bukanlah sesuatu yang asing. Ia pernah hidup, bahkan menjadi bagian dari struktur kekuasaan dan budaya.

Di Aceh, misalnya, pernah berdiri kepemimpinan perempuan yang kuat, seperti:

  • Sultanah Safiatuddin
  • dan penerusnya dalam Kesultanan Aceh

Ini bukan anomali, melainkan bukti bahwa masyarakat pernah memiliki kesadaran kolektif yang menerima perempuan sebagai pemimpin.

Demikian pula dalam sejarah Jawa, kita mengenal:

  • Ratu Shima, yang terkenal dengan ketegasan moral dan integritas hukumnya

Ratu Shima bukan hanya simbol kekuasaan, tetapi simbol kesadaran: bahwa keadilan tidak ditentukan oleh gender, melainkan oleh kualitas batin.

Contoh-contoh ini menunjukkan satu hal penting:

Nusantara tidak asing dengan konsep Shakti—kita hanya pernah melupakannya.

Kartini: Shakti dalam Wujud Kesadaran Modern

Kartini hadir dalam konteks yang berbeda—masa kolonial, ketika struktur sosial semakin menekan perempuan. Namun perjuangannya bukan sekadar melawan adat atau kolonialisme.

Ia memperjuangkan sesuatu yang lebih dalam:

  • hak untuk berpikir
  • hak untuk berkembang
  • hak untuk menjadi manusia seutuhnya

Dalam bahasa spiritual, Kartini sedang:

membangkitkan kembali Shakti dalam bentuk kesadaran modern

Ia tidak menggunakan istilah Shakti, tetapi esensinya sama:
membebaskan energi kehidupan dari belenggu ketidaktahuan.

Paradoks Modern: Kemajuan Tanpa Kesadaran

Hari ini, perempuan memiliki lebih banyak akses:

  • pendidikan
  • pekerjaan
  • ruang publik

Namun paradoks tetap ada:

  • eksploitasi ekonomi masih terjadi
  • objektifikasi dalam media semakin masif
  • kekerasan berbasis gender belum hilang

Ini menunjukkan bahwa:

kemajuan struktural tidak selalu diikuti oleh kemajuan kesadaran

Tanpa kesadaran, kebebasan bisa berubah menjadi bentuk baru dari keterikatan.

Perspektif Kesadaran: Mengapa Eksploitasi Terjadi

Jika dilihat dari perspektif kesadaran, sejalan dengan pendekatan David Hawkins, eksploitasi lahir dari level kesadaran rendah:

  • ketakutan
  • kontrol
  • dominasi

Sementara penghormatan terhadap Shakti muncul dari level yang lebih tinggi:

  • cinta
  • penghargaan
  • kesatuan

Artinya, persoalan perempuan bukan semata persoalan sosial atau hukum, tetapi persoalan kesadaran manusia itu sendiri.

Pelajaran untuk Masyarakat Modern Indonesia

Dari seluruh refleksi ini, ada beberapa pelajaran penting:

1. Jangan Berhenti pada Simbol

Merayakan Kartini tanpa menghidupi nilainya hanya akan melahirkan ritual kosong.
Kebaya tidak cukup—kesadaran yang harus berubah.

2. Pendidikan Harus Menyentuh Kesadaran

Pendidikan tidak cukup hanya mencerdaskan intelektual, tetapi juga harus:

  • membangun empati
  • menumbuhkan penghargaan terhadap sesama
  • mengintegrasikan nilai spiritual

3. Perempuan Bukan Objek Pembangunan

Dalam banyak kebijakan, perempuan masih diposisikan sebagai “sasaran”.
Padahal seharusnya:

perempuan adalah subjek dan penggerak utama perubahan

4. Keseimbangan Energi dalam Kehidupan

Shakti mengajarkan bahwa kehidupan membutuhkan keseimbangan:

  • rasional dan intuitif
  • kekuatan dan kasih
  • struktur dan fleksibilitas

Tanpa keseimbangan ini, pembangunan menjadi timpang.

5. Kembali ke Nilai, Bukan Sekadar Tradisi

Menghidupkan Shakti bukan berarti kembali ke masa lalu, tetapi:

  • menggali esensi nilai
  • menerapkannya dalam konteks modern

Contoh Nyata dalam Kehidupan Sehari-hari

Bagaimana menghidupkan Shakti hari ini?

  • Dalam keluarga:
    menghargai suara perempuan dalam pengambilan keputusan
  • Dalam pendidikan:
    memberi ruang bagi anak perempuan untuk berpikir kritis dan kreatif
  • Dalam pekerjaan:
    menghapus diskriminasi dan memberi kesempatan setara
  • Dalam budaya:
    menghentikan normalisasi objektifikasi perempuan

Hal-hal ini sederhana, tetapi dampaknya mendalam.

Dari Kartini ke Kesadaran Kolektif

Kartini bukan akhir, melainkan awal.
Ia membuka pintu, tetapi perjalanan masih panjang.

Jika kita benar-benar memahami makna Shakti:

  • kita tidak akan lagi melihat perempuan sebagai obyek
  • tetapi sebagai bagian integral dari kehidupan itu sendiri

Dan ketika itu terjadi:

perubahan tidak lagi dipaksakan oleh hukum,
tetapi lahir dari kesadaran.

Menghidupkan Kembali Shakti

Hari Kartini seharusnya bukan hanya perayaan, tetapi perenungan.

Kita pernah memiliki peradaban yang memahami Shakti.
Kita memiliki tokoh-tokoh yang mewujudkannya.
Kita memiliki Kartini yang menghidupkannya kembali dalam konteks modern.

Pertanyaannya kini sederhana namun mendalam:

Apakah kita akan terus merayakan simbol,
atau mulai menghidupi kesadaran itu?

Karena pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik atau ekonomi, tetapi oleh satu hal yang lebih mendasar: tingkat kesadaran manusianya. [T]

Tags: Hari KartiniKartiniPerempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

Next Post

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails
Next Post
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co