23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
April 20, 2026
in Esai
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

ilustrasi tatkala.co | Canva

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika direnungkan lebih dalam, Kartini sesungguhnya bukan sekadar tokoh sejarah—ia adalah gema dari kesadaran yang berasal dari kebijakan Kuno Nusantara, namun masih sangat relevan dengan Manusia Modern, yang sering diingatkan oleh Guruji Anand Krishna: kesadaran tentang Shakti, energi hidup yang memberi daya, makna, dan arah bagi peradaban. Shakti adalah energi dinamis yang menggerakkan seluruh alam semesta. Tanpa Shakti, kesadaran murni (sering dipersonifikasikan sebagai Shiva) menjadi pasif. Karena itu ada ungkapan klasik: Shiva tanpa Shakti adalah shava (mayat).

Dalam perspektif Sanatana Dharma, perempuan bukan hanya bagian dari masyarakat, tetapi manifestasi energi kosmis itu sendiri. Ketika kesadaran ini hidup, peradaban menjadi seimbang. Ketika ia dilupakan, lahirlah ketimpangan—bahkan eksploitasi.

Hari Kartini seharusnya menjadi momentum untuk bertanya:
apakah kita benar-benar memahami perempuan sebagai Shakti, atau hanya merayakannya secara simbolik?

Shakti: Energi yang Menghidupkan, Bukan Sekadar Konsep

Dalam filsafat spiritual Timur, khususnya Sanatana Dharma, Shakti adalah energi dinamis—daya yang membuat kehidupan bergerak. Ia bukan sekadar “perempuan” dalam arti biologis, melainkan prinsip keberadaan itu sendiri.

Namun dalam kehidupan sosial, makna ini sering mengalami reduksi:

  • dari energi kosmis menjadi peran domestik
  • dari prinsip ilahi menjadi posisi subordinat
  • dari kekuatan menjadi objek

Di sinilah ironi muncul:
perempuan dimuliakan dalam teks atau di atas kertas, tetapi sering dilemahkan dalam realitas.

Nusantara: Jejak Kesadaran yang Pernah Hidup

Jika menengok sejarah Nusantara, kita menemukan bahwa konsep Shakti bukanlah sesuatu yang asing. Ia pernah hidup, bahkan menjadi bagian dari struktur kekuasaan dan budaya.

Di Aceh, misalnya, pernah berdiri kepemimpinan perempuan yang kuat, seperti:

  • Sultanah Safiatuddin
  • dan penerusnya dalam Kesultanan Aceh

Ini bukan anomali, melainkan bukti bahwa masyarakat pernah memiliki kesadaran kolektif yang menerima perempuan sebagai pemimpin.

Demikian pula dalam sejarah Jawa, kita mengenal:

  • Ratu Shima, yang terkenal dengan ketegasan moral dan integritas hukumnya

Ratu Shima bukan hanya simbol kekuasaan, tetapi simbol kesadaran: bahwa keadilan tidak ditentukan oleh gender, melainkan oleh kualitas batin.

Contoh-contoh ini menunjukkan satu hal penting:

Nusantara tidak asing dengan konsep Shakti—kita hanya pernah melupakannya.

Kartini: Shakti dalam Wujud Kesadaran Modern

Kartini hadir dalam konteks yang berbeda—masa kolonial, ketika struktur sosial semakin menekan perempuan. Namun perjuangannya bukan sekadar melawan adat atau kolonialisme.

Ia memperjuangkan sesuatu yang lebih dalam:

  • hak untuk berpikir
  • hak untuk berkembang
  • hak untuk menjadi manusia seutuhnya

Dalam bahasa spiritual, Kartini sedang:

membangkitkan kembali Shakti dalam bentuk kesadaran modern

Ia tidak menggunakan istilah Shakti, tetapi esensinya sama:
membebaskan energi kehidupan dari belenggu ketidaktahuan.

Paradoks Modern: Kemajuan Tanpa Kesadaran

Hari ini, perempuan memiliki lebih banyak akses:

  • pendidikan
  • pekerjaan
  • ruang publik

Namun paradoks tetap ada:

  • eksploitasi ekonomi masih terjadi
  • objektifikasi dalam media semakin masif
  • kekerasan berbasis gender belum hilang

Ini menunjukkan bahwa:

kemajuan struktural tidak selalu diikuti oleh kemajuan kesadaran

Tanpa kesadaran, kebebasan bisa berubah menjadi bentuk baru dari keterikatan.

Perspektif Kesadaran: Mengapa Eksploitasi Terjadi

Jika dilihat dari perspektif kesadaran, sejalan dengan pendekatan David Hawkins, eksploitasi lahir dari level kesadaran rendah:

  • ketakutan
  • kontrol
  • dominasi

Sementara penghormatan terhadap Shakti muncul dari level yang lebih tinggi:

  • cinta
  • penghargaan
  • kesatuan

Artinya, persoalan perempuan bukan semata persoalan sosial atau hukum, tetapi persoalan kesadaran manusia itu sendiri.

Pelajaran untuk Masyarakat Modern Indonesia

Dari seluruh refleksi ini, ada beberapa pelajaran penting:

1. Jangan Berhenti pada Simbol

Merayakan Kartini tanpa menghidupi nilainya hanya akan melahirkan ritual kosong.
Kebaya tidak cukup—kesadaran yang harus berubah.

2. Pendidikan Harus Menyentuh Kesadaran

Pendidikan tidak cukup hanya mencerdaskan intelektual, tetapi juga harus:

  • membangun empati
  • menumbuhkan penghargaan terhadap sesama
  • mengintegrasikan nilai spiritual

3. Perempuan Bukan Objek Pembangunan

Dalam banyak kebijakan, perempuan masih diposisikan sebagai “sasaran”.
Padahal seharusnya:

perempuan adalah subjek dan penggerak utama perubahan

4. Keseimbangan Energi dalam Kehidupan

Shakti mengajarkan bahwa kehidupan membutuhkan keseimbangan:

  • rasional dan intuitif
  • kekuatan dan kasih
  • struktur dan fleksibilitas

Tanpa keseimbangan ini, pembangunan menjadi timpang.

5. Kembali ke Nilai, Bukan Sekadar Tradisi

Menghidupkan Shakti bukan berarti kembali ke masa lalu, tetapi:

  • menggali esensi nilai
  • menerapkannya dalam konteks modern

Contoh Nyata dalam Kehidupan Sehari-hari

Bagaimana menghidupkan Shakti hari ini?

  • Dalam keluarga:
    menghargai suara perempuan dalam pengambilan keputusan
  • Dalam pendidikan:
    memberi ruang bagi anak perempuan untuk berpikir kritis dan kreatif
  • Dalam pekerjaan:
    menghapus diskriminasi dan memberi kesempatan setara
  • Dalam budaya:
    menghentikan normalisasi objektifikasi perempuan

Hal-hal ini sederhana, tetapi dampaknya mendalam.

Dari Kartini ke Kesadaran Kolektif

Kartini bukan akhir, melainkan awal.
Ia membuka pintu, tetapi perjalanan masih panjang.

Jika kita benar-benar memahami makna Shakti:

  • kita tidak akan lagi melihat perempuan sebagai obyek
  • tetapi sebagai bagian integral dari kehidupan itu sendiri

Dan ketika itu terjadi:

perubahan tidak lagi dipaksakan oleh hukum,
tetapi lahir dari kesadaran.

Menghidupkan Kembali Shakti

Hari Kartini seharusnya bukan hanya perayaan, tetapi perenungan.

Kita pernah memiliki peradaban yang memahami Shakti.
Kita memiliki tokoh-tokoh yang mewujudkannya.
Kita memiliki Kartini yang menghidupkannya kembali dalam konteks modern.

Pertanyaannya kini sederhana namun mendalam:

Apakah kita akan terus merayakan simbol,
atau mulai menghidupi kesadaran itu?

Karena pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik atau ekonomi, tetapi oleh satu hal yang lebih mendasar: tingkat kesadaran manusianya. [T]

Tags: Hari KartiniKartiniPerempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

Next Post

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co