2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
April 20, 2026
in Esai
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

ilustrasi tatkala.co | Canva

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika direnungkan lebih dalam, Kartini sesungguhnya bukan sekadar tokoh sejarah—ia adalah gema dari kesadaran yang berasal dari kebijakan Kuno Nusantara, namun masih sangat relevan dengan Manusia Modern, yang sering diingatkan oleh Guruji Anand Krishna: kesadaran tentang Shakti, energi hidup yang memberi daya, makna, dan arah bagi peradaban. Shakti adalah energi dinamis yang menggerakkan seluruh alam semesta. Tanpa Shakti, kesadaran murni (sering dipersonifikasikan sebagai Shiva) menjadi pasif. Karena itu ada ungkapan klasik: Shiva tanpa Shakti adalah shava (mayat).

Dalam perspektif Sanatana Dharma, perempuan bukan hanya bagian dari masyarakat, tetapi manifestasi energi kosmis itu sendiri. Ketika kesadaran ini hidup, peradaban menjadi seimbang. Ketika ia dilupakan, lahirlah ketimpangan—bahkan eksploitasi.

Hari Kartini seharusnya menjadi momentum untuk bertanya:
apakah kita benar-benar memahami perempuan sebagai Shakti, atau hanya merayakannya secara simbolik?

Shakti: Energi yang Menghidupkan, Bukan Sekadar Konsep

Dalam filsafat spiritual Timur, khususnya Sanatana Dharma, Shakti adalah energi dinamis—daya yang membuat kehidupan bergerak. Ia bukan sekadar “perempuan” dalam arti biologis, melainkan prinsip keberadaan itu sendiri.

Namun dalam kehidupan sosial, makna ini sering mengalami reduksi:

  • dari energi kosmis menjadi peran domestik
  • dari prinsip ilahi menjadi posisi subordinat
  • dari kekuatan menjadi objek

Di sinilah ironi muncul:
perempuan dimuliakan dalam teks atau di atas kertas, tetapi sering dilemahkan dalam realitas.

Nusantara: Jejak Kesadaran yang Pernah Hidup

Jika menengok sejarah Nusantara, kita menemukan bahwa konsep Shakti bukanlah sesuatu yang asing. Ia pernah hidup, bahkan menjadi bagian dari struktur kekuasaan dan budaya.

Di Aceh, misalnya, pernah berdiri kepemimpinan perempuan yang kuat, seperti:

  • Sultanah Safiatuddin
  • dan penerusnya dalam Kesultanan Aceh

Ini bukan anomali, melainkan bukti bahwa masyarakat pernah memiliki kesadaran kolektif yang menerima perempuan sebagai pemimpin.

Demikian pula dalam sejarah Jawa, kita mengenal:

  • Ratu Shima, yang terkenal dengan ketegasan moral dan integritas hukumnya

Ratu Shima bukan hanya simbol kekuasaan, tetapi simbol kesadaran: bahwa keadilan tidak ditentukan oleh gender, melainkan oleh kualitas batin.

Contoh-contoh ini menunjukkan satu hal penting:

Nusantara tidak asing dengan konsep Shakti—kita hanya pernah melupakannya.

Kartini: Shakti dalam Wujud Kesadaran Modern

Kartini hadir dalam konteks yang berbeda—masa kolonial, ketika struktur sosial semakin menekan perempuan. Namun perjuangannya bukan sekadar melawan adat atau kolonialisme.

Ia memperjuangkan sesuatu yang lebih dalam:

  • hak untuk berpikir
  • hak untuk berkembang
  • hak untuk menjadi manusia seutuhnya

Dalam bahasa spiritual, Kartini sedang:

membangkitkan kembali Shakti dalam bentuk kesadaran modern

Ia tidak menggunakan istilah Shakti, tetapi esensinya sama:
membebaskan energi kehidupan dari belenggu ketidaktahuan.

Paradoks Modern: Kemajuan Tanpa Kesadaran

Hari ini, perempuan memiliki lebih banyak akses:

  • pendidikan
  • pekerjaan
  • ruang publik

Namun paradoks tetap ada:

  • eksploitasi ekonomi masih terjadi
  • objektifikasi dalam media semakin masif
  • kekerasan berbasis gender belum hilang

Ini menunjukkan bahwa:

kemajuan struktural tidak selalu diikuti oleh kemajuan kesadaran

Tanpa kesadaran, kebebasan bisa berubah menjadi bentuk baru dari keterikatan.

Perspektif Kesadaran: Mengapa Eksploitasi Terjadi

Jika dilihat dari perspektif kesadaran, sejalan dengan pendekatan David Hawkins, eksploitasi lahir dari level kesadaran rendah:

  • ketakutan
  • kontrol
  • dominasi

Sementara penghormatan terhadap Shakti muncul dari level yang lebih tinggi:

  • cinta
  • penghargaan
  • kesatuan

Artinya, persoalan perempuan bukan semata persoalan sosial atau hukum, tetapi persoalan kesadaran manusia itu sendiri.

Pelajaran untuk Masyarakat Modern Indonesia

Dari seluruh refleksi ini, ada beberapa pelajaran penting:

1. Jangan Berhenti pada Simbol

Merayakan Kartini tanpa menghidupi nilainya hanya akan melahirkan ritual kosong.
Kebaya tidak cukup—kesadaran yang harus berubah.

2. Pendidikan Harus Menyentuh Kesadaran

Pendidikan tidak cukup hanya mencerdaskan intelektual, tetapi juga harus:

  • membangun empati
  • menumbuhkan penghargaan terhadap sesama
  • mengintegrasikan nilai spiritual

3. Perempuan Bukan Objek Pembangunan

Dalam banyak kebijakan, perempuan masih diposisikan sebagai “sasaran”.
Padahal seharusnya:

perempuan adalah subjek dan penggerak utama perubahan

4. Keseimbangan Energi dalam Kehidupan

Shakti mengajarkan bahwa kehidupan membutuhkan keseimbangan:

  • rasional dan intuitif
  • kekuatan dan kasih
  • struktur dan fleksibilitas

Tanpa keseimbangan ini, pembangunan menjadi timpang.

5. Kembali ke Nilai, Bukan Sekadar Tradisi

Menghidupkan Shakti bukan berarti kembali ke masa lalu, tetapi:

  • menggali esensi nilai
  • menerapkannya dalam konteks modern

Contoh Nyata dalam Kehidupan Sehari-hari

Bagaimana menghidupkan Shakti hari ini?

  • Dalam keluarga:
    menghargai suara perempuan dalam pengambilan keputusan
  • Dalam pendidikan:
    memberi ruang bagi anak perempuan untuk berpikir kritis dan kreatif
  • Dalam pekerjaan:
    menghapus diskriminasi dan memberi kesempatan setara
  • Dalam budaya:
    menghentikan normalisasi objektifikasi perempuan

Hal-hal ini sederhana, tetapi dampaknya mendalam.

Dari Kartini ke Kesadaran Kolektif

Kartini bukan akhir, melainkan awal.
Ia membuka pintu, tetapi perjalanan masih panjang.

Jika kita benar-benar memahami makna Shakti:

  • kita tidak akan lagi melihat perempuan sebagai obyek
  • tetapi sebagai bagian integral dari kehidupan itu sendiri

Dan ketika itu terjadi:

perubahan tidak lagi dipaksakan oleh hukum,
tetapi lahir dari kesadaran.

Menghidupkan Kembali Shakti

Hari Kartini seharusnya bukan hanya perayaan, tetapi perenungan.

Kita pernah memiliki peradaban yang memahami Shakti.
Kita memiliki tokoh-tokoh yang mewujudkannya.
Kita memiliki Kartini yang menghidupkannya kembali dalam konteks modern.

Pertanyaannya kini sederhana namun mendalam:

Apakah kita akan terus merayakan simbol,
atau mulai menghidupi kesadaran itu?

Karena pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik atau ekonomi, tetapi oleh satu hal yang lebih mendasar: tingkat kesadaran manusianya. [T]

Tags: Hari KartiniKartiniPerempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

Next Post

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co