23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Empat Tokoh Agung yang Memilih Pihak Kurawa: Pelajaran dari Mahabharata dalam Perspektif Peta Kesadaran Hawkins

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
August 13, 2025
in Esai
Empat Tokoh Agung yang Memilih Pihak Kurawa: Pelajaran dari Mahabharata dalam Perspektif Peta Kesadaran Hawkins

Tokoh-tokoh wayang | Ilustrasi tatkala.co | gambar-gambar diambil di internet

KETIKA perang Mahabharata meletus di Kurukshetra, kebenaran yang sebelumnya samar menjadi jelas. Kita bisa melihat siapa yang memilih berdiri di pihak Kurawa dan siapa yang berada di pihak Pandawa. Ironisnya, beberapa tokoh agung dan luhur justru memilih berada di pihak yang secara moral kalah: Kurawa.

Empat tokoh itu adalah:

Bhisma – kakek agung yang disegani karena kebijaksanaannya.

Drona – guru besar panah dan perang, yang mencintai Arjuna sebagai murid kesayangan.

Karna – putra Kunti, kakak tiri Pandawa, yang sepanjang hidupnya merasa sebagai orang luar.

Salya – raja Madra, paman Pandawa, yang terjebak dalam tipu daya politik Duryodhana.

Mengapa mereka berpihak ke Kurawa? Jawabannya tidak sederhana. Kita perlu melihat dari tiga lapis: konteks sosial-politik, ikatan pribadi, dan nilai yang mereka pegang.

Bhisma: Sumpah yang Mengikat di Atas Segalanya

Bhisma adalah simbol kesetiaan pada sumpah. Sejak muda ia berikrar untuk mendukung takhta Hastinapura tanpa memandang siapa yang memegangnya. Sumpah ini ia ambil demi memastikan ayahnya, Raja Santanu, dapat menikahi Dewi Satyawati.
Ketika Hastinapura dikuasai Duryodhana, meski ia tahu Pandawa adalah pihak yang benar, ia tetap memegang sumpahnya. Bhisma memilih kesetiaan pada janji di atas kesetiaan pada kebenaran.

Refleksi: Dalam konteks modern, kita sering melihat orang yang terjebak dalam kontrak politik, loyalitas jabatan, atau sumpah dinas yang membuatnya membela pihak salah demi menjaga konsistensi formal. Bhisma adalah gambaran bahwa kesetiaan tanpa kebijaksanaan bisa menjadi pedang bermata dua.

Drona: Hutang Budi dan Kewajiban Profesional

Drona lahir dari keluarga brahmana miskin dan pernah dihina karena kemiskinannya. Hidupnya berubah ketika ia diundang mengajar di istana Hastinapura. Ia mendapat kehormatan, gaji, dan perlindungan dari Raja.
Secara pribadi ia mencintai Arjuna seperti anak sendiri. Namun secara profesional, ia adalah guru yang digaji kerajaan. Ketika Duryodhana berkuasa, secara struktur ia menjadi pelayan Kurawa. Hutang budi dan rasa terikat pada pemberi nafkah membuatnya tidak bisa membelot ke Pandawa.

Refleksi: Di zaman sekarang, banyak profesional, akademisi, atau aparatur negara yang mengetahui mana yang benar, tetapi terikat kontrak dan penghidupan. Dilema etis seperti ini muncul di birokrasi, korporasi, hingga perguruan tinggi: loyal pada pemberi gaji, atau loyal pada kebenaran?

Karna: Luka Batin dan Solidaritas Sosial

Karna lahir sebagai anak Kunti dari Dewa Surya sebelum pernikahannya. Ia dibuang dan dibesarkan oleh keluarga kusir. Meski berbakat luar biasa, ia sering dihina karena status sosialnya.
Ketika Duryodhana memahkotainya sebagai raja Angga, Karna merasakan pengakuan dan persahabatan yang tidak ia dapatkan dari Pandawa. Meski tahu Pandawa adalah saudara kandungnya, ia tetap memilih solidaritas kepada sahabat yang menerima dirinya di masa sulit.

Refleksi: Di masa kini, luka batin karena diskriminasi sosial bisa membentuk loyalitas emosional yang sulit ditembus oleh kebenaran rasional. Banyak orang bertahan di pihak salah karena merasa utang emosional pada mereka yang mengangkat harga dirinya.

Salya: Terjebak dalam Tipu Daya

Salya, raja Madra sekaligus paman Pandawa, awalnya berniat membantu Pandawa. Namun Duryodhana menipunya dengan jamuan megah sehingga Salya, terikat pada etika ksatria untuk membalas budi, justru harus menjadi kusir Karna di pihak Kurawa.
Refleksi: di masa kini, banyak orang terjebak manipulasi halus dan politik pencitraan, sehingga tanpa sadar membela pihak yang keliru. Fenomena ini terjadi di politik, bisnis, bahkan lingkungan adat.

Refleksi Kekinian

Konteks Lokal Bali

Di Bali, konflik sosial atau politik adat sering memperlihatkan pola Bhisma, Drona, Karna, dan Salya:

  • Bhisma Bali: Tokoh adat atau pemangku yang terikat awig-awig meski tahu keputusan itu tidak adil.
  • Drona Bali: Aparat desa atau ASN yang ikut kebijakan atasan walau bertentangan dengan hati nurani.
  • Karna Bali: Warga atau pemuda yang membela kelompok tertentu karena pernah dibantu, meski kelompok itu keliru.
  • Salya Bali: Tokoh yang awalnya berpihak ke benar, namun terseret karena jebakan diplomasi atau pencitraan.

Konteks Nasional Indonesia

Di tingkat nasional, kita melihat pola yang sama dalam politik:

  • Bhisma Indonesia: Politisi atau pejabat yang tetap setia pada partai meski kebijakan partai merugikan rakyat.
  • Drona Indonesia: Profesional atau aparat penegak hukum yang patuh pada instruksi atasan walau tahu salah.
  • Karna Indonesia: Aktivis atau pengusaha yang membela figur tertentu karena pernah memberi modal atau dukungan.
  • Salya Indonesia: Tokoh publik yang awalnya berpihak pada reformasi, tapi berubah arah karena terjebak manuver politik.

Konteks Global

Secara global, fenomena serupa muncul:

  • Bhisma Dunia: Negara yang tetap mendukung aliansinya walau aliansi itu melakukan pelanggaran HAM.
  • Drona Dunia: Ilmuwan yang bekerja untuk korporasi besar dan memproduksi riset bias demi kontrak.
  • Karna Dunia: Negara atau kelompok yang tetap mendukung pihak salah karena pernah diselamatkan dari krisis.
  • Salya Dunia: Pemimpin dunia yang awalnya berpihak pada perdamaian, tapi termakan diplomasi licik sehingga mendukung perang.

Pemetaan dalam Peta Kesadaran Hawkins

David R. Hawkins dalam Power vs. Force memetakan kesadaran manusia dari level terendah (Shame, 20) hingga tertinggi (Enlightenment, 700–1000). Meskipun keempat tokoh Mahabharata ini adalah ksatria dengan kapasitas tinggi, keputusan mereka di medan perang menunjukkan bahwa tingkat kesadaran tidak selalu stabil.

Bhisma – Courage (200) → Loyalty/Attachment
Bhisma memiliki keberanian moral, tetapi tertahan oleh keterikatan pada sumpah. Energinya tidak sepenuhnya bebas untuk mengikuti kebenaran universal. Untuk naik level, ia perlu bergerak ke Love (500), di mana kasih dan dharma menjadi panduan.

Drona – Pride (175) → Fear (100)
Drona menjaga status sosial dan menghindari kehilangan penghidupan. Pride dan Fear menahan kenaikan kesadarannya ke Courage. Ia memilih keamanan pribadi di atas kebenaran.

Karna – Anger (150) → Courage (200)
Kemarahan karena penolakan sosial mendorongnya berani berjuang, tetapi keberanian ini diarahkan pada loyalitas pribadi, bukan pada dharma. Ia berpotensi naik lebih tinggi jika melampaui luka batin.

Salya – Neutrality (250) → Guilt (30)
Awalnya netral, Salya jatuh drastis ke rasa bersalah setelah terjebak manipulasi. Guilt memiliki energi rendah yang melemahkan kemampuan mengambil keputusan bijak.

Pola Umum dari Peta Hawkins

Jika dipetakan:

  • Bhisma: Courage (200) stabil tapi terikat.
  • Drona: Pride (175) turun ke Fear (100).
  • Karna: Anger (150) naik ke Courage (200).
  • Salya: Neutrality (250) jatuh ke Guilt (30).

Pesannya jelas: bahkan tokoh agung pun bisa turun level jika keputusan diwarnai ego, keterikatan, atau manipulasi.

Memilih Pandawa dalam Diri Kita

Perang Mahabharata disamping sebagai ithiasa yang artinya sebuah sejarah yang benar terjadi sekitar 3000 tahun sebelum Masehi, juga adalah cermin batin. Bhisma, Drona, Karna, dan Salya hidup dalam diri kita semua:

  • Kita pernah menjadi Bhisma ketika memilih diam demi menjaga janji atau loyalitas.
  • Kita pernah menjadi Drona ketika mengikuti perintah meski hati menolak.
  • Kita pernah menjadi Karna ketika membela sahabat yang keliru demi rasa terima kasih.
  • Kita pernah menjadi Salya ketika terseret manipulasi yang rapi disamarkan.

Pesan dari Hawkins: untuk berada di pihak Pandawa (kebenaran), kita harus menjaga kesadaran di atas Courage dan terus naik menuju Love, Joy, dan Peace, karena di sanalah keputusan bebas dari rasa takut, gengsi, hutang budi, dan manipulasi.

Memilih Pandawa berarti memilih berdiri di sisi yang benar, meski sulit, meski berisiko.

Karena hidup adalah sebuah pilihan, maka memilihlah secara bijak. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Dharma Kshatriya: Refleksi atas Krisis Sampah di Bali
Antara Kekuasaan dan Kesadaran: Mencari Makna Spiritual dalam Era Digital Indonesia
Bali Bukan untuk Dijual: Seruan Kesadaran untuk Generasi Muda di Tengah Invasi Harapan Semu
Mula Keto: Membaca Ulang Kearifan Lokal Bali dalam Cahaya Kesadaran
Alih Dewa di Deweke: Kearifan Lokal Bali dalam Perspektif Global
Sreya atau Preya: Saatnya Memilih Jalan yang Memuliakan Ibu Bumi
Melampaui Logika: Memaknai Kembali Mistisisme dalam Cahaya Filsafat Timur, Kritik atas Bertrand Russell
Tags: filosofifilsafatfilsafat baliMahabharatarefleksiTokoh BismaTokoh DronaTokoh KarnaTokoh Salyawayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Seni “Partisipatoris” atawa Sama Rasa Sama Rata

Next Post

Dari Tunai ke Digital, QRIS Uji Kepercayaan Warga Gunaksa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Dari Tunai ke Digital, QRIS Uji Kepercayaan Warga Gunaksa

Dari Tunai ke Digital, QRIS Uji Kepercayaan Warga Gunaksa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co