3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Empat Tokoh Agung yang Memilih Pihak Kurawa: Pelajaran dari Mahabharata dalam Perspektif Peta Kesadaran Hawkins

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
August 13, 2025
in Esai
Empat Tokoh Agung yang Memilih Pihak Kurawa: Pelajaran dari Mahabharata dalam Perspektif Peta Kesadaran Hawkins

Tokoh-tokoh wayang | Ilustrasi tatkala.co | gambar-gambar diambil di internet

KETIKA perang Mahabharata meletus di Kurukshetra, kebenaran yang sebelumnya samar menjadi jelas. Kita bisa melihat siapa yang memilih berdiri di pihak Kurawa dan siapa yang berada di pihak Pandawa. Ironisnya, beberapa tokoh agung dan luhur justru memilih berada di pihak yang secara moral kalah: Kurawa.

Empat tokoh itu adalah:

Bhisma – kakek agung yang disegani karena kebijaksanaannya.

Drona – guru besar panah dan perang, yang mencintai Arjuna sebagai murid kesayangan.

Karna – putra Kunti, kakak tiri Pandawa, yang sepanjang hidupnya merasa sebagai orang luar.

Salya – raja Madra, paman Pandawa, yang terjebak dalam tipu daya politik Duryodhana.

Mengapa mereka berpihak ke Kurawa? Jawabannya tidak sederhana. Kita perlu melihat dari tiga lapis: konteks sosial-politik, ikatan pribadi, dan nilai yang mereka pegang.

Bhisma: Sumpah yang Mengikat di Atas Segalanya

Bhisma adalah simbol kesetiaan pada sumpah. Sejak muda ia berikrar untuk mendukung takhta Hastinapura tanpa memandang siapa yang memegangnya. Sumpah ini ia ambil demi memastikan ayahnya, Raja Santanu, dapat menikahi Dewi Satyawati.
Ketika Hastinapura dikuasai Duryodhana, meski ia tahu Pandawa adalah pihak yang benar, ia tetap memegang sumpahnya. Bhisma memilih kesetiaan pada janji di atas kesetiaan pada kebenaran.

Refleksi: Dalam konteks modern, kita sering melihat orang yang terjebak dalam kontrak politik, loyalitas jabatan, atau sumpah dinas yang membuatnya membela pihak salah demi menjaga konsistensi formal. Bhisma adalah gambaran bahwa kesetiaan tanpa kebijaksanaan bisa menjadi pedang bermata dua.

Drona: Hutang Budi dan Kewajiban Profesional

Drona lahir dari keluarga brahmana miskin dan pernah dihina karena kemiskinannya. Hidupnya berubah ketika ia diundang mengajar di istana Hastinapura. Ia mendapat kehormatan, gaji, dan perlindungan dari Raja.
Secara pribadi ia mencintai Arjuna seperti anak sendiri. Namun secara profesional, ia adalah guru yang digaji kerajaan. Ketika Duryodhana berkuasa, secara struktur ia menjadi pelayan Kurawa. Hutang budi dan rasa terikat pada pemberi nafkah membuatnya tidak bisa membelot ke Pandawa.

Refleksi: Di zaman sekarang, banyak profesional, akademisi, atau aparatur negara yang mengetahui mana yang benar, tetapi terikat kontrak dan penghidupan. Dilema etis seperti ini muncul di birokrasi, korporasi, hingga perguruan tinggi: loyal pada pemberi gaji, atau loyal pada kebenaran?

Karna: Luka Batin dan Solidaritas Sosial

Karna lahir sebagai anak Kunti dari Dewa Surya sebelum pernikahannya. Ia dibuang dan dibesarkan oleh keluarga kusir. Meski berbakat luar biasa, ia sering dihina karena status sosialnya.
Ketika Duryodhana memahkotainya sebagai raja Angga, Karna merasakan pengakuan dan persahabatan yang tidak ia dapatkan dari Pandawa. Meski tahu Pandawa adalah saudara kandungnya, ia tetap memilih solidaritas kepada sahabat yang menerima dirinya di masa sulit.

Refleksi: Di masa kini, luka batin karena diskriminasi sosial bisa membentuk loyalitas emosional yang sulit ditembus oleh kebenaran rasional. Banyak orang bertahan di pihak salah karena merasa utang emosional pada mereka yang mengangkat harga dirinya.

Salya: Terjebak dalam Tipu Daya

Salya, raja Madra sekaligus paman Pandawa, awalnya berniat membantu Pandawa. Namun Duryodhana menipunya dengan jamuan megah sehingga Salya, terikat pada etika ksatria untuk membalas budi, justru harus menjadi kusir Karna di pihak Kurawa.
Refleksi: di masa kini, banyak orang terjebak manipulasi halus dan politik pencitraan, sehingga tanpa sadar membela pihak yang keliru. Fenomena ini terjadi di politik, bisnis, bahkan lingkungan adat.

Refleksi Kekinian

Konteks Lokal Bali

Di Bali, konflik sosial atau politik adat sering memperlihatkan pola Bhisma, Drona, Karna, dan Salya:

  • Bhisma Bali: Tokoh adat atau pemangku yang terikat awig-awig meski tahu keputusan itu tidak adil.
  • Drona Bali: Aparat desa atau ASN yang ikut kebijakan atasan walau bertentangan dengan hati nurani.
  • Karna Bali: Warga atau pemuda yang membela kelompok tertentu karena pernah dibantu, meski kelompok itu keliru.
  • Salya Bali: Tokoh yang awalnya berpihak ke benar, namun terseret karena jebakan diplomasi atau pencitraan.

Konteks Nasional Indonesia

Di tingkat nasional, kita melihat pola yang sama dalam politik:

  • Bhisma Indonesia: Politisi atau pejabat yang tetap setia pada partai meski kebijakan partai merugikan rakyat.
  • Drona Indonesia: Profesional atau aparat penegak hukum yang patuh pada instruksi atasan walau tahu salah.
  • Karna Indonesia: Aktivis atau pengusaha yang membela figur tertentu karena pernah memberi modal atau dukungan.
  • Salya Indonesia: Tokoh publik yang awalnya berpihak pada reformasi, tapi berubah arah karena terjebak manuver politik.

Konteks Global

Secara global, fenomena serupa muncul:

  • Bhisma Dunia: Negara yang tetap mendukung aliansinya walau aliansi itu melakukan pelanggaran HAM.
  • Drona Dunia: Ilmuwan yang bekerja untuk korporasi besar dan memproduksi riset bias demi kontrak.
  • Karna Dunia: Negara atau kelompok yang tetap mendukung pihak salah karena pernah diselamatkan dari krisis.
  • Salya Dunia: Pemimpin dunia yang awalnya berpihak pada perdamaian, tapi termakan diplomasi licik sehingga mendukung perang.

Pemetaan dalam Peta Kesadaran Hawkins

David R. Hawkins dalam Power vs. Force memetakan kesadaran manusia dari level terendah (Shame, 20) hingga tertinggi (Enlightenment, 700–1000). Meskipun keempat tokoh Mahabharata ini adalah ksatria dengan kapasitas tinggi, keputusan mereka di medan perang menunjukkan bahwa tingkat kesadaran tidak selalu stabil.

Bhisma – Courage (200) → Loyalty/Attachment
Bhisma memiliki keberanian moral, tetapi tertahan oleh keterikatan pada sumpah. Energinya tidak sepenuhnya bebas untuk mengikuti kebenaran universal. Untuk naik level, ia perlu bergerak ke Love (500), di mana kasih dan dharma menjadi panduan.

Drona – Pride (175) → Fear (100)
Drona menjaga status sosial dan menghindari kehilangan penghidupan. Pride dan Fear menahan kenaikan kesadarannya ke Courage. Ia memilih keamanan pribadi di atas kebenaran.

Karna – Anger (150) → Courage (200)
Kemarahan karena penolakan sosial mendorongnya berani berjuang, tetapi keberanian ini diarahkan pada loyalitas pribadi, bukan pada dharma. Ia berpotensi naik lebih tinggi jika melampaui luka batin.

Salya – Neutrality (250) → Guilt (30)
Awalnya netral, Salya jatuh drastis ke rasa bersalah setelah terjebak manipulasi. Guilt memiliki energi rendah yang melemahkan kemampuan mengambil keputusan bijak.

Pola Umum dari Peta Hawkins

Jika dipetakan:

  • Bhisma: Courage (200) stabil tapi terikat.
  • Drona: Pride (175) turun ke Fear (100).
  • Karna: Anger (150) naik ke Courage (200).
  • Salya: Neutrality (250) jatuh ke Guilt (30).

Pesannya jelas: bahkan tokoh agung pun bisa turun level jika keputusan diwarnai ego, keterikatan, atau manipulasi.

Memilih Pandawa dalam Diri Kita

Perang Mahabharata disamping sebagai ithiasa yang artinya sebuah sejarah yang benar terjadi sekitar 3000 tahun sebelum Masehi, juga adalah cermin batin. Bhisma, Drona, Karna, dan Salya hidup dalam diri kita semua:

  • Kita pernah menjadi Bhisma ketika memilih diam demi menjaga janji atau loyalitas.
  • Kita pernah menjadi Drona ketika mengikuti perintah meski hati menolak.
  • Kita pernah menjadi Karna ketika membela sahabat yang keliru demi rasa terima kasih.
  • Kita pernah menjadi Salya ketika terseret manipulasi yang rapi disamarkan.

Pesan dari Hawkins: untuk berada di pihak Pandawa (kebenaran), kita harus menjaga kesadaran di atas Courage dan terus naik menuju Love, Joy, dan Peace, karena di sanalah keputusan bebas dari rasa takut, gengsi, hutang budi, dan manipulasi.

Memilih Pandawa berarti memilih berdiri di sisi yang benar, meski sulit, meski berisiko.

Karena hidup adalah sebuah pilihan, maka memilihlah secara bijak. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Dharma Kshatriya: Refleksi atas Krisis Sampah di Bali
Antara Kekuasaan dan Kesadaran: Mencari Makna Spiritual dalam Era Digital Indonesia
Bali Bukan untuk Dijual: Seruan Kesadaran untuk Generasi Muda di Tengah Invasi Harapan Semu
Mula Keto: Membaca Ulang Kearifan Lokal Bali dalam Cahaya Kesadaran
Alih Dewa di Deweke: Kearifan Lokal Bali dalam Perspektif Global
Sreya atau Preya: Saatnya Memilih Jalan yang Memuliakan Ibu Bumi
Melampaui Logika: Memaknai Kembali Mistisisme dalam Cahaya Filsafat Timur, Kritik atas Bertrand Russell
Tags: filosofifilsafatfilsafat baliMahabharatarefleksiTokoh BismaTokoh DronaTokoh KarnaTokoh Salyawayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Seni “Partisipatoris” atawa Sama Rasa Sama Rata

Next Post

Dari Tunai ke Digital, QRIS Uji Kepercayaan Warga Gunaksa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Dari Tunai ke Digital, QRIS Uji Kepercayaan Warga Gunaksa

Dari Tunai ke Digital, QRIS Uji Kepercayaan Warga Gunaksa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co