14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Empat Tokoh Agung yang Memilih Pihak Kurawa: Pelajaran dari Mahabharata dalam Perspektif Peta Kesadaran Hawkins

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
August 13, 2025
in Esai
Empat Tokoh Agung yang Memilih Pihak Kurawa: Pelajaran dari Mahabharata dalam Perspektif Peta Kesadaran Hawkins

Tokoh-tokoh wayang | Ilustrasi tatkala.co | gambar-gambar diambil di internet

KETIKA perang Mahabharata meletus di Kurukshetra, kebenaran yang sebelumnya samar menjadi jelas. Kita bisa melihat siapa yang memilih berdiri di pihak Kurawa dan siapa yang berada di pihak Pandawa. Ironisnya, beberapa tokoh agung dan luhur justru memilih berada di pihak yang secara moral kalah: Kurawa.

Empat tokoh itu adalah:

Bhisma – kakek agung yang disegani karena kebijaksanaannya.

Drona – guru besar panah dan perang, yang mencintai Arjuna sebagai murid kesayangan.

Karna – putra Kunti, kakak tiri Pandawa, yang sepanjang hidupnya merasa sebagai orang luar.

Salya – raja Madra, paman Pandawa, yang terjebak dalam tipu daya politik Duryodhana.

Mengapa mereka berpihak ke Kurawa? Jawabannya tidak sederhana. Kita perlu melihat dari tiga lapis: konteks sosial-politik, ikatan pribadi, dan nilai yang mereka pegang.

Bhisma: Sumpah yang Mengikat di Atas Segalanya

Bhisma adalah simbol kesetiaan pada sumpah. Sejak muda ia berikrar untuk mendukung takhta Hastinapura tanpa memandang siapa yang memegangnya. Sumpah ini ia ambil demi memastikan ayahnya, Raja Santanu, dapat menikahi Dewi Satyawati.
Ketika Hastinapura dikuasai Duryodhana, meski ia tahu Pandawa adalah pihak yang benar, ia tetap memegang sumpahnya. Bhisma memilih kesetiaan pada janji di atas kesetiaan pada kebenaran.

Refleksi: Dalam konteks modern, kita sering melihat orang yang terjebak dalam kontrak politik, loyalitas jabatan, atau sumpah dinas yang membuatnya membela pihak salah demi menjaga konsistensi formal. Bhisma adalah gambaran bahwa kesetiaan tanpa kebijaksanaan bisa menjadi pedang bermata dua.

Drona: Hutang Budi dan Kewajiban Profesional

Drona lahir dari keluarga brahmana miskin dan pernah dihina karena kemiskinannya. Hidupnya berubah ketika ia diundang mengajar di istana Hastinapura. Ia mendapat kehormatan, gaji, dan perlindungan dari Raja.
Secara pribadi ia mencintai Arjuna seperti anak sendiri. Namun secara profesional, ia adalah guru yang digaji kerajaan. Ketika Duryodhana berkuasa, secara struktur ia menjadi pelayan Kurawa. Hutang budi dan rasa terikat pada pemberi nafkah membuatnya tidak bisa membelot ke Pandawa.

Refleksi: Di zaman sekarang, banyak profesional, akademisi, atau aparatur negara yang mengetahui mana yang benar, tetapi terikat kontrak dan penghidupan. Dilema etis seperti ini muncul di birokrasi, korporasi, hingga perguruan tinggi: loyal pada pemberi gaji, atau loyal pada kebenaran?

Karna: Luka Batin dan Solidaritas Sosial

Karna lahir sebagai anak Kunti dari Dewa Surya sebelum pernikahannya. Ia dibuang dan dibesarkan oleh keluarga kusir. Meski berbakat luar biasa, ia sering dihina karena status sosialnya.
Ketika Duryodhana memahkotainya sebagai raja Angga, Karna merasakan pengakuan dan persahabatan yang tidak ia dapatkan dari Pandawa. Meski tahu Pandawa adalah saudara kandungnya, ia tetap memilih solidaritas kepada sahabat yang menerima dirinya di masa sulit.

Refleksi: Di masa kini, luka batin karena diskriminasi sosial bisa membentuk loyalitas emosional yang sulit ditembus oleh kebenaran rasional. Banyak orang bertahan di pihak salah karena merasa utang emosional pada mereka yang mengangkat harga dirinya.

Salya: Terjebak dalam Tipu Daya

Salya, raja Madra sekaligus paman Pandawa, awalnya berniat membantu Pandawa. Namun Duryodhana menipunya dengan jamuan megah sehingga Salya, terikat pada etika ksatria untuk membalas budi, justru harus menjadi kusir Karna di pihak Kurawa.
Refleksi: di masa kini, banyak orang terjebak manipulasi halus dan politik pencitraan, sehingga tanpa sadar membela pihak yang keliru. Fenomena ini terjadi di politik, bisnis, bahkan lingkungan adat.

Refleksi Kekinian

Konteks Lokal Bali

Di Bali, konflik sosial atau politik adat sering memperlihatkan pola Bhisma, Drona, Karna, dan Salya:

  • Bhisma Bali: Tokoh adat atau pemangku yang terikat awig-awig meski tahu keputusan itu tidak adil.
  • Drona Bali: Aparat desa atau ASN yang ikut kebijakan atasan walau bertentangan dengan hati nurani.
  • Karna Bali: Warga atau pemuda yang membela kelompok tertentu karena pernah dibantu, meski kelompok itu keliru.
  • Salya Bali: Tokoh yang awalnya berpihak ke benar, namun terseret karena jebakan diplomasi atau pencitraan.

Konteks Nasional Indonesia

Di tingkat nasional, kita melihat pola yang sama dalam politik:

  • Bhisma Indonesia: Politisi atau pejabat yang tetap setia pada partai meski kebijakan partai merugikan rakyat.
  • Drona Indonesia: Profesional atau aparat penegak hukum yang patuh pada instruksi atasan walau tahu salah.
  • Karna Indonesia: Aktivis atau pengusaha yang membela figur tertentu karena pernah memberi modal atau dukungan.
  • Salya Indonesia: Tokoh publik yang awalnya berpihak pada reformasi, tapi berubah arah karena terjebak manuver politik.

Konteks Global

Secara global, fenomena serupa muncul:

  • Bhisma Dunia: Negara yang tetap mendukung aliansinya walau aliansi itu melakukan pelanggaran HAM.
  • Drona Dunia: Ilmuwan yang bekerja untuk korporasi besar dan memproduksi riset bias demi kontrak.
  • Karna Dunia: Negara atau kelompok yang tetap mendukung pihak salah karena pernah diselamatkan dari krisis.
  • Salya Dunia: Pemimpin dunia yang awalnya berpihak pada perdamaian, tapi termakan diplomasi licik sehingga mendukung perang.

Pemetaan dalam Peta Kesadaran Hawkins

David R. Hawkins dalam Power vs. Force memetakan kesadaran manusia dari level terendah (Shame, 20) hingga tertinggi (Enlightenment, 700–1000). Meskipun keempat tokoh Mahabharata ini adalah ksatria dengan kapasitas tinggi, keputusan mereka di medan perang menunjukkan bahwa tingkat kesadaran tidak selalu stabil.

Bhisma – Courage (200) → Loyalty/Attachment
Bhisma memiliki keberanian moral, tetapi tertahan oleh keterikatan pada sumpah. Energinya tidak sepenuhnya bebas untuk mengikuti kebenaran universal. Untuk naik level, ia perlu bergerak ke Love (500), di mana kasih dan dharma menjadi panduan.

Drona – Pride (175) → Fear (100)
Drona menjaga status sosial dan menghindari kehilangan penghidupan. Pride dan Fear menahan kenaikan kesadarannya ke Courage. Ia memilih keamanan pribadi di atas kebenaran.

Karna – Anger (150) → Courage (200)
Kemarahan karena penolakan sosial mendorongnya berani berjuang, tetapi keberanian ini diarahkan pada loyalitas pribadi, bukan pada dharma. Ia berpotensi naik lebih tinggi jika melampaui luka batin.

Salya – Neutrality (250) → Guilt (30)
Awalnya netral, Salya jatuh drastis ke rasa bersalah setelah terjebak manipulasi. Guilt memiliki energi rendah yang melemahkan kemampuan mengambil keputusan bijak.

Pola Umum dari Peta Hawkins

Jika dipetakan:

  • Bhisma: Courage (200) stabil tapi terikat.
  • Drona: Pride (175) turun ke Fear (100).
  • Karna: Anger (150) naik ke Courage (200).
  • Salya: Neutrality (250) jatuh ke Guilt (30).

Pesannya jelas: bahkan tokoh agung pun bisa turun level jika keputusan diwarnai ego, keterikatan, atau manipulasi.

Memilih Pandawa dalam Diri Kita

Perang Mahabharata disamping sebagai ithiasa yang artinya sebuah sejarah yang benar terjadi sekitar 3000 tahun sebelum Masehi, juga adalah cermin batin. Bhisma, Drona, Karna, dan Salya hidup dalam diri kita semua:

  • Kita pernah menjadi Bhisma ketika memilih diam demi menjaga janji atau loyalitas.
  • Kita pernah menjadi Drona ketika mengikuti perintah meski hati menolak.
  • Kita pernah menjadi Karna ketika membela sahabat yang keliru demi rasa terima kasih.
  • Kita pernah menjadi Salya ketika terseret manipulasi yang rapi disamarkan.

Pesan dari Hawkins: untuk berada di pihak Pandawa (kebenaran), kita harus menjaga kesadaran di atas Courage dan terus naik menuju Love, Joy, dan Peace, karena di sanalah keputusan bebas dari rasa takut, gengsi, hutang budi, dan manipulasi.

Memilih Pandawa berarti memilih berdiri di sisi yang benar, meski sulit, meski berisiko.

Karena hidup adalah sebuah pilihan, maka memilihlah secara bijak. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Dharma Kshatriya: Refleksi atas Krisis Sampah di Bali
Antara Kekuasaan dan Kesadaran: Mencari Makna Spiritual dalam Era Digital Indonesia
Bali Bukan untuk Dijual: Seruan Kesadaran untuk Generasi Muda di Tengah Invasi Harapan Semu
Mula Keto: Membaca Ulang Kearifan Lokal Bali dalam Cahaya Kesadaran
Alih Dewa di Deweke: Kearifan Lokal Bali dalam Perspektif Global
Sreya atau Preya: Saatnya Memilih Jalan yang Memuliakan Ibu Bumi
Melampaui Logika: Memaknai Kembali Mistisisme dalam Cahaya Filsafat Timur, Kritik atas Bertrand Russell
Tags: filosofifilsafatfilsafat baliMahabharatarefleksiTokoh BismaTokoh DronaTokoh KarnaTokoh Salyawayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Seni “Partisipatoris” atawa Sama Rasa Sama Rata

Next Post

Dari Tunai ke Digital, QRIS Uji Kepercayaan Warga Gunaksa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails
Next Post
Dari Tunai ke Digital, QRIS Uji Kepercayaan Warga Gunaksa

Dari Tunai ke Digital, QRIS Uji Kepercayaan Warga Gunaksa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co