2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Empat Tokoh Agung yang Memilih Pihak Kurawa: Pelajaran dari Mahabharata dalam Perspektif Peta Kesadaran Hawkins

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
August 13, 2025
in Esai
Empat Tokoh Agung yang Memilih Pihak Kurawa: Pelajaran dari Mahabharata dalam Perspektif Peta Kesadaran Hawkins

Tokoh-tokoh wayang | Ilustrasi tatkala.co | gambar-gambar diambil di internet

KETIKA perang Mahabharata meletus di Kurukshetra, kebenaran yang sebelumnya samar menjadi jelas. Kita bisa melihat siapa yang memilih berdiri di pihak Kurawa dan siapa yang berada di pihak Pandawa. Ironisnya, beberapa tokoh agung dan luhur justru memilih berada di pihak yang secara moral kalah: Kurawa.

Empat tokoh itu adalah:

Bhisma – kakek agung yang disegani karena kebijaksanaannya.

Drona – guru besar panah dan perang, yang mencintai Arjuna sebagai murid kesayangan.

Karna – putra Kunti, kakak tiri Pandawa, yang sepanjang hidupnya merasa sebagai orang luar.

Salya – raja Madra, paman Pandawa, yang terjebak dalam tipu daya politik Duryodhana.

Mengapa mereka berpihak ke Kurawa? Jawabannya tidak sederhana. Kita perlu melihat dari tiga lapis: konteks sosial-politik, ikatan pribadi, dan nilai yang mereka pegang.

Bhisma: Sumpah yang Mengikat di Atas Segalanya

Bhisma adalah simbol kesetiaan pada sumpah. Sejak muda ia berikrar untuk mendukung takhta Hastinapura tanpa memandang siapa yang memegangnya. Sumpah ini ia ambil demi memastikan ayahnya, Raja Santanu, dapat menikahi Dewi Satyawati.
Ketika Hastinapura dikuasai Duryodhana, meski ia tahu Pandawa adalah pihak yang benar, ia tetap memegang sumpahnya. Bhisma memilih kesetiaan pada janji di atas kesetiaan pada kebenaran.

Refleksi: Dalam konteks modern, kita sering melihat orang yang terjebak dalam kontrak politik, loyalitas jabatan, atau sumpah dinas yang membuatnya membela pihak salah demi menjaga konsistensi formal. Bhisma adalah gambaran bahwa kesetiaan tanpa kebijaksanaan bisa menjadi pedang bermata dua.

Drona: Hutang Budi dan Kewajiban Profesional

Drona lahir dari keluarga brahmana miskin dan pernah dihina karena kemiskinannya. Hidupnya berubah ketika ia diundang mengajar di istana Hastinapura. Ia mendapat kehormatan, gaji, dan perlindungan dari Raja.
Secara pribadi ia mencintai Arjuna seperti anak sendiri. Namun secara profesional, ia adalah guru yang digaji kerajaan. Ketika Duryodhana berkuasa, secara struktur ia menjadi pelayan Kurawa. Hutang budi dan rasa terikat pada pemberi nafkah membuatnya tidak bisa membelot ke Pandawa.

Refleksi: Di zaman sekarang, banyak profesional, akademisi, atau aparatur negara yang mengetahui mana yang benar, tetapi terikat kontrak dan penghidupan. Dilema etis seperti ini muncul di birokrasi, korporasi, hingga perguruan tinggi: loyal pada pemberi gaji, atau loyal pada kebenaran?

Karna: Luka Batin dan Solidaritas Sosial

Karna lahir sebagai anak Kunti dari Dewa Surya sebelum pernikahannya. Ia dibuang dan dibesarkan oleh keluarga kusir. Meski berbakat luar biasa, ia sering dihina karena status sosialnya.
Ketika Duryodhana memahkotainya sebagai raja Angga, Karna merasakan pengakuan dan persahabatan yang tidak ia dapatkan dari Pandawa. Meski tahu Pandawa adalah saudara kandungnya, ia tetap memilih solidaritas kepada sahabat yang menerima dirinya di masa sulit.

Refleksi: Di masa kini, luka batin karena diskriminasi sosial bisa membentuk loyalitas emosional yang sulit ditembus oleh kebenaran rasional. Banyak orang bertahan di pihak salah karena merasa utang emosional pada mereka yang mengangkat harga dirinya.

Salya: Terjebak dalam Tipu Daya

Salya, raja Madra sekaligus paman Pandawa, awalnya berniat membantu Pandawa. Namun Duryodhana menipunya dengan jamuan megah sehingga Salya, terikat pada etika ksatria untuk membalas budi, justru harus menjadi kusir Karna di pihak Kurawa.
Refleksi: di masa kini, banyak orang terjebak manipulasi halus dan politik pencitraan, sehingga tanpa sadar membela pihak yang keliru. Fenomena ini terjadi di politik, bisnis, bahkan lingkungan adat.

Refleksi Kekinian

Konteks Lokal Bali

Di Bali, konflik sosial atau politik adat sering memperlihatkan pola Bhisma, Drona, Karna, dan Salya:

  • Bhisma Bali: Tokoh adat atau pemangku yang terikat awig-awig meski tahu keputusan itu tidak adil.
  • Drona Bali: Aparat desa atau ASN yang ikut kebijakan atasan walau bertentangan dengan hati nurani.
  • Karna Bali: Warga atau pemuda yang membela kelompok tertentu karena pernah dibantu, meski kelompok itu keliru.
  • Salya Bali: Tokoh yang awalnya berpihak ke benar, namun terseret karena jebakan diplomasi atau pencitraan.

Konteks Nasional Indonesia

Di tingkat nasional, kita melihat pola yang sama dalam politik:

  • Bhisma Indonesia: Politisi atau pejabat yang tetap setia pada partai meski kebijakan partai merugikan rakyat.
  • Drona Indonesia: Profesional atau aparat penegak hukum yang patuh pada instruksi atasan walau tahu salah.
  • Karna Indonesia: Aktivis atau pengusaha yang membela figur tertentu karena pernah memberi modal atau dukungan.
  • Salya Indonesia: Tokoh publik yang awalnya berpihak pada reformasi, tapi berubah arah karena terjebak manuver politik.

Konteks Global

Secara global, fenomena serupa muncul:

  • Bhisma Dunia: Negara yang tetap mendukung aliansinya walau aliansi itu melakukan pelanggaran HAM.
  • Drona Dunia: Ilmuwan yang bekerja untuk korporasi besar dan memproduksi riset bias demi kontrak.
  • Karna Dunia: Negara atau kelompok yang tetap mendukung pihak salah karena pernah diselamatkan dari krisis.
  • Salya Dunia: Pemimpin dunia yang awalnya berpihak pada perdamaian, tapi termakan diplomasi licik sehingga mendukung perang.

Pemetaan dalam Peta Kesadaran Hawkins

David R. Hawkins dalam Power vs. Force memetakan kesadaran manusia dari level terendah (Shame, 20) hingga tertinggi (Enlightenment, 700–1000). Meskipun keempat tokoh Mahabharata ini adalah ksatria dengan kapasitas tinggi, keputusan mereka di medan perang menunjukkan bahwa tingkat kesadaran tidak selalu stabil.

Bhisma – Courage (200) → Loyalty/Attachment
Bhisma memiliki keberanian moral, tetapi tertahan oleh keterikatan pada sumpah. Energinya tidak sepenuhnya bebas untuk mengikuti kebenaran universal. Untuk naik level, ia perlu bergerak ke Love (500), di mana kasih dan dharma menjadi panduan.

Drona – Pride (175) → Fear (100)
Drona menjaga status sosial dan menghindari kehilangan penghidupan. Pride dan Fear menahan kenaikan kesadarannya ke Courage. Ia memilih keamanan pribadi di atas kebenaran.

Karna – Anger (150) → Courage (200)
Kemarahan karena penolakan sosial mendorongnya berani berjuang, tetapi keberanian ini diarahkan pada loyalitas pribadi, bukan pada dharma. Ia berpotensi naik lebih tinggi jika melampaui luka batin.

Salya – Neutrality (250) → Guilt (30)
Awalnya netral, Salya jatuh drastis ke rasa bersalah setelah terjebak manipulasi. Guilt memiliki energi rendah yang melemahkan kemampuan mengambil keputusan bijak.

Pola Umum dari Peta Hawkins

Jika dipetakan:

  • Bhisma: Courage (200) stabil tapi terikat.
  • Drona: Pride (175) turun ke Fear (100).
  • Karna: Anger (150) naik ke Courage (200).
  • Salya: Neutrality (250) jatuh ke Guilt (30).

Pesannya jelas: bahkan tokoh agung pun bisa turun level jika keputusan diwarnai ego, keterikatan, atau manipulasi.

Memilih Pandawa dalam Diri Kita

Perang Mahabharata disamping sebagai ithiasa yang artinya sebuah sejarah yang benar terjadi sekitar 3000 tahun sebelum Masehi, juga adalah cermin batin. Bhisma, Drona, Karna, dan Salya hidup dalam diri kita semua:

  • Kita pernah menjadi Bhisma ketika memilih diam demi menjaga janji atau loyalitas.
  • Kita pernah menjadi Drona ketika mengikuti perintah meski hati menolak.
  • Kita pernah menjadi Karna ketika membela sahabat yang keliru demi rasa terima kasih.
  • Kita pernah menjadi Salya ketika terseret manipulasi yang rapi disamarkan.

Pesan dari Hawkins: untuk berada di pihak Pandawa (kebenaran), kita harus menjaga kesadaran di atas Courage dan terus naik menuju Love, Joy, dan Peace, karena di sanalah keputusan bebas dari rasa takut, gengsi, hutang budi, dan manipulasi.

Memilih Pandawa berarti memilih berdiri di sisi yang benar, meski sulit, meski berisiko.

Karena hidup adalah sebuah pilihan, maka memilihlah secara bijak. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Dharma Kshatriya: Refleksi atas Krisis Sampah di Bali
Antara Kekuasaan dan Kesadaran: Mencari Makna Spiritual dalam Era Digital Indonesia
Bali Bukan untuk Dijual: Seruan Kesadaran untuk Generasi Muda di Tengah Invasi Harapan Semu
Mula Keto: Membaca Ulang Kearifan Lokal Bali dalam Cahaya Kesadaran
Alih Dewa di Deweke: Kearifan Lokal Bali dalam Perspektif Global
Sreya atau Preya: Saatnya Memilih Jalan yang Memuliakan Ibu Bumi
Melampaui Logika: Memaknai Kembali Mistisisme dalam Cahaya Filsafat Timur, Kritik atas Bertrand Russell
Tags: filosofifilsafatfilsafat baliMahabharatarefleksiTokoh BismaTokoh DronaTokoh KarnaTokoh Salyawayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Seni “Partisipatoris” atawa Sama Rasa Sama Rata

Next Post

Dari Tunai ke Digital, QRIS Uji Kepercayaan Warga Gunaksa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Dari Tunai ke Digital, QRIS Uji Kepercayaan Warga Gunaksa

Dari Tunai ke Digital, QRIS Uji Kepercayaan Warga Gunaksa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co