23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seni “Partisipatoris” atawa Sama Rasa Sama Rata

Wicaksono Adi by Wicaksono Adi
August 13, 2025
in Esai
Seni “Partisipatoris” atawa Sama Rasa Sama Rata

Kawan yang baik,

Engkau bertanya: “Apa maksudnya ketika orang bicara tentang metode partisipatoris dalam seni?”

Tentu artinya macam-macam. Tapi sebelum masuk ke pokok perkara, baiklah kita mundur sejenak untuk mengingat kembali perdebatan kuno ihwal benturan, pertentangan dan bahkan antagonisme antara seni sebagai pemenuhan tujuan-tujuan “individual” dengan seni untuk mencapai tujuan-tujuan “kolektif”.

Antara “kebenaran” seni pada dirinya sendiri versus “kebenaran” seni yang niscaya berkelindan dengan nilai-nilai sosial, antara tindak artistik sebagai realisasi diri individu otonom versus seni sebagai tindakan sosial, antara seni sebagai representasi dan respons atas “kenyataan” versus seni sebagai wahana untuk mengubah “kenyataan”.

Sebagaimana pernah aku katakan, sebagian orang percaya bahwa seni harus bebas sebebas-bebasnya dari segala perkara di luarnya dan tidak boleh tunduk kepada daya-daya impersonal apapun, termasuk ukuran moral dan agama. Sementara yang lain menegaskan bahwa seni dan seniman tidak jatuh dari langit atau menyembul dari batang pisang, tapi selalu berada di medan tarik-menarik relasi sosial tempatnya hidup.

.

Sebagian orang meyakini bahwa makna karya seni hanya dapat dinilai dari ukuran yang berlaku dalam seni itu sendiri, suatu makna swa-acu yang khusus, sementara yang lain percaya bahwa pencapaian tertinggi karya seni hanya dapat terwujud jika ditempatkan dalam konteks nilai-nilai kemasyarakatan.

Sebagian orang yakin bahwa karya seni yang baik adalah karya yang indah dalam kerangka pemahaman “tanpa pamrih” atawa “disinterested”. (Di sini kita dapat mengutip Immanuel Kant yang percaya bahwa dengan meletakkan status dan posisinya secara “disinterested” itulah seni baru bisa menjadi murni sekaligus “rasional”.)

Sementara sebagian lainnya percaya bahwa seni yang baik adalah seni yang berguna. Ingatlah, dulu pada zaman Yunani Klasik maupun seni tradisional di Nusantara orang percaya bahwa salah satu fungsi seni adalah sebagai wahana menyampaikan ajaran moral sehingga terbangun tata sosial yang lebih baik.

Seni tak hanya dilihat sebagai fenomena artistik belaka dan kualitasnya tidak melulu diukur berdasarkan kaidah-kaidah estetik khusus tapi juga harus dapat dievaluasi secara sosial.

Kawan yang baik,

Tentu, kita akan capek jika mencari titik akhir dari perdebatan semacam itu. Seperti yang pernah kukatakan, paling banter akhirnya orang akan mengambil kesimpulan seperti ini: Soalnya bukan pada pihak mana yang paling benar karena kebenaran mutlak semacam itu hanyalah ilusi.

Soalnya adalah seberapa jauh manusia dapat menciptakan wahana atau cara menyeimbangkan anatara dorongan subjektif dan hasrat kebebasan individu dengan tuntutan moralitas kemasyarakatan.

Membayangkan estetika yang berpangkal sekaligus bermuara pada hasrat maupun tujuan eksklusi diri individual secara total sama mustahilnya dengan memimpikan estetika yang meniadakan relasi seni dengan masyarakat maupun estetika yang sepenuhnya melayani tujuan-tujuan di luarnya.

Artinya, seniman dan karya seni yang diciptakan senantiasa mengandung nilai dan makna pada tingkatan yang berbeda-beda, tergantung pada pendekatan, metode untuk mewujududkan “bobot kehadiran” estetiknya masing-masing. Konteks nilai dan makna seni “murni” tentu berbeda dengan seni “terlibat” yang langsung masuk dalam denyut kehidupan masyarakat.

Kawan yang baik,

Nah, dengan konteks yang terakhir itulah kita baru bisa bicara tentang seni “partisipatoris”. Dalam hal ini, sebagai gambaran nyata, kita dapat mengambil contoh kasus yang pernah terjadi dalam seni pertunjukan (performing arts), yakni seni teater.

Syahdan, di jagat teater pernah muncul tokoh bernama Augusto Boal (1931-2009) yang sering menegaskan bahwa sistem teater yang bertopang pada representasi ketokohan dalam sosok-sosok protagonis individual bukanlah teater yang muncul tiba-tiba.

Pada mulanya, teater adalah bagian dari kerja bersama di mana setiap orang dapat menjadi kreator sekaligus penonton. Hal itu terjadi pada teater sebagai bagian dari ritus adat dan perayaan artistik tribal dalam masyarakat-masyarakat awal.

Pak Boal kemudian menciptakan teater sebagai “forum” di mana panggung menjadi ajang diskusi antara aktor dan pemirsa, termasuk dalam menemukan cara-cara menyusun alur cerita yang lebih baik. Di situ nyaris tidak ada dikotomi tegas antara aktor dan penonton karena setiap orang dapat mengintervensi pertunjukan guna memberikan saran dan bahkan dapat memerankan karakter tertentu yang mereka ciptakan.

Ketika menjadi walikota Rio de Janeiro, Brasil, tahun 1986, Pak Boal ini suka menggelar panggung teater sebagai “forum” terbuka di mana setiap warga dapat mengajukan usulan dalam rangka penyusunan undang-undang dan instrumen hukum untuk mengatur hajat hidup orang banyak.

Setelah itu ia coba mengintegrasikan praksis teater “legislatif” dalam arti mendorong teater sebagai amalan politik secara langsung. Jika dalam teater “forum” berlangsung proses artistik di mana penonton dapat menjadi aktor, pada teater “politik” terjadi proses transformasi peran warga negara sebagai legislator secara langsung, di situ pada saat itu.

Dari proses tersebut kemudian lahir beberapa undang-undang selama Pak Boal menjadi pejabat publik.

Kawan yang baik,

Patut kita catat, ketika seniman menjadi salah satu partisipan dalam proses penciptaan pengalaman estetik bersama semacam itu, mau tak mau penentuan nilai dan makna seni pun menjadi terdistribusi ke banyak pihak.

Di situ, mula-mula seorang atau sekelompok seniman dapat menjadi semacam inisiator, organisator atau pemicu peristiwa agar berlangsung proses penciptaan pengalaman estetik bersama. Bisa juga ia menjadi semacam penghubung alias “mak comblang” dari entitas-entitas yang ada sehingga tercipta sehimpun relasi sosial yang baru.

Kurator seni rupa kontemporer Prancis Nicolas Borriaud menamai praktik seni serupa itu sebagai “estetika relasional”. Dalam bukunya “Esthetique relationnelle” (1998), ia menegaskan bahwa hampir semua praktik kesenian pada dasarnya terintegrasi dalam ruang sosial sehari-hari dan tidak tereksklusi secara total dari lingkungan sekitarnya.

Tentu, dalam praksis seni modern berlaku pandangan bahwa status, nilai dan makna seni ditentukan oleh relasi antar pemangku kepentingan terpenting, yakni aktor-aktor maupun “institusi-institusi” utama berikut otoritas yang dimiliki. Tapi dalam praksis seni kotemporer relasi-relasi tersebut tak lagi dimonopoli oleh para elite “institusional” dalam kerangka estetisme melainkan telah meluas ke berbagai arah.

Bahkan secara ekstrem Tuan Borriaud mengatakan bahwa jika dulu seni dibuat untuk dipertunjukkan kepada orang, seni diciptakan untuk menunjukkan atau menyingkapkan “sesuatu” kepada (manusia), kini justru sebaliknya: kita membuat seni untuk menunjukkan atau menghadirkan “diri” kepada atau bersama segala “sesuatu”.

Maka, seni seyogianya dimaknai dalam relasi yang lebih organis, yakni segala ihwal yang hidup di ruang sosial sehari-hari dalam berbagai bentuk dan skala yang paling besar maupun yang terkecil, dalam relasi-relasi global di jagat metropolis maupun di sebuah dusun terpencil sekalipun. Relasi-relasi semacam itu juga dapat dibentuk di dunia virtual dalam perayaan dunia digital, upacara adat, ulem-ulem khitanan, pesta urban dan sebagainya dan sebagainya.

Kawan yang baik,

Model perayaan relasi semacam itu dalam derajat tertentu ternyata dapat mengubah arti pengalaman dan pengetahun terhadap seni. Pengetahuan dan pengalaman estetis tidak lagi menjadi bidang atau disiplin khusus berikut kaidah dan prosedur yang nyaris tak terjangkau orang awam, tapi suatu pengetahuan dan pengalaman yang lahir dari wawasan masyarakat dalam relasi-relasi makna secara kontekstual.

Meminjam istilah sosiolog Thomas Luckmann dan Peter L Berger, status pengetahuan dan pemaknaan seni di situ menjadi bagian dari “social construction of reality”. Yaitu pengetahuan yang hidup dalam sistem kesadaran kolektif sebagai bagian dari konstruksi dan model-model tata sosial yang harus dijalankan dan bagaimana konstruksi-konstruksi tersebut tersusun sehingga melahirkan struktur makna atas “kenyataan-kenyataan” sosial yang terintegrasi dan terintrapolasi secara langsung dengan segala wahana dari pelaksanaan pengetahuan yang ada.

Di situ, karya yang diciptakan bersama dapat dijadikan wahana untuk memperbaiki “kenyataan” sosial di sekelilingnya. Oleh karena itu, proses penciptaan maupun tindak resepsinya juga harus bersifat “partisipatoris” dan bukan seni yang otonom dan tanpa pamrih (disinterested).

Tapi perlu diingat bahwa seni yang melibatkan orang banyak atau seni yang digelar di ruang publik tidak serta-merta merupakan seni “partisipatoris”. Ketika satu orang atau sekelompok seniman menggelar pameran atau main teater atau bikin peristiwa heboh atau menggelar “performance art” ini-itu di tengah perkampungan atau di keriuhan pasar, bukan ujung dari tindak artistik “partisipatoris”.

Yang terjadi di situ adalah peristiwa “partisipatoris” secara pasif. Fase ini dapat dilanjutkan agar publik terlibat aktif dalam proses menciptakan dan mengaransemen relasi-relasi artistik maupun produksi pengetahuan serta pengalaman estetik di ranah sosial dalam orkestrasi bersama. Seni menjadi wahana untuk menjadikan setiap orang sebagai subjek.

Tujuan-tujuan orkestrasi pengalaman artistik bersama itu akhirnya tidak ditentukan oleh pihak yang dominan melainkan oleh jalannya orkestra itu sendiri. Semacam sama rata sama rasa. [T]

Penulis: Wicaksono Adi
Editor: Adnyana Ole

BACA JUGA:

“Kanan” dan “Kiri” dalam Seni
“Kraspoekoel”, Alam Gaib dan Labuwangi
Mengenang Joko Pinurbo [1]: Menemukan Sajak di Sebuah Rumah, di Ujung Sebuah Gang
Mengenang Joko Pinurbo [2-Tamat]: Sore Hari Bersama Sang Penyair
Tags: performance artSeniseni pertunjukanSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [3]–Nyeri Semakin Menjadi Menjelang Masuk Tanjakan Paiton

Next Post

Empat Tokoh Agung yang Memilih Pihak Kurawa: Pelajaran dari Mahabharata dalam Perspektif Peta Kesadaran Hawkins

Wicaksono Adi

Wicaksono Adi

Penulis esai seni-budaya, kurator, dan juga salah satu pendiri Borobudur Writers & Cultural Festival.

Related Posts

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

by Pande Susan
June 18, 2026
0
‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku...

Read moreDetails
Next Post
Empat Tokoh Agung yang Memilih Pihak Kurawa: Pelajaran dari Mahabharata dalam Perspektif Peta Kesadaran Hawkins

Empat Tokoh Agung yang Memilih Pihak Kurawa: Pelajaran dari Mahabharata dalam Perspektif Peta Kesadaran Hawkins

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi
Puisi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

by Mahesa Putra
June 21, 2026
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

by Dewa Rhadea
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co