4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dharma Kshatriya: Refleksi atas Krisis Sampah di Bali

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
August 12, 2025
in Esai
Dharma Kshatriya: Refleksi atas Krisis Sampah di Bali

Ilustrasi tatkala.co

Bali, Surga dengan Aroma yang Tidak Sedap

Bali sering dijual sebagai surga tropis: pantai berpasir putih, sawah berundak, pura berjejer anggun, dan senyum ramah penduduknya. Namun, di balik poster pariwisata itu, ada aroma lain yang kadang menyeruak—bukan bau dupa atau kopi arabika Kintamani, melainkan tumpukan sampah yang menumpuk di setiap sudut jalan, di tebing, juga pada aliran sungai.

Gagalnya penanganan sampah di Bali menunjukkan betapa tidak becusnya kita menangani masalah yang menurut beberapa teman sebagai CGT, cenik gae to, asal disertai keseriusan. Sayangnya dana yang dialokasikan, menurut data yang dibeberkan I Gusti Putu Artha sangat tidak memadai, dibandingkan dana untuk Kominfo.  Penutupan TPS Suwung—yang dulunya menjadi “katup pengaman” sampah Denpasar dan sekitarnya—membuat masalah ini malah semakin meledak. Armada pengangkut sampah pun dijejerkan di depan Kantor Gubernur sebagai bentuk protes. Pemandangan ini bukan sekadar soal bau atau estetika, tapi simbol dari tata kelola yang tersendat.

Di ruang publik, tokoh masyarakat  I Gusti Putu Artha dan pihak pemerintah saling sindir lewat media sosial, bahkan mulai mengarah ke ranah personal. Ironisnya, kritik yang sejatinya adalah vitamin demokrasi justru dibalas seperti air tuba. Pertanyaannya: ke mana perginya Tri Hita Karana yang sering menjadi jargon manis? Apakah hanya sebatas wacana seremonial?

Tri Hita Karana: Filosofi atau Ornamen?

Tri Hita Karana mengajarkan tiga harmoni: hubungan dengan Tuhan (parahyangan), hubungan dengan sesama manusia (pawongan), dan hubungan dengan alam (palemahan). Dalam konteks pengelolaan sampah, palemahan seharusnya menjadi pijakan utama.

Namun, dalam praktiknya, konsep ini sering dipajang di spanduk acara atau brosur pariwisata tanpa benar-benar menjadi panduan kebijakan. Sampah yang menumpuk, sungai yang tersumbat plastik, dan pantai yang kotor adalah tanda jelas bahwa palemahan sedang diabaikan.

Jika Tri Hita Karana hanya berhenti di bibir, ia berubah menjadi Tri Hita Jaranan—indah ditarikan di panggung, tapi tidak berdaya membersihkan halaman rumah.

Dharma Kshatriya: Pelayanan, Bukan Sekadar Kekuasaan

Dalam tradisi nusantara, kshatriya adalah pelindung rakyat, bukan sekadar pemegang tahta. Dharma kshatriya adalah mengutamakan kepentingan publik di atas kenyamanan pribadi.
Mengelola sampah mungkin terdengar remeh dibanding proyek besar bernilai triliunan, tapi justru di sinilah ukuran pelayanan terlihat.

Sampah adalah urusan wajib pelayanan dasar menurut UU No. 18/2008 dan UU No. 23/2014. Bila krisis sampah sampai berlarut, itu menunjukkan rantai tanggung jawab yang putus. Menyerahkan sepenuhnya kepada masyarakat tanpa infrastruktur yang memadai bukanlah partisipasi, melainkan penyerahan beban.

Ketika Kritik Dianggap Serangan Pribadi

Kritik atas kinerja pemerintah bukanlah permusuhan, melainkan mekanisme koreksi yang sehat. Di era keterbukaan informasi, masyarakat dan tokohnya berhak bersuara.
Sayangnya, yang sering terjadi adalah “personalisasi” kritik—alih-alih menjawab substansi, justru menyerang balik pembawa pesan.

Fenomena saling sindir di media sosial antara tokoh masyarakat dan pejabat publik adalah gejala bahwa ruang dialog formal tidak bekerja optimal. Padahal, Tri Hita Karana di ranah pawongan menuntut keterbukaan, penghormatan, dan saling mendengar.

Partisipasi Masyarakat: Perlu, Tapi Bukan Alasan Lepas Tangan

Tak ada yang menyangkal bahwa keterlibatan warga penting. Memilah sampah di rumah, mengurangi plastik sekali pakai, dan ikut bank sampah adalah langkah nyata.
Namun, partisipasi ini harus berjalan di atas fondasi sistem yang disiapkan pemerintah: TPST 3R yang berfungsi, armada pengangkut yang memadai, teknologi pengolahan modern atau komposting massal, serta kebijakan Extended Producer Responsibility bagi industri.

Jika fondasi ini tidak ada, partisipasi akan terasa seperti menyapu halaman sementara hujan membawa sampah dari hulu.

Satir yang Serius: Belajar dari TPS yang Ditutup

Penutupan TPS Suwung tanpa solusi alternatif yang matang adalah seperti menutup pintu dapur saat panci di dalam sedang mendidih—uapnya mencari jalan keluar, dan meledak di ruang tamu.

Dalam pengelolaan publik, kebijakan yang bersifat reactive (menutup tanpa ada solusi pengganti) hanya memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya. Di sinilah refleksi satir ini menemukan gigitannya: Bali yang memimpin kampanye dunia untuk kesadaran lingkungan, justru terjebak dalam krisis sampah di halaman sendiri.

Jalan Keluar: Dari Wacana ke Tindakan

  1. Politik Layanan, Bukan Pencitraan
    Pemimpin perlu hadir di titik masalah, bukan hanya di titik kamera. Turun langsung menginspeksi TPS, TPA, dan sistem pengangkutan menunjukkan keseriusan.
  2. Kebijakan Berbasis Data
    Berapa ton sampah dihasilkan per hari? Berapa persen yang bisa diolah? Data ini harus transparan dan menjadi dasar kebijakan, bukan asumsi.
  3. Industri Pariwisata Ikut Tanggung Jawab
    Hotel, restoran, dan destinasi wisata adalah produsen sampah besar. Sebagian pajak dan retribusi mereka harus dialokasikan khusus untuk pengelolaan sampah.
  4. Edukasi dan Regulasi Jalan Bersama
    Edukasi tanpa sanksi hanya membuai; sanksi tanpa edukasi hanya menakuti. Keduanya harus berjalan seimbang.

Menjemput Kembali Dharma

Krisis sampah ini bukan hanya soal bau atau pemandangan yang merusak citra wisata. Ia adalah cermin dari cara kita memaknai Tri Hita Karana dan dharma kshatriya.

Pelayanan publik sejatinya adalah ibadah sosial. Pemimpin yang melayani dengan tulus akan dihormati, bahkan di tengah kritik. Pemimpin yang menutup telinga akan dikenang, tapi bukan karena prestasinya.

Bali tidak kekurangan filosofi agung—yang kurang adalah keberanian untuk menerapkannya di tempat paling sederhana: TPS, TPA, dan jalur pengangkut sampah. Karena dari sanalah kebersihan hati sebuah masyarakat dapat diukur. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Antara Kekuasaan dan Kesadaran: Mencari Makna Spiritual dalam Era Digital Indonesia
Bali Bukan untuk Dijual: Seruan Kesadaran untuk Generasi Muda di Tengah Invasi Harapan Semu
Mula Keto: Membaca Ulang Kearifan Lokal Bali dalam Cahaya Kesadaran
Alih Dewa di Deweke: Kearifan Lokal Bali dalam Perspektif Global
Sreya atau Preya: Saatnya Memilih Jalan yang Memuliakan Ibu Bumi
Melampaui Logika: Memaknai Kembali Mistisisme dalam Cahaya Filsafat Timur, Kritik atas Bertrand Russell
Tags: daur ulang sampah plastikGubernur BaliPemprov BaliSampahsampah plastik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [2]—Celaka! Baru 100 Kilometer Tapi Sekujur Tubuh Sudah Ngilu

Next Post

Frekuensi dan Nasi Goreng: Teori Dasar Penyajian Teater

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails
Next Post
Frekuensi dan Nasi Goreng: Teori Dasar Penyajian Teater

Frekuensi dan Nasi Goreng: Teori Dasar Penyajian Teater

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co