4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dharma Kshatriya: Refleksi atas Krisis Sampah di Bali

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
August 12, 2025
in Esai
Dharma Kshatriya: Refleksi atas Krisis Sampah di Bali

Ilustrasi tatkala.co

Bali, Surga dengan Aroma yang Tidak Sedap

Bali sering dijual sebagai surga tropis: pantai berpasir putih, sawah berundak, pura berjejer anggun, dan senyum ramah penduduknya. Namun, di balik poster pariwisata itu, ada aroma lain yang kadang menyeruak—bukan bau dupa atau kopi arabika Kintamani, melainkan tumpukan sampah yang menumpuk di setiap sudut jalan, di tebing, juga pada aliran sungai.

Gagalnya penanganan sampah di Bali menunjukkan betapa tidak becusnya kita menangani masalah yang menurut beberapa teman sebagai CGT, cenik gae to, asal disertai keseriusan. Sayangnya dana yang dialokasikan, menurut data yang dibeberkan I Gusti Putu Artha sangat tidak memadai, dibandingkan dana untuk Kominfo.  Penutupan TPS Suwung—yang dulunya menjadi “katup pengaman” sampah Denpasar dan sekitarnya—membuat masalah ini malah semakin meledak. Armada pengangkut sampah pun dijejerkan di depan Kantor Gubernur sebagai bentuk protes. Pemandangan ini bukan sekadar soal bau atau estetika, tapi simbol dari tata kelola yang tersendat.

Di ruang publik, tokoh masyarakat  I Gusti Putu Artha dan pihak pemerintah saling sindir lewat media sosial, bahkan mulai mengarah ke ranah personal. Ironisnya, kritik yang sejatinya adalah vitamin demokrasi justru dibalas seperti air tuba. Pertanyaannya: ke mana perginya Tri Hita Karana yang sering menjadi jargon manis? Apakah hanya sebatas wacana seremonial?

Tri Hita Karana: Filosofi atau Ornamen?

Tri Hita Karana mengajarkan tiga harmoni: hubungan dengan Tuhan (parahyangan), hubungan dengan sesama manusia (pawongan), dan hubungan dengan alam (palemahan). Dalam konteks pengelolaan sampah, palemahan seharusnya menjadi pijakan utama.

Namun, dalam praktiknya, konsep ini sering dipajang di spanduk acara atau brosur pariwisata tanpa benar-benar menjadi panduan kebijakan. Sampah yang menumpuk, sungai yang tersumbat plastik, dan pantai yang kotor adalah tanda jelas bahwa palemahan sedang diabaikan.

Jika Tri Hita Karana hanya berhenti di bibir, ia berubah menjadi Tri Hita Jaranan—indah ditarikan di panggung, tapi tidak berdaya membersihkan halaman rumah.

Dharma Kshatriya: Pelayanan, Bukan Sekadar Kekuasaan

Dalam tradisi nusantara, kshatriya adalah pelindung rakyat, bukan sekadar pemegang tahta. Dharma kshatriya adalah mengutamakan kepentingan publik di atas kenyamanan pribadi.
Mengelola sampah mungkin terdengar remeh dibanding proyek besar bernilai triliunan, tapi justru di sinilah ukuran pelayanan terlihat.

Sampah adalah urusan wajib pelayanan dasar menurut UU No. 18/2008 dan UU No. 23/2014. Bila krisis sampah sampai berlarut, itu menunjukkan rantai tanggung jawab yang putus. Menyerahkan sepenuhnya kepada masyarakat tanpa infrastruktur yang memadai bukanlah partisipasi, melainkan penyerahan beban.

Ketika Kritik Dianggap Serangan Pribadi

Kritik atas kinerja pemerintah bukanlah permusuhan, melainkan mekanisme koreksi yang sehat. Di era keterbukaan informasi, masyarakat dan tokohnya berhak bersuara.
Sayangnya, yang sering terjadi adalah “personalisasi” kritik—alih-alih menjawab substansi, justru menyerang balik pembawa pesan.

Fenomena saling sindir di media sosial antara tokoh masyarakat dan pejabat publik adalah gejala bahwa ruang dialog formal tidak bekerja optimal. Padahal, Tri Hita Karana di ranah pawongan menuntut keterbukaan, penghormatan, dan saling mendengar.

Partisipasi Masyarakat: Perlu, Tapi Bukan Alasan Lepas Tangan

Tak ada yang menyangkal bahwa keterlibatan warga penting. Memilah sampah di rumah, mengurangi plastik sekali pakai, dan ikut bank sampah adalah langkah nyata.
Namun, partisipasi ini harus berjalan di atas fondasi sistem yang disiapkan pemerintah: TPST 3R yang berfungsi, armada pengangkut yang memadai, teknologi pengolahan modern atau komposting massal, serta kebijakan Extended Producer Responsibility bagi industri.

Jika fondasi ini tidak ada, partisipasi akan terasa seperti menyapu halaman sementara hujan membawa sampah dari hulu.

Satir yang Serius: Belajar dari TPS yang Ditutup

Penutupan TPS Suwung tanpa solusi alternatif yang matang adalah seperti menutup pintu dapur saat panci di dalam sedang mendidih—uapnya mencari jalan keluar, dan meledak di ruang tamu.

Dalam pengelolaan publik, kebijakan yang bersifat reactive (menutup tanpa ada solusi pengganti) hanya memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya. Di sinilah refleksi satir ini menemukan gigitannya: Bali yang memimpin kampanye dunia untuk kesadaran lingkungan, justru terjebak dalam krisis sampah di halaman sendiri.

Jalan Keluar: Dari Wacana ke Tindakan

  1. Politik Layanan, Bukan Pencitraan
    Pemimpin perlu hadir di titik masalah, bukan hanya di titik kamera. Turun langsung menginspeksi TPS, TPA, dan sistem pengangkutan menunjukkan keseriusan.
  2. Kebijakan Berbasis Data
    Berapa ton sampah dihasilkan per hari? Berapa persen yang bisa diolah? Data ini harus transparan dan menjadi dasar kebijakan, bukan asumsi.
  3. Industri Pariwisata Ikut Tanggung Jawab
    Hotel, restoran, dan destinasi wisata adalah produsen sampah besar. Sebagian pajak dan retribusi mereka harus dialokasikan khusus untuk pengelolaan sampah.
  4. Edukasi dan Regulasi Jalan Bersama
    Edukasi tanpa sanksi hanya membuai; sanksi tanpa edukasi hanya menakuti. Keduanya harus berjalan seimbang.

Menjemput Kembali Dharma

Krisis sampah ini bukan hanya soal bau atau pemandangan yang merusak citra wisata. Ia adalah cermin dari cara kita memaknai Tri Hita Karana dan dharma kshatriya.

Pelayanan publik sejatinya adalah ibadah sosial. Pemimpin yang melayani dengan tulus akan dihormati, bahkan di tengah kritik. Pemimpin yang menutup telinga akan dikenang, tapi bukan karena prestasinya.

Bali tidak kekurangan filosofi agung—yang kurang adalah keberanian untuk menerapkannya di tempat paling sederhana: TPS, TPA, dan jalur pengangkut sampah. Karena dari sanalah kebersihan hati sebuah masyarakat dapat diukur. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Antara Kekuasaan dan Kesadaran: Mencari Makna Spiritual dalam Era Digital Indonesia
Bali Bukan untuk Dijual: Seruan Kesadaran untuk Generasi Muda di Tengah Invasi Harapan Semu
Mula Keto: Membaca Ulang Kearifan Lokal Bali dalam Cahaya Kesadaran
Alih Dewa di Deweke: Kearifan Lokal Bali dalam Perspektif Global
Sreya atau Preya: Saatnya Memilih Jalan yang Memuliakan Ibu Bumi
Melampaui Logika: Memaknai Kembali Mistisisme dalam Cahaya Filsafat Timur, Kritik atas Bertrand Russell
Tags: daur ulang sampah plastikGubernur BaliPemprov BaliSampahsampah plastik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [2]—Celaka! Baru 100 Kilometer Tapi Sekujur Tubuh Sudah Ngilu

Next Post

Frekuensi dan Nasi Goreng: Teori Dasar Penyajian Teater

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Frekuensi dan Nasi Goreng: Teori Dasar Penyajian Teater

Frekuensi dan Nasi Goreng: Teori Dasar Penyajian Teater

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co