“Heh, Profesor Syarif!” Seekor binatang datang menghadapku, suaranya menyerupai bentakan. Ia menggerak-gerakkan ekornya di depanku menunjukkan keangkuhan. Dia memanggilku profesor, mungkin sebagai penghormatan untukku yang ingin mendapat gelar itu, dan sudah mengejar-ngejarnya seperti lari anjing mengong-gong, tapi masih gagal. Senangnya hatiku ini mendengar ia memanggilku seperti itu, kata-katanya yang meluncur itu, aku anggap sebuah pujian untukku. Di sini ada hal yang aneh kutemukan, tiba-tiba rambutku memutih, umurku genap mencapai 63 tahun, seumuran dengan nabi waktu beliau tutup usia. Aku memakai jas yang terbuat dari sutra, lengkap dengan dasinya, terasa lembut di kulitku. Sepatuku warna hitam, tumitnya tinggi sekali, seolah aku dipandang orang penting di sini, bahkan orang nomor satu. Kacamata yang kukenakan tembus pandang, harganya menembus langit ketujuh.
“Ada perlu apa kau datang menghadapku wahai binatang jelek!“ Aku geram, sedikitpun aku tidak merasa takut pada binatang macan loreng itu. Seandainya diajak bertarung, aku siap. Ilmu silat yang kutuntut bertahun-tahun selama di pesantren pada lebih sepuluh guru, belum tentu bisa ia taklukkan walaupun ia si raja hutan.
“Kau jangan marah dulu padaku, Pak Prof. Aku tidak bermaksud jahat datang menemuimu. Aku tidak ingin makan dagingmu yang tidak enak itu, sadarlah badanmu sudah keriputan, tanah sudah berkali-kali memanggilmu, sebentar lagi mungkin kau akan tamat!” Taring-taringnya menyeringai, dia memancing emosiku, aku mendorongnya menggunakan kekuatan penuh, sejengkalpun badannya tak bergeser, aku mengaku kalah, dan baru sadar tak sepadan dengannya kalau adu fisik. Tidak ada artinya ilmu silatku di depannya. Sekarang aku mendekatkan wajahku ke wajahnya yang mengerikan itu, siap adu argumen dengannya yang tidak punya akal sehat.
“Katakan, apa makasudmu datang ke mari binatang keparat?” Aku yang sinis menatapnya dengan pandangan tajam, mataku memerah.
“Aku diutus Nabi Sulaiman menemuimu.”
“Untuk apa?”
“Untuk suatu keperluan.”
“Keperluan apa? Cepat, tidak usah berbelit-belit.”
Pelan-pelan dia ingin mengutarakan maksudnya terpatah-patah, sepertinya ada suatu hal yang sulit dia ungkapkan di depanku, seperti tak enak hati kelihatannya. Apa dia punya hati nurani juga sepertiku?
“Memangnya ada perlu apa sampai kau diutus Nabi yang kekayaannya seperti lingkaran itu?” Aku tak sabar lagi, buang-buang waktu saja ngobrol dengan binatang tak berotak itu, batinku terus menjerit-jerit.
“Kami bangsa binatang merasa keberatan sekali, kalau ada bangsa manusia berperilaku bejat lalu diumpakan seperti binatang, apapun jenisnya!” Mulutnya yang tadi menganga tertutup rapat. Kepalanya tertunduk, matanya mengerjap-ngerjap, sambil ia menjilat-jilat kulitnya seperti kucing, kemudian dia bangkit dari tempat duduknya semula, bicara lebih berhati-hati penuh keseriusan.
“Maafkan aku Pak Prof. Aku tidak bermaksud menghina bangsa manusia. Memang manusia itu kadang-kadang lebih bejat dari binatang, itulah kenyataan yang ada!” Dia datang menghampiriku lebih dekat lagi, seolah dia ingin mendekapku. Mungkin dia bermaksud menurunkan darah tinggiku yang terus naik, dia tahu aku lagi marah, ucapannya yang tajam merobek-robek jantungku. Dia takut seluruh dagingnya kucincang halus di sini.
“Coba jelaskan, apa alasanmu sampai kau berani berkata kasar seperti itu binatang kurangajar!” Dia menjilat-jilat lagi bulunya dengan ujung lidahnya yang panjang dan kesat, sedikitpun dia tak ada marah sepertiku. Dia lebih hebat menahan emosi dari pada aku seorang manusia yang diberi otak dan pikiran cerdas, juga sudah berpendidikan, tapi mudah memperturutkan rasa marah. Ya, harus gimana lagi, aku terlanjur sakit hati mendengar kata-katanya.
“Apa kau tidak tahu yang tertulis dalam kitab sucimu? Kau buka saja surat A-Furqan ayat 44, di sana Tuhan berfirman, mereka itu hanyalah seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat.” Kepalaku berpaling arah ingin menyembunyikan wajah asliku, aku merasa malu sekali. Alasan yang dia utarakan tepat sekali, tidak bisa dibantah dan diganggu gugat setitikpun, apa lagi dihapus dan dirubah tangan kotor manusia, keasliannya terjamin, dan yang menjamin itu penguasa jagat raya ini. Ia takkan pernah runtuh dan rapuh, sampai gunung terbatuk-batuk, manusia beterbangan seperti debu.
“Terus, alasanku yang kedua!” Dia melanjutkan tanpa ada perintah dariku, hatiku semakin remuk, merasa sebagai seorang manusia yang mulia, kini harga diriku diinjak-injak seekor binatang yang selama ini aku pandang rendah karena tidak punya kepribadian.
“Kehidupan binatang, mana ada ditemukan seorang ibu tega membunuh anaknya setelah ia lahirkan. Kehidupan manusia, sebelum lahir pun sudah dibunuhnya. Begitu banyak perempuan yang sengaja menggugurkan kandungannya karena takut hamil di luar nikah, dan banyak juga anak yang lahir, dia tidak tahu harus ke mana memanggil Ibu dan kepada siapa tempat memanggil Bapak. Begitu dia terlahir ke dunia dibuang oleh ibu kandung sendiri ke tong sampah, memang kejam makhluk yang bernama manusia itu.”
Baru pertama kali ini aku diceramahi seekor binatang. Ternyata sudah serendah ini kehidupanku yang berpendidikan tinggi. Hatiku yang mendidih kuraba-raba bermaksud mendinginkannya. Aku memilih mundur ke belakang, melangkah pelan-pelan ingin menyembunyikan wajah asliku yang malu, aku pura-pura tidak mendengar ocehannya. Dan ia tidak bisa diam, kata-kata yang berhamburan ke luar deras dari mulutnya bercampur ludah terus melukaiku.
“Selanjutnya bangsa binatang sebejat apapun dia, tidak ada kau temukan jantan suka sama jantan, sampai mereka melakukan hubungan intim. Bangsa manusia, berapa banyak laki-laki yang melakukan homo seksual, dan perempuan lesbian, suka sesame jenis. Ternyata umat Nabi Lut masih betebaran dan berjelaga di muka bumi ini.”
Dia menarik nafas sejenak, aku ingin memotong pembicaraannya bermaksud menantang, tapi aku tak tahu harus bilang apa lagi. Apa yang dikatakannya itu semua memang benar. Begaimana mungkin aku bisa mengalahkan suatu kebenaran, meskipun yang mengucapkannya seekor binatang, memiliki taring yang tajam, dan ia terus menyeringai. Aku tak peduli siapa dia, yang penting apa yang mengalir dari mulutnya itu memang benar, dan aku harus memetik kalam hikmah itu, dan takbisa membantahnya sedikit pun.
“Terakhir, kami bangsa binatang kalau urusan perut sudah kenyang, kami tidak neko-neko lagi.” Aku benar-benar bungkam, mulutku serasa terkunci.
“Manusia, walaupun perutnya sudah kenyang, ia masih korupsi.”
Aku berlari kencang, sengaja menjauh dari binatang itu. Aku tidak takut dikejarnya, dan dijadikannya aku santapan, tapi aku takut ia datang merepet lagi di depanku membuat mulutku bungkam.
“Heh….heh….heh….Syarif bangun, kita ada kuliah, jangan sampai telat. Ini dosennya galak lo, profesor itu.” Kawanku Taher yang berwajah lonjong itu membangunkanku. Aku yang lemas duduk di atas ranjang, mengucek-ucek mata, sambil menguap lebar menutup mulut. [T]
Penulis: Depri Ajopan
Editor: Made Adnyana Ole



























