4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerpen, Seberapapun Fiksinya Tetap Harus Logis | Dari MTN Asah Bakat Penulisan Cerpen Bersama Juli Sastrawan

Son Lomri by Son Lomri
August 9, 2025
in Khas
Cerpen, Seberapapun Fiksinya Tetap Harus Logis | Dari MTN Asah Bakat Penulisan Cerpen Bersama Juli Sastrawan

Juli Sastrawan saat memebri materi dalam kegiatan MTN Asah Bakat Penulisan Cerpen di Singaraja | Foto: Tim SLF 2025

PAGI. Langkah kaki Widya Mutyari dan temannya, Tirta Yani, tampak terburu-buru datang ke Ruang Niti Sastra, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha Singaraja, Sabtu pagi, 9 Agustus 2025.

Mereka berdua adalah peserta kegiatan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya di bidang Asah Bakat Penulisan Cerita Pendek (Cerpen) yang diselenggarakan Yayasan Mahima Indonesia serangkaian program Singaraja Literary Festival (SLF) 2025 berkolaborasi dengan Kementerian Kebudayaan RI.

Pada Sabtu pagi itu, pemateri yang dihadirkan adalah sastrawan Putu Juli Sastrawan yang baru saja meluncurkan novel barunya yang berjudul “Menuai Badai”.

MTN Seni Budaya ini sebagai program strategis nasional yang bertujuan untuk menjaring, mengembangkan, dan mempromosikan talenta seni budaya Indonesia secara terstruktur dan berkelanjutan.

Untuk itulah Widya Mutyari dan Tirta Yani datang terburu-buru. Selain karena terlambat, mereka ingin tahu lebih dekat dengan sastra, ingin tahu lebih khusus juga, apa dan bagaimana menulis cerpen itu.

Di meja registrasi di lorong lantai dua FBS, Undiksha, para peserta sekitar 80 orang itu sudah mengambil antreannya masing-masing. Sesuai waktu datang, Widya dan Tirta mendapat antrean paling belakang, mendapat kursi duduk juga paling belakang. Tak apa, katanya.

“Aku ikut ini karena tertarik sih, Kak. Aku senang baca cerpen juga,” kata Widya.

Widya sudah sejak SMP suka baca sastra, sampai sekarang bahkan. Dan baru-baru ini, dia sudah melahap habis novel Si Anak Hilang—karya Tere liye.

“Saya suka Tere Liye sama Boy Candra juga,” lanjut Widya.

Tidak jauh berbeda, Tirta juga mengatakan hal sama tentang alasan ikut workshop ini karena suka dengan cerpen.

Widya (kiri) dan Tirta (kanan), menyimak di kursi duduk paling belakang | Foto: tatkala/Son

Bagi dua orang itu, cerpen bisa dibaca sekali duduk ketimbang novel—yang membutuhkan waktu satu sampai tiga hari. Tapi intinya, mereka suka baca.

“Walaupun tidak terlalu sering, Kak. Hehe,” kata Tirta rendah hati.

Tirta pernah dapat juara menulis cerpen tahun lalu, 2024. Dan ketika mendapat bingkisan sebuah pulpen, buku catatan(noote book), dan buku kumpulan cerpen terbitan Mahima Institute Indonesia, ia tampak merasa senang, membuka-buka buku itu.

Dia  juga merasa bergairah lagi untuk menulis karena merasa punya asupan baru, ya, buku itu. Katanya, dia sudah lama tidak punya buku baru dan sudah lama tak menulis cerpen.

Berbeda dengan Widya, ia hanya senang membaca, dan tak ada cita-cita untuk menulis cerpen.

“Saya tidak ada keinginan untuk menulis, Kak. Hanya suka baca aja,” ucap Widya dengan kumis tipis setengah senyum itu. Manis.

Empat Trik Agar “Yakin” Sebelum Menulis Cerpen

Selepas para peserta, yang terdiri dari siswa-siswi SMA dan Mahiswa-mahasiswi itu duduk, Juli Sastrawan lantas memulai workshop-nya.

Sekilas mengenal Juli Sastrawan, atau biasa disapa Juli, adalah sastrawan yang mengawali proses belajar di Komunitas Mahima. Sejak 2022 ia berfokus pada penelitian memori kolektif, politik ingatan, serta narasi sejarah dalam sastra dan seni.

Juli Sastrawan, David Irianto (tim MTN Kementerian Kebudayaan RI) dan Kadek Sonia Piscayanti (Pendiri dan Direktur SLF) saat membuka acara MTN Asah Bakat di kampus Undiksha Singaraja | Foto: Tim SLF 2025

Pada 2024, ia menjalani residensi menulis di Kyoto dan menjadi peneliti tamu di Pusat Kajian Asia Tenggara, Universitas Kyoto. Saat ini, ia tengah mengerjakan proyek penulisan yang mengeksplorasi bagaimana fiksi menjadi medium bagi penyintas dan saksi mata Peristiwa 1965 dan Bom Atom Hiroshima.

“Menulis itu, memang berat, yah. Berat sama dipikul,” kata Juli memulai kelasnya dengan humor.

Sontak para peserta tertawa. Acara menjadi cair. Tidak tegang.

“Tapi,” lanjut Juli, “Tidak sama dengan mustahil!”.

Para peserta pun terdiam. Seakan mereka kejatuhan energi tambahan mendengar berat tidak sama dengan mustahil. Ya, ada kemungkinan-kemungkinan di dalamnya, untuk penulis pemula.

Juli Sastrawan memberikan materi | Foto: Tim SLF 2025

Agar semakin yakin para peserta bisa menulis cerpen, Juli lemparkan empat tips. Widya dan Tirta, dan para peserta lainnya menangkap empat trik itu.

Satu, kata Juli.Adalah semangat. “Semangat itu, sangat penting dibangun untuk bisa menulis.”

Kedua, menjauhi jalan yang tidak benar. Maksudnya, jangan plagiat. Jangan nyolong cerita milik orang lain. Harus orisinil ciptaan sendiri. Harus kreatif. Belajar.

Kemudian yang ketiga, adalah belajar merelakan. Dalam hal ini, merelakan tulisan yang jelek saat belajar itu, perlu. Dan itu tidak apa-apa.

Terus yang keempat, yaitu mendiskusikan karya yang sudah selesai dibuat.

“Bisa mendiskusikannya dengan teman atau siapa saja yang enak diajak ngobrol. Atau pergi ke komunitas sastra untuk menerima masukan [yang lebih intens] agar tulisan lebih berkembang,” kata Juli.

Terhalang belakang punggung-punggung peserta lain, Widya tampak senyum-senyum tipis. Dia masih diam-menyimak, bertahan di kursi duduk paling belakang itu bersama Tirta. Mereka menyimak sangat serius.

Cerbung, Ice Breaking Menyambung Kalimat

Sebelum jauh Juli Sastrawan memberikan pemahaman tentang Istilah-istilah struktur cerita, Istilah-istilah tokoh, dan Struktur 3 Babak dalam cerpen seperti apa, ia lebih dulu mengajak para peserta untuk bermain cerbung (cerita bersabung), sebagai ice breaking.

Pada permainan itu, para peserta ditugaskan untuk membuat satu kalimat dari kalimat yang sudah dibuat oleh Juli: Sesaat setelah pintu lift terbuka, kami dikejutkan oleh pemandangan yang tak pernah kami bayangkan.

“Jangan pikir panjang. Langsung buat saja. Kemudian baca,” kata Juli Sastrawan agar para peserta tidak merasa terbebani. “Silahkan akses barcodenya,” tunjuk Juli ke layar.

Interaksi aktif peserta | Foto: Tim SLF 2025

Setelah diakses, dari peserta baris paling depan pojok kanan, kalimat itu dilanjutkan. Kata peserta pertama setelah menuliskan, “Terlihat pemandangan berkabut tersebut penuh misteri yang perlu dijawab yang tidak hanya oleh mata.”

Kemudian peserta di sebelahnya menyambung, “Udara menyesakan paru-paru kami sehingga urat nadi terkerut, menjerat seperuh darah yang mengalir ke otak kami!”

“Dilorong berkabut itu banyak darah berceceran,” lanjut peserta lainnya, dan para peserta sorak kengerian; uuuuuh….

Setelah sorak kengerian reda, peserta selanjutnya melanjutkan cerita, “Di antara kabut itu berdiri seseorang yang memegang pisau di tangan kirinya.”

“Yang tak pernah aku bayangkan seseorang itu adalah suamiku,” lanjut peserta lainnya, menghasilkan gelak tawa. Ramai orang menertawakan kalimat itu lucu—karena aneh sendiri.

“Ternyata objek itu adalah selai stoberi,” lanjut peserta lainnya tambah aneh, dan gelak tawa semakin meledak. Haha.

Interaksi aktif peserta | Foto: Tim SLF 2025

Selepas menulis cerita bersambung dengan satu kalimat, Juli Sastrawan menyatukan kalimat itu sesuai urutan, lalu membacanya :

“Sesaat setelah pintu lift terbuka, kami dikejutkan oleh pemandangan yang tak pernah kami bayangkan. Terlihat pemandangan berkabut tersebut penuh misteri yang perlu dijawab yang tidak hanya oleh mata. Udara menyesakan paru-paru kami sehingga urat nadi terkerut, menjerat seperuh darah yang mengalir ke otak kami. 

Dilorong berkabut itu banyak darah berceceran 

Di antara kabut itu berdiri seseorang yang memegang pisau di tangan kirinya 

Yang tak pernah aku bayangkan seseorang itu adalah suamiku. dAN TERNYATA objek itu adalah selai stoberi. Suamiku mendatangiku dan menawarkan pisau untuk dijual. Suamiku datang membawa bunga dihiasi sosok hitam di belakangnya. 

Dari balik pintu yang aku lihat terdengar suara gemuruh yang ku anggap itu ibuku. Ternyata itu bukan ibuku tapi bapakku. Ternyata bapakku sedang mengelas pagar. Ternyata yang dilas adalah tulang. 

Aku melihat ke sekitar dan aku melihat tulang itu adalah tulang ibuku. 

Itu adalah tulang ibu yang telah lama hilang dalam kegelapan. 

Dengan santai suamiku berkata, “sayang kamu juga mau?”

Lalu aku menjawab pertanyaan itu, “Aku mau!”

Ya, aku mau dicintai. Lanjutnya. 

Naas, tapi ini bukan hal pertama kali yang aku hadapi

Hal tersebut begitu cepat hingga aku lupa makan dan maagku kambuh. Aku pun terkaget kaget dengan kejadian tersebut hingga pingsan. Dia mencium keningku. Lalu aku terbangun memanjat tembok untuk mengejarnya. Lalu di pengejaran itu orang orang membantuku meneriaki dia maling. Begitu semangat aku berteriak, ada rentenir. Tidak dapat berpikir jernih lagi. Lalu aku tetap berlari dan mengabaikan renternir itu. Aku mendengar suara keras, seperti mobil pengangkut sampah yang membangunkanku dari mimpi.”

Tepuk tangan terdengar…

Evaluasi

Dari cerbung atau sebuah ice breaking itu, para peserta mendapatkan pengalaman mengumbar imajinasinya masing-masing, dan tidak takut untuk menuliskannya.

Dari ketidakraguan para peserta dalam menuliskannya, pun, Juli Sastrawan menilai mereka memiliki kemampuan dan kepribadian yang unik untuk menulis.

Namun, ada catatan bersama untuk dijadikan sebagai evaluasi. Yaitu, sebelum menulis sebuah cerpen, mesti lebih dulu menentukan; memulai dan mengakhiri. Agar ceritanya tidak terkesan sekadar mimpi, khayali.

“Dari cerbung itu juga, kita belajar soal karakter. Di cerbung itu, pembaca dibingungkan oleh si tokoh itu, sebenarnya siapa?” kata Juli.

Sehingga penokohan dan karakter itu perlu ditentukan, diciptakan, agar cerita lebih mudah dipahami dan logis.

Interaksi aktif peserta | Foto: Tim SLF 2025

Dalam cerita pendek (cerpen), ada istilah-istilah struktur cerita yang mesti diketahui. Narasi, konflik, cerita, latar, set-up, rangkaian adegan, ketegangan, dan penyelesaian.  Yang membangun cerpen menjadi bertubuh dan hidup.

Narasi dapat dipahami sebagai pengisahan suatu cerita atau kejadian. Konflik adalah masalah utama dalam cerita. Latar, yaitu tempat terjadinya cerita.

Dan, keberadaan set-up sebagai penjelasan awal yang digunakan untuk memulai cerita. Kemudian rangkaian adegan adalah peristiwa-peristiwa yang membangun cerita.

Terus dalam cerpen juga harus ada ketegangan, sebagai kesulitan tertentu yang harus dihadapi oleh karakter dalam cerita. Dan yang terakhir, yaitu penyelesaian sebagai akhir dari cerita, akan diseperti apakan ending-nya, juga harus ditentukan. Boleh menggantung. Boleh tidak menggantung.

“Nah, di cerbung yang kita buat tadi itu, terlalu banyak kejadiannya. Di cerpen itu justru sederhana, cukup satu atau dua saja ada konflik,” kata Juli Sastrawan saat evaluasi hasil ice breaking menyusun cerita dengan masing-masing peserta satu kalimat.

Ia juga membedakan antara menulis cerpen dan novel. Bahwa di dalam cerpen hanya ada satu fokus saja tentang konflik, berbeda dengan novel yang biasanya lebih kompleks.

Kemudian soal penokohan, si tokoh dihadirkan harus membawa maksud dan tujuan bukan sekadar ada.  Posisi tokoh dalam cerita itu, berfungsi untuk menjalankan cerita agar lebih hidup. Lebih ada yang ingin disampaikan.

Penokohan bisa apa saja bentuknya. Bisa pohon, bisa binatang, bisa manusia. Dan penokohan-penokohan yang dibuat, pula mesti dideskripsikan—bagaimana ia secara fisik, pula bagaimana karakternya. Harus detail diciptakan.

Beberapa penulis besar seperti George Orwell, melalui karyanya yang berjudul Animal Farm, menyeret babi-babi, burung, ayam, itu jadi tokoh. Kemudian memasukan karakteristik pada tokoh-tokohnya itu secara detail, sehingga antara cerita dan tokoh saling berkaitan.

“Apa yang diinginkan oleh si tokoh? Nah, motivasi itulah yang membuat cerita itu bergerak, karena dia ada masalah. Misalnya kebebasan, atau apa…,” kata Juli Sastrawan, menekankan pada setiap tokoh, atau dalam hal ini tokoh utama, mesti memiliki (semacam) premis, mengapa ia melakukan sesuatu itu dengan sadar.

Kemudian dalam penokohan juga, mesti ada kondisi eksternal. Yaitu sebuah kondisi yang berhubungan dengan orang lain, seperti persoalan.

Boleh juga kondisi internal. Seperti monolog batin, atau persoalan pribadi yang mengarah pada gangguan psikologis.

Struktur Tiga Babak, Formula Untuk Menyusun Cerita

Agar tidak bingung saat menulis cerita pendek, menentukan penokohan hingga karakter, dan latar-setting tempat itu, bisa meggunakan teknik struktur tiga babak.

Struktur tiga babak, adalah cerita yang memuat awal (beginning); berisi perkenalan tokoh dan masalah yang dia hadapi, tengah(middle); berisi perkembangan konflik yang muncul, dan akhir(End); berisi penyelesaian dari konflik dalam cerita.

Interaksi aktif peserta | Foto: Tim SLF 2025

Tiga kerangka itu bisa menyelamatkan si penulis dari kebingungan, karena berguna sebagai kerangka dasar yang menentukan seperti apa ‘bangunan’ ceritanya nanti.

Kemudian tiap-tiap babak dipisahkan oleh ‘tiang-tiang penyangga cerita’ yang disebut sebagai ‘Key Turning Point’, yang menjadi penanda posisi karakter dalam mencapai tujuannya.

Sampai di situ, ia juga menegaskan bagaimana formula struktur tiga babak memuat; Siapa melakukan apa lalu bagaimana?

“Dengan struktur ini, kerangka cerita akan menjadi solid, terarah dan dramatis,” jelas Juli Sastrawan.

Kemudian seorang peserta bertanya, “Untuk bagian beginning, atau bagian opening cerita, kalo boleh tahu, bagaimana membuat pembuka yang tidak monoton?” kata Agus Dwi Budiasa, salah satu peserta dari SMA 4 Singaraja.

Juli Sastrawan lantas menjawab, bahwa dalam membuat cerita, ia selalu mengawalinya dengan masalah.

“Seperti di novel terbaruku Menuai Badai, aku mengawalinya dengan statement di kepalanya (si tokoh utama),” jawab Juli Sastrawan. Lantas ia membacakan pembuka dalam novovelnya itu sebagai contoh :

“Bahwa sebenar-benarnya hidup yang baik, adalah hidup yang mementingkan diri sendiri. menyelamatkan hidup kita sendiri dan mendahulukan diri kita sendiri. apabila selama hidup kita menjumpai bahwa pilihan membunuh atau dibunuh, pilihlah untuk membunuh. dengan begitu kita tak perlu memikirkan apa-apa setelah karena kita telah mementingkan diri sendir. Karena pucuk dari kebahagiaan adalah yang bermakna pada kebahagiaan kita sendiri.”

Melalui statement yang ada pada si tokoh itu, kata Juli. Bisa ditemukan sebuah karakter yang jelas, yaitu si tokoh itu memikirkan dirinya sendiri.

“Melalui statement itu, kita menemukan bahwa dia punya masalah,” kata Juli Sastrawan tentang kalimat pembuka pada novelnya Menuai Badai yang diterbitkan oleh Gramedia.

Cara demikian dipilih Juli, juga untuk menyentak pembaca dengan masalah. Secara psikologis, pembaca akan merasa tertarik untuk membaca cerita lanjutannya seperti apa. Karena merasa ada yang memukul.

Berbeda dengan cerita yang dibuka dengan suasana. Seperti pohon-pohon melambai, debur ombak, yang tidak menimbulkan apa-apa terhadap karakter, pembuka semacam itu hanya meninggalkan kesan deskripsi tempat saja.

Kemudian juga menyoal penutup, itu boleh saja menggantung. Yang terpenting, seberapapun fiksinya, kata Juli. “Dia harus logis.”

Berkhayal dengan What if

Selain dengan struktur tiga babak, agar tak bingung untuk membuat cerita, bisa juga dengan cara berkhayal menggunakan What if—Bagaimana jika.

What If, atau bagaimana jika, adalah teknik awal mengembangkan ide—membangun cerita dengan cara bertanya lalu menjawabnya sendiri. Yangbisa memantik mengeluarkan imajinasi yang lebih kaya.

Juli Sastrawan mengaku ia sering menggunakan teknik itu untuk membuat sebuah cerita. Cara menggunakannya gampang. Cukup membuat pertanyaan yang kita fikirkan tentang sesuatu. Lalu menjawabnya.

“Misalnya, bagaimana jika bayanganmu suatu hari berhenti meniru gerakanmu dan mulai punya kehendak sendiri?” kata Juli Sastrawan.

Interaksi aktif peserta | Foto: Tim SLF 2025

Bagaimana jika seorang nelayan menemukan botol berisi jin? Bagaimana jika kamu menemukan sebuah buku yang setiap kali kamu membacanya, kejadian di dalam cerita itu terjadi di dunia nyata, tapi dengan perubahan kecil yang tidak bisa kamu kendalikan?

Membuat pertanyaan-pertanyaan semacam itu, kata Juli. Bisa mempermudah si penulis untuk membangun cerita dengan cara menjawab pertanyaan-pertanyaan dirinya sendiri. Yang akan menjadi cerita Panjang jika diteruskan, jika dicari dijawab terus menerus.

Dengan cara itu bisa membuat cerpen menjadi mengalir, dan kaya dengan imajinasi. Konflik yang kuat, dan logika kalimat yang baik.

Syahdan, Widya Mutyari—yang awalnya datang hanya untuk mendengarkan, pada akhirnya ia akan mencoba menulis cerpen selepas workshop.

“Saya merasa bertambah wawasan saya tentang cerpen. Mungkin setelah ini saya mau nulis. Karena tadi, kan, juga sekaligus praktik menulis.” kata Widya Mutyari.

Begitupun dengan temannya, Tirta Yani. Dia merasa lebih bersemangat untuk kembali menulis cerpen dengan dua teknik tadi. Selamat mencoba. Merdeka. [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Dari Halaman Buku ke Denyut Kota: Percakapan Patjarmerah, SLF, dan UWRF di Singaraja Literary Festival 2025
Tanpa Rencana, Marah-Marah Melulu, dan Seni Menerima Diri di Singaraja Literary Festival 2025
Ketika Pohon-Pohon Tumbang Berbicara: Puisi Aan Mansyur dan Suara Penyembuhan di Singaraja Literary Festival 2025
Sembuh Oleh Sastra, Mengapa Tidak? — Cerita Ratih Kumala, Oka Rusmini dan Cyntha Hariadi di Singaraja Literary Festival 2025
Tags: CerpenKementerian KebudayaanMTN Seni BudayasastraSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Login, Lalu Hidup Berjalan

Next Post

Berdialog dengan Harimau | Cerpen Depri Ajopan

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
Berdialog dengan Harimau | Cerpen Depri Ajopan

Berdialog dengan Harimau | Cerpen Depri Ajopan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co