15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berdialog dengan Harimau | Cerpen Depri Ajopan

Depri Ajopan by Depri Ajopan
August 10, 2025
in Cerpen
Berdialog dengan Harimau | Cerpen Depri Ajopan

Ilustrasi tatkala.co

“Heh, Profesor Syarif!” Seekor binatang datang menghadapku, suaranya menyerupai bentakan. Ia menggerak-gerakkan ekornya di depanku menunjukkan keangkuhan. Dia memanggilku profesor, mungkin sebagai penghormatan untukku yang ingin mendapat gelar itu, dan sudah mengejar-ngejarnya seperti lari anjing mengong-gong, tapi masih gagal. Senangnya hatiku ini mendengar ia memanggilku seperti itu, kata-katanya yang meluncur itu, aku anggap sebuah pujian untukku. Di sini ada hal yang aneh kutemukan, tiba-tiba rambutku  memutih, umurku genap mencapai 63 tahun, seumuran dengan nabi waktu beliau tutup usia. Aku memakai jas yang terbuat dari sutra, lengkap dengan dasinya, terasa lembut di kulitku. Sepatuku warna hitam, tumitnya tinggi sekali, seolah aku dipandang orang penting di sini, bahkan orang nomor satu. Kacamata yang  kukenakan  tembus  pandang, harganya   menembus   langit    ketujuh.

“Ada   perlu   apa   kau   datang   menghadapku   wahai binatang jelek!“ Aku geram, sedikitpun aku tidak merasa takut pada binatang macan loreng itu. Seandainya diajak bertarung, aku siap. Ilmu silat yang kutuntut bertahun-tahun selama di pesantren pada lebih sepuluh guru, belum tentu bisa ia taklukkan walaupun ia si raja hutan.

“Kau jangan marah dulu  padaku, Pak Prof. Aku tidak bermaksud jahat datang menemuimu. Aku tidak ingin makan dagingmu yang tidak enak itu, sadarlah badanmu sudah keriputan, tanah sudah berkali-kali memanggilmu, sebentar lagi   mungkin kau akan tamat!” Taring-taringnya   menyeringai,   dia   memancing   emosiku,   aku   mendorongnya   menggunakan kekuatan   penuh,   sejengkalpun   badannya   tak   bergeser,   aku   mengaku   kalah, dan baru sadar tak sepadan dengannya kalau adu fisik. Tidak ada artinya ilmu silatku di depannya. Sekarang aku mendekatkan wajahku ke wajahnya yang mengerikan itu, siap adu argumen dengannya yang tidak punya akal sehat.

“Katakan, apa makasudmu datang ke mari binatang keparat?” Aku yang sinis     menatapnya   dengan pandangan   tajam,   mataku memerah.

“Aku diutus Nabi Sulaiman menemuimu.”

“Untuk apa?”

“Untuk suatu keperluan.”

“Keperluan apa? Cepat, tidak usah berbelit-belit.”

Pelan-pelan dia ingin mengutarakan maksudnya terpatah-patah, sepertinya ada suatu hal yang sulit dia ungkapkan di depanku, seperti tak enak hati kelihatannya. Apa dia punya hati nurani juga sepertiku?  

“Memangnya ada perlu apa sampai kau diutus Nabi yang kekayaannya seperti lingkaran itu?” Aku tak sabar lagi, buang-buang waktu saja ngobrol dengan binatang tak berotak itu, batinku terus menjerit-jerit.

“Kami bangsa binatang merasa keberatan sekali, kalau ada bangsa manusia berperilaku bejat lalu diumpakan seperti binatang, apapun jenisnya!” Mulutnya yang tadi menganga tertutup rapat. Kepalanya tertunduk,   matanya   mengerjap-ngerjap, sambil ia menjilat-jilat kulitnya seperti kucing,   kemudian   dia bangkit  dari   tempat   duduknya semula,   bicara   lebih   berhati-hati   penuh   keseriusan.  

“Maafkan   aku   Pak Prof.   Aku   tidak bermaksud  menghina  bangsa  manusia.   Memang   manusia   itu   kadang-kadang   lebih   bejat   dari binatang, itulah kenyataan yang ada!” Dia datang menghampiriku lebih dekat lagi, seolah dia ingin mendekapku. Mungkin dia bermaksud menurunkan darah tinggiku yang terus naik, dia tahu aku lagi marah, ucapannya yang tajam merobek-robek jantungku. Dia takut seluruh dagingnya kucincang halus di sini.  

“Coba jelaskan, apa alasanmu sampai kau berani berkata kasar seperti itu binatang kurangajar!”  Dia menjilat-jilat lagi bulunya dengan ujung lidahnya yang panjang dan kesat, sedikitpun dia tak ada marah sepertiku. Dia lebih hebat menahan emosi dari pada aku seorang manusia yang diberi otak dan pikiran cerdas, juga sudah berpendidikan, tapi mudah memperturutkan rasa marah. Ya, harus gimana lagi, aku terlanjur sakit hati mendengar kata-katanya.

“Apa kau tidak tahu yang tertulis dalam kitab sucimu? Kau buka saja surat A-Furqan ayat 44, di sana Tuhan berfirman, mereka itu hanyalah seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat.”  Kepalaku berpaling arah ingin menyembunyikan wajah asliku, aku merasa malu sekali. Alasan yang dia utarakan  tepat sekali, tidak  bisa dibantah  dan diganggu  gugat setitikpun, apa lagi  dihapus dan  dirubah tangan kotor manusia, keasliannya terjamin, dan yang menjamin  itu penguasa  jagat raya ini. Ia takkan pernah runtuh dan rapuh, sampai gunung terbatuk-batuk, manusia beterbangan seperti debu.

“Terus, alasanku yang kedua!” Dia melanjutkan tanpa ada perintah dariku, hatiku semakin remuk, merasa sebagai   seorang   manusia   yang   mulia,   kini   harga   diriku   diinjak-injak   seekor   binatang yang selama ini aku pandang rendah karena tidak punya kepribadian.

“Kehidupan binatang, mana ada ditemukan seorang ibu tega membunuh anaknya setelah ia lahirkan. Kehidupan manusia, sebelum lahir pun sudah dibunuhnya. Begitu banyak perempuan yang sengaja menggugurkan kandungannya karena takut hamil di luar nikah, dan banyak juga  anak yang lahir, dia tidak tahu harus ke mana memanggil Ibu dan kepada siapa tempat memanggil Bapak. Begitu dia terlahir ke dunia dibuang oleh ibu kandung sendiri ke tong sampah, memang kejam makhluk yang bernama manusia itu.”

Baru pertama kali ini aku diceramahi seekor binatang. Ternyata sudah serendah ini kehidupanku yang berpendidikan tinggi. Hatiku yang mendidih kuraba-raba bermaksud mendinginkannya. Aku memilih  mundur ke belakang, melangkah pelan-pelan ingin menyembunyikan wajah asliku yang malu, aku pura-pura tidak mendengar ocehannya. Dan ia tidak bisa diam, kata-kata yang berhamburan ke luar deras dari mulutnya bercampur ludah terus melukaiku.

“Selanjutnya bangsa binatang sebejat apapun dia, tidak ada kau temukan jantan   suka  sama   jantan, sampai mereka  melakukan hubungan intim.   Bangsa   manusia,  berapa   banyak   laki-laki   yang melakukan   homo   seksual,   dan   perempuan   lesbian, suka sesame jenis.   Ternyata   umat   Nabi   Lut   masih   betebaran dan berjelaga di muka bumi ini.”

Dia menarik nafas sejenak, aku ingin memotong pembicaraannya bermaksud menantang,  tapi   aku   tak   tahu   harus   bilang   apa   lagi. Apa   yang dikatakannya   itu   semua   memang   benar.   Begaimana   mungkin   aku   bisa   mengalahkan   suatu kebenaran, meskipun yang mengucapkannya seekor binatang, memiliki taring yang tajam, dan ia terus menyeringai. Aku tak peduli siapa dia, yang penting apa yang mengalir dari mulutnya itu memang benar, dan aku harus memetik kalam hikmah itu, dan takbisa membantahnya sedikit pun.

“Terakhir, kami bangsa binatang kalau urusan perut sudah kenyang, kami tidak neko-neko lagi.” Aku   benar-benar   bungkam, mulutku serasa terkunci.

“Manusia, walaupun perutnya sudah kenyang, ia masih korupsi.”

Aku berlari kencang, sengaja menjauh dari binatang itu. Aku tidak takut dikejarnya, dan dijadikannya aku santapan, tapi aku takut ia datang merepet lagi di depanku membuat mulutku bungkam.

“Heh….heh….heh….Syarif   bangun,   kita   ada   kuliah, jangan sampai telat. Ini dosennya galak lo, profesor itu.” Kawanku Taher yang berwajah lonjong itu membangunkanku. Aku yang lemas duduk di atas ranjang, mengucek-ucek mata, sambil menguap lebar menutup mulut. [T]

Penulis: Depri Ajopan
Editor: Made Adnyana Ole

  • KLIK untuk BACA cerpen lain
Janda yang Ditinggal Mati Suaminya | Cerpen Depri Ajopan
Aku Ingin Dia Berubah | Cerpen Depri Ajopan
Lelaki Dalam Kamar Pacarnya  | Cerpen Depri Ajopan
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerpen, Seberapapun Fiksinya Tetap Harus Logis | Dari MTN Asah Bakat Penulisan Cerpen Bersama Juli Sastrawan

Next Post

Tampakan Buda Kecapi dari Tiga Seniman dalam Pameran Seni Rupa di Singaraja Literary Festival 2025

Depri Ajopan

Depri Ajopan

Menyelesaikan S-1 Prodi Sastra Indonesia di UNP. Sudah menulis beberapa karya fiksi dan sudah diterbitkan. Cerpennya pernah dimuat di beberapa media cetak dan online. Sekarang penulis aktif di Komunitas Suku Seni Riau.

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Tampakan Buda Kecapi dari Tiga Seniman dalam Pameran Seni Rupa di Singaraja Literary Festival 2025

Tampakan Buda Kecapi dari Tiga Seniman dalam Pameran Seni Rupa di Singaraja Literary Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co