4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berdialog dengan Harimau | Cerpen Depri Ajopan

Depri Ajopan by Depri Ajopan
August 10, 2025
in Cerpen
Berdialog dengan Harimau | Cerpen Depri Ajopan

Ilustrasi tatkala.co

“Heh, Profesor Syarif!” Seekor binatang datang menghadapku, suaranya menyerupai bentakan. Ia menggerak-gerakkan ekornya di depanku menunjukkan keangkuhan. Dia memanggilku profesor, mungkin sebagai penghormatan untukku yang ingin mendapat gelar itu, dan sudah mengejar-ngejarnya seperti lari anjing mengong-gong, tapi masih gagal. Senangnya hatiku ini mendengar ia memanggilku seperti itu, kata-katanya yang meluncur itu, aku anggap sebuah pujian untukku. Di sini ada hal yang aneh kutemukan, tiba-tiba rambutku  memutih, umurku genap mencapai 63 tahun, seumuran dengan nabi waktu beliau tutup usia. Aku memakai jas yang terbuat dari sutra, lengkap dengan dasinya, terasa lembut di kulitku. Sepatuku warna hitam, tumitnya tinggi sekali, seolah aku dipandang orang penting di sini, bahkan orang nomor satu. Kacamata yang  kukenakan  tembus  pandang, harganya   menembus   langit    ketujuh.

“Ada   perlu   apa   kau   datang   menghadapku   wahai binatang jelek!“ Aku geram, sedikitpun aku tidak merasa takut pada binatang macan loreng itu. Seandainya diajak bertarung, aku siap. Ilmu silat yang kutuntut bertahun-tahun selama di pesantren pada lebih sepuluh guru, belum tentu bisa ia taklukkan walaupun ia si raja hutan.

“Kau jangan marah dulu  padaku, Pak Prof. Aku tidak bermaksud jahat datang menemuimu. Aku tidak ingin makan dagingmu yang tidak enak itu, sadarlah badanmu sudah keriputan, tanah sudah berkali-kali memanggilmu, sebentar lagi   mungkin kau akan tamat!” Taring-taringnya   menyeringai,   dia   memancing   emosiku,   aku   mendorongnya   menggunakan kekuatan   penuh,   sejengkalpun   badannya   tak   bergeser,   aku   mengaku   kalah, dan baru sadar tak sepadan dengannya kalau adu fisik. Tidak ada artinya ilmu silatku di depannya. Sekarang aku mendekatkan wajahku ke wajahnya yang mengerikan itu, siap adu argumen dengannya yang tidak punya akal sehat.

“Katakan, apa makasudmu datang ke mari binatang keparat?” Aku yang sinis     menatapnya   dengan pandangan   tajam,   mataku memerah.

“Aku diutus Nabi Sulaiman menemuimu.”

“Untuk apa?”

“Untuk suatu keperluan.”

“Keperluan apa? Cepat, tidak usah berbelit-belit.”

Pelan-pelan dia ingin mengutarakan maksudnya terpatah-patah, sepertinya ada suatu hal yang sulit dia ungkapkan di depanku, seperti tak enak hati kelihatannya. Apa dia punya hati nurani juga sepertiku?  

“Memangnya ada perlu apa sampai kau diutus Nabi yang kekayaannya seperti lingkaran itu?” Aku tak sabar lagi, buang-buang waktu saja ngobrol dengan binatang tak berotak itu, batinku terus menjerit-jerit.

“Kami bangsa binatang merasa keberatan sekali, kalau ada bangsa manusia berperilaku bejat lalu diumpakan seperti binatang, apapun jenisnya!” Mulutnya yang tadi menganga tertutup rapat. Kepalanya tertunduk,   matanya   mengerjap-ngerjap, sambil ia menjilat-jilat kulitnya seperti kucing,   kemudian   dia bangkit  dari   tempat   duduknya semula,   bicara   lebih   berhati-hati   penuh   keseriusan.  

“Maafkan   aku   Pak Prof.   Aku   tidak bermaksud  menghina  bangsa  manusia.   Memang   manusia   itu   kadang-kadang   lebih   bejat   dari binatang, itulah kenyataan yang ada!” Dia datang menghampiriku lebih dekat lagi, seolah dia ingin mendekapku. Mungkin dia bermaksud menurunkan darah tinggiku yang terus naik, dia tahu aku lagi marah, ucapannya yang tajam merobek-robek jantungku. Dia takut seluruh dagingnya kucincang halus di sini.  

“Coba jelaskan, apa alasanmu sampai kau berani berkata kasar seperti itu binatang kurangajar!”  Dia menjilat-jilat lagi bulunya dengan ujung lidahnya yang panjang dan kesat, sedikitpun dia tak ada marah sepertiku. Dia lebih hebat menahan emosi dari pada aku seorang manusia yang diberi otak dan pikiran cerdas, juga sudah berpendidikan, tapi mudah memperturutkan rasa marah. Ya, harus gimana lagi, aku terlanjur sakit hati mendengar kata-katanya.

“Apa kau tidak tahu yang tertulis dalam kitab sucimu? Kau buka saja surat A-Furqan ayat 44, di sana Tuhan berfirman, mereka itu hanyalah seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat.”  Kepalaku berpaling arah ingin menyembunyikan wajah asliku, aku merasa malu sekali. Alasan yang dia utarakan  tepat sekali, tidak  bisa dibantah  dan diganggu  gugat setitikpun, apa lagi  dihapus dan  dirubah tangan kotor manusia, keasliannya terjamin, dan yang menjamin  itu penguasa  jagat raya ini. Ia takkan pernah runtuh dan rapuh, sampai gunung terbatuk-batuk, manusia beterbangan seperti debu.

“Terus, alasanku yang kedua!” Dia melanjutkan tanpa ada perintah dariku, hatiku semakin remuk, merasa sebagai   seorang   manusia   yang   mulia,   kini   harga   diriku   diinjak-injak   seekor   binatang yang selama ini aku pandang rendah karena tidak punya kepribadian.

“Kehidupan binatang, mana ada ditemukan seorang ibu tega membunuh anaknya setelah ia lahirkan. Kehidupan manusia, sebelum lahir pun sudah dibunuhnya. Begitu banyak perempuan yang sengaja menggugurkan kandungannya karena takut hamil di luar nikah, dan banyak juga  anak yang lahir, dia tidak tahu harus ke mana memanggil Ibu dan kepada siapa tempat memanggil Bapak. Begitu dia terlahir ke dunia dibuang oleh ibu kandung sendiri ke tong sampah, memang kejam makhluk yang bernama manusia itu.”

Baru pertama kali ini aku diceramahi seekor binatang. Ternyata sudah serendah ini kehidupanku yang berpendidikan tinggi. Hatiku yang mendidih kuraba-raba bermaksud mendinginkannya. Aku memilih  mundur ke belakang, melangkah pelan-pelan ingin menyembunyikan wajah asliku yang malu, aku pura-pura tidak mendengar ocehannya. Dan ia tidak bisa diam, kata-kata yang berhamburan ke luar deras dari mulutnya bercampur ludah terus melukaiku.

“Selanjutnya bangsa binatang sebejat apapun dia, tidak ada kau temukan jantan   suka  sama   jantan, sampai mereka  melakukan hubungan intim.   Bangsa   manusia,  berapa   banyak   laki-laki   yang melakukan   homo   seksual,   dan   perempuan   lesbian, suka sesame jenis.   Ternyata   umat   Nabi   Lut   masih   betebaran dan berjelaga di muka bumi ini.”

Dia menarik nafas sejenak, aku ingin memotong pembicaraannya bermaksud menantang,  tapi   aku   tak   tahu   harus   bilang   apa   lagi. Apa   yang dikatakannya   itu   semua   memang   benar.   Begaimana   mungkin   aku   bisa   mengalahkan   suatu kebenaran, meskipun yang mengucapkannya seekor binatang, memiliki taring yang tajam, dan ia terus menyeringai. Aku tak peduli siapa dia, yang penting apa yang mengalir dari mulutnya itu memang benar, dan aku harus memetik kalam hikmah itu, dan takbisa membantahnya sedikit pun.

“Terakhir, kami bangsa binatang kalau urusan perut sudah kenyang, kami tidak neko-neko lagi.” Aku   benar-benar   bungkam, mulutku serasa terkunci.

“Manusia, walaupun perutnya sudah kenyang, ia masih korupsi.”

Aku berlari kencang, sengaja menjauh dari binatang itu. Aku tidak takut dikejarnya, dan dijadikannya aku santapan, tapi aku takut ia datang merepet lagi di depanku membuat mulutku bungkam.

“Heh….heh….heh….Syarif   bangun,   kita   ada   kuliah, jangan sampai telat. Ini dosennya galak lo, profesor itu.” Kawanku Taher yang berwajah lonjong itu membangunkanku. Aku yang lemas duduk di atas ranjang, mengucek-ucek mata, sambil menguap lebar menutup mulut. [T]

Penulis: Depri Ajopan
Editor: Made Adnyana Ole

  • KLIK untuk BACA cerpen lain
Janda yang Ditinggal Mati Suaminya | Cerpen Depri Ajopan
Aku Ingin Dia Berubah | Cerpen Depri Ajopan
Lelaki Dalam Kamar Pacarnya  | Cerpen Depri Ajopan
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerpen, Seberapapun Fiksinya Tetap Harus Logis | Dari MTN Asah Bakat Penulisan Cerpen Bersama Juli Sastrawan

Next Post

Tampakan Buda Kecapi dari Tiga Seniman dalam Pameran Seni Rupa di Singaraja Literary Festival 2025

Depri Ajopan

Depri Ajopan

Menyelesaikan S-1 Prodi Sastra Indonesia di UNP. Sudah menulis beberapa karya fiksi dan sudah diterbitkan. Cerpennya pernah dimuat di beberapa media cetak dan online. Sekarang penulis aktif di Komunitas Suku Seni Riau.

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Tampakan Buda Kecapi dari Tiga Seniman dalam Pameran Seni Rupa di Singaraja Literary Festival 2025

Tampakan Buda Kecapi dari Tiga Seniman dalam Pameran Seni Rupa di Singaraja Literary Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co