4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tampakan Buda Kecapi dari Tiga Seniman dalam Pameran Seni Rupa di Singaraja Literary Festival 2025

Nuraisah Maulida Adnani by Nuraisah Maulida Adnani
August 10, 2025
in Ulas Rupa
Tampakan Buda Kecapi dari Tiga Seniman dalam Pameran Seni Rupa di Singaraja Literary Festival 2025

Karya Nyoman Sani | Foto: Nuraisah Maulida Adnani

MEMBACA dan mendengar kata “Buda Kecapi” sangat asing bagi mata dan telingaku. Terlebih itu adalah tema besar Singaraja Literary Festival 2025, dua kata itu terpampang di banner tempat acara, makin lama dan makin sering melihat dua kata itu membuatku terbiasa, dan perlahan-lahan mulai mengenal artinya.

Pada bagian bawah tertulis “Energi Penyembuh Semesta”, sedangkan pada banner pameran seni rupa tertulis “Seni dan Penjelajahan dalam Diri”. Dua kalimat itu saling menjelaskan satu sama lain dengan membanding kata “penyembuh” dan “penjelajahan” untuk membentuk energi penyembuh semesta berarti dapat melakukan kesenian yang mana harus menjelajah dalam diri.

Barulah ketika menghadiri pembukaan festival, tiap panel diskusi dan membaca katalog aku makin memahami apa itu Buda Kecapi dan mengapa tema besar itu dipilih. Singkatnya, Buda Kecapi salah satu bagian dari dalam naskah lontar Bali yang berisi tentang cara membuat tanaman penyembuhan, dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Filosofinya bagaimana penyembuhan itu dapat menjelajah diri, mengenal diri, meluas hingga semesta sembuh. Dengan memahami itu, kupikir ada hal yang tak beres di semesta ini, membuat kita terus mencari-cari, dan mungkin jawaban dari itu salah satunya ada di masa lalu dan kedalaman diri sendiri.

Karya Nyoman Sani | Foto: Nuraisah Maulida Adnani

Tema itu dipakai dalam pameran seni rupa Singaraja Literary Festival 2025 di Galeri Paduraksa, FBS, Undiksha Singaraja. Pembukaan pameran berlangsung sekitar jam 10 pagi, Jumat, 25 Juli 2025, dibuka dengan bunyi gong. Orang-orang hadir dari berbagai kalangan. Tentu semua yang kulihat adalah wajah-wajah baru, bahkan wajahku pasti asing bagi mereka yang menggandrungi seni rupa di Bali.

Meski begitu aku amat terpukau dengan antusias orang-orang di sekitar. Mereka menghargai seni yang memang bagian dari budaya mereka, bahkan sepengamatanku orang Bali mengonsumsi dan mencipta seni dalam keseharian budaya mereka, seolah ada semangat apresiasi yang tumbuh besar dan melebar. Mungkin memang karena dasar ekosistem seni di Bali berjalan sangat panjang, dari zaman dulu hingga sekarang, akarnya sudah dalam, meluas dan bercabang-cabang.

Ketika memasuki galeri, cahaya-cahaya menyorot pada karya Ni Nyoman Sani, Putu Fajar Arcana, dan Nyoman Polenk Rediasa.

Realis Simbolis

Dua lukisan Polenk menampakkan simbol, dengan sudut pandang yang dibesarkan juga detail yang amat digarap.

“Awas Sigap” menggambarkan sudut pandang jauh dan dekat, latar pepohonan yang telah ditebang, pemandangan berkabut dan gersang seperti sisa-sisa dari pembakaran. Seekor burung bertengger di sisa batang pohon yang patah, burung itu menghadap ke kanan, pada bagian bawahnya merah-putih mencair.

“Sisa-sisa Pembangunan” menggambarkan sudut pandang amat dekat. Hal yang pertama yang kusadari adalah batang pohon dan bekas dinding lama. Baru ketika dipandang agak jauh, suasana seperti sedang hujan, ada tanda yang dikaburkan, warna putih cat seakan luntur, ada juga gedung istana garuda.

Simbol-simbol dalam lukisan Polenk terang dapat ditangkap, detail-detail gorenannya pada garis, warna dan menggarap tekstur kecil membuat yang memandang tak bosan atau mungkin justru mengalabui mata.

Karya Polenk Rediasa | Foto: Nuraisah Maulida Adnani

Ada juga karya instalasi “Ekologi Sampi Duwe” yang ternyata salah satu miniatur seni instalasi parsitipatif teo-ekologis sampi duwe di desa Tabanan, Buleleng. Aura dari karya ini semacam keramat, sakral. Terlebih adanya tulang di bagian ujung tengah, ‘diantar’ dengan kain bermotif kotak putih dan batu berdiri.

Karya Polenk yang realis dan simbolis membicarakan hal yang besar, isu tentang spiritual, lingkungan, ekosistem yang sedang tak baik-baik saja. Seakan dirinya tak lagi penting, yang terpenting adalah dunia yang ada disekitar, ia melebur bersama dunia itu.

Objek dari Garis

Aku sedari awal terpanggil memandang lukisan Ni Nyoman Sani “Lingga Yoni #2” dan “Lingga Yoni #3”, kedua lukisan itu tampak sama, objek lubang tabung, yang berbeda hanyalah warna titik-titiknya, satu kuning dan satu biru, satu mengacuhkan objek di tengah, satu saling berhadapan objek di tengah. Dari judul itu, ternyata Lingga dan Yoni adalah simbol penting dalam agama Hindu yang melambangkan penyatuan kekuatan kosmik maskulin dan feminin. Sani mengelaborasikan dan menunggalkan objek itu.

Pada bagian ujung terdapat “The Portal”, sekilas bentuknya seperti bunga namun setelah kuamat-amati bentuknya juga seperti vagina. Objek itu dibentuk dengan garis-garis, sekelilingnya ada nganga lingkaran-lingkaran kecil, mungkin itu titik penghias, mungkin juga mata. Sani melukiskan objek besar dan entah berbentuk apa. Berlandaskan titik dan garis yang merujuk pada ketubuhan.

Karya Putu Fajar Arcana | Foto: Nuraisah Maulida Adnani

Secara pribadi aku sangat menyukai The Portal, ada pusat dan ada yang mengelilingi pusat itu. Komposis dan warna sederhana, yang menarik adalah teknik goresan dan simbolnya. Mungkin ada hal ganjil atau kesamaan lukisan ini dengan diriku.

Bara Abstrak

Lukisan abtrak membara oleh Putu Fajar Arcana. Cat yang digunakan tebal, mencair, meliuk-liuk dikendalikan oleh sesuatu. Warna dan bentuknya kuat, seolah sedang melampiaskan hal terpendam, seperti dendam yang telah lama padam lalu berpendar.

Warna yang dipakainya sederhana; merah, hitam, putih, oranye. Bagian yang rumit adalah meliuk-liukannya, bentuk-bentuknya. Seperti mencair, tapi justru sebenarnya padat, seperi cat air, tapi sebenarnya cat acrilik yang mudah kering. Sebagai penulis, sepertinya Putu juga memvisualkan dengan judul yang digunakannya, jadi tampakan abstraknya bukan hanya bentuk yang entah, ada petunjuk dari judul-judul itu.

“The Dragon in Your Heart”, “Save The Dragon”, “Dragon Fly”, “Light in The Black Night”, “A Fish in Lotus”, “Circle of Love”, dan “A Wild of Love” membuat yang memandang menerawang atau membayangan mana bagian dari naga, ikan, dan bunga. Hanya “Angel in Your Mind” karya yang interaktif pada pengunjung, menata balok-balok yang abtrak di sekitar malaikat hitam.

Orang-orang menikmati karya-karya itu; ada yang asik sendiri merenung lalu menangkap gambar, ada pula yang berbincang lepas dengan para seniman. Tak lama kemudian, sesi diskusipun dimulai. Orang-orang berkumpul menduduki kursi di depan pintu galeri. Dua pembicara duduk di depan dan di antara mereka seorang moderator.

Dewa Gede Purwita menjelaskan tentang bagaimana Gurat Intitute memilih karya pada pameran ini, bagaimana juga ia merespon dari tema hingga dapat menjadi sebuah pameran, dia menjelaskan apa itu Buda Kecapi, bagaimana konsepnya, juga hal-hal unik dan perlu untuk diketahui anak-anak muda sekarang. Dalam tulisan di katalog pameran baginya; Budakacapi menawarkan bentuk pengetahuan penyadaran tubuh manusia melalui aksara dan suara aksara organ-organ tubuh sedangkan praktik terapi seni (rupa) menawarkan kebebasan berekspresi melalui unsur-unsur esensial seni (rupa) itu sendiri.

Sedangkan Prof. Dr. I Wayan Karja menceritakan tentang bagaimana hubungan art healing dengan karya seni, bagaimana jiwa dapat disembuhkan, bagaimana jiwa yang baik dapat pula menyembuhkan alam semesta pula. Semua saling berkombinasi satu sama lain. Ia menjelaskan pula metode temuannya dalam berkesenian: 1. Play (bermain-main), 2. Flow (mengalir, tahu apa yang ingin dituju, meski hidup tidak berjalan mulus, selalu ada kecelakaan yang menarik), 3. Freedom (kebebasan dalam diri).

Karya Nyoman Sani | Foto: Nuraisah Maulida Adnani

Diskusi itu berjalan padat dan jelas, karena pembahasan hanya berputar pada dua hal itu; seni rupa dan penyembuhan. Bagian yang kusuka adalah ketika para seniman mulai membahas atau mempresentasikan karya mereka, menceritakan proses kreatif mereka, hanya Putu Fajar Arcana dan Ni Nyoman Sani yang maju ke depan, mungkin Polenk sedang ada kendala tak bisa hadir, meski begitu, aku tetap takjub bagaimana proses mereka membuat karya.

Putu bercerita, meski dia menulis dirasanya menulis dan melukis dalah dua hal yang berbeda, membuat keduanya sama-sama melelahkan. Capek menulis; capek yang memusingkan, sedangkan capek melukis; capek yang melegakan. Ada lampiasan di dalamnya dan aura itu sangat tampak. Dia rasa perlu menyembuhkan diri dengan melukis dari hal apa-apa saja yang telah dilaluinya.

Sani menceritakan pengalaman ketubuhannya, baginya tubuh mengandung energi yang harus dilatih. Ia sempat terharu akan prosesnya terus melukis sampai pada titik ini, juga dukungan orang-orang di sekitarnya.

Dari pameran ini, aku memandang orang-orang bagai pohon tinggi, sedangkan aku baru tanaman yang meraba akar mau tumbuh ke mana, dahan mau menjorok ke mana. Pameran ini jadi salah satu opsi jalan untuk menyembuhkan diri, seperti bercermin antara diri dan seni, antara fisik dan jiwa. Tiga seniman ini menampakkan bagaimana cara mereka terus tumbuh, jujur dengan perasaan dan apa-apa yang dilalui, jiwa mereka terpampang dalam ruang itu. [T]

Penulis: Nuraisah Maulida Adnani
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Singaraja Literary Festival  2025: Cara Mahima Mengimplementasikan Resep Buda Kecapi — Catatan dari Pengunjung
“Tribute to Umbu”: Hikayat Puisi, Hikayat Umbu Landu Paranggi
Kisah Dee Lestari Mengejar Lumba-lumba di Pantai Lovina — Catatan Proses Kreatif dari Singaraja Literary Festival 2025
Menonton Ayu Laksmi di Panggung Singaraja Literary Festival 2025
Terjebak dan Mematung di Forum Diskusi “Puisi yang Mengobati Diri”—Catatan Kecil Singaraja Literary Festival 2025
Tags: Pameran Seni RupaSeni RupaSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berdialog dengan Harimau | Cerpen Depri Ajopan

Next Post

Ketika Teater Menjadi Doa Kolektif untuk Bumi yang Terluka — Catatan Pentas “Ibu Tanah” oleh Nara Teater di Flores Timur

Nuraisah Maulida Adnani

Nuraisah Maulida Adnani

Lahir di Tulungagung, Jawa Timur, 27 Januari 2001. Alumnus Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Mataram. Saat ini bergiat di komunitas Akarpohon, juga mengelola perpustakaan Teman Baca, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Related Posts

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

by Made Chandra
June 2, 2026
0
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

Read moreDetails

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

by I Gede Made Surya Darma
May 7, 2026
0
Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

DI tengah geliat seni rupa kontemporer yang semakin cair dan lintas disiplin, pameran “Roots & Routes” yang berlangsung di Biji...

Read moreDetails

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

by Made Chandra
May 4, 2026
0
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

Read moreDetails

Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

by Made Chandra
April 14, 2026
0
Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

HARI itu rasanya begitu spesial, hari dimana buku-buku tersusun bertumpuk untuk dirayakan kehadirannya. Semerebak wangi dupa menyeruak sampai menyentil dalam-dalam...

Read moreDetails

Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan? —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

by I Wayan Sujana Suklu
March 27, 2026
0
Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan?  —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

Membaca Aurora Blue dan Red Blossom karya Wayan Kun Adnyana, pameran Parama Paraga Retrospective of Biographical Metaphoric Figure to New...

Read moreDetails

SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

by I Wayan Sujana Suklu
March 24, 2026
0
SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

Liminalitas sebagai Ambang Kosmologis LIMINALITAS, dalam pengertian paling mendasar, bukan sekadar fase peralihan, melainkan kondisi ontologis di mana batas-batas eksistensi...

Read moreDetails

Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

by Agung Bawantara
March 23, 2026
0
Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

Di tengah hiruk-pikuk malam pengerupukan, sehari menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Çaka 1948, ketika ogoh-ogoh diarak dalam gegap gempita, sosok...

Read moreDetails

Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

by Agung Bawantara
March 17, 2026
0
Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Karya ogoh-ogoh berjudul “Tugu Mayang” dari ST. Pandawa Banjar Tarukan, Desa Adat Mas, Ubud, Gianyar, menguatkan sebuah kecenderungan estetika yang...

Read moreDetails

Gerabah dan Manusia yang Berubah

by Mas Ruscitadewi
March 7, 2026
0
Gerabah dan Manusia yang Berubah

Dalam pameran Bali Bhuwana Rupa oleh ISI Denpasar di ARMA Museum Ubud, yang bertajuk ' Adhi Jnana Astam (Mastery-Mind-Marvel), banyak...

Read moreDetails

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

by Hartanto
February 24, 2026
0
SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

BENCANA banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan beberapa daerah di Indonesia – menurut saya, bukanlah sekedar bencana...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Teater Menjadi Doa Kolektif untuk Bumi yang Terluka — Catatan Pentas “Ibu Tanah” oleh Nara Teater di Flores Timur

Ketika Teater Menjadi Doa Kolektif untuk Bumi yang Terluka -- Catatan Pentas “Ibu Tanah” oleh Nara Teater di Flores Timur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co