2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Singaraja Literary Festival  2025: Cara Mahima Mengimplementasikan Resep Buda Kecapi — Catatan dari Pengunjung

Wayan Paing by Wayan Paing
July 31, 2025
in Esai
Singaraja Literary Festival  2025: Cara Mahima Mengimplementasikan Resep Buda Kecapi — Catatan dari Pengunjung

Pmentasan Buda Kecapi dari Teater Lemah Tulis di penutupan Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF 2025

KISAH menarik dalam Buda Kecapi, yang menjadi tema SLF tahun ini, adalah ketika Klimosadha dan Klimosidhi menangani pasien-pasiennya. Membawa nama tersohor di seantero Lemah Tulis, keduanya datang menemui pasien masing-masing. Setelah memeriksa pasien dari bagian bawah sampai bagian atas dan mendapat kesanggupan upah yang maksimal, keduanya kemudian mengatakan bahwa penyakit pasiennya masing-masing adalah hal ringan bagi mereka.

“Cukup sekali penanganan pasti sembuh.” Begitu ujar mereka pada pasiennya masing-masing.

Akan tetapi, kenyataan berkata lain. Klimosadha yang menangani pasien bernama Sri Hantaka meninggal setelah ditangani. Hal serupa dialami oleh Klimosadhi, ketika menangani pasien yang bernama Sridhani, racikan obat untuk diminum, diurap, dan disembur pada pasien telah disiapkan dengan maksimal. Saat diaplikasikan, eh ternyata pasiennya mengalami pusing sampai tak sadarkan diri (entahlah, mungkin meninggal juga).

Kejadian tersebut membuat keduanya pulang dengan malu yang teramat dalam lalu memutuskan untuk mencari pakar untuk memperbaiki kesalahan mereka. (Andai saja pemerintah atau politikus kita saat ini berjiwa seperti kedua tokoh di atas, mungkin negara kita bisa diperbaiki. Jangankan merasa diri bersalah dan berupaya memperbaiki diri, malu saja tidak atas program-program yang gagal atau malah fatal. He!)

Demikian halnya kegiatan-kegiatan sastra, nama besar dan kegiatan jorjoran belum tentu menjamin kehidupan dan keberlangsungan sastra.

Pada sebuah perbincangan sebelum SLF digelar sangat jelas bahwa tujuan pelaksanaannya bukan sekadar membuat kerumunan. Kerumunan dan gemerlap yang sementara dan tidak konsisten sangat bertentangan dengan filosopi penggagasnya. Tidak perlu ramai asal mampu membangkitkan kota dengan elegan. Sastra sebagai dunia yang digeluti penggagas kemudian dipilih untuk tampil elegan tersebut. Pilihan tersebut hanya sebagian kecil dari implementasi dunia penggagas, tujuan besarnya adalah menjadikan festival kota ini yang akan hidup beribu-ribu tahun, sebab semangat sastra akan hidup ribuan tahun ke depan. 

Komitmen ini bisa ditangkap sebagai penjabaran Buda Kecapi yang mana upaya pertama dalam menangani penyakit adalah dengan medeteksi matanya. Mata sebagai cermin kejujuran akan menunjukkan apakah penyakit bisa disembuhkan atau lebih baik dibiarkan mati karena sudah waktunya. SLF jelas menemukan sorot mata kehidupan sastra kita bukan suatu hal yang harus dibiarkan mati, melainkan menemukan bahwa memang layak dipertahankan dan akan terus hidup; belum waktunya untuk mati. Elemen kehidupan dan kematian dalam Buda Kecapi hanya tiga yaitu api, angin, dan air.

Tiga elemen tersebut merupakan sumber penyakit dan obat sekaligus. Sakit bisa timbul jika salah satu elemen tersebut menguasai elemen-elemen yang lainnya sehingga menjadikannya tidak seimbang. Penanganannya, elemen yang lain dibangkitkan sampai ketiganya seimbang. Jika sudah seimbang, tidak ada lagi penyakit yang mampu menjangkiti.

Elemen-elemen tersebut dalam sastra (mungkin) bisa dijabarkan sebagai semangat, orientasi, dan zaman. Semangat para penulis sastra pada umumnya merupakan api yang menjaga kehidupan sastra itu sendiri. Tanpa adanya semangat, tentu tidak akan lahir karya-karya sastra yang akhir-akhir ini dianggap sebagai komoditi yang kurang diminati. Adanya anggapan penulis tidak akan bisa hidup dari dunia kepenulisannya boleh jadi merupakan indikasi meredupnya api kehidupan sastra.

Apalagi jika terlalu mendalami anggapan bahwa penulis lebih banyak menghabiskan penghasilannya untuk membeli buku ketimbang memperoleh penghasilan dari menulis, mungkin akan menambah redup api tersebut. Kondisi ini tentu merupakan indikasi terjangkitnya penyakit dalam kehidupan sastra belakangan ini.

Elemen berikutnya adalah orientasi para penulis bisa jadi menjadi angin yang terus menderu-deru dan bergemuruh dalam diri penulis. Orientasi untuk menekuni sastra sebagai sebuah pilihan hidup, mendapatkan penghasilan, ataukah mencari ketenaran. Menjadikan sastra sebagai pilihan hidup tampaknya tidak banyak yang memilihnya. Sastra dikategorikan sebagai ruang sunyi yang dihuni oleh orang-orang yang dianggap langka dan aneh. Siapa yang siap berada dalam kesunyian itu dan sendiri pula? Menjadikan sastra sebagai sumber penghasilan sepertinya sudah mulai ditinggalkan dan menjadi pilihan yang beresiko tinggi.

Kondisi ini menjadi runyam ketika sastra atau menulis dijadikan sarana untuk bisa tenar. Penekun sastra pada umumnya dan penulis sastra pada khususnya banyak yang terkenal pada masanya. Bertujuan untuk tenar saja tanpa komitmen yang khusus pada sastra tentu banyak gangguannya. Jika bisa tenar dengan media lain apakah sastra tetap akan menjadi pilihannya? Tentu saja tidak.

Zaman menjadi elemen terakhir yang terus mengalir bagai air. Bisa kita lihat dalam kehidupan saat ini bagaimana aliran zaman seolah semakin menjauhkan sastra dari kehidupannya. Maraknya berbagai flatform dan media digital memberikan keasyikan tersendiri bagi manusia-manusia saat ini. Sastra seolah tidak berperan dalam kehidupan, kalah jauh dibandingkan teknologi yang semakin mempermudah kehidupan manusia (walau harus mempersulit kehidupan makhluk lainnya)

Lalu bagaimana membangkitkan ketiga elemen tersebut agar mampu menjaga kehidupan sastra? Api semangat yang mulai redup di jaga dan dikobarkan lagi melalui festival-festival sastra. Banyaknya festival sastra, secara tidak langsung memelihara semangat tersebut. Berkumpulnya para penulis, keterlibatan generasi, dan lahirnya produk-produk sastra seperti buku, pementasan teater, serta dokumentasi kegiatan menjadi penyulut api kehidupan sastra itu sendiri. Hal ini ditangkap dengan baik oleh SLF dengan membangkitkan karya-karya sastra kuno (manuskrip lontar) dalam kegiatannya. Upaya yang menunjukkan bahwa sastra akan mampu hidup ribuan tahun. Lembaga-lembaga kesusatraan tentu harus mulai berbenah dan hadir bukan hanya sebagai formalitas belaka. Berbagai ajang kompetisi sastra dan kepenulisan menjadi minyak yang akan terus menyalakan semangat para pelaku sastra.

Boleh jadi sastra bukan tempat untuk mendapat penghasilan dan ketenaran, tapi sastra pada sejatinya mengalir dalam segala sendi kehidupan. Berbagai macam profesi memberikan ruang sastra yang tidak akan pernah habis untuk diolah. Orientasi bukan lagi untuk mendapatkan penghasilan dan ketenaran belaka, namun bagaimana menempatkan orientasi tersebut sebagai upaya menginventarisasi peradaban. Bukan sekadar pengisi waktu luang, namun upaya yang sungguh-sungguh untuk memberikan gambaran peradaban yang sudah berjalan dan akan diteruskan walau dengan berbagai perubahan. Sastra dapat merangkum peradaban tersebut dengan lebih mendalam dan bahkan mendetail. Orientasi pelaku sastra untuk menjadi bagian dalam proyek inventarisasi peradaban ini menjadi modal kuat yang tak akan pernah koyak oleh apapun.

Alasan perkembangan zaman tidak memmerlukan sastra tentu sangat tidak tepat. Perkembangan zaman yang pesat saat ini hampir semuanya berasal dari sastra. Dongeng-dongeng yang sepertinya tidak masuk akal saat ini merupakan dasar dari perkembangan tersebut. Manusia terbang, ilmu telepati, kemampuan mewujudkan segala yang diinginkan merupakan dongeng di masa lalu dan kini menjadi kenyataan. Apakah hal ini belum cukup untuk mengakui sastra sebagai tonggak dari peradaban manusia? Pesatnya kemajuan teknologi saat ini bahkan memberi ruang untuk menumbuhkan kehidupan sastra melalui berbagai platform yang ada.

Doa Buda Kecapi yang kemudian dikabulkan oleh Bhatara Siwa melalui utusannya adalah memahami asal-usul penyakit serta hakikat hidup dan mati tampaknya ditangkap betul oleh Mahima. Tema Buda Kecapi dalam SLF tahun ini seolah menegaskan hal tersebut. SLF mampu menangkap dengan baik tatapan mata sastra sehingga memilih tindakan untuk mengobatinya dengan keyakinan penuh pasti akan selamat, bukan mengobati hanya untuk menunda kematiannya. Festival yang betul-betul menghidupkan bukan festival hura-hura dan menumbuhkan kerumunan belaka. [T]

Penulis: Wayan Paing
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Bincang Buku “Lolohin Malu”: Pahit, Getir, Tapi Menyembuhkan
“Cerita Made” Karya Mandy Fessenden Brauer: Mendekatkan Anak pada Cerita dan Imajinasi
Rekam 100 Tahun Dinamika Batur dalam Bedah Buku “Seabad Relokasi Batur” di Singaraja Literary Festival 2025
Ekologi Sastra dalam Buda Kecapi di Singaraja Literary Festival 2025
Sembuh Oleh Sastra, Mengapa Tidak? — Cerita Ratih Kumala, Oka Rusmini dan Cyntha Hariadi di Singaraja Literary Festival 2025
Tags: Komunitas MahimaSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

The Brief History of Dance Bali:  Keutuhan antara Tubuh dan Peristiwa

Next Post

Batas Budaya: Transnasionalisme Semu dalam Proyek Film dan Drama Jepang-Korea

Wayan Paing

Wayan Paing

Lahir di Gulinten, 6 April 1983. Menjadi guru di Ababi, Abang, Karangasem. Saat mahasiswa suka sastra dan teater yang kini ingin ditekuninya kembali

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Demokratisasi Sinema: TikTok dan “Reels” sebagai Panggung Baru Film Pendek Indie

Batas Budaya: Transnasionalisme Semu dalam Proyek Film dan Drama Jepang-Korea

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co