12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Singaraja Literary Festival  2025: Cara Mahima Mengimplementasikan Resep Buda Kecapi — Catatan dari Pengunjung

Wayan Paing by Wayan Paing
July 31, 2025
in Esai
Singaraja Literary Festival  2025: Cara Mahima Mengimplementasikan Resep Buda Kecapi — Catatan dari Pengunjung

Pmentasan Buda Kecapi dari Teater Lemah Tulis di penutupan Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF 2025

KISAH menarik dalam Buda Kecapi, yang menjadi tema SLF tahun ini, adalah ketika Klimosadha dan Klimosidhi menangani pasien-pasiennya. Membawa nama tersohor di seantero Lemah Tulis, keduanya datang menemui pasien masing-masing. Setelah memeriksa pasien dari bagian bawah sampai bagian atas dan mendapat kesanggupan upah yang maksimal, keduanya kemudian mengatakan bahwa penyakit pasiennya masing-masing adalah hal ringan bagi mereka.

“Cukup sekali penanganan pasti sembuh.” Begitu ujar mereka pada pasiennya masing-masing.

Akan tetapi, kenyataan berkata lain. Klimosadha yang menangani pasien bernama Sri Hantaka meninggal setelah ditangani. Hal serupa dialami oleh Klimosadhi, ketika menangani pasien yang bernama Sridhani, racikan obat untuk diminum, diurap, dan disembur pada pasien telah disiapkan dengan maksimal. Saat diaplikasikan, eh ternyata pasiennya mengalami pusing sampai tak sadarkan diri (entahlah, mungkin meninggal juga).

Kejadian tersebut membuat keduanya pulang dengan malu yang teramat dalam lalu memutuskan untuk mencari pakar untuk memperbaiki kesalahan mereka. (Andai saja pemerintah atau politikus kita saat ini berjiwa seperti kedua tokoh di atas, mungkin negara kita bisa diperbaiki. Jangankan merasa diri bersalah dan berupaya memperbaiki diri, malu saja tidak atas program-program yang gagal atau malah fatal. He!)

Demikian halnya kegiatan-kegiatan sastra, nama besar dan kegiatan jorjoran belum tentu menjamin kehidupan dan keberlangsungan sastra.

Pada sebuah perbincangan sebelum SLF digelar sangat jelas bahwa tujuan pelaksanaannya bukan sekadar membuat kerumunan. Kerumunan dan gemerlap yang sementara dan tidak konsisten sangat bertentangan dengan filosopi penggagasnya. Tidak perlu ramai asal mampu membangkitkan kota dengan elegan. Sastra sebagai dunia yang digeluti penggagas kemudian dipilih untuk tampil elegan tersebut. Pilihan tersebut hanya sebagian kecil dari implementasi dunia penggagas, tujuan besarnya adalah menjadikan festival kota ini yang akan hidup beribu-ribu tahun, sebab semangat sastra akan hidup ribuan tahun ke depan. 

Komitmen ini bisa ditangkap sebagai penjabaran Buda Kecapi yang mana upaya pertama dalam menangani penyakit adalah dengan medeteksi matanya. Mata sebagai cermin kejujuran akan menunjukkan apakah penyakit bisa disembuhkan atau lebih baik dibiarkan mati karena sudah waktunya. SLF jelas menemukan sorot mata kehidupan sastra kita bukan suatu hal yang harus dibiarkan mati, melainkan menemukan bahwa memang layak dipertahankan dan akan terus hidup; belum waktunya untuk mati. Elemen kehidupan dan kematian dalam Buda Kecapi hanya tiga yaitu api, angin, dan air.

Tiga elemen tersebut merupakan sumber penyakit dan obat sekaligus. Sakit bisa timbul jika salah satu elemen tersebut menguasai elemen-elemen yang lainnya sehingga menjadikannya tidak seimbang. Penanganannya, elemen yang lain dibangkitkan sampai ketiganya seimbang. Jika sudah seimbang, tidak ada lagi penyakit yang mampu menjangkiti.

Elemen-elemen tersebut dalam sastra (mungkin) bisa dijabarkan sebagai semangat, orientasi, dan zaman. Semangat para penulis sastra pada umumnya merupakan api yang menjaga kehidupan sastra itu sendiri. Tanpa adanya semangat, tentu tidak akan lahir karya-karya sastra yang akhir-akhir ini dianggap sebagai komoditi yang kurang diminati. Adanya anggapan penulis tidak akan bisa hidup dari dunia kepenulisannya boleh jadi merupakan indikasi meredupnya api kehidupan sastra.

Apalagi jika terlalu mendalami anggapan bahwa penulis lebih banyak menghabiskan penghasilannya untuk membeli buku ketimbang memperoleh penghasilan dari menulis, mungkin akan menambah redup api tersebut. Kondisi ini tentu merupakan indikasi terjangkitnya penyakit dalam kehidupan sastra belakangan ini.

Elemen berikutnya adalah orientasi para penulis bisa jadi menjadi angin yang terus menderu-deru dan bergemuruh dalam diri penulis. Orientasi untuk menekuni sastra sebagai sebuah pilihan hidup, mendapatkan penghasilan, ataukah mencari ketenaran. Menjadikan sastra sebagai pilihan hidup tampaknya tidak banyak yang memilihnya. Sastra dikategorikan sebagai ruang sunyi yang dihuni oleh orang-orang yang dianggap langka dan aneh. Siapa yang siap berada dalam kesunyian itu dan sendiri pula? Menjadikan sastra sebagai sumber penghasilan sepertinya sudah mulai ditinggalkan dan menjadi pilihan yang beresiko tinggi.

Kondisi ini menjadi runyam ketika sastra atau menulis dijadikan sarana untuk bisa tenar. Penekun sastra pada umumnya dan penulis sastra pada khususnya banyak yang terkenal pada masanya. Bertujuan untuk tenar saja tanpa komitmen yang khusus pada sastra tentu banyak gangguannya. Jika bisa tenar dengan media lain apakah sastra tetap akan menjadi pilihannya? Tentu saja tidak.

Zaman menjadi elemen terakhir yang terus mengalir bagai air. Bisa kita lihat dalam kehidupan saat ini bagaimana aliran zaman seolah semakin menjauhkan sastra dari kehidupannya. Maraknya berbagai flatform dan media digital memberikan keasyikan tersendiri bagi manusia-manusia saat ini. Sastra seolah tidak berperan dalam kehidupan, kalah jauh dibandingkan teknologi yang semakin mempermudah kehidupan manusia (walau harus mempersulit kehidupan makhluk lainnya)

Lalu bagaimana membangkitkan ketiga elemen tersebut agar mampu menjaga kehidupan sastra? Api semangat yang mulai redup di jaga dan dikobarkan lagi melalui festival-festival sastra. Banyaknya festival sastra, secara tidak langsung memelihara semangat tersebut. Berkumpulnya para penulis, keterlibatan generasi, dan lahirnya produk-produk sastra seperti buku, pementasan teater, serta dokumentasi kegiatan menjadi penyulut api kehidupan sastra itu sendiri. Hal ini ditangkap dengan baik oleh SLF dengan membangkitkan karya-karya sastra kuno (manuskrip lontar) dalam kegiatannya. Upaya yang menunjukkan bahwa sastra akan mampu hidup ribuan tahun. Lembaga-lembaga kesusatraan tentu harus mulai berbenah dan hadir bukan hanya sebagai formalitas belaka. Berbagai ajang kompetisi sastra dan kepenulisan menjadi minyak yang akan terus menyalakan semangat para pelaku sastra.

Boleh jadi sastra bukan tempat untuk mendapat penghasilan dan ketenaran, tapi sastra pada sejatinya mengalir dalam segala sendi kehidupan. Berbagai macam profesi memberikan ruang sastra yang tidak akan pernah habis untuk diolah. Orientasi bukan lagi untuk mendapatkan penghasilan dan ketenaran belaka, namun bagaimana menempatkan orientasi tersebut sebagai upaya menginventarisasi peradaban. Bukan sekadar pengisi waktu luang, namun upaya yang sungguh-sungguh untuk memberikan gambaran peradaban yang sudah berjalan dan akan diteruskan walau dengan berbagai perubahan. Sastra dapat merangkum peradaban tersebut dengan lebih mendalam dan bahkan mendetail. Orientasi pelaku sastra untuk menjadi bagian dalam proyek inventarisasi peradaban ini menjadi modal kuat yang tak akan pernah koyak oleh apapun.

Alasan perkembangan zaman tidak memmerlukan sastra tentu sangat tidak tepat. Perkembangan zaman yang pesat saat ini hampir semuanya berasal dari sastra. Dongeng-dongeng yang sepertinya tidak masuk akal saat ini merupakan dasar dari perkembangan tersebut. Manusia terbang, ilmu telepati, kemampuan mewujudkan segala yang diinginkan merupakan dongeng di masa lalu dan kini menjadi kenyataan. Apakah hal ini belum cukup untuk mengakui sastra sebagai tonggak dari peradaban manusia? Pesatnya kemajuan teknologi saat ini bahkan memberi ruang untuk menumbuhkan kehidupan sastra melalui berbagai platform yang ada.

Doa Buda Kecapi yang kemudian dikabulkan oleh Bhatara Siwa melalui utusannya adalah memahami asal-usul penyakit serta hakikat hidup dan mati tampaknya ditangkap betul oleh Mahima. Tema Buda Kecapi dalam SLF tahun ini seolah menegaskan hal tersebut. SLF mampu menangkap dengan baik tatapan mata sastra sehingga memilih tindakan untuk mengobatinya dengan keyakinan penuh pasti akan selamat, bukan mengobati hanya untuk menunda kematiannya. Festival yang betul-betul menghidupkan bukan festival hura-hura dan menumbuhkan kerumunan belaka. [T]

Penulis: Wayan Paing
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Bincang Buku “Lolohin Malu”: Pahit, Getir, Tapi Menyembuhkan
“Cerita Made” Karya Mandy Fessenden Brauer: Mendekatkan Anak pada Cerita dan Imajinasi
Rekam 100 Tahun Dinamika Batur dalam Bedah Buku “Seabad Relokasi Batur” di Singaraja Literary Festival 2025
Ekologi Sastra dalam Buda Kecapi di Singaraja Literary Festival 2025
Sembuh Oleh Sastra, Mengapa Tidak? — Cerita Ratih Kumala, Oka Rusmini dan Cyntha Hariadi di Singaraja Literary Festival 2025
Tags: Komunitas MahimaSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

The Brief History of Dance Bali:  Keutuhan antara Tubuh dan Peristiwa

Next Post

Batas Budaya: Transnasionalisme Semu dalam Proyek Film dan Drama Jepang-Korea

Wayan Paing

Wayan Paing

Lahir di Gulinten, 6 April 1983. Menjadi guru di Ababi, Abang, Karangasem. Saat mahasiswa suka sastra dan teater yang kini ingin ditekuninya kembali

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Demokratisasi Sinema: TikTok dan “Reels” sebagai Panggung Baru Film Pendek Indie

Batas Budaya: Transnasionalisme Semu dalam Proyek Film dan Drama Jepang-Korea

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co