14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

The Brief History of Dance Bali:  Keutuhan antara Tubuh dan Peristiwa

Wulan Dewi Saraswati by Wulan Dewi Saraswati
July 31, 2025
in Ulas Pentas
Panggung Biografi “The Brief History Of Dance” dari Garasi Performance Institute di Festival Seni Bali jani 2025

The Brief History of Dance Bali di Festival Seni Bali Jani 2025 | Foto: Tim Kreatif FSBJ 2025

PENONTON perlahan-lahan memadati Gedung Ksirarnawa, Art Center, Denpasar. Minggu, 20 Juli 20205. pukul 18.00 WITA, barisan enam buah stand mic telah tegak berjajar di tengah panggung, seakan mengundang penonton untuk menebak pertunjukan yang ditampilkan pada Adilango, Festival Seni Bali Jani 2025.

Para aktor memasuki panggung, berdiri di balik pelantang suara. Mereka adalah Putri Lestari (Yogyakarta), Silvy Chipy (Maumere), dan Adi Gunawan, Don Rare, Mas Ruscitadewi, Kadek Eky Virji (Bali). Sebelum kata pertama terucap, tubuh-tubuh mereka sudah bersuara. Kostum kasual yang mereka kenakan seperti mempresentasikan karakter personal masing-masing.

Lampu menyala anggun, penonton dibuat penasaran dengan jajaran stand mic yang begitu formal, apakah ini bagian dari adegan? Siapa yang hendak berpidato? Atau ini hanya bagian dari strategi visual?

Pertunjukan kemudian dibuka, dengan pengenalan diri dari masing-masing aktor. Perlahan-lahan penonton terhanyut dalam pengenalan-pengenalan cerita lainnya. Selama kurang lebih satu setengah jam, para pemain mengolah ruang pertunjukan menjadi sangat khusyuk menceritakan potongan-potongan biografi yang saling bersahutan, beririsan, bahkan berseberangan.

Mereka memulai dengan memperkenalkan nama dan asal-usul, lalu membuka lapisan-lapisan lain seperti hobi masa kecil, pendidikan, isu keluarga, persoalan lingkungan, sejarah, yang seolah berbeda karena mereka berasal dari ragam kultur, namun dari perbedaan itu terbentuk narasi yang kaya, memantulkan variasi karakter personal yang memperkuat keterhubungan hidup berwarga negara.

Menggali peristiwa diri dalam pertunjukan teater merupakan hal yang penting. Pertunjukan ini meninggalkan afeksi di masing-masing penonton, semacam rasa emosi melankoli nostalgia yang bergetar saat mengungkapkan identitas diri. Beberapa penonton merasa terhubung dengan topik-topik yang tengah dibicarakan.

Teks-teks dipresentasikan dari satu titik tubuh yang nyaris tak bergerak. Hanya di beberapa bagian tertentu, tubuh memberi gerakan halus, dan image yang menyesuaikan dengan latar biografi para aktor. Kesederhanaan ini mengundang penonton untuk fokus menyambut kisah-kisah yang disampaikan aktor. Gelak tawa penonton muncul, pertunjukan mengalir dengan segar.

Durasi pertunjukan yang tidak singkat, menjadi tantangan bagi para aktor. Ugoran Prasad sebagai Dramaturg dalam pertunjukan ini,  sangat cermat dalam menjajarkan topik-topik biografi para aktor. Perlu strategi yang matang, agar orkestrasi narasi dapat saling menghidupkan imajinasi penonton.

Foto: Adi Pvt

Ekperimen TBHoD sudah menyusun tiga versi, dengan tiga kumpulan penampil yang berbeda di tiga lokasi yang berbeda pula: TBHoD OpenLAb di Yogyakarta (2022), TBHoD Memumerelogia di Maumere (2025), dan TBHoD Bali (dipresentasikan pada Festival Bali Jani 2025).

Di Bali, karya ini dibangun oleh biografi penampil-penampil yang tinggal dan bekerja di Bali serta melibatkan penampil dari TBHoD OpenLab Yogyakarta dan TBHoD Maumere.

Diciptakan secara bersama oleh Ari Dwianto (Sutradara), Adi Gunawan, Don Rare, Mas Ruscitadewi dan Kadek Eky Virji (Aktor/Performer Bali), Putri Lestari (Aktor/Performer Yogyakarta), Silvy Chipy (Aktor/Performer Maumere), Ugoran Prasad (Dramaturg), Wayan Sumahardika (Asisten Sutradara).

Kolaborasi bersama Mulawali Institute, Aghumi, Bali Muda Foundation, Bali Rare Paduraksa, JCorp, Komunitas Kahe, Komunitas Padunungan Art, Sanggar Lokananta, dan Yayasan Seni Pulau Cerita.

Spirit kolaborasi di antara para aktor dan juga tim produksi menjadi suatu yang menarik dalam memperlihatkan bagaimana kerja kolektif mampu membangun pertunjukan yang penuh resonansi.

The Brief History of Dance (TBHoD) karya Garasi Performance Institute perlahan-lahan mengajak para penonton menyaksikan dan menyimak arsip tubuh yang hidup dan bedetak di atas panggung.

Kekuatan Tubuh dan Medan Sejarah

TBHoD versi Bali menghadirkan tubuh-tubuh sebagai media waktu. Dalam ketangguhan gerak, dalam jeda yang diperhitungkan, dalam posisi tegak bediri yang tampak gagah, nyatanya mengandung sejarah diri yang kompleks. Tubuh mereka seakan terisolir.

Saya dapat membayangkan aktor sangat gugup dalam memulai penampilan, namun perlahan mampu menguasai ritme penceritaan. Ada banyak tumpukan emosi dan jejak cerita yang tertanam di tubuh, hingga ia mengeras, dan mematung.

Tentu dalam mengupas, membongkar masa lalu dalam tubuh, diperlukan keberanian seperti kesatria yang tengah menuju medan tempur. Di sinilah tubuh tak sekadar medium ekspresi, tapi tempat bersemayamnya luka, gelisah, bahagia, dan tawa yang tersisa dari waktu ke waktu.

Foto: Adi Pvt

Karya ini berdasarkan dokumen diri atau hal-hal yang benar dialami oleh aktor. Dalam dokumen yang sedang dipresentasikan, tubuh aktor yang menurut Daniel Goleman di sebut sebagai momen flow. Kondisi ini memungkinkan para aktor fokus dan khyusuk untuk membebaskan tubuh dari belenggu peristiwa lampau, sehingga aktor tidak terseret dalam arus emosi impulsif, melainkan dapat melepaskan energi secara terarah. Alih-alih terlarut dalam kenangan pribadi, aktor justru berhasil menjadikan pengalaman itu sebagai bahan penciptaan yang diartikulasikan dengan sangat jernih kepada penonton.

Setiap titik tubuh menjadi poros, menjadi fondasi awal cerita. Tubuh mengingat apa yang tidak dicatat oleh sejarah secara resmi. Bahwa sejarah bukan hanya milik mereka yang menuliskannya, tetapi juga milik mereka yang menanggung di tubuhnya.Tubuh-tubuh aktor menyimpan fragmen-fragmen kecil tentang suka cita, petualangan, kehilangan, pembentukan identitas, atau ingatan yang nyaris menghilang.

Maka pertunjukan ini juga jadi semacam ritus untuk menelusuri pertanyaan: bagaimana tubuh mengingat? Atau lebih jauh lagi, bagaimana menciptakan ruang untuk mendengarkan tubuh orang lain?

Maka tubuh yang ada dalam satu poisis, satu poin yang terlihat sederhana, justru sangat berat karena memikul banyak kompleksitas rasa. Hal ini menimbulkan gelagat penonton untuk ikut  terlibat dalam percakapan, sesekali saling berbisik nimbrung nyeletuk merespon topik yang diceritakan.

Penonton Sebagai Rekan Cerita

TBHoD menyajikan pengalaman menarik bagi penonton di Bali. Dengan nama besar, Garasi Performance Institute, tentu masing-masing penonton mempunyai ekspektasi terhadap pementasan. Uniknya, penonton diberikan kejutan dan rasa penasaran melalui teknik dan gaya pertunjukan yang tidak konvensional.

Penonton tidak diposisikan sebagai pengamat pasif, melainkan menjadi rekan cerita, sebagai pendengar aktif. Melalui narasi-narasi yang dilafalkan para aktor, sinkronisasi antara pengalaman pribadi dan sejarah kolektif, perlahan-lahan terbentuk.

Penonton dilatih untuk mendengar, untuk merasakan, untuk membiarkan ingatan pribadi mereka bersentuhan dengan tubuh-tubuh aktor. Memantik imajinasi, mengolah batin, dan melatih ketahanan mendengarkan.

Pertunjukan dengan gaya yang unik ini, juga melatih kita untuk menjadi pendengar yang hadir. Seperti halnya peer counsellor yang belajar membuka ruang aman bagi cerita orang lain. Dengan format presentasi narasi biografis, penonton diajak sebagai rekan cerita yang aktif. Kesadaran untuk tidak buru-buru menafsirkan, melainkan menampung pengalaman orang lain sebagaimana adanya, adalah prinsip dasar praktik peer counselling, dan itulah yang saya tangkap dari pengalaman menonton TBHoD.

Foto: Adi Pvt

Mengacu pada pemikiran Jean Paul Sarte, apa yang dihadirkan oleh The Brief History of Dance bukanlah sekadar representasi verbal, melainkan fenomena fisik yang hadir sebagai gambar. Kata-kata yang aktor lafalkan, tidak dimaksudkan untuk menciptakan imaji secara langsung, melainkan sebagai pemicu, sebuah isyarat yang membuka ruang imajinasi bagi penonton.

Artinya, makna tidak dibentuk secara tunggal oleh teks, tetapi melalui kesadaran penonton akan sinyal dan petunjuk yang mereka tangkap dari tubuh dan suara aktor. Dalam hal ini, penonton diberi kebebasan untuk membayangkan objek atau pengalaman dengan cara mereka sendiri. Misalnya seorang aktor menyebut “mini tendo” frasa itu pemicu asosiasi yang berbeda bagi setiap individu. Mungkin ada yang teringat masa kecilnya, suasana rumah, atau bahkan teringat ketika kanak-kanak tidak bisa membeli mini tendo.

Menariknya, celetukan-celetukan spontan dari penonton menunjukan bahwa pertunjukan ini bukan hanya tentang komunikasi satu arah, tetapi tentang keterlibatan kolektif yang hidup dan cair.

Dalam kontkes ini, TBHoD dapat dimaknai sebagai bentuk artistik dari pelatihan empati, sebagai latihan kolektif dalam mendengarkan, merawat, dan menyimak pengalaman orang lain secara setara. Sebuah kompetensi yang sangat relevan dalam penguatan kapasitas peer counsellor di Bali.

Mengarsipkan Peristiwa Diri  Melalui Pertunjukan

TBHoD Bali menampilkan suatu bentuk dokumentasi yang diorkestrasi: arsip hidup yang tidak diam. Kenangan tidak dipanggil untuk dibekukan, melainkan untuk direfleksikan, digerakan, dihadirkan ulang, bahkan diragukan. Para aktor membawa fragmen-fragmen diri mereka sendiri.

Semisal Silvi Chipy menceritakan tentang sarung mama, tentang identitasnya sebagai queer, tentang masa kecilnya yang bernama Sudirman. Ia pun secara ringan mengganti kostum, berdandan di atas panggung, sambil tetap berdialog. Ia sedang memperkenalkan identitas dirinya yang sesungguhnya.

Mas Ruscitadewi menyuguhkan cerita personal yang puitik tentang lingkungan rumah, prestasi sewaktu belia, dan batas-batas kultural yang sering meminimalkan ekspresi diri sebagai perempuan.

Kadek Eky Vrji, seorang Gen Z yang menceritakan permainan masa kecil, tontonan masa kecil, serta menceritakan pendidikan keluarga. Adi Gunawan tampil dengan mimik yang lentur dan jenaka. Ia menghadirkan tubuh pemuda Bali yang bernegosiasi dengan keadaan di Lembongan, dan usaha-usahanya dalam beradaptasi dengan modernitas, seperti bioskop.

Putri Lestari yang sangat cermat dan kuat dalam meyajikan ceirta-cerita masa kecil dan juga menceritakan tentang kelompok anak-anak kampungnya. Don Rare dengan bahasa yang luwes dan jujur, mengungkapkan tentang desanya dan bagaimana hidup di lingkungan petani.

Dalam poros berdiri yang diam, proses kehidupan menyala-nyala di belakang aktor, dalam durasi waktu tertentu terdengar sirene dan layar memutar foto-foto arsip aktor, ritme cepat kemudian tubuh-tubuh mereka terpantik membentuk gerakan simbolik atas sejarah diri.

Proses kreatif ini mengandung gagasan yang dalam terntang menerima realitas diri, serta mengaitkan peristiwa demi persitiwa, sehingga menjadi jalinan yang kuat. Sebuah kerja yang komprehensif.

The Brief History of Dance Bali adalah pertunjukan arsip diri yang hidup, bergerak, bertumbuh, bersama tubuh yang menyusunnya. Kehadiran karya ini, merupakan ruang berpikir bersama, mencipta ruang bersama. Sebuah ruang reflektif yang memungkinkan berjalannya tindakan pengarsipan, latihan menyimak lintas indentitas, serta latihan kerja kolaboratif yang menjadikan tubuh sebagai pusat pengetahuan.

Di atas panggung, aktor dari berbagai latar yang berbeda; asal, suku, agama, budaya, gender, usia, dapat diramu begitu intens dan sublim. Pertunjukan ini berhasil mengajak kita menilik lagi relasi antara penutur dan pendengar, antara panggung dan ruang memori penonton. Tentu saja TBHoD Bali telah mampu menghadirkan warna baru bagi pertunjukan teater hari ini. [T]

Penulis: Wulan Dewi Saraswati
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Panggung Biografi “The Brief History Of Dance” dari Garasi Performance Institute di Festival Seni Bali jani 2025
Sikut Awak : Mengukur Masa Depan Bali
Pemaknaan Laut, Perempuan, dan Tarot Mayor the Moon | Catatan Sutradara Rahim Bahari Menjelang Pentas
Pertanyaan-Pertanyaan yang Dialami Menjelang Pagi | Pidato Mahima March March March – Wulan Dewi Saraswati
Tags: Festival Seni Bali JaniFestival Seni Bali Jani 2025Garasi Performance InstituteKomunitas AghumiMulawali InstituteTeaterTeater Garasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kampusku Sarang Hantu [26]: Tamu Tak Diundang Tengah Malam

Next Post

Singaraja Literary Festival  2025: Cara Mahima Mengimplementasikan Resep Buda Kecapi — Catatan dari Pengunjung

Wulan Dewi Saraswati

Wulan Dewi Saraswati

Penulis, sutradara, dan pengajar. Saat ini tengah mendalami praktik kesenian berdasarkan tarot dengan pendekatan terapiutik partisipatoris

Related Posts

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails

Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

by I Putu Ardiyasa
March 22, 2026
0
Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

MENYAKSIKAN perjalanan kultural di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, selama empat tahun terakhir adalah pelajaran berharga tentang bagaimana estetika mampu...

Read moreDetails

Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

by I Gede Tilem Pastika
March 1, 2026
0
Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara...

Read moreDetails

Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

by Wahyu Mahaputra
February 28, 2026
0
Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

DERING telepon membangunkan saya dari tidur siang hari itu. Di seberang sambungan, suara Ariel Valeryan: sahabat dari Kuningan, Jawa Barat...

Read moreDetails

Pesan, Refleksi, dan Kritik Sosial dalam Drama Bali Modern di Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

DRAMA Bali modern atau teater berbahasa Bali yang dipentaskan oleh sejumlah kelompok teater dalam ajang Bulan Bahasa Bali 2026 menunjukkan...

Read moreDetails

Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

by Rusdy Ulu
February 25, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

EMPAT orang masing-masing membawa ember dan lap pel, lalu mengepel lantai panggung secara bersamaan. Mereka menarik lap pel dengan gerakan...

Read moreDetails

Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

by Kadek Sonia Piscayanti
February 16, 2026
0
Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

MUSIKAL Perahu Kertas di Ciputra Artpeneur Theater, Jakarta, hadir pada saat yang tepat, ketika banyak manusia bingung menemukan diri mereka,...

Read moreDetails

‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

by Angga Wijaya
February 16, 2026
0
‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

SAYA tidak duduk di kursi penonton ketika Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati dipentaskan dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali...

Read moreDetails

Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

by Son Lomri
February 6, 2026
0
Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

ORANG-orang di Auditorium Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja itu diteror suara sirine yang keluar dari mulut tujuh aktor Teater Komunitas...

Read moreDetails
Next Post
Singaraja Literary Festival  2025: Cara Mahima Mengimplementasikan Resep Buda Kecapi — Catatan dari Pengunjung

Singaraja Literary Festival  2025: Cara Mahima Mengimplementasikan Resep Buda Kecapi -- Catatan dari Pengunjung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co