3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [26]: Tamu Tak Diundang Tengah Malam

Chusmeru by Chusmeru
July 31, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

KEAMANAN, ketertiban, dan kenyamanan kampus sedikit banyak ditentukan oleh peran satuan pengamanan atau Satpam kampus. Mereka bertugas sebagaimana polisi yang memastikan kampus menjadi tempat yang kondusif. Tak jarang mereka mendapat sebutan polisi kampus.

Bukan hanya di pagi atau siang hari saja Satpam kampus bertugas. Bahkan malam hingga dini hari pun Satpam tetap siaga di kampus. Karenanya, kadang sulit membedakan antara penjaga malam dan Satpam. Meskipun Satpam kampus biasanya menggunakan atribut atau seragam yang ditetapkan masing-masing kampus.

Banyak suka duka menjadi Satpam kampus. Begitulah yang dialami Sudarto, Munawir, Kasim, dan Witono. Sudah hampir sepuluh tahun mereka menjadi Satpam di fakultas. Beruntung mereka kini sudah diangkat menjadi pegawai tetap. Mereka berempat bekerja bergantian, dua orang jadwal kerja pagi hingga sore, dua orang lainnya kerja sore hingga dini hari.

Sukanya, pekerjaan mereka tidak terlalu sibuk seperti pegawai lainnya. Mereka memiliki tempat kerja sendiri di pos Satpam. Meski ruangannya tidak terlalu besar, namun sangat nyaman untuk bekerja. Jika mata mulai mengantuk atau suasana kampus sedang sepi, mereka dapat mengopi sambil merokok di pos Satpam.

Dukanya, jika terjadi gangguan keamanan di kampus; mereka akan menjadi orang yang paling bertanggung jawab. Tidak jarang pula mereka mendapat teguran keras dari pimpinan fakultas. Pernah terjadi kasus kehilangan helm sepeda motor mahasiswa. Pimpinan segera memanggil mereka untuk dimintai keterangan.

Cuaca buruk juga menjadi hari-hari yang kurang menyenangkan bagi Satpam. Mereka tetap harus bekerja di bawah hujan deras untuk mengatur lalu lintas keluar masuk kendaraan di kampus. Begitu pula jika periode wisuda tiba, mereka harus mengatur kendaraan di tengah terik matahari. Itu semua mereka kerjakan dengan penuh tanggung jawab. Apalagi mereka sudah menjadi pegawai tetap yang harus melayani sivitas akademika.

Pujian dan cacian kerap dihadapi mereka. Kampus yang tertib dan tenang membuat para Satpam mendapat pujian dari dosen, pegawai, dan mahasiswa. Namun tak jarang Satpam juga harus berdebat, bertengkar, dan nyaris adu jotos dengan mahasiswa. Biasanya itu dialami Satpam yang tugas jaga malam hari. Mahasiswa yang masih berada di dalam kampus hingga larut malam kadang tidak mau diingatkan dan ditegur, malah ada yang menantang berkelahi.

***

Sabtu malam Minggu, giliran Kasim dan Witono yang bertugas di pos Satpam. Tugas malam sudah bertahun-tahun mereka kerjakan. Memang agak kurang menyenangkan. Apalagi kampus tempat mereka bekerja dikenal sebagai sarang hantu. Sedangkan mereka harus berkeliling memeriksa seluruh ruangan di kampus malam hari.

Cuaca sangat cerah di malam Minggu. Bulan purnama bersinar terang. Perlahan kampus mulai sepi. Kuliah malam untuk program magister dan program doktor sudah berakhir beberapa saat lalu. Angin bertiup tidak terlalu kencang. Sinar bulan yang menerangi halaman kampus membuat suasana kampus terasa berbeda dari hari lainnya.

Memang ada suasana yang berbeda di malam Minggu saat purnama tiba. Kasim dan Witono merasakan itu. Pukul sepuluh malam mereka sudah mulai merasa mengantuk. Tak ingin tertidur awal, Kasim berniat membuat segelas kopi.

“Aku kok merasa merinding malam ini ya…,” kata Witono sambil mengelus lengan tangannya.

“Aku juga…,” kata Kasim sambil mengaduk kopinya.

“Padahal ini malam Minggu ya, bukan malam Jumat Kliwon,” ujar Witono.

Angin lembut dan dingin berhembus masuk ke dalam pos Satpam. Malam menjadi mencekam. Witono dan Kasim saling pandang. Seharusnya mereka sudah berkeliling area kampus. Namun mereka tunda karena suasana yang membuat merinding. Mereka menunggu apa yang akan terjadi.

Pukul sebelas malam sebuah mobil memasuki pelataran kampus. Witono dan Kasim terkejut. Siapa yang datang, dan untuk keperluan apa ke kampus tengah malam. Witono keluar dari pos Satpam. Ia perhatikan mobil itu. Witono agak heran. Mobil yang masuk ke kampus itu termasuk mobil kuno produksi tahun 1960-an. Penumpangnya juga tampak tua, lelaki dan perempuan.

“Selamat malam…, maaf ada keperluan apa ya?” tanya Witono kepada pengemudi mobil, lelaki tua dan kurus.

“Ada acara reuni di aula fakultas,” jawab lelaki itu dengan nada pelan.

Witono heran. Sepengetahuan dia tidak ada acara dalam jadwal kegiatan fakultas. Biasanya Satpam akan selalu diberitahu kalau ada kegiatan di kampus. Anehnya, Witono tidak bertanya lebih lanjut kepada lelaki itu. Dibiarkannya mobil tua itu memasuki kampus menuju aula. Lebih heran lagi, ketika diperhatikan, pelat mobil itu berhuruf depan X. Witono terkesiap. Tidak ada daerah di Indonesia yang memiliki pelat mobil dengan huruf X.

“Siapa itu?” tanya Kasim ketika Witono membiarkan tamu tak diundang memasuki kampus di tengah malam.

“Orang mau reuni di aula,” jawab Witono.

“Haaahh?! Reuni? Malam-malam begini?!” tanya Kasim kaget.

Belum lagi Kasim mendapat jawaban, sebuah mobil tua kembali memasuki pintu gerbang kampus. Kali ini mobil produksi tahun 1950-an. Pelat nomor mobilnya pun aneh, yaitu O. Kini giliran Kasim yang bergegas menghampiri mobil itu. Saat kaca pintu mobil dibuka, Kasim tertegun. Penumpangnya sepasang lelaki dan perempuan yang berpakaian seperti layaknya akan ke pesta. Anehnya, pakaian mereka seperti model puluhan tahun silam.

“Selamat malam, mohon maaf, ada keperluan apa ya?” tanya Kasim sopan.

“Ada acara reuni di aula fakultas,” jawab penumpang perempuan dari dalam mobil.

Kasim terkejut. Jawaban yang sama seperti disampaikan tamu pertama kepada Witono. Padahal tidak ada pemberitahuan dari pimpinan fakultas tentang acara reuni. Biasanya mereka akan mendapat surat pemberitahuan dari pimpinan tentang acara di kampus dan siapa-siapa saja undangan yang datang. Apalagi tamu di tengah malam. Kasim pun tak berkutik. Ia biarkan tamu tak diundang itu memasuki kampus.

Witono dan Kasim tak habis pikir. Mengapa ada acara reuni di tengah malam. Mobil yang datang pun kendaraan kuno seperti di film-film masa lalu. Begitu pun pakaian yang mereka gunakan. Witono dan Kasim hanya menduga itu semua bagian dari kostum acara reuni. Namun yang lebih mengherankan, mereka seolah terhipnotis dan membiarkan tamu tak diundang itu malam hari.

Sinar rembulan semakin terang menyinari kampus. Angin semeribit menerpa dedaunan pohon rindang di sekeliling kampus. Witono dan Kasim merasakan suasana kian membuat mereka merinding. Malam juga kian larut, saat beberapa mobil memasuki halaman kampus. Semua mobil kuno dengan pelat nomor yang aneh. Ada yang berpelat U, C, I, Q, dan Y.

Witono dan Kasim berbarengan menghampiri mobil-mobil itu. Dengan perasaan was-was, gemetaran, dan merinding Witono dan Kasim menyapa dan mengamati penumpang mobil. Jantung mereka nyaris copot saat melihat wajah-wajah penumpang di dalam mobil. Semua berwajah pucat, tatapan mata kosong, dan tercium aroma kemenyan.

Witono dan Kasim kembali tertegun. Mereka seolah terhipnotis oleh tamu-tamu tak diundang itu. Tubuh Witono dan Kasim terdiam kaku, sulit untuk digerakkan. Sementara itu beberapa mobil yang lain datang memasuki area kampus menuju ke aula fakultas yang dikatakan sebagai tempat acara reuni.

Tepat pukul 24.00 tengah malam, terdengar musik dari arah aula. Musik-musik tempo dulu. Sayup terdengar seperti orkestra yang bergantian irama, jazz, keroncong, dan pop. Witono dan Kasim penasaran. Mereka segera menuju aula fakultas. Sungguh kaget mereka. Para tamu misterius yang datang tadi sedang berpesta. Ada pula yang bernyanyi dan berdansa. Malam kian larut. Musik-musik itu kian semarak. Bulan purnama semakin terang menyinari kampus.

***

Witono dan Kasim terkejut ketika dibangunkan Sudarto dan Munawir. Sengat matahari sudah terasa menerobos pos Satpam. Hari sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi. Mereka ketiduran di pos Satpam, dan bangun kesiangan. Giliran Sudarto dan Munawir bertugas di kampus. Semestinya Witono dan Kasim sudah pulang ke rumah pukul 06.00 pagi. Entah mengapa mereka tertidur pulas di pos Satpam.

Kebingungan dirasakan Witono dan Kasim. Mereka masih terbengong-bengong tentang apa yang mereka alami semalam. Sudarto dan Munawir juga heran atas sikap kedua rekan kerjanya itu. Tidak biasanya Witono dan Kasim tertidur lelap di pos Satpam. Wajah mereka pucat seperti tidak tidur semalaman.

“Ada apa dengan kalian berdua?” tanya Sudarto pada Witono dan Kasim.

Masih belum sadar betul, Witono dan Kasim tidak segera menjawab. Mereka mencoba mengingat-ingat kembali apa yang terjadi saat berjaga malam. Mobil kuno masuk kampus, acara reuni, tamu tak diundang yang berpakaian model dulu, musik-musik tempo dulu di aula fakultas, pesta dan dansa para tamu misterius. Itu yang mereka ingat.

“Semalam ada acara reuni aneh…,” kata Witono lirih.

“Reuni…?!! Reuni apa? Di mana?” tanya Munawir heran.

“Reuni misterius, di aula fakultas,” jawab Witono.

Sudarto dan Munawir terkejut. Mereka seolah tak percaya ucapan Witono.

“Tidak ada jadwal acara dan peminjaman aula untuk tadi malam,” kata Sudarto.

Semua bingung. Semua tak percaya. Mereka berempat memustuskan untuk melihat keadaan aula yang semalam digunakan acara reuni. Betapa terkejut mereka. Ruangan di aula porak-poranda. Kursi yang ada di aula berserakan. Peralatan berantakan. Masih tersisa aroma kemenyan di dalam ruangan. Sontak bulu kuduk mereka berdiri. Siapa gerangan yang menggunakan aula di tengah malam?

Keempat Satpam kampus segera melaporkan kejadian itu kepada dekanat dan bagian perlengkapan. Cerita tentang reuni tamu-tamu misterius tak diundang di kampus tengah malam menjadi perbincangan. Tak ada yang mampu menjawab dan menjelaskan.

Bahkan beredar kabar, konon acara reuni seperti itu akan kembali terjadi 50 tahun mendatang di malam Minggu saat bulan purnama. Pesertanya makhluk misterius yang hidup di alam lain. Tamu-tamu gaib yang hidup entah berapa puluh atau ratus tahun silam. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Kampusku Sarang Hantu [25]: Tangis Bayi di Tangga Kampus
Kampusku Sarang Hantu [24]: Pemain “Keenam” Pertandingan Futsal
Kampusku Sarang Hantu [23]: Keracunan Massal di Kampus
Kampusku Sarang Hantu [21]: Ruang Dosen yang Dibiarkan Kosong
Kampusku Sarang Hantu [20]: Siluman Harimau di Pertigaan Kampus
Kampusku Sarang Hantu [19]: Mandi Kembang Malam Selasa Kliwon
Kampusku Sarang Hantu [18]: Bau Gosong di “Pantry” Fakultas
Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterihorormisteri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dave Narada Putra dan Melda Yogiani, Duta GenRe Bali 2025: Menyalakan Renjana, Menyemai Teladan

Next Post

The Brief History of Dance Bali:  Keutuhan antara Tubuh dan Peristiwa

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Radio Tua Kakek Panjul

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Radio Tua Kakek Panjul

PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

by Muammar Qadafi Muhajir
May 31, 2026
0
Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

Kelambu Suatu hari, aku bicara dengan kelambuDia berkeluh kesah tentangmalam itu doa-doakutidak sengaja tersangkut di ketiaknyaIa bilang ia khilaf dan...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

by Eddy Pranata PNP
May 30, 2026
0
Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

CANGKIR TEH YANG MENUA kita masuki rumah baru, AC yang tidak dinginrapikan dapur dan kamar, bersihkan kamar mandi: "au, kita...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam

by Sholihul Mubarok
May 29, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam

ASIMTOTE sebentar nyala mataharidari pagimenyalak matakudan matamuselalu silau ada jeda tersembunyidi bibir sianglebih sunyidari celah renggang akan tetapi, bayangmemanjang satu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Menggambar dengan Kalimat

by Salman Alade
May 24, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Menggambar dengan Kalimat

Menggambar dengan Kalimat aku menulis satu garisia menyebut dirinya alisaku tambah satu kataia mengaku sebagai mata pelan-pelanhalaman itu mulai merasa...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails
Next Post
Panggung Biografi “The Brief History Of Dance” dari Garasi Performance Institute di Festival Seni Bali jani 2025

The Brief History of Dance Bali:  Keutuhan antara Tubuh dan Peristiwa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co