2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Terjebak dan Mematung di Forum Diskusi “Puisi yang Mengobati Diri”—Catatan dari Festival Sastra di Singaraja

Arix Wahyudhi Jana Putra by Arix Wahyudhi Jana Putra
May 16, 2026
in Khas
Terjebak dan Mematung di Forum Diskusi “Puisi yang Mengobati Diri”—Catatan dari Festival Sastra di  Singaraja

Henry Manampiring, Putu Fajar Arcana, Shinta Febriany, dan Willy Fahmi Agiska | Foto: Arix

AKU duduk di lantai Sasana Budaya waktu itu. Menjalankan tugas sebagai fotografer di acara Singaraja Literary Festival. Di tangan kananku menggenggam kamera, siap menangkap momen. Di depanku, di panggung Sasana Budaya, empat orang duduk bersebelahan, Henry Manampiring, Putu Fajar Arcana, dan Shinta Febriany sebagai pembicara; sedangkan Willy Fahmi Agiska sebagai moderatornya. Mereka sebagai tombak pandangan saat berdiskusi perihal “Puisi yang Mengobati Diri” di gelaran Festival Sastra di Singaraja — Singaraja Literary Festival, Sabtu, 26 Juli 2025.

Tetapi buatku, yang terasa justru puisi membuka luka-luka yang diam-diam kita pendam. Kenapa demikian? Semua berawal ketika ketidaksengajaanku yang terpancing oleh pertanyaan Willy kepada peserta diskusi. “Kalian percaya nggak, puisi itu bisa mengobati diri?” kata Willy. Awalnya aku menyimak sambil mengatur fokus kamera, ehh…tanpa sadar fokus hatiku malah ikut terarah ke pembahasan mereka.

Belum sempat kepalaku tuk merespon pertanyaan itu, Henry sebagai pembicara menjawab pertanyaan itu. “Saya bahkan baru tahu bahwa sajak bisa mengobati diri, percaya tidak percaya,” jawab penulis buku Filosofi Teras yang terkenal itu. “Awal penyembuhan itu adalah pengakuan bahwa kita sakit. Dulu, dari luar saya terlihat baik-baik saja, tapi di dalam, awur-awuran dan banyak sakitnya,” lanjut Henry.

Kadang kita sibuk menolak perasaan, sibuk membungkam luka, hingga lupa bahwa pengakuan adalah awal dari kesembuhan. Seperti buku “Sajaksel”—kumpulan sajak dari Henry Manampiring—yang lahir dari keresahan pribadi dan sosial. Tentang toxic culture, tentang absurditas dunia kerja, sampai tentang orang-orang yang menyewa lanyard hingga enam ratus ribu rupiah untuk dipamerkan saat bukber. Sempat ia bacakan salah satu puisi berjudul “Gantung”. Dan, penggalan kalimat yang kuingat adalah “Kartumu harus bernama, atau martabatmu digantung”.

“Sakit kan? Berpura-pura agar dibanggakan?” tanya Henry separuh tawa dan getir.

Sedangkan Fajar Arcana punya nada berbeda. Lebih terarah, logis bagiku. “poetry is a soul, menulis puisi itu justru sakit. Sakit itu dicari oleh seorang penyair, dari situlah saya merasa menjadi lebih rasional. Proses kreatif membuat puisi adalah cara saya menjaga kewarasan,” terangnya. Ia bahkan sempat melontarkan lelucon, menyebut seseorang bernama Mas Ruscita Dewi yang dulu penyair, sekarang jadi dukun.

Semuanya tertawa, apakah benar itu sebagai penanda bahwa puisi memang bekerja di dasar jiwa, tempat yang hanya bisa disentuh oleh kesakitan dan ketelanjangan diri. Fajar meminta salah satu relawan untuk membacakan puisinya yang berjudul “Perjalanan Kesedihan”, dan puisi itu pun dibacakan oleh seorang perempuan berambut pendek dengan kacamata persegi, cantik dan ciamik outfitnya, aku lupa namanya karena terlalu fokus mendengarkan.

Ingin kudengar Fajar Arcana menyuarakan puisinya sendiri yang dibuat di dalam mobil, tetapi ia sempat mengatakan bahwa tak mau membaca puisi, karena tidak ingin kembali ke momen sakit di kala itu.

 Di satu sisi. Shinta bercerita tentang puisi yang ia tulis, seperti puisinya yang berjudul “Gambar Kesenian di Jendela” tentang perasaannya sebagai seorang Buddhisyang dikelilingi oleh budaya Jawa. “Saya menghadapi banyak pertanyaan tentang identitas saya. Puisi ini membantu saya melihat potensi yang bisa saya lakukan dengan diri saya, dengan pengalaman menjadi seorang asing,” ujarnya. Menurutnya, puisi itu seperti ruang yang pelan-pelan mengurai luka lama, mengembalikan sejarah diri, menyembuhkan dengan cara yang lembut dan tidak terburu-buru.

Entah kenapa kalimat-kalimat itu membekas dan membuatku mematung. Profesi sebagai tukang foto kusisihkan terlebih dahulu, terpana dengan diskusi mereka. Tak ingin beranjak pergi, pertanyaan kembali diujarkan oleh Willy yang mungkin sangat relate dengan orang-orang sekarang. “Dalam wacana tentang mental health dan healing yang semakin kuat lima tahun terakhir ini, bagaimana kalian menempatkan puisi di dalamnya?” tanya Willy kepada pembicara.

Fajar menjawab bahwa sejak pandemi, healing menjadi kebutuhan. Diam berubah menjadi beban. Manusia mencari suara, dan puisi adalah salah satu bentuknya. “Buat saya, seni adalah jalan penyembuhan yang paling cocok,” katanya.

Henry berani menceritakan titik kehancurannya dulu, membuka sesuatu yang sangat-sangat personal di ruang terbuka. “Tahun 2017 saya hampir bunuh diri,” katanya. Seketika ruang hening, aku tidak menduga bahwa seorang Henry Manampiring sempat ingin mengakhiri hidupnya.

“Saya punya pekerjaan bagus, gaji besar, punya rumah sendiri. Tapi saya frustrasi karena…tidak ada pemicu. Saya tidak sedih, saya tidak putus asa, saya bingung. Dan sajak yang menyelamatkan saya, memberikan suara pada kebingungan itu,” lirihnya. Intinya seperti itu, aku juga bingung mendengarnya, rasanya seperti memegang cermin yang menghadap langsung ke jiwaku.

Shinta menyusul dengan kalimat “Puisi menjadi jalan saya untuk pulang.” Ia percaya bahwa menulis puisi bukanlah proses instan menuju sembuh. Tapi semacam jalan panjang untuk mengimajinasikan ulang apa yang rusak, apa yang patah dalam diri. Puisi adalah curahan, tidak semerta-merta menyembuhkan, tapi ia membuka jalan itu.

Penutup? Tidak ada penutup, seperti kata Willy Fahmi, di diskusi kala itu.[T]

Singaraja, 26 Juli 2025

Penulis: Arix Wahyudhi Jana Putra
Editor: Jaswanto

Menonton Ayu Laksmi di Panggung Singaraja Literary Festival 2025
“Tribute to Umbu”: Hikayat Puisi, Hikayat Umbu Landu Paranggi
Singaraja Literary Festival  2025: Cara Mahima Mengimplementasikan Resep Buda Kecapi — Catatan dari Pengunjung
Sembuh Oleh Sastra, Mengapa Tidak? — Cerita Ratih Kumala, Oka Rusmini dan Cyntha Hariadi di Singaraja Literary Festival 2025
Kisah Ajaib, Kata-Kata yang Menyembuhkan, dan Jiwa yang Bertumbuh —  Refleksi dari Pengunjung Singaraja Literary Festival 2025
Tags: Henry ManampiringPuisiPutu Fajar ArcanasastraSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025Willy Fahmi Agiska
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menonton Ayu Laksmi di Panggung Singaraja Literary Festival 2025

Next Post

Ayah Soekarno Pernah Kos di Singaraja | Catatan 150 Tahun SDN 1 Paket Agung Singaraja

Arix Wahyudhi Jana Putra

Arix Wahyudhi Jana Putra

Gede Arix Wahyudhi Jana Putra. Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
Ayah Soekarno Pernah Kos di Singaraja | Catatan 150 Tahun SDN 1 Paket Agung Singaraja

Ayah Soekarno Pernah Kos di Singaraja | Catatan 150 Tahun SDN 1 Paket Agung Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co