24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ayah Soekarno Pernah Kos di Singaraja | Catatan 150 Tahun SDN 1 Paket Agung Singaraja

Dian Suryantini by Dian Suryantini
August 1, 2025
in Khas
Ayah Soekarno Pernah Kos di Singaraja | Catatan 150 Tahun SDN 1 Paket Agung Singaraja

Rumah kos Raden Soekemi Sosrodihardjo (ayah proklamator Soekarno) di Jalan Gunung Batur Singaraja | Foto: Dian

KALAU saja pohon bisa bicara, mungkin pohon belimbing putih di Jalan Gunung Batur itu sudah berteriak dari dulu. Tapi, sayangnya, sejarah kadang lebih sibuk mencatat nama-nama besar di balik meja rapat, lupa pada akar yang menumbuhkannya.

Ya, di balik rumah tua tanpa plang itu—di tengah semerbak cempaka dan sunyi yang tenang—tersembunyi jejak Raden Soekemi Sosrodihardjo. Siapa dia? Guru Jawa. Lulusan Kweekschool Probolinggo. Ayah biologis dari Soekarno. Tapi, jangan buru-buru membayangkan beliau hidup nyaman. Sebab, di rumah kos berdinding bata tanah itulah, sejarah Indonesia pernah bergetar pelan—nyaris tak terdengar.

Dari penuturan keluarga pemilik kos, Soekemi muda dikirim ke Singaraja. Waktu itu belum ada Google Maps, jadi dia datang bukan bawa peta jalan, tapi peta pikirannya sendiri—tentang bagaimana mencerdaskan anak-anak Hindia Belanda lewat sekolah bernama Tweede Klasse School, sekarang dikenal sebagai SDN 1 Paket Agung.

Rumah kos Raden Soekemi Sosrodihardjo (ayah proklamator Soekarno) di Jalan Gunung Batur Singaraja | Foto: Dian

Di sanalah ia mengajar. Mengajar sungguhan. Pakai kapur tulis, bukan spidol. Menginapnya? Di rumah kos milik keluarga almarhum Nyoman Gede Sutha. Kos-kosan zaman itu memang bukan seperti sekarang—tak ada wifi, apalagi AC. Tapi di sinilah benih sejarah ditanam. Karena dari tangan Soekemi, tumbuh pohon belimbing putih yang hingga kini masih berdiri.

Dan lebih dari itu—di bawah pohon itu pula, ditanam ari-ari anak pertamanya. Ya, benar. Ditanam. Karena bagi masyarakat zaman dulu, ari-ari adalah “penjaga” yang harus pulang ke tanah. Seperti sejarah yang seharusnya tak pernah pergi dari ingatan.

Tapi kisah Soekemi tak hanya soal papan tulis dan pelajaran. Ada sisi lain yang lebih mengguncang yakni cinta. Kisah ini sudah terdengar kemana-mana dan biasa. Tapi mari ceritakan sedikit.

Rumah kos Raden Soekemi Sosrodihardjo (ayah proklamator Soekarno) di Jalan Gunung Batur Singaraja | Foto: Dian

Setiap sore, selepas mengajar, Soekemi melangkah ke Pura di kawasan Bale Agung. Bukan semata berdoa—tapi diam-diam menanti seorang gadis Bali yang anggun dan penuh pengabdian, Nyoman Rai Srimben.

Waktu itu cinta mereka seperti upacara yang tak dapat izin. Sah di hati, tapi haram di adat. Seorang lelaki Jawa meminang perempuan Bali? Itu bukan hanya “tidak lazim”, itu bisa dianggap pelanggaran etika sosial—bahkan hukum adat.

Permintaan Soekemi untuk melamar ditolak keras. Tapi cinta, seperti biasa, tidak bisa diteorikan. Mereka memilih jalan berani yakni kawin lari. Bukan karena sinetron, tapi karena cinta tak sabar menunggu restu yang tak kunjung datang.

Dan hebatnya, ketika dipanggil ke sidang desa, Nyoman Rai dengan tenang berkata, “Saya tidak dipaksa.” Hanya beberapa kata, tapi mampu mengubah nasib.

Tapi jangan dikira itu akhir dari drama. Setelah membayar denda adat, mereka akhirnya diakui sebagai pasangan sah. Tahun 1898, Soekarmini lahir. Namun, seperti banyak hal di negeri ini, damai tak pernah benar-benar panjang.

Patung Raden Soekemi Sosrodihardjo (ayah proklamator Soekarno) di SDN 1 Paket Agung Singaraja | Foto: Dian

Tekanan sosial membuat Soekemi akhirnya angkat kaki dari Singaraja. Ia pindah tugas ke Surabaya. Tempat baru. Harapan baru. Dan di sana, lahirlah seorang bayi bernama Kusno, yang kemudian jadi Soekarno.

Di Surabaya, rumah tempat Soekarno lahir kini menjadi situs cagar budaya nasional. Tapi mirisnya, rumah kos tempat ayahnya menanam cinta, ilmu, dan belimbing putih? Tak ada yang menandai. Tidak pula dinobatkan sebagai situs sejarah. Bahkan plang saja tidak.

Seolah-olah, bagian awal dari narasi Bung Karno dianggap terlalu jauh dari Jakarta.

Sekarang, mari kita alihkan pandangan ke sekolah tempat Soekemi mengajar. SDN 1 Paket Agung. Sekolah ini telah berdiri sejak 1875. Itu lebih tua dari banyak bangunan pemerintah yang sekarang.

Dulu namanya Tweede Klasse School. Sekolah untuk anak-anak pribumi kelas dua. Di sanalah Soekemi mengajar. Mengajar dengan cara yang mungkin tak banyak guru lakukan sekarang. Mengajar dengan hati dan keberanian.

Tahun ini, sekolah itu merayakan ulang tahun ke-150. Sebuah angka yang seharusnya membuat kita semua bergetar. Tapi sayangnya, perayaan ini masih terasa “lokal”. Belum menjadi sorotan nasional, padahal sejarah bangsa dimulai di sini. Ironi, ya?

Padahal, di salah satu ruang kelas, masih ada bangku kayu dengan lubang tinta, tempat para murid dulu menulis dengan pena celup. Lemari tua dengan tulisan “SR No.1 Singaraja, 8-8-28” masih berdiri gagah, seperti ingin berkata, “Aku saksi semua itu!”

Lemari dan bangku tua di SDN 1 Paket Agung Singaraja | Foto: Dian

Sungguh menarik, bagaimana sekolah ini tetap berdiri, tapi tidak pernah benar-benar disorot. Dalam perayaan 1,5 abad itu, Sekda Buleleng Gede Suyasa menyampaikan harapan agar sekolah ini tetap menjadi kebanggaan daerah.

Bagus. Tapi kita bertanya-tanya juga, kenapa baru sekarang terasa penting? Kenapa situs rumah kos Soekemi belum ditetapkan sebagai cagar budaya? Padahal jelas, rumah itu tak sekadar tempat tinggal, tapi saksi kelahiran semangat kebangsaan.

Kalau mau jujur, rumah kos di Jalan Gunung Batur itu jauh lebih “hidup” daripada banyak monumen yang dibangun hanya untuk selfie. Bangunan itu saksi cinta, pendidikan, bahkan perlawanan sosial terhadap adat. Tapi sayang, diamnya rumah itu justru dikalahkan oleh bisunya sejarah resmi.

Sejarah nama sekolah ini panjang dan berliku. Dari Tweede Klasse School, jadi Sekolah Rendah, lalu Sekolah Rakyat. Pernah juga dibuka di Jalan Gajah Mada (SMPN 1 Singaraja saat ini) saat zaman Jepang, lalu kembali lagi. Pernah disebut SD 10, lalu SDN 1 dan 2 Paket Agung, hingga akhirnya kini disebut SDN 1 Paket Agung.

Seperti kehidupan bangsa ini—berubah-ubah nama, tapi akar masalahnya tetap sama, bagaimana kita memperlakukan sejarah?

Apakah hanya sebagai bahan ujian? Atau sebagai napas hidup?

Rumah kos Raden Soekemi Sosrodihardjo (ayah proklamator Soekarno) di Jalan Gunung Batur Singaraja | Foto: Dian

Kini, rumah kos Soekemi masih berdiri. Sudah direnovasi, tapi tetap mempertahankan lokasi aslinya. Fondasi tetap sama. Pohon belimbing putih tetap tumbuh di halaman belakang. Dan udara di situ masih membawa aroma masa lalu yang sabar menunggu diakui.

Pohon itu bukan sekadar tumbuhan, tapi simbol dari semua hal yang tumbuh diam-diam tapi mengubah segalanya. Seperti pendidikan. Seperti cinta. Seperti keberanian melawan adat.

Dan seperti Soekemi, guru yang tak pernah masuk halaman depan buku sejarah, tapi dari tangannya lahir bangsa.

Sejarah bangsa ini tak hanya dibangun di istana dan medan perang. Tapi juga di dapur sempit rumah kos, di pelataran pura, di lubang tinta meja sekolah tua, dan di bawah pohon belimbing putih yang tak pernah berhenti berbuah. [T]

Penulis: Dian Suryantini
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Soekarno Lahir dari Drama Cinta Jawa-Bali yang Romantis
12 Naskah Teater Karya Bung Karno: Soekarno, Frankenstein & Indonesia Tanpa Nyawa
Ada Soekarno di Balik Doctor Honoris Causa Ki Hajar Dewantara
Soekarno: Pemimpin yang Mendengarkan Ahli Bahasa dan Sastra
Tags: bulelengRai SrimbenSoekarno
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Terjebak dan Mematung di Forum Diskusi “Puisi yang Mengobati Diri”—Catatan dari Festival Sastra di Singaraja

Next Post

“Drama” Dibalik Drama Kisah Cinta Rai Srimben: Kumis Gatal, Kain Melorot, dan Badmood Sebelum Pentas

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
“Drama” Dibalik Drama Kisah Cinta Rai Srimben: Kumis Gatal, Kain Melorot, dan Badmood Sebelum Pentas

“Drama” Dibalik Drama Kisah Cinta Rai Srimben: Kumis Gatal, Kain Melorot, dan Badmood Sebelum Pentas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co