25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ayah Soekarno Pernah Kos di Singaraja | Catatan 150 Tahun SDN 1 Paket Agung Singaraja

Dian Suryantini by Dian Suryantini
August 1, 2025
in Khas
Ayah Soekarno Pernah Kos di Singaraja | Catatan 150 Tahun SDN 1 Paket Agung Singaraja

Rumah kos Raden Soekemi Sosrodihardjo (ayah proklamator Soekarno) di Jalan Gunung Batur Singaraja | Foto: Dian

KALAU saja pohon bisa bicara, mungkin pohon belimbing putih di Jalan Gunung Batur itu sudah berteriak dari dulu. Tapi, sayangnya, sejarah kadang lebih sibuk mencatat nama-nama besar di balik meja rapat, lupa pada akar yang menumbuhkannya.

Ya, di balik rumah tua tanpa plang itu—di tengah semerbak cempaka dan sunyi yang tenang—tersembunyi jejak Raden Soekemi Sosrodihardjo. Siapa dia? Guru Jawa. Lulusan Kweekschool Probolinggo. Ayah biologis dari Soekarno. Tapi, jangan buru-buru membayangkan beliau hidup nyaman. Sebab, di rumah kos berdinding bata tanah itulah, sejarah Indonesia pernah bergetar pelan—nyaris tak terdengar.

Dari penuturan keluarga pemilik kos, Soekemi muda dikirim ke Singaraja. Waktu itu belum ada Google Maps, jadi dia datang bukan bawa peta jalan, tapi peta pikirannya sendiri—tentang bagaimana mencerdaskan anak-anak Hindia Belanda lewat sekolah bernama Tweede Klasse School, sekarang dikenal sebagai SDN 1 Paket Agung.

Rumah kos Raden Soekemi Sosrodihardjo (ayah proklamator Soekarno) di Jalan Gunung Batur Singaraja | Foto: Dian

Di sanalah ia mengajar. Mengajar sungguhan. Pakai kapur tulis, bukan spidol. Menginapnya? Di rumah kos milik keluarga almarhum Nyoman Gede Sutha. Kos-kosan zaman itu memang bukan seperti sekarang—tak ada wifi, apalagi AC. Tapi di sinilah benih sejarah ditanam. Karena dari tangan Soekemi, tumbuh pohon belimbing putih yang hingga kini masih berdiri.

Dan lebih dari itu—di bawah pohon itu pula, ditanam ari-ari anak pertamanya. Ya, benar. Ditanam. Karena bagi masyarakat zaman dulu, ari-ari adalah “penjaga” yang harus pulang ke tanah. Seperti sejarah yang seharusnya tak pernah pergi dari ingatan.

Tapi kisah Soekemi tak hanya soal papan tulis dan pelajaran. Ada sisi lain yang lebih mengguncang yakni cinta. Kisah ini sudah terdengar kemana-mana dan biasa. Tapi mari ceritakan sedikit.

Rumah kos Raden Soekemi Sosrodihardjo (ayah proklamator Soekarno) di Jalan Gunung Batur Singaraja | Foto: Dian

Setiap sore, selepas mengajar, Soekemi melangkah ke Pura di kawasan Bale Agung. Bukan semata berdoa—tapi diam-diam menanti seorang gadis Bali yang anggun dan penuh pengabdian, Nyoman Rai Srimben.

Waktu itu cinta mereka seperti upacara yang tak dapat izin. Sah di hati, tapi haram di adat. Seorang lelaki Jawa meminang perempuan Bali? Itu bukan hanya “tidak lazim”, itu bisa dianggap pelanggaran etika sosial—bahkan hukum adat.

Permintaan Soekemi untuk melamar ditolak keras. Tapi cinta, seperti biasa, tidak bisa diteorikan. Mereka memilih jalan berani yakni kawin lari. Bukan karena sinetron, tapi karena cinta tak sabar menunggu restu yang tak kunjung datang.

Dan hebatnya, ketika dipanggil ke sidang desa, Nyoman Rai dengan tenang berkata, “Saya tidak dipaksa.” Hanya beberapa kata, tapi mampu mengubah nasib.

Tapi jangan dikira itu akhir dari drama. Setelah membayar denda adat, mereka akhirnya diakui sebagai pasangan sah. Tahun 1898, Soekarmini lahir. Namun, seperti banyak hal di negeri ini, damai tak pernah benar-benar panjang.

Patung Raden Soekemi Sosrodihardjo (ayah proklamator Soekarno) di SDN 1 Paket Agung Singaraja | Foto: Dian

Tekanan sosial membuat Soekemi akhirnya angkat kaki dari Singaraja. Ia pindah tugas ke Surabaya. Tempat baru. Harapan baru. Dan di sana, lahirlah seorang bayi bernama Kusno, yang kemudian jadi Soekarno.

Di Surabaya, rumah tempat Soekarno lahir kini menjadi situs cagar budaya nasional. Tapi mirisnya, rumah kos tempat ayahnya menanam cinta, ilmu, dan belimbing putih? Tak ada yang menandai. Tidak pula dinobatkan sebagai situs sejarah. Bahkan plang saja tidak.

Seolah-olah, bagian awal dari narasi Bung Karno dianggap terlalu jauh dari Jakarta.

Sekarang, mari kita alihkan pandangan ke sekolah tempat Soekemi mengajar. SDN 1 Paket Agung. Sekolah ini telah berdiri sejak 1875. Itu lebih tua dari banyak bangunan pemerintah yang sekarang.

Dulu namanya Tweede Klasse School. Sekolah untuk anak-anak pribumi kelas dua. Di sanalah Soekemi mengajar. Mengajar dengan cara yang mungkin tak banyak guru lakukan sekarang. Mengajar dengan hati dan keberanian.

Tahun ini, sekolah itu merayakan ulang tahun ke-150. Sebuah angka yang seharusnya membuat kita semua bergetar. Tapi sayangnya, perayaan ini masih terasa “lokal”. Belum menjadi sorotan nasional, padahal sejarah bangsa dimulai di sini. Ironi, ya?

Padahal, di salah satu ruang kelas, masih ada bangku kayu dengan lubang tinta, tempat para murid dulu menulis dengan pena celup. Lemari tua dengan tulisan “SR No.1 Singaraja, 8-8-28” masih berdiri gagah, seperti ingin berkata, “Aku saksi semua itu!”

Lemari dan bangku tua di SDN 1 Paket Agung Singaraja | Foto: Dian

Sungguh menarik, bagaimana sekolah ini tetap berdiri, tapi tidak pernah benar-benar disorot. Dalam perayaan 1,5 abad itu, Sekda Buleleng Gede Suyasa menyampaikan harapan agar sekolah ini tetap menjadi kebanggaan daerah.

Bagus. Tapi kita bertanya-tanya juga, kenapa baru sekarang terasa penting? Kenapa situs rumah kos Soekemi belum ditetapkan sebagai cagar budaya? Padahal jelas, rumah itu tak sekadar tempat tinggal, tapi saksi kelahiran semangat kebangsaan.

Kalau mau jujur, rumah kos di Jalan Gunung Batur itu jauh lebih “hidup” daripada banyak monumen yang dibangun hanya untuk selfie. Bangunan itu saksi cinta, pendidikan, bahkan perlawanan sosial terhadap adat. Tapi sayang, diamnya rumah itu justru dikalahkan oleh bisunya sejarah resmi.

Sejarah nama sekolah ini panjang dan berliku. Dari Tweede Klasse School, jadi Sekolah Rendah, lalu Sekolah Rakyat. Pernah juga dibuka di Jalan Gajah Mada (SMPN 1 Singaraja saat ini) saat zaman Jepang, lalu kembali lagi. Pernah disebut SD 10, lalu SDN 1 dan 2 Paket Agung, hingga akhirnya kini disebut SDN 1 Paket Agung.

Seperti kehidupan bangsa ini—berubah-ubah nama, tapi akar masalahnya tetap sama, bagaimana kita memperlakukan sejarah?

Apakah hanya sebagai bahan ujian? Atau sebagai napas hidup?

Rumah kos Raden Soekemi Sosrodihardjo (ayah proklamator Soekarno) di Jalan Gunung Batur Singaraja | Foto: Dian

Kini, rumah kos Soekemi masih berdiri. Sudah direnovasi, tapi tetap mempertahankan lokasi aslinya. Fondasi tetap sama. Pohon belimbing putih tetap tumbuh di halaman belakang. Dan udara di situ masih membawa aroma masa lalu yang sabar menunggu diakui.

Pohon itu bukan sekadar tumbuhan, tapi simbol dari semua hal yang tumbuh diam-diam tapi mengubah segalanya. Seperti pendidikan. Seperti cinta. Seperti keberanian melawan adat.

Dan seperti Soekemi, guru yang tak pernah masuk halaman depan buku sejarah, tapi dari tangannya lahir bangsa.

Sejarah bangsa ini tak hanya dibangun di istana dan medan perang. Tapi juga di dapur sempit rumah kos, di pelataran pura, di lubang tinta meja sekolah tua, dan di bawah pohon belimbing putih yang tak pernah berhenti berbuah. [T]

Penulis: Dian Suryantini
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Soekarno Lahir dari Drama Cinta Jawa-Bali yang Romantis
12 Naskah Teater Karya Bung Karno: Soekarno, Frankenstein & Indonesia Tanpa Nyawa
Ada Soekarno di Balik Doctor Honoris Causa Ki Hajar Dewantara
Soekarno: Pemimpin yang Mendengarkan Ahli Bahasa dan Sastra
Tags: bulelengRai SrimbenSoekarno
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Terjebak dan Mematung di Forum Diskusi “Puisi yang Mengobati Diri”—Catatan dari Festival Sastra di Singaraja

Next Post

“Drama” Dibalik Drama Kisah Cinta Rai Srimben: Kumis Gatal, Kain Melorot, dan Badmood Sebelum Pentas

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
0
Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

Read moreDetails

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
0
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

Read moreDetails

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
0
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

Read moreDetails

Mengagumi Mobil Mini

by Jaswanto
June 22, 2026
0
Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

Read moreDetails

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
0
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

Read moreDetails

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

by Dede Putra Wiguna
June 20, 2026
0
Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

SORE itu, Senin, 15 Juni 2026, suasana di Toko Kopi TUKU Renon tampak lebih ramai dari biasanya. Di antara antrean...

Read moreDetails

Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 6, 2026
0
Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

KABUPATEN Tabanan saat ini tengah memasuki fase penting dalam pembangunan daerah. Di bawah kepemimpinan Bupati Dr. I Komang Gede Sanjaya,...

Read moreDetails

Cerita Rakyat Sebagai Identitas

by I Wayan Artika
June 6, 2026
0
Cerita Rakyat Sebagai Identitas

Setelah direvitalisasi, kini sejumlah cerita rakyat Bali aga Desa Pedawa hidup kembali. I Jaum misalnya telah dijadikan cerita pertunjukan. Kini...

Read moreDetails

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
0
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

Read moreDetails

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
0
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

Read moreDetails
Next Post
“Drama” Dibalik Drama Kisah Cinta Rai Srimben: Kumis Gatal, Kain Melorot, dan Badmood Sebelum Pentas

“Drama” Dibalik Drama Kisah Cinta Rai Srimben: Kumis Gatal, Kain Melorot, dan Badmood Sebelum Pentas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co