4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ayah Soekarno Pernah Kos di Singaraja | Catatan 150 Tahun SDN 1 Paket Agung Singaraja

Dian Suryantini by Dian Suryantini
August 1, 2025
in Khas
Ayah Soekarno Pernah Kos di Singaraja | Catatan 150 Tahun SDN 1 Paket Agung Singaraja

Rumah kos Raden Soekemi Sosrodihardjo (ayah proklamator Soekarno) di Jalan Gunung Batur Singaraja | Foto: Dian

KALAU saja pohon bisa bicara, mungkin pohon belimbing putih di Jalan Gunung Batur itu sudah berteriak dari dulu. Tapi, sayangnya, sejarah kadang lebih sibuk mencatat nama-nama besar di balik meja rapat, lupa pada akar yang menumbuhkannya.

Ya, di balik rumah tua tanpa plang itu—di tengah semerbak cempaka dan sunyi yang tenang—tersembunyi jejak Raden Soekemi Sosrodihardjo. Siapa dia? Guru Jawa. Lulusan Kweekschool Probolinggo. Ayah biologis dari Soekarno. Tapi, jangan buru-buru membayangkan beliau hidup nyaman. Sebab, di rumah kos berdinding bata tanah itulah, sejarah Indonesia pernah bergetar pelan—nyaris tak terdengar.

Dari penuturan keluarga pemilik kos, Soekemi muda dikirim ke Singaraja. Waktu itu belum ada Google Maps, jadi dia datang bukan bawa peta jalan, tapi peta pikirannya sendiri—tentang bagaimana mencerdaskan anak-anak Hindia Belanda lewat sekolah bernama Tweede Klasse School, sekarang dikenal sebagai SDN 1 Paket Agung.

Rumah kos Raden Soekemi Sosrodihardjo (ayah proklamator Soekarno) di Jalan Gunung Batur Singaraja | Foto: Dian

Di sanalah ia mengajar. Mengajar sungguhan. Pakai kapur tulis, bukan spidol. Menginapnya? Di rumah kos milik keluarga almarhum Nyoman Gede Sutha. Kos-kosan zaman itu memang bukan seperti sekarang—tak ada wifi, apalagi AC. Tapi di sinilah benih sejarah ditanam. Karena dari tangan Soekemi, tumbuh pohon belimbing putih yang hingga kini masih berdiri.

Dan lebih dari itu—di bawah pohon itu pula, ditanam ari-ari anak pertamanya. Ya, benar. Ditanam. Karena bagi masyarakat zaman dulu, ari-ari adalah “penjaga” yang harus pulang ke tanah. Seperti sejarah yang seharusnya tak pernah pergi dari ingatan.

Tapi kisah Soekemi tak hanya soal papan tulis dan pelajaran. Ada sisi lain yang lebih mengguncang yakni cinta. Kisah ini sudah terdengar kemana-mana dan biasa. Tapi mari ceritakan sedikit.

Rumah kos Raden Soekemi Sosrodihardjo (ayah proklamator Soekarno) di Jalan Gunung Batur Singaraja | Foto: Dian

Setiap sore, selepas mengajar, Soekemi melangkah ke Pura di kawasan Bale Agung. Bukan semata berdoa—tapi diam-diam menanti seorang gadis Bali yang anggun dan penuh pengabdian, Nyoman Rai Srimben.

Waktu itu cinta mereka seperti upacara yang tak dapat izin. Sah di hati, tapi haram di adat. Seorang lelaki Jawa meminang perempuan Bali? Itu bukan hanya “tidak lazim”, itu bisa dianggap pelanggaran etika sosial—bahkan hukum adat.

Permintaan Soekemi untuk melamar ditolak keras. Tapi cinta, seperti biasa, tidak bisa diteorikan. Mereka memilih jalan berani yakni kawin lari. Bukan karena sinetron, tapi karena cinta tak sabar menunggu restu yang tak kunjung datang.

Dan hebatnya, ketika dipanggil ke sidang desa, Nyoman Rai dengan tenang berkata, “Saya tidak dipaksa.” Hanya beberapa kata, tapi mampu mengubah nasib.

Tapi jangan dikira itu akhir dari drama. Setelah membayar denda adat, mereka akhirnya diakui sebagai pasangan sah. Tahun 1898, Soekarmini lahir. Namun, seperti banyak hal di negeri ini, damai tak pernah benar-benar panjang.

Patung Raden Soekemi Sosrodihardjo (ayah proklamator Soekarno) di SDN 1 Paket Agung Singaraja | Foto: Dian

Tekanan sosial membuat Soekemi akhirnya angkat kaki dari Singaraja. Ia pindah tugas ke Surabaya. Tempat baru. Harapan baru. Dan di sana, lahirlah seorang bayi bernama Kusno, yang kemudian jadi Soekarno.

Di Surabaya, rumah tempat Soekarno lahir kini menjadi situs cagar budaya nasional. Tapi mirisnya, rumah kos tempat ayahnya menanam cinta, ilmu, dan belimbing putih? Tak ada yang menandai. Tidak pula dinobatkan sebagai situs sejarah. Bahkan plang saja tidak.

Seolah-olah, bagian awal dari narasi Bung Karno dianggap terlalu jauh dari Jakarta.

Sekarang, mari kita alihkan pandangan ke sekolah tempat Soekemi mengajar. SDN 1 Paket Agung. Sekolah ini telah berdiri sejak 1875. Itu lebih tua dari banyak bangunan pemerintah yang sekarang.

Dulu namanya Tweede Klasse School. Sekolah untuk anak-anak pribumi kelas dua. Di sanalah Soekemi mengajar. Mengajar dengan cara yang mungkin tak banyak guru lakukan sekarang. Mengajar dengan hati dan keberanian.

Tahun ini, sekolah itu merayakan ulang tahun ke-150. Sebuah angka yang seharusnya membuat kita semua bergetar. Tapi sayangnya, perayaan ini masih terasa “lokal”. Belum menjadi sorotan nasional, padahal sejarah bangsa dimulai di sini. Ironi, ya?

Padahal, di salah satu ruang kelas, masih ada bangku kayu dengan lubang tinta, tempat para murid dulu menulis dengan pena celup. Lemari tua dengan tulisan “SR No.1 Singaraja, 8-8-28” masih berdiri gagah, seperti ingin berkata, “Aku saksi semua itu!”

Lemari dan bangku tua di SDN 1 Paket Agung Singaraja | Foto: Dian

Sungguh menarik, bagaimana sekolah ini tetap berdiri, tapi tidak pernah benar-benar disorot. Dalam perayaan 1,5 abad itu, Sekda Buleleng Gede Suyasa menyampaikan harapan agar sekolah ini tetap menjadi kebanggaan daerah.

Bagus. Tapi kita bertanya-tanya juga, kenapa baru sekarang terasa penting? Kenapa situs rumah kos Soekemi belum ditetapkan sebagai cagar budaya? Padahal jelas, rumah itu tak sekadar tempat tinggal, tapi saksi kelahiran semangat kebangsaan.

Kalau mau jujur, rumah kos di Jalan Gunung Batur itu jauh lebih “hidup” daripada banyak monumen yang dibangun hanya untuk selfie. Bangunan itu saksi cinta, pendidikan, bahkan perlawanan sosial terhadap adat. Tapi sayang, diamnya rumah itu justru dikalahkan oleh bisunya sejarah resmi.

Sejarah nama sekolah ini panjang dan berliku. Dari Tweede Klasse School, jadi Sekolah Rendah, lalu Sekolah Rakyat. Pernah juga dibuka di Jalan Gajah Mada (SMPN 1 Singaraja saat ini) saat zaman Jepang, lalu kembali lagi. Pernah disebut SD 10, lalu SDN 1 dan 2 Paket Agung, hingga akhirnya kini disebut SDN 1 Paket Agung.

Seperti kehidupan bangsa ini—berubah-ubah nama, tapi akar masalahnya tetap sama, bagaimana kita memperlakukan sejarah?

Apakah hanya sebagai bahan ujian? Atau sebagai napas hidup?

Rumah kos Raden Soekemi Sosrodihardjo (ayah proklamator Soekarno) di Jalan Gunung Batur Singaraja | Foto: Dian

Kini, rumah kos Soekemi masih berdiri. Sudah direnovasi, tapi tetap mempertahankan lokasi aslinya. Fondasi tetap sama. Pohon belimbing putih tetap tumbuh di halaman belakang. Dan udara di situ masih membawa aroma masa lalu yang sabar menunggu diakui.

Pohon itu bukan sekadar tumbuhan, tapi simbol dari semua hal yang tumbuh diam-diam tapi mengubah segalanya. Seperti pendidikan. Seperti cinta. Seperti keberanian melawan adat.

Dan seperti Soekemi, guru yang tak pernah masuk halaman depan buku sejarah, tapi dari tangannya lahir bangsa.

Sejarah bangsa ini tak hanya dibangun di istana dan medan perang. Tapi juga di dapur sempit rumah kos, di pelataran pura, di lubang tinta meja sekolah tua, dan di bawah pohon belimbing putih yang tak pernah berhenti berbuah. [T]

Penulis: Dian Suryantini
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Soekarno Lahir dari Drama Cinta Jawa-Bali yang Romantis
12 Naskah Teater Karya Bung Karno: Soekarno, Frankenstein & Indonesia Tanpa Nyawa
Ada Soekarno di Balik Doctor Honoris Causa Ki Hajar Dewantara
Soekarno: Pemimpin yang Mendengarkan Ahli Bahasa dan Sastra
Tags: bulelengRai SrimbenSoekarno
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Terjebak dan Mematung di Forum Diskusi “Puisi yang Mengobati Diri”—Catatan dari Festival Sastra di Singaraja

Next Post

“Drama” Dibalik Drama Kisah Cinta Rai Srimben: Kumis Gatal, Kain Melorot, dan Badmood Sebelum Pentas

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
“Drama” Dibalik Drama Kisah Cinta Rai Srimben: Kumis Gatal, Kain Melorot, dan Badmood Sebelum Pentas

“Drama” Dibalik Drama Kisah Cinta Rai Srimben: Kumis Gatal, Kain Melorot, dan Badmood Sebelum Pentas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co