12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Soekarno: Pemimpin yang Mendengarkan Ahli Bahasa dan Sastra

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
June 6, 2020
in Esai
Soekarno: Pemimpin yang Mendengarkan Ahli Bahasa dan Sastra

Soekarno merupakan representasi pemimpin revolusioner yang memberikan tempat khusus kepada ahli bahasa. Dalam pidatonya tentang Pancasila, tanggal 1 Juni 1945 ia menyatakan bahwa Pancasila yang diusulkannya sebagai dasar negara telah mendapatkan petunjuk dari seorang ahli bahasa.

“Saudara-saudara! “Dasar-dasar Negara” telah saya usulkan. Lima bilangannya. Inikah Panca dharma? Tidak tepat di sini. Dharma berarti kewajiban, sedangkan di sini kita membicarakan dasar. Saya senang dengan kata-kata simbolik. Simbolik angka pula. Rukun Islam lima jumlahnya. Jari kita lima setangan. Kita mempunyai panca indria. Apalagi yang lima bilangannya? (salah seroang menjawab: Pendawa lima). Pendawapun lima orangnya. Sekarang banyaknya prinsip; kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan dan ketuhanan, lima pula bilangannya. Namanya bukan Pancadharma, tetapi saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman ahli bahasa-namanya ialah Pancasila. Sila artinya azas atau dasar, dan di atas kelima itulah kita mendirikan Negara Indonesia, kekal, abadi. 

Kita tidak tahu pasti figur ahli bahasa yang dimaksud Soekarno dalam pernyataan di atas karena pergaulannya yang luas dari berbagai kalangan. Dalam guyub masyarakat intelektual Soekarno sangat dihormati karena pemikirannya yang besar, sedangkan di kalangan rakyat akar rumput kesahajaannya sangat dicintai. Namun demikian, di antara jamaknya pergaulan Soekarno itu, dua di antara sahabat dekatnya yang begitu meminati bahasa adalah Moh. Yamin yang berasal dari Sumatra dan IGB Sugriwa dari Bali.

Moh. Yamin yang mengiringi Soekarno dari awal perintisan dasar negara, pancasila, dan sumpah pemuda juga adalah seorang sastrawan. Dari tangan-tangan kreatifnya pada dekade tahun 1920-an lahir sejumlah karya sastra seperti Tanah Air, Tumpah Darahku, Drama Ken Arok dan Ken Dedes, serta sejumlah terjemahan sastrawan seperti William Shakespeare dan Rabinrath Tagore. Sementara itu, I Gusti Bagus Sugriwa yang secara nasional sempat menjadi Dewan Nasional Alim Ulama Hindu Bali pada tahun 1957 melahirkan berbagai terjemahan karya sastra klasik yang tak begitu diminati kalangan luas. IGB Sugriwa mengalihbahasakan karya-karya sastra monumental dalam sejarah peradaban Nusantara seperti Kakawin Ramayana, Arjuna Wiwaha, Rama Tantra, Sang Hyang Kamahayanikan, Dharma Shunya, dan yang lainnya terutama Kakawin Sutasoma. Peminat sastra klasik pasti tahu persis bahwa pada karya yang ditulis oleh Mpu Tantular itulah istilah Pancasila ditemukan. Terjemahan Kakawin Sutasoma yang dilakukan oleh IGB Sugriwa itu pula yang digunakan sebagai dasar penyuntingan oleh Suwita Santoso (1975) ketika menulis disertasi Sutasoma dan terbitan Kakawin Sutasoma oleh Dwi Woro Retno Mastuti dan Hasto Bramantyo (2018).

Dua sahabat Soekarno itu memang memilih untuk menekuni kancah bahasa yang berbeda. Moh. Yamin lebih banyak menulis karya sastra berbahasa Melayu Klasik dan Melayu Modern, sedangkan IGB Sugriwa terkonsentrasi pada Sastra Jawa Kuno dan Bali. Untuk menerjemahkan sastra Jawa Kuno, pada saat yang bersamaan Sugriwa juga menguasai bahasa Sanskerta. Sebab, dari sekitar 25.500 kosakata bahasa Jawa Kuno, sekitar 12.500 atau setengahnya adalah serapan dari bahasa Sanskerta (periksa Zoetmulder, 1994). Jika istilah Pancasila berasal dari serapan kosakata bahasa Sanskerta dalam bahasa Jawa Kuno mungkinkah figur yang kita bicarakan terakhir ini adalah ahli bahasa yang dimaksud? Tidak tahu. Yang jelas, dari pengakuan Soekarno bahwa dirinya mendapatkan petunjuk seorang ahli bahasa, kita tahu bahwa Sang Putra Fajar sangat berhati-hati ketika memperhitungkan ketepatan istilah yang akan menjadi fondasi besar rumah bersama yang bernama Indonesia.

Jasmerah: Pola Hubungan Pemimpin dan Sastrawan 

Terlepas dari figur yang memberi petunjuk penggunaan istilah Pancasila, sikap Soekarno yang memperhatikan pertimbangan ahli bahasa itu mengingatkan kita pada pola-pola hubungan antara para raja dengan sastrawan di masa Jawa Kuno. Sastra adalah puncak seni penggunaan bahasa. S.O. Robson (1978) bahkan menyatakan bahwa sastra tidak akan pernah ada tanpa bahasa. Oleh karena itu, seorang sastrawan sejatinya adalah Mpunya bahasa. Di tangannya, kebenaran tersaji dalam bingkai keindahan yang tak pernah kering untuk membasuh dahaga batin. Persenggamaan antara kebenaran (satyam) dan keindahan (sundaram) itulah yang melahirkan kesucian. Maka dari itu, sastra klasik menyebutkan sastra sebagai Sang Hyang Sastra.

Kembali ke hubungan antara pemimpin dengan sastrawan sebagai ahli bahasa, pada masa kepemimpinan raja Dharmawangsa Teguh Anantawikrama Uttunggadewa (991-1016 M) para sastrawan bahkan disponsori untuk membahasajawakunakan karya-karya Bhagawan Byasa. Proyek prestisius yang disebut sebagai “mangjawakna byasa matta” itulah ibu kandung yang melahirkan delapan parwa seperti Adiparwa, Wirataparwa, Udyogaparwa, Bhismaparwa, Asramawasaparwa, Mosalaparwa, Prastanikaparwa, Swargarohanaparwa, dan satu cerita Ramayana berjudul Uttarakanda. Tidak hanya menjadi sponsor kelahiran parwa-parwa dalam bahasa Jawa Kuno, raja Dharmawangsa Teguh juga hadir dalam pembacaan karya sastra tersebut yang menghabiskan waktu selama 1 bulan, kurang 1 hari. Dalam karya sastra itu pula terang disebutkan, sang raja pernah absen 1 kali karena ada urusan kenegaraan (ekonatri ṅ ṣad rātri diwasanya, kuraṅ sawĕṅi kamnā yāwakaniṅ salek, riṅ kapiṅ lima rahadyan saṅ hulun kasĕlaṅan tan pagosti, kewyandeni karyyanta).

Tidak jauh berbeda dengan Dharmawangsa Teguh, raja Erlangga (1009-1042 M) pendiri kerajaan Kahuripan di Jawa Timur yang merupakan putra dari Raja Udayana dan Mahendradata juga menjadi patron-pengayom lahirnya Kakawin Arjuna Wiwaha. Karya sastra yang diakui sebagai puncak keindahan karya sastra kakawin dari segi komposisi ceritanya itu digubah oleh Mpu Kanwa. Mpu Kanwa di bagian akhir karyanya menyatakan bahwa karya sastra itu adalah karya pertamanya yang ditulis dalam keadaan terburu-buru karena akan mengiringi raja berperang.

Alir konsisten hubungan antara raja dengan sastrawan juga masih berlanjut hingga masa kejayaan Majapahit. Kala Hayam Wuruk (1350-1389 M) berkeliling ke berbagai wilayah kekuasaannya, sang  raja mengajak Mpu Prapanca untuk mencatat daerah-daerah yang dikunjunginya. Catatan itu tidak tersaji dalam bentuk prasasti, tetapi sebuah candi bahasa berjudul Desawarnana atau juga populer dengan sebutan Negarakretagama. Tanpa karya sastra sejarah itu, pengetahuan kita mengenai kejayaan Majapahit tidak akan mampu dijamah dengan lebih terang oleh para ahli purbakala.

Tiga contoh di atas kiranya cukup untuk menunjukkan pola-pola hubungan antara pemimpin dengan ahli bahasa atau sastrawan yang dilanjutkan oleh Soekarno kala menggulirkan istilah Pancasila sebagai dasar negara. Sesungguhnya tidak hanya itu, ketertarikan Soekarno terhadap dunia sastra juga tercermin sewaktu ia menonton wayang Sutasoma di Bali. Suatu hari  pada bulan purnama tahun 1962, ketika Ia berkunjung ke Bali tepatnya di Ubud-Gianyar, Soekarno secara khusus mengundang seorang dalang bernama I Nyoman Granyam dari Sukawati untuk mementaskan lakon Wayang Sutasoma atau Purusadasanta. Usai menonton pertunjukan tersebut, Soekarno memberikan apresiasi kepada dalang dengan pernyataan “saya sangat terkesan dengan ucapan Sutasoma tadi”. Ucapan Sutasoma yang dimaksud oleh Soekarno muncul ketika fragmen Sutasoma akan menyerahkan dirinya sebagai ganti dari raja-raja lainnya untuk dijadikan tumbal kepada Bhatara Kāla. Ia menyatakan hana pamintaku uripana sahananiṅ rātu kabeh “ada permintaanku hidupkanlah raja-raja itu semua” (Agastia, 2009:27-28). Entah apa yang membuat Soekarno haru melihat “kulit diukir” itu.

Soekarno dan Pancasila: Proses Aktualisasi

Peristiwa menonton pertunjukan wayang Sutasoma yang dilakukan oleh Soekarno tersebut menunjukkan kedekatan hubungan ideologis antara Seokarno dengan karya Mpu Tantular itu. Meski terdapat perbedaan jabaran Pancasila antara Kakawin Sutasoma dengan dasar negara kita saat ini, penting rasanya kita menyimak konteks penggunaan istilah Pancasila itu dalam Kakawin Sutasoma. Barangkali dari perbedaan itulah kita dapat mengapresiasi galian Bung Karno.

Dalam karya sastra Kakawin Sutasoma, istilah pancasila muncul pada irama 4 bait kelima ketika Sutasoma diundang oleh Sri Mahaketu untuk menggantikannya menjadi raja. Saat itulah raja berpesan kepada Sutasoma agar ketika ia memegang tampuk kekuasaan semua pasukan harus melaksanakan Nitisastra [ilmu politik dan kepemimpinan], seluruh lapisan masyarakat dari berbagai jenjang umur [catur asrama] melaksanakan pancasila secara teratur[aṣtam saṅ caturaśrameka tarinĕn ring pañcasilakrama], dan seorang raja harus berpengatahuan, teguh melakukan pengendalian diri, serta malaksanakan tapa. Dengan cara itulah seseorang terhindar dari gangguan para raksasa yang merusak di zaman Kali. 

Tidak jauh berbeda dengan konteks pemakaian istilah pancasila dalam Kakawin Sutasoma. Karya sastra Negarakretagama juga menjelaskan pemakaian istilah pancasila dalam konteks ajaran yang dipegang oleh raja untuk menghadapi zaman Kali [bhuwana raksana gaweyani kālaning kali]. Karena zaman Kali penuh dengan huru-hara, Raja Majapahit dikatakan selalu sujud di bawah telapak kaki Sri Sakyasingha. Beliau juga teguh memegang pancasila, berlaku mulia, dan melaksanakan upacara suci [yatnā gĕgwani pañcasĩla krĕta sangskārā bhiṣekā krama].  

Dari dua konteks pemakaian istilah pancasila tersebut, kita mendapatkan satu kesan bahwa ajaran pancasila menjadi model untuk menghadapi berbagai tantangan pada zaman Kali yang penuh dengan huru-hara. Dalam karya sastra Kakawin Sutasoma gangguan zaman Kali itu ditandai secara simbolik dengan perilaku intelektual-spiritual yang penuh kepalsuan, para raksasa kanibal yang memakan manusia, Gajamuka yang rakus, harimau yang ingin memakan anaknya, dan ikatan pikiran negatif yang disimbolkan dengan naga.

Adakah Presiden Soekarno ingin mentransformasikan pancasila untuk menghadapi berbagai tantangan zaman Kali, ketika baru saja merdeka dari gangguan ‘raksasa-raksasa’ penjajah selama bertahun-tahun? Bisa jadi demikian. Akan tetapi, pengambilan istilah dari karya-karya sastra pada puncak zaman kejayaan Majapahit itu meninggalkan kesan bahwa Soekarno ingin merawat keberagaman sebagai jati diri bangsa seperti kerukunan agama Siwa dan Buddha yang hidup berdampingan pada zaman Majapahit. Barangkali pula Soekarno ingin agar bangsa Indonesia yang memiliki jejak historis kejayaan Majapahit bisa melanjutkan kejayaan tersebut di sebuah wilayah yang tanah dan natahnya tak berbeda. 

Dari interpretasi di atas, kita merasakan bahwa ajaran pancasila di masa lampau sangat penting. Lalu, apakah yang dimaksud dengan pancasila dalam konteks Kakawin Sutasoma tersebut? Di dalam Kakawin Sutasoma dan Negarakretagama sendiri hal itu tidak dijelaskan secara rinci. Akan tetapi, IGB Sugriwa, pancasila terdiri atas lima ajaran yaitu (1) tidak membunuh [ahimsa], (2) setia [satya], (3) tidak mencuri [asteya], (4) taat pada ajaran agama [brahmacarya], dan tidak mengacau [aparigraha]. Apabila dibandingkan, pancasila dalam pengertian spiritual tersebut, tentu berbeda dengan rincian pancasila yang menjadi dasar NKRI saat ini. Pancasila yang menjadi dasar NKRI termanifestasi dalam lima butir yaitu (1) ketuhanan yang Mahaesa, (2) kemanusiaan yang adil dan beradab, (3) persatuan Indonesia, (4) kerakyatan yang dimpimpin oleh hikmad kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dan (5) keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Jika benar istilah pancasila sebagai dasar negara terinspirasi dari ajaran yang terdokumentasi dalam karya-karya sastra Jawa Kuno di atas, maka perbedaan tersebutlah yang menyebabkan kita menaruh hormat kepada Soekarno karena ia telah ‘mencanggihkan’ ajaran spiritual menjadi dasar negara saat ini. Sejatinya tidak terlalu mengherankan apabila presiden pertama Indonesia itu melakukan pengembangan makna terhadap istilah pancasila yang semula lebih menitikberatkan ajaran moral-spiritual menjadi dasar negara. Sebab, semboyan bangsa Indonesia ‘bhinneka tunggal ika’ yang sudah pasti diambil dari karya sastra sebagai penunggalan ajaran Siwa-Buddha juga dikembangkan maknanya menjadi ‘berbeda-beda tetapi tetap satu’. Hal itu dilakukan sekali lagi untuk merawat perbedaan yang menjadi jati diri masyarakat Indonesia. Selamat ulang tahun Sang Putra Fajar! Semoga NKRI merdeka dan mahardika.  

Tags: BahasaBung KarnokemerdekaansastraSoekarno
Share223TweetSendShareSend
Previous Post

Revolusi Tidur

Next Post

Buku “Sayong” Karya Nyoman Manda, Ada Bangli Era 90-an

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Buku “Sayong” Karya Nyoman Manda, Ada Bangli Era 90-an

Buku “Sayong” Karya Nyoman Manda, Ada Bangli Era 90-an

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co