2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Soekarno: Pemimpin yang Mendengarkan Ahli Bahasa dan Sastra

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
June 6, 2020
in Esai
Soekarno: Pemimpin yang Mendengarkan Ahli Bahasa dan Sastra

Soekarno merupakan representasi pemimpin revolusioner yang memberikan tempat khusus kepada ahli bahasa. Dalam pidatonya tentang Pancasila, tanggal 1 Juni 1945 ia menyatakan bahwa Pancasila yang diusulkannya sebagai dasar negara telah mendapatkan petunjuk dari seorang ahli bahasa.

“Saudara-saudara! “Dasar-dasar Negara” telah saya usulkan. Lima bilangannya. Inikah Panca dharma? Tidak tepat di sini. Dharma berarti kewajiban, sedangkan di sini kita membicarakan dasar. Saya senang dengan kata-kata simbolik. Simbolik angka pula. Rukun Islam lima jumlahnya. Jari kita lima setangan. Kita mempunyai panca indria. Apalagi yang lima bilangannya? (salah seroang menjawab: Pendawa lima). Pendawapun lima orangnya. Sekarang banyaknya prinsip; kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan dan ketuhanan, lima pula bilangannya. Namanya bukan Pancadharma, tetapi saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman ahli bahasa-namanya ialah Pancasila. Sila artinya azas atau dasar, dan di atas kelima itulah kita mendirikan Negara Indonesia, kekal, abadi. 

Kita tidak tahu pasti figur ahli bahasa yang dimaksud Soekarno dalam pernyataan di atas karena pergaulannya yang luas dari berbagai kalangan. Dalam guyub masyarakat intelektual Soekarno sangat dihormati karena pemikirannya yang besar, sedangkan di kalangan rakyat akar rumput kesahajaannya sangat dicintai. Namun demikian, di antara jamaknya pergaulan Soekarno itu, dua di antara sahabat dekatnya yang begitu meminati bahasa adalah Moh. Yamin yang berasal dari Sumatra dan IGB Sugriwa dari Bali.

Moh. Yamin yang mengiringi Soekarno dari awal perintisan dasar negara, pancasila, dan sumpah pemuda juga adalah seorang sastrawan. Dari tangan-tangan kreatifnya pada dekade tahun 1920-an lahir sejumlah karya sastra seperti Tanah Air, Tumpah Darahku, Drama Ken Arok dan Ken Dedes, serta sejumlah terjemahan sastrawan seperti William Shakespeare dan Rabinrath Tagore. Sementara itu, I Gusti Bagus Sugriwa yang secara nasional sempat menjadi Dewan Nasional Alim Ulama Hindu Bali pada tahun 1957 melahirkan berbagai terjemahan karya sastra klasik yang tak begitu diminati kalangan luas. IGB Sugriwa mengalihbahasakan karya-karya sastra monumental dalam sejarah peradaban Nusantara seperti Kakawin Ramayana, Arjuna Wiwaha, Rama Tantra, Sang Hyang Kamahayanikan, Dharma Shunya, dan yang lainnya terutama Kakawin Sutasoma. Peminat sastra klasik pasti tahu persis bahwa pada karya yang ditulis oleh Mpu Tantular itulah istilah Pancasila ditemukan. Terjemahan Kakawin Sutasoma yang dilakukan oleh IGB Sugriwa itu pula yang digunakan sebagai dasar penyuntingan oleh Suwita Santoso (1975) ketika menulis disertasi Sutasoma dan terbitan Kakawin Sutasoma oleh Dwi Woro Retno Mastuti dan Hasto Bramantyo (2018).

Dua sahabat Soekarno itu memang memilih untuk menekuni kancah bahasa yang berbeda. Moh. Yamin lebih banyak menulis karya sastra berbahasa Melayu Klasik dan Melayu Modern, sedangkan IGB Sugriwa terkonsentrasi pada Sastra Jawa Kuno dan Bali. Untuk menerjemahkan sastra Jawa Kuno, pada saat yang bersamaan Sugriwa juga menguasai bahasa Sanskerta. Sebab, dari sekitar 25.500 kosakata bahasa Jawa Kuno, sekitar 12.500 atau setengahnya adalah serapan dari bahasa Sanskerta (periksa Zoetmulder, 1994). Jika istilah Pancasila berasal dari serapan kosakata bahasa Sanskerta dalam bahasa Jawa Kuno mungkinkah figur yang kita bicarakan terakhir ini adalah ahli bahasa yang dimaksud? Tidak tahu. Yang jelas, dari pengakuan Soekarno bahwa dirinya mendapatkan petunjuk seorang ahli bahasa, kita tahu bahwa Sang Putra Fajar sangat berhati-hati ketika memperhitungkan ketepatan istilah yang akan menjadi fondasi besar rumah bersama yang bernama Indonesia.

Jasmerah: Pola Hubungan Pemimpin dan Sastrawan 

Terlepas dari figur yang memberi petunjuk penggunaan istilah Pancasila, sikap Soekarno yang memperhatikan pertimbangan ahli bahasa itu mengingatkan kita pada pola-pola hubungan antara para raja dengan sastrawan di masa Jawa Kuno. Sastra adalah puncak seni penggunaan bahasa. S.O. Robson (1978) bahkan menyatakan bahwa sastra tidak akan pernah ada tanpa bahasa. Oleh karena itu, seorang sastrawan sejatinya adalah Mpunya bahasa. Di tangannya, kebenaran tersaji dalam bingkai keindahan yang tak pernah kering untuk membasuh dahaga batin. Persenggamaan antara kebenaran (satyam) dan keindahan (sundaram) itulah yang melahirkan kesucian. Maka dari itu, sastra klasik menyebutkan sastra sebagai Sang Hyang Sastra.

Kembali ke hubungan antara pemimpin dengan sastrawan sebagai ahli bahasa, pada masa kepemimpinan raja Dharmawangsa Teguh Anantawikrama Uttunggadewa (991-1016 M) para sastrawan bahkan disponsori untuk membahasajawakunakan karya-karya Bhagawan Byasa. Proyek prestisius yang disebut sebagai “mangjawakna byasa matta” itulah ibu kandung yang melahirkan delapan parwa seperti Adiparwa, Wirataparwa, Udyogaparwa, Bhismaparwa, Asramawasaparwa, Mosalaparwa, Prastanikaparwa, Swargarohanaparwa, dan satu cerita Ramayana berjudul Uttarakanda. Tidak hanya menjadi sponsor kelahiran parwa-parwa dalam bahasa Jawa Kuno, raja Dharmawangsa Teguh juga hadir dalam pembacaan karya sastra tersebut yang menghabiskan waktu selama 1 bulan, kurang 1 hari. Dalam karya sastra itu pula terang disebutkan, sang raja pernah absen 1 kali karena ada urusan kenegaraan (ekonatri ṅ ṣad rātri diwasanya, kuraṅ sawĕṅi kamnā yāwakaniṅ salek, riṅ kapiṅ lima rahadyan saṅ hulun kasĕlaṅan tan pagosti, kewyandeni karyyanta).

Tidak jauh berbeda dengan Dharmawangsa Teguh, raja Erlangga (1009-1042 M) pendiri kerajaan Kahuripan di Jawa Timur yang merupakan putra dari Raja Udayana dan Mahendradata juga menjadi patron-pengayom lahirnya Kakawin Arjuna Wiwaha. Karya sastra yang diakui sebagai puncak keindahan karya sastra kakawin dari segi komposisi ceritanya itu digubah oleh Mpu Kanwa. Mpu Kanwa di bagian akhir karyanya menyatakan bahwa karya sastra itu adalah karya pertamanya yang ditulis dalam keadaan terburu-buru karena akan mengiringi raja berperang.

Alir konsisten hubungan antara raja dengan sastrawan juga masih berlanjut hingga masa kejayaan Majapahit. Kala Hayam Wuruk (1350-1389 M) berkeliling ke berbagai wilayah kekuasaannya, sang  raja mengajak Mpu Prapanca untuk mencatat daerah-daerah yang dikunjunginya. Catatan itu tidak tersaji dalam bentuk prasasti, tetapi sebuah candi bahasa berjudul Desawarnana atau juga populer dengan sebutan Negarakretagama. Tanpa karya sastra sejarah itu, pengetahuan kita mengenai kejayaan Majapahit tidak akan mampu dijamah dengan lebih terang oleh para ahli purbakala.

Tiga contoh di atas kiranya cukup untuk menunjukkan pola-pola hubungan antara pemimpin dengan ahli bahasa atau sastrawan yang dilanjutkan oleh Soekarno kala menggulirkan istilah Pancasila sebagai dasar negara. Sesungguhnya tidak hanya itu, ketertarikan Soekarno terhadap dunia sastra juga tercermin sewaktu ia menonton wayang Sutasoma di Bali. Suatu hari  pada bulan purnama tahun 1962, ketika Ia berkunjung ke Bali tepatnya di Ubud-Gianyar, Soekarno secara khusus mengundang seorang dalang bernama I Nyoman Granyam dari Sukawati untuk mementaskan lakon Wayang Sutasoma atau Purusadasanta. Usai menonton pertunjukan tersebut, Soekarno memberikan apresiasi kepada dalang dengan pernyataan “saya sangat terkesan dengan ucapan Sutasoma tadi”. Ucapan Sutasoma yang dimaksud oleh Soekarno muncul ketika fragmen Sutasoma akan menyerahkan dirinya sebagai ganti dari raja-raja lainnya untuk dijadikan tumbal kepada Bhatara Kāla. Ia menyatakan hana pamintaku uripana sahananiṅ rātu kabeh “ada permintaanku hidupkanlah raja-raja itu semua” (Agastia, 2009:27-28). Entah apa yang membuat Soekarno haru melihat “kulit diukir” itu.

Soekarno dan Pancasila: Proses Aktualisasi

Peristiwa menonton pertunjukan wayang Sutasoma yang dilakukan oleh Soekarno tersebut menunjukkan kedekatan hubungan ideologis antara Seokarno dengan karya Mpu Tantular itu. Meski terdapat perbedaan jabaran Pancasila antara Kakawin Sutasoma dengan dasar negara kita saat ini, penting rasanya kita menyimak konteks penggunaan istilah Pancasila itu dalam Kakawin Sutasoma. Barangkali dari perbedaan itulah kita dapat mengapresiasi galian Bung Karno.

Dalam karya sastra Kakawin Sutasoma, istilah pancasila muncul pada irama 4 bait kelima ketika Sutasoma diundang oleh Sri Mahaketu untuk menggantikannya menjadi raja. Saat itulah raja berpesan kepada Sutasoma agar ketika ia memegang tampuk kekuasaan semua pasukan harus melaksanakan Nitisastra [ilmu politik dan kepemimpinan], seluruh lapisan masyarakat dari berbagai jenjang umur [catur asrama] melaksanakan pancasila secara teratur[aṣtam saṅ caturaśrameka tarinĕn ring pañcasilakrama], dan seorang raja harus berpengatahuan, teguh melakukan pengendalian diri, serta malaksanakan tapa. Dengan cara itulah seseorang terhindar dari gangguan para raksasa yang merusak di zaman Kali. 

Tidak jauh berbeda dengan konteks pemakaian istilah pancasila dalam Kakawin Sutasoma. Karya sastra Negarakretagama juga menjelaskan pemakaian istilah pancasila dalam konteks ajaran yang dipegang oleh raja untuk menghadapi zaman Kali [bhuwana raksana gaweyani kālaning kali]. Karena zaman Kali penuh dengan huru-hara, Raja Majapahit dikatakan selalu sujud di bawah telapak kaki Sri Sakyasingha. Beliau juga teguh memegang pancasila, berlaku mulia, dan melaksanakan upacara suci [yatnā gĕgwani pañcasĩla krĕta sangskārā bhiṣekā krama].  

Dari dua konteks pemakaian istilah pancasila tersebut, kita mendapatkan satu kesan bahwa ajaran pancasila menjadi model untuk menghadapi berbagai tantangan pada zaman Kali yang penuh dengan huru-hara. Dalam karya sastra Kakawin Sutasoma gangguan zaman Kali itu ditandai secara simbolik dengan perilaku intelektual-spiritual yang penuh kepalsuan, para raksasa kanibal yang memakan manusia, Gajamuka yang rakus, harimau yang ingin memakan anaknya, dan ikatan pikiran negatif yang disimbolkan dengan naga.

Adakah Presiden Soekarno ingin mentransformasikan pancasila untuk menghadapi berbagai tantangan zaman Kali, ketika baru saja merdeka dari gangguan ‘raksasa-raksasa’ penjajah selama bertahun-tahun? Bisa jadi demikian. Akan tetapi, pengambilan istilah dari karya-karya sastra pada puncak zaman kejayaan Majapahit itu meninggalkan kesan bahwa Soekarno ingin merawat keberagaman sebagai jati diri bangsa seperti kerukunan agama Siwa dan Buddha yang hidup berdampingan pada zaman Majapahit. Barangkali pula Soekarno ingin agar bangsa Indonesia yang memiliki jejak historis kejayaan Majapahit bisa melanjutkan kejayaan tersebut di sebuah wilayah yang tanah dan natahnya tak berbeda. 

Dari interpretasi di atas, kita merasakan bahwa ajaran pancasila di masa lampau sangat penting. Lalu, apakah yang dimaksud dengan pancasila dalam konteks Kakawin Sutasoma tersebut? Di dalam Kakawin Sutasoma dan Negarakretagama sendiri hal itu tidak dijelaskan secara rinci. Akan tetapi, IGB Sugriwa, pancasila terdiri atas lima ajaran yaitu (1) tidak membunuh [ahimsa], (2) setia [satya], (3) tidak mencuri [asteya], (4) taat pada ajaran agama [brahmacarya], dan tidak mengacau [aparigraha]. Apabila dibandingkan, pancasila dalam pengertian spiritual tersebut, tentu berbeda dengan rincian pancasila yang menjadi dasar NKRI saat ini. Pancasila yang menjadi dasar NKRI termanifestasi dalam lima butir yaitu (1) ketuhanan yang Mahaesa, (2) kemanusiaan yang adil dan beradab, (3) persatuan Indonesia, (4) kerakyatan yang dimpimpin oleh hikmad kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dan (5) keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Jika benar istilah pancasila sebagai dasar negara terinspirasi dari ajaran yang terdokumentasi dalam karya-karya sastra Jawa Kuno di atas, maka perbedaan tersebutlah yang menyebabkan kita menaruh hormat kepada Soekarno karena ia telah ‘mencanggihkan’ ajaran spiritual menjadi dasar negara saat ini. Sejatinya tidak terlalu mengherankan apabila presiden pertama Indonesia itu melakukan pengembangan makna terhadap istilah pancasila yang semula lebih menitikberatkan ajaran moral-spiritual menjadi dasar negara. Sebab, semboyan bangsa Indonesia ‘bhinneka tunggal ika’ yang sudah pasti diambil dari karya sastra sebagai penunggalan ajaran Siwa-Buddha juga dikembangkan maknanya menjadi ‘berbeda-beda tetapi tetap satu’. Hal itu dilakukan sekali lagi untuk merawat perbedaan yang menjadi jati diri masyarakat Indonesia. Selamat ulang tahun Sang Putra Fajar! Semoga NKRI merdeka dan mahardika.  

Tags: BahasaBung KarnokemerdekaansastraSoekarno
Share223TweetSendShareSend
Previous Post

Revolusi Tidur

Next Post

Buku “Sayong” Karya Nyoman Manda, Ada Bangli Era 90-an

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Buku “Sayong” Karya Nyoman Manda, Ada Bangli Era 90-an

Buku “Sayong” Karya Nyoman Manda, Ada Bangli Era 90-an

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co