23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buku “Sayong” Karya Nyoman Manda, Ada Bangli Era 90-an

I Komang Alit Juliartha by I Komang Alit Juliartha
June 6, 2020
in Ulasan
Buku “Sayong” Karya Nyoman Manda, Ada Bangli Era 90-an

Cover buku Sayong karya Nyoman Manda

Siapa yang tak kenal I Nyoman Manda? Bagi penggiat sastra khususnya sastra Bali modern pasti sangat mengenal sosok yang satu ini. Disamping dikenal sebagai kepala sekolah di SMA N 1 Gianyar, Nyoman Manda ternyata pernah menduduki berbagai macam jabatan dalam hidupnya. Salah satunya anggota DPR Gianyar. Namun Nyoman Manda yang lahir pada tanggal  14 April 1938 ini lebih dikenal sebagai sastrawan Bali modern setelah menciptakan begitu banyak karya sastra baik cerpen, novel, puisi, naskah drama, dan lain-lain.

Berbagai macam penghargaan telah diraihnya. Baik ditunjukkan kepada profesinya sebagai guru maupun sebagai sastrawan. Beliau pernah mendapatkan penghargaan sebagai guru teladan. Karya-karyanya banyak juga mendapat penghargaan. Sebut saja cerpen yang berjudul Togog, yang sempat dibacakan secara online oleh Putu Eka Guna Yasa. Masan Cengkeh Nedeng Mabunga merupakan naskah drama yang juga mendapatkan penghargaan. Untuk Rancage sendiri beliau sudah 3 kali meraihnya. Baik sebagai pelestari sastra Bali modern maupun untuk karya-karyanya. Novel Bunga Gadung Ulung Abancang yang bersumber dari Babad Dalem Tarukan dan Novel Depang Tiang Bajang Sekayang-kayang.

Banyak lagi karya beliau yang sudah diterbitkannya. Karena memang beliau adalah sastrawan Bali modern yang paling produktif diantara sastrawan lainnya meskipun usianya sudah tidak muda lagi. Kalau tidak salah usianya sudah hampir 90 tahunan. Sebagai sastrawan dengan lebel paling produktif dalam menelorkan karya tentu ada kelebihan dan kekurangannya. Kelebihannya tentu semakin banyak karya sastra yang muncul dan memperkaya khasanah sastra Bali modern. Tapi di sisi lain yang patut dicermati adalah kualitas dari karya tersebut. Dengan banyaknya karya yang hadir tiap tahun, apakah sesuai dengan kualitas yang dihadirkan? Iji perlu kajian yang lebih dalam. Agar tidak buat karya banyak tapi untuk urusan kualitas malah semakin menurun dan terkesan asal-asalan membuatnya.

Kali ini saya akan mengulas sedikit tentang novel karya Nyoman Manda yang dibuatnya pada tahun 1999 tepat setahun setelah kejadian kerusuhan di Jakarta, dan merupakan awal dari era baru, reformasi. Novel tersebut berjudul Sayong yang artinya kabut. Apa kaitan reformasi dengan novel Sayong, tentu tidak ada. Karena isinya memang bukan tentang kejadian 98. Tapi isinya adalah tentang persengketaan tanah yang terjadi di daerah Nyebeh, Bangli. Seperti ciri khas karya Nyoman Manda, nuansa percintaan sebagai titik beratnya.

Saya akan mencoba mengulas kelebihan dan kekurangannya saja. Tidak membedahnya secara sistematis dengan kajian intrinsik. Karena memang Novel Sayong ini adalah novel lawas yang saya coba munculkan ke permukaan. Sebab, nampaknya banyak dari kita yang tidak tahu isi dari Novel Sayong ini. Mudah-mudahan dengan ulasan singkat ini akan lebih dekat lagi dengan Novel Sayong.

Cover, kualitas buku dan tentang buku secara keseluruhan.

Pertama saya akan bahas masalah cover buku, sebelum ke kelebihan buku tersebut. Cover buku Sayong sama halnya dengan buku Nyoman Manda yang lainnya, sangatlah sederhana. Dibuat dengan kertas yang kualitasnya bisa dibilang biasa. Karena mungkin Nyoman Manda mengetik karyanya dan dilayout secara sederhana kemudian dprint 1 buku, lalu di fotokopi sebanyak yang penulis inginkan. Lalu fotokopian tersebut dijadikan buku. Mengapa saya bisa bilang seperti itu? Karena di dalam buku masih terlihat bercak-bercak hitam khas habis difotopi.  Namun ada yang menarik di bagian cover, ada gambar dua orang wanita lagi nyuun barang dagangannya ke pasar. Di belakangnya ada seorang anak kecil yang nampaknya seperti mengucapkan selamat jalan. Saya teringat lagu Cening Putri Ayu. Ibunya ke pasar, dan anaknya minta oleh-oleh. Kejadian di cover tersebut saya kira pagi hari. Karena pasar kebanyakan buka pagi hari. Dan ada cahaya matahari yang mucul di gambar sebagai tanda bahwa gakbar itu diambil pada pagi hari. Saya tidak tahu dimana penulis mendapatkan gambar tersebut, karena memang tidak ada sumbernya.

Jadi memang sangatlah sederhana apa yang ditampilkan Nyoman Manda jika diliht dari cover dan kualitas dari buku tersebut. Belakang bukupun tidak berisi apa-apa. Hanya warna putih yang merupakan warna asli dari kertas cover.

Novel Sayong terdiri dari 13 bab dengan jumlah halaman 90an. Ada pertanyaan yang menggugah hati saya. Mengapa harus 13 bab? Menurut saya pribadi, kemungkinan penulis ingin mematahkan mitos angka 13 yang dibilang sebagai angka sial. Mengapa demikian? Karena tepat di bab 13 itulah merupakan akhir dari novel Sayong ini. Dan di bab 13 inilah akhirnya adalah happy ending. Jadi secara otomatis tercipta kebahagian di angka 13 yang dianggap angka tidak baik oleh banyak orang.

Kemudian masalah judul. Mengapa harus Sayong? Apakah Sayong yang merupakan kabut ini selalu dibahas didalam novel? Sayong memang dibahas dalam novel tersebut tapi tidak secara detail, karena untuk mempertajam setting tempat saja. Ada dua alasan yang menurut saya mengapa penulis menggunakan Sayong untuk judul bukunya. Pertama, karena settingnya tempatnya berada di daerah Kintamani, tepatnya di daerah Nyebeh dan beberapa di Kayuamba. Karena daerah pegunungan, sering ada kabut yang turun, meskipun tidak selalu ada, karena tergantung cuaca. 

Kedua, mungkin saja dari kata Sayong ini penulis ingin secara implisit ingin memberitahukan kepada pembaca bahwa kisah didalam novel Sayong ini seperti kita berjalan di dalam kabut yang tebal. Pandangan kita akan dikaburkan, dan kita susah untuk melihat jalan yang akan kita lewati. Salah-salah bisa jatuh ke jurang. Seperti itulah kisah di novel ini. Tokoh antagonis membabi buta menggunakan segala cara sampai lupa mana yang baik dan mana yang buruk. Seperti ditutupi kabut tebal.

Kelebihan Novel Sayong.

Ada beberapa kelebihan dari Novel Sayong ini.

Pertama, penulis memunculkan tradisi-tradisi atau kebiasan-kebiasaan yang ada ditahun 90-an yang kini masih hidup dan mungkin sudha ada yang mati. Contohnya, nginang, makan sirih yang berisi kapur, gambir, buah dan lain-lain. Tungku api dengan menggunakan kayu bakar setelah itu dimasukkan ketela rambat di dalam api tersebut, kalau di Bali disebut nambus sela.  Ada juga tradisi makutu artinya saling mencari kutu. Giliran. Banyak lagi kebiasaan-kebiasaan yang saat ini jarang dilakukan. Karena perkembangan jaman hingga mengikis kebiasaan-kebiasaan lama tersebut.

Kedua, bahasa yang digunakan di dalam novel Sayong ini adalah bahasa keseharian. Yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi sangat mudah di pahami oleh pembaca. Dan pesan yang ingin disampaikan oleh penulis akan sampai dengan baik kepada pembaca. Karena ada dua jenis penulis mungkin juga pembaca yang sering kita lihat. Pertama ada penulis/pembaca yang lebih suka dengan bahasa-bahasa ringan yang mudah dimengerti. Dan ada juga penulis atau pembaca yang suka dengan gaya tulisan makulit dalam artian kita tidak bisa secara langsung mendapatkan artinya. Kita harus mendalami benar-benar apa yang dimaksudkan oleh penulis. Ini butuh konsentrasi tingkat dewa. Kadang pesan yang ingin disampaikan penulis tidak sampai kepada pembaca, karena saking sulitnya mencerna apa yang ditulis.

Ketiga, adalah kosakata yang digunakan sangat bervariasi. Sebagai penglingsir di sastra Bali modern dan juga dengan segudang pengalamannya, kosakata yang digunakan sangat bervariasi. Ada bahasa Bali yang biasa digunakan sehari-hari, ada juga bahasa Bali yang jarang didengar di keseharian. Tentu ini sangat bagus, mengingat generasi muda sekarang terutama penulis muda masih banyak belum tahu kata-kata kuno yang jarang dipakai selama ini. Novel Sayong ini patut dibaca untuk memperkaya pembendaharaan kata para pembaca dan penulis muda pada khususnya.

Keempat, pada Novel Sayong ini seakan-akan pembaca dibawa kedalam nuansa Bangli pada era 90-an. Meskipun tidak secara keseluruhan, tapi setidaknya novel Sayong ini merupakan salah satu arsip penting bagi daerah Bangli dimana terdapat suasana Bangli khususnya daerah Nyebeh dan Kayuamba. Ada yang menarik di dalam novel Sayong ini. Disinggung sedikit tentang Bangli yang mengalami kemajuan pesat di tahun 90-an. Setelah saya cek Bupati yang berkuasa waktu itu adalah Ida Bagus Gede Ladip yang sudah almarhum. Beliau menjadi Bupati dua periode tepatnya dari tahun 1990-2000. Beliaulah Bupati terakhir di era orde baru. Setelah itu kita mengalami reformasi besar-besaran.

Memang di Bangli tahun itu mengalami kemajuan. Ada beberapa tetua yang saya tanyakan, dan mereka mengakui hal tersebut. Hal ini juga dibuktikan dengan penghargaan Adi Pura pertama kali dan beruntun di dapatkan oleh pemerintah Kabupaten Bangli saat itu. Dan penghargaan dari Presiden karena dianggap sebagai pemerintah yang berhasil memajukan pembangunan daerahnya. Lalu bagaimana dengan Bangli hari ini? Kita bicarakan lain nanti saja, karena susah menjelaskan di sini. Rumit.

Ada hal yang lebih menarik lagi, Nyoman Manda selaku penulis bukanlah orang Bangli. Beliau berasal dari Br. Teges, Gianyar. Tapi meskipun beliau bukan dari Bangli, beliau mampu menjelaskan keadaan Bangli meski tidak secara detail. Tentunya beliu sering datang ke Bangli. Mengingat beliau bersahabat dengan Sutan Takdir Alisjahbana yang memiliki padepokan sastra di tepi Danau Batur.

Kelima, tokoh Koyogan menurut saya yang paling berhasil di eksplore oleh Nyoman Manda. Sangat berkarakter. Tidak goyah karakternya sebagai tokoh antagonis. Meskipun temannya sendiri Bantar yang sudah mulai sadar, mencoba merayu koyogan untuk kembali ke jalan yang benar, tapi dia gagal. Koyogan tetaplah Koyogan yang kasar, keras dan usil. Dia pernah mencoba memperkosa Luh Nerti. Mencarikan minyak mungkin nyong-nyong ke dukun sakti. Terakhir dia hampir membunuh kedua orang tuanya karena tidak memberikan tanah warisan leluhur untuk dijual. Benar-benar brutal. Dan saya merasakan keberhasilan penulis mengolah karakter Koyogan.

Kelemahan Novel Sayong.

Tentu sangat tidak objektif jika saya hanya mengulas kelebihannya saja. Maka untuk menyeimbangkannya saya mencoba memaparkan kekurangan dari Novel Sayong tersebut.

Pertama, tentu masalah cover buku. Ini menjadi sebuah kekurangan karena kita tetap harus memikirkan cover sebagai sesuatu yang sangat penting dalam proses pembuatan buku. Sampai saat ini buku karya Nyoman Manda sangatlah sederhana, terutama covernya. Di sini tentu ada beberapa faktor mengapa penulis memutuskan untuk sekadar membuat cover buku. Mungkin saja karena penulis lebih mengutamakan isi dari pada kualitas cover dan buku. Atau mungkin untuk mengirit cost yang keluar, mengingat sangat jarang ada orang yang mau membeli buku Sastra Bali modern.

Namun, jika kita tarik lebih jauh lagi, kebersemangatan beliau yang patut dicontoh. Semangat dalam menjaga dan melestarikan sastra Bali modern dari dulu sampai sekarang. Dan yang membuat saya terkejut adalah ketika lagi semarak-semaraknya kegiatan membaca cerpen berbahasa Bali oleh Suara Saking Bali, muncul melalui akun facebook pribadi Nyoman Manda, dimana diunggah majalah Satua dan Canang Sari terbitan terbaru. Luar biasa. Dengan umurnya yang tidak muda lagi, Nyoman Manda masih eksis berkarya dan mengumpulkan karya para penulsi sastra Bali modern ke dalam bentuk majalah. Ya, meskipun sekali lagi penampilannya sangatlah sederhana.

Kedua, ada beberapa bab di Novel Sayong ini yang tidak kuat, dalam artian isinya hanya sekadar percakapan yang menurut tiang kurang penting. Tidak ada kenaikan tensi para tokoh, ataupun suasananya. Tidak ada kenaikan konflik. Saya sebagai pembaca tidak merasa gregetan membaca beberapa bab. Jadi, ada beberapa bab seakan hanya difungsikan sebagai jembatan biasa saja. Tanpa ada variasi apapun. Jembatan yang menjembatani bab yang satu ke bab selanjutnya. Sangat datar.

Ketiga,beberapa ada percakapan yang menurut saya mubasir. Terlalu panjang tapi isinya kurang berbobot. Contohnya rayuan-rayuan gombal ala Wayan Runaka terhadap Luh Nerti. Terlalu banyak, Karena menulis novel bukan hanya sekadar menarasikannya secara panjang sehingga novel semakin tebal. Memang novel tebal sangat bagus, tapi yang paling bagus adalah menarasikannya dengan baik dan panjang tapi berbobot. Bukan sekadar membuat percakapan-percakapan biasa.

Keempat, ending cerita yang sangat mudah ditebak. Para pembaca novel ini sangat mudah menebak ending dari novel ini. Karena bagi yang sering membaca atau menonton sinetron, maka akan sangat mudah menebak alurnya. Ending cerita ini adalah Koyogan hampir membunuh kedua orang tuanya, dan Luh Nerti sudah kembali normal setelah hampir kena guna-guna dari Koyogan. Akhirnya Koyogan ditangkap polisi, dan Luh Nerti menikah dengan Wayan Runaka dan hamil. Mereka hidup bahagia.

Kesulitan

Kesulitan yang saya alamai adalah masalah tema yang diangkat. Ini saya taruh di kekurangan paling akhir karena sangat sulit menentukan temanya. Tapi akhirnya saya sebagai pembaca lebih memilih kehidupan percintaan remaja sebagai tema novel ini. Meskipun di dalamnya penulis menyelipkan konflik mengenai sengketa tanah,  tapi kehidupan percintaan antara Wayan Runaka dan Luh Nerti dengan Koyogan sebagai pihak ketiga lebih sering ditampilkan di dalam novel dengan berbagai macam konfliknya. Baik ketika Luh Nerti digoda, hendak diperkosa, dicari ingin diguna-guna dan lain-lain. Begitu juga Wayan Runaka dikeroyok oleh Koyogan karena memang Koyogan cinta mati dengan Luh Nerti.  Akhirnya cintanya kandas ditambah masalah tanah yang hampir membunuh keluarganya, menambah derita si Koyogan.

Begitulah sepintas ulasan tentang Novel Sayong karya Nyoman Manda yang diterbitkan tahun 1999. Saya mencoba mengulasnya sedikit dari kacamata saya sebagai pembaca. Namun, sekali lagi kekurangan dan kelebihan itu selalu berdampingan. Karena buku yang sudah dilempar ke permukaan adalah sudah jadi milik pembaca untuk menilainya. Dan penulispun harus siap menerima kritik yang konstruktif sehingga mampu kedepannya lebih baik dalam menulis. Semoga bermanfaat apa yang saya ulas secara sederhana. Amatlah baik jika para sahabat ingin membaca novel Sayong ini untuk mengetahui lebih dalam lagi cerita yang disuguhkan oleh penulis.

Salam sastra

Tags: Bukuresensi bukusastrasastra bali modern
Share39TweetSendShareSend
Previous Post

Soekarno: Pemimpin yang Mendengarkan Ahli Bahasa dan Sastra

Next Post

Ideologi dan Cinta || Cerpen I Wayan Artika

I Komang Alit Juliartha

I Komang Alit Juliartha

Tinggal di Bangli. Peraih hadiah Sastera Rancage tahun 2014. Bergiat di Komunitas Bangli Sastra Komala. Ia berpulang Jumat, 29 Januari 2021 di RSU BMC Bangli. Ia pergi saat beberapa impiannya belum terwujud untuk Sastra Bali Modern

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Ideologi dan Cinta  || Cerpen I Wayan Artika

Ideologi dan Cinta || Cerpen I Wayan Artika

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co