2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ideologi dan Cinta || Cerpen I Wayan Artika

I Wayan Artika by I Wayan Artika
June 6, 2020
in Cerpen
Ideologi dan Cinta  || Cerpen I Wayan Artika

Salah satu patung yang dipamerkan dalam Pameran Seni Rupa di Undiksha Singaraja, 27 November 2019 [Foto Mursal Buyung]

Begitulah ibuku membawa janin dalam kandungannya, meniggalkan tragedi penyemblihan di desa. Dalam cerita ini, aku tidak bisa menulis kemana ibu membawaku. Ini soal yang sangat peka dan untuk menjaga nama baik sebuah keluarga yang memberi ibu dan janin dalam kandungannya perlindungan.

Tak ada cerita mengenai ayah. Juga tidak pernah aku latah bertanya tentang ayah. Ketika  kanak-kanak, tidak berpikir jauh tentang seorang ayah karena bagiku tidak semua anak memilikinya.

Dalam dunia binatang, anak-anaknya hanya memiliki ibu yang mengasuh sampai usia tertentu. Karena itu, seorang ibu sudah cukup. Tanpa ayah, hidupku baik-baik saja. Bahagia. Ketika ada yang bertanya tentang ayah, aku menjawab biasa saja, bahwa aku tidak punya, tapi aku punya ibu. Sama sekali pertanyaan-pertanyaan tentang ayah tidak pernah mengganggu diriku.

            Ketika di SMP untuk pertama kali aku memikirkan ayah karena harus mengisi biodata siswa baru. Maka kutanya ibu. Pun diberitahu nama ayahku, I Made Wirawan. Aku tulis nama ini di formulir. Setelah itu aku tidak peduli.

            Sampai suatu hari guru sejarah mengajar di kelas dan berkisah tentang tragedi dan darah. Aku mulai ragu. Jangan-jangan ayahku anggota partai terlarang. Lalu dibunuh oleh algojo bercadar hitam. Jadi, karena inikah ibu tidak pernah bercerita tentang ayah? Dan selebihnya aku merasa disudutkan oleh pelajaran sejarah.

            Aku pun tidak berani bertanya lebih jauh soal ayah kepada ibu. Aku simpan rapi. Pandangan masa kecilku soal ayah tetap saja tidak membuat aku sedih. Yang mulai masuk di pikiranku tentu saja tragedi berdarah dalam pelajaran sejarah sekolah. Apakah mungkin ayahku menjadi bagian tragedi, bahkan korbannya? Apakah ayahku diseret jeep? Apakah ayahku juga ditebas pedang seorang kokap  atau algojo bercadar hitam? Apakah sisa darah di pedang itu juga darah ayahku yang dijilati rame-rame para kokap dalam liturgi penyemblihan tengah malam?

            Aku bisa melewati setiap tahapan sekolah dan setiap mengisi formulir, biasanya selalu meminta nama orang tua, dalam hal ini nama ayah. Cukup aku isi keterangan  “almarhum” atau “alm.” agar lebih aman. Keterangan ini bagiku sebatas formulir. Karena itu aku tidak memiliki rasa duka ketika menulis keterangan “almarhum” pada kolom nama ayah.

            Di universitas aku semakin dekat dengan misteri ayah. Bermula pada sebuah tugas penelitian lapangan, kekagumanku kepada sebuah desa di Bali yang hidup berdampingan dengan ribuan kokokan. Walaupun memang aku tidak mampu memecahkan misteri itu, namun berkenalan dengan sebuah paham “jiwa-jiwa yang hilang” di masyarakat desa ini. Aku larut dalam pandangan masyarakat yang mengaitkan koloni burung kokokan ini dengan penjelmaan jiwa-jiwa yang hilang dalam tragedi.

            Inilah cerita yang kucatat dari informan.

            Bermula jumlah burung kokokan hanya beberapa ekor di desa kami. Setelah peristiwa pembantaian massal di Bali antara akhir 1965-sepanjang 1966 (sumber terbaru tentang ini dalam bahasa Indonesia baca Robinson, 2018), jumlah burung berkali lipat. Warga terperangah. Kami semua bertanya-tanya, mengapa begitu jinak? Sebagai orang Bali, kami terbiasa mencari jawaban persoalan hidup sehari-hari di alam niskala dan bukan dalam sejarah!

            Seorang informan yang lain menuturkan kisah seperti ini.

            Tidak ada burung yang benar-benar jinak. Tapi inilah yang terjadi pada kokokan di desa kami. Karena itu kami semakin takut mengusir, apalagi membunuhnya. Jalan terbaik bagi kami hidup berdampingan. Namun bagi kami hal ini tidak cukup karena dalam keyakinan, pasti ada musababnya. Kami pun tidak sepenuhnya bisa menerima kokokan di desa kami murni sebagai burung. Tapi apa? Kami menemukan jawabannya dari mimpi sebagian besar warga. Mimpi-mimpi itu mengatakan hal yang sama. Burung kokokan penjelmaan jiwa-jiwa yang hilang atau jiwa para korban tragedi 1965 di seluruh Bali.

            Dari informan yang lain aku catat sebagai berikut.

            Ketika tragedi meletus, keadaan di Bali amat kacau, mencekam, dan tidak jelas siapa kawan dan lawan. Apakah mereka yang terbunuh, menjadi korban tragedi, salah? Sebaliknya, para pembunuh adalah kelompok yang benar? Apakah ada dasar untuk menyalahkan ideologi atau keyakinan? Maka, jalan yang dipilih untuk membenarkan ideologi atau aksi membunuh pengikut ideologi hanya satu: kekuatan militer, senjata, dan teror jiwa, dan mungkin bantuan luar negeri.

            Aku mencoba menyimpulkan:

            Para korban tragedi tidak bersalah dan para pembunuh juga tidak benar.

            Maka sampailah aku kepada jawaban, mengapa koloni kokokan kini amat terhormat di desa ini, seperti penuturan seorang warga.

            Bagi kami, memuja atau memuliakan kokokan adalah cara meminta maaf kepada sejarah, kepada masa silam. Kami percaya jiwa-jiwa yang hilang itu kini hidup di desa kami dalam penjelmaan ribuan burung kokokan. Sikap kami ini untuk menebus dosa dan permohonan maaf. Dengan cara ini, kami yang masih hidup merasa lebih tenang, setidaknya dengan mengaku salah. Kami sama sekali bukan pemenang. Kami juga sama seperti jiwa-jiwa yang hilang, korban yang hidup dan menanggung malu atas kebiadaban tindakan di masa silam. Jiwa-jiwa yang hilang itu, bagi kami, sama sekali bukan pecundang.

            Informan lainnya menyatakan:

            Kami memuliakan mereka semua, memujanya sebagai dewa dalam wujud ribuan burung kokokan di desa ini. Warna putih bulunya, mencerminkan kesucian. Kami harus bisa menerima kebenaran semua ideologi. Karena mungkin saja, ideologi apapun menjadi salah dalam konstelasi dengan ideologi lain. Jika ideologi sebagai alasan untuk menjadikan mereka korban, maka ini sama artinya dengan pertarungan yang kuat dan yang lemah. Bukan pertarungan antara yang benar dan salah.

            Kami sesungguhnya menyesali, mengapa tragedi kemanusiaan terjadi di pulau kayangan. Untuk rasa sesal itu, maka kami menempuh jalan hidup berdampingan dengan ribuan kokokan yang memilih desa ini. Jadi, semua ini tidak terlepas dari penyesalan kami karena tidak berdaya lagi melawan arus sejarah ketika itu. Dendam kami hapus di desa ini dan melihat ideologi dari sisi kekuatannya saja.

            Begitulah uangkapan terakhir, yang kusarikan dari seorang mantan algojo, dengan genangan darah di bola matanya. Karena, konon, itulah darah korban yang memerciki matanya ketika ia, pada kali itu saja, melepas cadar hitamnya, untuk melihat terakhir kali orang yang berdiri dengan mata tertutup seutas kain hitam di hadapannya, yang akan sesaat lagi menerima tebasan kelewangnya.

            Tiba-tiba ia berkata parau, “Maafkan saya. Saya tahu siapa kamu.” Laki-laki ini menatapku lurus. Tampak jelas genangan darah di kedua bola matanya.

            Aku kebingungan. Mengapa ia harus minta maaf? Menatapku lurus dan tajam, seolah menunjukkan genangan darah yang terpercik di bola matanya kepadaku. Untuk apa?

            Ada apa ini? Siapakah laki-laki ini? Mengapa ia seperti tahu diriku?”

            “Kamu sedang berziarah ke desa ini, menziarahi jiwa-jiwa yang hilang, yang salah satu di antaranya,” Tiba-tiba ia menunduk, seperti memberi hormat takzim. Menelan ludahnya. Perlahan menatapku lagi, “maafkan saya jika harus mengatakan bahwa sorang di antara jiwa-jiwa yang hilang itu, tiada lain, I Made Wirawan, bapakmu.” Ia memelukku, menjatuhkan kepalanya di pundak. Tapi aku bergeming. Tidak percaya sama sekali dengan pengalaman ini.

            Aku terdiam seperti patung.

            Ia menarik tubuhnya, “Saya tidak menganut ideologi apapun dan sayalah justru menjadi alat hidup, mesin pembunuh, korban ideologi yang sebesar-besarnya dan sebenar-benarnya, selama hidup saya. Keberpihakan saya kepada ideologi, bukanlah pilihan tetapi hanya sebagai penghambaan hina, untuk melampiaskan dendam cinta kepada bapakmu. I Made Wirawan berhasil menikahi Ni Nyoman Parwati, ibumu, dan aku merasa kalah!”

            Aku mulai tergoda untuk percaya.

            “Saya menebus kekalahan cinta lewat jalan hina yang disediakan sejarah, sebagai tukang jagal di tengah tragedi manusia. Sedemikian mahal harga cinta saya kepada ibumu sehingga harus menjadi pembunuh. Pilihan saya menjadi tukang jagal tidak ada kaitannya dengan ideologi manapun. Tidak,” ia berbisik, “Cinta saya kepada Parwati lebih agung ketimbang ideologi itu!” Ia kembali memelukku. Air matanya membasahi bajuku.

            “Karena itu, ketika pada gilirannya akan membunuh I Made Wirawan, saya robek cadar hitam.  Saya ingin menyaksikan sendiri wajahnya. Dan, ketika itulah darah memerciki kedua bola mata saya. I Made Wirawan pun tersungkur dalam sekali ayunan kelewang.” Ia memelukku tanpa bisa kuhindari. Pengakuannya menghanyutkan sikap berjarakku dengan realitas. “Lihatlah! Tataplah dengan baik,” Ia membelalakkan kedua bola matanya, “sehingga kamu menemukan bercak darah di dalamnya, itulah darah bapakmu!”

Tags: Cerpen
Share53TweetSendShareSend
Previous Post

Buku “Sayong” Karya Nyoman Manda, Ada Bangli Era 90-an

Next Post

Peta Kosmik Tubuh Manusia Bali || Catatan Harian Sugi Lanus

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Peta Kosmik Tubuh Manusia Bali || Catatan Harian Sugi Lanus

Peta Kosmik Tubuh Manusia Bali || Catatan Harian Sugi Lanus

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co