13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah Ajaib, Kata-Kata yang Menyembuhkan, dan Jiwa yang Bertumbuh —  Refleksi dari Pengunjung Singaraja Literary Festival 2025

Dewa Rhadea by Dewa Rhadea
July 29, 2025
in Esai
Kisah Ajaib, Kata-Kata yang Menyembuhkan, dan Jiwa yang Bertumbuh —  Refleksi dari Pengunjung Singaraja Literary Festival 2025

Dewa Rhadea

MATAHARI Singaraja siang itu begitu menyengat. Langit nyaris tak menyisakan bayang. Namun di dalam aula tempat berlangsungnya Singaraja Literary Festival 2025 di hari kedua, 26 Juli 2025, udara terasa sejuk. Bukan karena pendingin ruangan, tapi karena kata-kata, kisah, dan semangat yang mengalir dari dua sosok perempuan inspiratif: Dewi ‘Dee’ Lestari dan Ratih Kumala.

Hari itu sesi diskusi bertema “Kisah-Kisah Ajaib dan Menyembuhkan,” dan benar-benar terasa sebagai perayaan jiwa dan kata. Dee Lestari mengingatkan para penulis—terutama yang masih ragu untuk mulai—bahwa karya terbaik bukanlah yang sempurna, tapi yang selesai. Fokuslah dulu untuk menyelesaikan tulisan, bukan terlalu lama tenggelam dalam riset. Ratih Kumala menyambung dengan satu pesan penting: tulislah yang otentik, jangan khawatir soal “gaya menulis” yang khas. Gaya akan datang seiring jam terbang.

Keduanya sepakat bahwa status “bestseller” bukanlah tujuan utama dalam menulis, melainkan bonus. Proses menulis sendiri adalah pengalaman ajaib, karena dalam proses itulah emosi terdalam, bawah sadar, dan kenangan masa lalu bisa bangkit dan memberi makna baru.

Saya merasakan keajaiban itu secara personal. Saat saya berbagi bahwa saya sedang menulis buku berjudul AUTIS ITU R.O.M.A.N.T.I.S., kisah 15 tahun saya mendampingi putra saya Gangga yang berada dalam spektrum autisme, Dewi ‘Dee’ Lestari memberikan apresiasi yang membuat hati saya bergetar. Ia menyebut judul itu jeli, dan mengatakan secara intuitif bahwa saya punya potensi sebagai penulis berbakat. Itu bukan sekadar pujian. Itu semacam afirmasi—yang menyembuhkan.

Di sesi selanjutnya, masih di arena Singaraja Literary Festival, ada diskusi “Sajak-Sajak yang Menyembuhkan” bersama Henry Manampiring, Sintha Febriany, dan Putu Fajar Arcana. Diskusi itu membuka lagi satu dimensi penting dari menulis: penyembuhan jiwa. Banyak audiens membagikan pengalaman bahwa puisi yang mereka tulis muncul dari luka batin. Ada yang menulis sajak saat dalam tekanan mental berat, dan merasa sedikit demi sedikit sembuh. Kata-kata menjadi pelarian, dan kemudian menjadi cahaya.

Saya menangkap sebuah mata rantai penting: ketika tubuh sakit, kita bisa mencari dokter. Tapi ketika jiwa yang sakit—luka, trauma, kehilangan—maka puisi dan tulisan bisa menjadi penolong. Terapi. Kata-kata yang terucap dari hati bisa menyembuhkan hati.

Dan dalam konteks yang lebih luas, pengalaman ini membuat saya bertanya: mengapa acara seperti ini masih jarang didukung secara serius oleh negara? Bukankah pendidikan literasi dan seni adalah fondasi dari bangsa yang berkarakter dan berempati?

Laporan PISA 2022 menunjukkan bahwa kemampuan literasi siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara OECD, dengan posisi ke-62 dari 81 negara. Sementara itu, data dari Kemendikbudristek tahun 2023 menunjukkan masih rendahnya kemampuan calistung anak-anak di seluruh wilayah Indonesia, termasuk Buleleng yang mana di tingkat SD mencapai lebih dari 800 siswa dan lebih dari 400 siswa di tingkat SMP dimana para siswa dan siswi belum lancar hingga belum mampu membaca, menulis dan menghitung. Ini bukan hanya soal kurikulum, tapi soal pendekatan.

Pendekatan berbasis seni bisa menjadi kunci. Menurut Howard Gardner (1983) dengan teori Multiple Intelligences-nya, ada banyak bentuk kecerdasan, salah satunya adalah musikal, spasial, dan kinestetik—semua terkait dengan seni. Anak yang kurang kuat di kecerdasan verbal bisa berkembang melalui medium seni, yang justru membantu mereka memahami bahasa dan simbol secara lebih alami. ArtsEdSearch (2020)di Amerika Serikat mencatat bahwa anak-anak yang dikenalkan pada seni sejak dini—entah itu musik, gambar, tari, atau drama—menunjukkan peningkatan kemampuan literasi, kosakata, dan kemampuan bercerita. Mereka menjadi lebih percaya diri dan ekspresif dalam mengungkapkan pikiran.

Sebuah studi di Frontiers in Education (2025) menemukan bahwa metode narrative drawing—menggambar yang disertai bercerita—mampu membantu anak usia 5–6 tahun memahami struktur bahasa dan mengembangkan literasi dini. Di Inggris, program pembelajaran Shakespeare oleh Royal Shakespeare Company meningkatkan kemampuan bahasa anak SD sebesar 24%. Seni, secara empiris, telah terbukti mendorong literasi.

Semua fakta dan pengalaman ini menyatu menjadi keyakinan saya: jika kita ingin
 anak-anak Indonesia tumbuh tidak hanya cerdas, tetapi juga utuh jiwanya, maka pendidikan seni dan literasi harus menjadi jantung dari pendidikan sejak usia dini. Bayangkan jika di Buleleng kita berani memasukkan literasi dan seni sebagai pilar utama di PAUD dan TK. Anak-anak akan belajar menulis sambil menggambar, membaca sambil bermain peran, dan memahami emosi lewat musik dan cerita.

Untuk itu, saya ingin menekankan pentingnya peran Pemerintah Kabupaten Buleleng agar lebih totalitas dan berani berinvestasi pada pendidikan seni dan literasi sebagai dasar pembangunan manusia. Tidak cukup hanya mengizinkan acara seperti Singaraja Literary Festival berlangsung, tetapi harus ada komitmen kebijakan konkret: mendukung secara anggaran, menyertakan program seni dalam kurikulum PAUD dan TK termasuk penguatannya secara keberlanjutan di tingkat SD, serta menciptakan ruang kolaborasi antara seniman, pendidik, dan komunitas.

Singaraja telah memulai langkah yang indah. Tapi untuk menjadi gerakan yang berdampak luas dan berkelanjutan, dibutuhkan keberanian struktural dari Pemerintah Daerah. Buleleng bisa menjadi model nasional dalam mengintegrasikan seni dan literasi ke dalam pendidikan anak usia dini, membuktikan bahwa kita tidak hanya membangun gedung dan jalan, tapi juga membangun jiwa dan imajinasi generasi masa depan.

Saya percaya bahwa literasi adalah benih, seni adalah air, dan kasih adalah cahaya yang akan membuat karakter anak-anak kita tumbuh dengan indah. Dan saya percaya, Gangga pun suatu hari nanti akan menemukan cara berbahasa—entah lewat puisi, gambar, atau pelukan kecil yang penuh makna.

Terima kasih, Singaraja Literary Festival 2025.

Terima kasih atas cahaya kata dan rasa yang dibawa oleh Mbak Dewi ‘Dee’ Lestari, Ratih Kumala, Shinta Febriany, Mas Henry Manampiring dan Bli Putu Arcana, serta para penulis hebat lainnya.

Catatan Penutup:

“Kisah yang menyembuhkan, tak selalu harus sempurna.
Tapi harus sungguh-sungguh dari hati.”

Penulis: Dewa Rhadea
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Mengambil Api Literasi dari Gayatri Mantram  — Catatan untuk Singaraja Literary Festival 2025
Jagat Batin Bali dalam Sajak-sajak Umbu Landu Paranggi
“Mission Sacree” dan Puisi yang Terjangkau
Buku Saya, Islam Noah, dan Lontar Husada Sasak
“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra
Pengobatan dalam Teks Lama dan Baru, dari Wahyu ke Kedokteran Berbasis Bukti dan Genomik
Tags: Singaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dewa Nyoman Sarjana, Penerima Bali Jani Nugraha: Penulis Sastra Bali Modern dari Tabanan

Next Post

Gubernur Koster Berkomitmen Menambah Anggaran PKB dan FSBJ Tahun 2026, Karena Seni Budaya Jadi Penopang Pariwisata dan Ekonomi Bali

Dewa Rhadea

Dewa Rhadea

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Gubernur Koster Berkomitmen Menambah Anggaran PKB dan FSBJ Tahun 2026, Karena Seni Budaya Jadi Penopang Pariwisata dan Ekonomi Bali

Gubernur Koster Berkomitmen Menambah Anggaran PKB dan FSBJ Tahun 2026, Karena Seni Budaya Jadi Penopang Pariwisata dan Ekonomi Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co