24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aku Ingin Dia Berubah | Cerpen Depri Ajopan

Depri Ajopan by Depri Ajopan
February 3, 2024
in Cerpen
Aku Ingin Dia Berubah | Cerpen Depri Ajopan

Ilustrasi tatkala.co

Vera sayang, kamu mau dibelikan apa? Uang gajiku baru keluar.

Sepotong pesan baru saja aku lempar lewat WA pada perempuan itu. Meskipun dia bukan pacarku, aku sering menggunakan kata-kata sayang  pada cewek tomboi itu, yang menurutku hidupnya tak beraturan.  Baginya tidak ada yang terlarang di dunia ini, semua serba boleh. Dia juga  gadis   peminum,   hampir   setiap   malam   teler.   Kalau   merokok   soal   kecil, dua bungkus perhari.

Dia gadis pezina, terlalu kasar kalau aku sebut wanita pelacur, apalagi   menggunakan   bahasa   lonte,  ngeri   aku   mendengarnya.  Setiap   malam   dia   selalu   keluyuran meskipun  ketika  hujan  deras  bertaburan  turun  dari   langit menyomprot tumbuh-tumbuhan di bumi. Pagi-pagi setiba di kampus ia sering tertidur pulas. 

Dia  benar-benar wanita yang hidup di dunia kegelapan. Dan aku sebagai lulusan pondok pesantren, yang sering dipanggil dengan sebutan ustaz, ingin sekali perempuan yang berpipi halus dan bermata cantik itu  berubah secepat ombak bergulung-gulung saling kejar-kejaran menghiasai tepian pantai. Dia jadi bahan pikiranku, dan bisa   mengganggu   konsentrasiku, dan melumpuhkan imajinasiku, terutama   ketika   aku   mengarang novel. 

Aku   pun   tak   tahu   apa sebenarnya  yang   terjadi pada diriku ini. Aku coba meraba-raba dadaku, perut telapak tanganku yang menempel berhenti tepat di bagian hati, aku merasa dia duduk dan berpangku tangan di sana seorang diri, dan entah kenapa, aku menemukan kesejukan.

Mungkinkah antara   aku   dan   dia     ada   rasa   cinta? Sungguhkah   aku mencintai perempuan setan itu. Astagfirullah, aku telah melakukan kesalahan besar, sebesar dunia hina ini, merasa diri lebih suci dari pada orang lain. Bukankah setitik kesombongan bisa merusak ibadah yang sudah dilakukan bertahun-tahun? Aku mengucap istigfar berkali-kali, minta ampun pada Tuhan, suaraku yang parau menyerupai bisikan.

Jika kau mencintai seseorang karena perubahan, itu bukan  cinta, tapi perjanjian,   sayang   di   dalam   cinta   tidak   ada     perjanjian.  Kata-kata itu berdentum dalam benakku. Berlakukah   ucapan Sahrukhan  yang menyihir dalam film  Mahabbatain  itu  pada diriku? Aku menggaruk-garuk kepala dalam kamar yang bernyanyi sendirian seperti pendekar gila.

 “Tidak, aku tidak mencintainya!” Aku meludah pada lantai, seolah aku meludahi wajahnya. Tapi kenapa setelah aku dapat gaji pertama, aku berlari-lari kecil menuju kosan, langsung mengirim sepotong pesan untuknya, keringatku saja yang bercucuran dari tubuhku yang ringkih ini belum kering. Gila, benar-benar dia perempuan gila, dan aku tergila-gila. 

Benarkah aku mencintainya? Siap menerima dia apa adanya, walaupun maksiatnya terus menjadi-jadi, bodoh sekali. Aku hanya ingin dia berubah tak lebih, titik. Tapi kenapa wajahnya terus menyerangku, apakah ini tidak terlalu agresif bagiku. Kenapa aku tidak bisa membuang jauh-jauh pikiranku tentang dia.

Ya Tuhan tolonglah aku, jangan hanyutkan aku pada jalan ketololan. Bolehkah perasaan cinta itu tumbuh di hati seorang pria yang gersang, pada seorang gadis yang cantik rupawan, tapi kehormatannya paling kehormatan yang  wajib dia  jaga  sudah dipetik beberapa pemuda  yang  tidak  bertanggung jawab dan berhati   bangsat? Jika perasaan cinta ini tidak salah di matamu ya Tuhan, aku pun tak tahu apa yang aku minta setelah ini padaMu.

***

Dua   minggu   yang   lalu,  malam   itu,   aku   sengaja   lewat   dari  kosan Vera. Waktu itu hujan barangsur-angsur mulai turun. Aku dengar ia mendesah. Setelah   aku   periksa  mengintip   dari   lubang   kecil, ia sudah menanggalkan pakaiannya sampai bugil, menyandarkan tubuh yang bahenol ke tembok, sedang dipanen seorang pemuda, dan aku tak mengenal pemuda itu, sementara aku tak ingin mengenalnya, tapi siap kalau diperintah membunuhnya. Mereka sama-sama merasakan kenikmatan yang luar biasa tiada tara.

Aku mengubah posisi, menjadikan diriku lelaki itu dalam bayangan. Melumat lekat-lekat bibir Vera. Desah napas sama-sama   tersengal,   bisikan   hati kami   bergerak   dengan   sinkron,   siap   melakukan   sesuatu. Begitu aku sadar, aku mengucapkan sumpah serapah.

“Kurangajar   sekali   mereka, semoga jadi monyet yang terkutuk!”

Apakah aku cemburu, tentu saja. Apakah kalau Vera mengelus-elus leherku, menggigit telingaku dan berkata-kata romantis, mengajakku melakukan persetubuhan sebelum waktunya, aku menuruti jejaknya yang menjerumuskan, biar aku puas, meskipun setelah itu aku dan dia sama-sama rusak, terlebih-lebih dia sebagai seorang perempuan. Walaupun ia sudah rusak, jika masih melakukan persetubuhan sebelum menikah, ia pasti bertambah rusak. Apa aku harus melakukan cara untuk melucuti gadis itu?

Nauzubillah, jangan sampai   terjadi.  Jangan   bilang   aku   impoten,   atau   lemah   sahwat, atau kata-kata lain yang menyudutkan, seperti kau tuduh aku tidak memiliki kejantanan. Aku   yakin   seribu   persen kemampuanku di bidang seksual lebih menggigit setelah aku menikah nanti. Aku yakin asmaraku lebih hangat daripada kau yang sudah membolongi dan yang sudah bolong.

Abangku sayang, aku ingin dibelikan celana pendek, seharga tujuh ratus ribu itu, warna hijau. Aku ingin menampakkan lutut dan pahaku yang halus pada semua orang.

Duapuluh menit sudah berlalu, Vera baru membalas WA-ku yang tidak sampai berukuran sejengkal itu, keterlaluan sekali dia, bunyi WA  itu seolah menghinaku. Padahal dalam pertemuan kami yang ke 21 malam itu di dekat rumah Pak Manan, ia bilang dia berencana memakai jilbab. Seharusnya dia mikir dong, seandainya dia memakai celana pendek keluar rumah mempertontonkan auratnya yang montok itu di hadapan lelaki, pasti mereka memandang dengan mata tak berkedip diiringi sahwat yang bergejolak, kemudian mereka berkata,

Seandainya gadis itu menjadi miliku malam ini saja, terpuaskanlah nafsuku. Sebaliknya pula, kalau dia memakai jilbab biru, begitu ia lewat di depan mereka, ekor jilbabnya   menari-nari   diterjang angin,  pasti lelaki yang jadi penonton itu berkata, Cantiknya, andaikata bidadari itu jadi istriku. Tapi malah dia minta dibelikan celana pendek, sepertinya ia menghinaku dan menginjak nuraniku.  

 “Kurangajar   sekali   kau   Vera,”  gerutuku dalam hati yang bergelora, kemudian sekonyong-konyong aku   mendesah,   menghempaskan   badan   di atas   kasur   kumuh   membenamkan   kepala   ke dalam bantal.

Aku kesal karena dia belum juga berubah. Dia masih termasuk golongan perempuan yang belum bisa menjaga kemaluannya erat-erat. Tapi aku tidak menyerah, aku harus merubah dia ke arah yang lebih baik. Dan harus kuakui, sungguh aku mencintainya, dan siap hidup satu atap dengan perempuan itu, jika ia mau berubah sikap. Entah kapan ia bisa berubah, aku pun tak tahu. Tugasku hanyalah berusaha, yang menentukah pasti yang maha kuasa. [T]

BACA cerpen-cerpen tatkala.co yang lain

Tukang Sulap dan Bocah Pemain Biola | Cerpen Hasan Aspahani
Tukang Sulih Suara dan Presiden yang Kehilangan Suaranya | Cerpen Hasan Aspahani
Pesan Cinta untuk Seorang Teman | Cerpen Wahyudi Prasancika
Sedihku Berakhir di Verona | Cerpen Putu Arya Nugraha
Maksan dan Moncong Senapan Belanda | Cerpen Helmy Khan
Tags: Cerpencerpen tentang cinta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Uncle Ben’s 23: Ruang Baru Untuk Hiburan dan Komunitas di Badung, Bali

Next Post

Puisi-puisi Anggi Farhans | Aku Adalah Tuan Rumah

Depri Ajopan

Depri Ajopan

Menyelesaikan S-1 Prodi Sastra Indonesia di UNP. Sudah menulis beberapa karya fiksi dan sudah diterbitkan. Cerpennya pernah dimuat di beberapa media cetak dan online. Sekarang penulis aktif di Komunitas Suku Seni Riau.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Anggi Farhans | Aku Adalah Tuan Rumah

Puisi-puisi Anggi Farhans | Aku Adalah Tuan Rumah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co