23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2025: Dialog dalam Nada di Panggung Lintas Benua

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
August 2, 2025
in Panggung
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2025: Dialog dalam Nada di Panggung Lintas Benua

Seremoni pembukaan UVJF 2025 (1/8) │Foto: tatkala.co/Dede

“Jazz itu kayak ngobrol, tapi tanpa kata-kata,” ujar Wayan Putra, seorang pemuda asal Gianyar yang sehari-hari bekerja sebagai pegawai koperasi.

Malam itu, ia berdiri di antara kerumunan, di Sthala Ubud Village Jazz Festival (UVJF) 2025. Pandangannya tak lepas dari panggung Subak Stage. Di sana, Smokey Chamber Trio tengah memainkan komposisi orisinal yang belum pernah ia dengar. Tangannya tak henti mengikuti irama, meski wajahnya sesekali menyiratkan kebingungan.

“Saya nggak ngerti notasi, tapi rasanya kayak diajak ngobrol. Mungkin jazz memang begitu,” kata Wayan Putra. Pandangannya masih tetap, lurus ke panggung.

Untuk pertama kalinya, Wayan Putra memutuskan datang ke UVJF 2025 ─ gelaran musik tahunan yang sejak 2023 berpindah ke Sthala, a Tribute Portfolio Hotel by Marriott, di Mawang, Lodtunduh, Ubud, Gianyar, Bali. Festival ini resmi dibuka untuk ke-12 kalinya pada Jumat, 1 Agustus 2025, dan dihelat sampai Sabtu, 2 Agustus 2025, dengan semangat yang sama: menghadirkan jazz sebagai ruang pertemuan lintas budaya dan benua.

Pembukaan UVJF 2025 berlangsung meriah namun tetap bersahaja, sebagaimana wajah Ubud yang riuh namun teduh. Sejumlah tokoh hadir memberikan sambutan. Heru Djatmiko (Head of Ticketing UVJF), Lasta Arimbawa (General Manager Sthala), Prof. Dr. Ir. Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati alias Cok Ace(Ketua PHRI dan perwakilan Puri Ubud), serta Ida Ayu Indah Yustikarini (Kepala Divisi Pemasaran Dinas Pariwisata Provinsi Bali) yang turut hadir dan membuka festival secara resmi.

 

Bojan Cvetković Quartet di UVJF 2025│Foto: tatkala.co/Dede

Dalam sambutannya, Cok Ace mengapresiasi penyelenggaraan UVJF yang tetap konsisten sampai saat ini. Ia menggarisbawahi pentingnya keberlanjutan festival ini bagi ekosistem budaya dan pariwisata Bali.

“Musik jazz bisa masuk ke Ubud, dan ke depan, acara seperti ini harus selalu direncanakan dan dilanjutkan,” kata Cok Ace, disambut sorak sorai dan riuh tepuk tangan penonton.

Seremoni berlanjut ke momen simbolik, pembukaan bersama co-founder UVJF, Yuri Mahatma dan A.A. Anom Darsana, serta perwakilan Dinas Pariwisata Gianyar. Tanda dimulainya festival disambut dengan semarak oleh fanfare dari East West European Jazz Orchestra (EWEJO), kemudian dilanjutkan dengan sesi foto bersama para tokoh dan tim UVJF.

Hari pertama UVJF menghadirkan delapan penampil dengan warna dan karakter beragam, tampil silih berganti di dua panggung utama, Subak Stage dan Giri Stage. Di Subak Stage, Smokey Chamber Trio ─ kelompok musisi Indonesia, membuka dengan komposisi orisinal seperti Kesari (Eko Sumarsano) dan Free Delivery (Yuri Mahatma). Penampilan mereka terasa intim, penuh kehangatan, seolah mengajak penonton masuk ke ruang percakapan musik yang dalam.

Para penonton di depan Giri Stage, UVJF 2025│Foto: tatkala.co/Dede

Sementara di Giri Stage, SILK ─ band asal Jerman, membangkitkan suasana dengan lagu-lagu funk dan soul seperti Tiki Hut Strut (Cory Wong) hingga Boogie Down (Al Jarreau, Michael Omartian). Energi mereka membuat penonton bergerak, ada yang sekadar menganggukan kepala mengikuti irama, ada pula yang berdansa kecil bersama pasangan, semua hal itu tampak biasa, tapi membuat suasana menjadi hidup di tengah festival yang tenang.  

Puncak malam diwarnai oleh penampilan EWEJO. Dengan formasi big-band lengkap, mereka membawakan aransemen seperti Chega de Saudade (Carlos Jobim) dan Street Life (Joe Sample), berpadu dengan vokal memukau Dian Pratiwi yang kembali tampil di tanah air. UVJF 2025 juga menghadirkan keunikan musikal dari berbagai penjuru dunia. Salah satunya adalah duo Jazz Steps asal Vietnam yang memperlihatkan kolaborasi unik antara jazz modern dan ritme tradisional Vietnam. Sedangkan New Centropezn Quartet dari Rusia membawa warna soul dan folk Armenia dalam setiap lagunya.

Tak kalah mencuri perhatian, di Subak Stage, Astrid Sulaiman bersama Soukma dan Doni Wirandana menyuguhkan komposisi pribadi seperti Motherhood dan Midnight in Mumbul, serta lagu daerah Indonesia seperti Panon Hideung, yang dibalut dengan nuansa jazz harmonis dan mengalun lembut. Dari Serbia, Bojan Cvetković Quartet menambah dimensi musik dengan sentuhan Balkan yang khas dalam jazz modern ─ ritmis dan penuh ekspresi. Tak habis sampai di situ, penampilan Gayatri Quartet di Subak Stage, yang membawakan standar jazz dan lagu pop-soul seperti Desafinado (Antonio Carlos Jobim) hingga Black & Gold (Sam Sparro) menutup hari pertama dengan perpaduan klasik dan modern yang apik.

A.A. Anom Darsana, co-founder UVJF, mengatakan, “tahun ini, kami menyesuaikan diri dengan dinamika global. Ini adalah keputusan yang disusun dengan matang ─ untuk menciptakan pengalaman yang lebih optimal bagi musisi dan penonton, serta menghadirkan ruang yang lebih lapang dan atmosfer yang lebih intim,” ungkapnya.

Duo Jazz Steps saat berkolaborasi dengan Yuri Mahatma (gitar) dan Gustu Brahmanta (drum) di UVJF 2025│Foto: tatkala.co/Dede

Sementara itu, Yuri Mahatma, co-founder UVJF, membagikan pandangannya terhadap eksistensi jazz di tanah air. “Jazz di Indonesia memang nggak pernah populer, dari zaman dulu sampai sekarang tetap segmented. Untuk menikmati jazz, pertama harus punya level apresiasi ─ keterbukaan hati untuk menerima dan menghargai walaupun tidak mengerti. Setelah itu, baru bisa menikmati musiknya,” tuturnya, setelah tampil bersama duo Jazz Step dari Vietnam di Subak Stage.

Menurut Yuri, UVJF adalah salah satu medium untuk menyebarkan serta menularkan “virus jazz” ke masyarakat yang lebih luas, meskipun hingga saat ini, pengunjung UVJF tetap didominasi kalangan turis mancanegara.

“Jazz nggak akan pernah mati. Jazz itu eksklusif sekaligus inklusif. Eksklusif karena butuh perjuangan untuk menikmatinya, tapi juga inklusif karena siapapun bisa menikmati jazz, terbuka untuk mereka yang bisa menghargai. Bagi saya, jazz adalah demokrasi yang seutuhnya. Bebas, tapi tetap harus ada ilmunya. Kita bisa langsung main bersama, berdialog dengan nada, saling mendengarkan satu sama lain,” ucap Yuri.

Festival ini juga telah tumbuh menjadi panggung jazz berskala global, berkat dukungan berbagai kedutaan dan lembaga kebudayaan, serta kolaborasi lintas negara. Yuri menambahkan, “pertumbuhan festival ini adalah hasil lebih dari satu dekade dedikasi dan kepercayaan yang terbangun dengan komunitas lokal maupun internasional,” katanya.

East West European Jazz Orchestra (EWEJO) di UVJF 2025│Foto: UVJF 2025

Wayan Putra, yang semula awam dengan jazz, hari itu datang dengan keberanian untuk mengenal jazz. Malam itu, ia pulang dengan perasaan berbeda. “Saya masih belum mengerti sepenuhnya, tapi untuk permulaan, saya merasa betah. Menyaksikan jazz, rasanya seperti diajak ngobrol, bukan pakai kata-kata, tapi lewat nada,” ujarnya.

Hari pertama Sthala Ubud Village Jazz Festival 2025 berhasil menyuguhkan perjalanan musik yang beragam dan hidup. Di tengah suasana hangat dan lanskap alam Ubud yang tenang, penonton menikmati berbagai bentuk jazz, dari kamar musik intim hingga format big-band, dari nuansa Asia Tenggara hingga warna khas Eropa Timur. Festival ini menjadi ruang pertemuan musik dan budaya yang terbuka, dan sangat sesuai berada di Bali.

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2025: Salah Satu Perayaan Budaya Paling Dinamis di Indonesia
Berimajinasi Bersama Repertoar “Canson” Karya Noé Clerc Trio dari Prancis
Lampion-lampion Harapan dari Nara Devintha dan Nadin di UVJF 2024
Es Krim Sore Hari dan Kegembiraan Collective Harmony dalam Jazz Klasik “When the Saints Go Marching In”
Rason Wardjojo, Gitaris Cilik, dan Bagaimana Ia Mengenal Jazz
Tags: festival musik jazzjazzmusikUbudUbud Village Jazz Festival
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Data Sudah Ditransfer,  Merdeka!

Next Post

Lokakarya “Pewarna Alam pada Kain”: Cara Menyembuhkan Semesta dengan Pewarna Alami

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

Read moreDetails

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
0
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

Read moreDetails

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
0
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

Read moreDetails

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
0
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

Read moreDetails

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails
Next Post
Lokakarya “Pewarna Alam pada Kain”: Cara Menyembuhkan Semesta dengan Pewarna Alami

Lokakarya “Pewarna Alam pada Kain”: Cara Menyembuhkan Semesta dengan Pewarna Alami

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co