Perbedaan antara wellness tourism dengan medical tourism menjadi salah satu pertanyaan dalam dalam Wellness Conference (Wellness Talk Show), Kamis, 16 April 2026, di Pelataran Hotel, Ubud.
Pertanyaan tersebut direspon oleh Vinsensius Jemadu, Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggara Kegiatan (Events) Kementerian Pariwisata.
“Wellness tourism berurusan dengan kegiatan kebugaran sebagai tindakan pencegahan (preventif), sedangkan medical tourism berkaitan dengan berwisata untuk pengobatan (kuratif),” ujar Vinsensius Jemadu, yang tampil sebagai salah satu dari tiga pembicara dalam konferensi yang dirancang dengan gaya talk show.


Tiga pembicara lainnya adalah dr. I Wayan Mustika, S.Ked. (penceramah spiritual), Dr. Luh Yusni Wiarti, A.Par., M.Par., M.Rech. (dosen Poltekpar Bali), dan Ilona Annisa Ristiani, S.I.Kom., M.I.Kom. (mahasiswa doktor Universitas Padjadjaran Bandung).
Konferensi yang diikuti sekitar 125 peserta itu merupakan bagian dari acara utama Bali Spirit Festival yang berlangsung di Ubud, 15–19 April 2026.

Konferensi ini diawali dengan sambutan panitia dari I Made Gunarta, salah seorang pendiri Bali Spirit Festival. Made Gunarta menyampaikan terima kasih atas kolaborasi BSF dengan Poltekpar Bali dalam mengembangkan wisata wellness.
Konferensi yang mengambil tema “Welcome Home” ini membahas Peran Kearifan Lokal dalam Memperkuat Branding Bali sebagai Destinasi Wellness Unggulan Dunia.

Acara dibuka oleh Direktur Poltekpar Bali, Dr. Ida Bagus Putu Puja. Dalam sambutan pembukaan, Direktur IB Putu Puja menyambut baik talk show wellness untuk pengayaan pengetahuan dan mendukung suksesnya Bali Spirit Festival, sebuah tempat mahasiswa untuk magang atau belajar pelaksanaan event, khususnya festival.
Format Talk Show
Konferensi yang ditata seperti talk show ini dipandu Prof. I Nyoman Darma Putra, M.Litt. (Korprodi Doktor Kajian Budaya FIB Unud) dan berlangsung sangat dinamis. Sejak awal, ia memberikan sentuhan puitis dengan menyampaikan pepatah “bagai aur dengan tebing.”
Analogi ini melukiskan hubungan antara narasumber dan peserta yang harus saling mendukung; sebagaimana bambu (aur) tumbuh subur di tebing, dan tebing pun terlindungi dari gerusan air berkat kuatnya akar bambu.
Dengan manajemen waktu yang taktis, setiap pembicara diberi waktu lima menit untuk pemaparan awal, sehingga menyisakan waktu yang luas bagi peserta untuk berdialog.
Strategi ini berhasil mematahkan pola diskusi konvensional yang kerap kehabisan waktu untuk tanya jawab akibat presentasi yang terlalu panjang. Dalam konferensi ini, tak kurang dari sepuluh peserta terlibat aktif dalam tiga termin diskusi yang penuh makna.

Dalam sambutan pembukaan BSF maupun sesi tanya jawab, Vinsensius Jemadu menyampaikan bahwa BSF merupakan salah satu event unggulan Kementerian Pariwisata. Festival-festival lain juga seperti Ubud Writers and Readers Festival dan Ubud Food Festival terus didorong untuk berkembang guna meningkatkan daya tarik wisata Indonesia.
Perspektif pemerintah ini menekankan bahwa Indonesia, khususnya Bali, memiliki potensi besar untuk memimpin pasar preventif global. Hal ini terlihat dari keputusan pemerintah membangun Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) kesehatan di Sanur untuk menekan warga berobat ke luar negeri, sekaligus mendorong wisatawan domestik dan mancanegara berobat di dalam negeri demi menahan aliran devisa keluar.
Selaras dengan pandangan tersebut, Dr. I Wayan Mustika, seorang praktisi kesehatan sekaligus penulis delapan belas buku spiritual, mengajak peserta melakukan reorientasi pola pikir (mindset). Ia menekankan pentingnya mengubah cara pandang dari “Bali untuk pariwisata” menjadi “pariwisata untuk Bali.”

Menurut Mustika, Bali tidak boleh kehilangan jati dirinya demi memenuhi tuntutan pasar semata. “Bali menarik karena Bali, maka tetaplah Bali menjadi Bali sendiri,” ujarnya. Baginya, kebugaran sejati dalam kearifan lokal Bali bukan sekadar produk jualan, melainkan gaya hidup yang berakar pada budaya dan harus dijaga keasliannya agar tetap memiliki daya tarik alami.
Keunikan Bali sebagai pusat wellness dunia semakin dipertegas oleh Dr. Luh Yusni Wiarti dari Poltekpar Bali. Ia membahas peran Bali Spirit Festival (BSF) sebagai event budaya ikonik yang menjadi penggerak utama pariwisata berkualitas.
Yusni menyampaikan pernyataan filosofis yang kuat: “Bali adalah wajah pariwisata Indonesia, Ubud jiwanya, dan wellness adalah detak jantungnya.”
Melalui BSF, wellness tidak hanya hadir sebagai aktivitas fisik, tetapi sebagai pengalaman budaya yang menyeluruh, menjadikan Ubud magnet bagi pencari ketenangan dari berbagai penjuru dunia.

Namun, kesuksesan narasi wellness lokal di kancah global tidak lepas dari strategi komunikasi yang mumpuni. Hal ini dibedah oleh Dr. Ilona Annisa Ristiani, yang baru saja merampungkan disertasinya mengenai kajian komunikasi eventpada BaliSpirit Festival. Ia mengungkapkan bahwa kekuatan utama BSF terletak pada strategi komunikasi word of mouth (getok tular).
Kepercayaan dan testimoni otentik dari para peserta menjadi promosi paling efektif. Lebih jauh, ia melihat potensi besar jika model event pariwisata seperti ini dikembangkan secara adaptif di daerah lain di Indonesia, seperti Surabaya atau Bandung, dengan menyesuaikan karakteristik budaya lokal masing-masing.

Seorang peserta dari Desa Wisata Taro, I Wayan Wardika, menyampaikan bahwa dalam kerangka sustainable tourism, pelestarian lingkungan idealnya juga mencakup kehidupan hewan, burung, dan serangga. “Kami merasa kunang-kunang mulai berkurang, sehingga kami mulai memelihara dan melestarikannya,” ujarnya.
Menanggapi hal itu, Mustika menegaskan bahwa Bali adalah daerah agraris, dan kunang-kunang lazimnya muncul di persawahan. “Kalau kunang-kunang sudah langka, berarti karakter sebagai daerah agraris juga mulai berkurang.”

Secara keseluruhan, konferensi ini bukan sekadar pertemuan formal, melainkan ekosistem pertukaran gagasan lintas sektor yang melibatkan akademisi, praktisi, dan pembuat kebijakan. Melalui tema “Peran Kearifan Lokal dalam Memperkuat Branding Bali sebagai Destinasi Wellness Unggulan Dunia,” forum ini memperkuat posisi Bali bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai kontributor pengetahuan bagi tata kelola wellness tourism masa depan yang inklusif dan berkelanjutan.
Berbagai isu dalam sesi tanya jawab—seperti hak cipta, standardisasi, dan kompetensi pelaku wellness—dibahas secara produktif dan mencerahkan. Talk show yang diikuti praktisi wellness, yoga, dosen, mahasiswa, serta pengelola desa wisata ini berlangsung dinamis selama 2,5 jam. Interaksi antara narasumber dan peserta yang saling menguatkan, bagai aur dan tebing, menjadikan forum ini ruang berbagi pengetahuan tentang wellness, yoga, budaya, dan pariwisata berkelanjutan yang bermutu dan penuh makna [T]





























