SEJAK awal, ada rasa penasaran yang menggantung di antara penonton yang duduk lesehan di wantilan Museum Soenda Ketjil. Wayang, dalam bayangan banyak orang, adalah bayang-bayang di balik kelir, dengan kulit sebagai tubuhnya dan dalang sebagai pusat narasi. Namun malam itu, hadir tubuh-tubuh anyaman ental (lontar) digerakkan oleh manusia.
Made Georgiana Triwinadi, akrab disapa Jorjan, anggota Komunitas Wayang Ental, adalah salah seorang di balik permainan tubuh-tubuh dari lontar itu, Ia menceritakan, Wayang Ental lahir pada 2016 sebagai bagian dari eksplorasi yang digagas oleh I Gusti Made Darma Putra yang akrab dipanggil Gung Ade Dalang. Sang pendiri mencoba menghadirkan pendekatan baru dengan wayang yang tidak lagi terbuat dari kulit, melainkan dari anyaman ental. Material ini dipilih karena nilai filosofisnya sebagai media utama penulisan teks-teks kekawin dan pengetahuan klasik di Bali.
“Tujuannya, pengetahuan yang dihadirkan melalui wayang ini bisa kembali tersampaikan kepada penonton,” paparnya.
Lakon Manu Tala dan Inspirasi Anime
Di panggung Festival Wayang Bali Utara (FWB) di areal Pelabuhan Tua Buleleng, Jumat, 10 April 2026, Komunitas Wayang Ental itu membawakan salah satu karya berjudul Manu Tala yang mengisahkan tentang dua saudara. Manu dan Tala mengekspresikan kasih sayang dengan cara berbeda. Di balik itu, tersembunyi kenyataan pahit bahwa Tala mengidap penyakit yang perlahan merenggut hidupnya. Ketidaktahuan Manu sebagai kakak membuatnya terus bersikap seperti biasa, hingga akhirnya ia harus menghadapi kehilangan adiknya Tala yang tak terelakkan.

Uniknya, Georgiana mengakui narasi cerita ini terinspirasi dari salah satu adegan emosional dalam anime Jepang berjudul Angel Beats. Adegan seorang kakak yang menggendong adiknya di tengah pesta kembang api tanpa menyadari sang adik telah mengembuskan napas terakhir, menjadi inti emosi yang ingin disampaikan.
“Garapan ini adalah pengingat bagi kita semua agar tidak menunda dalam menyampaikan ekspresi kasih sayang kepada orang-orang tercinta sebelum waktu merebut kesempatan tersebut,” tutur Georgiana.
Pementasan semakin terasa kontemporer dengan penggunaan properti pesawat kertas, instalasi kupu-kupu, serta pencahayaan dari lampu petromaks. Sisi audio pun digarap serius dengan memadukan instrumen etnis dan musik digital modern.
Tantangan Anatomi dan Evolusi Bentuk
Secara teknis, Wayang Ental memiliki tantangan tersendiri dalam hal kinetik. Karena strukturnya yang terbuat dari anyaman, sendi-sendi wayang ini hanya memungkinkan gerakan terbatas ke depan dan ke belakang. Keterbatasan anatomi tersebut justru melahirkan bahasa gerak unik yang menjadi ciri khas komunitas ini, tidak sepenuhnya realis, tetapi cukup untuk membangun emosi yang dapat dipahami penonton.
“Tanpa banyak kata, cerita itu disampaikan melalui perubahan gerak,” kata Georgiana.

Prosesnya tidak singkat. Ia menyebut, eksplorasi awal memakan waktu sekitar dua bulan. Bukan hanya memahami bentuk wayangnya, tetapi juga membaca tubuh para pemain yang menggerakkannya. Di sanalah, batasan-batasan itu muncul sekaligus menjadi tantangan.
“Kami tidak hanya menggarap ceritanya, tapi juga memahami siapa yang menggerakkan. Sejauh mana tubuh itu bisa bekerja, bagaimana gestur bisa diterjemahkan ke dalam emosi,” lanjutnya. Dari situ, garapan terus diulang, dihaluskan, diuji berkali-kali, sampai akhirnya menemukan bentuk yang terasa utuh.
Evolusi estetika Wayang Ental juga tidak lepas dari pengaruh kolaborasi lintas disiplin. Gung Ade Dalang diketahui sempat berkolaborasi dengan Papermoon Puppet Theatre, komunitas teater boneka ternama asal Yogyakarta. Dari sinilah muncul perspektif baru mengenai perbendaharaan gerak objek tiga dimensi.
Seiring waktu, bentuk Wayang Ental pun berevolusi. Dari semula dua dimensi, kini berkembang menjadi objek tiga dimensi. sekaligus memiliki nama-nama yang unik sebagai wujud kasih sayang para penggarapnya terhadap setiap karakter yang diciptakan.

Jenis pertama yang menjadi ikon komunitas ini adalah wayang tipat bantal. Penamaan tersebut merujuk pada bentuknya yang menyerupai tipat dan bantal. “Jadi jenis wayang yang dipentaskan malam ini adalah jenis wayang tipat bantal,” ucapnya.
Evolusi kedua terbentuknya wayang dengan anatomi lebih mendekati manusia, berwarna merah dan hijau, yang kemudian disebut Wayang Sambal Gadang dan Sambal Barak.
Ada pula versi yang lebih menggemaskan, dengan warna merah dan biru serta tampilan imut, yang dinamai Boba Strawberry dan Blueberry. Pada tahap akhir, muncul wayang berukuran besar yang bahkan sudah dipentaskan di Singapura.
“Karena bentuknya yang mencolok dan menggairahkan, wayang ini diberi nama Betutu,” paparnya.

Hadirnya beragam inovasi, serta kiprah Komunitas Wayang Ental yang telah melanglang buana hingga mancanegara, menandai babak baru dalam pewayangan Bali. Wayang Ental tak lagi terkungkung dalam bayang-bayang kelir. Mereka membuktikan bahwa tradisi tidak pernah benar-benar usang, ia hanya menunggu untuk dihidupkan kembali dengan cara yang berbeda. [T]
Reporter/Penulis: Komang Puja Savitri
Editor: Adnyana Ole





























