11 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sembuh Oleh Sastra, Mengapa Tidak? — Cerita Ratih Kumala, Oka Rusmini dan Cyntha Hariadi di Singaraja Literary Festival 2025

Son Lomri by Son Lomri
July 29, 2025
in Khas
Sembuh Oleh Sastra, Mengapa Tidak? — Cerita Ratih Kumala, Oka Rusmini dan Cyntha Hariadi di Singaraja Literary Festival 2025

Ratih Kumala, Kadek Sonia Piscayanti, Oka Rusmini dan Chynta Hariadi di Singaraja Literary Festival 2025

TIGA pembicara pada seminar sastra itu adalah sastrawan dan penulis hebat. Mereka adalah Ratih Kumala, Oka Rusmini dan Chynta Hariadi.

Mereka bicara pada seminar sastra dengan topik “Narasi Perempuan Yang Menyembuhkan” dalam acara Singaraja Literary Festival (SLF) 2025, Jumat, 25 Juli, di kampus Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unidksha Singaraja.

Seminar itu dipandu langsung oleh Direktur Singaraja Literary Festival Kadek Sonia Piscayanti.

Saat diskusi itu digelar, ketiga pembicara itu berbagi cerita—tentang pengalaman mereka yang disembuhkan oleh sastra, dan bagaimana sastra bisa menyembuhkan mereka melalui proses berkarya.

Diskusi itu berangkat lebih awal dari kisah-proses kreatifnya Ratih Kumala dalam sastra. Ia pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Sastra Inggris Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Dan novelis kelahiran 4 Juni 1980 itu pernah memenangkan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta pada 2004.

Beberapa karyanya seperti Tabula Rasa (2004), Larutan Senja (2006), Kronik Betawi (2009), dan Gadis Kretek  (2012) itu, cukup laris di pasaran.

Selain novel, ia juga menulis cerita pendek, dan skenario. Kemudian salah satu karya novelnya yang berjudul “Gadis Kretek”, sudah dialih-wahanakan ke serial film yang dapat ditonton di Netfilx itu, menjadikan namanya semakin dikenal.

Ratih Kumala mengakui bahwa penulisan novel pada “Gadis Kretek” ternyata menyembuhkan kerinduan, dan luka pada dirinya.

Menurut Ratih, dalam novel “Gadis Kretek”, ia memasukkan pesan-pesan tertentu tentang dirinya ke dalam karakter-karakter yang dibangun. Bahkan kadang-kadang yang disuarakan adalah suara dirinya, misalnya dalam karakter Dasiyah (Jeng Yah).

“Novel Gadis Kretek ini buat saya pribadi merupakan salah satu bentuk penyembuhan secara sosial. Maka saya tulis,” tutur Ratih Kumala.

Kenapa Ratih menulis tentang kretek? Kenapa bukan tentang bakso, bukan gado-gado, atau kenapa bukan tentang ukiran Jepara? Lantas ia mengisahkan, kakeknya dari pihak mamanya, adalah seorang pengusaha kretek. Dari kecil ia selalu mendengar cerita bahwa rumah kakeknya dibuat home industry untuk membuat kretek.

“Pekerjanya melinting kretek pakai tangan. Jadi setiap pagi para pekerja itu datang, mereka melinting bareng-bareng. Mereka adalah ibu-ibu yang punya skill yang hebat. Cerita itu terus berada di kepala saya,” jelasnya.

Ratih Kumala

Karena itu, tutur Ratih, ia ingin menulis sesuatu tentang keluarganya. Ia sendirinya tidak mengenal kakeknya yang pengusaha kretek itu. Tapi Ratih menjadikan kakeknya rujukan utama dari novel Gadis Kretek.

Ketika akan menulis Gadis Kretek, ia melakukan banyak riset, antara 2008-2012. Ia juga kembali melakukan riset untuk tayangan di Netflix. “Saya menemukan jejak orang-orang yang dulu pernah bertemu kakek saya. Ini buat saya, sungguh menyembuhkan pribadi saya. Bahwa wah kok saya ketemu mereka. Mereka itu teman bisnis kakek saya, ada yang jualan tembakau, jualan cengkehnya dan itu orang yang berbeda-beda. Kalau pun tak ketemu orangnya langsung tapi saya ketemu anak-anaknya,” paparnya.

Bahkan, kata Ratih, ia sempat ketemu sosok yang seharusnya menjadi Pakde-nya. Sebab, ia sempat mau dijodohkan dengan anaknya, tapi tidak jadi. “Ini semua bagi aku pribadi merupakan penyembuhan jejak masa lalu aku. Kita kadang-kadang tidak sengaja memiliki kerinduan, atau luka yang bertahun-tahun, sampai akhirnya kita ketemu obatnya,” cerita Ratih.

Melalui Sastra Ia Merasa Sembuh

Sastrawan Oka Rusmini punya cerita bagaimana perih perasaannya ketika guru Bahasa Indonesia-nya di SMP itu, tak pernah menyebut pengarang perempuan.

“Ketika kelas 2 SMP, saya mengalami, saya mendapatkan dari guru Bahasa Indonesia bahwa pengarang-pengarang Indonesia dari semua angkatan gak ada perempuan. Sampai pengarang Bali juga begitu, semua laki-laki. Panji Tisna, Putu Wijaya,” tuturnya.

Ia mengaku sedih kenapa perempuan tidak disebutkan dalam khazanah sastra Tanah Air. Paling yang disebutkan dan dirayakan itu nama-nama seperti Taufiq Ismail, Chairil Anwar dan yang lain-lain. Tidak ada yang perempuan. Tak pernah disebut-sebut.

“Itu yang membuat saya sejak kelas 2 SMP itu, saya ingin menulis puisi. Saya ingin disebut-sebut dalam buku ajar. Akhirnya apa yang terjadi, ternyata kosmis baik. Menurut saya itu menyembuhkan. Terbitlah buku puisi saya tahun 1983. Heboh waktu,” katanya.

Oka Rusmini

Oka Rusmini mengingat dan menceritakan kembali soal itu, dengan terbitnya buku tersebut ia merasa percaya diri (PD). Sampai-sampai ia bertanya kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, waktu itu, Fuad Hasan, dirinya masuk angkatan berapa?

“Saya berani. Saya merasa PD. Karena kelas 2 SMP buku saya diterbitkan oleh Balai Pustaka. Itu menyembuhkan buat saya,” tutur Oka Rusmini.

Waktu itu, Oka Rusmini mengaku rindu disebut-sebut oleh guru Bahasa Indonesia. Namun, waktu dirinya masuk SMA juga tidak disebut-sebut nama pengarang perempuan. Sebagai perempuan itu menyakitkan baginya.

“Saya ingin perempuan disebut. Apalagi pembaca itu banyak perempuan. Saya membaca karya-karya penulis perempuan,” katanya.

Oka Rusmini, adalah sastrawan berdarah Bali kelahiran Jakarta pada 11 Juli 1967. Ia menulis puisi, novel, cerita anak, cerita pendek, dan esai. Pada 1983, ia pergi-tinggal di Denpasar, Bali, dan pernah menjalani hidup sebagai wartawan juga di Harian Bali Post.

Karya-karya Oka Rusmini banyak mengangkat isu-isu mengenai perempuan dengan menggunakan latar belakang sosial budaya perempuan Bali.

Buku-bukunya seperti; Tarian Bumi (novel), Kenanga (novel), Sagra (cerpen), Patiwangi (puisi), Monolog Pohon (puisi) itu, cukup fenomenal. Bahkan, Oka Rusmini mendapatkan penghargaan Penulis Asia Tenggara (2012) dan Kusala Sastra Khatulistiwa (2014).

Karya-karya Oka Rusmini banyak membahas perempuan, termasuk posisinya dalam adat dan budaya di Bali. “Banyak puisi saya ini merupakan kritik saya kepada persoalan adat,” jelasnya.

Bayangkan, kata dia, pernah dikatakan dalam dirinya ada dua sosok, laki-laki dan perempuan. Bahkan karena sikap dan karakternya, Oka Rusmini pernah ‘dikawinkan’ dengan laut. Hal-hal yang menyakitkan itu, ia sembuhkan dengan menulis. Oka Rusmini memberontak lewat novel, cerpen, dan puisi-puisinya. Dan, Oka Rusmini sembuh dengan semua itu.

Ketika Sastra Meredakan Perih Seorang Ibu Pasca Melahirkan

Cerita lain datang dari Cyntha Hariadi, penulis kelahiran Tangerang, Banten. Ia menulis puisi yang diterbitkan dengan judul “Ibu Mendulang Anak Berlari”. Buku Chynta Hariadi ini menjadi salah satu pemenang dalam Sayembara Manuskrip Puisi Dewan Kesenian Jakarta pada 2015 dan finalis Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK).

Chynta Hariadi

Chynta Hariadi juga menerbitkan buku Manifesto Flora (2024), kumpulan cerpen yang juga menjadi finalis Kusala Sastra Khatulistiwa pada 2018. Sementara buku ketiga yang ditulis Chynta Hariadi adalah Kokokan Mencari Arumbawangi” (2025).

Penulis Chynta Hariadi juga merasakan bagaimana menulis sastra itu menyembuhkan dirinya. Ia mengaku baru mulai menulis 10 tahun yang lalu. Bukunya Ibu Mendulang Anak Berlari (2016) disebutnya sebagai salah satu penyembuhan dirinya.

“Buku ini tentang saya sebagai ibu yang baru melahirkan. Mendengar ibu yang melahirkan pasti ada kebahagiaan dan ada kesakitan. Menulis buku ini benar-benar merupakan penyembuhan diri untuk saya,” tuturnya.

Chynta Hariadi mengaku tidak menyangka buku tersebut dihargai sebagai sastra, dan menjadi pemenang Sayembara Dewan Kesenian Jakarta pada 2015 untuk kategori puisi.

Penyembuhan yang dirasakan Chynta Hariadi tidak hanya secara mental, tapi juga secara fisik. Ia ingat ketika menulis buku tersebut bukan hanya tema yang diprotes orang, tapi juga gaya bahasanya. Bagi Chynta Hariadi, tubuh itu tidak hanya bisa terluka secara fisik, tetapi juga bisa menyimpang.

“Orang-orang yang fisiknya tidak pernah terluka, tetapi bisa menyimpang. Saya yakin dari tubuh bisa mengeluarkan suara yang berbeda,” katanya.

Yang pasti, kata dia, perempuan itu pasti mengalami dan merasakan hal yang sama, menstruasi dan melahirkan. Meskipun demikian, perasaan sakit saat menstruasi dan melahirkan, akan keluar dengan suara yang berbeda.

“Jadi kenapa harus disamakan,” ujarnya. Itulah suara dirinya dalam buku “Ibu Mendulang Anak Berlari” yang tidak sama dengan suara-suara yang lain. Karena itu, buku tersebut benar-benar menyembuhkan buat Chynta Hariadi.

“Saya itu memilih menulis puisi memang untuk menuangkan semua persoalan-persoalan personal saya. Kalau di puisi saya mengeluarkan yang paling murni dari perasaan dan pikiran saya. Tapi, hampir semua buku-buku yang saya tulis sebenarnya sangat menyembuhkan buat saya,” jelas Chynta Hariadi. [T]

Reporter: Yahya Umar
Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Kisah Ajaib, Kata-Kata yang Menyembuhkan, dan Jiwa yang Bertumbuh —  Refleksi dari Pengunjung Singaraja Literary Festival 2025
Mengambil Api Literasi dari Gayatri Mantram  — Catatan untuk Singaraja Literary Festival 2025
Jagat Batin Bali dalam Sajak-sajak Umbu Landu Paranggi
“Mission Sacree” dan Puisi yang Terjangkau
Buku Saya, Islam Noah, dan Lontar Husada Sasak
“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra
Pengobatan dalam Teks Lama dan Baru, dari Wahyu ke Kedokteran Berbasis Bukti dan Genomik
Tags: Chynta HariadiOka RusminiRatih KumalasastraSastra IndonesiaSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Aguron-guron”, Pendidikan sebagai Perjalanan Suci di Bali

Next Post

Seni, Politik, Kehidupan dan Lain-lain — Catatan Awam tantang Pameran Megarupa dan Festival Seni Bali Jani 2025

Son Lomri

Son Lomri

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails
Next Post
Seni, Politik, Kehidupan dan Lain-lain — Catatan Awam tantang Pameran Megarupa dan Festival Seni Bali Jani 2025

Seni, Politik, Kehidupan dan Lain-lain -- Catatan Awam tantang Pameran Megarupa dan Festival Seni Bali Jani 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Monyet Cerdik dan Babi Hutan | Dongeng dari Jepang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk PKB 2026
Panggung

Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk PKB 2026

DESA Mengwi yang dulunya sebagai pusat kerajaan mewarisi berbagai kebudayaan, tradisi dan nilai-nilai luhur yang sangat penting bagi kehidupan bermasyarakat...

by Nyoman Budarsana
May 10, 2026
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co