25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Aguron-guron”, Pendidikan sebagai Perjalanan Suci di Bali

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
July 29, 2025
in Esai
“Aguron-guron”, Pendidikan sebagai Perjalanan Suci di Bali

“Aguron-guron”, Pendidikan sebagai Perjalanan Suci di Bali

Di banyak tempat, sekolah mungkin Bagi masyarakat Bali, sekolah bukan sekadar bangunan penuh ruang kelas dan guru berdasi. Apalagi dianggap hanya sebagai tempat mencari ijazah, nilai rapor, atau sekadar batu loncatan menuju dunia kerja. Di Bali, pendidikan tidak pernah sesederhana itu. Ia adalah arena suci tempat berlangsungnya aguron-guron—sebuah proses belajar-mengajar yang menyatukan nalar dan nurani, ilmu dan taksu, logika dan spiritualitas.

Inilah sesungguhnya wajah pendidikan Bali: sarat nilai, berakar pada tradisi, dan selalu berjalan di atas jembatan antara dunia sekala dan niskala. Sekolah di Bali bukan tempat netral, melainkan ruang penuh kesadaran spiritual. Pelinggih padmasana, pura sekolah, dan pelataran pemujaan menjadi bukti nyata bahwa pendidikan di Bali tidak pernah tercerabut dari akar budaya dan keyakinan lokal.

Coba datanglah ke sekolah mana pun di Bali. Terutama pada hari-hari suci, di gerbang sekolah, alih-alih hanya melihat papan visi-misi atau jargon pendidikan, kita akan menjumpai aroma dupa yang mengepul, suara kidung yang lirih, dan tangan-tangan siswa bersedekap di depan dada. Sebelum pelajaran dimulai, mereka tidak hanya menyiapkan buku, tetapi juga menyiapkan batin. Mereka sembahyang, memohon restu kepada Sang Hyang Widhi Wasa agar ilmu yang ditimba membawa manfaat dan keselamatan. Ini bukan formalitas. Ini adalah bentuk kesadaran kolektif bahwa ilmu adalah anugerah, bukan sekadar hasil kerja keras.

Tradisi spiritual di sekolah Bali semakin tampak kuat ketika memasuki masa awal tahun ajaran baru. Setelah proses SPMB selesai dan siswa menjalani kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), hampir seluruh satuan pendidikan di Bali melanjutkannya dengan ritual suci, yakni persembahyangan matur piuning. Prosesi ini dilakukan pada hari baik yang telah ditentukan pihak sekolah berdasarkan wariga atau perhitungan kalender Bali, baik purnama, tilem, kajeng kliwon, tumpek atau Hari Suci saraswati.

Upacara Matur Piuning Siswa baru/Dok. SMKN 1 Petang

Sebut saja pada Sukra Pon Prangbakat yang bertepatan dengan Tilem sasih Kasa (25 Juli) yang lalu. Seluruh siswa baru didampingi guru dan warga sekolah lainnya mengikuti persembahyangan ini secara khusyuk di tempat suci sekolah. Bahkan, ada pula pihak sekolah yang melaksanakan ke beberapa pura, baik pura Dang Kahyangan, Sad kahyangan atau Kahyangan jagat.

Matur piuning bukan hanya tradisi turun-temurun, tetapi juga bentuk harmonisasi fisik dan psikologis siswa baru dengan alam lingkungan yang baru, yaitu sekolah itu sendiri. Dalam pandangan kosmologis Bali, setiap ruang memiliki kekuatan spiritual. Maka dari itu, kehadiran siswa baru di sekolah tidak boleh dianggap remeh. Mereka harus “meminta izin” kepada penjaga alam sekala dan niskala, agar proses aguron-guron yang akan mereka tempuh berjalan dalam lindungan, kedamaian, dan keharmonisan.

Oleh karenanya, tidak heran jika kegiatan ini dianggap sebagai momen penyucian niat dan penyelarasan energi. Siswa baru tidak hanya diterima secara administratif oleh sekolah. Mereka juga diterima secara spiritual oleh lingkungan belajar yang akan mereka masuki. Ini adalah bentuk pendidikan karakter yang jauh lebih dalam daripada sekadar hafalan nilai-nilai moral.

Salah satu ritual lanjutan yang terkadang juga dilaksanakan adalah upanayana atau pawintenan. Ini merupakan bentuk inisiasi suci yang menandai kesiapan siswa secara lahir dan batin untuk belajar. Dalam prosesi ini, siswa disucikan secara simbolis agar layak menerima ilmu dan mampu menjaga taksu atau energi positif dalam dirinya selama dan setelah menjalani proses belajar.

Prosesi Upanayana/Dok. SMKN 1 Sukawati

Jika di banyak tempat pendidikan adalah soal ranking dan kompetisi, maka di Bali pendidikan adalah bagian dari laku spiritual. Seorang siswa tidak sekadar datang untuk menghafal rumus atau teori. Siswa datang untuk menata diri, menghormati guru sebagai Dewa Rsi, dan memuliakan ilmu sebagai cahaya suci. Tak heran, hubungan antara guru dan siswa di Bali terasa sangat berbeda. Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga panuntun jiwa. Itulah mengapa dalam upacara-upacara adat, guru kerap diposisikan dalam hierarki spiritual tertentu.

Namun demikian, praktik-praktik ini tidak selalu dipahami oleh orang luar. Sebagian bahkan menilai ritual di sekolah sebagai mistik atau klenik yang penghambat kemajuan.Selanjutnya semua itu digeneralisasi sebagai sesuatu yang dianggap tidak relevan dengan semangat modern. Akan tetapi justru di sinilah letak keunggulan Pendidikan Bali. Pendidikan Bali tidak anti modernisasi. Pendidikanj Bali hanya tidak ingin kehilangan akar. Ketika banyak sistem pendidikan kehilangan ruh karena terlalu berorientasi pada angka dan peringkat, pendidikan Bali justru menunjukkan bahwa nilai spiritual dan akademik bisa berjalan seiring.

Pendidikan di Bali mengajarkan bahwa belajar bukan hanya soal otak, tetapi juga soal hati. Seorang siswa yang cerdas tidak hanya tahu menjawab soal ujian, tetapi juga tahu kapan harus menunduk hormat di depan guru, tahu cara menyusun banten, dan tahu makna kehidupan dari setiap simbol yang ada di lingkungan sekolahnya. Ini bukan bentuk konservatisme. Justru ini sebagai cara menjaga agar pendidikan tidak tercerabut dari nilai-nilai luhur yang telah terbukti membentuk peradaban Bali sejak berabad-abad hingga hari ini.

Tentu saja, tantangan tetap ada. Globalisasi, digitalisasi, dan arus pragmatisme modern terus mengikis pemahaman spiritual dalam pendidikan. Anak-anak zaman sekarang lebih akrab dengan gawai daripada genta. Mereka lebih tertarik pada konten viral ketimbang mantra atau kidung suci. Maka dari itu, mempertahankan tradisi aguron-guron sebagai perjalanan suci tidak bisa hanya dilakukan dengan upacara simbolik. Diperlukan revitalisasi makna. Pendidikan spiritual di sekolah harus dikontekstualisasikan agar tetap relevan. Ritual bukan hanya dilakukan tetapi juga wajib dimaknai. Persembahyangan bukan sekadar melaksanakan kewajiban tetapi menjadi refleksi harian.

Karena itulah, peran guru sangat krusial. Guru di Bali tidak cukup menjadi pengajar mata pelajaran. Ia juga harus menjadi penjaga nilai, pengantar makna, dan sekaligus teladan hidup. Guru merupakan figur spiritual, wakil Dewa Guru, yang harus dihormati dengan penuh ketulusan. Seorang guru yang mengajarkan matematika tetapi lupa menyapa siswa dengan hati, sejatinya sedang kehilangan esensi aguron-guron.

Di sisi lain, guru yang mampu menanamkan nilai spiritual sambil tetap berinovasi dengan teknologi, itulah guru Bali masa depan. Guru Bali masa depan adalah guru yang membumi dalam budaya, menjulang dalam ilmu. Karena itulah dalam tradisi Bali, ilmu pengetahuan mesti diraih dengan sikap rendah hati, satya, dharma, dan penuh taksu. Proses aguron-guron dalam pandangan Bali adalah proses menyucikan diri sambil menyerap ilmu. Guru tidak hanya dipandang sebagai pengajar, tetapi juga hubungan guru dan murid bukan relasi transaksional, melainkan ikatan batin yang sakral.

Pendidikan yang mengakar pada spiritualitas sejatinya menjadi kekuatan lunak Bali yang luar biasa. Di tengah krisis moral dan kekeringan nilai dalam sistem pendidikan global, Bali menawarkan alternatif yang luar biasa. Berdasarkan pengalaman dan tempaan bertahun-tahun, bagi Bali bahwa kecerdasan tanpa kesucian adalah kering, dan ilmu tanpa taksu adalah hampa. Oleh karena itu, mempertahankan tradisi aguron-guron bukanlah upaya mundur ke masa lalu. Sebaliknya justru merupakan lompatan sadar menuju masa depan yang lebih berkarakter dan bermakna.

Di satu sisi, menjadikan sekolah-sekolah di Bali agar mampu menyerap ilmu dan teknologi dari negara-negara maju adalah perlu. Di sisi lain, membiarkan Bali tetap menjadi Bali, tempat tempat ilmu dipelajari dengan hati, tempat guru dihormati seperti orang tua, dan tempat siswa memulai langkahnya dengan bunga, dupa, dan doa adalah keharusan. Karena dalam dunia yang semakin “gaduh” ini, mungkin yang kita butuhkan bukan hanya pendidikan yang canggih, tetapi juga pendidikan yang hening, yang memberi ruang bagi jiwa untuk bertumbuh bersama ilmu.

Dalam konteks pendidikan nasional, warisan nilai-nilai ini menjadi kekayaan tersendiri yang patut dijaga dan dikembangkan. Ketika banyak institusi pendidikan di berbagai daerah kehilangan ruh kebudayaan dan makna spiritualnya, Bali tetap memegang teguh bahwa pendidikan adalah jalan suci, jalan menuju keseimbangan antara cipta, rasa, dan karsa.

Oleh karena itu, aguron-guron di Bali bukan sekadar proses memperoleh ijazah atau keahlian. Ia adalah upaya menyempurnakan hidup dalam cakupan sekala dan niskala. Ia adalah bentuk nyata dari tattwam asi, aku adalah kamu, kamu adalah aku. Inilah yang menjadi landasan bahwa pendidikan sejatinya adalah kerja kemanusiaan dan pengabdian kepada Sang Pencipta. [T]

Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis I WAYAN YUDANA

SMKN 1 Petang: Dari Lahan Sekolah, Mencetak Generasi Muda Cinta Pertanian
Padupadan Pariwisata dan Pertanian di SMKN 1 Petang: Membangun Masa Depan Berkelanjutan
Mengelola Pertanian di Sela Riuh Pariwisata — Catatan Perjuangan dari SMKN 1 Petang
Tags: aguron guronPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Maju Mundur Cantik” Kebijakan Digital di Indonesia

Next Post

Sembuh Oleh Sastra, Mengapa Tidak? — Cerita Ratih Kumala, Oka Rusmini dan Cyntha Hariadi di Singaraja Literary Festival 2025

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Sembuh Oleh Sastra, Mengapa Tidak? — Cerita Ratih Kumala, Oka Rusmini dan Cyntha Hariadi di Singaraja Literary Festival 2025

Sembuh Oleh Sastra, Mengapa Tidak? -- Cerita Ratih Kumala, Oka Rusmini dan Cyntha Hariadi di Singaraja Literary Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co