14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Aguron-guron”, Pendidikan sebagai Perjalanan Suci di Bali

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
July 29, 2025
in Esai
“Aguron-guron”, Pendidikan sebagai Perjalanan Suci di Bali

“Aguron-guron”, Pendidikan sebagai Perjalanan Suci di Bali

Di banyak tempat, sekolah mungkin Bagi masyarakat Bali, sekolah bukan sekadar bangunan penuh ruang kelas dan guru berdasi. Apalagi dianggap hanya sebagai tempat mencari ijazah, nilai rapor, atau sekadar batu loncatan menuju dunia kerja. Di Bali, pendidikan tidak pernah sesederhana itu. Ia adalah arena suci tempat berlangsungnya aguron-guron—sebuah proses belajar-mengajar yang menyatukan nalar dan nurani, ilmu dan taksu, logika dan spiritualitas.

Inilah sesungguhnya wajah pendidikan Bali: sarat nilai, berakar pada tradisi, dan selalu berjalan di atas jembatan antara dunia sekala dan niskala. Sekolah di Bali bukan tempat netral, melainkan ruang penuh kesadaran spiritual. Pelinggih padmasana, pura sekolah, dan pelataran pemujaan menjadi bukti nyata bahwa pendidikan di Bali tidak pernah tercerabut dari akar budaya dan keyakinan lokal.

Coba datanglah ke sekolah mana pun di Bali. Terutama pada hari-hari suci, di gerbang sekolah, alih-alih hanya melihat papan visi-misi atau jargon pendidikan, kita akan menjumpai aroma dupa yang mengepul, suara kidung yang lirih, dan tangan-tangan siswa bersedekap di depan dada. Sebelum pelajaran dimulai, mereka tidak hanya menyiapkan buku, tetapi juga menyiapkan batin. Mereka sembahyang, memohon restu kepada Sang Hyang Widhi Wasa agar ilmu yang ditimba membawa manfaat dan keselamatan. Ini bukan formalitas. Ini adalah bentuk kesadaran kolektif bahwa ilmu adalah anugerah, bukan sekadar hasil kerja keras.

Tradisi spiritual di sekolah Bali semakin tampak kuat ketika memasuki masa awal tahun ajaran baru. Setelah proses SPMB selesai dan siswa menjalani kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), hampir seluruh satuan pendidikan di Bali melanjutkannya dengan ritual suci, yakni persembahyangan matur piuning. Prosesi ini dilakukan pada hari baik yang telah ditentukan pihak sekolah berdasarkan wariga atau perhitungan kalender Bali, baik purnama, tilem, kajeng kliwon, tumpek atau Hari Suci saraswati.

Upacara Matur Piuning Siswa baru/Dok. SMKN 1 Petang

Sebut saja pada Sukra Pon Prangbakat yang bertepatan dengan Tilem sasih Kasa (25 Juli) yang lalu. Seluruh siswa baru didampingi guru dan warga sekolah lainnya mengikuti persembahyangan ini secara khusyuk di tempat suci sekolah. Bahkan, ada pula pihak sekolah yang melaksanakan ke beberapa pura, baik pura Dang Kahyangan, Sad kahyangan atau Kahyangan jagat.

Matur piuning bukan hanya tradisi turun-temurun, tetapi juga bentuk harmonisasi fisik dan psikologis siswa baru dengan alam lingkungan yang baru, yaitu sekolah itu sendiri. Dalam pandangan kosmologis Bali, setiap ruang memiliki kekuatan spiritual. Maka dari itu, kehadiran siswa baru di sekolah tidak boleh dianggap remeh. Mereka harus “meminta izin” kepada penjaga alam sekala dan niskala, agar proses aguron-guron yang akan mereka tempuh berjalan dalam lindungan, kedamaian, dan keharmonisan.

Oleh karenanya, tidak heran jika kegiatan ini dianggap sebagai momen penyucian niat dan penyelarasan energi. Siswa baru tidak hanya diterima secara administratif oleh sekolah. Mereka juga diterima secara spiritual oleh lingkungan belajar yang akan mereka masuki. Ini adalah bentuk pendidikan karakter yang jauh lebih dalam daripada sekadar hafalan nilai-nilai moral.

Salah satu ritual lanjutan yang terkadang juga dilaksanakan adalah upanayana atau pawintenan. Ini merupakan bentuk inisiasi suci yang menandai kesiapan siswa secara lahir dan batin untuk belajar. Dalam prosesi ini, siswa disucikan secara simbolis agar layak menerima ilmu dan mampu menjaga taksu atau energi positif dalam dirinya selama dan setelah menjalani proses belajar.

Prosesi Upanayana/Dok. SMKN 1 Sukawati

Jika di banyak tempat pendidikan adalah soal ranking dan kompetisi, maka di Bali pendidikan adalah bagian dari laku spiritual. Seorang siswa tidak sekadar datang untuk menghafal rumus atau teori. Siswa datang untuk menata diri, menghormati guru sebagai Dewa Rsi, dan memuliakan ilmu sebagai cahaya suci. Tak heran, hubungan antara guru dan siswa di Bali terasa sangat berbeda. Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga panuntun jiwa. Itulah mengapa dalam upacara-upacara adat, guru kerap diposisikan dalam hierarki spiritual tertentu.

Namun demikian, praktik-praktik ini tidak selalu dipahami oleh orang luar. Sebagian bahkan menilai ritual di sekolah sebagai mistik atau klenik yang penghambat kemajuan.Selanjutnya semua itu digeneralisasi sebagai sesuatu yang dianggap tidak relevan dengan semangat modern. Akan tetapi justru di sinilah letak keunggulan Pendidikan Bali. Pendidikan Bali tidak anti modernisasi. Pendidikanj Bali hanya tidak ingin kehilangan akar. Ketika banyak sistem pendidikan kehilangan ruh karena terlalu berorientasi pada angka dan peringkat, pendidikan Bali justru menunjukkan bahwa nilai spiritual dan akademik bisa berjalan seiring.

Pendidikan di Bali mengajarkan bahwa belajar bukan hanya soal otak, tetapi juga soal hati. Seorang siswa yang cerdas tidak hanya tahu menjawab soal ujian, tetapi juga tahu kapan harus menunduk hormat di depan guru, tahu cara menyusun banten, dan tahu makna kehidupan dari setiap simbol yang ada di lingkungan sekolahnya. Ini bukan bentuk konservatisme. Justru ini sebagai cara menjaga agar pendidikan tidak tercerabut dari nilai-nilai luhur yang telah terbukti membentuk peradaban Bali sejak berabad-abad hingga hari ini.

Tentu saja, tantangan tetap ada. Globalisasi, digitalisasi, dan arus pragmatisme modern terus mengikis pemahaman spiritual dalam pendidikan. Anak-anak zaman sekarang lebih akrab dengan gawai daripada genta. Mereka lebih tertarik pada konten viral ketimbang mantra atau kidung suci. Maka dari itu, mempertahankan tradisi aguron-guron sebagai perjalanan suci tidak bisa hanya dilakukan dengan upacara simbolik. Diperlukan revitalisasi makna. Pendidikan spiritual di sekolah harus dikontekstualisasikan agar tetap relevan. Ritual bukan hanya dilakukan tetapi juga wajib dimaknai. Persembahyangan bukan sekadar melaksanakan kewajiban tetapi menjadi refleksi harian.

Karena itulah, peran guru sangat krusial. Guru di Bali tidak cukup menjadi pengajar mata pelajaran. Ia juga harus menjadi penjaga nilai, pengantar makna, dan sekaligus teladan hidup. Guru merupakan figur spiritual, wakil Dewa Guru, yang harus dihormati dengan penuh ketulusan. Seorang guru yang mengajarkan matematika tetapi lupa menyapa siswa dengan hati, sejatinya sedang kehilangan esensi aguron-guron.

Di sisi lain, guru yang mampu menanamkan nilai spiritual sambil tetap berinovasi dengan teknologi, itulah guru Bali masa depan. Guru Bali masa depan adalah guru yang membumi dalam budaya, menjulang dalam ilmu. Karena itulah dalam tradisi Bali, ilmu pengetahuan mesti diraih dengan sikap rendah hati, satya, dharma, dan penuh taksu. Proses aguron-guron dalam pandangan Bali adalah proses menyucikan diri sambil menyerap ilmu. Guru tidak hanya dipandang sebagai pengajar, tetapi juga hubungan guru dan murid bukan relasi transaksional, melainkan ikatan batin yang sakral.

Pendidikan yang mengakar pada spiritualitas sejatinya menjadi kekuatan lunak Bali yang luar biasa. Di tengah krisis moral dan kekeringan nilai dalam sistem pendidikan global, Bali menawarkan alternatif yang luar biasa. Berdasarkan pengalaman dan tempaan bertahun-tahun, bagi Bali bahwa kecerdasan tanpa kesucian adalah kering, dan ilmu tanpa taksu adalah hampa. Oleh karena itu, mempertahankan tradisi aguron-guron bukanlah upaya mundur ke masa lalu. Sebaliknya justru merupakan lompatan sadar menuju masa depan yang lebih berkarakter dan bermakna.

Di satu sisi, menjadikan sekolah-sekolah di Bali agar mampu menyerap ilmu dan teknologi dari negara-negara maju adalah perlu. Di sisi lain, membiarkan Bali tetap menjadi Bali, tempat tempat ilmu dipelajari dengan hati, tempat guru dihormati seperti orang tua, dan tempat siswa memulai langkahnya dengan bunga, dupa, dan doa adalah keharusan. Karena dalam dunia yang semakin “gaduh” ini, mungkin yang kita butuhkan bukan hanya pendidikan yang canggih, tetapi juga pendidikan yang hening, yang memberi ruang bagi jiwa untuk bertumbuh bersama ilmu.

Dalam konteks pendidikan nasional, warisan nilai-nilai ini menjadi kekayaan tersendiri yang patut dijaga dan dikembangkan. Ketika banyak institusi pendidikan di berbagai daerah kehilangan ruh kebudayaan dan makna spiritualnya, Bali tetap memegang teguh bahwa pendidikan adalah jalan suci, jalan menuju keseimbangan antara cipta, rasa, dan karsa.

Oleh karena itu, aguron-guron di Bali bukan sekadar proses memperoleh ijazah atau keahlian. Ia adalah upaya menyempurnakan hidup dalam cakupan sekala dan niskala. Ia adalah bentuk nyata dari tattwam asi, aku adalah kamu, kamu adalah aku. Inilah yang menjadi landasan bahwa pendidikan sejatinya adalah kerja kemanusiaan dan pengabdian kepada Sang Pencipta. [T]

Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis I WAYAN YUDANA

SMKN 1 Petang: Dari Lahan Sekolah, Mencetak Generasi Muda Cinta Pertanian
Padupadan Pariwisata dan Pertanian di SMKN 1 Petang: Membangun Masa Depan Berkelanjutan
Mengelola Pertanian di Sela Riuh Pariwisata — Catatan Perjuangan dari SMKN 1 Petang
Tags: aguron guronPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Maju Mundur Cantik” Kebijakan Digital di Indonesia

Next Post

Sembuh Oleh Sastra, Mengapa Tidak? — Cerita Ratih Kumala, Oka Rusmini dan Cyntha Hariadi di Singaraja Literary Festival 2025

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
0
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

Read moreDetails

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
0
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

Read moreDetails

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails
Next Post
Sembuh Oleh Sastra, Mengapa Tidak? — Cerita Ratih Kumala, Oka Rusmini dan Cyntha Hariadi di Singaraja Literary Festival 2025

Sembuh Oleh Sastra, Mengapa Tidak? -- Cerita Ratih Kumala, Oka Rusmini dan Cyntha Hariadi di Singaraja Literary Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co