SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store Day Market Bali 2026 digelar pada Sabtu-Minggu, 25-26 April 2026. Sejak hari pertama, pecinta rilisan dan merchandise dari berbagai kalangan tumpah ruah menikmati perayaan itu, mulai dari orang dewasa hingga anak muda yang tengah jatuh cinta pada dunia analog, membaur menjadi satu dalam atmosfer yang hangat dan akrab.
Sebanyak 38 stan dari berbagai toko rekaman dan merchandise hadir membawa beragam rilisan pilihan, mulai dari vinyl, kaset pita, CD, buku, majalah, t-shirt, aksesoris, dan pernak-pernik musik lainnya. Dari lapak ke lapak, pengunjung terlihat membolak-balik tumpukan vinyl dan rilisan fisik lainnya, berharap menemukan rilisan langka dari musisi favoritnya.


Di sisi lain, lantunan musik dari DJ vinyl dan kaset menambah semarak suasana. Atmosfer Main Atrium, Living World Denpasar terasa hidup dengan musik yang mengalun sepanjang hari, obrolan seru soal rilisan fisik, hingga momen berburu rilisan langka yang mengasyikkan. Sebagian pengunjung tampak tenggelam dalam kenangan, sementara yang lain justru seperti menemukan pengalaman baru yang autentik.
Record Store Day Market Bali 2026 merupakan bagian dari perayaan Record Store Day (RSD) yang digelar serentak di seluruh dunia. Selain Bali, kota di Indonesia lainnya yang ikut ambil bagian dalam perayaan tersebut adalah Jakarta, Solo, Medan, dan Yogyakarta.
Tak hanya menjadi tempat untuk berburu koleksi, Record Store Day Market Bali 2026 juga menjelma sebagai ruang pertemuan. Di sini, komunitas musik, pecinta rilisan fisik, hingga generasi muda yang baru mengenal pesona dunia analog saling bertukar cerita. Percakapan ringan tentang band favorit, rekomendasi album, hingga diskusi soal kualitas rilisan terdengar di berbagai sudut. Interaksi semacam ini menjadi bagian penting yang menghidupkan acara, melampaui sekadar transaksi jual beli.


Salah satu pengunjung, Riski Sanjaya (24), mengaku datang sejak hari pertama demi merasakan langsung atmosfer yang selama ini hanya ia lihat di media sosial.
“Sensasinya beda banget. Pegang langsung kaset atau vinyl itu ada rasa puas sendiri, apalagi kalau nemu rilisan yang sudah lama dicari,” ujarnya.
Bagi Riski, pengalaman ini bukan hanya soal membeli musik, tetapi juga tentang merasakan kedekatan yang lebih personal dengan karya dan proses di baliknya.
Salah satu peserta RSD Bali 2026, Romi Dicky tampak begitu bahagia ketika orang-orang datang ke lapaknya. Ia murah senyum dan tak sungkan bila diajak bercerita.
“Kaset-kaset ini koleksi pribadi saya dan teman-teman, harganya bervariasi, tergantung band dan kualitas kasetnya,” ujar Dicky saat menawarkan kaset di lapaknya.


Seiring berjalannya waktu, keramaian tak juga surut. Justru pada sore hingga malam hari, suasana terasa semakin padat. Pengunjung terus berdatangan, sebagian membawa pulang kantong berisi rilisan pilihan, sebagian lain masih asyik menyusuri setiap stan.
Ramainya kunjungan orang-orang ke RSD Bali 2026 membuktikan bahwa di tengah dunia digital yang serba cepat, pengalaman menggenggam rilisan fisik dan mendengarkan lagu dari alat pemutar memiliki tempat spesial di hati banyak orang. Record Store Day Market Bali 2026 bukan sekadar event tahunan, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan budaya yang menghidupkan semangat kolektif dan kecintaan pada musik dalam bentuk paling nyata. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole




























