PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari Purnama. Perayaan ini menjadi momentum reflektif atas dedikasi Sanggra dalam menjaga dan mengembangkan ruh sastra Bali modern lintas generasi.
Acara ditandai dengan peluncuran buku “Geguritan Katemu ring Tampaksiring”, gubahan I Made Suarsa, yang diadaptasi dari cerpen klasik karya Sanggra berjudul sama. Made Suarsa dikenal sebagai ahli gita santi yang mengakhiri karier akademiknya sebagai dosen di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana.

Perayaan ini dihadiri oleh tokoh masyarakat Sukawati, seniman, sastrawan, serta kalangan akademisi. Hadir di antaranya I Wayan Dibia, I Wayan Pastika, I Nyoman Darma Putra, pengamat sosial budaya I Gde Sudibia, serta Jean Couteau. Mereka dikenal sebagai tokoh yang mengagumi dan mengapresiasi karya-karya Made Sanggra.
Peringatan seabad I Made Sanggra ini dinisiasi oleh Yayasan Wahana Dharma Sastra Sukawati, dengan dukungan dan pengawalan keluarga besar Sanggra, yakni Made Suarjana, Putu Suarthama, serta I Wayan Windia (almarhum).

Dalam rangkaian acara, I Made Suarsa, putra kedua Made Sanggra, menggubah geguritan yang kemudian diterbitkan dalam bentuk buku. Secara simbolik, buku tersebut diserahkan kepada Made Sarjana, yang selanjutnya menyerahkannya kepada para hadirin.

Dalam sambutannya, Made Suarjana, mantan wartawan TEMPO, menyampaikan terima kasih atas kehadiran para undangan. Ia juga membacakan puisi karya ayahnya berjudul “Idupe Nemu Sengsara” (Hidup Menghadapi Derita), yang menambah suasana haru dalam peringatan tersebut.
Pada kesempatan itu, riwayat hidup, proses kreatif, serta karya-karya I Made Sanggra juga dipaparkan secara singkat melalui penayangan film dokumenter, memberikan gambaran utuh mengenai perjalanan intelektual dan dedikasi Sanggra dalam dunia sastra Bali modern.
Setelah peluncuran buku, acara dilanjutkan dengan pembacaan geguritan dan sesi ulasan. Pembacaan diawali oleh Prof. Dibia yang membacakan dua bait yang menggambarkan dialog antara Van Steffen—wartawan Belanda yang datang ke Bali untuk meliput kunjungan Ratu Juliana—dengan Luh Kompyang, yang kemudian terungkap sebagai ibu Steffen.

Ulasan disampaikan langsung oleh Made Suarsa dengan gaya lugas dan penuh wibawa, mengingat latar belakangnya sebagai mantan penyiar Radio Menara. Dalam sambutannya, Prof. Dibia mengungkapkan ketertarikannya mengangkat cerita modern sebagai lakon arja. Menurutnya, hal ini penting untuk menunjukkan bahwa kesenian tradisional Bali tidak bersifat statis dan tertutup.
“Arja tidak hanya terbatas pada cerita Panji, tetapi juga bisa mengangkat cerita modern,” ujarnya. Ia telah membuktikan hal tersebut melalui pementasan arja berbasis novel Sukreni Gadis Bali karya Anak Agung Pandji Tisna serta cerpen Katemu ring Tampaksiring. Dalam proses adaptasi, Prof. Dibia bahkan menambahkan tokoh antagonis untuk memenuhi struktur dramatik arja, setelah memperoleh izin dari Made Sanggra.
Sementara itu, Prof. Darma Putra dalam sambutannya menyebut Made Sanggra sebagai “sastrawan 2B”: berlian dan brilian. “Berlian karena memiliki banyak sisi yang memancarkan kilau, dan brilian karena ide-ide serta karyanya luar biasa,” ujarnya. Sanggra dikenal produktif menulis dalam berbagai genre, mulai dari puisi, cerpen, drama, geguritan, hingga karya saduran dan terjemahan.

Dalam kesempatan tersebut, Darma Putra membacakan puisi “denpasar sane mangkin” (1971), yang merekam fenomena alih fungsi lahan di Bali. Menurutnya, Sanggra telah menangkap isu tersebut jauh sebelum menjadi perdebatan luas saat ini. “Idenya sangat brilian,” tegasnya.
Ia juga menyoroti gaya khas Sanggra yang menulis puisi dengan huruf kecil seluruhnya. Menurut Darma, hal itu merupakan bentuk licentia poetica yang mencerminkan kerendahan hati Sanggra sekaligus pengaruh estetika aksara Bali, yang tidak mengenal huruf kapital.

Dalam sambutannya, Prof. I Wayan Pastika menekankan pentingnya karya-karya Sanggra tidak hanya dalam sastra, tetapi juga dalam kajian linguistik. Ia mengaku menggunakan teks-teks karya Sanggra sebagai bahan penting saat menempuh studi doktoral di Australian National University.
Lebih lanjut, Darma Putra menempatkan peringatan seabad ini dalam konteks nasional. Ia menyebut adanya tren refleksi terhadap peran sastrawan dalam pemajuan kebudayaan, seperti peringatan 100 tahun A. A. Navis (2024), 100 tahun Pramoedya Ananta Toer (2025), serta 101 tahun Asrul Sani (2026).

“Perayaan seperti ini adalah bagian dari penciptaan ekosistem sastra. Dengan itu, kita berharap kehidupan sastra akan terus berdenyut dan berkembang,” ujarnya.
Profil Singkat I Made Sanggra
I Made Sanggra dikenal sebagai salah satu pelopor sastra Bali modern yang produktif dan multidimensional. Ia menulis dalam bahasa Bali dan Indonesia, meliputi puisi, cerpen, drama, serta geguritan. Karyanya sering mengangkat dinamika sosial budaya Bali, termasuk perubahan akibat modernisasi dan pariwisata.
Sanggra lahir 1 Mei 1926 di Sukawati, meninggal hari Rabu, 26 Juni 2007. Pada 1 Mei 2026, hari lahirnya memasuki 100 tahun. Peringatan seabad lahirnya Made Sanggra diperingati secara literer untuk mengapresiasi pencapaiannya sebagai penjaga ruh sastra Bali modern, lewat karya dan spirit.
Sanggra juga dikenal sebagai penyadur dan penerjemah, yang menjembatani tradisi lisan dan sastra klasik Bali ke dalam bentuk modern. Salah satu kontribusinya adalah mengalihwahanakan cerita rakyat seperti Pan Balang Tamak ke dalam bentuk geguritan berbahasa Indonesia.
Secara estetik, ia memiliki gaya khas, termasuk penggunaan huruf kecil dalam puisi-puisinya, yang mencerminkan sikap rendah hati sekaligus pendekatan kreatif terhadap tradisi aksara Bali. Tema-tema dalam karyanya menunjukkan kepekaan sosial yang tajam serta visi jauh ke depan terhadap perubahan budaya.
Kepergiannya dikenang sebagai “sastrawan berilmu padi”—semakin berisi, semakin merunduk—menjadikannya figur yang dihormati tidak hanya karena karya, tetapi juga karena kepribadiannya. Hingga kini, warisan intelektual dan kulturalnya tetap hidup dan terus menginspirasi perkembangan sastra Bali modern. [T]





























