MENYUSURI daerah yang belum pernah dikunjungi seperti Ciletuh yang berada di Sukabumi bagian selatan Jawa Barat ini adalah sesuatu yang ingin saya ketahui. Letaknya seperti berada di pegunungan, tapi bukan pegungungan dan juga letaknya seperti lautan, tapi bukan lautan. Inilah yang mejadi ikon parawisata daerah tersebut, tak hanya di indonesia namun juga seluruh dunia.
Ciletuh telah dikenal sejak zaman kolonial. Pada awalnya kawasan ini dikenal sebagai Tjiletoe, Cjiletoeh, Tjiletoeh, dan Zandbaai. Banyak peneliti maupun pelancong yang mengunjungi wilayah ini, salah satunya peneliti berasal dari Jerman bernama Fanz Willhelm Junghuhn.
Kawasan ini memang telah dikenal sejak zaman Belanda, bahkan Teluk Ciletuh telah disinggahi kapal-kapal Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC yang melakukan pemetaan kali.

Geopark Ciletuh, Sukabumi | Foto: Dok. Penulis
Ciletuh semakin menjadi tujuan para pelancong selepas dibentuknya organisasi Venatorid yang mengorganisir perburuan banteng di Cikepuh. Pada masa Perang Dunia ke-2, kawasan ini menjadi tempat persinggahan kapal-kapal Belanda yang transit menuju Pelabuhan Ratu atau Australia.
Sekarang daerah tersebut diakui UNESCO sebagai Global Geopark, karena keunikan geologi, keanekaragaman hayati, dan kekayaan budaya yang dimilikinya. Asal-usul nama Ciletuh sendiri berasal dari bahasa Sunda, di mana “Ci” berarti air dan “Letuh” berarti keruh, mengacu pada kondisi air sungai yang mengalir di kawasan tersebut.
Disini saya akan menceritakan perjalanan menaiki sepeda motor atau “touring” yang biasa anak motor katakan, menuju ke sana bersama sepupu saya dan temannya. Kami berangkat dari Kota Tangerang, rumah saya.Kami memulai perjalanan di jam 4 pagi sebelum subuh sampai di sana jam 11 siang.
Kami melawati jalan raya Cikidang-Pramuyaran, jalannya sangat kecil untuk dilewati mobil dan sangat terjal. Setiap melewati ini banyak sekali kebun sawit dan pemukiman warga, dan kami melewati Pelabuhan Ratu untuk memotong jalan, karena jalan menuju ke sana sangat terbatas dan hanya jalan itu saja, tidak ada jalan alternatif seperti ke wilayah lain.
Sudah mendekati daerah Ciletuh banyak tantangan yang harus saya hadapi. Akses penyeberangan seperti jembatan setengah roboh harus bergantian dengan pengendara lain, lalu setiap jalanan yang sudah mau longsor itu sesuatu hal yang teringat terus. Tetapi walupun perjalanan ini sangat menantang dan melelahkan, ini bisa terbayarkan.

Penulis (depan) di Geopark Ciletuh, Sukabumi | Foto: Dok.Penulis
Di setiap belokan, di setiap mendaki banyak sekali fenomena yang indah. Melihat sebelah kiri ada pengunungan dan di sebelah kanan ada lautan, dan saya sedang mengendarai sepeda motor sampai tidak bisa berkata-kata. Ini sungguh memanjakan mata dan menenangkan batin saya.
Kami sudah sampai berada di Puncak Darma melihat laut dari ketinggian begitu indah. Cahaya matahari yang menyinari laut dan pegunungan membuat perpaduan yang dahsyat sekali. Saya dan sepupu saya banyak sekali mengambil foto dan video. Kami juga mengunjungi air terjun yang dekat disini itu bernama Curug Cimarinjung dengan suasana alam dan curahan air yang sangat deras.
Keadaan air terjun itu dihiasi dengan tebing-tebing batu yang kokoh. Tebing berwarna merah kecokelatan dengan tumbuhan hijau yang menempel di badan tebing membuat Curug Cimarinjung tampak alami. Tak hanya itu, lokasi Curug Cimarinjung pun semakin khas dengan adanya dua bongkah batu berukuran besar yang mengapit aliran air sebelum turun ke bawah.

Penulis “Touring” Menuju Ciletuh, Sukabumi | Foto : Dok.Penulis
Saya dan sepupu saya dan teman lain hanya bisa menikmati alam ini sesuatu yang akan dikenanang dalam batinku, walaupun banyak yang belum saya jelajahi lagi di Ciletuh tapi ini akan menjadi ikon yang saya banggakan dan tantangan menuju kesini.
Dalam al-Quran Al-Insyirah (94:5-6):
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” Ayat ini memberikan harapan dan keyakinan bahwa setiap kesulitan pasti akan diikuti dengan kemudahan. [T]
Penulis: Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:



























