3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jurnalis Sebagai Terapis

Angga Wijaya by Angga Wijaya
July 17, 2025
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

SERING saya alami, sebagai seorang jurnalis, saat melakukan wawancara dengan narasumber—terutama wawancara tertutup— dialog berlangsung secara santai, apalagi ketika menulis profil narasumber dimana mereka banyak berbicara  tentang diri mereka. Cair dan penuh keakraban.

Saya melihat narasumber air muka mereka berubah; menjadi lebih cerah, terlebih lagi saat menceritakan sesuatu yang lucu—tawa berderai di antara kami yang menyiratkan sebuah keakraban antara jurnalis dan narasumber yang akan ditulis kisahnya.

Melihat hal ini, saya menyimpulkan bahwa pekerjaan jurnalis dalam beberapa aspek mempunya kesamaan dengan terapis; sama-sama pandai mendengarkan, tidak memotong pembicaraan lawan bicara, kemampuan menganalisa yang baik, dan juga menjadi rekan atau teman yang setara. Terlebih, pertemuan dengan narasumber kemudian dilanjutkan dengan sebuah pertemanan secara personal, di luar pekerjaan sebagai jurnalis.

Hal tersebut tentunya sangat manusiawi, dua manusia saling terhubung karena adanya rasa saling mengerti dan memahami satu sama lain. Tidak selalu berdasar atas materi. Lebih dari itu, memang secara psikologis manusia tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Jurnalis, yang secara umum dikenal pintar dan banyak mempunyai koneksi, menjadi nilai tambah ketika dijadikan teman.

Adakalanya, saat jurnalis melakukan wawancara, narasumber berbicara di luar topik utama pembicaraan. Jika begitu, saya biasanya membiarkan saja, sebab saya paham, dengan bercerita secara lepas, seseorang biasanya akan merasa lebih baik. Tugas jurnalis, mendengarkan dengan baik, tak perlu menjawab jika memang belum dibutuhkan. Karena, kalau memotong pembicaraan, narasumber yang sedang asyik bercerita bisa juga akan merasa diabaikan atau merasa dirinya kurang berharga untuk didengarkan, atau tema pembicaraan yang dirasa kurang menyenangkan dan membosankan.

Terapis, dalam beberapa sisi, sebenarnya juga hanya sebagai pendengar yang baik. Klien yang punya masalah dapat bercerita dengan nyaman, tanpa merasa dihakimi, biasanya bercerita tentang masalah atau tekanan pribadi yang dihadapinya. Bahkan, hal-hal yang ‘gelap’ dan  buruk tentang diri mereka juga diceritakan pada terapis –yang secara resmi menyandang profesi psikolog atau psikiater—tanpa beban.

Dari wawancara dan perbincangan tersebut, terapis kemudian menganalisa, memberi saran dan masukan tentang hal-hal apa saja yang mesti diperbaiki pada diri narasumber misalnya cara pandang dalam melihat dan mengatasi masalah. Sehingga, diharapkan klien dapat menjalani kenyataan dengan sebaik-baiknya. Hal ini akan membuat klien merasa lebih baik, memiliki kekuatan baru untuk menghadapi kehidupan yang memang penuh dinamika dan kompleksitas.

Bedanya dengan jurnalis, hanya tentang metode dan profesionalitas saja. Jurnalis tentu tidak semuanya membaca atau belajar secara otodidak bidang psikologi, meski ada beberapa jurnalis yang memang lulusan psikologi ketika kuliah. Ada juga, jurnalis yang suka membaca banyak buku di luar profesinya dan psikologi menjadi ketertarikannya sehingga ia punya pengetahuan tentang ilmu jiwa—istilah lama dalam bahasa Indonesia, untuk menyebut psikologi (dan juga psikiatri).

Meskipun jarang terjadi, selain karena belajar secara otodidak, ada juga beberapa jurnalis yang dalam periode kehidupannya mengalami krisis jiwa yang membawanya pada gangguan kepribadian atau bahkan gangguan mental. Ini tentu bersifat kasuistik. Pada pengalaman seperti ini, ada dua hal yang bisa terjadi; jatuh dalam ketidakberdayaan, penyakit tambah parah karena tidak berobat, berhenti bekerja sebagai jurnalis karena kondisi mental yang buruk, atau tetap bekerja sebagai jurnalis dengan segala “gejala” penyakit yang menganggu termasuk juga dirasakan rekan kerja, atasan, keluarga atau orang lain yang karena pekerjaan mengenalnya dengan baik (dan juga buruk), termasuk stigma gangguan mental yang menyertainya.

Sebaliknya, ada jurnalis yang dengan sadar berobat ke psikolog atau psikiater, menjalani terapi dengan patuh, minum obat-obatan anti-depresan atau bahkan obat-obat anti-psikotik jika mereka “dihinggapi” gangguan mental berat seperti skizofrenia atau bipolar. Jika fase ini berhasil mereka lewati—terutama menerima kenyataan bahwa mereka masih sakit dan butuh pengobatan—kemungkinan besar jurnalis sekaligus penyintas gangguan mental ini bisa perlahan bangkit, pulih, berdaya bahkan menjadi lebih “hebat” dari masa sebelum mereka sakit.

Jurnalis yang seperti ini, kita temui biasanya pada kisah novel, film, dan cerita pendek yang bersifat fiktif namun juga ada yang ditulis berdasarkan kisah nyata di masyarakat. Namun, potret jurnalis sekaligus penyintas dapat juga kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Dari mereka, kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran; bahwa krisis jiwa tidak harus berakhir di rumah sakit jiwa, asalkan gejala penyakit diketahui sejak dini.

Di sini pentingnya pengetahuan tentang kesehatan mental. Gangguan mental yang biasanya muncul pada usia muda, antara usia 15 hingga 25 tahun, pada fase dimana seseorang mencari jati diri, merasakan pengabaian dan penolakan oleh keluarga, tetangga, bahkan masyarakat dan lingkungan sekitar. Ada juga yang mengalami trauma masa kecil yang membuat mereka tumbuh menjadi pribadi yang teramat sensitive atau sebaliknya terlihat pendiam namun menyimpan api amarah yang sewaktu-waktu bisa meledak kapan saja; menjadi agresif, kasar, bahkan hingga mengamuk atau merusak benda-benda di rumah atau di sekitar tempat tinggal.

Pengidap dan penyintas gangguan mental bisa pulih—tidak seperti anggapan banyak orang yang kemudian menjadi stigma dan stereotype—bahwa orang dengan gangguan jiwa tidak bisa sembuh, berbahaya, patut dijauhi, tak punya masa depan sehingga lebih baik dikurung di rumah, bahkan dipasung, tanpa diajak berobat ke fasilitas kesehatan terkecil seperti Puskesmas yang kini di Indonesia telah membuka layanan kesehatan mental.

Jurnalis yang pulih dari gangguan mental, kemudian mendirikan atau bergabung di komunitas kesehatan mental, akhirnya bisa menjadi aktivis kesehatan mental yang tangguh. Sebab, ia telah mengalami apa yang banyak orang di Bali dan Indonesia sering ungkapkan: “gila/sinting/buduh/mengong” dan telah “keluar” dari kawah Candradimuka kehidupan, sehingga menjadi pribadi yang membumi, penuh empati, simpati dan terpenting punya kepekaan yang tinggi, sehingga mampu banyak membantu orang lain baik melalui karya-karya jurnalistik, banyak menulis tentang kesehatan mental dan menjadi sarana edukasi bahkan inspirasi bagi para pembaca—membuat keyakinan baru bahwa ODGJ mampu bekerja bahkan punya prestasi yang orang “normal” juga bisa raih.

Bukan berarti seorang jurnalis mesti “sakit jiwa” dulu baru bisa menjadi terapis jiwa bagi mereka yang membutuhkan. Bukan itu. Jurnalis—tetap saja punya kemiripan dan kemampuan seperti layaknya para terapis, dengan alasan penjelasan yang saya kemukakaan daam tulisan ini. Namun, pekerjaan jurnalis yang penuh tekanan, jam tidur yang tak teratur, kesehatan yang rawan, temasuk kesehatan mental membuat jenis profesi ini sangat rawan mengalami gangguan mental, seperti gangguan cemas atau anxiety dalam skala terendah, atau bahkan juga stress dan depresi pada tingkat lanjut.

Jika begitu, sudah selayaknya perusahaan media lebih peka terhadap kesehatan mental terutama untuk pekerja media. Belum saya temukan survei atau penelitian akademis tentang gangguan mental dikaitkan dengan profesi jurnalis/wartawan, terutama di Indonesia. Semoga para jurnalis—yang pandai mendengarkan seperti layaknya terapis—tidak lantas sakit dan membutuhkan psikolog atau psikiater. Maka itu, mari menjaga diri dengan baik, termasuk bagi perusahaan media dan sesama pekerja media untuk saling peduli dan menjaga solidaritas. Salam. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA

Penulis adalah penyintas skizofrenia paranoid, wartawan, penyair, dan esais asal Jembrana, Bali. Telah menulis 15 buku sejak 2018, dan aktif bekerja sebagai wartawan sejak 2015.

ODGJ Bisa Pulih, Mengapa Sulit Percaya?
Pengalaman Awal Mula Didiagnosa Skizofrenia
Post-Therapy: Semua Orang Pernah Sakit dan Terluka
Tags: jurnaliskesehatan jiwaSchizophrenia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Kesulitan Menuju Keindahan — Catatan Perjalanan ke Ciletuh, Jawa Barat

Next Post

PICA Fest Kembali, Lebih Ramai dan Lebih Ramah

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
PICA Fest Kembali, Lebih Ramai dan Lebih Ramah

PICA Fest Kembali, Lebih Ramai dan Lebih Ramah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co