24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

ODGJ Bisa Pulih, Mengapa Sulit Percaya?

Angga Wijaya by Angga Wijaya
July 9, 2025
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

Apa yang terlintas di benak ketika mendengar kata “ODGJ” atau orang dengan gangguan jiwa? Mungkin sebagian langsung membayangkan seseorang yang mengamuk, bicara sendiri di jalanan, atau dikurung di kamar gelap karena dianggap berbahaya.

Imaji ini sudah terlalu lama menempel dalam budaya kita—membentuk stigma yang sulit dibongkar.

Padahal, banyak penyintas gangguan jiwa—termasuk depresi, bipolar, bahkan skizofrenia—yang berhasil pulih dan hidup produktif. Saya menulis ini bukan hanya sebagai wartawan, tetapi juga sebagai penyintas skizofrenia paranoid yang pertama kali didiagnosis pada tahun 2009.

Saya mulai bekerja sebagai wartawan pada 2008, saat masih kuliah. Meskipun hanya sebentar, itu menjadi awal dari karier jurnalistik yang saya lanjutkan secara aktif sejak 2015 hingga sekarang. Selama bertahun-tahun saya menjalani terapi, minum obat, dan menghadapi stigma yang tak kalah berat dari gejala medis itu sendiri. Tapi saya tidak menyerah. Saya memilih untuk kembali menulis, bekerja, dan membuktikan bahwa pulih itu mungkin.

Yang menyedihkan, stigma terhadap ODGJ tidak hanya datang dari masyarakat umum, tetapi juga dari kalangan terdidik. Termasuk dari sesama wartawan.

Saya sering mendengar kabar bahwa riwayat penyakit saya masih menjadi bahan pembicaraan di kalangan jurnalis, terutama di Denpasar, Bali. Anehnya, pembicaraan itu sering berdampingan dengan apresiasi atas karya-karya saya di bidang jurnalistik, esai, dan puisi.

Buku-buku karya Angga Wijaya (penulis)

Saya tak menuntut semua orang paham sepenuhnya soal kesehatan mental. Tapi ketika orang yang telah pulih, stabil, dan terbukti produktif tetap dipertanyakan kapasitasnya hanya karena label “ODGJ”, maka di situlah saya sering bertanya; mengapa begitu sulit mempercayai bahwa orang dengan gangguan jiwa bisa pulih?

Saat berbincang dengan dr. I Putu Dharma Krisna Aji, Sp.KJ, seorang psikiater dan penulis buku, ia mengatakan bahwa konsep kesembuhan dalam dunia psikiatri tidak pernah bersifat absolut.

“Kalau kamu terus tumbuh, berarti kamu terus berubah. Kalau kamu berubah, berarti kamu belum selesai. Kalau belum selesai, mungkin kamu belum sembuh. Tapi bisa juga, justru itulah proses kesembuhan itu sendiri,” ujarnya.

Saya sangat memahami pernyataan itu. Kesembuhan bukan berarti kita 100% terbebas dari masa lalu. Tapi bagaimana kita bisa mengenali diri, mengelola gejala, dan hidup berdampingan dengan kenyataan—itulah yang disebut pulih.

Banyak orang masih menganggap bahwa “sembuh” berarti lepas total dari obat dan terapi. Padahal, seperti halnya penderita diabetes atau hipertensi, minum obat bisa menjadi bagian dari hidup, bukan penanda bahwa seseorang masih “sakit”.

Sejak awal 2018 hingga kini (2025), saya telah menerbitkan 15 buku—terdiri dari 8 kumpulan puisi dan 7 kumpulan esai dan artikel. Beberapa buku itu saya tulis dalam kondisi mental yang stabil, dengan disiplin dan kesadaran penuh terhadap proses kreatif saya.

Karya-karya tersebut telah mendapat apresiasi dari para kerabat dan sahabat, bahkan juga dari beberapa penulis senior di Bali, yang mengakui saya sebagai penyair, esais, dan wartawan Bali yang sangat produktif. Bagi saya, ini adalah bentuk kemenangan kecil atas label yang pernah dipasang pada diri saya.

Saya tidak menulis untuk menjadi hebat. Saya menulis untuk tetap hidup.

Buku kumpulan puisi terbaru, ‘Meditasi Telepon Genggam’

Stigma yang dilekatkan pada ODGJ sering bersumber dari ketidaktahuan. Banyak orang berpikir bahwa gangguan jiwa adalah sesuatu yang “selamanya rusak”. Karena itu, ketika ada penyintas yang kembali bekerja, bersosialisasi, bahkan menghasilkan karya, mereka justru dicurigai.

Lebih dari itu, penyintas sering kali harus menyembunyikan riwayat penyakitnya agar bisa diterima di lingkungan kerja. Ini ironi besar: ketika seseorang jujur, dia dicurigai. Ketika dia menyembunyikan, dia dianggap normal.

Saya percaya bahwa kita perlu mengubah cara pandang terhadap gangguan jiwa. Mulai dari tidak lagi memandangnya sebagai akhir, melainkan sebagai tantangan yang bisa dihadapi dengan pengobatan, dukungan sosial, dan keyakinan pada diri sendiri.

Dr. Krisna Aji juga mengatakan bahwa harapan besar justru datang dari generasi muda, terutama Gen-Z, yang kini lebih terbuka membicarakan isu kesehatan mental. Tapi, sayangnya, mereka masih sering terhambat oleh sikap orang tua yang tidak mau mendengar.

“Banyak anak datang ke saya, terapi sendiri, tanpa sepengetahuan orang tua. Lalu ketika saya minta orang tuanya ikut, mereka menolak. Padahal akarnya justru di sana,” ujarnya.

Ini memperlihatkan bahwa stigma tidak hanya soal pendidikan formal, tapi juga soal cara generasi terdahulu memahami luka batin. Banyak trauma diturunkan, tanpa disadari, dari orang tua ke anak.

Sebagai wartawan saat mewawancarai aktris  Putri Ayudya, 2018 | Foto: Gus Baruna

Saya ingin menegaskan sekali lagi, bahwa, ODGJ bisa pulih. Tapi untuk bisa kembali hidup normal, kami tak hanya butuh obat dan terapi. Kami juga butuh kepercayaan—dari lingkungan kerja, keluarga, masyarakat, dan media.

Masyarakat harus berhenti melihat penyintas ODGJ sebagai bom waktu. Sebaliknya, lihatlah mereka sebagai manusia yang telah melalui proses berat, bangkit, dan bertahan. Itu bukan kelemahan. Itu kekuatan.

Saya bukan satu-satunya yang berhasil. Ada banyak orang di luar sana—penyintas bipolar, penyintas depresi berat, penyintas PTSD—yang kini hidup mandiri, menikah, bekerja, berkarya. Tapi sayangnya, suara mereka sering tidak terdengar karena tenggelam dalam stigma yang menutup telinga banyak orang.

Saya menulis esai ini untuk membuka pintu kecil di benak Anda. Jika suatu saat Anda bertemu seseorang yang pernah mengalami gangguan jiwa dan kini terlihat baik-baik saja, jangan buru-buru menilai. Jangan buru-buru mengingat masa lalunya. Lihatlah apa yang telah ia capai hari ini.

Mungkin Anda tak pernah tahu, berapa keras ia berjuang untuk sampai ke titik itu. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA

Penulis adalah penyintas skizofrenia paranoid, wartawan, penyair, dan esais asal Jembrana, Bali. Telah menulis 15 buku sejak 2018, dan aktif bekerja sebagai wartawan sejak 2015.

Pengalaman Awal Mula Didiagnosa Skizofrenia
Post-Therapy: Semua Orang Pernah Sakit dan Terluka
Tags: kesehatan jiwaODGJ
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bungah dan Cekatan, Sekaa Gong Wanita Karang Asti Komala, Kuta Selatan, Badung, di Pesta Kesenian Bali 2025

Next Post

Melodi Bersuara: Hindia, .Feast, dan Lomba Sihir dalam Langkah Baskara Putra

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Melodi Bersuara: Hindia, .Feast, dan Lomba Sihir dalam Langkah Baskara Putra

Melodi Bersuara: Hindia, .Feast, dan Lomba Sihir dalam Langkah Baskara Putra

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co