3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

ODGJ Bisa Pulih, Mengapa Sulit Percaya?

Angga Wijaya by Angga Wijaya
July 9, 2025
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

Apa yang terlintas di benak ketika mendengar kata “ODGJ” atau orang dengan gangguan jiwa? Mungkin sebagian langsung membayangkan seseorang yang mengamuk, bicara sendiri di jalanan, atau dikurung di kamar gelap karena dianggap berbahaya.

Imaji ini sudah terlalu lama menempel dalam budaya kita—membentuk stigma yang sulit dibongkar.

Padahal, banyak penyintas gangguan jiwa—termasuk depresi, bipolar, bahkan skizofrenia—yang berhasil pulih dan hidup produktif. Saya menulis ini bukan hanya sebagai wartawan, tetapi juga sebagai penyintas skizofrenia paranoid yang pertama kali didiagnosis pada tahun 2009.

Saya mulai bekerja sebagai wartawan pada 2008, saat masih kuliah. Meskipun hanya sebentar, itu menjadi awal dari karier jurnalistik yang saya lanjutkan secara aktif sejak 2015 hingga sekarang. Selama bertahun-tahun saya menjalani terapi, minum obat, dan menghadapi stigma yang tak kalah berat dari gejala medis itu sendiri. Tapi saya tidak menyerah. Saya memilih untuk kembali menulis, bekerja, dan membuktikan bahwa pulih itu mungkin.

Yang menyedihkan, stigma terhadap ODGJ tidak hanya datang dari masyarakat umum, tetapi juga dari kalangan terdidik. Termasuk dari sesama wartawan.

Saya sering mendengar kabar bahwa riwayat penyakit saya masih menjadi bahan pembicaraan di kalangan jurnalis, terutama di Denpasar, Bali. Anehnya, pembicaraan itu sering berdampingan dengan apresiasi atas karya-karya saya di bidang jurnalistik, esai, dan puisi.

Buku-buku karya Angga Wijaya (penulis)

Saya tak menuntut semua orang paham sepenuhnya soal kesehatan mental. Tapi ketika orang yang telah pulih, stabil, dan terbukti produktif tetap dipertanyakan kapasitasnya hanya karena label “ODGJ”, maka di situlah saya sering bertanya; mengapa begitu sulit mempercayai bahwa orang dengan gangguan jiwa bisa pulih?

Saat berbincang dengan dr. I Putu Dharma Krisna Aji, Sp.KJ, seorang psikiater dan penulis buku, ia mengatakan bahwa konsep kesembuhan dalam dunia psikiatri tidak pernah bersifat absolut.

“Kalau kamu terus tumbuh, berarti kamu terus berubah. Kalau kamu berubah, berarti kamu belum selesai. Kalau belum selesai, mungkin kamu belum sembuh. Tapi bisa juga, justru itulah proses kesembuhan itu sendiri,” ujarnya.

Saya sangat memahami pernyataan itu. Kesembuhan bukan berarti kita 100% terbebas dari masa lalu. Tapi bagaimana kita bisa mengenali diri, mengelola gejala, dan hidup berdampingan dengan kenyataan—itulah yang disebut pulih.

Banyak orang masih menganggap bahwa “sembuh” berarti lepas total dari obat dan terapi. Padahal, seperti halnya penderita diabetes atau hipertensi, minum obat bisa menjadi bagian dari hidup, bukan penanda bahwa seseorang masih “sakit”.

Sejak awal 2018 hingga kini (2025), saya telah menerbitkan 15 buku—terdiri dari 8 kumpulan puisi dan 7 kumpulan esai dan artikel. Beberapa buku itu saya tulis dalam kondisi mental yang stabil, dengan disiplin dan kesadaran penuh terhadap proses kreatif saya.

Karya-karya tersebut telah mendapat apresiasi dari para kerabat dan sahabat, bahkan juga dari beberapa penulis senior di Bali, yang mengakui saya sebagai penyair, esais, dan wartawan Bali yang sangat produktif. Bagi saya, ini adalah bentuk kemenangan kecil atas label yang pernah dipasang pada diri saya.

Saya tidak menulis untuk menjadi hebat. Saya menulis untuk tetap hidup.

Buku kumpulan puisi terbaru, ‘Meditasi Telepon Genggam’

Stigma yang dilekatkan pada ODGJ sering bersumber dari ketidaktahuan. Banyak orang berpikir bahwa gangguan jiwa adalah sesuatu yang “selamanya rusak”. Karena itu, ketika ada penyintas yang kembali bekerja, bersosialisasi, bahkan menghasilkan karya, mereka justru dicurigai.

Lebih dari itu, penyintas sering kali harus menyembunyikan riwayat penyakitnya agar bisa diterima di lingkungan kerja. Ini ironi besar: ketika seseorang jujur, dia dicurigai. Ketika dia menyembunyikan, dia dianggap normal.

Saya percaya bahwa kita perlu mengubah cara pandang terhadap gangguan jiwa. Mulai dari tidak lagi memandangnya sebagai akhir, melainkan sebagai tantangan yang bisa dihadapi dengan pengobatan, dukungan sosial, dan keyakinan pada diri sendiri.

Dr. Krisna Aji juga mengatakan bahwa harapan besar justru datang dari generasi muda, terutama Gen-Z, yang kini lebih terbuka membicarakan isu kesehatan mental. Tapi, sayangnya, mereka masih sering terhambat oleh sikap orang tua yang tidak mau mendengar.

“Banyak anak datang ke saya, terapi sendiri, tanpa sepengetahuan orang tua. Lalu ketika saya minta orang tuanya ikut, mereka menolak. Padahal akarnya justru di sana,” ujarnya.

Ini memperlihatkan bahwa stigma tidak hanya soal pendidikan formal, tapi juga soal cara generasi terdahulu memahami luka batin. Banyak trauma diturunkan, tanpa disadari, dari orang tua ke anak.

Sebagai wartawan saat mewawancarai aktris  Putri Ayudya, 2018 | Foto: Gus Baruna

Saya ingin menegaskan sekali lagi, bahwa, ODGJ bisa pulih. Tapi untuk bisa kembali hidup normal, kami tak hanya butuh obat dan terapi. Kami juga butuh kepercayaan—dari lingkungan kerja, keluarga, masyarakat, dan media.

Masyarakat harus berhenti melihat penyintas ODGJ sebagai bom waktu. Sebaliknya, lihatlah mereka sebagai manusia yang telah melalui proses berat, bangkit, dan bertahan. Itu bukan kelemahan. Itu kekuatan.

Saya bukan satu-satunya yang berhasil. Ada banyak orang di luar sana—penyintas bipolar, penyintas depresi berat, penyintas PTSD—yang kini hidup mandiri, menikah, bekerja, berkarya. Tapi sayangnya, suara mereka sering tidak terdengar karena tenggelam dalam stigma yang menutup telinga banyak orang.

Saya menulis esai ini untuk membuka pintu kecil di benak Anda. Jika suatu saat Anda bertemu seseorang yang pernah mengalami gangguan jiwa dan kini terlihat baik-baik saja, jangan buru-buru menilai. Jangan buru-buru mengingat masa lalunya. Lihatlah apa yang telah ia capai hari ini.

Mungkin Anda tak pernah tahu, berapa keras ia berjuang untuk sampai ke titik itu. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA

Penulis adalah penyintas skizofrenia paranoid, wartawan, penyair, dan esais asal Jembrana, Bali. Telah menulis 15 buku sejak 2018, dan aktif bekerja sebagai wartawan sejak 2015.

Pengalaman Awal Mula Didiagnosa Skizofrenia
Post-Therapy: Semua Orang Pernah Sakit dan Terluka
Tags: kesehatan jiwaODGJ
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bungah dan Cekatan, Sekaa Gong Wanita Karang Asti Komala, Kuta Selatan, Badung, di Pesta Kesenian Bali 2025

Next Post

Melodi Bersuara: Hindia, .Feast, dan Lomba Sihir dalam Langkah Baskara Putra

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Melodi Bersuara: Hindia, .Feast, dan Lomba Sihir dalam Langkah Baskara Putra

Melodi Bersuara: Hindia, .Feast, dan Lomba Sihir dalam Langkah Baskara Putra

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co