3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melodi Bersuara: Hindia, .Feast, dan Lomba Sihir dalam Langkah Baskara Putra

Putu Gangga Pradipta by Putu Gangga Pradipta
July 9, 2025
in Ulas Musik
Melodi Bersuara: Hindia, .Feast, dan Lomba Sihir dalam Langkah Baskara Putra

Baskara Putra | Foto: Pinterest

DI tengah hingar-bingar industri musik Indonesia, satu nama hadir tak sekadar membawa lagu, melainkan membawa suara. Bukan suara vokal semata, tetapi suara hati, suara masyarakat, bahkan suara dunia yang kerap luput dari perhatian. Nama itu adalah Baskara Putra. Ia meniti langkahnya melalui tiga entitas musik yang berbeda rupa tapi sejiwa: Hindia, .Feast, dan Lomba Sihir.

Dalam Hindia, Baskara menyanyikan melodi yang nyaris seperti bisikan hati sendiri. Lirik-liriknya menggambarkan kegelisahan anak muda urban, krisis identitas, keresahan atas ekspektasi, dan kejujuran tentang luka-luka yang tak selalu terlihat. Lagu-lagu seperti catatan harian yang akhirnya dinyanyikan dengan getir tapi indah. Ini adalah Baskara yang reflektif, personal, dan melodius—di sinilah melodi bersuara lirih.

Namun suara itu berubah menjadi teriakan ketika ia berdiri sebagai vokalis .Feast. Di sini, melodi bukan lagi tentang diri sendiri, tapi tentang orang banyak. Tentang keadilan yang tak merata, tentang kebisingan politik, tentang masyarakat yang kerap lupa siapa dirinya. .Feast seperti ruang panggung bagi Baskara untuk berseru, bukan merayu. Musiknya keras, cepat, dan penuh amarah. Tapi bukan tanpa alasan. Ia mengajak pendengar untuk bangun, untuk bertanya, dan untuk menolak diam.

Baskara Putra saat di Hindia | Foto: Pinterest

Lalu, di satu ruang lain, ada Lomba Sihir—wadah bagi eksperimen dan kebebasan musikal yang nyaris seperti mimpi. Jika Hindia berbicara tentang hati, dan .Feast tentang nurani sosial, maka Lomba Sihir adalah permainan yang menyuarakan kegembiraan, keanehan, dan kadang kegilaan. Melodi dalam Lomba Sihir tidak terikat, bahkan cenderung menari bebas. Tapi di situlah letak pesonanya. Baskara tidak hanya berpikir keras, ia juga membiarkan dirinya bermain.

Ketiga proyek ini seperti tiga bagian dari satu simfoni besar. Hindia adalah adagio—lambat, dalam, dan kontemplatif. .Feast adalah allegro—cepat, kuat, dan menantang. Lomba Sihir adalah scherzo—ringan, jenaka, dan penuh kejutan. Ketiganya memiliki tempo berbeda, tapi dimainkan oleh satu konduktor yang sama: Baskara Putra.

Baskara Putra bersama .Feast | Foto: Pinterest

Apa yang membuat Baskara begitu menarik adalah keberaniannya untuk menaruh dirinya dalam berbagai bentuk. Ia tidak membatasi peran hanya sebagai penyanyi, melainkan juga penulis lagu, produser, dan pemikir musikal. Dalam setiap proyeknya, ia bukan sekadar tampil; ia membentuk, membangun, dan menyuarakan sesuatu yang lebih besar dari sekadar musik.

Melodi dalam Hindia, .Feast, dan Lomba Sihir bukan hanya karya audio, tapi juga karya naratif. Setiap lirik seperti potongan kisah. Ada cerita tentang pertemanan, perpisahan, kota yang penuh tekanan, bahkan tentang harapan dan kehilangan. Semuanya tidak hadir sebagai jargon, tetapi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari yang bisa kita alami sendiri.

Baskara Putra bersama .Feast | Foto: Pinterest

Sebagai Hindia, Baskara menghadirkan ruang yang nyaris terapi. Banyak pendengarnya merasa dimengerti tanpa perlu berbicara. Lagu-lagunya memberi kata pada rasa yang sulit diungkap. Maka tak heran jika konser Hindia terasa seperti ruang bersama, di mana setiap orang datang dengan kisahnya, lalu pulang dengan kelegaan.

Sebaliknya, .Feast adalah medan tempur musikal. Ia tidak mengajak untuk merenung, tapi untuk melawan. Dalam era yang penuh distraksi dan pengalihan isu, suara .Feast hadir sebagai pengingat bahwa tidak semua harus dibiarkan. Baskara menyuarakan keresahan yang tak semua orang punya keberanian untuk ucapkan.

Kemudian datang Lomba Sihir, dengan lirik-lirik yang lebih imajinatif dan bebas. Musik di sini tak lagi menempel pada logika, tetapi melayang bersama rasa dan intuisi. Lagu-lagunya mungkin terdengar aneh bagi sebagian orang, tapi justru itulah kekuatannya. Dalam dunia yang serba seragam, Lomba Sihir hadir sebagai penolakan atas kejenuhan.

Melalui ketiga proyek ini, Baskara Putra tidak hanya membuktikan dirinya sebagai musisi, tapi juga sebagai pelaku budaya. Ia memanfaatkan musik untuk berbicara tentang kehidupan, masyarakat, dan bahkan absurditas eksistensi manusia. Ia tahu kapan harus berbisik, kapan harus berteriak, dan kapan harus tertawa.

Baskara Putra bersama Lomba Sihir | Foto: Pinterest

Yang membuat karya-karyanya begitu melekat di hati pendengar adalah karena ia jujur. Ia tidak memoles kenyataan, tapi juga tidak menjual kesedihan. Ia hadir dengan segala kompleksitasnya, dan itulah yang membuat suaranya begitu tulus. Di balik kesuksesannya, Baskara tetap menjadi manusia biasa yang menulis dari tempat yang nyata.

Bagi generasi muda, Baskara adalah suara yang merepresentasikan mereka: kadang takut, kadang marah, kadang ingin melarikan diri. Tapi yang pasti, selalu ingin dimengerti. Dan dalam dunia yang semakin cepat dan bising, karya Baskara adalah jeda yang diperlukan untuk berpikir dan merasa.

Hindia, .Feast, dan Lomba Sihir telah menjadi lebih dari sekadar nama proyek musik. Mereka adalah manifestasi dari tiga sisi manusia: pribadi, sosial, dan kreatif. Dalam satu perjalanan musik, Baskara berhasil menjahit ketiganya menjadi satu karya yang utuh dan terus berkembang.

Pada akhirnya, langkah Baskara Putra bukan hanya meninggalkan jejak di industri musik, tapi juga dalam kehidupan pendengarnya. Melodi-melodi yang ia ciptakan bukan hanya untuk didengar, tapi untuk direnungi, diperjuangkan, dan dinikmati.

Dalam Hindia ia bicara lembut, dalam .Feast ia bersuara lantang, dan dalam Lomba Sihir ia tertawa lepas. Semua itu bukan kontradiksi, melainkan harmoni. Harmoni dari seorang manusia yang memilih menyuarakan dunianya dengan jujur dan berani.[T]

Penulis: Putu Gangga Pradipta
Editor: Jaswanto

  • BACA JUGA:
Tulus dan Pesona Lirik Puitis: Menelusuri Jiwa Remaja dalam “Tujuh Belas”
Pembacaan Heuristik dan Hermeneutik Lagu “Guru Oemar Bakrie” Karya Iwan Fals
Berimajinasi Bersama Repertoar “Canson” Karya Noé Clerc Trio dari Prancis
Musik Legendaris untuk Kita Tetap Waras
Tags: .FeastBaskara PutraHindiaLomba Shirmusik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

ODGJ Bisa Pulih, Mengapa Sulit Percaya?

Next Post

Generasi (L)emas: Saat Bonus Demografi Bisa Jadi Bencana

Putu Gangga Pradipta

Putu Gangga Pradipta

Lahir di Surabaya, kini sedang menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Singaraja.

Related Posts

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
0
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

Read moreDetails

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

by Ahmad Sihabudin
June 13, 2026
0
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang...

Read moreDetails

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
0
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

Read moreDetails
Next Post
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Generasi (L)emas: Saat Bonus Demografi Bisa Jadi Bencana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co