14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melodi Bersuara: Hindia, .Feast, dan Lomba Sihir dalam Langkah Baskara Putra

Putu Gangga Pradipta by Putu Gangga Pradipta
July 9, 2025
in Ulas Musik
Melodi Bersuara: Hindia, .Feast, dan Lomba Sihir dalam Langkah Baskara Putra

Baskara Putra | Foto: Pinterest

DI tengah hingar-bingar industri musik Indonesia, satu nama hadir tak sekadar membawa lagu, melainkan membawa suara. Bukan suara vokal semata, tetapi suara hati, suara masyarakat, bahkan suara dunia yang kerap luput dari perhatian. Nama itu adalah Baskara Putra. Ia meniti langkahnya melalui tiga entitas musik yang berbeda rupa tapi sejiwa: Hindia, .Feast, dan Lomba Sihir.

Dalam Hindia, Baskara menyanyikan melodi yang nyaris seperti bisikan hati sendiri. Lirik-liriknya menggambarkan kegelisahan anak muda urban, krisis identitas, keresahan atas ekspektasi, dan kejujuran tentang luka-luka yang tak selalu terlihat. Lagu-lagu seperti catatan harian yang akhirnya dinyanyikan dengan getir tapi indah. Ini adalah Baskara yang reflektif, personal, dan melodius—di sinilah melodi bersuara lirih.

Namun suara itu berubah menjadi teriakan ketika ia berdiri sebagai vokalis .Feast. Di sini, melodi bukan lagi tentang diri sendiri, tapi tentang orang banyak. Tentang keadilan yang tak merata, tentang kebisingan politik, tentang masyarakat yang kerap lupa siapa dirinya. .Feast seperti ruang panggung bagi Baskara untuk berseru, bukan merayu. Musiknya keras, cepat, dan penuh amarah. Tapi bukan tanpa alasan. Ia mengajak pendengar untuk bangun, untuk bertanya, dan untuk menolak diam.

Baskara Putra saat di Hindia | Foto: Pinterest

Lalu, di satu ruang lain, ada Lomba Sihir—wadah bagi eksperimen dan kebebasan musikal yang nyaris seperti mimpi. Jika Hindia berbicara tentang hati, dan .Feast tentang nurani sosial, maka Lomba Sihir adalah permainan yang menyuarakan kegembiraan, keanehan, dan kadang kegilaan. Melodi dalam Lomba Sihir tidak terikat, bahkan cenderung menari bebas. Tapi di situlah letak pesonanya. Baskara tidak hanya berpikir keras, ia juga membiarkan dirinya bermain.

Ketiga proyek ini seperti tiga bagian dari satu simfoni besar. Hindia adalah adagio—lambat, dalam, dan kontemplatif. .Feast adalah allegro—cepat, kuat, dan menantang. Lomba Sihir adalah scherzo—ringan, jenaka, dan penuh kejutan. Ketiganya memiliki tempo berbeda, tapi dimainkan oleh satu konduktor yang sama: Baskara Putra.

Baskara Putra bersama .Feast | Foto: Pinterest

Apa yang membuat Baskara begitu menarik adalah keberaniannya untuk menaruh dirinya dalam berbagai bentuk. Ia tidak membatasi peran hanya sebagai penyanyi, melainkan juga penulis lagu, produser, dan pemikir musikal. Dalam setiap proyeknya, ia bukan sekadar tampil; ia membentuk, membangun, dan menyuarakan sesuatu yang lebih besar dari sekadar musik.

Melodi dalam Hindia, .Feast, dan Lomba Sihir bukan hanya karya audio, tapi juga karya naratif. Setiap lirik seperti potongan kisah. Ada cerita tentang pertemanan, perpisahan, kota yang penuh tekanan, bahkan tentang harapan dan kehilangan. Semuanya tidak hadir sebagai jargon, tetapi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari yang bisa kita alami sendiri.

Baskara Putra bersama .Feast | Foto: Pinterest

Sebagai Hindia, Baskara menghadirkan ruang yang nyaris terapi. Banyak pendengarnya merasa dimengerti tanpa perlu berbicara. Lagu-lagunya memberi kata pada rasa yang sulit diungkap. Maka tak heran jika konser Hindia terasa seperti ruang bersama, di mana setiap orang datang dengan kisahnya, lalu pulang dengan kelegaan.

Sebaliknya, .Feast adalah medan tempur musikal. Ia tidak mengajak untuk merenung, tapi untuk melawan. Dalam era yang penuh distraksi dan pengalihan isu, suara .Feast hadir sebagai pengingat bahwa tidak semua harus dibiarkan. Baskara menyuarakan keresahan yang tak semua orang punya keberanian untuk ucapkan.

Kemudian datang Lomba Sihir, dengan lirik-lirik yang lebih imajinatif dan bebas. Musik di sini tak lagi menempel pada logika, tetapi melayang bersama rasa dan intuisi. Lagu-lagunya mungkin terdengar aneh bagi sebagian orang, tapi justru itulah kekuatannya. Dalam dunia yang serba seragam, Lomba Sihir hadir sebagai penolakan atas kejenuhan.

Melalui ketiga proyek ini, Baskara Putra tidak hanya membuktikan dirinya sebagai musisi, tapi juga sebagai pelaku budaya. Ia memanfaatkan musik untuk berbicara tentang kehidupan, masyarakat, dan bahkan absurditas eksistensi manusia. Ia tahu kapan harus berbisik, kapan harus berteriak, dan kapan harus tertawa.

Baskara Putra bersama Lomba Sihir | Foto: Pinterest

Yang membuat karya-karyanya begitu melekat di hati pendengar adalah karena ia jujur. Ia tidak memoles kenyataan, tapi juga tidak menjual kesedihan. Ia hadir dengan segala kompleksitasnya, dan itulah yang membuat suaranya begitu tulus. Di balik kesuksesannya, Baskara tetap menjadi manusia biasa yang menulis dari tempat yang nyata.

Bagi generasi muda, Baskara adalah suara yang merepresentasikan mereka: kadang takut, kadang marah, kadang ingin melarikan diri. Tapi yang pasti, selalu ingin dimengerti. Dan dalam dunia yang semakin cepat dan bising, karya Baskara adalah jeda yang diperlukan untuk berpikir dan merasa.

Hindia, .Feast, dan Lomba Sihir telah menjadi lebih dari sekadar nama proyek musik. Mereka adalah manifestasi dari tiga sisi manusia: pribadi, sosial, dan kreatif. Dalam satu perjalanan musik, Baskara berhasil menjahit ketiganya menjadi satu karya yang utuh dan terus berkembang.

Pada akhirnya, langkah Baskara Putra bukan hanya meninggalkan jejak di industri musik, tapi juga dalam kehidupan pendengarnya. Melodi-melodi yang ia ciptakan bukan hanya untuk didengar, tapi untuk direnungi, diperjuangkan, dan dinikmati.

Dalam Hindia ia bicara lembut, dalam .Feast ia bersuara lantang, dan dalam Lomba Sihir ia tertawa lepas. Semua itu bukan kontradiksi, melainkan harmoni. Harmoni dari seorang manusia yang memilih menyuarakan dunianya dengan jujur dan berani.[T]

Penulis: Putu Gangga Pradipta
Editor: Jaswanto

  • BACA JUGA:
Tulus dan Pesona Lirik Puitis: Menelusuri Jiwa Remaja dalam “Tujuh Belas”
Pembacaan Heuristik dan Hermeneutik Lagu “Guru Oemar Bakrie” Karya Iwan Fals
Berimajinasi Bersama Repertoar “Canson” Karya Noé Clerc Trio dari Prancis
Musik Legendaris untuk Kita Tetap Waras
Tags: .FeastBaskara PutraHindiaLomba Shirmusik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

ODGJ Bisa Pulih, Mengapa Sulit Percaya?

Next Post

Generasi (L)emas: Saat Bonus Demografi Bisa Jadi Bencana

Putu Gangga Pradipta

Putu Gangga Pradipta

Lahir di Surabaya, kini sedang menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Singaraja.

Related Posts

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
0
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

Read moreDetails

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

by Ahmad Sihabudin
June 13, 2026
0
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang...

Read moreDetails

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
0
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

Read moreDetails

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

by Wahyu Thoyyib Pambayun
May 25, 2026
0
Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT)...

Read moreDetails

Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

by Ahmad Sihabudin
May 22, 2026
0
Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

LAGU “The Park” dari album Salisbury karya Uriah Heep sering dipahami sebagai balada progresif yang kontemplatif dan melankolis. Dengan vokal...

Read moreDetails

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

by Ida Ayu Made Dwi Antari
May 20, 2026
0
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending' Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending...

Read moreDetails
Next Post
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Generasi (L)emas: Saat Bonus Demografi Bisa Jadi Bencana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co