24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melodi Bersuara: Hindia, .Feast, dan Lomba Sihir dalam Langkah Baskara Putra

Putu Gangga Pradipta by Putu Gangga Pradipta
July 9, 2025
in Ulas Musik
Melodi Bersuara: Hindia, .Feast, dan Lomba Sihir dalam Langkah Baskara Putra

Baskara Putra | Foto: Pinterest

DI tengah hingar-bingar industri musik Indonesia, satu nama hadir tak sekadar membawa lagu, melainkan membawa suara. Bukan suara vokal semata, tetapi suara hati, suara masyarakat, bahkan suara dunia yang kerap luput dari perhatian. Nama itu adalah Baskara Putra. Ia meniti langkahnya melalui tiga entitas musik yang berbeda rupa tapi sejiwa: Hindia, .Feast, dan Lomba Sihir.

Dalam Hindia, Baskara menyanyikan melodi yang nyaris seperti bisikan hati sendiri. Lirik-liriknya menggambarkan kegelisahan anak muda urban, krisis identitas, keresahan atas ekspektasi, dan kejujuran tentang luka-luka yang tak selalu terlihat. Lagu-lagu seperti catatan harian yang akhirnya dinyanyikan dengan getir tapi indah. Ini adalah Baskara yang reflektif, personal, dan melodius—di sinilah melodi bersuara lirih.

Namun suara itu berubah menjadi teriakan ketika ia berdiri sebagai vokalis .Feast. Di sini, melodi bukan lagi tentang diri sendiri, tapi tentang orang banyak. Tentang keadilan yang tak merata, tentang kebisingan politik, tentang masyarakat yang kerap lupa siapa dirinya. .Feast seperti ruang panggung bagi Baskara untuk berseru, bukan merayu. Musiknya keras, cepat, dan penuh amarah. Tapi bukan tanpa alasan. Ia mengajak pendengar untuk bangun, untuk bertanya, dan untuk menolak diam.

Baskara Putra saat di Hindia | Foto: Pinterest

Lalu, di satu ruang lain, ada Lomba Sihir—wadah bagi eksperimen dan kebebasan musikal yang nyaris seperti mimpi. Jika Hindia berbicara tentang hati, dan .Feast tentang nurani sosial, maka Lomba Sihir adalah permainan yang menyuarakan kegembiraan, keanehan, dan kadang kegilaan. Melodi dalam Lomba Sihir tidak terikat, bahkan cenderung menari bebas. Tapi di situlah letak pesonanya. Baskara tidak hanya berpikir keras, ia juga membiarkan dirinya bermain.

Ketiga proyek ini seperti tiga bagian dari satu simfoni besar. Hindia adalah adagio—lambat, dalam, dan kontemplatif. .Feast adalah allegro—cepat, kuat, dan menantang. Lomba Sihir adalah scherzo—ringan, jenaka, dan penuh kejutan. Ketiganya memiliki tempo berbeda, tapi dimainkan oleh satu konduktor yang sama: Baskara Putra.

Baskara Putra bersama .Feast | Foto: Pinterest

Apa yang membuat Baskara begitu menarik adalah keberaniannya untuk menaruh dirinya dalam berbagai bentuk. Ia tidak membatasi peran hanya sebagai penyanyi, melainkan juga penulis lagu, produser, dan pemikir musikal. Dalam setiap proyeknya, ia bukan sekadar tampil; ia membentuk, membangun, dan menyuarakan sesuatu yang lebih besar dari sekadar musik.

Melodi dalam Hindia, .Feast, dan Lomba Sihir bukan hanya karya audio, tapi juga karya naratif. Setiap lirik seperti potongan kisah. Ada cerita tentang pertemanan, perpisahan, kota yang penuh tekanan, bahkan tentang harapan dan kehilangan. Semuanya tidak hadir sebagai jargon, tetapi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari yang bisa kita alami sendiri.

Baskara Putra bersama .Feast | Foto: Pinterest

Sebagai Hindia, Baskara menghadirkan ruang yang nyaris terapi. Banyak pendengarnya merasa dimengerti tanpa perlu berbicara. Lagu-lagunya memberi kata pada rasa yang sulit diungkap. Maka tak heran jika konser Hindia terasa seperti ruang bersama, di mana setiap orang datang dengan kisahnya, lalu pulang dengan kelegaan.

Sebaliknya, .Feast adalah medan tempur musikal. Ia tidak mengajak untuk merenung, tapi untuk melawan. Dalam era yang penuh distraksi dan pengalihan isu, suara .Feast hadir sebagai pengingat bahwa tidak semua harus dibiarkan. Baskara menyuarakan keresahan yang tak semua orang punya keberanian untuk ucapkan.

Kemudian datang Lomba Sihir, dengan lirik-lirik yang lebih imajinatif dan bebas. Musik di sini tak lagi menempel pada logika, tetapi melayang bersama rasa dan intuisi. Lagu-lagunya mungkin terdengar aneh bagi sebagian orang, tapi justru itulah kekuatannya. Dalam dunia yang serba seragam, Lomba Sihir hadir sebagai penolakan atas kejenuhan.

Melalui ketiga proyek ini, Baskara Putra tidak hanya membuktikan dirinya sebagai musisi, tapi juga sebagai pelaku budaya. Ia memanfaatkan musik untuk berbicara tentang kehidupan, masyarakat, dan bahkan absurditas eksistensi manusia. Ia tahu kapan harus berbisik, kapan harus berteriak, dan kapan harus tertawa.

Baskara Putra bersama Lomba Sihir | Foto: Pinterest

Yang membuat karya-karyanya begitu melekat di hati pendengar adalah karena ia jujur. Ia tidak memoles kenyataan, tapi juga tidak menjual kesedihan. Ia hadir dengan segala kompleksitasnya, dan itulah yang membuat suaranya begitu tulus. Di balik kesuksesannya, Baskara tetap menjadi manusia biasa yang menulis dari tempat yang nyata.

Bagi generasi muda, Baskara adalah suara yang merepresentasikan mereka: kadang takut, kadang marah, kadang ingin melarikan diri. Tapi yang pasti, selalu ingin dimengerti. Dan dalam dunia yang semakin cepat dan bising, karya Baskara adalah jeda yang diperlukan untuk berpikir dan merasa.

Hindia, .Feast, dan Lomba Sihir telah menjadi lebih dari sekadar nama proyek musik. Mereka adalah manifestasi dari tiga sisi manusia: pribadi, sosial, dan kreatif. Dalam satu perjalanan musik, Baskara berhasil menjahit ketiganya menjadi satu karya yang utuh dan terus berkembang.

Pada akhirnya, langkah Baskara Putra bukan hanya meninggalkan jejak di industri musik, tapi juga dalam kehidupan pendengarnya. Melodi-melodi yang ia ciptakan bukan hanya untuk didengar, tapi untuk direnungi, diperjuangkan, dan dinikmati.

Dalam Hindia ia bicara lembut, dalam .Feast ia bersuara lantang, dan dalam Lomba Sihir ia tertawa lepas. Semua itu bukan kontradiksi, melainkan harmoni. Harmoni dari seorang manusia yang memilih menyuarakan dunianya dengan jujur dan berani.[T]

Penulis: Putu Gangga Pradipta
Editor: Jaswanto

  • BACA JUGA:
Tulus dan Pesona Lirik Puitis: Menelusuri Jiwa Remaja dalam “Tujuh Belas”
Pembacaan Heuristik dan Hermeneutik Lagu “Guru Oemar Bakrie” Karya Iwan Fals
Berimajinasi Bersama Repertoar “Canson” Karya Noé Clerc Trio dari Prancis
Musik Legendaris untuk Kita Tetap Waras
Tags: .FeastBaskara PutraHindiaLomba Shirmusik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

ODGJ Bisa Pulih, Mengapa Sulit Percaya?

Next Post

Generasi (L)emas: Saat Bonus Demografi Bisa Jadi Bencana

Putu Gangga Pradipta

Putu Gangga Pradipta

Lahir di Surabaya, kini sedang menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Singaraja.

Related Posts

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
0
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

Read moreDetails

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

by Ahmad Sihabudin
June 13, 2026
0
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang...

Read moreDetails

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
0
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

Read moreDetails

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

by Wahyu Thoyyib Pambayun
May 25, 2026
0
Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT)...

Read moreDetails

Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

by Ahmad Sihabudin
May 22, 2026
0
Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

LAGU “The Park” dari album Salisbury karya Uriah Heep sering dipahami sebagai balada progresif yang kontemplatif dan melankolis. Dengan vokal...

Read moreDetails

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

by Ida Ayu Made Dwi Antari
May 20, 2026
0
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending' Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending...

Read moreDetails

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
0
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

Read moreDetails

’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

by Ahmad Sihabudin
May 1, 2026
0
’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

FENOMENA viralnya lagu “Siti Mawarni Ya Incek” tidak bisa dibaca sekadar lagu hiburan digital yang lewat begitu saja. Ia adalah...

Read moreDetails

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
0
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

Read moreDetails
Next Post
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Generasi (L)emas: Saat Bonus Demografi Bisa Jadi Bencana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co