2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pengalaman Awal Mula Didiagnosa Skizofrenia

Angga Wijaya by Angga Wijaya
April 28, 2025
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

PRIA yang suka menulis novel itu tampak berbaring santai. Di sela jarinya, terselip sebatang rokok yang sedang menyala. Itu adalah rokok kesekian kalinya sore itu. Ia menghadiri acara diskusi tentang puisi dan terapi, dihubungkan dengan skizofrenia, penyakit mental yang belakangan banyak menghinggapi anak muda. Diskusi berlangsung di Denpasar, Bali, beberapa tahun lalu.

Namanya Saka. Ia tak mau dipanggil dengan nama lengkap. Saka sebenarnya keturunan Brahmana, pembagian sosial berdasarkankan profesi, memiliki tugas memberi pencerahan pada masyarakat. Saya menyapanya, dan ia menjawab dengan suara pelan. Ketika itu ia mulai aktif bergiat di Rumah Berdaya Denpasar, komunitas rehabilitasi psikososial dan pemberdayaan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), tempat kami bertemu kali pertama.

Kala itu, ia datang dengan tampilan wah; berkaca mata hitam, mengendari sepeda motor sport tetapi dengan pakaian tak lazim bahkan bisa dibilang bertolak belakang. Saya menyangka ia seorang seniman. Gaya bicaranya lugas, seperti ciri khas masyarakat pesisir. Benar saja, saat kami mengobrol, ia mengaku berasal dari Buleleng, kabupaten yang pada masa penjajahan Belanda merupakan ibu kota Sunda Kecil, wilayah yang membawahi Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Saka banyak menyebut soal telepati, ia percaya memiiki kekuatan supranatural tersebut. Ia bicara tentang hal tersebut dengan sangat percaya diri. Bagi saya yang memang sejak dulu menyukai spiritualitas dan meditasi, apa yang ia bicarakan bukan merupakan hal yang asing, sebab dahulu saya pernah tertarik mempelajari bidang itu.

Melihat dan mengenal Saka, saya seperti berhadapan dengan cermin. Dulu, saya pernah kuliah, banyak membaca buku, dan suka berdiskusi. Debat menjadi sesuatu yang tak terhindarkan saat saya bertemu dengan narasumber sebuah diskusi, dalam seminar atau di luar ruang kuliah. Saya terus merasa gelisah, belum merasa puas atas pelajaran atau ilmu yang didapat dari kampus.

Kepintaran dan kecerdasan tak membuat saya puas, malah membuat saya arogan. Ada kepuasan saat melihat lawan bicara atau diskusi menyerah kalah, atau menjadi marah pada saya. Tak hanya diskusi di dunia nyata, tapi juga di dunia maya. Waktu itu internet mulai masuk di Indonesia,  saya kuliah sembaru bekerja menjadi operator warung internet (warnet) di Denpasar, membuat saya bisa online sepanjang waktu.

Saya masih ingat; waktu itu hari menjelang malam, saya dijemput oleh ayah saya, beliau mengendarai sepeda motor butut, menempuk jarrah ratusan kilometer demi bertemu saya, yang oleh petugas keamanan disebut mengamuk di dekat sebuah warung di sebuah wilayah di Buleleng. Terakhir yang saya ingat, saya duduk bersila di bawah sebuah pohon, meminta pertolongan Tuhan karena saya tak sanggup lagi mendengar bisikan suara yang semakin keras di telinga saya. Suara itu menyatakan sesuatu, bahwa saya akan ditangkap karena aktivisme saya.

Keyakinan itu muncul saat berada di rumah seorang bibi di Singaraja, sehari sebelum peristiwa tersebut. Kala itu, saya bersama keponakan mengendarai sepeda motor dari Negara, Jembrana, menuju kota di ujung utara Pulau Bali tersebut. Kami bermaksud menjenguk sang bibi. Beliau dalam masa pemulihan usai menjalani operasi tulang setelah terpeleset di kamar mandi. Bibi saya hanya sekilas mengenali kami. Maklum saja, usia beliau saat itu sudah sangat renta.

Saya memutuskan menginap di rumah bibi, sedangkan keponakan saya menginap di rumah pamannya, kakak dari ibunya. Kami berpisah malam itu. Sepeda motor yang kami kendarai ia serahkan pada saya. Keanehan mulai muncul, saat membaca koran sebuah harian lokal, mata saya tertuju pada surat pembaca yang seingat saya berisi pendapat, orang-orang yang kritis sebaiknya dihukum mati. Saya ketakutan membacanya, merasa tulisan tersebut ditujukan pada diri saya. Saat itu adalah mahasiswa yang terbilang kritis. Terkadang saya kurang sadar, apa yang saya tulis di berbagai mailing list (milist) waktu itu bisa berujung pada hal yang buruk. Itu perasaan saya yang saya yakini sebagai sebuah hal yang nyata dan benar adanya.

Malam itu saya benar-benar takut. Di telinga, terdengar bisikan yang menyuruh saya untuk balik pulang ke Negara, karena jika tidak saya akan dibunuh. Saya berpamitan pada penjaga rumah bibi, kemudian mengendarai sepeda motor yang dipakai keponakan saya, tanpa ia mengetahuinya. Saya merasa bisikan di telinga tersebut harus diikuti dan dituruti saat itu juga. Malam itu, saya berangkat dengan bensin yang sedikit, tanpa membawa perbekalan, baik uang atau makanan.

Karena bensin yang tak mencukupi, sepeda motor yang saya kendarai berhenti di wilayah barat Singaraja. Di sebuah perempatan jalan, yang sepertinya berdekatan dengan sebuah pasar. Hari hampir tengah malam, bisikan suara makin kencang terdengar..Saya mencari cara untuk bermalam di jalanan. Akhirnya, saya bersembunyi di sebuah halaman merajan atau pura keluarga. Saya takut, melihat cahaya kendaraan bagai melihat api leak, entitas gaib yang dipercaya masyarakat Bali sebagai sesuatu yang negatif. Satu kota sepertinya mengejar saya.

Saya berada di pura itu hingga menjelang fajar. Semalam saya terjaga dan tidak tidur. Keesokan harinya, saat para tukang ojek mulai muncul, saya berbicara pada salah satu dari dua tukang ojek untuk diantarkan ke Singaraja, menemui kembali keponkan saya dan menjelaskan tentang keadaan diri saya. Kunci sepeda motor yang saya bawa entah hilang kemana, pada kegelapan malam yang menakutkan.

Di tas saya tersimpan sebuah kamera lama, saya membayar jasa tukang ojek dengan barang tersebut. Saat tiba di rumah bibi saya, tampak keponakan saya merasa aneh dengan diri saya. Ia agak panik, di matanya tampak ada juga kesedihan. Ketika itu hari Senin, saya meyakininya karena paman dari keponakan saya memakai baju seragam dan saat menjemput saya dia menelepon rekan kerja untuk meminta izin terlambat mengikuti upacara bendera.

Dia menanyakan di mana sepeda motor yang saya kendarai. Saya menjawab, sepeda motor ada di wilayah ujung barat Singaraja. Lalu kami bersama ke sana menaiki sepeda motor miliknya. Sepeda motor yang saya bawa masih terparkir di pinggir jalan. Dia kemudian mencari tukang kunci agar sepeda motor bisa dibawa kembali ke Singaraja. Olehnya saya diberi uang sebagai ongkos bus yang akan membawa saya kembali ke Negara, Jembrana, kampung halaman saya. Kami kemudian berpisah, dan saya telah mendapatkan bus untuk pulang.

Namun setelah berada di dalam bus, bisikan suara itu datang lagi, dan terus berulang. Ada suara yang membisiki dan menyuruh saya keluar dan berganti bus. Itu terjadi berulang, hingga sekitar tiga kali. Sampai uang yang saya benar-benar habis, dan saya memutuskan untuk berjalan kaki, pulang menuju Negara, Jembrana, untuk meminta perlindungan. Saya amat takut, tetapi dalam lubuk hati saya tetap tenang. Di jalan, bibir saya tak berhenti mengucapkan doa dan mengulang-ualng nama suci Tuhan, seperti apa yang saya yakini dan pelajari sejak usia remaja.

Saya berjalan kaki cukup jauh, ada kira-kira tujuh kilometer, hingga tertakhir berada di sebuah desa. Perjalanan saya berakhir ketika petugas keamanan mengamankan saya. Tiba-tiba saya telah berada di mobil patrol dengan anggota polisi lengkap. Ayah yang menjemput saya kemudian menelepon kakak sepupu saya yang seorang pemandu wisata. Kebetulan dia sedang berada di sebuah destinasi wisata di Buleleng. Kami bertiga pulang dengan mobil yang dibawa kakak sepupu itu. Keesokan harinya, oleh ayah dan ibu kandung saya melalui diskusi keluarga, saya dibawa berobat ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Provinsi Bali yang berada di Kabupaten Bangli.

Dari hasil pemeriksaan, saya didiagnosa mengidap skizofrenia paranoid, dan diharuskan dirawat untuk beberapa waktu di RSJ. Waktu itu, saya dirawat selama dua minggu. Apa yang saya alami menjadi pelajaran penting bagi saya dan keluarga, untuk lebih memperhatikan kesehatan mental. Bisikan suara yang saya dengar adalah halusinasi (pendengaran), dan keyakinan akan ditangkap karena aktivitas saya semasa mahasiswa tidak lain adalah kecurigaan dan ketakutan berlebihan yang menjadi ciri utama dari skizofrenia paranoid. Dengan minum obat-obat dari psikiater, gejala dan gangguan yang terasa hilang sama sekali. Enam belas tahun berlalu, saya setiap bulan tetap kontrol secara rutin dan mengkonsumsi obat hingga sekarang. Kini saya stabil dan pulih.

Kejadian di atas berlangsung pada 2009. Kuliah tidak bisa saya selesaikan dan kembali menetap di kampung halaman untuk menjalani pengobatan dan pemulihan. Setelah lima tahun, saya memberanikan diri kembali ke Denpasar untuk bekerja. Proses yang tidak mudah mengingat kepercayaan diri hilang, selain stigma yang kuat terhadap pengidap gangguan mental oleh masyarakat. Sejak 2015 saya bekerja sebagai jurnalis. Hingga kini, saya telah menulis 14 buku dan aktif berbagi ilmu kepenulisan dan pengalaman sebagai penyintas skizofrenia. Ikut membangun Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali pada 2016 bersama dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ, psikiater yang berperan besar atas kepulihan saya dari skizorenia. Semoga kisah saya bisa dijadikan pelajaran oleh para pembaca. Terima kasih. Salam. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole


BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA

Post-Therapy: Semua Orang Pernah Sakit dan Terluka
“Inguh”, Refleksi Kolektif Masyarakat Bali | Catatan Usai Berkunjung ke Yayasan Bali Bersama Bisa
Ibu Menemaniku Saat Skizofrenia Mendera
Tags: kesehatan jiwakesehatan mentalskizofrenia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Persembahan Perempuan di Altar Perang Puputan Klungkung

Next Post

Perempuan Dalam Sinema di Living World Denpasar, Tayangkan 12 Film Peran Perempuan

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Perempuan Dalam Sinema di Living World Denpasar, Tayangkan 12 Film Peran Perempuan

Perempuan Dalam Sinema di Living World Denpasar, Tayangkan 12 Film Peran Perempuan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co