24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pengalaman Awal Mula Didiagnosa Skizofrenia

Angga Wijaya by Angga Wijaya
April 28, 2025
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

PRIA yang suka menulis novel itu tampak berbaring santai. Di sela jarinya, terselip sebatang rokok yang sedang menyala. Itu adalah rokok kesekian kalinya sore itu. Ia menghadiri acara diskusi tentang puisi dan terapi, dihubungkan dengan skizofrenia, penyakit mental yang belakangan banyak menghinggapi anak muda. Diskusi berlangsung di Denpasar, Bali, beberapa tahun lalu.

Namanya Saka. Ia tak mau dipanggil dengan nama lengkap. Saka sebenarnya keturunan Brahmana, pembagian sosial berdasarkankan profesi, memiliki tugas memberi pencerahan pada masyarakat. Saya menyapanya, dan ia menjawab dengan suara pelan. Ketika itu ia mulai aktif bergiat di Rumah Berdaya Denpasar, komunitas rehabilitasi psikososial dan pemberdayaan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), tempat kami bertemu kali pertama.

Kala itu, ia datang dengan tampilan wah; berkaca mata hitam, mengendari sepeda motor sport tetapi dengan pakaian tak lazim bahkan bisa dibilang bertolak belakang. Saya menyangka ia seorang seniman. Gaya bicaranya lugas, seperti ciri khas masyarakat pesisir. Benar saja, saat kami mengobrol, ia mengaku berasal dari Buleleng, kabupaten yang pada masa penjajahan Belanda merupakan ibu kota Sunda Kecil, wilayah yang membawahi Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Saka banyak menyebut soal telepati, ia percaya memiiki kekuatan supranatural tersebut. Ia bicara tentang hal tersebut dengan sangat percaya diri. Bagi saya yang memang sejak dulu menyukai spiritualitas dan meditasi, apa yang ia bicarakan bukan merupakan hal yang asing, sebab dahulu saya pernah tertarik mempelajari bidang itu.

Melihat dan mengenal Saka, saya seperti berhadapan dengan cermin. Dulu, saya pernah kuliah, banyak membaca buku, dan suka berdiskusi. Debat menjadi sesuatu yang tak terhindarkan saat saya bertemu dengan narasumber sebuah diskusi, dalam seminar atau di luar ruang kuliah. Saya terus merasa gelisah, belum merasa puas atas pelajaran atau ilmu yang didapat dari kampus.

Kepintaran dan kecerdasan tak membuat saya puas, malah membuat saya arogan. Ada kepuasan saat melihat lawan bicara atau diskusi menyerah kalah, atau menjadi marah pada saya. Tak hanya diskusi di dunia nyata, tapi juga di dunia maya. Waktu itu internet mulai masuk di Indonesia,  saya kuliah sembaru bekerja menjadi operator warung internet (warnet) di Denpasar, membuat saya bisa online sepanjang waktu.

Saya masih ingat; waktu itu hari menjelang malam, saya dijemput oleh ayah saya, beliau mengendarai sepeda motor butut, menempuk jarrah ratusan kilometer demi bertemu saya, yang oleh petugas keamanan disebut mengamuk di dekat sebuah warung di sebuah wilayah di Buleleng. Terakhir yang saya ingat, saya duduk bersila di bawah sebuah pohon, meminta pertolongan Tuhan karena saya tak sanggup lagi mendengar bisikan suara yang semakin keras di telinga saya. Suara itu menyatakan sesuatu, bahwa saya akan ditangkap karena aktivisme saya.

Keyakinan itu muncul saat berada di rumah seorang bibi di Singaraja, sehari sebelum peristiwa tersebut. Kala itu, saya bersama keponakan mengendarai sepeda motor dari Negara, Jembrana, menuju kota di ujung utara Pulau Bali tersebut. Kami bermaksud menjenguk sang bibi. Beliau dalam masa pemulihan usai menjalani operasi tulang setelah terpeleset di kamar mandi. Bibi saya hanya sekilas mengenali kami. Maklum saja, usia beliau saat itu sudah sangat renta.

Saya memutuskan menginap di rumah bibi, sedangkan keponakan saya menginap di rumah pamannya, kakak dari ibunya. Kami berpisah malam itu. Sepeda motor yang kami kendarai ia serahkan pada saya. Keanehan mulai muncul, saat membaca koran sebuah harian lokal, mata saya tertuju pada surat pembaca yang seingat saya berisi pendapat, orang-orang yang kritis sebaiknya dihukum mati. Saya ketakutan membacanya, merasa tulisan tersebut ditujukan pada diri saya. Saat itu adalah mahasiswa yang terbilang kritis. Terkadang saya kurang sadar, apa yang saya tulis di berbagai mailing list (milist) waktu itu bisa berujung pada hal yang buruk. Itu perasaan saya yang saya yakini sebagai sebuah hal yang nyata dan benar adanya.

Malam itu saya benar-benar takut. Di telinga, terdengar bisikan yang menyuruh saya untuk balik pulang ke Negara, karena jika tidak saya akan dibunuh. Saya berpamitan pada penjaga rumah bibi, kemudian mengendarai sepeda motor yang dipakai keponakan saya, tanpa ia mengetahuinya. Saya merasa bisikan di telinga tersebut harus diikuti dan dituruti saat itu juga. Malam itu, saya berangkat dengan bensin yang sedikit, tanpa membawa perbekalan, baik uang atau makanan.

Karena bensin yang tak mencukupi, sepeda motor yang saya kendarai berhenti di wilayah barat Singaraja. Di sebuah perempatan jalan, yang sepertinya berdekatan dengan sebuah pasar. Hari hampir tengah malam, bisikan suara makin kencang terdengar..Saya mencari cara untuk bermalam di jalanan. Akhirnya, saya bersembunyi di sebuah halaman merajan atau pura keluarga. Saya takut, melihat cahaya kendaraan bagai melihat api leak, entitas gaib yang dipercaya masyarakat Bali sebagai sesuatu yang negatif. Satu kota sepertinya mengejar saya.

Saya berada di pura itu hingga menjelang fajar. Semalam saya terjaga dan tidak tidur. Keesokan harinya, saat para tukang ojek mulai muncul, saya berbicara pada salah satu dari dua tukang ojek untuk diantarkan ke Singaraja, menemui kembali keponkan saya dan menjelaskan tentang keadaan diri saya. Kunci sepeda motor yang saya bawa entah hilang kemana, pada kegelapan malam yang menakutkan.

Di tas saya tersimpan sebuah kamera lama, saya membayar jasa tukang ojek dengan barang tersebut. Saat tiba di rumah bibi saya, tampak keponakan saya merasa aneh dengan diri saya. Ia agak panik, di matanya tampak ada juga kesedihan. Ketika itu hari Senin, saya meyakininya karena paman dari keponakan saya memakai baju seragam dan saat menjemput saya dia menelepon rekan kerja untuk meminta izin terlambat mengikuti upacara bendera.

Dia menanyakan di mana sepeda motor yang saya kendarai. Saya menjawab, sepeda motor ada di wilayah ujung barat Singaraja. Lalu kami bersama ke sana menaiki sepeda motor miliknya. Sepeda motor yang saya bawa masih terparkir di pinggir jalan. Dia kemudian mencari tukang kunci agar sepeda motor bisa dibawa kembali ke Singaraja. Olehnya saya diberi uang sebagai ongkos bus yang akan membawa saya kembali ke Negara, Jembrana, kampung halaman saya. Kami kemudian berpisah, dan saya telah mendapatkan bus untuk pulang.

Namun setelah berada di dalam bus, bisikan suara itu datang lagi, dan terus berulang. Ada suara yang membisiki dan menyuruh saya keluar dan berganti bus. Itu terjadi berulang, hingga sekitar tiga kali. Sampai uang yang saya benar-benar habis, dan saya memutuskan untuk berjalan kaki, pulang menuju Negara, Jembrana, untuk meminta perlindungan. Saya amat takut, tetapi dalam lubuk hati saya tetap tenang. Di jalan, bibir saya tak berhenti mengucapkan doa dan mengulang-ualng nama suci Tuhan, seperti apa yang saya yakini dan pelajari sejak usia remaja.

Saya berjalan kaki cukup jauh, ada kira-kira tujuh kilometer, hingga tertakhir berada di sebuah desa. Perjalanan saya berakhir ketika petugas keamanan mengamankan saya. Tiba-tiba saya telah berada di mobil patrol dengan anggota polisi lengkap. Ayah yang menjemput saya kemudian menelepon kakak sepupu saya yang seorang pemandu wisata. Kebetulan dia sedang berada di sebuah destinasi wisata di Buleleng. Kami bertiga pulang dengan mobil yang dibawa kakak sepupu itu. Keesokan harinya, oleh ayah dan ibu kandung saya melalui diskusi keluarga, saya dibawa berobat ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Provinsi Bali yang berada di Kabupaten Bangli.

Dari hasil pemeriksaan, saya didiagnosa mengidap skizofrenia paranoid, dan diharuskan dirawat untuk beberapa waktu di RSJ. Waktu itu, saya dirawat selama dua minggu. Apa yang saya alami menjadi pelajaran penting bagi saya dan keluarga, untuk lebih memperhatikan kesehatan mental. Bisikan suara yang saya dengar adalah halusinasi (pendengaran), dan keyakinan akan ditangkap karena aktivitas saya semasa mahasiswa tidak lain adalah kecurigaan dan ketakutan berlebihan yang menjadi ciri utama dari skizofrenia paranoid. Dengan minum obat-obat dari psikiater, gejala dan gangguan yang terasa hilang sama sekali. Enam belas tahun berlalu, saya setiap bulan tetap kontrol secara rutin dan mengkonsumsi obat hingga sekarang. Kini saya stabil dan pulih.

Kejadian di atas berlangsung pada 2009. Kuliah tidak bisa saya selesaikan dan kembali menetap di kampung halaman untuk menjalani pengobatan dan pemulihan. Setelah lima tahun, saya memberanikan diri kembali ke Denpasar untuk bekerja. Proses yang tidak mudah mengingat kepercayaan diri hilang, selain stigma yang kuat terhadap pengidap gangguan mental oleh masyarakat. Sejak 2015 saya bekerja sebagai jurnalis. Hingga kini, saya telah menulis 14 buku dan aktif berbagi ilmu kepenulisan dan pengalaman sebagai penyintas skizofrenia. Ikut membangun Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali pada 2016 bersama dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ, psikiater yang berperan besar atas kepulihan saya dari skizorenia. Semoga kisah saya bisa dijadikan pelajaran oleh para pembaca. Terima kasih. Salam. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole


BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA

Post-Therapy: Semua Orang Pernah Sakit dan Terluka
“Inguh”, Refleksi Kolektif Masyarakat Bali | Catatan Usai Berkunjung ke Yayasan Bali Bersama Bisa
Ibu Menemaniku Saat Skizofrenia Mendera
Tags: kesehatan jiwakesehatan mentalskizofrenia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Persembahan Perempuan di Altar Perang Puputan Klungkung

Next Post

Perempuan Dalam Sinema di Living World Denpasar, Tayangkan 12 Film Peran Perempuan

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Perempuan Dalam Sinema di Living World Denpasar, Tayangkan 12 Film Peran Perempuan

Perempuan Dalam Sinema di Living World Denpasar, Tayangkan 12 Film Peran Perempuan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co