26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Orkestra Warna Wayan Naya

Hartanto by Hartanto
May 4, 2025
in Ulas Rupa
Orkestra Warna Wayan Naya

Wayan Naya, Abstrak 4, Acrylic on canvas

SALAH satu karya yang menarik pada pameran senirupa “Metastomata : Metamorphosi Manifesto Galang Kangin” di Neka Art Museum, Ubud –  18 April hingga 18 Mei , adalah karya Wayan Naya yang bertajuk : “Landscape”. Gagasan Naya, Mengangkat problema Alam sebagai Inspirasi karyanya.  Karya ini dapat dianalisis menggunakan pendekatan ekologi – yang mengeksplorasi hubungan antara manusia dan lingkungan. Pada dasarnya, Naya mengkritisi perilaku manusia yang secara sadar atau tak, acap mengakibatkan kerusakan alam.

Dalam hal ini, karyanya mencerminkan antropogenik—perubahan yang disebabkan oleh aktivitas manusia, seperti urbanisasi atau eksploitasi sumber daya, buang sampah sembarangan, dan perusakan lainnya.. Representasi visual dari kondisi ‘semrawut’ yang sekarang (bagi Naya) dapat menjadi analogi degradasi ekosistem akibat polusi, deforestasi (alih fungsi hutan, dengan tindakan penggundulan). dan perubahan iklim.

Wayan Naya, Abstrak 6, Acrylic on canvas

Kondisi alam yang sekarang lebih ‘semrawut’ dibandingkan masa lalu, menjadi pesan kuat yang disampaikan dalam karya “landscape” ini. Adapun karya-karya yang berhasil menangkap transformasi lingkungan seperti ini sering kali menjadi media refleksi sekaligus advokasi. Hal tersebut bisa kita simak dari unsur visual seperti kondisi pantai yang penuh dengan sampah plastik, dan kayu-kayu hanyut, serta berbagai jenis sampah lainnya – seakan mencerminkan kekacauan yang terjadi. Lukisan laut yang tampak bergelora di bagian atasnya juga menambah nuansa ‘ketegangan’ yang ingin ditonjolkan.

Dalam lukisan ini, Naya menggunakan kontras antara warna terang seperti merah dan oranye di bagian tengah, dengan gelap di latar belakang – ini, menciptakan tensi visual. Elemen garis putih dan abu-abu pada bagian bawah memberikan kesan gerakan dinamis. Analisis ini menekankan bagaimana elemen visual dapat mencerminkan kondisi alam yang kacau. Ia bukan hanya menceritakan, tetapi juga menghadirkan pengalaman emosional perupanya kepada audiens.

Penggayaan Ekspresionis karya Wayan Naya ini tengah mengeksplorasi emosi dan kondisi psikologis melalui penggunaan ‘bahasa visual’ : warna, bentuk, garis, tekstur, pola, orientasi, skala, sudut, ruang, proporsi dan dinamika. Penggunaan warna yang intens, seperti merah dan oranye, dapat diasosiasikan dengan perasaan cemas atau urgensi. Elemen bentuk yang tidak beraturan mencerminkan kekacauan, sesuai dengan tema kerusakan alam. Pendekatan ini membantu memaknai bagaimana karya menjadi cerminan emosi terkait pergeseran kondisi lingkungan.

Wayan Naya, Abstrak 3, Acrylic on canvas

Wayan Naya, Abstrak 2, Acrylic on canvas

Karya rupa Wayan Naya kali ini,  tidak hanya dapat dipandang sebagai objek estetis, tetapi juga sebagai media ekspresi yang kompleks. Pendekatan ini memperkuat relevansi karya dalam mengkritisi perubahan lingkungan sekaligus mengadvokasi kesadaran ekologis. Oleh karenanya, sesuai dengan spirit ‘Metastomata’, estetika saja tak cukup bagi unjuk eksistensi sebuah karya – dibutuhkan juga produk pemikiran yang ‘genial’.

Seperti kita ketahui, Ekspresionisme, adalah sebuah gerakan seni modernis yang berasal dari Jerman sebelum Perang Dunia I. Tujuan utamanya adalah untuk menggambarkan realitas dari sudut pandang pribadi, menjadikannya objek distorsi radikal untuk menghasilkan efek “ekspresif” guna membangkitkan keadaan atau ide emosional. Aliran ini muncul sebagai reaksi terhadap gaya impresionisme yang lebih pasif. Aliran lukisan ini juga menjadi respons terhadap kegelisahan hubungan umat manusia yang makin kurang harmonis.

Ekspresionisme adalah aliran seni yang berfokus pada ekspresi emosi dan kondisi psikologis melalui elemen visual. Karya Naya mencerminkan pendekatan ini dengan penggunaan warna intens dan bentuk yang tidak beraturan untuk menggambarkan kekacauan akibat kerusakan alam. Elemen tekstur dan pola dalam lukisan juga menambah kedalaman emosional, memungkinkan audiens merasakan dampak antropogenik terhadap ekosistem.

Menurut subyektif saya, karya ini menunjukkan bagaimana seni rupa dapat menjadi cerminan emosi, simbol, dan advokasi yang kompleks. Dalam sudut pandang ekspresionisme, teori seni rupa yang sering digunakan ini – berasal dari pemikiran tokoh-tokoh seperti Vincent van Gogh, Edvard Munch, Matthias Grünewald,  Francisco Goya, Ernst Ludwig Kirchner, James Ensor, Wassily Kandinsky, juga tokoh sejarawan asal Ceko, Antonin Matejcek.

Wayan Naya, Abstrak 1, Acrylic on canvas

Pada awal abad ke-20, Ekspresionisme muncul sebagai kecenderungan dan gerakan seni internasional, yang mencakup seni rupa, sastra, musik, teater, film, dan arsitektur. Tujuan para seniman adalah untuk mengekspresikan pengalaman emosional mereka, tidak berfokus pada penggambaran realitas fisik.

Jerman, bersama dengan Prancis, Austria, dan Norwegia, merupakan pusat penting perkembangan Ekspresionisme. Ekspresionisme Jerman terbagi menjadi dua kelompok seniman utama: Die Brücke (jembatan), yang dipimpin oleh Ernst Ludwig Kirchner, dan Der Blue Reiter (Penunggang Biru), yang dipimpin oleh Franz Marc dan Wassily Kandinsky. Gaya seni  Die Brücke bersifat personal dan dikenal dengan penekan psikologis dan erotisme

Die Brücke (Jembatan) adalah kelompok seni ekspresionis yang didirikan di Dresden, Jerman, pada tahun 1905 oleh Ernst Ludwig Kirchner, Erich Heckel, Karl Schmidt-Rottluff, dan Max Pechstein. Mereka ingin menjembatani seni tradisional dengan gaya baru yang lebih ekspresif dan emosional. Gaya seni Die Brücke ditandai dengan: Warna-warna mencolok dan kontras yang digunakan untuk mengekspresikan emosi. Lantas garis-garis tegas dan bentuk yang terdistorsi, sering kali menggambarkan ketegangan dan kegelisahan.

Mereka juga acap mengambil tema kehidupan urban dan manusia – termasuk adegan kota, model telanjang, dan kehidupan sosial yang dinamis. Kelompok ini juga terpengaruh seni primitif, seperti ukiran kayu dan seni Afrika, yang memberikan kesan spontan dan bebas. Kelompok  Die Brücke berusaha untuk menciptakan seni yang lebih intuitif dan emosional, menolak aturan akademik yang kaku. Mereka juga terinspirasi oleh filsafat Friedrich Nietzsche, yang menggambarkan manusia sebagai “jembatan” menuju masa depan.

Wayan Naya, Abstrak 5, Acrylic on canvas

Wayan Naya, Abstrak 7, Acrylic on canvas

Der Blaue Reiter (Penunggang Biru) adalah sebuah kelompok seni yang muncul di Jerman pada awal abad ke-20, khususnya antara tahun 1911 hingga 1914. Gaya seni mereka sangat dipengaruhi oleh ekspresionisme, dengan fokus pada penggunaan warna yang ekspresif dan bentuk yang tidak realistis untuk menyampaikan emosi dan spiritualitas.

Kelompok ini didirikan oleh seniman seperti  Wassily Kandinsky, Franz Marc, dan August Macke, yang percaya bahwa seni harus lebih dari sekadar representasi visual – seni harus mampu mengekspresikan perasaan batin dan dunia spiritual. Lukisan-lukisan mereka sering kali menampilkan warna-warna cerah, bentuk yang dinamis, dan komposisi yang penuh energi. Selain itu, Der Blaue Reiter juga memiliki ketertarikan pada mistisisme dan teosofi. Ini, tercermin dalam karya-karya mereka – yang sering kali bersifat simbolis dan abstrak. Mereka berusaha untuk menciptakan seni yang memiliki makna lebih dalam, bukan hanya sekadar gambar yang indah.

Sebagai pembanding, saya mencoba mengkaji lukisan abstrak no 5 karya Wayan Naya. Jika diperkenankan, saya memberinya Judul : Moonlight Sonata. Ini, sebenarnya Judul lagu karya Beethoven. Karya Naya ini menekankan elemen visual seperti warna, garis, bentuk, dan tekstur. Selain itu, memiliki komposisi yang dinamis, dengan kontras warna yang kuat antara merah dan latar gelap. Bentuk melingkar (rembulan) dapat diinterpretasikan sebagai pusat perhatian, menciptakan keseimbangan visual.

Wayan Naya, Abstrak 4, Acrylic on canvas

Wassily Kandinsky pernah punya pandangan tentang spiritualitas dalam Warna. Pasalnya Kandinsky percaya bahwa warna memiliki makna spiritual dan dapat mempengaruhi emosi penonton. Jika bersandar pada pandangan Kandinsky, Warna merah dalam lukisan Naya ini bisa melambangkan kekuatan atau gairah, sementara latar gelap menciptakan kedalaman dan ketenangan. Selain itu, bentuk dan komposisi yang tidak realistis mengajak penikmat untuk merasakan makna lebih dalam, bukan sekadar melihat bentuk visual.

Pada pendekatan Ekspresionisme Abstrak, yang terfokus pada ekspresi emosi dan intuisi seniman – penggunaan warna dan sapuan kuas yang bebas menunjukkan perasaan dan energy yang dituangkan di atas kanvas pada karya ini. Menurut subyektif saya, karya lukisan ini mencerminkan perasaan melankolis yang mendalam dari pelukisnya, maka saya memberinya  judul “Moonlight Sonata”. Seni abstrak tidak hanya membuang representasi figuratif, tetapi juga merangsang imajinasi dan persepsi penikmat. Lukisan ini tidak menggambarkan objek nyata, tetapi lebih kepada kesan dan atmosfer yang ditimbulkan oleh warna dan bentuk.

Wayan Naya, Teksture, Mix Media on Canvas

Wayan Naya, Landscape, Mix Media on Canvas

Judul Moonlight Sonata, seperti yang sudah saya sebut di atas – bisa memberikan nuansa yang lebih romantis dan melankolis pada karya ini. Dalam lukisan abstrak ini, terdapat bentuk melingkar merah di bagian kiri atas yang bisa diasosiasikan dengan bulan, sedangkan latar gelap dengan tekstur kaya menciptakan suasana misterius dan mendalam—mirip dengan efek emosional yang ditimbulkan oleh komposisi musik Sonata No. 14 karya Beethoven.

Menurut subyektifitas saya, judul ini bisa memberikan konteks yang lebih dramatis dan emosional, mengajak penikmat untuk merasakan ketenangan sekaligus ketegangan dalam visualnya, seperti menikmati Moonlight Sonata dalam bentuk gambar. Jadi, melihat karya ini – yang saya anggap sebagai orkestra warna — saya seperti sedang menikmati Orkestra Moonlight Sonata, Karya Beethoven. Jika ingin menikmati karya Beethoven bisa simak di https://www.youtube.com/watch?v=Hu7hscHkfPw. [T]

  • Sejumlah referensi diambil dari sejumlah sumber

Penulis: Hartanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA
Dewa Soma Wijaya, Penjaga Budaya Lama
Kosa Poetika Senirupa Anak Agung Gede Eka Putra Dela
Trimatra Galung Wiratmaja
Selilit: Perlawanan Simbolik Ketut Putrayasa
Memorial Made Supena
METASTOMATA: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin  di Neka Art Museum, Ubud
Sekilas Pentas “Kekecewaan” Wayan Jengki Sunarta : Narasi Tekstual ke Narasi Teaterikal
Tags: Komunitas Galang KanginNeka Art MuseumPameran Seni RupaSeni RupaSuteja Neka
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perempuan di Mata Mak Kaeh | Cerpen Khairul A. El Maliky

Next Post

Mengenang Joko Pinurbo [1]: Menemukan Sajak di Sebuah Rumah, di Ujung Sebuah Gang

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

by Emi Suy
October 19, 2026
0
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

Read moreDetails

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
0
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

Read moreDetails

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails
Next Post
Mengenang Joko Pinurbo [1]: Menemukan Sajak di Sebuah Rumah, di Ujung Sebuah Gang

Mengenang Joko Pinurbo [1]: Menemukan Sajak di Sebuah Rumah, di Ujung Sebuah Gang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co