25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Grtasamada, Para Antara | Cerpen Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
March 15, 2025
in Cerpen
Grtasamada, Para Antara | Cerpen Mas Ruscitadewi

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

BAGIAN tengah panggung Ksirarnawa berbentuk teratai kelopak delapan berwarna putih. Seorang lelaki  memainkan lakonnya di pusat kelopak, ia  menari, ujung telunjuk tangannya seperti sedang menggurat aksara-aksara di udara.

“Padma berkelopak delapan, sari mengikat kelopak-kelopak yang menjadikannya bunga, padmaksara, “suara narator.

Yang agak mengagetkan penonton adalah dari guratan aksara-akasara di udara itu menjelma sosok laki perempuan dalam berbagai sikap. Ada dalam posisi tidur, bersiap lari, jongkok, terbang, bahkan ada yang ada samar antara ada dan tiada.

Pada sari bunga muncul sesosok kecil, seperti kanak-kanak yang dewasa. Dinding sari bunga yang melingkar itu terhubung dengan kelopak-kelopak bunga warna warni berbagai bentuk dan posisi yang ditempati sosok yang berbeda-beda. Sesosok sedang yang berbusana putih transfaran, berkeliling menyundul-nyundul sosok lain yang menempati bidang kelopak masing-masing. Anehnya masing-masing sosok seperti tak merasakan kehadiranmu sosok sedang berkaca mata itu.

“Ke mana aku, di mana aku, sama saja, berputar, tak berumah, tak berasa rumah, tak memiliki, tak dimiliki,” gumamnya.

Tertangkap seperti keluhan, sekaligus kebanggaan.

“Rumah istriku,  tujuan anakku, akulah perjalanan-perjalanan, Astapaka,” lelaki sedang berkaca mata itu bergerak lagi, menyundul-nyundul lagi. Di tanah, dia hadir menjadi pemikir, kadang jelas dan tegas, tapi kadang buta tanpa kaca mata. Di air tubuhnya mengalir kadang muncul, kadang tenggelam. Di api ia menjadi bara, menghangatkan membakar, lenyap menjadi temperatur, di udara ia meniada.

“Kenapa aku, dimana aku, kemana aku…, ” teriaknya di gelap malam.

Sosok kecil bergerak lincah, di antara rak buku-buku perpustakaan. Buku kuno menyimpan peradaban halamannya terbuka. Diantara aksara-aksara yang berdebu, tangannya mengipas-ngipas, kerajaan kuno, alam bawah, alam tengah, alam atas, ditembusnya dengan tatapan mata.

“Apa ini, jelas saya hanya pemain yang diatur sutradara, saya hanya sutradara, yang merangkap pemain teater remaja SMA  yang berlakon konyol. Inem, Otong… ”  Lelaki kecil tersentak.

Ingatannya kembali ke masa 25 tahun silam. Ia terkekeh, mengingat kelucuan-kelucuan yang lugu, bersama Inem si pelayan seksi.

Selama ini ia telah menyutradarai hidupnya dengan rapi dan penuh perhitungan. Kepulangannya dari luar negeri, juga divisi yang akan dia pimpin juga telah diatur dengan sempurna. Tiba-tiba ada kabar, pimpinnya berpulang, ia merasa gamang. Menjadi semakin gamang saat seminggu jelang kepulangannya menerima surat dari Pimpinannya yang telah berpulang.

Tetapi kelucuan dan kelucuannya menemukan cara untuk bergembira, menikmati hidup.

“Hidup adalah teka-teki, menanggapinya sebagai kelucuan akan melahirkan kebahagiaan,” simpulnya.

Keluguan dan kelucuan-kelucuan membuatnya dengan mudah menghadapi peristiwa. Puncaknya adalah saat pesawat yang ditumpanginya terjatuh dan menewaskan orang-orang yang berada di bagain ruangannya. Dengan jelas ia melihat bagaimana wanita berumur dihadapannya berubah menjadi muda, menjadi tua dan pecah menjadi-cahaya.

Dan dua lelaki berpakaian adat Bali menjemputnya membawa ke luar kabin pesawat dengan hanya menyisakan luka gores di kening dan bibirnya.

“Saya akan berusaha menjaga pikiran dan perkataan,” katanya dengan mimik serius, tapi nampak lucu.

Hahaha posturnya yang kecil, bibirnya yang selalu tersenyum, kata-katanya yang cerdas dan bernas memantulkan cahaya keriangan, mempesona yang mendengarnya.

Kekecilannya menyembunyikan kecerdasan, keluguan dan kelucuannya , mengusir kecurigaan. Membuatnya mampu mencairkan kebuntuan, kebekuan pikir. Dengan cekatan membuka pintu-pintu waktu, kesempatan, kesepakatan demi kesepakatan, demi keadilan kesejahteraan.

Seperti kisah raja Bali berabad-abad silam yang meremehkan brahmana kecil, Wamana, yang hanya meminta tiga langkah kekuasaan. Hingga akhirnya menguasai alam bawah, tengah dan atas.

 Gratasamadha,dan para Gratasamadha, para antara yang mengisi ruang-ruang waktu demi perdamaian dan keharmonisan.

Seorang lelaki tinggi besar bermata sipit memuja, terus memuja, mengapai-gapai langit, mengabdi pada bumi, mengais-ngais esensi, Kuning.

“Saya hanya perantara umat untuk menggapai keagungan Tuhan, ” tekadnya.

Seorang lelaki berisi dengan sorot mata menyala menembus ruang-ruang rahasia, yang gelap, menjanjikan keadilan bagi manusia.

“Hukum harus ditegakkan untuk kenyamanan hidup bersama.” Pedang merahnya menyala-nyala, menebas-nebas.

Sosok lelaki sedang bertualang dari kafe ke kafe, dari diskusi ke diskusi, dari masalah ke masalah. Penglihatannya terang, pandangannya lapang. Para lelaki dan wanita berkumpul, mengidolakannya, menganggapnya guru, untuk ditiru.

Di remang malam, ia ada, menjadi mimpi juga ilusi, bagi para pencari yang merasa tak pasti.

Gratasamadha, dan Para Antara, ada dan tiada,  di bumi tak merasa menginjakkan kaki.  Datang dan pergi, menemui dan menghindari sampai ia bisa menyadari diri yang sejati. [T]

Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Leaaaaakkk | Cerpen Mas Ruscitadewi
Toh Langkir dan Perang Itu | Cerpen Mas Ruscitadewi
Rudra Tiga | Cerpen Mas Ruscitadewi
Mimpi-mimpi Dewi Sri | Cerpen Mas Ruscitadewi
Gosip Apsara-Apsari | Cerpen Mas Ruscitadewi
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-Puisi  Ira Apryanthi | Kedai Tua Jalan Kakatua

Next Post

Narman, Sang “Entrepreneur” Etnis Baduy

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Narman, Sang “Entrepreneur” Etnis Baduy

Narman, Sang "Entrepreneur" Etnis Baduy

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co