24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Barong Landung Mepajar di Denpasar Festival 2024: “Local Genius” dari Desa Adat Sumerta, Denpasar Timur

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
December 30, 2024
in Panggung
Barong Landung Mepajar di Denpasar Festival 2024: “Local Genius” dari Desa Adat Sumerta, Denpasar Timur

Pementasan Barong Landung Mepajar di Denpasar Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Dede

“Sekarang bakal ada pertunjukan apa, Dik?” tanya seorang wanita paruh baya kepada saya di depan Panggung Budaya, Denpasar Festival 2024.

“Sebentar lagi ada pementasan Barong Landung, Bu,” jawab saya singkat menyahuti pertanyaannya.

“Wah kayaknya menarik, ini pertama kalinya nih saya menyaksikan Barong Landung. Maklum, saya pendatang baru di Bali. Jadi kurang paham tentang kesenian tradisi seperti ini,” sahutnya tak sabar ingin menyaksikan pementasan Barong Landung.

“Terima kasih, Dik, biar gak mati penasaran, saya mau standby di sini saja,” ucapnya mengakhiri obrolan. Ia pun langsung bergegas ke depan barikade, agar bisa menonton paling depan.

Cuaca di Kawasan Catur Muka—titik nol kilometer Kota Denpasar, Rabu, 25 Desember 2024, amat bersahabat. Hari itu merupakan hari keempat sekaligus hari terakhir perhelatan Denpasar Festival 2024. Volume pengunjung kala itu membludak, barangkali lebih ramai dari tiga hari sebelumnya.

Hampir semua areal Denpasar Festival 2024 dipadati oleh manusia, tak terkecuali di Panggung Budaya—sisi selatan Lapangan Puputan Badung. Sedari jam 5 sore, beberapa pengunjung, terutama orang-orang dewasa tampak bersiap menanti pertunjukan yang akan dipentaskan di sana. Barangkali pertunjukan musik di Panggung Musik—sisi utara Lapangan Puputan Badung, kurang menarik bagi mereka atau tidak sesuai dengan selera mereka. Kebanyakan hanya anak-anak muda yang mejeng di utara.

Ketika waktu menunjukkan tepat jam 6 sore, setelah dua grup band usai tampil di Panggung Musik, acara beralih ke pertunjukan budaya di Panggung Budaya. Kedua panggung itu memang silih berganti menyajikan berbagai pertunjukan, tidak ada yang berbenturan atau berbarengan, semua pertunjukan terorganisir dengan baik agar tidak saling mengacaukan.

Para penabuh pun mulai keluar dari belakang panggung. Mereka kemudian duduk dan bersiap di tempatnya masing-masing. Setelah semuanya siap, mereka langsung memainkan tabuh pembuka. Itu menandakan pementasan sudah dimulai, para pengunjung pun kian merapat dan memadati areal depan Panggung Budaya untuk menonton pementasan Barong Landung Mepajar itu.

Pementasan yang berlangsung selama 30 menit itu mampu menyihir para penonton. Mereka takjub, menyaksikan kesenian Bali yang jarang bisa dijumpai di kawasan pariwisata. Bahkan di Bali sendiri, hanya beberapa daerah saja yang memiliki sesuhunan (atribut yang disakralkan) Barong Landung. Salah satunya terdapat di Pura Dalem Penataran Sumerta, Desa Adat Sumerta, Denpasar Timur.

Para penabuh mulai memainkan tabuh pembuka, menandakan pementasan telah dimulai | Foto: tatkala.co/Dede

Pada pelaksanaan hari keempat Denpasar Festival 2024, Sekaa Panca Yowana Kanti, Penyatusan Abian Kapas-Ketapian, Desa Adat Sumerta, Denpasar Timur diberi kesempatan untuk menampilkan sesandaran Barong Landung khas Pura Dalem Penataran Sumerta.

Dilansir dari akun Instagram @dalem.sumerta, sesandaran Barong Landung merupakan kesenian klasik yang menggunakan Barong Landung sebagai media dalam pementasannya. Kesenian tersebut merupakan salah satu ritus yang diwarisi secara turun-temurun di Pura Dalem Penataran Sumerta. Tembang atau gending sesandaran berupa wewangsalan, atau bisa diartikan seperti pantun yang saling bersahutan antara Barong Landung Pria (Jero Gede) dan Barong Landung Wanita (Jero Luh).

Setiap daerah di Bali yang mempunyai sesuhunan Barong Landung, biasanya mempunyai ciri khas tembang atau gending masing-masing. Di Pura Dalem Penataran Sumerta sendiri, kesenian ini biasanya dipentaskan pada Rahina Kajeng Kliwon ketika ada warga yang menghaturkan sesangi (kaul) atau saat pementasan Calonarang setiap tiga tahun sekali.

Dalam budaya masyarakat Bali, Barong Landung biasanya dikaitkan dengan folklor yang sudah melegenda di Bali, yaitu kisah Dalem Balingkang, Jaya Pangus, Kang Cing Wie, dan lain sebagainya. Barong Landung diyakini oleh masyarakat Bali sebagai simbol kekuatan Tuhan yang mempunyai aspek magis–religius, serta berperan sebagai penyelamat sekaligus tameng jagat.

Dikutip dari jurnal berjudul “Barong Landung: Akulturasi Budaya Bali dan Tionghoa”, yang ditulis oleh Ni Made Ayu Erna Tanu Ria Sari tahun 2020, barong berasal dari Bahasa Sanskerta ‘B(h)arwang‘ yang artinya beruang. Ada juga yang menyebutkan kalau barong berasal dari kata ‘baruang’ dan kemudian lambat laun menjadi barong.

Sedangkan ‘rong’ memiliki arti ruang atau rongga. Sehingga barong adalah sesuatu yang berisi rongga atau ruang. Sedangkan kata ‘landung’ memiliki makna tinggi. Jadi Barong Landung adalah barong berwujud manusia yang tinggi. Bisa dibilang mirip dengan ondel-ondel di Jakarta.

Kemudian, mepajar merupakan sebuah pertunjukan seni sakral yang melibatkan beberapa jenis tarian, seperti tari Barong Ket, Telek, Jauk, tari Rangda, Sesandaran Barong Landung, dan lain sebagainya.

Tetapi, pementasan Barong Landung Mepajar di Denpasar Festival 2024 tidak menggunakan Barong Sesuhunan yang disakralkan, melainkan menggunakan properti profan yang memang diperuntukkan untuk pertunjukan umum atau komersil.

Pementasan Barong Landung Mepajar diiringi oleh lantunan gamelan gong suling atau geguntangan yang khas. Alunan nada yang lembut, ketukan yang dinamis, dan bunyi seruling yang mendayu-dayu mengiringi gending dan wewangsalan yang dinyanyikan serta diujarkan oleh penari Barong Landung.

Pementasan Barong Landung Mepajar di Denpasar Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Dede

Dengan durasi tampil yang cukup singkat, pementasan Barong Landung Mepajar hari itu dikemas dengan sederhana, ringan, dan cair oleh Sekaa Panca Yowana Kanti. Hampir sebagian besar penonton bisa menangkap pesan-pesan yang disampaikan. Sementara penonton yang bukan orang Bali, mereka juga tampak menikmati pementasan itu walaupun tidak mengerti dengan bahasa yang digunakan sepenuhnya.

Bahasa yang digunakan oleh penari Barong Landung kala itu juga tidak seperti pementasan sakral yang menggunakan bahasa Bali total. Saat itu, mereka menggunakan bahasa Bali madia (memiliki rasa halus, tetapi tidak terlalu halus dan juga tidak kasar) serta menggunakan beberapa kosakata atau ungkapan bahasa Indonesia yang familiar atau sedang tren. Kalau dalam ilmu bahasa, mereka menggunakan campur kode dan alih kode.

Selain itu, mereka juga sempat menyinggung tentang isu-isu dan peristiwa yang terjadi di masyarakat, salah satunya seperti kematian tragis gajah betina Molly di sungai Cengcengan, Desa Guwang, Kecamatan Sukawati yang hanyut terbawa arus pada 17 Desember lalu. Peristiwa itu menjadi salah satu celetukan saat Barong Landung tengah berdialog.

Beberapa penonton saat mengabadikan pementasan Barong Landung Mepajar | Foto: tatkala.co/Dede

Pementasan yang disajikan hari itu amat menghibur, para penonton begitu menikmati pementasan tersebut. Beberapa penonton juga tampak antusias mengabadikan Barong Landung Mepajar di Denpasar Festival 2024 saat sedang menari dan melantunkan tembang.

Barong Landung adalah simbol Rwa Bhineda, yaitu dua unsur yang selalu bertentangan tetapi harus tetap berpasangan–tidak dapat dipisahkan. Sederhananya, masyarakat harus memahami dan menerima segala perbedaan, yang pasti akan selalu ada di dunia untuk memacu laju alur kehidupan.

Ketika pementasan Barong Landung Mepajar berakhir, acara beralih kembali ke pertunjukan musik di Panggung Musik. Para pengunjung yang tadinya memadati Panggung Budaya, mulai berhamburan, berpencar ke berbagai sudut Denpasar Festival 2024. Tetapi, ada pula yang tetap setia menunggu di depan barikade, mungkin mereka tidak ingin tempatnya diambil alih. Agar nantinya mereka bisa menonton dengan nyaman dan pandangannya tidak terhalang kepala orang lain. 

Situasi di depan Panggung Budaya, setelah pementasan Barong Landung Mepajar berakhir | Foto: tatkala.co/Dede

“Setelah ini ada pementasan apa lagi, Dik?” tanya Ibu paruh baya itu kembali menghampiri saya.

“Nanti jam 7 malam ada drama berjudul Putri Ayu, Bu,” sahut saya sembari menggenggam gawai melihat agenda Denpasar Festival 2024.

“Tiga puluh menit lagi ya? Kalau begitu saya mau beli camilan dulu, jaga tempat saya ya, Dik!” sahutnya tergesa, kemudian Ibu itu langsung melipir begitu saja ke stand kuliner.

“Klee gak metanjenan (menawarkan), baru mau nitip kentang goreng,” ucap saya dalam hati—menghela nafas panjang. [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Merawat Tradisi Bumbu Bali Lewat Parade Ngelawar di Denpasar Festival 2024
Garas Prahmantara dan Kawan-kawan Melukis Tempat Sampah di Denpasar Festival 2024, Jadi Live Mural yang Mengesankan
Denpasar Festival: Semangat Warga di Antara Hujan dan Fenomena Solstis
Rentet, Rejang Amustikarana dan Damar Kurung | Sajian Ebano Bali di Denpasar Festival 2021
Gegulakan Gusta Dalam Membaca Layangan Ciptaannya | Diskusi Layang-layang Denpasar Festival 2021
Pameran Buku Ala Kadar – Catatan Kecil untuk Denpasar Festival 2016
Tags: Barongbarong landungdenfestdenpasardenpasar festivalDesa Adat Sumerta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wartawan Dulu, Kreator Konten Kemudian

Next Post

Mencermati Gender Wayang Gaya Karangasem: Mengungkap Estetika dan Makna Gending Bimaniyu

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
0
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

Read moreDetails

Ketika Musik, Lukisan, dan Kesadaran Bertemu dalam Nyanyian Dharma

by Pranita Dewi
April 20, 2026
0
Ketika Musik, Lukisan, dan Kesadaran Bertemu dalam Nyanyian Dharma

Pertunjukan Nyanyian Dharma digelar di Ruang Taksu, Gedung Dharma Negara Alaya (DNA), Denpasar, Minggu (19/4) malam, menampilkan kolaborasi musik dengan...

Read moreDetails

‘Wellnes Conference’ di Bali Spirit Festival: Preventif Ciri ‘Wellness Tourism’, Kuratif Tujuan ‘Medical Tourism’

by I Nyoman Darma Putra
April 19, 2026
0
‘Wellnes Conference’ di Bali Spirit Festival: Preventif Ciri ‘Wellness Tourism’, Kuratif Tujuan ‘Medical Tourism’

Perbedaan antara wellness tourism dengan medical tourism menjadi salah satu pertanyaan dalam dalam Wellness Conference (Wellness Talk Show), Kamis, 16 April 2026, di Pelataran Hotel, Ubud....

Read moreDetails

Eksplorasi Material dan Gerak, Serangkai Inovasi Komunitas Wayang Ental di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Komang Puja Savitri
April 14, 2026
0
Eksplorasi Material dan Gerak, Serangkai Inovasi Komunitas Wayang Ental di Festival Wayang Bali Utara 2026

SEJAK awal, ada rasa penasaran yang menggantung di antara penonton yang duduk lesehan di wantilan Museum Soenda Ketjil. Wayang, dalam...

Read moreDetails

Membaca Buleleng dalam Museum Soenda Ketjil —Catatan Kecil dari Festival Wayang Bali Utara 2026

by Son Lomri
April 12, 2026
0
Membaca Buleleng dalam Museum Soenda Ketjil —Catatan Kecil dari Festival Wayang Bali Utara 2026

MALAM itu, Kamis, 9 April 2026, ada pertunjukan wayang kulit serangkaian Festival Wayang Bali Utara (FWB) di Wantilan Pelabuhan Tua...

Read moreDetails

Museum Soenda Ketjil: Kebanggaan Budaya atau Sekadar Ketakutan Akan Kehilangan?

by I Nengah Juliawan
April 11, 2026
0
Museum Soenda Ketjil: Kebanggaan Budaya atau Sekadar Ketakutan Akan Kehilangan?

MUSEUM Soenda Ketjil di Singaraja tidak hanya menjadi ruang sunyi yang menyimpan masa lalu, melainkan juga ruang publik yang terus...

Read moreDetails

Tradisi yang Mulai Bernegosiasi dengan Zaman —Dari Pentas Wayang Bungkulan di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Komang Puja Savitri
April 11, 2026
0
Tradisi yang Mulai Bernegosiasi dengan Zaman —Dari Pentas Wayang Bungkulan di Festival Wayang Bali Utara 2026

WAYANG sebagai produk masa lalu yang kini diratapi, ditangisi oleh orang-orang karena hampir hilang di tengah hiburan dunia digital. Pertunjukan...

Read moreDetails

Ubud Artisan Market dalam Kehangatan Paskah, Rayakan Kreativitas, Komunitas, dan Akhir Pekan di Ubud

by tatkala
April 5, 2026
0
Ubud Artisan Market dalam Kehangatan Paskah, Rayakan Kreativitas, Komunitas, dan Akhir Pekan di Ubud

Yayasan Mudra Swari Saraswati dengan bangga kembali menghadirkan Ubud Artisan Market (UAM), curated market yang merayakan kreativitas, komunitas, dan kerajinan...

Read moreDetails

Api yang Tak Pernah Kenyang: Ketika ‘Lobha’ Menjelma dalam Ogoh-Ogoh STT Eka Budhi, Banjar Danginjalan, Guwang, Sukawati 2026

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Api yang Tak Pernah Kenyang: Ketika ‘Lobha’ Menjelma dalam Ogoh-Ogoh STT Eka Budhi, Banjar Danginjalan, Guwang, Sukawati 2026

DI Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, kreativitas anak muda kembali menemukan bentuknya dalam karya ogoh-ogoh untuk menyambut Nyepi Caka...

Read moreDetails

Les Ngembak Festival 2026: Merawat Jejak dari Bukit ke Laut

by Nyoman Nadiana
March 23, 2026
0
Les Ngembak Festival 2026: Merawat Jejak dari Bukit ke Laut

PANGGUNG itu kecil saja. Tapi cukup untuk menampung ekspresi masyarakat Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng. Di atas panggung kecil...

Read moreDetails
Next Post
Mencermati Gender Wayang Gaya Karangasem: Mengungkap Estetika dan Makna Gending Bimaniyu

Mencermati Gender Wayang Gaya Karangasem: Mengungkap Estetika dan Makna Gending Bimaniyu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co