24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mencermati Gender Wayang Gaya Karangasem: Mengungkap Estetika dan Makna Gending Bimaniyu

Ni Putu Hartini by Ni Putu Hartini
December 28, 2024
in Esai
Mencermati Gender Wayang Gaya Karangasem: Mengungkap Estetika dan Makna Gending Bimaniyu

I Wayan Mudita Adnyana | Foto: Dok. Hartini

GAMELAN gender wayang merupakan salah satu bentuk seni musik tradisional Indonesia dengan nilai budaya yang tinggi. Instrumen ini tidak hanya sebagai pengiring pertunjukan wayang kulit Bali saja, melainkan juga memiliki keterkaitan erat dengan pengembangan kecerdasan manusia. Dalam artian mengeksplorasi bahwa gamelan gender wayang dapat berkontribusi terhadap peningkatan kecerdasan, baik kognitif maupun emosional, pada individu yang terlibat dalam pertunjukan maupun pelatihan musik.

Gender wayang, dengan karakteristiknya yang unik, melibatkan berbagai unsur pendidikan yang dapat merangsang otak. Hal tersebut ditunjukkan bahwa keterlibatan dalam aktivitas musik dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta keterampilan sosial. Melalui gamelan gender wayang, individu belajar untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan memahami nuansa emosional yang terkandung dalam musik dan pertunjukan .

Gender Wayang menjadi primadona khususnya di kalangan anak muda pada jaman sekarang dengan tingkat minat beberapa gaya (style) dan repertoar yang popular seperti gaya Tunjuk Tabanan, gaya Sukawati, gaya Kayumas Denpasar.

Saat ini, salah satu gaya yang kurang menjadi perhatian adalah gaya Karangasem. Adapun salah satu gending yang terdapat pada gaya Karangasem salah satunya adalah Gending Bimaniyu.

Alasan mengapa saya (sebagai peneliti) memilih repertoar gending Bimaniyu tersebut dikarenakan repertoar ini memiliki 11 palet/pengibe yakni gending ini memiliki palet paling banyak di antara sekian jenis gending-gending yang ada pada umumnya.

Sebagian besar gending Gender Wayang pada umumnya memiliki palet yang terdiri dari 1 sampai 4 palet. Berdasarkan hal tersebut penting untuk menggali lebih dalam tentang keunikan khususnya estetika yang terkandung pada repertoar gending Bimaniyu dan juga memperkenalkan keunikan tersebut kepada anak-anak generasi muda.

Saya melihat bahwa anak-anak muda sebagian besar belum mengetahui keunikan dan makna yang terkandung dalam repertoar gending Bimaniyu sehingga menarik perhatian saya untuk dapat melakukan penelitian lebih mendalam mengenai gending ini.

Komposisi musik dalam gaya Karangasem cenderung lebih kompleks dan mendalam, dengan penggunaan pola-pola ritme yang rumit, menciptakan dinamika yang tidak terduga dalam permainan musiknya, penggunaan struktur musik yang khas membuat pendengarnya terasa menarik ketika mendengarkan gending Bimaniyu gaya Karangasem.

Ketika mendengarkan gending Bimaniyu ini, pendengar akan merasakan bahwa repertoar ini memiliki kekhasan mendalam dan mampu menarik pendengarnya dalam perjalanan musikal yang memikat dan ngelangenin.

Berdasarkan fenomena tersebut, tampaknya perlu perumusan mengenai estetika gending Bimaniyu secara mendetail. Kurangnya perhatian dan minimnya referensi terkait dengan gending Bimaniyu gaya Karangasem, menimbulkan kekhawatiran apabila gending ini semakin jarang untuk dijamah oleh generasi muda.

Menilik pentingnya keberadaan dan perkembangan gending Bimaniyu gaya Karangasem ini, dirasakan perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui gending Bimaniyu secara lebih mendalam. Terlebih lagi, belum banyak tulisan yang membahas mengenai repertoar Gender Wayang yang dilakukan oleh peneliti luar Indonesia.

Adapun tim peneliti dalam pelaksanaan penelitian ini, terdiri dari saya (Ni Putu Hartini), I Gusti Putu Sudarta dan I Ketut Muryana yang merupakan dosen dari Program Studi Seni Karawitan dan Pedalangan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar.

Estetika Gending Bimaniyu Gaya Tenganan Karangasem

Pada umumnya estetika dipahami sebagai ilmu atau filsafat mengenai keindahan. Estetika menurut Baumgarten sebagai kemampuan melihat lewat penginderaan. Jadi panca indera manusia adalah alat untuk dapat menikmati serta memahami estetika.

Dalam konteks seni, setiap karya seni yang diciptakan pasti mengandung unsur estetika di dalamnya. Estetika dalam masing-masing karya seni tidaklah sama, tergantung bagaimana si pencipta mengungkapkan rasa dan pengalaman estetisnya dalam karya ciptaannya. Estetika yang ada di dalamnya juga dapat diinterpretasikan berbeda oleh masing-masing seniman maupun penikmatnya. Hal tersebut disebabkan oleh pengalaman dan apresiasi yang berbeda terhadap seni antara seorang seniman dan penikmat seni.

Hal tersebut juga ditegaskan oleh Arya Sugiartha, bahwa konsep estetik musik tradisional Bali yang bersifat ilmiawi dapat dicermati dari analisa bentuk, struktur, dan proses perwujudan karya seni itu sendiri yang bersifat objektif.  

Gending Bimaniyu merupakan salah satu gending-gending petegak (tidak terikat oleh lakon/jenis kesenian lain) atau komposisi instrumental style Tenganan Karangasem untuk gamelan Gender Wayang.

Gending Bimaniyu ini, menurut wawancara dengan Bapak Mudita, bahwa gending ini terlahir dari perenungan pemikiran dari si pencipta gending atau lagu ini dengan berlandaskan suatu konsep sehingga menjadi sebuah komposisi. Adapun konsep yang digunakan dalam gending ini adalah konsep estetika. Adapun sistem melodi yang dipakai sangat mempengaruhi bagaimana bentuk komposisi gending ini sehingga mampu menimbulkan kesan secara estetis.

Menurut A.A.M. Djelantik, pada umumnya apa yang disebut indah, di dalam jiwa dapat menimbulkan rasa senang, rasa puas, rasa aman, nyaman dan bahagia. Apabila perasaan itu sangat kuat, merasa terpaku, terharu dan terpesona serta menimbulkan keinginan untuk menikmati kembali perasaan itu walaupun sudah dinikmati berkali-kali. (Dalam bahasa Bali: kelangen).

Berpijak dengan struktur karya seni, menurut A.A.M. Djelantik terdapat tiga hal mendasar yang berperan dalam menimbulkan rasa keindahan, yaitu: 1). Keutuhan atau kebersatuan (unity); 2). Penonjolan atau penekanan (dominance); 3). Keseimbangan (balance).

Pada permainan melodi dalam komposisi Gending Bimaniyu, keutuhannya (unity) sangat diperhatikan karena gending ini merupakan gending instrumental yang dibawakan untuk dipertunjukkan atau dipertontonkan tanpa disertai mengiringi lakon atau adegan tertentu sehingga gending ini akan menjadi pusat perhatian ketika gending ini disajikan.

Selain memperhatikan keutuhan atau kebersatuan (unity) dalam suatu karya seni, penonjolan atau penekanan (dominance) dan keseimbangan (balance) juga merupakan penentuan sebuah karya yang bernilai estetis. Penonjolan (dominance) dalam Gending Bimaniyu ini mempunyai maksud mengarahkan perhatian orang yang menikmati suatu karya seni.

Penonjolan (dominance) pada komposisi Gending Bimaniyu ini sudah diperoleh yakni dengan mengolah nada-nada yang berlaraskan slendro yang terdapat pada gamelan Gender Wayang dengan menggunakan beberapa motif pukulan Gender Wayang yang menyebabkan struktur melodi dari satu bagian ke bagian berikutnya terdengar harmonis sehingga dapat dikatakan membawa kekhasan dari Gending Bimaniyu itu sendiri. Di samping pengolahan nada-nada dengan menggunakan motif pukulan Gender Wayang, melodi juga dikuatkan dengan pengolahan dinamika serta tempo yang menyebabkan suatu harmoni yang enak didengar dan tidak terkesan monoton.

Keseimbangan (balance) estetika pada komposisi Gending Bimaniyu ini didapatkan dari pengolahan teknik pukulan yang mempunyai porsi yang berbeda-beda dalam memainkannya. Serta di mana permainan Gender Wayang yang dipukul dengan keras dan di mana bagian yang dipukul dengan lirih. Dengan adanya keseimbangan pada teknik permainan dalam komposisi gending ini, yaitu melalui kebersamaan dalam memukul nada baik keras maupun lirih dilakukan agar enak didengar sehingga menimbulkan kelangen serta bernilai estetika yang tinggi.

Keseluruhan unsur estetika ini terdapat pada Gending Bimaniyu sehingga setelah menyimak dan menelusuri gending ini dapat menimbulkan enak didengar dan bernilai estetika tinggi. Selain itu, juga disertai dengan unsur musikal yang tertanam dalam setiap dasar estetis, yaitu irama, ritme, harmoni, serta dinamika yang selalu menempel pada setiap struktur lagu atau gending pada karawitan Bali khususnya Gending Bimaniyu gaya Tenganan Karangasem pada gamelan Gender Wayang.

Wawancara bersama Bapak I Wayan Mudita Adnyana | Dok: Hartini, 2024

Pada komposisi Gending Bimaniyu ini unsur keutuhan diungkapkan dengan pengolahan lagu atau melodi yang terdapat dalam nada-nada berlaraskan slendro pada gamelan Gender Wayang dengan menggunakan motif/teknik pukulan Gender Wayang. Teknik pukulan Gender Wayang dinamakan kumbang atarung, teknik permainan seperti kumbang terbang melayang dan bertarung, penuh dengan kontrapunk.

Gending Bimaniyu ini dalam penyajiannya utuh disajikan memiliki durasi 13.08 menit. Ako Mashino dalam wawancara online juga membenarkan gending ini, jika dimainkan secara utuh, akan membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk bisa menyajikannya (wawancara Ako, Juni 2024).

Selain itu dalam Gending Bimaniyu ini dibawakan oleh penyaji sangat utuh disajikan tanpa adanya editan atau pengurangan sesuai dengan ingatan penabuh dalam memainkan gending Bimaniyu.

Menurut penuturan Ida Wayan Oka Granoka, Gending Bimaniyu ini memiliki penonjolan pada tingkat kerumitan pada bagian pengecet, atau pada akhir gending (wawancara Ida Wayan Oka Granoka, 8 Juni 2024). Pada kedua bagian ini diperlukan perhatian yang lebih dalam hal ketepatan, ketangkasan, kecekatan maupun keterampilan tangan kanan dan kiri. Hal tersebut dikarenakan pada kedua bagian tersebut penonjolan kerumitan yang memakai tempo cepat dan dinamis dengan mempergunakan teknik tetekep (tetekes) yang menghasilkan suara atau lagu yang utuh.

Keseimbangan merupakan hal yang mutlak untuk mencapai suatu keindahan. Berbagai konsep keseimbangan yang ada di dunia ini merupakan proyeksi yang digunakan oleh seniman dalam membuat suatu karya seni yang memiliki kualitas yang bermutu tinggi. Dalam Gending Bimaniyu ini unsur keseimbangan tercermin dari dinamika yang ditampilkan oleh ngumbang ngisep atau teknik pukulan polos sangsih yang harus kompak sehingga menciptakan keseimbangan dalam gending ini. Selain itu porsi setiap bagian dari struktur gending memiliki keseimbangan antara gineman, pengawak, pengiba serta pengecet sehingga menimbulkan keseimbangan yang akan menciptakan keharmonisan dalam Gending Bimaniyu ini.

Bapak I Wayan Mudita Adnyana memainkan gender | Dok: Hartini, 2024

Keseimbangan lain yang dapat diamati dari gending Bimaniyu ini adalah adanya keseimbangan kolaborasi penabuh dalam memainkan gending ini. Hal tersebut dibenarkan oleh Ida Ayu Arya Satyani yang menyebutkan bahwa memang keseimbangan kolaborasi penabuh sangat penting untuk dapat saling mengingatkan gending yang dimainkan mengingat apabila gending ini dimainkan cukup panjang (wawancara Ida Ayu Wayan Arya Satyani, 11 Juni 2024).

Dalam menghasilkan permainan yang estetik, baik itu dari segi permainan maupun penampilan, membutuhkan kolaborasi dan kekompakan antara para penabuh sebagai satu kesatuan estetis. Hal tersebut disebabkan karena setiap melodi dan ritme dari gending Bimaniyu saling berhubungan dan membentuk sebuah keutuhan yang indah.

Makna Gending Bimaniyu Gaya Tenganan Karangasem

Sebagai hasil ciptaan (creation) yang melalui proses panjang, makna karya seni selalu bersinggungan dan dipengaruhi oleh ruang dan waktu sejalan dengan perkembangan wacana budaya . Begitu pula halnya dengan gending Bimaniyu lahir dari kecerdasan manusia yang menyimpan berbagai makna tersembunyi yang bisa ditelusuri. Makna yang terdapat pada gending Bimaniyu gaya Tenganan Karangasem meliputi makna religius, makna kreativitas, serta makna pelestarian.

Makna Religius

Menurut Saussure dan Pierce dalam Kutha Ratna menyebutkan bahwa makna bukanlah konsep yang statis, melainkan dinamis karena merupakan proses, di samping makna berubah seirama dengan perjalanan waktu. Gending Bimaniyu Gaya Tenganan Karangasem dalam masyarakat Hindu di Bali sangat erat kaitannya dengan makna religius.

Wawancara bersama Bapak Ida Wayan Granoka (paling kanan) | Dok: Hartini, 2024

Dalam konteks spiritual, Gending Bimaniyu memiliki makna yang mendalam. Banyak upacara keagamaan di Tenganan yang melibatkan pertunjukan gending ini sebagai bentuk persembahan kepada dewa. Hal tersebut disebabkan gending Bimaniyu tidak dapat dilepaskan dari berbagi kegiatan agama (religi) karena memiliki fungsi sebagai persembahan kepada Tuhan dalam berbagai manifestasinya, roh leluhur, dan lain-lain yang berhubungan dengan alam gaib dan alam kedewatan.

Hal tersebut dipertegas berdasarkan wawancara dengan Ida Wayan Granoka yang menyebutkan bahwa gending Bimaniyu ini, dahulu, ketika guru Ranu masih ada selalu dimainkan ketika sedang dilaksanakan kegiatan upacara keagamaan di Tenganan Karangasem. Gender Wayang memang keberadaannya penting di Desa Tenganan karena merupakan salah satu gamelan yang penting untuk dimainkan sehingga dapat dikatakan memang terdapat hubungan yang erat antara gending dan praktik keagamaan, serta bagaimana gending ini berfungsi sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada yang Maha Kuasa

Makna Kreativitas

Gending Bimaniyu muncul sebagai salah satu komposisi penting yang tidak hanya memiliki nilai estetis, tetapi juga menyimpan makna yang mendalam terkait dengan kreativitas. Kreativitas dalam musik, khususnya dalam seni karawitan, tidak hanya terbatas pada teknik memainkan gamelan, melainkan juga mencakup proses penciptaan, interpretasi, dan improvisasi.

Gending Bimaniyu sebagai salah satu repertoar dalam Gamelan Gender Wayang menjadi objek yang menarik untuk dikaji lebih dalam, tentang bagaimana kreativitas berperan dalam setiap aspek pertunjukannya. Melalui gending ini, seniman dapat mengekspresikan identitas budaya dan nilai-nilai yang dipegang oleh masyarakat.

Gending Bimaniyu dalam konteks sosial dan budaya, tidak hanya berfungsi sebagai sarana upacara keagamaan, tetapi juga sebagai media penyampaian pesan moral dan nilai-nilai. Oleh karena itu, makna kreativitas dalam gending ini yaitu mengungkap bagaimana seniman (kecerdasan manusia) dalam menciptakan dan mempertahankan tradisi sambil tetap berinovasi.

Selain itu, pemahaman tentang makna kreativitas dalam gending ini juga dapat menjadi inspirasi bagi para seniman dan peneliti untuk terus mengeksplorasi dan mengembangkan tradisi yang kaya ini.

Makna Pelestarian

Pelestarian adalah salah satu upaya untuk mempertahankan sesuatu agar tetap sebagaimana adanya atau tidak berubah. Begitu pula halnya dengan menggali makna Gending Bimaniyu, ditemukan wawasan baru yang dapat memperkaya pemahaman tentang Gending Bimaniyu dan perannya dalam masyarakat.

Selain itu, dengan adanya pewarisan Gending Bimaniyu ini diharapkan dapat menjadi rekomendasi bagi para pemangku kebijakan dalam merumuskan program-program pelestarian budaya yang lebih efektif dan berkelanjutan. Dengan demikian, Gending Bimaniyu dapat terus hidup dan berkembang, menjadi bagian integral dari identitas budaya bangsa sehingga dapat lebih menghargai kekayaan budaya lokal yang ada dan mendorong pelestariannya.

Bersama Bapak I Wayan Mudita Adnyana (tengah) | Dok: Hartini, 2024

Penelitian gending gender wayang Bimaniyu gaya Karangasem ini memang penting dilakukan untuk melestarikan warisan budaya Bali, mengungkap keunikan gaya tersebut, memperkaya ilmu pengetahuan, mendokumentasikan dan mempreservasi kebudayaan, serta meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap seni budaya Bali.

Estetika gending gender wayang Bimaniyu gaya Karangasem merupakan perpaduan harmonis antara keindahan musikal, makna filosofis, dan konteks sosial-budaya masyarakat Bali. Estetika gending gender wayang Bimaniyu gaya Karangasem terletak pada keutuhan, keseimbangan antara struktur gending, penonjolan, dinamika irama dan tempo, ornamentasi, serta keselarasan dengan gerakan wayang. Semua elemen ini berpadu dengan indah dan menciptakan suasana yang sesuai dengan alur dari gending Bimaniyu.

Makna yang terkandung dalam gending Bimaniyu gaya Tenganan Karangasem adalah makna religius, makna kreativitas dan makna pelestarian. Makna religius yaitu ketika gending ini dimainkan pada saat upacara Dewa Yadnya dan Pitra Yadnya. Makna kreativitas ditemukan, yakni pada keunikan gending ini yang diciptakan melalui kecerdasan manusia terdahulu. Makna pelestarian yaitu dapat dianalisis dari hasil karya seni melalui media rekam. [T]

PKM ISI Denpasar : Pembinaan Gending Bopong Gaya Kayumas di Sanggar Tabuh Kembang Waru Denpasar
Menyemai Harmoni Gambelan Tradisi di Jantung Budaya Bali: Pembinaan dan Pementasan Iringan Batel Wayang Wong di Banjar Pesalakan, Gianyar
“Cerukcuk Punyah”, “Cangak Merengang” | Judul-judul Gending Gender Wayang, Lucu dan Blak-blakan
Gusti Sudarta | Sejak SD Main Gender Wayang, Pentas Jalan Kaki ke Desa-Desa
Tags: gamelan gendergender wayangISI Denpasarkarangasemkarawitan bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Barong Landung Mepajar di Denpasar Festival 2024: “Local Genius” dari Desa Adat Sumerta, Denpasar Timur

Next Post

Aktivisme Mahasiswa dan Judi Online

Ni Putu Hartini

Ni Putu Hartini

Staf pengajar di Prodi Seni Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Aktivisme Mahasiswa dan Judi Online

Aktivisme Mahasiswa dan Judi Online

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co