2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mencermati Gender Wayang Gaya Karangasem: Mengungkap Estetika dan Makna Gending Bimaniyu

Ni Putu Hartini by Ni Putu Hartini
December 28, 2024
in Esai
Mencermati Gender Wayang Gaya Karangasem: Mengungkap Estetika dan Makna Gending Bimaniyu

I Wayan Mudita Adnyana | Foto: Dok. Hartini

GAMELAN gender wayang merupakan salah satu bentuk seni musik tradisional Indonesia dengan nilai budaya yang tinggi. Instrumen ini tidak hanya sebagai pengiring pertunjukan wayang kulit Bali saja, melainkan juga memiliki keterkaitan erat dengan pengembangan kecerdasan manusia. Dalam artian mengeksplorasi bahwa gamelan gender wayang dapat berkontribusi terhadap peningkatan kecerdasan, baik kognitif maupun emosional, pada individu yang terlibat dalam pertunjukan maupun pelatihan musik.

Gender wayang, dengan karakteristiknya yang unik, melibatkan berbagai unsur pendidikan yang dapat merangsang otak. Hal tersebut ditunjukkan bahwa keterlibatan dalam aktivitas musik dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta keterampilan sosial. Melalui gamelan gender wayang, individu belajar untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan memahami nuansa emosional yang terkandung dalam musik dan pertunjukan .

Gender Wayang menjadi primadona khususnya di kalangan anak muda pada jaman sekarang dengan tingkat minat beberapa gaya (style) dan repertoar yang popular seperti gaya Tunjuk Tabanan, gaya Sukawati, gaya Kayumas Denpasar.

Saat ini, salah satu gaya yang kurang menjadi perhatian adalah gaya Karangasem. Adapun salah satu gending yang terdapat pada gaya Karangasem salah satunya adalah Gending Bimaniyu.

Alasan mengapa saya (sebagai peneliti) memilih repertoar gending Bimaniyu tersebut dikarenakan repertoar ini memiliki 11 palet/pengibe yakni gending ini memiliki palet paling banyak di antara sekian jenis gending-gending yang ada pada umumnya.

Sebagian besar gending Gender Wayang pada umumnya memiliki palet yang terdiri dari 1 sampai 4 palet. Berdasarkan hal tersebut penting untuk menggali lebih dalam tentang keunikan khususnya estetika yang terkandung pada repertoar gending Bimaniyu dan juga memperkenalkan keunikan tersebut kepada anak-anak generasi muda.

Saya melihat bahwa anak-anak muda sebagian besar belum mengetahui keunikan dan makna yang terkandung dalam repertoar gending Bimaniyu sehingga menarik perhatian saya untuk dapat melakukan penelitian lebih mendalam mengenai gending ini.

Komposisi musik dalam gaya Karangasem cenderung lebih kompleks dan mendalam, dengan penggunaan pola-pola ritme yang rumit, menciptakan dinamika yang tidak terduga dalam permainan musiknya, penggunaan struktur musik yang khas membuat pendengarnya terasa menarik ketika mendengarkan gending Bimaniyu gaya Karangasem.

Ketika mendengarkan gending Bimaniyu ini, pendengar akan merasakan bahwa repertoar ini memiliki kekhasan mendalam dan mampu menarik pendengarnya dalam perjalanan musikal yang memikat dan ngelangenin.

Berdasarkan fenomena tersebut, tampaknya perlu perumusan mengenai estetika gending Bimaniyu secara mendetail. Kurangnya perhatian dan minimnya referensi terkait dengan gending Bimaniyu gaya Karangasem, menimbulkan kekhawatiran apabila gending ini semakin jarang untuk dijamah oleh generasi muda.

Menilik pentingnya keberadaan dan perkembangan gending Bimaniyu gaya Karangasem ini, dirasakan perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui gending Bimaniyu secara lebih mendalam. Terlebih lagi, belum banyak tulisan yang membahas mengenai repertoar Gender Wayang yang dilakukan oleh peneliti luar Indonesia.

Adapun tim peneliti dalam pelaksanaan penelitian ini, terdiri dari saya (Ni Putu Hartini), I Gusti Putu Sudarta dan I Ketut Muryana yang merupakan dosen dari Program Studi Seni Karawitan dan Pedalangan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar.

Estetika Gending Bimaniyu Gaya Tenganan Karangasem

Pada umumnya estetika dipahami sebagai ilmu atau filsafat mengenai keindahan. Estetika menurut Baumgarten sebagai kemampuan melihat lewat penginderaan. Jadi panca indera manusia adalah alat untuk dapat menikmati serta memahami estetika.

Dalam konteks seni, setiap karya seni yang diciptakan pasti mengandung unsur estetika di dalamnya. Estetika dalam masing-masing karya seni tidaklah sama, tergantung bagaimana si pencipta mengungkapkan rasa dan pengalaman estetisnya dalam karya ciptaannya. Estetika yang ada di dalamnya juga dapat diinterpretasikan berbeda oleh masing-masing seniman maupun penikmatnya. Hal tersebut disebabkan oleh pengalaman dan apresiasi yang berbeda terhadap seni antara seorang seniman dan penikmat seni.

Hal tersebut juga ditegaskan oleh Arya Sugiartha, bahwa konsep estetik musik tradisional Bali yang bersifat ilmiawi dapat dicermati dari analisa bentuk, struktur, dan proses perwujudan karya seni itu sendiri yang bersifat objektif.  

Gending Bimaniyu merupakan salah satu gending-gending petegak (tidak terikat oleh lakon/jenis kesenian lain) atau komposisi instrumental style Tenganan Karangasem untuk gamelan Gender Wayang.

Gending Bimaniyu ini, menurut wawancara dengan Bapak Mudita, bahwa gending ini terlahir dari perenungan pemikiran dari si pencipta gending atau lagu ini dengan berlandaskan suatu konsep sehingga menjadi sebuah komposisi. Adapun konsep yang digunakan dalam gending ini adalah konsep estetika. Adapun sistem melodi yang dipakai sangat mempengaruhi bagaimana bentuk komposisi gending ini sehingga mampu menimbulkan kesan secara estetis.

Menurut A.A.M. Djelantik, pada umumnya apa yang disebut indah, di dalam jiwa dapat menimbulkan rasa senang, rasa puas, rasa aman, nyaman dan bahagia. Apabila perasaan itu sangat kuat, merasa terpaku, terharu dan terpesona serta menimbulkan keinginan untuk menikmati kembali perasaan itu walaupun sudah dinikmati berkali-kali. (Dalam bahasa Bali: kelangen).

Berpijak dengan struktur karya seni, menurut A.A.M. Djelantik terdapat tiga hal mendasar yang berperan dalam menimbulkan rasa keindahan, yaitu: 1). Keutuhan atau kebersatuan (unity); 2). Penonjolan atau penekanan (dominance); 3). Keseimbangan (balance).

Pada permainan melodi dalam komposisi Gending Bimaniyu, keutuhannya (unity) sangat diperhatikan karena gending ini merupakan gending instrumental yang dibawakan untuk dipertunjukkan atau dipertontonkan tanpa disertai mengiringi lakon atau adegan tertentu sehingga gending ini akan menjadi pusat perhatian ketika gending ini disajikan.

Selain memperhatikan keutuhan atau kebersatuan (unity) dalam suatu karya seni, penonjolan atau penekanan (dominance) dan keseimbangan (balance) juga merupakan penentuan sebuah karya yang bernilai estetis. Penonjolan (dominance) dalam Gending Bimaniyu ini mempunyai maksud mengarahkan perhatian orang yang menikmati suatu karya seni.

Penonjolan (dominance) pada komposisi Gending Bimaniyu ini sudah diperoleh yakni dengan mengolah nada-nada yang berlaraskan slendro yang terdapat pada gamelan Gender Wayang dengan menggunakan beberapa motif pukulan Gender Wayang yang menyebabkan struktur melodi dari satu bagian ke bagian berikutnya terdengar harmonis sehingga dapat dikatakan membawa kekhasan dari Gending Bimaniyu itu sendiri. Di samping pengolahan nada-nada dengan menggunakan motif pukulan Gender Wayang, melodi juga dikuatkan dengan pengolahan dinamika serta tempo yang menyebabkan suatu harmoni yang enak didengar dan tidak terkesan monoton.

Keseimbangan (balance) estetika pada komposisi Gending Bimaniyu ini didapatkan dari pengolahan teknik pukulan yang mempunyai porsi yang berbeda-beda dalam memainkannya. Serta di mana permainan Gender Wayang yang dipukul dengan keras dan di mana bagian yang dipukul dengan lirih. Dengan adanya keseimbangan pada teknik permainan dalam komposisi gending ini, yaitu melalui kebersamaan dalam memukul nada baik keras maupun lirih dilakukan agar enak didengar sehingga menimbulkan kelangen serta bernilai estetika yang tinggi.

Keseluruhan unsur estetika ini terdapat pada Gending Bimaniyu sehingga setelah menyimak dan menelusuri gending ini dapat menimbulkan enak didengar dan bernilai estetika tinggi. Selain itu, juga disertai dengan unsur musikal yang tertanam dalam setiap dasar estetis, yaitu irama, ritme, harmoni, serta dinamika yang selalu menempel pada setiap struktur lagu atau gending pada karawitan Bali khususnya Gending Bimaniyu gaya Tenganan Karangasem pada gamelan Gender Wayang.

Wawancara bersama Bapak I Wayan Mudita Adnyana | Dok: Hartini, 2024

Pada komposisi Gending Bimaniyu ini unsur keutuhan diungkapkan dengan pengolahan lagu atau melodi yang terdapat dalam nada-nada berlaraskan slendro pada gamelan Gender Wayang dengan menggunakan motif/teknik pukulan Gender Wayang. Teknik pukulan Gender Wayang dinamakan kumbang atarung, teknik permainan seperti kumbang terbang melayang dan bertarung, penuh dengan kontrapunk.

Gending Bimaniyu ini dalam penyajiannya utuh disajikan memiliki durasi 13.08 menit. Ako Mashino dalam wawancara online juga membenarkan gending ini, jika dimainkan secara utuh, akan membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk bisa menyajikannya (wawancara Ako, Juni 2024).

Selain itu dalam Gending Bimaniyu ini dibawakan oleh penyaji sangat utuh disajikan tanpa adanya editan atau pengurangan sesuai dengan ingatan penabuh dalam memainkan gending Bimaniyu.

Menurut penuturan Ida Wayan Oka Granoka, Gending Bimaniyu ini memiliki penonjolan pada tingkat kerumitan pada bagian pengecet, atau pada akhir gending (wawancara Ida Wayan Oka Granoka, 8 Juni 2024). Pada kedua bagian ini diperlukan perhatian yang lebih dalam hal ketepatan, ketangkasan, kecekatan maupun keterampilan tangan kanan dan kiri. Hal tersebut dikarenakan pada kedua bagian tersebut penonjolan kerumitan yang memakai tempo cepat dan dinamis dengan mempergunakan teknik tetekep (tetekes) yang menghasilkan suara atau lagu yang utuh.

Keseimbangan merupakan hal yang mutlak untuk mencapai suatu keindahan. Berbagai konsep keseimbangan yang ada di dunia ini merupakan proyeksi yang digunakan oleh seniman dalam membuat suatu karya seni yang memiliki kualitas yang bermutu tinggi. Dalam Gending Bimaniyu ini unsur keseimbangan tercermin dari dinamika yang ditampilkan oleh ngumbang ngisep atau teknik pukulan polos sangsih yang harus kompak sehingga menciptakan keseimbangan dalam gending ini. Selain itu porsi setiap bagian dari struktur gending memiliki keseimbangan antara gineman, pengawak, pengiba serta pengecet sehingga menimbulkan keseimbangan yang akan menciptakan keharmonisan dalam Gending Bimaniyu ini.

Bapak I Wayan Mudita Adnyana memainkan gender | Dok: Hartini, 2024

Keseimbangan lain yang dapat diamati dari gending Bimaniyu ini adalah adanya keseimbangan kolaborasi penabuh dalam memainkan gending ini. Hal tersebut dibenarkan oleh Ida Ayu Arya Satyani yang menyebutkan bahwa memang keseimbangan kolaborasi penabuh sangat penting untuk dapat saling mengingatkan gending yang dimainkan mengingat apabila gending ini dimainkan cukup panjang (wawancara Ida Ayu Wayan Arya Satyani, 11 Juni 2024).

Dalam menghasilkan permainan yang estetik, baik itu dari segi permainan maupun penampilan, membutuhkan kolaborasi dan kekompakan antara para penabuh sebagai satu kesatuan estetis. Hal tersebut disebabkan karena setiap melodi dan ritme dari gending Bimaniyu saling berhubungan dan membentuk sebuah keutuhan yang indah.

Makna Gending Bimaniyu Gaya Tenganan Karangasem

Sebagai hasil ciptaan (creation) yang melalui proses panjang, makna karya seni selalu bersinggungan dan dipengaruhi oleh ruang dan waktu sejalan dengan perkembangan wacana budaya . Begitu pula halnya dengan gending Bimaniyu lahir dari kecerdasan manusia yang menyimpan berbagai makna tersembunyi yang bisa ditelusuri. Makna yang terdapat pada gending Bimaniyu gaya Tenganan Karangasem meliputi makna religius, makna kreativitas, serta makna pelestarian.

Makna Religius

Menurut Saussure dan Pierce dalam Kutha Ratna menyebutkan bahwa makna bukanlah konsep yang statis, melainkan dinamis karena merupakan proses, di samping makna berubah seirama dengan perjalanan waktu. Gending Bimaniyu Gaya Tenganan Karangasem dalam masyarakat Hindu di Bali sangat erat kaitannya dengan makna religius.

Wawancara bersama Bapak Ida Wayan Granoka (paling kanan) | Dok: Hartini, 2024

Dalam konteks spiritual, Gending Bimaniyu memiliki makna yang mendalam. Banyak upacara keagamaan di Tenganan yang melibatkan pertunjukan gending ini sebagai bentuk persembahan kepada dewa. Hal tersebut disebabkan gending Bimaniyu tidak dapat dilepaskan dari berbagi kegiatan agama (religi) karena memiliki fungsi sebagai persembahan kepada Tuhan dalam berbagai manifestasinya, roh leluhur, dan lain-lain yang berhubungan dengan alam gaib dan alam kedewatan.

Hal tersebut dipertegas berdasarkan wawancara dengan Ida Wayan Granoka yang menyebutkan bahwa gending Bimaniyu ini, dahulu, ketika guru Ranu masih ada selalu dimainkan ketika sedang dilaksanakan kegiatan upacara keagamaan di Tenganan Karangasem. Gender Wayang memang keberadaannya penting di Desa Tenganan karena merupakan salah satu gamelan yang penting untuk dimainkan sehingga dapat dikatakan memang terdapat hubungan yang erat antara gending dan praktik keagamaan, serta bagaimana gending ini berfungsi sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada yang Maha Kuasa

Makna Kreativitas

Gending Bimaniyu muncul sebagai salah satu komposisi penting yang tidak hanya memiliki nilai estetis, tetapi juga menyimpan makna yang mendalam terkait dengan kreativitas. Kreativitas dalam musik, khususnya dalam seni karawitan, tidak hanya terbatas pada teknik memainkan gamelan, melainkan juga mencakup proses penciptaan, interpretasi, dan improvisasi.

Gending Bimaniyu sebagai salah satu repertoar dalam Gamelan Gender Wayang menjadi objek yang menarik untuk dikaji lebih dalam, tentang bagaimana kreativitas berperan dalam setiap aspek pertunjukannya. Melalui gending ini, seniman dapat mengekspresikan identitas budaya dan nilai-nilai yang dipegang oleh masyarakat.

Gending Bimaniyu dalam konteks sosial dan budaya, tidak hanya berfungsi sebagai sarana upacara keagamaan, tetapi juga sebagai media penyampaian pesan moral dan nilai-nilai. Oleh karena itu, makna kreativitas dalam gending ini yaitu mengungkap bagaimana seniman (kecerdasan manusia) dalam menciptakan dan mempertahankan tradisi sambil tetap berinovasi.

Selain itu, pemahaman tentang makna kreativitas dalam gending ini juga dapat menjadi inspirasi bagi para seniman dan peneliti untuk terus mengeksplorasi dan mengembangkan tradisi yang kaya ini.

Makna Pelestarian

Pelestarian adalah salah satu upaya untuk mempertahankan sesuatu agar tetap sebagaimana adanya atau tidak berubah. Begitu pula halnya dengan menggali makna Gending Bimaniyu, ditemukan wawasan baru yang dapat memperkaya pemahaman tentang Gending Bimaniyu dan perannya dalam masyarakat.

Selain itu, dengan adanya pewarisan Gending Bimaniyu ini diharapkan dapat menjadi rekomendasi bagi para pemangku kebijakan dalam merumuskan program-program pelestarian budaya yang lebih efektif dan berkelanjutan. Dengan demikian, Gending Bimaniyu dapat terus hidup dan berkembang, menjadi bagian integral dari identitas budaya bangsa sehingga dapat lebih menghargai kekayaan budaya lokal yang ada dan mendorong pelestariannya.

Bersama Bapak I Wayan Mudita Adnyana (tengah) | Dok: Hartini, 2024

Penelitian gending gender wayang Bimaniyu gaya Karangasem ini memang penting dilakukan untuk melestarikan warisan budaya Bali, mengungkap keunikan gaya tersebut, memperkaya ilmu pengetahuan, mendokumentasikan dan mempreservasi kebudayaan, serta meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap seni budaya Bali.

Estetika gending gender wayang Bimaniyu gaya Karangasem merupakan perpaduan harmonis antara keindahan musikal, makna filosofis, dan konteks sosial-budaya masyarakat Bali. Estetika gending gender wayang Bimaniyu gaya Karangasem terletak pada keutuhan, keseimbangan antara struktur gending, penonjolan, dinamika irama dan tempo, ornamentasi, serta keselarasan dengan gerakan wayang. Semua elemen ini berpadu dengan indah dan menciptakan suasana yang sesuai dengan alur dari gending Bimaniyu.

Makna yang terkandung dalam gending Bimaniyu gaya Tenganan Karangasem adalah makna religius, makna kreativitas dan makna pelestarian. Makna religius yaitu ketika gending ini dimainkan pada saat upacara Dewa Yadnya dan Pitra Yadnya. Makna kreativitas ditemukan, yakni pada keunikan gending ini yang diciptakan melalui kecerdasan manusia terdahulu. Makna pelestarian yaitu dapat dianalisis dari hasil karya seni melalui media rekam. [T]

PKM ISI Denpasar : Pembinaan Gending Bopong Gaya Kayumas di Sanggar Tabuh Kembang Waru Denpasar
Menyemai Harmoni Gambelan Tradisi di Jantung Budaya Bali: Pembinaan dan Pementasan Iringan Batel Wayang Wong di Banjar Pesalakan, Gianyar
“Cerukcuk Punyah”, “Cangak Merengang” | Judul-judul Gending Gender Wayang, Lucu dan Blak-blakan
Gusti Sudarta | Sejak SD Main Gender Wayang, Pentas Jalan Kaki ke Desa-Desa
Tags: gamelan gendergender wayangISI Denpasarkarangasemkarawitan bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Barong Landung Mepajar di Denpasar Festival 2024: “Local Genius” dari Desa Adat Sumerta, Denpasar Timur

Next Post

Aktivisme Mahasiswa dan Judi Online

Ni Putu Hartini

Ni Putu Hartini

Staf pengajar di Prodi Seni Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Aktivisme Mahasiswa dan Judi Online

Aktivisme Mahasiswa dan Judi Online

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co