2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Timbis Paragliding di Atas Ngampan     

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
September 21, 2024
in Khas
Timbis Paragliding di Atas Ngampan     

I Ketut Manda master tandem Timbis Paragliding sekaligus istruktur bersertifikat Nasional ( Foto : I Ketut Manda)

TIMBIS Paragliding (Paralayang Timbis)di atas ngampan adalah sport tourism yang ditawarkan Desa Adat Kutuh di Gumi Delod Ceking, Kuta Selatan. Atraksi wisata terbang layang ini menawarkan tantangan petualangan untuk uji nyali. Olahraga terbang layang ini  mulai diperkenalkan pada akhir  1980-an oleh Bernad Fode dari Prancis. Ia meninggal (2011) setelah mendaki di Gunung dan dikremasi di Bali.

Terbang layang sebagai atraksi sport tourism makin berkembang sejak awal 1990-an hanya dengan bermodalkan payung  parasut mengandalkan  bantuan Sang Bayu dari laut. Perkembangan Timbis Paragliding makin pesat setelah adanya Event National Paragliding  (1996, 1998,1999) yang dipusatkan di Pantai Timbis.

Pantai Timbis makin mendunia sejak digelarnya Asean Beach Game (ABG, 2008) dan Paragliding Accuracy World Cup (PGAWC, 2014). Di Pantai Timbis juga pecah Rekor Muri dengan penampilan penerbang terbanyak dalam sejarah Paralayang Nasional dengan formasi 88 dan 99 penerbang pada 2008 dan 2009.

Mencermati data sejarah itu, Timbis Paragliding yang dirintis I Ketut Manda adalah awal mulainya pariwisata di Desa Adat Kutuh. Nama Timbis adalah nama klasiran dalam peta wilayah Desa Kutuh, sedangkan nama Pantai Pandawa tidak ada dalam nama klasiran peta wilayah Desa Kutuh.

Nama Pantai Pandawa adalah hasil rekayasa  untuk mempromosikan kawasan sejak 2012. Sejak itu, Pantai Pandawa makin dikenal dan pengunjung makin membludak. Sementara itu, Pantai Timbis yang sudah dikenal sejak leluhur Desa Kutuh ada, telah dikenal lebih dahulu di mancanegara melalui atraksi sport tourism, paragliding.

Kala Timbis Paragliding dirintis, akses  menuju pantai adalah jalan setapak, sangat alami. Hal yang sangat disukai para tamu. Pantainya masih perawan dan menawan. Penuh sensasi. Sebagian anak-anak pantai yang membantu orang tua membudidayakan rumput laut kala itu mulai ikut bekerja sebagai porter membantu melipat payung parasut di tempat landasan pacu di Daratan Timbis dan  kadang-kadang di tepi pantai, bergantung pada angin. Menggendong payung dari Pantai ke atas tebing dengan bayaran tidak lebih dari Rp 1.000,00 pada 1990-an dan kini 2024 sudah mencapai Rp 30.000,00.

Terbang di atas Ngampan bermusik ombak berbuih putih ibarat alunan genta yang meneduhkan hati penerbang dan penumpang menjelajahi tebing-tebing perkasa dari udara sepanjang Gunung Payung hingga mendekati Uluwatu. Hal ini mengingatkan saya dengan orang tua,  yang  dulu menjadi bandega, berjukung  secara  tradisional memancing ikan dari jalur Loloan Sawang Melang Pasih Kutuh menuju laut dekat Pura Uluwatu, yang disebut ngulur. Kata ngulur dekat dengan ngeluhur. Tetua Kutuh  tempo doeloe menyebut Pura Uluwatu sebagai Pura Luhur.  Bendega Kutuh yang ngulur  artinya memancing ikan sampai dekat Pura Uluwatu. Begitulah perjuangan bandega Kutuh, mayasa lacur di tengah laut yang mahaluas, penuh risiko. Hasilnya pun dipersembahkan kembali ke Luhur  sebagai ucapan terima kasih.

Jika kini anaknya terbang ngindang ”melayang” di udara menjelajah dari Gunung Payung hingga mendekati Uluwatu, sesungguhnya adalah  proses napak tilas melalui jalur udara dengan penuh risiko seraya berdoa berharap Sang Bayu dari Laut berpihak pada penerbang dan penumpang agar angin baik-baik saja. Ibarat bermain layang-layang, penerbang mengundang angin melalui siulan sebagai mantra.

Betapa indahnya memanggil angin di atas tebing yang disebut ngampan yang berwibawa itu.  Untuk sampai pada tahap itu, penerbang lokal seperti I Ketut Manda perlu berlatih dengan tekun penuh kesabaran dan kesadaran berguru pada Bernard Fode. Ibarat meditasi, seorang murid menjadi pembelajar dengan tekad kuat untuk menguasai materi pelajaran agar berhasil naik kelas bisa terbang, mengudara dengan keseimbangan dan kesetimbangan.

Oleh karena itu, I Ketut Manda dari Desa Adat Kutuh berutang budi pada Bernard Fode, yang berhasil mengembangkan olah raga Paralayang  berpusat di Pantai Timbis. I Ketut Manda lalu memperkenalkan nama Timbis Paragliding dengan membuka website (1999) atas bantuan seorang bule dari Australia, Ata Kivilkim di alamat www.flybali.info atau www.timbis.com.

Melalui web ini, Timbis Paragliding makin dikenal dunia, bahkan Timbis menjadi idolanya para para penerbang kelas dunia dengan mengatakan “Amazing” sebagaimana dikatakan Max Ammann (Swiss) dan Deringer (AS) seperti dituturkan I Ketut Manda dalam sebuah wawancara dengan penulis.

Timbis Paragliding | Foto: I Ketut Manda

Bernard Fode berhasil menjadikan I Ketut Manda sebagai pembelajar yang tekun dan sungguh-sungguh menjaga integritas dalam berparalayang. I Ketut Manda sejak 1995 memulai kariernya menjadi porter lalu belajar terbang. Mulai dari terbang untuk kesenangan, lalu beralih ke master tandem, lantas menjadi guru (instruktur bersertifikat Nasional)  yang berhak melatih tetamu domestik dan mancanegara untuk belajar terbang layang. Salah satu dari murid I Ketut Manda dari Malaysia bernama Mohammad Adam Bin Mohd Yusoh sekarang sudah menjadi pilot Qatar Airways.

Begitulah proses berguru bergulir. Dari murid menjadi guru. Dari guru menjadi murid. Dari guru menjadi penumpang. Dari penumpang jadi pilot. Semua guru semua murid. Siapa yang diuntungkan?

Pertama, I Ketut Manda sebagai pembelajar yang berhasil mengembangkan  Paragliding sebagai sport tourism dan  menjadi idola bagi sejumlah anak muda Desa Kutuh. Mereka pun dapat keuntungan secara finansial dan orang tua mereka berdagang menjual makanan dan minuman di tempat operasional Timbis Paragliding, dengan dua landasan pacu : di Timbis dan di Gunung Payung.

Kedua, Desa Adat Kutuh juga mendapat keuntungan secara finansial terutama sejak Timbis Paragliding dikelola oleh Desa Adat melalui Baga Utsaha Manunggal Desa Adat (BUMDA) Kutuh sejak 2015. Keuntungan dari Unit Usaha Timbis Paragliding pada tahun 2023 mencapai Rp 600 juta  lebih. Angka yang fantastis bila melihat musim terbang yang tidak lebih dari 6 bulan pada musim kemarau (Maret – Oktober) setiap tahun dengan mengandalkan kekuatan Sang Bayu yang berhembus dari laut.

Bahkan saat Pandemi Covid-19, hanya unit Timbis Paragliding yang secara signifikan berkontribusi bagi BUMDA. Sebagai catatan, BUMDA Kutuh memunyai beberapa unit usaha : Unit Pantai Pandawa, Unit Pantai Gunung Payung, Unit Timbis Paragliding, Unit Barang Jasa, dan Unit LPD.

Timbis Paragliding | Foto: I Ketut Manda

Ketiga, Citra Desa Adat Kutuh makin terangkat dan dikenal orang dari berbagai daerah di Indonesia bahkan dunia. Timbis Paragliding telah berkontribusi pula menerbangkan tim penilai lomba desa tingkat nasional dan menjadikan Desa Kutuh sebagai Desa Juara Tingkat Nasional (2009, 2011) berkolaborasi dengan petani rumput laut yang kini ditinggal petani.

Dampak dari keberhasilan sebagai juara nasional, banyak kunjungan yang diterima desa dari berbagai wilayah di Indonesia dari level Pemerintah Desa/Kelurahan, Kecamatan, Kabupaten, bahkan Provinsi dan Kementerian. Semua itu berstatus tamu (wisatawan) yang membelanjakan sebagian  koceknya di Desa Kutuh.

Pemerintah Desa Dinas dan Adat pasti disibukkan. Namun, sebagai titisan anak yang berguru di Batu Karang Delod Ceking, mesti memaknai sebagai berkah pantang untuk menyerah. Kuat kokoh sebagai mana batu karang yang diterjang ombak. Tegar berdiri. Begitulah seharusnya. Petarung yang gigih melawan panas terik matahari tanpa takut kulit hitam, yang penting hati selembut salju, seperti judul lagu  Jamal Mirdad.

Oh, ya pembaca yang budiman. Bila ingin merasakan sensasi berparalayang di atas Ngampan Delod Ceking bisa reservasi lebih dulu, ke ketuttimbis@hotmail.com atau ke WA 08123916918. Kalau angin lagi berpihak bisa terbang bersama master tendem dengan harga domestik Rp 850.000/00 per 15 menit, sedangkan untuk tamu mancanegara dibandrol harga Rp 1.200.000,00 per 15 menit. Harga sudah termasuk  asuransi. Mari mencoba terbang! [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Di Puncak Tegeh Kepah  
Rumput Laut Delod Ceking, Nasibmu Kini   
Di Puncak Tegeh Buhu  
Desa Adat  Kutuh Sebagai Desa Pemancar 
Di Puncak Tegeh Kaman 
Bak Inpres dan Cubang Air di Gumi Delod Ceking   
Tags: desa adat kutuhGumi Delod CekingPantai PandawaPariwisatapariwisata baliTimbis Paragliding
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Semaraknya Ogoh-Ogoh Mini dan Kreativitas Tanpa Batas pada Tirta Gangga Festival

Next Post

Soal Wisata Desa, Bali Bisa Belajar dari Banyuwangi

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
Soal Wisata Desa, Bali Bisa Belajar dari Banyuwangi

Soal Wisata Desa, Bali Bisa Belajar dari Banyuwangi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co