23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bak Inpres dan Cubang Air di Gumi Delod Ceking   

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
September 1, 2024
in Esai
Bak Inpres dan Cubang Air di Gumi Delod Ceking   

Bak Inpres jejak peradaban air Gumi Delod Ceking | Foto : I Nyoman Tingkat

PROYEK Orde Baru untuk memenuhi kebutuhan air  krama di Gumi Delod Ceking, maksdunya wilayah Nusa Dua, Jimbaran dan sekitarnya di Kuta Selatan, pada 1970-an adalah Bak Inpres. Kala itu sejumlah proyek Bak Inpres dibangun berbasis tempekan mirip zonasi masa Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) era 2020-an. Model ini analog dengan sekaa bangbang yang sudah ada sebelumnya. Hampir di tiap tempekan yang ada bangbang-nya juga dibangun Bak Inpres untuk menampung air hujan.

Ada sejumlah makna pembangunan Bak Inpres berbasis tempekan zaman Orde Baru. Pertama, membantu krama mengatasi kesulitan air pada musim kemarau. Kemarau panjang yang sering disebut katiga kangkang adalah masa krisis air tanpa keluhan dan keributan, tetapi dimaknai dengan sering mapinunas kepada Hyang, sebagai wujud rasa eling. Krisis air ditarik ke ranah spirit lalu berpasrah setelah berusaha.

Kedua, Orde Baru memuliakan kearifan lokal yang dibina dan diwariskan secara turun-temurun. Di dalamnya terimplisit maksud untuk memersatukan, memerkuat, membina dan  mengembangkan kebudayaan yang hidup dan diimani. Kohesi (kesamaan fisik)  dan koherensi (keterpaduan nilai, value) tempekan disaturagakan sebagai representasi kekuatan sekala niskala, penyaturagaan jasmani dan rohani. Dalam konteks Pendidikan, inilah yang disebut transformasi nilai-nilai kehidupan.

Ketiga, pembangunan Bak Inpres bertujuan mendekatkan konsumen dengan sumber air. Jumlah sekaa tempekan pun  terbatas tidak lebih dari 35 orang sehingga lebih mudah mengelolanya.  Di Tempekan Mangas dan Kancagan Desa Adat Kutuh misalnya dibangun Bak Inpres pada 1977 di tengah suasana Pemilu yang mencekam tetapi nihil gesekan. Politik riang gembira tak terkatakan tetapi diimani dan dilaksanakan.  Boleh jadi, proyek ini adalah hadiah menjelang Pemilu yang kini lebih populer disebut Bansos yang belum terartikulasikan kala itu.

Menarik pula dicermati, warga merelakan tanahnya yang berbatu kapur sampai 8 are untuk membuat bak termasuk lapangan air yang dialirkan ke bak ketika hujan turun.  Maklumlah, saat itu tanah di Gumi Delod Ceking tiadalah berharga. Diberi gratis pun, tiada yang melirik. “Buat apa?” kata mereka yang diberikan. Hal yang nungkalik kini, tanah Delod Ceking jadi rebutan dan disengketakan padahal sebelumnya tak diurus bahkan dianggap tidak ada. Keadaan makin keruh dengan kehadiran maklar tanah dengan mulut manis. Bungut gebuh kata mereka yang menjadi korban.

Pekerjaan proyek Bak Inpres itu dilakukan secara swakelola dan bergotong royong di tengah suasana gumi sayah, ‘paceklik’. Mereka hanya berbekal ubi rebus atau ubi bakar sebelum pekerjaan menggali batu kapur yang padat dan keras. Kekerasan batu kapur itu diimbangi dengan kerja keras oleh anggota sekaa yang bergiliran piket menggali batu kapur dengan linggis membuat bak ukuran sekitar 4 x 6 x 5 m.  Setelah bak dibuat, dilanjutkan dengan membuat jalan air dengan kemiringan yang sekitar 30 drajat sehingga bila hujan, air langsung tertampung di  Bak Inpres ini.

Air yang ditampung di Bak Inpres ini baru dibagi pada musim kemarau tiba setelah air di bangbang tempekan dan bangbang desa habis. Pembagian air juga mengikuti model pembagian air di Bangbang Desa yaitu telung tegen ‘enam jeriken’ setiap hari yang dimulai dengan paruman sekaa dipimpin oleh Kelihan Sekaa Bak Inpres. Prosesi paruman diawali dengan ngaturang daksina pejati kehadapan Hyang Bhatara Wisnu dilengkapi  dupa yang menyala sebagai api saksi sekaligus api semangat menerima berkah air, yang disungkemi seluruh anggota.

Begitulah aturan dibuat sangat simpel tanpa protes dan diyakini bersama serta dilaksanakan bersama dalam keseharian saat pembagian air. Barang siapa yang mengambil air lebih dalam sehari diserahkan dampaknya kepada yang bersangkutan. Itulah sebabnya anggota sekaa Bak Inpres juga selalu berefleksi saban sore menjelang matahari tenggelam, terutama bagi anggota Kepala Keluarga dengan  jumlah yang banyak. Kalau-kalau ada salah satu anggota keluarga yang lebih mengambil air,  maka wajib hukumnya dikembalikan pada hari itu pula.

Gumi Delod Ceking dan Dadu yang Terbalik

Setelah sukses dengan Proyek Bak Inpres pada 1970-an, pada akhir 1980-an proyek Orde Baru  diganti dengan Proyek Cubang Air.  Jika Bak Inpres dibangun dengan penggalian batu karang dengan kedalaman tertentu, Cubang Air berbentuk tangki air dari viber diberikan gratis dan di letakkan di atas permukaan tanah warga juga berbasis tempekan. Warga  hanya menyiapkan pondasi penempatan Cubang Air. Cubang  air diisi seminggu sekali  melalui truk-truk berisi tangki air untuk memenuhi kebutuhan air warga masyarakat. Warga mengambil air di Cubang Air  yang sudah tersedia.

Seiring dengan perkembangan kemajuan, penduduk di Gumi Delog Ceking mulai mendapatkan  pekerjaan menjadi buruh di proyek-proyek Hotel Nusa Dua, kemampuan daya beli lambat laun membaik. Maka penduduk pun membeli langsung air tangki untuk ditampung di bak masing-masing. Akan tetapi semangat menghargai dan menghemat air pun terjaga dengan baik. Itulah jejak peradaban air di Gumi Delod Ceking, dari bangbang ke Bak Inpres dan Cubang Air, lalu ke Suukan ‘sumur di pantai’(yang disajikan terpisah).

Bak Inpres jejak peradaban air Gumi Delod Ceking | Foto : I Nyoman Tingkat

Catatan ini tidak dimaksudkan untuk mengorek luka lama krama dari Gumi Delod Ceking soal air, karena saya sadar peribahasa, “menepuk air di atas dulang tepercik muka sendiri”. Oleh karena itu, renungan ini  lebih diarahkan pada menemukan kembali nilai-nilai yang erosi diterjang perubahan secara drastis terutama dalam penghormatan terhadap air. Harapannya, generasi kini mengerti makna  air secara edukatif  fungsional.

Hemat menggunakan air adalah bagian dari ibadah pemujaan terhadap Dewa Wisnu yang menyebarkan kesuburmakmuran berkat air yang diolah menjadi Tirtha Amerta. Begitu pula PDAM yang menangani masalah air hendaknya melayani dengan kejernihan air yang disalurkan dari pipa-pipa ke rumah-rumah warga yang taat membayar pajak setiap bulan. Jangan sampai air mati berminggu-minggu, lalu tiba-tiba yang mengalir  air keruh. Pelanggan adalah raja, layanilah raja jangan sampai  memancing di air keruh. [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

“Bangbang” di Gumi Delod Ceking   
Berguru ke “Ngampan” Delod Ceking  
Antara Pura Gunung Payung dan Pura Batu Pageh  
Pura Gunung Payung di Gumi Delod Ceking
Gumi Delod Ceking Sebagai Pusat Perguruan
Ibu Tapa dan Pura Penataran Kampial, Keistimewaan Lain dari Gumi Delod Ceking 
Gumi Delod Ceking dan Dadu yang Terbalik
“Kupu-Kupu di Dalam Buku”
Tags: baliGumi Delod Cekingkuta selatanNusa DuaOrde Baru
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dialek Bahasa Bali dalam Seni Pertunjukan: Humor yang Memikat

Next Post

Merajut Warisan Alam & Budaya Menuju Pariwisata Regeneratif – Dari Perayaan HUT ke-6 Godevi

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Merajut Warisan Alam & Budaya Menuju Pariwisata Regeneratif – Dari Perayaan HUT ke-6 Godevi

Merajut Warisan Alam & Budaya Menuju Pariwisata Regeneratif – Dari Perayaan HUT ke-6 Godevi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co