6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kota Bandit | Cerpen Daviatul Umam

Daviatul Umam by Daviatul Umam
July 20, 2024
in Cerpen
Kota Bandit | Cerpen Daviatul Umam

Ilustrasi tatkala.co

MALAM sudah suntuk ketika Yuyud dan Eeng kembali ke markas di waktu yang hampir bersamaan. Di masing tangan keduanya tergenggam sebilah parang berlumur darah. Sejumlah orang di ruang markas menatapnya takjub. Satu di antara mereka lantas bertepuk tangan dengan mode lambat, pertanda kagum dan bangga atas keberhasilan calon anak buahnya.

Pria itu bernama Fahri, ketua geng Alexer yang beranggotakan dua belas orang siswa dari satu sekolah yang sama. Meski bertubuh kurus, ilmu bela dirinya tidak bisa dianggap remeh. Fahri pernah menaklukkan lima orang lawannya sekaligus dengan tangan kosong, saat ia berkendara seorang diri di malam buta. Ia juga pernah mengalahkan musuh bebuyutannya, Reza—ketua geng Galaxi—dalam sebuah pertandingan khusus untuk menunjukkan siapa di antara dua kepala geng itu yang paling hebat.

Setiap sekolahnya memasuki periode baru, geng Alexer membuka peluang bagi siswa-siswa baru secara diam-diam. Mereka butuh generasi untuk menjaga eksistensi dan melanjutkan perjalanan geng. Adalah kesialan terburuk bagi mereka, jika geng yang didirikan oleh seniornya sejak 2009 itu sampai punah. Ia tak ubahnya warisan sakral yang harus dirawat secara turun-temurun.

Ada lima siswa baru di tahun ini yang mengajukan diri. Sudah sedikit, tiga orang dari mereka terpaksa harus ditolak karena dirasa tidak punya cukup nyali. Terbilang ketat memang, sebab geng tersebut bukan tempat penampungan cecunguk yang hanya suka main remi, gemar mabuk-mabukan, atau hobi menggaung-gaungkan mesin motor di jalanan. Ini soal kejantanan dan nyawalah taruhannya. Jadi, cuma dua orang saja yang dinilai memenuhi kriteria: Yuyud dan Eeng.

Tidak cukup di situ. Ada syarat utama yang terlebih dahulu wajib dilakukan oleh setiap calon anggota sebelum dinyatakan resmi bergabung. Mereka harus melukai tubuh seseorang, minimal, dan akan menjadi nilai plus jika sampai terbunuh. Tak peduli tua atau muda, laki-laki atau perempuan, yang akan menjadi sasaran. Yang penting, calon anggota membawa bukti nyata ke hadapan ketua geng, dengan menunjukkan senjata tajam yang telah berlumur darah.

“Hahaha. Bagus, bagus!” seru Fahri setelah Yuyud dan Eeng menyerahkan parang berbalur cairan amis itu kepadanya. Sontak Yuyud dan Eeng tersenyum lega.

Lagi-lagi belum cukup di situ. Bisa saja darah yang menempel di kedua parang itu darah ayam, bebek, kelinci atau kucing yang mereka sembelih. Seperti biasa, kebenaran akan bicara keesokan harinya. Kalau media sosial ramai membicarakan aksi pembacokan liar, otomatis Yuyud dan Eeng resmi diakui sebagai anggota Alexer. Sebaliknya, jika tidak, mereka gagal dan mereka sendiri yang bakal jadi tumbal atas dasar penipuan. Berkhianat, bagi Alexer, sama saja dengan melecehkan nama besar geng.

Alexer tidak mau punya anggota pengecut. Itulah prinsip terbesar yang senantiasa dipegang teguh masing-masing anggota antar generasi. Sanksi bagi yang melanggarnya bukan pemecatan, melainkan penumpasan. Hal demikian pernah terjadi pada tahun 2016. Seorang anggota diketahui bercakap-cakap dengan mantan anggota geng Galaxi di luar pagar sekolah. Tak menunggu waktu lama, malam harinya bocah itu langsung dieksekusi di markas.

Padahal, orang yang diduga sebagai mantan anggota geng Galaxi itu, bukanlah seperti yang mereka kira. Dia merupakan adik kandung dari orang yang dicurigai, yang sekilas memang ada kemiripan di antara rupa keduanya. Dia tidak pernah bergabung dengan geng mana pun. Dia tak lain tetangga si korban. Dia menyambangi si korban ke sekolah semata-mata untuk memberi tahu, kalau ibunya terserang strok dan kondisinya sangat memprihatinkan.

Sayangnya, tak ada yang tahu bahwa kejadian tersebut merupakan kesalahpahaman belaka. Tiba-tiba saja anak malang itu ditelepon oleh ketua gengnya saat ia menjaga sang ibu di rumah sakit. Sebenarnya ia sempat menolak perintah si penelepon agar ke markas. Tetapi karena diancam, ia menurut juga akhirnya.

Begitu tiba di markas, tanpa sempat mengucapkan sepatah kata pun, kawan-kawannya segera menghantamnya bertubi-tubi. Lelaki tujuh belas tahun itu ambruk. Mukanya babak belur. Dari mulut dan lubang hidungnya darah pekat bercucuran. “Apa salahku, Bos?” pekiknya sambil terbatuk-batuk ketika sang ketua geng mendekat. Yang dipanggil bos mencondongkan badan, lantas menjawabnya dengan tusukan golok dua kali.

***

Pagi-pagi kota A dihebohkan dengan penemuan mayat sesosok laki-laki di kecamatan S, tepatnya di jalan Dewi Padi di samping warung makan Burjo. Peristiwa yang diketahui merupakan korban pembunuhan itu diwartakan media-media nasional, kemudian terus disebarkan oleh media-media online. Beberapa jam kemudian, muncullah sebuah postingan seorang mahasiswi yang bercerita bahwa dirinya disayat sebanyak tiga kali oleh pemuda bermotor, disertai dengan foto luka di lengannya yang telah dibebat kain kasa, sehingga turut tersebar luas menjejali dinding X dan Facebook, sebelum akhirnya juga diberitakan oleh sejumlah media.

Dua berita tersebut sungguh membuat seisi kota A gaduh. Link berita semakin meluas. Berbagai caption serta komentar warganet dari segala penjuru Indonesia yang berisi kecaman, tuntutan keadilan, ragam pendapat, maupun sekadar ungkapan rasa iba terhadap korban, memadati media massa dan kolom komentar berita. Kata kunci “bandit” dan “geng pelajar” menempati posisi teratas di kolom pencarian aplikasi X. Tagar #tumpasbandit dan #tumpasbanditdikotaa tak kalah trendingnya. Petisi desakan kepada pemerintah untuk menjalankan proses hukum atas pelaku, juga dilayangkan.

Mengapa sampai seheboh itu? Mengapa netizen begitu berang? Karena ini kasus lama dan terus berulang-ulang hampir tiap tahun tanpa penanganan yang serius. Sudah menjadi rahasia umum kalau di kota A terdapat kejahatan jalanan, yang pelakunya tak lain adalah para pelajar. Sudah terlalu banyak korban berjatuhan, baik warga pribumi maupun perantau. Itulah sebabnya orang-orang takut bepergian di larut malam. Mereka yang pulang kerja pada jam 24 ke atas, berkendara dengan dada yang disesaki rasa cemas. Sebagian penduduk luar yang ingin merantau ke kota A, terpaksa harus mengurungkan niatnya.

Namun, tak pernah ada penyelesaian secara optimal. Setiap kali kasus serupa terjadi, terulang dan terulang lagi, para pelaku hanya ditahan beberapa hari di kantor kepolisian, diberi bimbingan ala kadarnya, lalu dipulangkan dan kembali bebas berkeliaran. Setiap kali polisi ditanyai kenapa bandit-bandit itu tidak dipenjara saja biar jera, satu-satunya alasan yang mereka berikan: karena para pelaku masih di bawah umur. Lain halnya tanggapan Bapak Wali Kota. Katanya, sebaiknya kasus demikian tak perlu dibesar-besarkan. Bisa jadi itu cuma isu yang dibuat oleh oknum-oknum yang ingin menodai citra kota A.

***

Fahri dan kawan-kawannya mengembuskan napas kegembiraan. Apa yang mereka harapkan terkabul. Terbukti sudah kejujuran Yuyud dan Eeng dalam melaksanakan tugas. Otomatis mereka telah resmi menjadi bagian dari keluarga besar geng Alexer. Lebih dari itu, kegaduhan di media massa yang menimbulkan kekhawatiran mendalam di dada masyarakat, tentu saja amatlah berarti bagi Alexer. Karena dengan begitu, eksistensi Alexer semakin kukuh. Dan memang itulah misi utamanya.

Mereka akan terus berupaya membesarkan nama gengnya. Caranya dengan mencari tumbal saban tahun, selain menantang tawuran geng-geng lain, paling tidak dua kali dalam setahun. Bagi mereka, tak ada yang lebih berharga dalam hidup kecuali pengakuan. Mereka selalu ingin diakui keberadaan dan kejantanannya sebagai kaum lelaki. Mereka tidak mau dianggap enteng oleh masyarakat walaupun mereka masih berstatus pelajar. Karenanya mereka berlagak sadis seperti aktor-aktor mafia dalam film Barat.

“Aku yakin, Galaxi pasti panas mendengar kabar istimewa ini,” ucap Fahri diiringi tawa ringan.

Perkataan Fahri bukan prasangka hampa. Selama ini Alexer dan Galaxi memang berlomba-lomba bermain api. Dan sejauh ini, tidak ada geng lain yang pernah melakukan tindakan kriminal yang amat kejam selain dua geng itu. Itu artinya, jika anggota Galaxi tidak merasa melakukan aksi kejam dalam waktu dekat, lantas menyeruak berita pembunuhan yang pelakunya adalah anak remaja, sudah pasti Alexer-lah yang berulah. Begitu pun sebaliknya.

“Mari kita rayakan keberhasilan ini, Bos,” seorang kawannya menimpali. Tawa yang sama kadar ringannya membubung ke udara. Mereka pun bersulang hingga teler.

Sementara itu, di markas geng Galaxi, Reza beserta segenap anak buahnya mulai merencanakan sesuatu. Mereka hendak membayar ‘piutang’ yang ditimpakan Alexer kepadanya. Lalu dua anggota diperintahkan untuk menghabisi nyawa tiga orang sekaligus dalam satu malam.

Biasanya, pelunasan utang gila ini dilakukan satu atau dua tahun sesudah kasus yang baru terjadi benar-benar lenyap ditelan bumi, di kala warga telah abai pada rasa awas dan takutnya. Akan tetapi, lantaran kasus kali ini teramat ramai diperbincangkan publik, Reza sungguh tidak dapat meredam emosi. Apalagi, rasa malu yang ia derita sejak dua bulan lalu akibat kekalahannya dalam duel melawan Fahri, belum juga terobati. Maka tidak boleh tidak, secepatnya Galaxi harus bergerak. Kalau perlu, Galaxi bakal menyerang markas Alexer setelah ini.

***

Dua anggota Galaxi yang ditunjuk Reza sudah siap bertugas. Mereka mengendarai motor berboncengan, berkecepatan rendah, menyusuri kelengangan malam yang teramat likat, dengan sebuah celurit terselip di balik punggung masing-masing.

“Sial!” keluh salah satu dari mereka, ketika menghentikan laju motor di tepi kali usai menempuh belasan kilo meter perjalanan. Tidak ada satu pun manusia mereka jumpai. Tidak ada satu pun kendaraan lewat.

“Mungkin orang-orang masih trauma.”

“Apa sebaiknya kita pulang saja?”

“Kamu kangen kepalan tangan si bos?”

“Ya besok malam kan bisa balik kerja lagi.”

“Sudah, kita tunggu saja dulu. Kalau sampai jam 3 belum ada juga orang lewat, kita pulang.”

Beberapa menit selepas percakapan singkat itu, bunyi mesin motor terdengar lamat-lamat dari kejauhan. “Siap-siap!” instruksi yang satu kepada yang lain. Keduanya lekas melepas celurit dari sarungnya. Begitu sinar lampu motor mulai terlihat membelah kegelapan, mereka gegas berdiri di sisi kiri-kanan jalan seraya menghunuskan senjata. Laju motor semakin dekat, melambat, lalu berhenti. Seandainya nekat menerobos, tentu sangat berisiko. Jika saja kedua bandit itu menghadang di tengah jalan, niscaya si pengendara akan menabraknya.

Mengapa pengendara yang rupanya seorang lelaki paruh baya itu memilih berhenti dan turun dari kendaraannya? Bukankah jauh lebih berbahaya? Ia sama sekali tak gentar. Ia pun tahu harus berbuat apa.

Sepasang bandit cepat-cepat menyerang secara brutal. Dengan gerak-gerik yang begitu gesit, si bapak itu dapat mengelak dari amukan dua celurit yang amat beringas. Ia bahkan berkali-kali dapat memukul dan menerjang tubuh kedua bandit, dengan gerakan yang memukau dan tampak sangat terlatih. Beda halnya dua remaja itu yang hanya bermodal nyali besar dan menyerang secara serampangan, hingga berkali-kali pula mereka terjengkang dan tersungkur. Meski begitu, mereka tetap berusaha bangkit dari jatuh dan rasa sakitnya. Sampai akhirnya, satu celurit berhasil direbut oleh si bapak. Cuma butuh beberapa detik, si bapak telah merobek perut dua anak manusia nyaris bersamaan.

***

Pagi-pagi seisi kota A kembali heboh. Orang-orang merasa senang sekaligus sedih. Senang sebab populasi bandit di kota A telah berkurang. Sedih sebab si bapak yang sebenarnya membela diri itu sudah mendekam di balik jeruji besi. Seolah adu sigap, media-media segera memberitakannya. Kolom komentar berita lantas dipenuhi rasa syukur yang berbunga-bunga, di samping juga menuntut pemerintah serta aparat kepolisian untuk membebaskan si pelaku pembunuhan yang mereka sebut sebagai pahlawan.

Sumenep, November 2023

  • BACA cerpen lain di tatkala.co
Arus Pelayaran | Cerpen Karisma Nur Fitria
Sejak Itu Samsu Berubah | Cerpen Khairul A. El Maliky
Sumbi Tak Mengandung Anak Tumang | Cerpen Amina Gaylene
Semalam Bersama Alien | Cerpen Putu Arya Nugraha
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Zajima Zan | Di Sebuah Perpustakaan Kecil

Next Post

Ritual Suci 10 Muharram: Tradisi Penguat Identitas dan Rasa Kekeluargaan Umat Muslim Batu Gambir Tejakula

Daviatul Umam

Daviatul Umam

Lahir dan tinggal di Sumenep, Madura. Menulis puisi dan prosa. Alumnus Pondok Pesantren Annuqayah ini kini bergiat di Komunitas Damar Korong dan Malate Artspace, Sumenep. Buku puisinya yang telah terbit bertajuk Kampung Kekasih (2019). Bisa disapa di Instagramnya: @daviatul.umam

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post
Ritual Suci 10 Muharram: Tradisi Penguat Identitas dan Rasa Kekeluargaan Umat Muslim Batu Gambir Tejakula

Ritual Suci 10 Muharram: Tradisi Penguat Identitas dan Rasa Kekeluargaan Umat Muslim Batu Gambir Tejakula

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co